Menganggur Atau Gugur

Oleh: Diday Tea

Bandung di waktu akhir pekan adalah nerakanya pemakai jalan raya.

Kemacetan terjadi hampir di setiap ruas jalan yang menuju dan ke arah tempat-tempat wisata di Bandung dan sekitarnya.

Sejak memasuki gerbang tol Pasirkoja misalnya, sudah dapat dipastikan puluhan mobil yang berasal dari luar kota Bandung sedang mengular beriringan di dalam antrian.

Jarak kurang dari sepuluh kilometer saja bisa ditempuh dalam satu jam atau lebih. Atau bahkan tidak maju sama sekali.

Pilihan untuk penduduk Bandung ya hanya dua. Diam di rumah atau menikmati saja derita kemacetan seperti itu.

Di Qatar juga beberapa tahun ini penyakit yang sama sudah mulai menjangkiti beberapa luas jalan.

Walaupun hanya pada jam-jam tertentu saja, tapi kebetulan bertepatan dengan jadwal saya pulang kerja shift pagi.

Jarak dari rumah saya di Doha ke kota Industri tempat saya hampir sembilan puluh kilo. Ya, memang jauh banget!

Sejak kemacetan mulai melanda, jarak itu bisa ditempuh kurang dari satu jam setengah dengan bis perusahaan.

Kalau menyetir sendiri bisa lah sekitar 50-55 menit, pokoknya paling lama satu jam.

Jika hari kerja, waktu tempuh bisa molor sampai dua jam lebih.

Jika saya berangkat dari rumah jam 4:15 pagi, paling cepat saya baru bisa mengetuk pintu rumah dan melihat senyum istri dan anak-anak yang membuka pintu rumah jam 20:10.

Ketika shift pagi saya seolah hanya menumpang tidur saja di rumah. Karena lebih lama di luar rumah.

Tapi ada hikmahnya juga sih.

Waktu luang bertambah. Dan itu bisa saya isi juga dengan tidak sekedar tidur.

Biasanya saya mendengar murottal, niatnya sih menghafal walaupun ternyata tidak hafal-hafal. Hehehe.

Insyaallah niat sudah tercatat sebagai pengharal Al Qur’an. Aamiin.

Waktu total hampir empat jam di perjalanan itu bisa saya isi juga dengan menulis dua jari. Alhamdulillah, hampir setiap hari tulisan saya rutin saya terbitkan di blog http://www.didaytea.com dan Instagram @didaytea.

Atau hanya sekedar memandangi hampanya garis horison antara gurun pasir berwarna cokelat pucat dan birunya langit sepanjang jalur bebas antar kotapun sudah cukup bisa membuat saya bertafakur mengagumi ciptaan Allah Yang Maha Pencipta.

Apalagi ketika sudah sampai di dalam kota Doha, pemandangan jauh lebih indah, Hijau di mana-mana, tidak terasa sama sekali jika sedang berada di tengah gurun pasir.

Jangan biarkan waktu luang sesedikit apapun untuk menganggur. Minimal berdzikir dan menabung istighfar.

Kalau banyak ladang amal yang bakalan gugur.

Karena ingat, waktu itu tidak gratis. Waktu seharga nyawa kita yang hanya kita punga satu-satunya.

Doha, 13 November 2018

Iklan

Di Mana Langit Dijunjung, Di Situ Jengkol Berada

Oleh: Diday Tea

Menyesuaikan diri dengan makanan setempat adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh para perantau di negeri orang seperti saya.

Secara umum ada empat kuliner utama di Qatar:
Arab, Turki, India dan Filipina.

Masakan Arab dan Turki kurang lebih sama.

Kebanyakan adalah daging-daging yang dipanggang, ditemani dengan semacam roti hangat yang baru dipanggang.

Masakan Arab favorit kami namanya Lamb Mandi Rice. Nasinya mirip dengan nasi kuning di Indonesia.

Sama-sama berwarna kuning. Hehehe.

Disajikan dengan daging kambing muda yang sama sekali tidak ada bau prengus kambingnya. Anak-anak malah sering menganggap daging itu adalah daging ayam.

Kalau masakan Turki, favorit kami adalah Lamb Chop.

Lamb chop adalah potongan daging kambing yang dibuat dengan memotong pada sudut tegak lurus dengan tulang belakang, menjadi hidangan tunggal daging yang secara tradisi dimasak dan dihidangkan dengan tulang. (Dikutip dari http://www.stikdagingkambing.wordpress.com).

Dimasak dengan cara dipanggang seperti sate, dan ditemani dengan roti tebal yang juga masih hangat dikeluarkan dari panggangan, dan semacam salad sayuran.

Kalau masakan India, kebanyakan berupa kari yang sangat kental dan berbagai macam menu karbohidrat yang berbentuk lembaran. Dosa, Porota, Roti (ya, roti seperti roti dalam bahasa Indonesia), Nan, dan ada beberapa lagi yang saya tidak tahu namanya.

Masakan India sangat cocok dengan lidah penggemar masakan pedas.

Menu standar yang kami suka sih Porota dan Chicken Kari.

Nah, yang bisa dibilang 90% mirip dengan masakan Indonesia adalah masakan Filipina.

Ada beberapa masakan yang mirip dengan masakan Indonesia seperti Sayur Asem, Rendang, Pecel Ayam dan beberapa menu lainnya. Bedanya hanya di rasa yang kurang nendang, dan masakan Filipina cenderung manis dan kurang terasa bumbunya.

Banyak kuliner yang belum saya sebutkan, seperti waralaba-waralaba dari Portugal, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat atau Amerika Selatan, karena kami juga jarang berkunjung ke tempat-tempat itu.

Lidah dan citarasa kami sekeluarga sudah terlatih untuk menyesuaikan dengan menu-menu dari berbagai macam negara.

Tapi apa sih menu favorit saya di Qatar?

Tentunya adalah Semur Jengkol.

Loh, kok bisa?

Tentu saja bisa!

Karena ternyata di Doha ada beberapa restoran yang menyajikan masakan Indonesia.

Tahu dan Tempe juga dijual di salah satu restoran Indonesia.

Pete yang masih berada di dalam sangkar saja dijual di Supermarket umum.

Jengkol juga sudah bisa dibilang bukan barang langka dan barang idaman lagi buat kami orang Indonesia yang merantau di Qatar.

Belum lagi Nasi Timbel, Batagor, Kupat Tahu, Pecel Lele, Masakan Padang, Mie Aceh, Tumis Cumi, Asin Cabe Hijau, dan nama-nama masakan yang pastinya segera memicu produksi air liur mendadak di dalam mulut anda, semuanya ada.

Eh, ada satu yang belum bisa saya temukan di sini.

Nasi Tutug Oncom.

Tapi tidak apa-apa, pertemuan dengannya selalu istimewa karena hanya setahun sekali.

Sejauh apapun kita merantau dari tanah kelahiran kita, jangan pernah merasa tidak betah atau bosan.

Karena pasti selalu ada cara untuk beradaptasi, selalu ada mitigasi, agar diri tidak menangisi rasa rindu kepada tanah Ibu Pertiwi.

Di mana langit dijunjung, di situlah Jengkol berada.

Hidup Jengkol!

Doha, 12 November 2018

Kasihani Mimpi

Ketika saya masih balita, sekedar menaiki mobil umum saja sudah merupakan kemewahan hidup.

Naik taksi saja, sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Sampai akhirnya saya bekerja di Cilegon pun di awal tahun 2000-an, mobil jemputan saya pun sudah terasa sangat mewah.

Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki sendiri sebuah mobil. Bermimpi pun saya tidak berani.

Karena dengan gaji sedikit di atas UMR,saya bisa menyicil motor pun sudah pencapaian yang luar biasa.

Pernah sekali mengendarai mobil dinas mewah milik Plant Manager, rasanya seperti awan Kintoun. Mulus, tanpa suara, dan sangat lembut.

Sempat sih terbersit keinginan untuk bisa punya mobil, sambil membayangkan betapa bahagianya jika saya bisa menyetir sendiri mobil mewah itu.

Ya pada akhirnya saya hanya bisa mengasihani diri sendiri yang lancang, berani bermimpi tinggi-tinggi.

Takdir Allah, akhirnya saya bisa bekerja di Qatar dan bisa memiliki mobil sendiri.

Di Qatar mobil adalah kebutuhan primer jika anda tinggal bersama keluarga. Karena sangat penting untuk kegiatan sehari-hari.

Mengantar sekolah anak, belanja keperluan dapur, berangkat kerja, dan keperluan lainnya.

Ada transportasi umum sih yang lumayan bagus juga, tapi dengan tiga anak, sangat repot jika setiap saat harus naik bis atau taksi

Yang tadinya mimpi kini jadi kebutuhan.

Menyetir mobil sendiri kali ini bukan sekedar khayalan di siang bolong. Ya hampir setiap kali saya menyetir mobil ke manapun.

Apakah itu sebuah kebahagiaan?

Bersambung…

Kasihani Mimpi

Oleh: Diday Tea

Ketika saya masih balita, sekedar menaiki mobil umum saja sudah merupakan kemewahan hidup.

Naik taksi saja, sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Sampai akhirnya saya bekerja di Cilegon pun di awal tahun 2000-an, mobil jemputan saya pun sudah terasa sangat mewah.

Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki sendiri sebuah mobil. Bermimpi pun saya tidak berani.

Karena dengan gaji sedikit di atas UMR,saya bisa menyicil motor pun sudah pencapaian yang luar biasa.

Pernah sekali mengendarai mobil dinas mewah milik Plant Manager, rasanya seperti awan Kintoun. Mulus, tanpa suara, dan sangat lembut.

Sempat sih terbersit keinginan untuk bisa punya mobil, sambil membayangkan betapa bahagianya jika saya bisa menyetir sendiri mobil mewah itu.

Ya pada akhirnya saya hanya bisa mengasihani diri sendiri yang lancang, berani bermimpi tinggi-tinggi.

Takdir Allah, akhirnya saya bisa bekerja di Qatar dan bisa memiliki mobil sendiri.

Di Qatar mobil adalah kebutuhan primer jika anda tinggal bersama keluarga. Karena sangat penting untuk kegiatan sehari-hari.

Mengantar sekolah anak, belanja keperluan dapur, berangkat kerja, dan keperluan lainnya.

Ada transportasi umum sih yang lumayan bagus juga, tapi dengan tiga anak, sangat repot jika setiap saat harus naik bis atau taksi

Yang tadinya mimpi kini jadi kebutuhan.

Menyetir mobil sendiri kali ini bukan sekedar khayalan di siang bolong. Ya hampir setiap kali saya menyetir mobil ke manapun.

Apakah itu sebuah kebahagiaan?

Bersambung…

Pada tahun-tahun pertama sih tentunya sangat bahagia dong.

Siapa yang tidak akan bahagia jika bisa meraih sesuatu yang sebelumnya tidak berani memimpikannya?

Tapi ketika menyetir sudah menjadi rutinitas, dan beberapa tahun ini Doha juga akhirnya terkena penyakit jalanan macet, lama-lama menyetir sudah tidak menyenangkan lagi.

Kadang ketika sudah sangat jenuh dan lelah menghadapi kemacetan, saya malah memanggil taksi online untuk sekedar pergi ke tempat jemputan.

Kok bisa seperti itu?

Padahal kan itu adalah “Dream Comes True”, mimpi yang jadi kenyataan?

Ya begitulah sifat dunia.

Seperti tulisan saya sebelumnya, mimpi-mimpi dan keinginan kita yang bersifat duniawi, akan berakhir semu.

Walaupun itu hal-hal yang tadinya kita anggap mustahil, dan akhirnya kita bisa mendobrak kemustahilan dengan mencapainya.

Jika cuma sebatas keinginan tanpa ada sangkut paut dan keterlibatan kepentingan akhirat kita, ya hanya sebatas kesuksesan dan pencapaian semu.

Seperti kata ustadz Adi Hidayat, berdo’alah meminta apapun kepada Allah, walaupun bersifat kebendaan dan duniawi, tapi satu syaratnya.

Selalu kaitkan dengan kepentingan akhirat dan ibadah.

Minta mobil? Boleh. Niatkan untuk memudahkan anda beribadah sholat ke mesjid, memudahkan keluarga jika pergi ke mana-mana.

Minta harta berlimpah? Tentu boleh!

Niatkan agar kita bisa menjadi orang kaya yang sholeh, agar harta yang kita miliki bisa bermanfaat untuk umat.

Minta kecerdasan dan ilmu? Harus dong, karena umat membutuhkan orang-orang yang berilmu.

Pokoknya apapun keinginan anda, harus ada kaitannya dengan kepentingan akhirat kita, dan bisa menjadi jalan kita menuju surga yang abadi dan tertinggi kelak.

Aamiin.

Doha, 11 November 2018

Mimpi Berwujud Derita Biru

Mimpi Berwujud Derita Biru

Oleh: Diday Tea

Ada sebuah ungkapan bahwa seorang anak laki-laki tidak akan pernah dewasa, hanya mainannya saja yang berubah menjadi lebih besar dan lebih mahal.

Salah satu mainan favorit bagi semua anak laki-laki tentunya adalah mobil-mobilan.

Dan saya juga bukan pengecualian

Seperti sudah fitrahnya, anak laki-laki tidak akan jauh dari kegemaran terhadap mobil-mobilan, pistol-pistolan dan perang-perangan, robot, pesawat dan sejenisnya.

Ketika melihat pertama kali melihat mobil Hummer H3 di sebuah film, ketika itulah saya berubah menjadi anak-anak kembali yang menyukai mobil-mobilan.

Saya bahkan sampai membeli mainan dalam bentuk Hummer H3. Atau waktu itu saya masih menyebutnya dengan Hemmer, seperti penyebutan Hammer di dalam bahasa Inggris.

Mobil yang diidentikkan dengan ketangguhan, kegagahan, dan kejantanan.

Walaupun ternyata Hummer H3 ini masih memiliki kakak yang jauh lebih besar; H2 dan H1.

H1 lebih dikenal dengan nama Humvee, digunakan sebagai armada perang tentara Amerika di gurun pasir.

Takdir Allah saya bisa bekerja ke Qatar sejak 2008. Dan kekaguman saya masih belum luntur.

Ternyata mobil yang saya kagumi habis-habisan sejak masih bekerja di daerah Cilegon itu ternyata banyak sekali di Doha.

Setiap hari ada saja yang saya lihat. Bahkan kakak-kakaknya yang belum pernah saya lihat di dalam film pun wara-wiri di jalanan.

Dan saat itu pun tiba.

Ketika impian menjadi kenyataan. Tapi kenyataan yang ternyata mengundang banyak masalah.

Pendel kata akhirnya saya bisa membeli mobil dambaan saya. Sebuah Hummer H3 berwarna Biru.

O iya, di Qatar tidak ada pajak mobil. Jadi haega mobil jauh lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia.

Dengan model tahun yang sama, mobil itu masuh berharga 1,6 Milyar. Padahal bekas.

Tapi saya tebus mobil itu dengan harga tidak lebih dari 250 juta Rupiah saja.

Apakah waktu itu saya bahagia? O jelas. Siapa sih yang tidak bahagia ketika bisa memiliki sesuatu yang diimpikan sejak lama?

Apalagi jika mimpi itu adalah mimpi yang lebih dekat ke mengkhayal belaka?

Dengan gaji tidak sampai dua juta di Indonesia, bermimpi punya Hummer H3 seharga hampir 2 M menjadi lebih mustahil dibanding mendapatkan Lailatul Qodar kan?

Kebahagiaan itu hanya sebentar.

Ternyata mobil yang baru berumur empat tahun ini memiliki banyak masalah.

Untuk perawatan rutin sih biayanya masih wajar, sesuai dengan kualitas dan kelas mobilnya. Tapi mobil high end ini ternyata bermasalah sejak digunakan oleh pembeli pertama.

Masalah pertama adalah kadang-kadang, eh bahkan rutin, mobil ini tidak bisa dinyalakan.

Hanya mengeluarkan bunyi kerekekek. Bahasa Inggrisnya “Crancking but not Starting”. Hal ini bisa diperbaiki, tapi harus mengganti keseluruhan sistem komputerisasi mobil ini yang lumayan mahal.

Jadi beberapa kali kejadian, mobil tidak bisa dinyalakan. Dan saya hanya bisa pasrah menunggu selama lima belas menit sampai satu jam untuk mencoba lagi. Setidaknya itu solusi yang saya dapatkan dari forum pemilik mobil yang sejenis.

Masalah yang lebih besar adalah ketika tahun kedua saya harus mengganti kabel starter satu set, itu harganya sekitar lima belas juta.

Dan setelah itu masalah lain yang menyedot biaya yang besar, dan bahkan akhirnya mendekati harga mobil itu sendiri.

Ya begitulah ternyata jika keinginan dan mimpi kita hanya sekedar kebendaan dan duniawi saja, tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah kita.

Begitu berhasil kita capai, walaupun itu sesuatu yang besar dan hampir mustahil kita raih sebelumnya, tidak akan menjadi kebaikan.

Lebih banyak keburukannya.

Akhirnya tahun keempat saya melepaskan mimpi saya bersama si Blu, nama yang saya berikan sejak hari pertama dia parkir dengan gagah di garasi rumah.

Si Blu terjual jauh lebih murah dari harga pasar, karena setelah diperiksa oleh komputer khusus mobil, ada masalah besar di Chassis atau kerangka.

Begitulah.

Periksa sekarang mimpi-mimpi anda.

Perbaiki dengan semangat untuk beribadah.

Walaupun masih bersifat kebendaan, tapi niatkan anda memimpikan sesuatu itu;jodoh, rumah mobil tanah, harta, memiliki anak, semata-mata anda kaitkan agar memudahkan ibadah anda.

Agar lebih mendekatkan diri dengan Allah Yang Maha Pencipta.

Doha, 10 November 2018

(Diketik dengan jari telunjuk kanan dan jempol kiri di dalam bis yang membawa saya ke tempat bekerja.)

Mimpi Kosong

Moto GP adalah salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan oleh penggemar dan pemerhati olahraga.

Sejak zaman keemasan Valentino Rossi, sampai zaman now di mana dia masih membalap walaupun tidak begitu superior lagi, saya selalu memendam mimpi.

“Kapan ya saya bisa melihat dengan mata kepala saya sendiri balapan Moto GP atau Balapan Formula 1?”

Ketika saya membaca berita Moto GP di tabloid Bola yang sekarang sudah tidak terbit lagi, selalu terbayang ketika saya sedang berdiri dan bersorak sorai dengan penonton di tribun penonton sirkuit Moto GP.

Tapi ya, tetap saja ujungnya hanya berakhir di depan televisi.

Seperti sepakbola saja, sehari setelahnya di sekolah akan terjadi obrolan yang tidak ada manfaatnya tapi seru sekali.

Serunya balapan atau pertandingan semalam. Kejadian-kejadian yang terlewatkan. Pokoknya bisa setiap istirahat di antara jam pelajaran saya dan sesama penggemar olahraga menghabiskan waktu untuk bersahutan membahasnya.

Eh, tak disangka tak diduga, takdir Allah menunjukkan jalannya.

Tahun 2008 saya mendapatkan pekerjaan di Qatar, sebuah negara di Timur Tengah yang ternyata adalah tuan rumah salah satu balapan MotoGP!

Dan tak lama mimpi itu juga segera terwujud.

Bagaimana rasanya?

Kapok.

Lho, kok kapok?

Iya lah. Ternyata nonton langsung di sirkuit tidak seindah yang dibayangkan.

Suara deruan mesin motor-motor balap itu sungguh berisik memekakkan telinga. Kalau tidak memakai ear plug, atau pelindung telinga, bisa-bisa kita bisa langsung tuli.

Kita hanya bisa melihat pembalap secara langsung selama beberapa menit sebelum balapan dimulai dan ketika acara podium. Itupun dari kejauhan. Sangat jaauuuh…

Selebihnya, hanya melihat kelebatan siluet motor yang melintas di jalur lurus sepanjang area di depan tribun penonton.

Belum lagi ketika keluar sirkuit, macet total.

Saya lebih lama menghabiskan waktu bermacet ria dibanding dengan menonton balapannya.

Di kehidupan juga begitu, jika mimpi kita sebatas mimpi yang berbentuk keinginan, kebendaan duniawi, ketika kita berhasil mendapatkannya rasanya tidak terlalu bahagia.

Hanya euforia sesaat.

Kurangilah mimpi yang bersifat duniawi, bermimpilah yang berorientasi akhirat.

Mimpi menjadi ahli Al Qur’an, ahli ibadah, dan akhirnya menjadi penduduk syurga yang abadi.

Aamiin.

Doha, 7 November 2018