AL-GHAFFAAR: Yang Maha Pengampun

AL-GHAFFAAR

Yang Maha Pengampun

Kata Al-Ghafar terambil dari akar kata “ghafara” yang berarti “menutup”. Ada juga yang berpendapat dari kata “Alghafaru” yakni “sejenis tumbuhan yang digunakan mengobati luka”. Jika pendapat pertama yang dipilih, maka Allah Ghaffaar berarti antara lain, Dia menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan anugerah-Nya. Sedang bila yang kedua, maka ini bermakna Allah menganugerahi hamba-Nya penyesalan atas dosa-dosa, sehingga penyesalan ini berakibat kesembuhan dalam hal ini adalah terhapusnya dosa. Kalimat “Allahummagfir liy” juga dipahami dalam arti, “Ya Allah perbaikilah keadaanku”. Demikian pendapat Ibnul Al-A’raby.

Dalam Alqur’an kata “Ghaffaar” terulang sebanyak lima kali, ada yang berdiri sendiri, seperti dalam Q.s. Nuh 71:10 yang mengabadikan ucapan Nabi Nuh A.s. kepada kaumnya, “Beristigfarlah kepada Tuhan-Mu sesungguhnya Dia senantiasa Ghaffaara” dan Q.s. Thaha 20:83, “Sesungguhnya Aku Ghaffaar bagi yang bertaubat, percaya dan beramal shaleh, lalu memperoleh hidayat”. Tiga lainnya dirangkaian dengan sifat Aziz yang mendahuluinya. Yang diragukan ini, dikemukakan bukan dalam konteks pengampunan dosa. Ini memberi kesan bahwa Allah sebagai Ghaffaar, bukan hanya menutupi kesalahan dan dosa-dosa hamba-Nya, tetapi yang ditutup-Nya itu, dapat mencakup banyak hal selain dari dosa.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas magfirah-Nya” (Q.s. At-Taubah 10:117). Keluasan ini tidak hanya mengantar kepada berulang-ulangnya Yang Maha Pengampun itu mengampuni dosa, tetapi juga mengisyaratkan banyaknya cakupan dari maghfirah-Nya. Allah tidak hanya mengampuni dosa besar atau kecil yang berkaitan dengan pelanggaran perintah dan larangan-Nya, atau yang dinamai hukum syariat tetapi juga yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hukum moral yang boleh jadi tidak dinilai dari segi syariat sebagai dosa, bahkan dapat mencakup pula persoalan-persoalan yang dianggap tidak wajar dari segi cinta dan emosi. Nabi Muhammad Saw bermohon kiranya Allah mengampuni beliau menyangkut “ketidakadilan beliau dalam cinta terhadap isteri-isteri beliau, “Inilah hasil upayaku (dalam cinta) menyangkut hal yang kumampui maka jangan tuntut aku menyangkut yang diluar kemampuanku”.

Dalam hal-hal yang semacam inilah hendaknya dipahami maghfirah Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya, setelah mereka pada hakekatnya terbebaskan dari aneka dosa dari segi pandangan syariat.
Imam Ghazali bahkan mengarah kepada yang lebih jauh dari apa yang dikemukakan diatas. Hujjatul Islam ini menjelaskan bahwa Ghaffaar adalah “Yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan”. Dosa-dosa –tulisnya- adalah bagian dari sejumlah keburukan yang ditutupi-Nya dengan jalan tidak menampakkannya di dunia serta mengesampingkan siksa-Nya di akhirat.

Pertama yang ditutupi oleh Allah dari hamba-Nya adalah sisi dalam jasmani manusia yang tidak sedap dipandang mata. Ini ditutupi-Nya dengan keindahan lahiriah. Alangkah jauh perbedaan antara sisi dalam dan sisi lahir manusia dari segi kebersihan dan kekotoran, keburukan dan keindahan. Perhatikanlah apa yang nampak dan apa pula yang tertutupi dari jasmani anda.

Hal kedua yang ditutupi Allah adalah bisikan hati serta kehendak-kehendak manusia yang buruk. Tidak seorangpun mengetahui isi hati manusia kecuali Allah dan dirinya sendiri. Seandainya terungkap apa yang terlintas dalam pikiran atau terkuak apa yang terbetik dalam hati menyangkut kejahatan atau penipuan, sangka buruk, dengki, dan sebagainya, maka sungguh manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. -Begitu kata Al-Ghazali. Penulis dapat menambahkan Allah SWT tidak hanya menutupi apa yang dirahasiakan manusia terhadap orang lain, tetapi juga menutupi sekian banyak pengalaman-pengalaman masa lalunya, kesedihan atau keinginannya, yang dipendam dan ditutupi oleh Allah di bawah sadar manusia sendiri, yang kalau dinampakkan kepada orang lain, atau dimunculkan kepermukaan hati yang bersangkutan sendiri, maka pasti akan mengakibatkan gangguan yang tidak kecil.

Hal ketiga yang ditutpi Allah, selaku Ghaffaar adalah dosa dan pelanggaran-pelanggaran manusia, yang seharusnya dapat diketahui umum. Sedemikian, besar anugerah-Nya sampai-sampai Dia menjanjikan menukar kesalahan dan dosa-dosa itu dengan kebaikan jika yang bersangkutan berupaya untuk kembali kepada-Nya. Ketika berbicara tenatng mereka yang bergelimang di dalam dosa dan yang dilipatgandakan siksa baginya di hari kemudian, Allah mengecualikan “orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh. Mereka itu yang digantikan Allah kejahatan mereka dengan kebaikan”. (Q.s. Al-Furqan 25:70).

Jika demikian itu cakupan maghfirah Allah, maka ia tidak hanya tertuju kepada orang-orang beriman, tetapi juga tertuju dalam kehidupan dunia ini kepada orang-orang kafir yang tidak percaya adanya hari kebangkitan. Q.s. Ar-Ra’ed 13:6) mengisyaratkan hal tersebut. Firman-Nya, “Mereka meminta kepada-Mu supaya disegerakan (datangnya) siksa sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya tuhanmu memiliki maghfirah bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya tuhanmu amat pedih siksa-Nya”.

Allah SWT menyambut permohonan tulus hamba-hamba-Nya yang berdosa, betapapun besar dan banyak dosanya. “Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: ‘Janganlah berputus asa dari rahmat Allah’. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, Dialah Al-Gafur Ar-Rahim” (Q.s. Az-Zumar 39:53). Bahkan terbuka kemungkinan bagi yang tidak bermohonpun – selama dosanya bukan mempersekutukan Allah – untuk diampuni oleh-Nya. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan mengampuni dosa selain dari itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. An-Nisa’ 4:48 dan 116).
Sahabat Nabi, Anas r.a. berkata, “Aku telah mendengar Rasul Allah Saw. Bersabda, Allah berfirman: ‘Wahai putra (putri) Adam… selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu, apa yang telah lakukan dimasa lampau dan Aku tidak peduli (betapapun banyaknya dosamu). Wahai putra (putri) Adam… seandainya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya engkau datang menemuiku membawa seluas wadah bumi ini dosa-dosa dan engkau datang menjumpaiku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan seluas wadah itu pengampunan’” (H.R. At-Tarmizy, demikian juga Ahmad).

“Tidaklah dinamai bertekad mengulangi-ulangi dosa, siapapun yang beristigfhar – walau ia mengulangi dosa tujuh puluh kali sehari”, demikian sebuah riwayat.

“Walaupaun Abu Dzar keberatan”, begitu komentar Nabi Saw kepada sahabatnya Abu Dzar r.a. yang terheran-heran dan merasa keberatan dengan jawaban Nabi Saw atas pertanyaan tentang seorang yang berulang-ulang berdosa kemudian berulang-ulang pula bertaubat, namun tetap diterima Allah taubatnya.

Allah SWT memerintahkan manusia agar meneladani-Nya dalam memberi maghfirah, “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar yaghfiru, memberi maghfirah/menutupi aib/memaafkan orang-orang yang tidak mengharapkan hari-nari Allah” (Q.s. Al-Jastiyah 45:14). Di tempat lain dinyatakan-Nya bahwa, “Siapa yang bersabar dan menutupi kesalahn orang lain/memaafkan, maka sungguh hal yang demikian termasuk hal yang diutamakan” (Q.s. Asy-Syura 42:43). Ketika Abubakar r.a. bersumpah untuk tidak memaafkan Misthah yang ikut menyebarkan fitnah terhadap putri beliau Aisyah r.a. – padahal selama ini ia disantuni oleh Abubakar r.a. – turun perintah Allah kepada orang-orang mukmin agar memberi maaf dan berlapang dada sambil “menanyakan”, “Apakah kamu tidak menyukai Allah menutupi (kesalahan, aib dan dosa) kamu? Sesungguhnya Allah Maha Ghaffaar dan Rahim” (Q.s. An-Nur 24:22).

Seseorang yang memenuhi tuntunan ini atau meneladani sifat Allah Al-Ghaffaar, akan menutupi keburukan orang lain, tidak membeberkannya dan akan menampakkan kelebihan sesamanya, tidak menampilkan kekurangannya. Rasul Saw menjanjikan mereka yang menutupi aib orang lain, untuk ditutupi pula oleh Allah aibnya di hari kemudian, “Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”. Dalam riwayat lain, “Tidak seorang manusiapun menutupi aib orang lain di dunia kecuali Allah menutupi aibnya di hari kemudian” (H.R. Muslim melalui Abu HUrairah). Karena itu, pengumpat, pendendam, pembalas kejahatan dan pembeber kesalahan pada hakekatnya tidak menyandang sedikitpun dari sifat ini.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

AL-‘ALIIM: Yang Maha Mengetahui

AL-‘ALIIM

Yang Maha Mengetahui

Kata ‘Alim terambil dari akar kata “’ilm” yang menurut pakar-pakar bahasa berarti “menjangkau sesuatu seusai dengan keadaannya yang sebenarnya”. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf “äin”, “lam”, “mim” dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Perhatikan misalnya kata-kata “alamat” (alamat) yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang mengantar seseorang menuju tujuan yang pasti. “Ïlmu” demikian juga halnya, ia diartikan sebagai suatu pengenalan ayang sangat jelas terhadap suatu objek. Allah SWT dinamai “’’Alim” atau “’Alim” Karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil apapun.

Dalam Al-Qurán ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama dengan Asma’AlHusna yang dibahas ini. Kata “’Alim” dalam AL-Qurán ditemukan sebanyak 166 kali. Di samping itu terdapat pula sekian banyak kata “Alim: yang menunjuk kepada Allah SWT, sebagaimana banyak pula yang menunjuk-Nya dengan menggunakan redaksi “A’lam” (Lebih Mengetahui). Banyaknya ayat serta beraneka ragamnya bentuk yang digunakan itu, menunjukkan batap luas dan banyak ilmu Allah SWT.

Ilmu-Nya mencakup seluruh wujud. “Ïlmu Tuhanku meliputi segala sesuatu” (Q.s Al-An’am 6:80). “Pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.s. Al-An’am 6:59).

Segala aktivitas lahir dan bathin manusia diketahui-Nya. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”(Q.s. Ghafir 40:19), bahkan jangankan rahasia, yang “lebih tersembunyi dari rahasia”, yakni hal-hal yang telah dilupakan oleh manusia dan yang berada di bawah sadarnyapun diketahui oleh Allah SWT. “Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (mengetahuinya serta) mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (dari rahasia)” (Q.s Thaha 20:19).

Apapun yang terjadi, telah diketahui-Nya sebelum terjadi, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. Al-Hadid 57:22).

Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya, “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2:255).

Allah “mengajar dengan qalam”, yakni mengajar manusia melalui upaya mereka dan “mengajar apa yang mereka tidak diketahui”, tanpa usaha mereka, tetapi langsung sebagai curahan rahmat-Nya. Begitu informasi-Nya dalam Q.s. Al-Alaq.

Manusia tentu saja dapat meraih ilmu berkat bantuan Allah, bahkan istilah “’Alim” pun dibenarkan Al-Qur’an untuk disandang manusia (Q.s. Az-Zariyat 51:28) tetapi betapa pun dalam dan luasnya ilmu manusia, terdapat sekian perbedaan antara ilmunya dan ilmu Allah.

Pertama, dalam hal objek pengetahuan; Allah mengetahui segala sesuatu, manusia tidak mungkin dapat mendekati pengetahuan Allah. Pengetahuan mereka hanya bagian kecil dari setets samudera ilmu-Nya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan seidkit” (Q.s. Al-Isra 17:85). “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.s. Al-Kahfi 18:109).

Kedua, kejelasan pengetahuan manusia tidak mungkin dapat mencapai kejelasan ilmu Allah. Pensaksian manusia yangpaling jelas terhadap sesuatu, hanya bagaikan melihatnya di balik tabir yang halus, tidak dapat menembus objek yang disaksikan sampai ke batas terakhir.

Ketiga, ilmu Allah bukan hasil dari sesuatu, tetapi sesuatu itulah yang merupakan hasil dari ilmu-Nya. Sedangkan ilmu manusia dihasilkan dari adanya sesuatu. Untuk hal yang ketiga ini, Al-Ghazali member contoh dengan pengetahuan pemain catir dan pengetahuan pencipta permainan catur. Sang pencipta adalah penyebab adanya catur, sedang keberadaan catur adalah sebab pengetahuan pemain. Pengetahuan Pencipta mendahului pengetahuan pemain, sedang pengetahuan pemain diperoleh jauh sesudah pengetahuan pencipta catur. Demikianlah ilmu Allah dan ilmu manusia.

Keempat, ilmu tidak berubah dengan perubahan objek yang diketahui-Nya. Itu berarti tidak ada kebetulan di sisi Allah, karena pengetaaahuan-Nya tentang apa yang akan terjadi dan saat kejadiannya sama saja di sisi-Nya.

Kelima, Allah mengetahui tanpa alat, sedang ilmu manusia diraihnya dengan panca indra, akal dan hatinya, dimana semuanya didahului oleh ketidaktahuan, “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur dengan menggunakannya untuk meraih ilmu)”. (Q.s. An-Nahl 16:78).

Keenam, ilmu Allah kekal, tidak hilang dan tidak pula dilupakan-Nya. Tuhanmu sekali-kali tidak lupa. Q.s. Maryam 19:64.

Manusia memperoleh kehormatan karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya. “Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.s. Al-Baqarah 2:30-31).

Dalam meneladani sifat Al’Alim, manusia hendaknya terus menerus berupaya menambah ilmunya. Rasul Saw setelah diperintahkan pada wahyu pertama untuk membaca, diperintahkan juga untuk berdoa. “(Bermohonlah wahai Muhammad) Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Q.s. Thaha 20:114).

Dalam upaya tersebut manusia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya – mata, telinga, akal dan kalbu – untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya menyangkut “seluruh benda-benda” –yakni “seluruh alam raya” – yang telah dianugerahkan Allah potensi untuk mengetahuinya sejak kelahiran manusia pertama, tetapi juga ilmu yang bersifat non empiris yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.

Lebih jauh dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang hakiki tentang sesuatu adalah pengetahuan yang menimbulkan dampak dalam kehidupan. Karena itu Ja’far Ash-Shadiq misalnya menggarisbawahi bahwa, “pengetahuan, bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi ia adalah cahaya yang dinampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya”

Pengetahuan atau mengetahui sesuatu nenurut Rasul Saw bukan hanya terbatas sampai pada kemampuan mengekpresikannya dalam bentuk kata tetapi ada pula yang menyentuh hati sehingga melahirkan amal-amal yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi. Pengetahuan dalam arti yang kedua inilah yang pada akhirnya menimbulkan kesadaran akan jati diri manusia sebagai makhluk yang dhaif di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ilmu seseorang harus membawanya kepada iman, selanjutnya ini mengantarnya kepada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah. “Supaya orang-orang yang yang mempunyai ilmu mengetahui bahwa dia (Al-Qur’an) adalah benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman, kemudian hati mereka tunduk kepada-Nya” (Q.s. Al-Haj 22:54). Demikian terlihat, ilmu mengantar kepada iman dan iman menghasilkan ketundukan kepada Allah SWT. “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alqur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana’, dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu”. (Q.s. Al-Isra 17:107-108-109).

Ilmu juga harus mengantar ilmuwan kepada amal dan karya-karya nyata bermanfaat. Rasul Saw berdoa memohon perlindungan Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari diri (perut) yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak diterima” (H.R. Muslim).

Setiap ilmuwan dituntut untuk memberi nilai-nilai spiritual bagi ilmu yang diraihnya, sejak motivasi hingga tujuan dan pemanfaatannya. Memang boleh jadi tidak berbeda cara dan alat-alat meraih ilmu antara seorang dengan yang lain, hakekat ilmiahpun yang mereka raih tidak berbeda karena cara, alat dan hakekat ilmiah bersifat universal dan bebas nilai; tetapi motivasi, tujuan dan pemanfaatan ilmu, bagi ilmuwan yang meneladani Allah dalam sifat-Nya, tidaklah bebas nilai, ia harus “Bismi Rabbika”.

“Siapa yang mencari ilmu untuk memamerkan diri/menunjukkan kebolehan di hadapan cendekiawan, atau untuk berbantah-bantahan dengan yang jahil, maka dia di neraka” (Q.s. At-Thabarany dari Ummi Salamah).

Tidak etis melupakan peranan Allah atau menutup-nutupinya dalam setiap peristiwa alam, apalagi mengingkarinya. Ketika benih tumbuh, jangan berkata bahwa alam menumbuhkannya atau karena unsur ini dan kondisi itu, -kalaupun harus berkata demikian, jangan tutupi atau tidak mengingatkan peranan Allah, karena yang demikian dapat merupakan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap Allah. Hukum sebab dan akibat, jangan pisahkan ia dari penyebab pertamanya yakni Allah SWT, karena jika dipisahkan, ia merupakan pengingkaran dan kekufuran paling sedikit dalam arti mengkufuri nikmat-Nya.

Suatu ketika Rasulullah Saw mengimani sahabat-sahabat beliau shalat subuh di Hudaibiyah, setelah pada malamnya hujan turun. Seusai shalat beliau mengarah kepada hadirin dan bersabda, “Tahukah kamu apa yang dikatakan Tuhan (Pemelihara) kamu?”. Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, “Allah berfirman – sabda Rasul menjelaskan – ‘pagi (ini) ada hamba-Ku yang percaya pada-Ku dan kafir dan ada juga yang kafir pada-Ku dan percaya (pada selain-Ku). Adapun yang berkata: “Kami memperoleh curahan hujan atas anugerah Allah dan rahmat-Nya, maka itulah yang percaya pada-Ku serta kafir terhadap bintang’, sedangkan yang berkata, “kami memperoleh curahan hujan oleh bintang ini dan itu, maka itulah yang kafir pada-ku dan percaya pada bintang”. (H.R. Al-Bukhari melalui Zaid bin Khalid Al-Juhani).

Dahulu ketika para arsitektur muslim membangun rumah-rumah tempat tinggal, mereka membangunnya dengan memperhatikan nilai-nilai agama. Memang bahan-bahan yang mereka gunakan, pengetahuan yang mereka terapkan dapat diketahui oleh muslim dan non muslim, tetapi yang meneladani Allah dalam ilmu-Nya, membangun rumah dengan memperhatikan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah Penganugerah Ilmu. Sehingga sambil memperhatikan ventilasi udara, pencahayaan, keamanan dan kenyamanan penghuni dan tetangga, mereka juga sangat mengindahkan privasi dan terhalangnya pandangan yang bukan mahram melihat apa yang dilarang Allah untuk dilihat. Demikian, wa Allah A’lam.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

Tujuh “Keajaiban” tubuh kita.

Tujuh “Keajaiban” tubuh kita.

Nggak cuma bumi saja yang punya seven wonders of the world. Tubuh manusia pun ternyata menyimpan banyak hal menakjubkan yang susah dijelaskan dengan logika.

#1 The Golden Ratio.

Setiap bagian tubuh manusia ternyata merupakan hitungan matematika. Believe it or not, Fibonacci numbers yang kita jumpai di buku Da Vinci Code, ternyata juga ada di tubuh kita sendiri. Bilangan Phi (1:1,618) adalah angka yang akan kita dapatkan setiap kali kita mengukur setiap inci tubuh kita. Coba deh perhatikan ruas jari tangan kita. Ruas kedua dari ujung berukuran 1,618 kali lebih panjang dari ruas terujung, begitu seterusnya. Rumus phi ini juga kita temui di wajah kita. Panjang hidung kita berbanding 1:1,618 dibanding lebar mulut dari ujung ke ujung. Gigi terdepan dengan gigi di sebelahnya juga berukuran 1,1618 kali lebih besar. Inilah yang disebut dengan The Golden Ratio.

Dr. Stephen Marquardt bahkan telah membuat topeng kecantikan berdasarkan golden ratio ini, dan orang yang mempunyai struktur muka paling mendekati topeng ini adalah cewek yang sudah diakui kecantikannya, seperti Ratu Nefertiti. Tapi wajah kita juga bisa cocok ke dalam topeng golden ratio, kok. Soalnya, setiap kali kita tertawa, maka kita akan semakin mendekati ukuran phi tersebut. Makanya, jangan cemberut!

#2 Sidik Lidah

Selain sidik jari, ternyata lidah kita juga mempunyai pattern unik yang tidak dimiliki orang lain. Hmm, jangan-jangan di masa depan kita akan bikin paspor dengan sidik lidah, nih. Hehehe…

#3 Hidup dan Mati

Saat kita membaca tulisan ini, sebenarnya sedang ada sekitar 50 ribu sel yang mati di dalam tubuh kita. Tapi, di saat yang sama, lahir pula 50 ribu sel baru yang menggantikannya (kecuali di otak, yang tidak bisa menumbuhkan sel baru). Wow, ternyata tubuh kita aktif banget, ya? Di saat yang sama, untuk mencerna isi kalimat ini, pesan tersebut disampaikan ke otak dengan kecepatan mencapai 250 mil per jam!

#4 Tempat Tinggal Bakteri

Satu orang manusia mempunyai organisme hidup yang lebih banyak daripada jumlah seluruh manusia di bumi. Soalnya, dalam 1 inci tubuh manusia, ternyata merupakan tempat tinggal bagi kira-kira 32 juta bakteria!

#5 Kepanasan atau Kedinginan?

Pernah makan makanan panas dan dingin, kan? Seberapa pun panas atau dinginnya makanan tersebut, tapi lidah kita masih bisa menerimanya, tuh. Hal ini disebabkan karena mulut kita menyesuaikan suhu makanan tersebut menjadi suhu normal, sehingga akhirnya bisa kita telan. Maksudnya, si mulut akan mendinginkan si makanan panas, dan menghangatkan si makanan dingin. Wah, ternyata mulut kita tak ubahnya seperti microwave dan kulkas, nih.

#6 Anti Kerriput!

Selain bisa menghilangkan stress, ternyata tertawa juga bisa menguatkan sistem kekebalan tubuh, lho. Dan, menurut penelitian, anak-anak tertawa sekitar 300 kali setiap harinya, sementara orang dewasa cuma 15-100 kali saja tertawa. Ck ck ck, apa hidup mereka sedemikian beratnya, ya? Hehehe… Dan, nggak heran juga kalau orang dewasa itu jadi cepat terlihat tua. Soalnya, setiap 2000 kali wajah kita berkerut (misalnya karena kesal atau cemberut), maka muncullah segaris keriput. Makanya, jangan malas tertawa!

#7 Self-healing

Tubuh kita ternyata tak ubahnya seperti Claire Bennet di serial Heroes yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Soalnya, setiap luka kita pasti akan sembuh, dan tubuh kita mempunyai ”keajaiban” untuk membentuk bagian tubuh yang baru. Misalnya nih, kaki kita terluka dalam karena terantuk batu. Lama-kelamaan, sel-sel di tubuh akan membentuk jaringan daging dan kulit baru untuk menutupi bekas luka tersebut. Namun demikian, ternyata ada satu bagian tubuh yang nggak bisa menyembuhkan dirinya sendiri lho, yaitu gigi. Kalau gigi tetap kita copot, jangan harap akan tumbuh gigi baru.


didaytea!

Kejayaan Umat Islam Dahulu

Kejayaan Umat Islam Dahulu

Seorang dokter dan sejarawan Amerika, Victor Robinson, membandingkan keadaan kesehatan di Andalusia (Spanyol) di bawah kekuasaan umat Islam dengan keadaan di seluruh Eropa.

Ia berkata, “Ketika itu, Eropa dalam keadaan gelap gulita sedangkan kota Qordova terang-benderang karena cahaya lampu-lampu. Keadaan kota-kota di Eropa sangat kotor, sedangkan di Qordova terdapat seribu tempat pemandian umum. Eropa ketika itu tengelam oleh lumpur sedangkan jalan-jalan di Qordova disusun dengan ubin. Atap gedung-gedung di Eropa penuh dengan cerobong asap sedangkan Qordova dihiasi bangunan-bangunan indah dan arsitektur Arab yang mengagumkan.”

Hikmah Dalam Humor Kisah dan Pepatah, A. Aziz Salim Basyarahil.

KEMATIAN HATI

KEMATIAN HATI

Banyak orang yang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut mengintainya. Banyak orang yang cepat datang ke shaf laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, dan tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istigfhar, kecupak air wudhu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih. Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshidiq Abu BAkar Ra selalu gemetar saat dipuji orang.”Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka.” ucapnya lirih.

Ada orang berkerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutkannya. Ada orang yang beramal sedikit dan mengklain amalnya sangat banyak.

Ada juga orang yang sama sekali tidak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil didepan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah beberapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya?

Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaat pun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur Dia?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual harga diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25% mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks diluar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila kau main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon menambah waktu yang tak diperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”. Betapa jamaknya ‘dosa kecil’itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, data ‘TV Thaghut’menyiarkan segala ‘kesombongan jahiliyah dan maksiat’? saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena engkau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan “Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?”

Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang ïni tidak islami”berarti ia paling islami. Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada Allah disana?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justru engkau akan dihadang tantangan: sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan masa. semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang engkau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf (penyimpangan) dikalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati umat yang “kiayi”nya membayar perempuan beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia telah disetubuhi disebuah kamar hotel berbintang. Lalu dengan enteng ia mengatakan Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku”dan sesudah itu segalanya selesai. Berlalu tanpa rasa bersalah.

Siapa yang akan memandang ummat yang daínya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku karena, karena kedudukan guru dalam islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua”. Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai álimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah besar mereka ke mall. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “western”nya.

Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “Lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri.

(alm.KH. Rahmat Abdullah, Ketua Yayasan Iqro’Bekasi)