Mendobrak Diri Dengan 30 DWC

 

Mendobrak Diri Dengan 30DWC

 

Oleh: Diday Tea

Walaupun saya sudah menerbitkan dua buku solo dari penerbit mayor, tapi empat tahun berlalu begitu saja tanpa ada satu karyapun yang diterbitkan, sudah terlalu lama.

Selama itu pula saya bersembunyi di balik alasan yang paling keren sebagai alibi, untuk berhentinya produksi tulisan yang lahir dari tarian jari jemari saya di atas keyboard: “Writer’s Block”.

Padahal sih, alasan aslinya memang sayanya yang belum bisa mengatur waktu, meluangkan waktu khusus untuk rutin menulis.

Sehingga, puluhan draft novel, dan draft buku non fiksi di dalam folder “Proyek Buku Diday Tea” statusnya begitu-begitu saja.

Masih saja sebagai draft.

Tentunya saya tidak akan menyebutkan kalau game FIFA 15, FIFA 16, dan FIFA 17, serta FIFA 18 di Playstation 4 adalah salah satu penyita terbesar jatah waktu menulis saya. Karena sejujurnya itu memalukan dan memilukan.

Sudah beranak tiga kok masih main FIFA, apa kata dunia? Hehehe.

Ketika keasyikan menerima tantangan bermain online dari teman-teman selama berjam-jam, hilang lenyap sudah kekhawatiran saya yang masih belum menghasilkan tulisan “serius” untuk buku saya yang ketiga.

Saya bisa betah memegang Dual Shock Controller tanpa jeda selama hampir semalaman tanpa pegal ataupun diserang rasa ngantuk.

Lelahpun tak saya hiraukan demi meraih kemenangan demi kemenangan.

Itupun, kemenangan yang sebenarnya jarang terjadi, karena level permainan saya masih belum bisa mengejar teman-teman saya yang sudah lebih jago.

Hadeuh. Parah ya?

Tapi, ketika akan menulis, sepuluh menit pun mata sudah terasa berat, pinggang sudah pegal, kepala langsung terasa berat, jari jemari pun serasa mau lepas dari sendinya.

Tulisan yang lahir dari tarian jari jemari saya dengan penuh perjuangan, masih sekedar status-status singkat di Facebook, atau caption-caption pendek di desain poster dakwah saya di Instagram @didaytea.

Nah, pada akhirnya pucuk dicinta ulam tiba, yang dinanti telah tiba, yang ditunggu akhirnya malah dilamar orang, eh, maaf. Tetiba saya teringat video klip kepedihan seorang tamu undangan yang menyanyi lagu “Menjaga Jodoh Orang” di pernikahan kekasihnya.

Kasihan ya?

Maksud saya tadi, titik balik yang ditunggu selama bertahun-tahun itu akhirnya tiba ketika saya dengan sengaja “mencemplungkan” diri saya ke dalam sebuah tantangan bernama 30 Days Writing Challenge.

Saya tadinya Nothing to Lose, alias tanpa beban.

Karena kalaupun saya pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan tantangan itu, toh biayanya juga tidak terlalu mahal.

Dan hari ini saya berhasil membuktikan bahwa saya bisa mendobrak kemalasan di dalam diri saya.

Saya bisa memaksa diri untuk menulis selama tiga puluh hari tanpa berhenti!

Tidak ada lagi dinding belenggu lelah, malas, pusing, ide mentok, atau tidak ada waktu.

Saya dobrak itu semua dengan menulis kapan saja, di mana saja dengan media apa saja.

Di dalam perjalanan menuju tempat bekerja, di mall ketika sedang menemani anak-anak bermain.

Menulis hanya dengan dua jari, jempol kiri dan telunjuk kanan, di atas handphone android jadul saya ketika bersantai di taman-taman yang indah di Qatar, sambil melihat anak-anak gembira memacu sepeda baru mereka di seantero area taman yang luasnya seperti hutan dan bukit di serial televisi Telle Tubbies itu, kini terasa jauh lebih mudah.

Saya bisa menulis ketika saya ingin menulis dan ketika saya harus menulis.

Tulisan ini pun hanya saya tulis dalam waktu tidak lebih sambil mengawasi pemasangan pengantar rak buku dan rak sepatu yang saya pesan kemarin.

Dan yang lebih ajaib lagi, naskah buku non fiksi ketiga saya yang sudah mangkrak dan teronggok pasrah tak terjamah di dalam folder-folder yang tidak kalah terbengkalai juga, akhirnya bisa saya selesaikan.

Draft itu kini sudah menjadi naskah mentah yang tinggal dipoles, dijahit, digosok, dan dipermak agar segera memendarkan pesonanya untuk segera dikirim ke penerbit terbesar di Indonesia.

Insyaallah Best Seller tahun depan!

Terimakasih 30 Days Writing Challenge!

Doha, 19 November 2018

Iklan

Menganggur Atau Gugur

Oleh: Diday Tea

Bandung di waktu akhir pekan adalah nerakanya pemakai jalan raya.

Kemacetan terjadi hampir di setiap ruas jalan yang menuju dan ke arah tempat-tempat wisata di Bandung dan sekitarnya.

Sejak memasuki gerbang tol Pasirkoja misalnya, sudah dapat dipastikan puluhan mobil yang berasal dari luar kota Bandung sedang mengular beriringan di dalam antrian.

Jarak kurang dari sepuluh kilometer saja bisa ditempuh dalam satu jam atau lebih. Atau bahkan tidak maju sama sekali.

Pilihan untuk penduduk Bandung ya hanya dua. Diam di rumah atau menikmati saja derita kemacetan seperti itu.

Di Qatar juga beberapa tahun ini penyakit yang sama sudah mulai menjangkiti beberapa luas jalan.

Walaupun hanya pada jam-jam tertentu saja, tapi kebetulan bertepatan dengan jadwal saya pulang kerja shift pagi.

Jarak dari rumah saya di Doha ke kota Industri tempat saya hampir sembilan puluh kilo. Ya, memang jauh banget!

Sejak kemacetan mulai melanda, jarak itu bisa ditempuh kurang dari satu jam setengah dengan bis perusahaan.

Kalau menyetir sendiri bisa lah sekitar 50-55 menit, pokoknya paling lama satu jam.

Jika hari kerja, waktu tempuh bisa molor sampai dua jam lebih.

Jika saya berangkat dari rumah jam 4:15 pagi, paling cepat saya baru bisa mengetuk pintu rumah dan melihat senyum istri dan anak-anak yang membuka pintu rumah jam 20:10.

Ketika shift pagi saya seolah hanya menumpang tidur saja di rumah. Karena lebih lama di luar rumah.

Tapi ada hikmahnya juga sih.

Waktu luang bertambah. Dan itu bisa saya isi juga dengan tidak sekedar tidur.

Biasanya saya mendengar murottal, niatnya sih menghafal walaupun ternyata tidak hafal-hafal. Hehehe.

Insyaallah niat sudah tercatat sebagai pengharal Al Qur’an. Aamiin.

Waktu total hampir empat jam di perjalanan itu bisa saya isi juga dengan menulis dua jari. Alhamdulillah, hampir setiap hari tulisan saya rutin saya terbitkan di blog http://www.didaytea.com dan Instagram @didaytea.

Atau hanya sekedar memandangi hampanya garis horison antara gurun pasir berwarna cokelat pucat dan birunya langit sepanjang jalur bebas antar kotapun sudah cukup bisa membuat saya bertafakur mengagumi ciptaan Allah Yang Maha Pencipta.

Apalagi ketika sudah sampai di dalam kota Doha, pemandangan jauh lebih indah, Hijau di mana-mana, tidak terasa sama sekali jika sedang berada di tengah gurun pasir.

Jangan biarkan waktu luang sesedikit apapun untuk menganggur. Minimal berdzikir dan menabung istighfar.

Kalau banyak ladang amal yang bakalan gugur.

Karena ingat, waktu itu tidak gratis. Waktu seharga nyawa kita yang hanya kita punga satu-satunya.

Doha, 13 November 2018

Enak Ngga Sih di Qatar?

Enak Ngga Sih DI Qatar

 

 

 

 

 

Oleh: Diday Tea

Walau pun sudah hampir sebelas tahun tinggal dan bekerja di negara yang berada di tengah gurun pasir Timur Tengah bernama Qatar, masih saja ada teman-teman yang bahkan tidak tahu Qatar itu di mana.

Entah nilai IPSnya sangat kurang atau ya memang kurang mendapatkan informasi mengenai satu-satunya negara yang namanya diawali oleh Huruf “Q”.

O iya, nama ibukotanya Doha, tempat salah satu ulama besar dunia, Dr. Yusuf Qaradhawi tinggal. Dan tempat di mana turnamen sepakbola terbesar di muka bumi, Piala Dunia 2022 akan digelar.

Enak ngga sih di Qatar?

Itu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh siapa pun yang baru mengetahui kalau saya tinggal dan bekerja di Qatar.

Pertanyaan yang pendek tapi akan memerlukan jawaban yang sangat panjang.

Jadi tulisan ini semoga bisa menjawab pertanyaan tersebut dari sudut pandang saya, pekerjaan yang saya tekuni sekarang, dan kondisi terakhir saya sampai tulisan ini dibuat ya!

Suka duka kerja di Qatar?

Suka

Pertimbangan utama yang sangat manusiawi dan rasional bagi sebagian besar TKI seperti saya adalah ya tentunya masalah financial. Dengan posisi dan level pekerjaan yang sama, penghasilan di Qatar dan secara umum daerah Timur Tengah, jauh lebih besar dibanding dengan pekerjaan di Indonesia.

Apalagi setelah ternyata di kontrak dicantumkan bahwa saya boleh membawa keluarga.

Dan tidak hanya membawa keluarga saja, sejumlah fasilitas yang sangat jauh di atas kepuasan juga diberikan oleh perusahaan.

Biaya kesehatan seluruh anggota ditanggung oleh Perusahaan sampai empat anak.Biaya sekolah ditanggung oleh Perusahaan sampai dengan anak ke empat. Dan biaya sekolah di sini sangat mahal. Biaya sekolah anak saya yang baru kelas tiga SD saja hampir seratus juta rupiah per tahun, itu pun sekolah menengah, bukan sekolah elit.

Sistem Pendidikan di sini secara umum  ada tiga kurikulum. Kurikulum India, British/Amerika dan Lokal. Anak-anak saya bersekolah di sekolah Internasional, British Curriculum, tapi tetap berbasis Islam. Menghafal Al Qur’an alhamdulillah dimasukkan ke dalam kurikulum. Diwajibkan Sholat Zhuhur berjamaah. Ada sholat Dhuha Bersama, berdo’a Bersama. Sebelum masuk kelas ada do’a Bersama dimpimpin oleh ustadz/guru Agama khusus.

Ada dua bagian. Primary (kelas 1-6) dan Secondary (7-12).

Secara umum beban belajarnya tidak sebanyak seperti Indonesia. Primary (Setingkat SD di Indonesia hanya ada 13. Itu punsudah termasuk semacam Pelajaran Muatan Lokal seperti Arabic dan Qatar History.

Tidak ada ranking.

Suka tambahan lainnya adalah banyak waktu luang, karena jadwal shift yang umum untuk pekerja di dunia Petrokimia atau Oil & Gas seperti saya adalah empat  hari kerja dan empat hari libur. Sehingga saya memiliki banyak waktu untuk mempelajari hal-hal baru dan meneruskan hobi yang sudah saya tekuni sejak lama, menulis via blog atau website pribadi.

Alhamdulillah tulisan-tulisan itu telah berhasil menjadi beberapa buku:

  • Kumcer Gilalova 5, bergabung dengan penulis-penulis di Rumah Dunia.
  • Oase Kehidupan Dari Padang Pasir (Penerbit Quanta Elexmedia)
  • Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini? (Penerbit Quanta Elexmedia).

Dengan waktu yang sangat luas itu, saya juga bisa menyempatkan waktu untuk mempelajari ilmu desain grafis. Dengan menggabungkan kedua skill itu, saya mulai rutin membuat materi dakwah yang dibuat ke dalam bentuk poster atau infografis, bisa dilihat di Instagram @didaytea, atau www.didaytea.com.

Saya juga  mempelajari fotografi, sampai alhamdulillah saya pernah mendapatkan medali perak dan perunggu di kontes fotografi internasional Al Thani Award dan mendapat hadiah puluhan juta Rupiah. Dua kali.

Yang paling tidak terasa tapi luar biasa itu ya akhirnya saya bisa menyelesaikan hutang kehidupan saya ketika akhirnya saya bisa mendapatkan gelar sarjana dari Universitas Terbuka UPBJJ Qatar.

Suka yang lainnya?

  • Dekat dengan Arab Saudi, bisa umroh dengan biaya murah. (Nah, ini dulu sebelum Qatar diblokade oleh beberapa negara tetangganya).
  • Tidak ada pajak, jadi harga barang elektronik dan Mobil sangat murah. Jadi bisa merasakan dan memiliki mobil yang harganya fantastis di Indonesia.
  • Wanita sangat terjaga di fasilitas umum.
  • Pandangan lebih terjaga, karena Pemerintah Qatar mengeluarkan aturan untuk berpakaian sopan di tempat umum.
  • Tidak ada kekhawatiran dengan makanan, karena pemerintah sangat ketat mengatur tentang peredaran dan pengaturan sanitasi makanan di Qatar. Jika ketahuan melanggar, siap-siap saja hukuman berat sudah menanti. Pernah ada salah satu jaringan supermarket besar ditutup hampir dua bulan karena terciduk menyimpan barang yang sudah kadaluwarsa.
  • Fasilitas kesehatan sangat baik dan sangat murah. Bahkan ekspatriat pun ditanggung oleh Pemerintah Qatar melalui program yang bernama Health Card. Sebagai ilustrasi, biaya lahiran di rumah sakit Pemerintah jika memiliki Health Card tadi hanya sekitar 4000 rupiah. Anak saya pernah Patah tulan, dan langsung mendapat perawatan maksimal. Dioperasi dan dirawat. Ketika check out hanya harus membayar biaya obat kira kira 8000 rupiah saja.
  • Ada rumah sakit emergency khusus untuk anak. Pediatric Emergency.
  • Qatar adalah tuan rumah rutin Moto GP.
  • Sering menjadi basecamp tim-tim sepakbola Eropa ketika sedang Winter Break. AC Milan, PSG, Byern Muenchen.
  • Banyak taman-taman yang sangat indah untuk keluarga. Dan Gratis.
  • Qatar akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Pembangunan sedang berjalan dengan sangat pesat. Sehingga ketika berkeliling di jalanan, selalu terasa seperti mengunjungi tempat baru. Jalan tol, Stadion, Fly Over, Mall terus bertambah setiap tahun.
  • Libur resmi ketika Idul Adha dan Idul Fitri sangat Panjang bisa satu minggu penuh.
  • Bulan Ramadhan, harga sembako akan disubsidi oleh Pemerintah. Jadi semua Supermarket menjual harga sembako jauh lebih murah dibanding bulan selain Ramadhan.
  • Makanan Indonesia sangat mudah didapatkan. Ada beberapa restoran Indonesia dan Supermarket yang menjual bahan makanan yang langsung diimpor dari Indonesia.
  • Dekat dengan Eropa dan Amerika. Jadi bisa berwisata ke sana dengan biaya yang jauh lebih murah jika dibandingkan dari Indonesia.
  • Birokrasi jauh lebih sederhana dibandingkan di Indonesia.
  • Wilayah Qatar sangat kecil. Dari ujung Selatan ke ujung Utara hanya dua jam menyetir.
  • Mesjid mesjid Besar memfasilitasi anak-anak untuk menghafal Al QUr’an dengan menyediakan ustadz-ustadz pengajar. Gratis. Disediakan jemputan.
  • Pengalaman baru, bertemu dan  bergaul dengan orang-orang multinasional dan multikultural.

Setelah seabrek suka yang sampai bisa membuat saya betah bekerja sampai hampir sebelas tahun itu, apakah ada dukanya? Ya jelas ada dong!

Walau pun sedikit, tapi ini bobotnya sangat berat, sehingga kadang saya sering memikirkan untuk pulang ke tanah air.

Begini nih dukanya.

Beberapa kali saya mendengar kabar ada orang tua teman yang meninggal, dan mereka tidak bisa mengejar waktu untuk melihat orang tua mereka untuk terakhir kalinya. Ya, karena jarak Doha ke Jakarta sangat jauh, bisa sembilan jam perjalanan. Apalagi yang rumahnya di luar pulau, tentunya akan lebih lama lagi.

Dan pastinya kesedihan akan berlipat ganda ketika hanya bisa melihat pusara orang tua.

Yang kedua, ini juga sangat sulit untuk ditanggulangi, yaitu cuaca.

Ketika musim panas (Mei-November) cuaca sangat panas. Suhu bisa mencapai lima puluh derajat. Di bulan Agustus-Oktober ada bonus tambahan yang datang bersama panas itu, yaitu  kelembapan yang sangat tinggi. Jadi seperti anda sedang menanak nasi sambil mengipas-ngipas nasi yang nmasih mengepulkan uapnya, ditambah dengan adik anda menyalakan hair dryer tepat ke wajah anda. “Ngaheab dan Bayeungyang”kalau istilah di dalam bahasa Sunda.

Di musim panas ini sangat berbahaya jika kita berada di luar rumah.

Ketika musim dingin tidak terlalu berat walau pun suhu bisa mencapai 10 derajat. Tapi ada waktu ketika angin dingin berhembus lebih kencang dan cuaca lebih dingin dari biasanya.

Di dalam satu tahun, ada dua bulan yang cuacanya sangat enak, sehingga anak- anak bisa bebas bermain di luar rumah dan taman-taman indah yang tersebar hampir di seluruh Qatar. Bulan pancaroba, peralihan antara musim dingin ke musim panas dan sebaliknya. Biasanya bulan November dan April.

Tetapi di waktu selain dua bulan itu, anak -anak hanya bisa bermain di dalam rumah atau ya tidak jauh dari mengelilingi taman bermain di pusat perbelanjaan atau Mall terdekat.

Anak-anak sangat kurang waktu bermain di luar rumah dan berinteraksi dengan alam.

Sangat sedikit teman yang mereka miliki selain teman-teman di sekolah dan TPA.

Yang lebih berat lagi di urusan keluarga di rumah harus berjuang sendiri, karena dengan penghasilan dan posisi saya bekerja saat ini sangat sulit untuk memiliki asisten rumah tangga.

Sehingga pasangan suami istri harus bekerjasama lebih erat untuk mengurus urusan anak-anak dari sekolah, mengaji, membantu mengerjakan PR, kegiatan di luar sekolah.

Terutama istri-istri. Jangan dikira mereka yang ikut suami tinggal di luar negeri itu sepenuhnya enak, malah jelas lebih melelahkan dan sangat menguras energi. Jadi waktu mudik yang biasanya satu tahun sekali adalah waktu yang sangat diidam-idamkan oleh para Ibu- ibu di sini.

Rindu tanah air dan keluarga. Ya wajar lah kalau kita rindu dengan keluarga.

Dengan koneksi internet yang sangat cepat di sini, media komunikasi dengan keluarga di Indonesia ya dengan Video Call.  Bisa setiap saat, walau pun tentunya harus mempertimbangkan perbedaan waktu di Qatar yang empat jam lebih lambat.

Pesan saya untuk temen- temen yang masih sekolah atau kuliah, ada satu skill yang harus kita miliki di zaman sekarang. Bahasa Inggris. Itu sangat penting untuk kehidupan. Akan menjadi nilai tambah jika menjadi pekerja atau pun pengusaha atau profesi apa pun.

Jangan pernah ragu untuk bisa bermimpi untuk merantau/bekerja di luar negeri. Karena insyaallah bisa membuat kita lebih bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, atau bahkan lebih besar lagi.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. (Imam Syafii)

Doha, 27 Oktober 2018

#day7 #30dwcjilid15 #squad7

ORANG KAYA YANG BIKIN IRI

 

Oleh: Diday Teaharta halal yang banyak 3

 

Beberapa hari ini di dunia maya sedang viral tentang kelucuan netizen Indonesia yang membuat parodi status yang berhubungan dengan film Crazy Rich Asian, dengan tagar #crazyrichsurabayan dan #crazyrichkalimantan.

Tulisan ini kurang lebih berkaitan dengan orang kaya, walau pun tidak sekaya tokoh di dalam film itu, apalagi salah satu #crazyrichkalimantan yang dari gerbang depan sampai ke pintu utama rumahnya saja perlu waktu lima belas menit naik mobil, atau yang jalan-jalan ke depan kompleks memakai helikopter.

Di Doha, Qatar, tempat saya tinggal periode antara Juni sampai Oktober adalah musim panas.

Suhu di tengah hari bolong bisa mencapai hampir lima puluh derajat Celcius.

Orang-orang yang bekerja di dalam ruangan seperti saya sangatlah beruntung, tidak harus berjuang menghadapi panas yang sangat menyengat itu. Hanya pada momen-momen tertentu saja  harus berkontak langsung dengan sang musim panas yang masih saja menakutkan. Even for orang like me yang sudah almost sebelas tahun working di daerah Middle East yang which is seharusnya sudah biasa dong, tapi still very difficult banget untuk adjusting myself to the summer yang sangat panas dan torturing banget. Aduh maaf, saya agak sedikit terpengaruh dengan #bahasaanakjaksel.

Di bulan September seperti sekarang ada bonus yang datang mengiringi suhu yang sangat panas itu. Kelembapan udara yang sangat tinggi.

Sehingga, efek panasnya akan berganda. Ya panas, ya lembap.

Rasanya seperti anda ditiup oleh hair dryer, lalu membuka Rice Cooker yang uapnya langsung membelai panas wajah dan leher anda. Kurang lebih seperti itu. Seperti setiap saat anda akan merasa menjadi bolu kukus atau kue putu. Perawatan dan pemutihan kulit semahal apa pun tidak akan berguna. Karena kulit saya memang berwarna sawo terlalu matang yang jatuh dari pohon tetangga. Coklat Tua.

Periode musim panas seperti ini memang tidak lama, tapi sangat “bermakna”.

Sampai-sampai kami orang Indonesia yang bekerja di Qatar punya peribahasa sendiri: “Winter setahun terhapus oleh Summer Empat Bulan”.

Agak sedikit maksa sih, tapi itu memang sangat mewakili tantangan yang harus kami hadapi yang  bekerja di tengah gurun.

Salah satu waktu ketika saya harus menghadapi suasana seperti itu adalah ketika berangkat Sholat Jumát.

Demi mendapatkan keutamaan datang awal waktu di awal Sholat Jumát, saya selalu mengusahakan datang setengah jam sebelum waktu Zhuhur. Selain keutamaan pahala, saya juga sejujurnya mengincar tempat parkir yang dekat mesjid. Karena ada atapnya. Sehingga mobil tidak akan terasa terlalu panas. Karena walaupun bermesin 5.7 Liter, tetap saja kalau diparkir di bawah sinar matahari langsung, pendingin mobil tetap memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa menurunkan suhu agar sedingin kantor bank di Indonesia.

Tetapi, setiap saya datang bersama si sulung, baris  pertama hampir selalu terisi pernuh, dan tempat parkir di dekat mesjid yang ada atapnya itu juga sudah penuh terisi.

Baris pertama sudah hampir penuh oleh beberapa pria setengah baya dan dewasa berumur 40-50an. Ada beberapa yang sepertinya berusia lanjut tapi terlihat masih segar dan mereka seperti sudah janjian sebelumnya. Selalu mengisi tempat yang sama. Baris pertama pojok kiri.

“Jam berapa mereka datangnya ya?” Tanyaku pada si sulung,

“Mungkin mereka datang earlier than us Pih, which is maybe much more lebih cepet dari half an hour” Jawabnya dengan #bahasaanakjaksel yang sedang sangat happening di dunia maya itu.

Ya wajar sih, soalnya sejak TK enol besar dia sudah bersekolah di sini, yang bahasa pengantarnya bukan Bahasa Indonesia apalagi bahasa Sunda seperti orangtuanya.

“Oke A, kita coba datang earlier next Friday!” Kataku dengan semangat.

Jumát depannya, saya dan si sulung datang empat puluh lima menit sebelum Zhuhur.

Eh, ternyata, masih seperti itu juga. Parkiran penuh dan shaf pertama hampir penuh.

Tapi hari itu kami beruntung. Kami bisa duduk di shaf pertama.

Ketika saya dan si sulung baru saja selasai shalat tahiyyatul mesjid, tiba- tiba tercium khas parfum Arab Oud yang wanginya mengalahkan parfum biasa-biasa saja yang aku dan si sulung pakai.

Sesosok pria dewasa, berumur pertengahan empat puluhan berdiri sholat  di sebelahku dengan pakaian khas berwarna putih dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Mungkin tinggi badannya sekitar 185 centimeter. Ya tipikal sosok orang Arab pada umumnya deh, yang pasti kalau dibandingkan langsung dengan saya jauh sekali bagaikan bumi dan Galaxy Andromeda. Jauh banget.

Ketika tahiyyat akhir, tak sengaja mataku tertuju kepada jam tangan yang melekat di tangannya.

Jelas dong, seperti yang saya duga sebelumnya kalau dia adalah orang yang berada, merek jamnya bukan semahal Richard Mille sih, atau Q & Q (euh maaf, kalau ini jam seratus ribuan sejuta umat zaman saya masih berseragam Putih-Abu), tapi yang pasti tidak akan terbeli oleh saya walaupun ada uangnya. Jamnya Rolex. Yang jelas dia dan teman-temannya yang satu rombongan itu jauh lebih kaya dari saya deh. Karena saya jamnya masih sekelas Casio atau Suunto. Itu pun jarang dipakai.

Ternyata si bapak ini satu rombongan dengan bapak-bapak yang lain, adalah penghuni baris pertama pojok kiri di kala sholat Jumát itu. Mungkin hari itu dia ada urusan atau sesuatu yang menyebabkan saya dan si sulung bisa mengisi tempatnya.

Ternyata lagi, mobil-mobil yang selalu memenuhi tempat paling nyaman dan damai di parkiran di mesjid itu adalah kebanyakan mobil mereka itu.

Mobilnya apa dong?

Ini bagian yang paling keren. Di area parkiran yang paling dekat dengan mesjid itu selalu ada sekelompok mobil yang parkir, dan itu-itu saja.

Tidak ada satu pun mobil- mobil itu yang mobil biasa. Dari 10 mobil, 4 di antaranya adalah Lexus LX570 yang kalau di Indonesia harganya sekitar 3 Milyar Rupiah. Sisanya? Tentunya bukan mobil LGCC, tapi BMW X6 dan Toyota Land Cruiser yang plastik pembalut jok tempat duduknya belum dibuka sama sekali. Entah karena masih baru, atau entah setiap tahun mereka membeli mobil baru. Karena setiap saya lihat dari dekat, kondisinya mobil-mobil itu masih saja bening dan kinclong.

Entah mereka datang jam berapa, karena ketika saya datang satu jam sebelum waktu Zhuhur pun, mobil-mobil itu sudah parkir dengan tenang dan para pemiliknya sudah sibuk dengan Al Qurán di baris pertama.

Tetiba saya teringat kepada hadits tentang dua orang yang layak kita cemburui:

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”        (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).

Maksud “iri/cemburu” dalam hadits ini adalah iri yang benar dan tidak tercela, yaitu al-gibthah, yang artinya menginginkan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang tersebut. (Hadits dan keterangan saya kutip dari www.rumaysho.com)

Kita wajib iri kepada orang- orang seperti ini, orang kaya dan sholeh.

Kejadian itu selalu memotivasi saya jika sedang malas beribadah. Orang-orang kaya yang sholeh itu sangat konsisten menjadi penghuni baris pertama.

Kalau kita malas beribadah, tidak sekaya mereka tapi tidak serajin mereka beribadah, ya apa lagi dong yang mau dibanggakan?

Apa lagi yang bisa kita tukar dengan pahala atau syurga?

Bisa jadi itu adalah bentuk kesombongan kita dan kemalasan yang sudah stadium akhir.

Mari kita jangan pernah melewatkan doá  agar kita diberi rejeki dan umur oleh Allah untuk menjadi orang kaya yang sholeh.

Karena insyaallah dengan kondisi seperti itu kita akan menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk orang lain.

Seperti kata ustadz Abu Syauqi, pendiri Rumah Zakat-semoga Allah merahmati dan menyayangi beliau-: “Harta halal yang banyak akan terasa manfaatnya untuk umat Islam, jika berada di tangan orang yang sholeh”.

 

Doha, 18 September 2018

www.didaytea.com

Twitter: @didaytea

IG: didaytea

FB: Oase Kehidupan Dari Padang Pasir

 

SEDEKAH 3 MILYAR ITU GAMPANG!

SEDEKAH 3 MILYAR

 

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar”

[QS Al-Qadar : 1-5]

 

Ada satu malam di bulan Ramadhan yang nilainya sama dengan seribu bulan.

Itu artinya, amalan ibadah apa pun yang kita lakukan akan mempunyai faktor pengali yang sungguh menakjubkan sebanyak 1000 bulan, atau 30000 hari.

Tetapi, kita hanyalah manusia, tempatnya lupa dan lalai.

Seringkali sebagian dari kita  kehilangan fokus ibadah ketika sudah melangkah ke sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pikiran kita sudah terganggu dengan jadwal mudik, baju lebaran dan lain- lainnya.

Bagaimana agar kita tidak melewatkan kesempatan berlian ini?

Insyaallah mudah kok!

 

MEMBERI BUKA PUASA

 

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

(HR. Tirmidzi No. 807)

Di Awal Ramadhan, biasanya banyak sekali mesjid yang memberi ladang amal untuk berbuka puasa. Untuk yang diberi kecukupan rezeki tentunya bukan masalah. Mereka bisa transfer ke sebanyak mungkin mesjid dengan jumlah yang mungkin tidak terbatas.

Nah, gimana untuk kita yang keuangannya masih terbatas?

Sesuai kemampuan saja, tapi jangan sampai lewatkan  ladang amal yang luar biasa ini.

Kesempatan untuk mendapatkan pahala berbuka puasa selama sebulan penuh.

Dan pastinya plus bonus pahala nomplok dikali seribu bulan ketika malam Lailatul Qadar.

Insyaallah bukan halangan. Karena hitungannya sederhana loh.

Walau pun kita hanya memberi seratus ribu rupiah ke satu mesjid misalnya, tapi uang itu akan terbagi rata selama satu bulan Ramadhan. Maka setiap orang yang berbuka puasa dari sedekah kita, insyaallah pahalanya akan mengalir seperti air Bah.

Kita akan selalu mendapat “Saham” pahala memberi berbuka puasa setiap hari selama bulan Ramadhan.

Bayangkan ketika bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, kita bisa mendapat pahala puasa sebanyak tiga puluh ribu orang yang berpuasa, dan itu pun masih dikalikan dengan jumlah jamaah yang berbuka puasa pada hari itu.

Allahuakbar!

 

SEDEKAH SETIAP MALAM

 

Jika kita sedekah 100 ribu rupiah saja, ketika bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, maka sedekah kita akan bernilai 3 Milyar!

Maksimalkan semua peluang, jangan sampai ada malam di bulan Ramadhan yang terlewatkan tanpa ada sedekah.

Maksimalkan kecanggihan teknologi dan peluang- peluang untuk bersedekah.

Manfaatkan Online Banking, Sedekah Harian di Paytren, Paypal, sedekah potong pulsa, counter counter di Mall, kotak amal mesjid ketika tarawih, kotak amal mesjid transit ketika di perjalanan mudik, bapak – bapak tua pembersih sampah di tengah hari.

Pokoknya mah jangan lewatkan kesempatan sekecil apa pun.

 

Ayo kurangi menabung, perbanyak sedekah!

 

@didaytea!

Doha 22 Mei 2017.

http://www.didaytea.com

 

NB: Mohon viralkan tulisan ini agar sebanyak mungkin orang yang mendapatkan pahala luar biasa di malam Lailatul Qadar nanti, insyaallah!