Sumber Kesehatan Jiwa

1. Adil
2. Amanah
3. Baik hati dan tidak sombong
4. Banyak berterimakasih
5. Banyak memuji Allah
6. Banyak menolong
7. Benci karena Allah
8. Berani
9. Berkemauan keras
10. Berkorban karena Allah
11. Berdzikir memikirkan asma Allah
12. Cinta karena Allah
13. Fathanah
14. Harap dan takut hanya kepada Allah
15. Ikhlas
16. Ingat mati
17. Istiqamah
18. Jujur
19. Lemah lembut
20. Mengendalikan nafsu
21. Menghindari dosa-dosa
22. Menyantuni fakir, miskin, dan anak yatim
23. Murah hati
24. Optimis
25. Pantang putus asa
26. Pantang menyerah
27. Sabar atas ujian hidup
28. Senantiasa berbaik sangka
29. Senantiasa bersuci, dalam keadaan berwudhu
30. Siap menjalani ujian hidup
31. Siddiq
32. Suka memaafkan
33. Selalu bersyukur atas nikmat dari Allah
34. Tabligh
35. Takut karena Allah
36. Taubat
37. Tawakkal
38. Qanaah

Dikutip dan sedikit dimodifikasi dari buku SHOOT:Sharpening Our Concept and Tools

Sumber Penyakit Jiwa

1. Angkuh, mau menang sendiri
2. Bakhil, kikil, pelit, medit, keked mengkene meregehese cap jahe (ini istilah Sundanese, maaf..^_^)
3. Berburuk sangka
4. Susah menerima nasihat orang
5. Enggan memaafkan
6. Gemar mencela, selalu mencari kesalahan
7. Gemar mengumpat
8. Gemar mengungkit kesalahan
9. Gemar menumpuk harta
10. Gila jabatan
11. Ingkar janji
12. Keras kepala
13. Cepat putus asa
14. Licik
15. Licik
16. Pemalas
17. Pemarah
18. Pendusta
19. Rendah diri (bukan rendah hati..)
20. Riya
21. Tidak ikhlas
22. Sangat cinta harta
23. Putus asa
24. Sombong
25. Suka dipuji
26. Senang membantah dan melawan
27. Suka menggunjing
28. Suka menjilat
29. Takut mati
30. Tamak, serakah
31. Suka lupa akan jasa orang lain
32. Tidak sabar

Dikutip dari buku SHOOT lagi, dengan sedikit modifikasi

Hakikat Doa

 ‘‘Jangan sampai permintaanmu kepada Allah engkau jadikan alat untuk mendapatkan pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma’rifatmu) kepada Allah. Namun, hendaknya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan Tuhanmu.” (Imam Ibnu Atha’illah)

Allah menyuruh kita berdoa, bukan berarti Allah tidak tahu kebutuhan kita. Allah jauh lebih tahu kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Hakikatnya, permintaan yang kita panjatkan terlalu sedikit dibanding dengan karunia yang telah Allah berikan pada kita.

Allah juga tidak membutuhkan doa kita. Walau seluruh manusia dan jin menolak berdoa kepada-Nya, kemuliaan Allah tidak akan berkurang. Sebaliknya, jika seluruh manusia dan jin memohon kepada Allah, kemuliaan-Nya pun tidak akan berubah.

Lalu, mengapa Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita berdoa? Ada empat alasan.

Pertama, memperjelas kedudukan kita sebagai hamba dan Allah sebagai Al Khalik. Memahami hakikat diri sebagai hamba, akan menjadikan kita rendah hati. Karena itu, seorang pendoa yang baik akan terhindar dari sikap sombong, malas, dan bergantung selain kepada Allah.

Kedua, doa sebagai sarana dzikir. Allah menyuruh kita berdoa agar kita ingat kepada-Nya. Dengan mengingat Allah, hati kita akan tenang. Dan ketenangan adalah kunci kebahagiaan. Allah berfirman dalam QS Ar Ra’d [13] ayat 28, ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.”

Ketiga, doa adalah target. Doa hakikatnya adalah tujuan, keinginan, atau target yang ingin kita raih. Saat kita mengucapkan doa sapu jagat misalnya, maka itulah target kita: selamat dunia akhirat. Saat kita berdoa lunas hutang, maka itulah target kita: bebas utang. Tentu target tidak akan pernah tercapai bila kita tidak mengusahakannya.

Doa adalah pupuk, sedangkan ikhtiar sebagai bibitnya. Tidak mungkin kita akan panen, bila kita segan menebar bibit. Jadi doa yang baik adalah doa yang disertai dengan ikhtiar maksimal. Itulah iman dan amal saleh.

Keempat, doa adalah penyemangat. Pada saat seorang hamba berdoa, maka yakinlah bahwa hamba tersebut memiliki harapan, dan harapan akan melahirkan semangat.

Saudaraku, semangat itu mahal harganya. Sebab, semangat akan menentukan sukses tidaknya seseorang. Pertolongan Allah hanya akan mendatangi orang yang bersemangat; bersungguh-sungguh. Bukankah saat kita bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi kepada kita?

Saudaraku, perbanyaklah berdoa kepada Allah. Doa adalah inti ibadah. Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah pengubah takdir. Doa pun menjadi kunci terbukanya pertolongan Allah. Karena itu, yang terpenting dari doa bukan urusan terkabul tidaknya doa kita. Yang terpenting dari doa adalah berubah tidaknya diri kita karena doa. Wallaahu a’lam.
aa gym

Membangun Ketaatan Diri

Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun hendaknya engkau mengoreksi diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada Allah. (Ibnu Athailah)

Setiap orang pasti memiliki harapan. Namun tidak semua harapan bisa diwujudkan. Walau mungkin kita telah optimal berusaha atau dan berulang kali memanjatkan berdoa. Bila demikian apa yang salah, ikhtiarnya-kah atau doanya?

Saudaraku, sangat bijak bila kita tidak terburu-buru menyalahkan atau berburuk sangka kepada Allah, saat doa-doa kita belum terkabul. Sebab, tidak ada yang menghambat ijabahnya doa dan datangnya pertolongan Allah selain diri kita sendiri. Ada nasihat menarik dari Ibnu Athailah, Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun hendaknya engkau mengoreksi diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada Allah.

Jadi, terhambatnya pengabulan doa bukan karena Allah tidak mau memberi. Penyebab utamanya ada pada diri kita sendiri yang tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhi hak-hak Allah. Karena itu, kita harus mulai mengoreksi diri. Sudah benarkan ibadah kita? Sudah totalkan pengharapan kita kepada Allah? Sudah bersungguh-sungguhkan kita dalam taat kepada Allah? Kalau belum, jangan menyalahkan siapa pun bila pertolongan Allah belum menghampiri kita.

Penjabarannya, lihat ibadah kita, apakah sudah benar dan optimal. Apakah kita tergolong orang yang gemar melakukan amal-amal yang disukai Allah: mencintai masjid, menjaga shalat berjamaah dan tepat waktu, tahajud, bersedekah dalam senang atau susah, gemar menolong orang, zikir setiap waktu, dsb. Bila untuk kewajiban-kewajiban utama saja kita kurang bersungguh-sungguh, maka bagaimana mungkin pertolongan Allah akan datang?

Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya, jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika ia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi. (HR Bukhari).

Menurut hadis ini kunci datangnya pertolongan Allah, kunci pembuka pintu-pintu rezeki, ilmu dan segala kebaikan, adalah ketakwaan dan kesungguhan kita melaksanakan amal-amal yang dicintai Allah. Dalam QS Ath Thalaaq [65] ayat 2-3, Allah SWT menegaskan, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Saudaraku, membangun ketaatan kepada Allah dalam ibadah-ibadah fardhu dan sunat plus keterkaitan hati kepada-Nya adalah fondasi dasar bangunan keimanan seorang hamba. Tanpa adanya fondasi ini, tidak berguna ketinggian ilmu, kecanggihan manajemen, optimalnya ikhtiar atau melimpahnya kekayaan. Semuanya akan berujung pada bencana dan keputusasaan.

Saudaraku, perlu ditegaskan lagi bahwa tugas kita ada tiga. Pertama, meluruskan niat. Kedua, menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, bertawakal sepenuh hati kepada Allah. Andai kita sudah melaksanakan semua itu, namun apa yang kita dapatkan belum juga sesuai keinginan, maka yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sekecil apapun amal hamba-Nya. Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Kewajiban hanyalah berusaha dan berproses secara optimal dalam koridor yang telah ditetapkan. Hasil sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Wallaahu a’lam.
aa gym

Mirror Mirror on The Wall

Bercermin

Dalam hidup keseharian, kita sangat sering dan merasakan nikmat ketika bercermin. Kita tidak pernah bosan sekali pun. Padahal, wajah yang kita tatap itu-itu juga. Aneh bukan? Bahkan, hampir pada setiap kesempatan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin terlihat mengecewakan. Apalagi kusut masai dan berantakan tidak karuan. Ini semua tidak dapat dimungkiri. Penampilan adalah cermin pribadi kita.

Orang beriman yang rapi, tertib, dan bersih, maka pribadinya juga akan cenderung rapi, tertib, dan bersih. Sebaliknya, orang yang penampilannya kucel, kumal, dan berantakan, karakter pribadinya biasanya tidak jauh berbeda.

Tentu saja, penampilan rapi, tertib, dan bersih itu, insya Allah akan menjadi kebaikan, selama niat dan caranya benar. Apa saja niat yang benar itu? Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan, niat agar orang lain tidak berprasangka buruk, atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita.

Selain itu, yang paling penting adalah, Allah suka dengan penampilan yang indah dan rapi sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Innallaha jamiilun yuhibbul jamaal, sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan”.

Hindari niat untuk menjerumuskan orang lain. Mungkin awalnya mereka akan terpesona pada penampilan kita. Akan tetapi, ujung-ujungnya hati mereka malah tergelincir dan menimbulkan penyakit. Tentu saja, dalam hal ini kita menanam saham karena menimbulkan dosa pada orang tersebut. Na’udzhubillah.

Hal lain yang sering membuat kita terlena adalah, kita jarang berpikir bahwa selama ini kita baru sibuk bercermin “topeng” belaka. Topeng make up berupa seragam, jas, dasi, sorban, atau aksesori lainnya. Tanpa disadari, kita sudah ditipu dan diperbudak “topeng” buatan sendiri.

Terkadang, kita sangat ingin agar orang lain menganggap diri ini lebih dari kenyataan yang sebenarnya. Kita ingin tampak lebih pandai, lebih gagah, lebih cantik, lebih kaya, lebih saleh, lebih suci dan aneka kelebihan lainnya.

Pada akhirnya, selain harus bersusah payah agar “topeng” ini tetap melekat, kita pun akan dilanda tegang dan waswas. Mengapa? Kita sangat takut “topeng” kita akan terbuka dan orang lain tahu siapa kita sebenarnya.

Tentu saja, tindakan tersebut tidak sepenuhnya salah. Wajar saja kita menutupi aib diri sendiri. Adalah suatu kesalahan jika kita malah membuka aib diri yang selama ini telah ditutupi oleh Allah SWT.

Yang perlu selalu diingat, jangan sampai kita terlena dan tertipu oleh “topeng” sendiri. “Topeng” akan membuat kita tidak mengenal diri yang sebenarnya. Kita juga akan terkecoh oleh penampilan luar. Karena itu, marilah kita jadikan saat bercermin adalah saat yang tidak hanya disibukkan oleh “topeng”. Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana isinya, yaitu diri kita sendiri.

Berdialoglah dengan diri, “Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam kotoran-kotoran yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotaranmu?”

“Wahai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan? Berapa banyak aib nista yang engkau sembunyikan di balik penampilanmu ini?”

“Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersuka cita, bercengkerama di surga? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar Jahanam, yang akan terus terasa tanpa ampun, memikul derita tiada akhir?”

Sungguh! Betapa banyak perbedaan antara yang tampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa yang kulihat selama ini hanyalah “topeng”, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus “topeng-topeng” duniawi.

Wahai Sahabat-sahabat sekalian…! Sesungguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menghitung diri. n
aa Gym