Bayangkan Jika Kita Harus Berdo’a Seperti Ini!

Bayangkan Jika Kita Harus Berdo’a Seperti Ini!

“Ya Allah, kedipkanlah mata ini dengan kecepatan 6 kedipan/detik, dan kalau kira-kira seret, keluarkanlah air mata dari kelenjar air mata, secukupnya saja Ya ALLah, jangan banyak-banyak. Dan Ya ALLAH keluarkan air mata yang bening dan transparan,jangan yang keruh…

Ya ALLAH, kalau aku ingin ke wc, buatlah sinyal untuk memberitahu aku, supaya aku tidak kababayan(BAB di celana-sunda-) atau beser. Kalau aku kelelahan buatlah aku menguap (heuai) sebagai tanda agar aku segera istirahat. Dan kalau lagi tidur, matanya meremin Ya ALLAH, jangan dibellototin..nanti orang yang ngeliat takut Ya ALLAH..

Ya ALLAH tolong detakkan jantungku kira-kira 120 kali setiap menit, jangan cepet-cepet Ya ALLAH, biar ngga cepet rusak..

Ya ALLAH reaksikanlah Oksigen dari udara menjadi CO2 dan H2O di dalam paru-paruku, jangan sampe jadi gas yang laen..dan jangan sampai salah masuk ya ALLAH darah yang banyak Oksigennya.

Ya ALLAH pisahkanlah protein, lemak, dan karbohidrat dalam perutku ya ALLAH jangan sampai salah treatment. Pisahkanlah racun yang ada di dalam makanan agar tidak diserap oleh tubuhku.

Ya ALLAH kalau tubuhku terluka, bekukanlah darah yang keluar dari nadiku. Tutuplah lukanya dengan fibrinogen, agar kulitku merekat kembali ya ALLAH.

Ya ALLAH bersihkanlah darah yang mengandung di tubuhku di dalam hatiku ya ALLAH.

Ya ALLAH aturlah frekuensi yang bisa didengar olehku proporsional ya ALLAH, tidak segala kedenger…Jangan sampe suara Jin di sekitarku terdengar..Takut dong Ya ALLAH..klo lagi sendiri, tiba tiba ada yang ngomong di belakang…

Ya ALLAH, lindungilah diriku kalau aku sedang tidur, jangan sampai ada binatang yang masuk ke dalam tubuhku ketika tidur…

Ya ALLAh berikanlah aku makan setiap hari, dan jangan sampai aku tidak berpakaian..

Ya ALLAH, jangan sampai alisku tumbuh memanjang seperti rambut dan kukuku, sebab repot ya ALLAH motong alis yang gondrong…gigi juga ya Allah..masa saya tiap bulan harus nyukur gigi…ngga ada tukang cukur gigi ya Allah…

Ya ALLAH, kalau aku sedih, buat aku menangis, kalau aku gembira buat aku tertawa dan tersenyum, jangan sampai ketuker ya ALLAH..

Dan seterusnya, dan seterusnya….

Mungkin, dan PASTI ini mah….hanya untuk meminta kebutuhan kita yang paling dasar saja kita bisa berdo’a seharian…

Dan ternyata, tanpa kita minta pun ALLAH selalu memenuhi kebutuhan kita, ALLAH selalu melindungi kita…

MAKA NIKMAT ALLAH YANG MANA LAGI YANG AKAN KITA DUSTAKAN….?

Bersyukur, bersyukur, dan teruslah bersyukur…..!
Pasti ALLAH tambah, tambah, dan tambah, dan terus ditambah……

Didaytea!

Strategi Jualan Sayuran

Strategi Jualan Sayuran

Tukang Sayur : “Sayur…,sayur…beli sayur bu ?”

Bu RT : “Ada kacang panjang ?”

Tukang Sayur : “Ada banyak bu, silahkan pilih.”

Bu RT : “Seikat berapa bang ?”

Tukang Sayur : “3000 perak bu.”

Bu RT : “Kacang panjang banyak bekas dimakan ulat begini kok mahal banget ?”

Tukang Sayur : “Ooh, kalau mau cari yang murah, pilihnya di rak bawah ini semua masih mulus-mulus dijamin tidak ada bekas ulat.”

Bu RT : “Lebih murah…?”

Tukang Sayur : “Ya bu, memang dijual murah lha ulatnya aja kagak doyan makan yang itu.”

Bu RT : “???!!!…kalau gitu saya beli yang banyak bekas ulatnya deh.”

Tukang Sayur : ….. (kena deh….laku lagi sayurnya…hehehe…)

RISIKO LENTERA KEHIDUPAN

RISIKO LENTERA KEHIDUPAN

Seorang pria berlayar menyeberangi Selat Sunda dalam rangka mudik ke kampung halamannya. Ia mengalami mabuk laut yang parah dan mengurung diri didalam kamar. Hingga suatu malam ia mendengar teriakan, “Ada orang jatuh ke laut!”.

Akan tetapi, ia merasa bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan untuk memberikan pertolongan. Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri yang tengah mengalami mabuk laut tersebut, “Setidaknya saya dapat menaruh lentera pada tingkap di sisi kapal!”.

Lalu ia berusaha berdiri dan menggantungkan lenteranya. Keesokan harinya dia mendengar bagaimana orang yang berhasil diselamatkan tersebut berkata, “Saya nyaris tenggelam di tengah gelapnya malam. Namun, pada saat yang tepat,seseorang menaruh sebuah lentera pada tingkap di sisi kapal. Ketika lentera itu menyinari tangan saya, seorang pelaut yang ada di sekoci menangkap tangan saya dan menarik saya masuk kedalam sekocinya.”

Teringat akan yang diungkapkan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) tentang konsep 3Mnya untuk mengubah diri dalam rangka mengubah dunia, yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai dari sekarang juga.

Hidup akan terasa lebih hidup dan bermakna bukan karena hal-hal yang besar, melainkan dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan jiwa besar. Cahaya kehidupan abadi bukan nampak dari kemilau harta yang dimiliki, bukan pula dari indahnya tahta kedudukan yang dipunyai seseorang atau deretan gelar yang disandang. Cahaya kehidupan abadi justru dimulai dari lentera kecil yang ada dalam diri yang menyala dalam ketulusan memberi pertolongan pada orang lain dalam segala kekurangan dan kecukupannya.

Lentera kehidupan bukan berarti selalu member kebaikan kepada orang-orang yang baik dengan kita. Memberi pertolongan kepada orang yang sepaham, sealiran dan sependapat dengan kita adalah hal yang biasa. Namun, memberi pertolongan dengan dasar cinta kasih kepada orang-orang yang justru membenci kita, yang berbeda dan tidak sepaham dengan kita merupakan nilai tertinggi dari lentera kehidupan tersebut.

Seorang senior yang sangat bijak dan rendah hati, sungguh pun memiliki jabatan yang tinggi, pernah bertutur, “Harta saya yang abadi itu adalah yang saya berikan pada orang lain.”

Pernyataan yang menunjukan implementasi nilai-nilai spiritual yang tinggi itu, memberikan inspirasi dan dorongan bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah titipan dan sebagian milik orang lain. Inspirasi yangmemperkokoh keyakinan bahwa semua yang kita mliki saat ini tidaklah abadi. Hidup semata-mata adalah menjadi saluran berkah bagi orang lain.

Ketika lentera menyala bukan berarti tidak ada resiko-paling tidak resiko tertiup angin dan padam. Resiko terberat yang dirasakan seseorang ketika member pertolongan kepada orang lain, bukanlah semata-mata akibatnya harta yang berkurang atau tenaga dan waktu yang tersita, melainkan mempertaruhkan harga diri dan gengsi. Menyalakan lentera kehidupan berarti rela turun dengan rendah hati untuk sama-sama sederajat dengan orang yang ditolong untuk kemudian secara bersama-sama membawanya terbang tinggi.

Hambatan utama dalam menyalakan lentera kehidupan justru datang dari dalam diri sendiri yang tidak mau keluar (in side out) memperhatikan dan menolong orang lain. Dr. Lyndon pernah menyatakan bahwa orang yang menaklukkan orang lain adalah orang kuat, sedangkan orang yang menaklukan dirinya sendiri adalah orang yang berkekuatan dahsyat..

Berbicara mengenai resiko, akan sendi-sendi kita yang berjalan tanpa resiko. Tertawa berarti mengambil resiko kelihatan tolol. Menangis berarti mengambil resiko kelihatan sentimental. Mengulurkan tangan kepada orang lain berarti mengambil resiko terlibat. Menunjukkan perasaan berarti mengambil resiko menunjukan diri sejati kita.memberitahukan ide-ide dan impian kita didepan banyak orang berarti mengambil resiko kalah. Hidup berarti mengambil resiko mati. Berharap berarti mengambil resiko putus asa. Mencoba berarti mengambil resiko gagal.

Keberanian yang mengambil resiko moderat untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain, perusahaan, dan masyarakat merupakan awal yang baik untuk memulai hidup yang baru dengan menyalakan lentera kehidupan. Tidak dapat dipungkiri, begitu komitmen ini mulai dibangun, maka pada saat yang bersamaan pula rasa takut datang untuk menghambat laju komitmen tersebut. Berani berarti melawan rasa takut, menguasai rasa takut. Bukannya tidak merasa takut. Lebih baik mengambil resiko sekarang daripada selalu hidup dalam ketakutan.

Teringat apa yang diungkapkan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) tentang konsep 3M-nya untuk mengubah diri dalam rangka mengubah dunia, yaitu Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang juga.

Kehidupan yang paling menyedihkan adalah ketidakberanian mengambil resiko sekecil apapun (safety player). Orang yang tidak mau mengambil resiko berarti dia tidak dapat meraih apa pun, tidak memiliki apa pun, tidak merasakan apa pun dan akhirnya tidak menjadi siapa-siapa. Nyalakanlah lentera kehidupanmu dengan resiko apa pun, besok mungkin sudah terlambat dan padam.

(Parlindungan Marpaung, Setengah Isi Setengah Kosong)

Sikap Seorang Imam Sejati

Sikap Seorang Imam Sejati

Karena mengharapkan pahala berjamaah yang 27 kali lipat dibandingkan dengan sholat yang sendirian, maka para sahabat berduyun-duyun menjadi makmum di belakang Muadz bin Jabal untuk mengerjakan sholat Isya.

Sebagai imam, Muadz ingin menunjukkan kebolehannya. Ia membaca surat Al Baqarah sampai tamat pada rakaat yang pertama agar pahalanya lebih besar. Semua sahabat yang makmum mendongkol dalam hati mereka, karena surat Al Baqarah panjang sekali, sehingga kaki segenap jamaah gemetaran akibat terlalu lama berdiri.

Selesai rakaat yang pertama, para sahabat menyangka dan mengharap mudah-mudahan yang akan dibaca pada rakaat kedua surat yang pendek saja. Ternyata tidak. Muadz mengumandangkan ayat yang pertama dari surat Ali Imran sampai ayat terakhir. Kaki para makmum tambah menggeletar karena terlalu penat.

Sesudah salam, mereka berhamburan keluar dengan muka kecut. Bayangkan, shalat dimulai sekitar jam delapan, baru selesai jam sebelas malam.

Esoknya mereka mengadu kepada Nabi SAW. Tentang sholat Isya semalam yang telah membikin mereka kehabisan tenaga. Nabi pun segera memanggil Muadz. Sahabat ini menyangka Nabi akan memujinya, ternyata tidak. Ia malah memperingatkan supaya bila berdiri di muka jamaah selaku imam, hendalah shalatnya diringankan, jangan terlalu lama, tetapi juga jangan terlalu cepat. Sebab di antara makmum ada orang tua, ada yang askit, dan ada pula yang sedang terlibat oleh suatu urusan. Hal ini untuk menjaga agar makmum tidak membenci imamnya.

Nabi SAW pernah mengatakan bahwa barang siapa yang menjadi pemimpin suatu jamaah, sedangkan jamaah itu tidak suka kepadanya, maka shalat imam tersebut tidak akan naik melebihi batas kepalanya. Oleh karena itu, Nabi SAW mengatur melalui shalat jamaah supaya imam dan makmum, pemimpin dan yang dipimpin, sama-sama mentaati peraturan shalat. Kepatuhan makmum kepada imambukanlah ketaatan membabibuta dengan melihat siapa imamnya, melainkan kedisiplinan terhadap hokum yang disepakati bersama.

Karena itu, jika imam salah atau keliru, makmum harus memperingatkannya dengan cara yang dibolehkan oleh peraturan shalat jamaah. Dan semua gerakan imam yang termaktub dalam peraturan harus ditaati dan diikuti, siapapun imamnya. Dan siapapun makmumnya. Sebaliknya, pada gerakan imam yag bersifat pribadi, para makmum dilarang untuk mengikutinya, misalnya menggaruk-garuk kepala atau bersin.

(Dari 30 Kisah Teladan)

HIKMAH ALLAH

HIKMAH ALLAH

Pada suatu hari, sepsang suami istri sedang makan bersama di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Melihat keadaan si pengemis itu, si istri merasa terharu dan ia bermaksud hendak memberikan sesuatu. Tetapi sebelumnya dia bertanya terlebih dahulu kepada suaminya, “Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan makanan kepada pengemis itu?”Tetapi suaminya dengan suara lantang dan kasar menjawab, “ tidak usah! Usir saja dia, dan tutup kembali pintunya!”

Pada suatu hari yang naas, perdagangan lelaki ini jatuh bangkrut dan ia menderita banyak hutang. Rumah tangganya pun berantakan sehingga terjadilah perceraian. Tak lama setelah itu bekas istrinya menikah lagi dengan seorang pedagang di kota. Pada suatu hari ketika ia sedang makan dengan suaminya yang baru, tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintu dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang pengemis yang sangat mengharukan hati wanita itu. Maka wanita itu berkata kepada suaminya, ”wahai suamiku, bolehka aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini!” Suaminya menjawab, “berilah makan pengemis itu!”

Setelah member makan pengemis itu, istrinya masuk ke dalam sambil menangis. Suaminya dengan perasaan heran bertanya kepada istrinya, “Mengapa engkau menangis? Apakah engkau menangis karena aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu?” Wanita itu menggeleng kepala, lalu berkata dengan nada sedih sambil terisak-isak menahan tangis, “wahai suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sangat menakjubkan hatiku.Tahukah engkau siapa pengemis itu? Dia adalah suamiku yang pertama dahulu.” Mendengar keterangan istrinya demikian, sang suami sedikit terkejut, tapi segera ia balik bertanya, “dan engkau, tahukah engkau siapakah aku yang kini jadi suamimu ini? Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!”
Lembaran Jum’at Ummul Quro