Sadar Untuk Sabar

Oleh: Diday Tea

Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah orang tua yang kurang sabar.

Salah satu hal yang paling menjengkelkan adalah ketika anak-anak bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak perlu.

Dari remote TV, Controller PS4, berebut saluran TV yang ingin ditonton, atau memperebutkan video Youtube mana yang mereka pilih untuk ditonton.

Dari berebut makanan, berebut gelas minuman sampai berebut kursi di dalam mobil.

Pokoknya apa saja bisa jadi bahan untuk bertengkar untuk anak laki-laki berumur sebelas tahun dan anak perempuan berumur delapan tahun itu.

Respon saya biasanya sih, ya marah dan jengkel.

Karena kejadian itu berlangsung hampir setiap hari.

Ya, setiap hari!

Kadang sampai saya hukum mereka dengan kekerasan, saya getok jidat mereka berdua dengan remote TV. Hehehe.

Tapi tetap saja tidak berpengaruh, pertengkaran seputar memperebutkan sesuatu yang tidak perlu masih saja terulang hampir setiap hari.

Dan respon saya dan istri pun masih sama: marah, jengkel, bentak dan getok. Atau kami potong jatah mereka bermain game dan kami paksa mereka untuk menambah waktu menghafal Al Qur’annya lebih lama .

Sampai akhirnya saya mendengar ceramah Aa Gym dan ustadz lain yang saya lupa namanya tentang anak-anak.

Intinya anak-anak adalah titipan dari Allah, titipan yang luar biasa berharga. Karena tidak setiap pasangan suami istri bisa beruntung dikaruniai anak-anak.

Dan anak-anak juga tentunya adalah ujian bagi orang tuanya. Apakah bisa bersabar selama proses mendidik anak sampai dewasa dan berpisah dengan orang tua.

Dan ada kalimat yang sangat menohok untuk kami berdua.

“Tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah orang tua yang kurang sabar”.

Kalimat itu membuat kami sadar, sebenarnya masalah terbesarnya ada di kami sebagai orang tua yang kurang sabar.

Ternyata, ketika kami berdua lebih bersabar ketika mereka bertengkar situasi menjadi lebih baik.

Kami hanya membiarkan saja mereka bertengkar dan berebut seperti biasanya.

Pertengkaran itu ternyata tidak pernah berlangsung lama. Ujung-ujungnya akhirnya mereka rukun damai tanpa ada drama tambahan.

Ya, untuk bisa sabar kita memang harus sadar.

Sakitnya Disalip di Tikungan Terakhir

Black White Pink Children International Friendship Day Quote Instagram Post

Oleh: Diday Tea

 

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.

(HR. Muslim, no. 2999)

Ketika masih bekerja di Cilegon, saya dan sahabat saya mendapatkan panggilan untuk tes masuk di sebuah perusahaan yang lebih besar. Perusahaan itu masih berada di daerah Cilegon juga.

Semalam sebelum hari yang bersejarah itu, kami berdua berjuang mempersiapkan diri untuk ujian masuk. Kami bersama mengumpulkan materi dan bahan ujian masuk yang konon sangat sulit. Hampir seperti soal ujian nasional.

Di waktu subuh pada hari ujian itu, kami duduk berdoá dan berdzikir lebih lama dari biasanya.

Sejujurnya saya pasti berdoá agar bisa diterima di perusahaan yang lebih besar itu. Saya niatkan dengan penghasilan yang lebih besar saya bisa lebih banyak menabung untuk persiapan masa depan saya. Tapi ada doá yang terselip, doá agar diberi kesabaran jika ternyata saya gagal bekerja di perusahaan itu.

Di sepanjang  perjalanan di dalam bus antar kota dari Cilegon ke Jakarta kami berdua lebih banyak diam dan merenung memandangi jendela dengan pandangan kosong dan perasaan gugup yang berkecamuk mengaduk-ngaduk pikiran.

Akhirnya ujian pada hari itu pun kami jalani dengan lancar dan kami tiba kembali di rumah kontrakan masing-masing pada malam harinya.

Seminggu setelah hari itu, pada suatu pagi ketika langit masih gelap karena matahari belum terbit, saya sedang duduk santai di teras loteng kamar kontrakan saya, ketika terdengar terdengar seseorang yang memanggil sayup-sayup sambil berjalan tergesa-gesa:”Day, hayuu! Kok kamu belum siap-siap? Udah jam berapa ini woy!”

Dengan wajah kebingungan saya pun bertanya balik: “Ke mana? Kok kamu rapi amat bajunya, kaya mau ke kondangan!” Jawab saya dengan setengah berteriak juga.

“Iya tandatangan kontrak lah, di pabrik yang kemaren kita tes bareng itu lho! Emang kamu ngga ditelepon ya?” Dia menjawab dan bertanya dengan wajah sumringah, serta senyum penuh kemenangan selebar lima senti menghiasi wajahnya.

“Oh, saya mah ngga ditelepon euy!”Saya jawab dengan suara yang agak tercekat.

“Oh gitu? Ya udah saya berangkat deh kalau gitu, udah telat nih!” Katanya lagi sambil melambaikan tangannya dan mengayunkan langkahnya semakin cepat sampai setengah berlari ke arah tukang ojek yang sudah menunggu di pangkalan ojek pertigaan dekat rumah.

Mendengar itu tadinya langit serasa runtuh. Ternyata dia diterima dan saya tidak.

Sakit ya sakit. Sesakit VR46 yang terjatuh di tikungan terakhir balapan.

Kecewa ya jelas lah kecewa, terutama karena ternyata penyebab saya diterima adalah karena saya terlalu polos memberitahu penguji bahwa saya sedang kuliah lagi. Padahal mereka memerlukan karyawan yang bisa siap setiap waktu untuk bekerja.

Tapi saya teringat dengan hadits yang saya cantumkan di awal tulisan ini.

Pasti ada hikmah terbaik yang Allah akan berikan kepada saya di balik kegagalan saya bergabung dengan perusahaan itu.

Dan ternyata benar saja.

Jika saya waktu itu berhasil masuk ke perusahaan itu, belum tentu saya bisa mendapat kesempatan untuk tes di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Yang jauh lebih baik.

Alhamdulillah. Janji Allah itu pasti nyata!

 

 

 

 

Membiasakan Untuk Biasa

Day 26

Surf School.pngOleh: Diday Tea

 

Di dalam bidang kerja yang saya ikuti, dunia industri kimia ada yang namanya Standard Operation Procedure (SOP) atau Operation Manual. Intinya adalah panduan untuk melakukan suatu pekerjaan yang spesifik. Dari hanya pekerjaan rutin, sampai pekerjaan besar yang hanya dilakukan lima tahun sekali. Dari pekerjaan lapangan, hingga pekerjaan yang bersifat dokumentasi. Dari prosedur memindahakn bahan kimia, sampai prosedur hanya memindahkan kendaraan dari gedung ke gedung lainnya pun ada.

Kenapa harus dipandu?

Karena dunia industri kimia adalah bidang kerja dengan resiko sangat tinggi. Taruhannya nyawa. Di tempat tempat industri berada, seaman apa pun, resiko ini akan selalu ada.

Silakan lihat atau bertanya kepada mas Google tentang tragedi kecelakan di bidang industri kimia di seluruh dunia.

Pasti sangat dahsyat.

Dari ledakan tanki-tanki besar, keracunan gas yang bocor, sampai kebakaran di jalur pipa atau tanki yang berisi bahan kimia, sampai timbul korban jiwa.

Di luar bencana alam, biasanya penyebab kecelakaan seperti ini adalah pelanggaran prosedur, atau bahkan tidak ada prosedur sama sekali.

Begitu juga di dunia penerbangan, kesalahan sekecil apapun tidak akan bisa ditolerir, karena resikonya sangat besar. Jadi semua prosedur harus selalu dipatuhi tanpa kecuali.

Apakah sulit untuk melakukan semua itu?

Ketika baru memasuki dunia seperti itu, dan baru pertama kali mengenal SOP, terasa sangat berat. Seolah-olah  semua pekerjaan sangat dramatis, memerlukan waktu yang lama hanya sekedar untuk mendapatkan izin untuk melakukan hal tersebut.

Perlu waktu sampai beradaptasi dengan ketaaatan dan kepatuhan terhadap prosedur seperti itu.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, semua itu berjalan dengan otomatis tanpa ada perasaan terbebani.

Kenapa?

Karena sudah terbiasa. Awalnya pasti terpaksa, tapi karena terbiasa akhirnya menjadi biasa.

Tapi tahukah anda ternyata di kehidupan sehari-hari pun kita sudah akrab dengan ketaatan terhadap prosedur seperti itu?

Peraturan dan panduan di  lalu-lintas, di sekolah, di kampus, di pemerintahan, bahkan di pergaulan pun ada semacam peraturan tidak tertulis. Negara paling liberal dan menjunjung kebebasan pun, tetap saja merek mempunyai peraturan segunung.

Peraturan dan panduan kadang kita lihat berbeda jika dilihat dengan sudut pandang yang berbeda juga.

Sebagai Muslim, ada yang menganggap banyak hal sebagai peraturan yang memberatkan. Harus sholat, harus zakat, harus sedekah, dan banyak harus lainnya, dan banyak juga larangan-larangan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Padahal, itu semua bukan pertaturan yang (seharusnya) memberatkan.

Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, seorang Muslim sudah mempunyai  panduan yang sangat spesifik dari Rasulullah SAW. Berdo’a bangun tidur, apa yang harus dilakukan, apa yang jangan dilakukan, panduan untuk berdagang, sampai panduan untuk berumahtangga.

Dari panduan untuk urusan yang sangat pribadi seperti mandi junub, membersihkan diri setelah membuang hajat, bahkan sampai ke masalah ekonomi dan panduan memilih pemimpin, sudah tersaji secara lengkap sejak empat belas abad yang lalu.

Jadi jika anda mulai terasa berat dan malas untuk beribadah, coba berhenti sejenak dari semua apa yang anda sedang lakukan, pergi ke tempat yang sunyi dan sepi.

Lalu ganti “kaca mata” pandangan hati anda.

Ganti dari “kaca mata ribetnya aturan agama Islam” menjadi “Enaknya jadi seorang Muslim, semua ada panduannya”.

Sering-seringlah berdoá agar diberi nikmatnya istiqomah, karena Allah lah Yang Maha Membolak-balik Hati.

Sehingga kita bisa menjalani hidup ini mudah dan terarah hingga ke surga nanti.

Aamiin.

 

 

Lu Lagi Lu Lagi

buy 1 get 1 free

 

Oleh: Diday Tea

 

Apa yang terbayang di dalam pikiran anda jika saya sebutkan “Rendang Jengkol”?

Produksi air liur para penggemar Jengkol atau Jengki, alias “Ati Maung” (sebutan orang Sunda) di seluruh dunia pasti akan meningkat tajam, dan mulai membayangkan bagaimana lezatnya beberapa potong biji jengkol dalam balutan bumbu rendang yang bersemayam bagaikan Tiara di atas Nasi Putih pulen yang masih mengepulkan asap sehabis ditanak.

Tergiur.

Untuk yang tidak suka, ya silakan bayangkan salah satu makanan yang paling anda gemari.

Ada salah satu teman saya yang sering membawa oleh-oleh rendang jengkol dari Indonesia. Dan karena dia tahu bahwa saya adalah anggota klub FBJ (Fans Berat Jengkol), hampir tiap dia mudik, satu toples bening bertutup Merah menyala yang berisi satu kilo Rendang Jengkol pasti selalu dia hadirkan ke dalam plastik oleh-olehnya untuk saya.

Begitu pertama kali menikmati perpaduan Rendang Jengkol dan Nasi Putih hangat yang asapnya masih mengepul itu, maasyaallah pemirsa, rasa, kelezatan dan kenikmatannya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Sungguh lezat.

Hari kedua, tetep dong makannya itu lagi, karena sayang, dapetnya setahun sekali.

Masih lezat? Masih dong!

Hari ketiga, penampakan di toples mulai berkurang, mulai terlihat area yang kosong hampa tak bertuan jengkol seperti dua hari kemarin.

Tapi tetep. Menu perpaduan Rendang Jengkol dan Nasi Putih hangat yang asapnya masih mengepul itu masih hadir di salah satu jadwal makan pagi, siang ataupun malam.

Hari keempat, dengan menu yang sama, rasa lezatnya ternyata jauh berkurang. Padahal Jengkolnya sama, nasinya sama, tangan yang dipakai untuk memadukan bumbu rendang yang katanya menurut berita di CNN sudah resmi menjadi makanan paling lezat di seluruh dunia, dengan nasi putih yang masih hangat dan mengepulkan asap.

Sudah diduga ya? Hehehe.

Hari kelima, rasa menu itu sudah mulai terasa membosankan.

Hari keenam apalagi, saya memakannya karena terpaksa saja karena kebetulan istri tidak memasak hari itu.

Hari ketujuh, rasa yang seminggu lalu itu begitu menggebu, hilang lenyap sudah.

Tidak ada lagi air liur yang mengalir deras tak terasa di dalam mulut.

Suka jadi benci.

Gemar menjadi bosan.

Tergiur menjadi memuakkan.

Akhirnya satu kilo rendang jengkol itu tidak habis, dan terbuang hampir seperlimanya.

Ya bagaimana lagi, kalau sudah tidak suka dan bosan.

Begitulah kelezatan dan kenikmatan di dunia ini. Hanya sebentar dan sedikit, tidak seperti kebahagiaan di akhirat yang abadi dan tidak pernah akan bisa terbayangkan kelezatan dan kenikmatannya.

Doha, 14 November 2018

 

 

 

Menganggur Atau Gugur

Oleh: Diday Tea

Bandung di waktu akhir pekan adalah nerakanya pemakai jalan raya.

Kemacetan terjadi hampir di setiap ruas jalan yang menuju dan ke arah tempat-tempat wisata di Bandung dan sekitarnya.

Sejak memasuki gerbang tol Pasirkoja misalnya, sudah dapat dipastikan puluhan mobil yang berasal dari luar kota Bandung sedang mengular beriringan di dalam antrian.

Jarak kurang dari sepuluh kilometer saja bisa ditempuh dalam satu jam atau lebih. Atau bahkan tidak maju sama sekali.

Pilihan untuk penduduk Bandung ya hanya dua. Diam di rumah atau menikmati saja derita kemacetan seperti itu.

Di Qatar juga beberapa tahun ini penyakit yang sama sudah mulai menjangkiti beberapa luas jalan.

Walaupun hanya pada jam-jam tertentu saja, tapi kebetulan bertepatan dengan jadwal saya pulang kerja shift pagi.

Jarak dari rumah saya di Doha ke kota Industri tempat saya hampir sembilan puluh kilo. Ya, memang jauh banget!

Sejak kemacetan mulai melanda, jarak itu bisa ditempuh kurang dari satu jam setengah dengan bis perusahaan.

Kalau menyetir sendiri bisa lah sekitar 50-55 menit, pokoknya paling lama satu jam.

Jika hari kerja, waktu tempuh bisa molor sampai dua jam lebih.

Jika saya berangkat dari rumah jam 4:15 pagi, paling cepat saya baru bisa mengetuk pintu rumah dan melihat senyum istri dan anak-anak yang membuka pintu rumah jam 20:10.

Ketika shift pagi saya seolah hanya menumpang tidur saja di rumah. Karena lebih lama di luar rumah.

Tapi ada hikmahnya juga sih.

Waktu luang bertambah. Dan itu bisa saya isi juga dengan tidak sekedar tidur.

Biasanya saya mendengar murottal, niatnya sih menghafal walaupun ternyata tidak hafal-hafal. Hehehe.

Insyaallah niat sudah tercatat sebagai pengharal Al Qur’an. Aamiin.

Waktu total hampir empat jam di perjalanan itu bisa saya isi juga dengan menulis dua jari. Alhamdulillah, hampir setiap hari tulisan saya rutin saya terbitkan di blog http://www.didaytea.com dan Instagram @didaytea.

Atau hanya sekedar memandangi hampanya garis horison antara gurun pasir berwarna cokelat pucat dan birunya langit sepanjang jalur bebas antar kotapun sudah cukup bisa membuat saya bertafakur mengagumi ciptaan Allah Yang Maha Pencipta.

Apalagi ketika sudah sampai di dalam kota Doha, pemandangan jauh lebih indah, Hijau di mana-mana, tidak terasa sama sekali jika sedang berada di tengah gurun pasir.

Jangan biarkan waktu luang sesedikit apapun untuk menganggur. Minimal berdzikir dan menabung istighfar.

Kalau banyak ladang amal yang bakalan gugur.

Karena ingat, waktu itu tidak gratis. Waktu seharga nyawa kita yang hanya kita punga satu-satunya.

Doha, 13 November 2018

Di Mana Langit Dijunjung, Di Situ Jengkol Berada

Oleh: Diday Tea

Menyesuaikan diri dengan makanan setempat adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh para perantau di negeri orang seperti saya.

Secara umum ada empat kuliner utama di Qatar:
Arab, Turki, India dan Filipina.

Masakan Arab dan Turki kurang lebih sama.

Kebanyakan adalah daging-daging yang dipanggang, ditemani dengan semacam roti hangat yang baru dipanggang.

Masakan Arab favorit kami namanya Lamb Mandi Rice. Nasinya mirip dengan nasi kuning di Indonesia.

Sama-sama berwarna kuning. Hehehe.

Disajikan dengan daging kambing muda yang sama sekali tidak ada bau prengus kambingnya. Anak-anak malah sering menganggap daging itu adalah daging ayam.

Kalau masakan Turki, favorit kami adalah Lamb Chop.

Lamb chop adalah potongan daging kambing yang dibuat dengan memotong pada sudut tegak lurus dengan tulang belakang, menjadi hidangan tunggal daging yang secara tradisi dimasak dan dihidangkan dengan tulang. (Dikutip dari http://www.stikdagingkambing.wordpress.com).

Dimasak dengan cara dipanggang seperti sate, dan ditemani dengan roti tebal yang juga masih hangat dikeluarkan dari panggangan, dan semacam salad sayuran.

Kalau masakan India, kebanyakan berupa kari yang sangat kental dan berbagai macam menu karbohidrat yang berbentuk lembaran. Dosa, Porota, Roti (ya, roti seperti roti dalam bahasa Indonesia), Nan, dan ada beberapa lagi yang saya tidak tahu namanya.

Masakan India sangat cocok dengan lidah penggemar masakan pedas.

Menu standar yang kami suka sih Porota dan Chicken Kari.

Nah, yang bisa dibilang 90% mirip dengan masakan Indonesia adalah masakan Filipina.

Ada beberapa masakan yang mirip dengan masakan Indonesia seperti Sayur Asem, Rendang, Pecel Ayam dan beberapa menu lainnya. Bedanya hanya di rasa yang kurang nendang, dan masakan Filipina cenderung manis dan kurang terasa bumbunya.

Banyak kuliner yang belum saya sebutkan, seperti waralaba-waralaba dari Portugal, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat atau Amerika Selatan, karena kami juga jarang berkunjung ke tempat-tempat itu.

Lidah dan citarasa kami sekeluarga sudah terlatih untuk menyesuaikan dengan menu-menu dari berbagai macam negara.

Tapi apa sih menu favorit saya di Qatar?

Tentunya adalah Semur Jengkol.

Loh, kok bisa?

Tentu saja bisa!

Karena ternyata di Doha ada beberapa restoran yang menyajikan masakan Indonesia.

Tahu dan Tempe juga dijual di salah satu restoran Indonesia.

Pete yang masih berada di dalam sangkar saja dijual di Supermarket umum.

Jengkol juga sudah bisa dibilang bukan barang langka dan barang idaman lagi buat kami orang Indonesia yang merantau di Qatar.

Belum lagi Nasi Timbel, Batagor, Kupat Tahu, Pecel Lele, Masakan Padang, Mie Aceh, Tumis Cumi, Asin Cabe Hijau, dan nama-nama masakan yang pastinya segera memicu produksi air liur mendadak di dalam mulut anda, semuanya ada.

Eh, ada satu yang belum bisa saya temukan di sini.

Nasi Tutug Oncom.

Tapi tidak apa-apa, pertemuan dengannya selalu istimewa karena hanya setahun sekali.

Sejauh apapun kita merantau dari tanah kelahiran kita, jangan pernah merasa tidak betah atau bosan.

Karena pasti selalu ada cara untuk beradaptasi, selalu ada mitigasi, agar diri tidak menangisi rasa rindu kepada tanah Ibu Pertiwi.

Di mana langit dijunjung, di situlah Jengkol berada.

Hidup Jengkol!

Doha, 12 November 2018

Kasihani Mimpi

 

Kasihani Mimpi

Ketika saya masih balita, sekedar menaiki mobil umum saja sudah merupakan kemewahan hidup.

Naik taksi saja, sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Sampai akhirnya saya bekerja di Cilegon pun di awal tahun 2000-an, mobil jemputan saya pun sudah terasa sangat mewah.

Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki sendiri sebuah mobil. Bermimpi pun saya tidak berani.

Karena dengan gaji sedikit di atas UMR,saya bisa menyicil motor pun sudah pencapaian yang luar biasa.

Pernah sekali mengendarai mobil dinas mewah milik Plant Manager, rasanya seperti awan Kintoun. Mulus, tanpa suara, dan sangat lembut.

Sempat sih terbersit keinginan untuk bisa punya mobil, sambil membayangkan betapa bahagianya jika saya bisa menyetir sendiri mobil mewah itu.

Ya pada akhirnya saya hanya bisa mengasihani diri sendiri yang lancang, berani bermimpi tinggi-tinggi.

Takdir Allah, akhirnya saya bisa bekerja di Qatar dan bisa memiliki mobil sendiri.

Di Qatar mobil adalah kebutuhan primer jika anda tinggal bersama keluarga. Karena sangat penting untuk kegiatan sehari-hari.

Mengantar sekolah anak, belanja keperluan dapur, berangkat kerja, dan keperluan lainnya.

Ada transportasi umum sih yang lumayan bagus juga, tapi dengan tiga anak, sangat repot jika setiap saat harus naik bis atau taksi

Yang tadinya mimpi kini jadi kebutuhan.

Menyetir mobil sendiri kali ini bukan sekedar khayalan di siang bolong. Ya hampir setiap kali saya menyetir mobil ke manapun.

Apakah itu sebuah kebahagiaan?

Ketika saya masih balita, sekedar menaiki mobil umum saja sudah merupakan kemewahan hidup.

Naik taksi saja, sudah merupakan pengalaman yang luar biasa.

Sampai akhirnya saya bekerja di Cilegon pun di awal tahun 2000-an, mobil jemputan saya pun sudah terasa sangat mewah.

Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki sendiri sebuah mobil. Bermimpi pun saya tidak berani.

Karena dengan gaji sedikit di atas UMR,saya bisa menyicil motor pun sudah pencapaian yang luar biasa.

Pernah sekali mengendarai mobil dinas mewah milik Plant Manager, rasanya seperti awan Kintoun. Mulus, tanpa suara, dan sangat lembut.

Sempat sih terbersit keinginan untuk bisa punya mobil, sambil membayangkan betapa bahagianya jika saya bisa menyetir sendiri mobil mewah itu.

Ya pada akhirnya saya hanya bisa mengasihani diri sendiri yang lancang, berani bermimpi tinggi-tinggi.

Takdir Allah, akhirnya saya bisa bekerja di Qatar dan bisa memiliki mobil sendiri.

Di Qatar mobil adalah kebutuhan primer jika anda tinggal bersama keluarga. Karena sangat penting untuk kegiatan sehari-hari.

Mengantar sekolah anak, belanja keperluan dapur, berangkat kerja, dan keperluan lainnya.

Ada transportasi umum sih yang lumayan bagus juga, tapi dengan tiga anak, sangat repot jika setiap saat harus naik bis atau taksi

Yang tadinya mimpi kini jadi kebutuhan.

Menyetir mobil sendiri kali ini bukan sekedar khayalan di siang bolong. Ya hampir setiap kali saya menyetir mobil ke manapun.

Apakah itu sebuah kebahagiaan?

Pada tahun-tahun pertama sih tentunya sangat bahagia dong.

Siapa yang tidak akan bahagia jika bisa meraih sesuatu yang sebelumnya tidak berani memimpikannya?

Tapi ketika menyetir sudah menjadi rutinitas, dan beberapa tahun ini Doha juga akhirnya terkena penyakit jalanan macet, lama-lama menyetir sudah tidak menyenangkan lagi.

Kadang ketika sudah sangat jenuh dan lelah menghadapi kemacetan, saya malah memanggil taksi online untuk sekedar pergi ke tempat jemputan.

Kok bisa seperti itu?

Padahal kan itu adalah “Dream Comes True”, mimpi yang jadi kenyataan?

Ya begitulah sifat dunia.

Seperti tulisan saya sebelumnya, mimpi-mimpi dan keinginan kita yang bersifat duniawi, akan berakhir semu.

Walaupun itu hal-hal yang tadinya kita anggap mustahil, dan akhirnya kita bisa mendobrak kemustahilan dengan mencapainya.

Jika cuma sebatas keinginan tanpa ada sangkut paut dan keterlibatan kepentingan akhirat kita, ya hanya sebatas kesuksesan dan pencapaian semu.

Seperti kata ustadz Adi Hidayat, berdo’alah meminta apapun kepada Allah, walaupun bersifat kebendaan dan duniawi, tapi satu syaratnya.

Selalu kaitkan dengan kepentingan akhirat dan ibadah.

Minta mobil? Boleh. Niatkan untuk memudahkan anda beribadah sholat ke mesjid, memudahkan keluarga jika pergi ke mana-mana.

Minta harta berlimpah? Tentu boleh!

Niatkan agar kita bisa menjadi orang kaya yang sholeh, agar harta yang kita miliki bisa bermanfaat untuk umat.

Minta kecerdasan dan ilmu? Harus dong, karena umat membutuhkan orang-orang yang berilmu.

Pokoknya apapun keinginan anda, harus ada kaitannya dengan kepentingan akhirat kita, dan bisa menjadi jalan kita menuju surga yang abadi dan tertinggi kelak.

Aamiin.

Doha, 11 November 2018