AL ‘AFUW Allah Yang Maha Pemaaf

AL  ‘AFUW

Allah Yang Maha Pemaaf

Kata Al ‘Afuw, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ‘ain, fa, dan wauw. Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu “meninggalkan sesuatu” dan “memintanya”. Dari sini, lahir kata “afwu”, yang berarti “meninggalkan sangsi terhadap yang bersalah)memaafkan””.

Perlindungan Allah dari keburukan, juga dinamai “Aafiat”. Perlindungan mengandung makna “ketertutupan”.Dari sini, kata “afwu” juga diartikan “menutupi”, bahkan dari rangkaian ketika huruf itu juga lahir makna terhapus  atau habis tak berbekas, karena yang terhapus dan habis tidak berbekas pasti ditinggalkan.

Dalam beberapa kamus dinyatakan bahwa pada dasarnya kata “afwu”, berarti “menghapus dan membinasakan serta mencabut sesuatu sampai ke akar-akarnya”.

Di dalam Al Qur’an kata ‘Afwu dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 35 kali dengan berbagai makna. Kata’Afuw ditemukan sebanyak tiga kali, di mana kesemuanya merujuk kepada AllahSWT.

An Nisa 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalamkeadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah ‘Afuwwan Maha Pemaaf lagi MahaPengampun.

An Nisa 98-99:

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anakyang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), merekaitu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah ‘Afuwwun Maha Pemaaflagi Maha Pengampun.

An Nisa 149:

Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan ataumemaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.(QS An Nisa 4:149).

Sifat Allah Al ‘Afuw, yakni Dia yang menghapus kesalahan hamba-hambaNya serta memafkan pelanggaran-pelanggaranmereka.

Sifat ini mirip dengan AlGhafuur. Hanya saja menurut Imam Al Ghazali, pemaafan Allah lebih tinggi tingkatannya dari maghfirah.

Kata ‘afwu berarti “menghapus”, “mencabut sesuatu sampai ke akar-akarnya”, membinasakan dan sebagainya. Sedangkan kata ghafuur terambil dari akar kata yang berarti “menutup”.

Sesuatu yang tertutupi, pada hakekatnya tetap ada, hanya dibuat tidak terlihat.

Sedangkan sesuatu yang dihapus, akan hilang. Kalaupun ada, itu hanya sisa dan bekas-bekasnya saja.

Jika Allah sudah memaafkan hambanya,  seperti menghapus tidak ada lagi jejak dosanya. Seperti pohon yag dicabut sampai ke akar-akarnya.

Betapa hebatnya ampunan Allah!

Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaflagi Maha Kuasa.(QS An Nisa 4:149).

Pemaafan Allah terbuka lebar bagi siapapun yang bersedia memberi kebaikan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan bersedia memaafkan orang lain.

Jangan menduga pemaafan Allah hanya tertuju kepada mereka yang bersalah secara tidak sengaja atau kepada mereka yang bersalah secara tidak sengaja.

Jangan menduga bahwa Allah selalu menunggu yang bersalah dan berdosa untuk meminta maaf.

Tidak!

Sebelum manusia meminta maaf, Allah telah memaafkan banyak hal.

Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebanyak apapun dosa kita.

Allah memerintahkan kita untukmenjadi pemaaf: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari padaorang-orang yang bodoh. (QS Al A’raaf 7:199)

Sebesar apapun dosa kita, itu adalah masa lalu, jangan jadikan itu penghalang untuk kita melakukan ibadah yang terbaik sejak hari ini dan  seterusnya,untuk mendekat kepadaNya.

Karena Allah, Dialah Al ‘Afuw,Yang Maha Pemaaf.

(Dirangkum dari buku Menyingkap TabirIllahi dan ceramah Aa Gym tanggal 29 July 2010).

Didaytea!

Ubahlah Dunia Dengan Mengubah Diri!

Hasrat Untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berhayal,aku bermimpi ingin mengubah dunia…

Seiring bertambah usia dan kearifanku,kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah…

Maka cita-cita itu aku persempit,kuputuskan hanya untuk mengubah negeriku…

Namun tampaknya hasrat itu tiada hasil…

Tatkala usiaku semakin senja dengan semangat yg tersisa,

kuputuskan untuk mengubah keluargaku,orang-orang yang paling dekat denganku,sayangnya merekapun tidak mau berubah…

Kini, sementara aku berbaring menunggu ajal menjelang..

tiba-tiba aku sadari…

Andaikan pertama-tama yang kuubah adalah diriku,

maka dengan menjadikan diriku sebagai teladan,

mungkin aku bisa mengubah keluargaku…

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,bisa jadi akupun bisa memperbaiki negeriku…

Kemudian siapa tau,aku bahkan bisa mengubah dunia……

(Tulisan di sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris, 1100 Masehi…)

Habiskanlah energi kita untuk memikirkan bagaimana cara mengubah diri kita menjadi lebih baik, daripada memikirkan kondisi negara yang menghabiskan banyak energi tanpa ada perubahan apapun yang terjadi.

DIALOG LIMA BELAS JUTA

DIALOG LIMA BELAS JUTA

DIALOG LIMA BELAS JUTA

“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun.

“Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti  barang loakan!”

Itu adalah komentar paling  “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri.

Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli  rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku.

MEMBACA LEBIH CEPAT=BERPIKIR LEBIH CEPAT

Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokikia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah.

Hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja.

Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku  tersebut.

Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paing berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu Skill utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut.

Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan.

Ketika mudik pertama, hal yang pertama lakukan adalah langsung meluncur ke Palasari,dan membeli buku itu.

Dan makin jatuh cintalah aku kepada buku-buku dengan tema yang berkaitan dengan proses pembelajaran, atau “belajar bagaimana belajar”.

Sejak itulah, aku rajin berburu buku-buku dengan tema sejenis Accelerated Learning, Otak Sejuta Giga Bite, Super Brain Power, Berpikir Ala Einstein, Revolusi Cara Belajar, The Sharper Mind, Imagine That, Master Your Memory, Use Both Side Of Your Brain, Use Your Brain, Beyond Teaching and Learning, dan buku-buku lainnya.

Semua buku itu penuh dengan metode-metode untukmeningkatkan kecerdasan, untuk memudahkan proses belajar kita, dan segudang “how-to” lainnya.

Tapi mungkin karena diriku kurang cerdas dan kurang pemahaman, yang benar- benar “menempel” sebagai sebuah kemampuan di dalam diriku hanya kemampuan membaca cepat.

Sebelum aku mempelajari buku-buku tersebut, kecepatan membacaku (dengan berusaha membaca secepat mungkin) maksimal hanya 200-300 kata per menit.

Tapi setelahnya, kecepatanku meningkat tajam sampai hampir 1400 kata per menit!

Alhamdulillah, kecepatan membacaku bisa menutupi kelemahanku di dalam memahami pelajaran di sekolah dan kampus. Dengan membaca lebih cepat, otomatis aku pun bisa berpikir lebih cepat. Sehingga di dalam jangka waktu yang sama, aku mempunyai waktu lebih lama untuk bisa lebih memahami pelajaran.

Yang paling terasa ketika ujian datang. Kecuali Kalkulus, Fisika, dan statistik, mata kuliah yang tidak memerlukan kecepatan membaca (dan memang aku mentok di dua mata kuliah itu), aku selalu dapat menyelesaikan soal- soal ujian jauh lebih cepat dari siswa/mahasiswa lain.

Wajar saja kan, dengan kecepatan rata- rata orang biasa 200-300 kata per menit, aku melaju kencang dengan 1300 kata per menit. Dengan “meluangkan waktu” untuk memeriksa, memastikan dan mencocokkan jawaban dua kali saja, aku dipastikan bisa selesai dalam waktu sepertiga kali lebih cepat dibanding orang lain.

Kemampuanku membaca cepat juga ternyata berpengaruh kepada kemampuan berbahasaku juga. Hobiku menonton film menjadi “penyumbang” terbesar kemampuan bahasa Inggrisku. Dulu, ketika masih membaca dengan “biasa” aku malas untuk mendengar percakapan para tokoh di film- film itu. Lebih baik fokus ke cerita dan menikmati serunya filem, cukup dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia. Jika aku set teksnya ke Bahasa Inggris, pasti memerlukan waktu untuk membaca, menerjemahkah ke Bahasa Indonesia dan menghubungkan teks dengan cerita dalam filem tersebut.

Ketika aku bisa membaca lebih cepat, ide cemerlang pun muncul.

Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat. Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.

Alhamdulillah, walaupun tidak sampai sekelas penerjemah “asli”, dan Tata Bahasa Inggris “resmi” tidak pernah aku kuasai, tapi aku bisa berkomunikasi dengan cukup lancar di bahasa yang sebagian besar siswa dan mahasiswa takuti ketika seklah dan kuliah dulu. Dan aku sempat dipercaya untuk menerjemahkan beberapa tulisan Gola Gong di blognya, walaupun sangat jauh dari dibilang bagus dan baik.

Dan puncaknya, adalah momen di mana seorang temanku datang ke rumahku dan berlangsunglah “dialog lima belas juta”, seperti di awal paragraf tulisan ini.

BALIK MODAL PLUS UNTUNG BESAR

Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri.

Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive.

Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta.

Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.

Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakn dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku.

Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu.

Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar.

Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris.

Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari  satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.

Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.

Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya.

Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun,masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari  lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangani kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut.

Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!”

Didaytea!

Yang Sedang Sangat Beryukur Tak Henti-henti

Di tengah musim panas yang sangat sejuk.

260720101045

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Suatu ketika di suatu sekolah, ketika ujian nasional sedang berlangsung, seorang siswa tiba- tiba mengacungkan tangannya kepada sang pengawas.

“Pak, saya mau komplen nih!” Kata siswa tersebut.

Komplen kenapa?” Jawab sang pengawas.

“Saya tidak ikhlas dengan soal ini! Bukan soal ini soal yang saya inginkan! Soal ini susah banget, seharusnya soal- soal yang keluar bukan soal soal ini! Pokoknya saya ingin soalnya dirubah!” Pungkasnya lagi.

Kira- kira nih, seperti apa tanggapan si pengawas ya?

Saya rasa, daripada menuruti keinginan siswa itu, pasti si pengawas malah marah- marah kan? Dia akan bilang kalau permintaan tersebut mustahil, dan pastinya malah meminta siswa itu untuk mengerjakan soal yang ada, karena itu adalah syarat untuk kelulusannya.

Sebuah ujian adalah syarat untuk seorang siswa untuk naik kelas atau lulus dari sekolah.

Yang membuat kita tidak lulus bukan soal ujiannya, akan tetapi JAWABAN dari soal tersebut.

Si siswa itu mengeluhkan soalnya karena dia tidak tahu jawabannya, karena dia kurang persiapan dalam menghadapi ujian tersebut.

Ternyata, begitulah juga sikap kita di dalam menjalani kehidupan.

Setiap kali ada ujian dari Allah, berarti Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk “naik kelas”.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk mengeluhkan sulitnya “soal”, rumitnya “soal”, bukannya sibuk “membuat jawaban yang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Kita sering mengeluhkan, diri kita, kenapa didera masalah yang bertubi- tubi, kenapa rezeki tidak kunjung datang, kenapa, kenapa dan kenapa.

Kita bukannya memikirkan bagaimana agar diri kita bisa bersyukur dengan apa yang ada, dan bukannya memperkuat ikhtiar kita, menambah ilmu kita, agar kita bisa menghadapi persoalan dengan tegar, tanpa harus mengeluh.

Analogi sederhana seperti siswa yang sedang ujian tadi. Sesulit apapun soal yang diberikan oleh gurunya, tetapi jika dia sudah tahu jawabannya, pasti dia tidak akan mengeluh sedikit pun kan? Yang ada dia akan tersenyum lebar karena kelulusan atau kenaikan kelas sudah diambang mata.

Sekolah, tapi tidak diuji, mau? Sejak masuk sekolah kelas satu SD sampai sekarang anda tidak pernah diuji. Tentunya selama apapun bersekolah, anda bakal terus berada di kelas satu kan?

Tapi kita sering risau dengan “soal-soal” dalam hidup kita, bukannya risau dengan “jawaban” yang harus kita berikan dengan benar agar kita lulus ujian.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk dengan “soal”, bukannya sibuk “membuat jawabanyang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Setiap ujian pasti akan berakhir, bedanya, ada yang lulus dan naik kelas, ada juga yang tidak lulus dan tinggal kelas.

Terus, bagaimana agar kita selalu dapat “menjawab” “soal” di dalam kehidupan kita agar kita selalu lulus dan naik kelas?

Sederhana saja, jawabannya ada tiga: SYUKUR, SABAR, ILMU DAN IKHTIAR.

Sebelum mengeluhkan masalah anda, syukurilah dulu apa yang sudah Allah berikan kepada anda. Lalu bersabarlah. Tambahlah ilmu anda, sehingga anda punya kumpulan “jawaban” untuk menjawab “soal” ujian dari Allah.

Dan yang terakhir, syukur dan sabar serta ilmu harus dilengkapi dengan ikhtiar yang maksimal.

Luruskan niat dan tujuan anda hanya untuk Allah, dan maksimalkan semua potensi diri anda untuk melakukan ikhtiar anda.

Hujan pasti reda, gempa pasti berhenti, badai pasti berlalu, malam pasti berganti siang.

Mulailah hari ini dengan tersenyum  untuk mensyukuri hari baru yang telah Allah berikan kepada kita untuk kita isi dengan  sebanyak mungkin amal dan ibadah.

Selamat menempuh ujian hidup ini dengan riang gembira dan penuh keceriaan, karena kita sudah tahu contekan jawabannya kan?

Didaytea!

Yang sedang tersenyum bahagia di pagi Jum’at yang mulia ini.

160720100600

Biar Cepat Asal Selamat

Biar Cepat Asal Selamat

(Sebuah Prolog Dari Mastering Speed Reading)

Bayangkan anda adalah seorang atasan. Anda memiliki dua orang calon karyawan A, dan B. Berdasarkan hasil tes dan wawancara, bisa diambil kesimpulan: Si A, bekerja lebih cepat, sangat cepat malah, tapi kadang-kadang (garis bawahi kata-kata ini: kadang-kadang) membuat kesalahan kecil, yang bisa langsung dia perbaiki. Si B, bekerja lambat, tapi hampir tidak pernah membuat kesalahan, dan jika dia membuat kesalahan, akan memerlukan waktu lama untuk memperbaiki kesalahannya tersebut.

Si A adalah Si Cepat, dan Si B, adalah si Lambat Asal Selamat. Siapa yang akan anda pilih menjadi karyawan? Si A atau si B? Si Cepat atau Si Lambat? Buat saya, ini adalah pilihan yang sangat mudah. Saya akan memilih si A! Maaf untuk yang tidak setuju dengan pendapat ini, tapi saya punya pertimbangan sendiri ketika saya memilih Si Cepat, tapi kadang membuat kesalahan, daripada si Lambat yang hampir tidak pernah berbuat kesalahan. Kadang salah dan hampir tidak pernah salah, buat saya adalah kembar identik. Kalau dikira-kira secara kasar, kedua kondisi ini memiliki akurasi 99%. Si A, berdasarkan tes, memiliki akurasi lebih kecil, sekitar 95%, dia membuat lebih banyak kesalahan dibanding si B. Tapi, dari sisi produktifitas, si A akan jauh lebih produktif dibanding si B. Jelas! Jika diberi 100 pekerjaan dalam waktu yang sama, si A pasti akan bisa menyelesaikan semua pekerjaan (secara sempurna dan tanpa kesalahan) tersebut dibanding si B.

Lagi-lagi pertanyaan yang sama: KENAPA? Sederhana saja, si A pasti menyelesaikan 100 pekerjaan dibanding si B kan? Ketika si A selesai, mungkin si B baru menyelesaikan 70-80 atau bahkan lebih sedikit pekerjaan. Si A akan melapor lebih cepat kepada atasannya. Kalaupun, ada kesalahan, karena dia kadang-kadang membuat kesalahan. Itu akan langsung dia perbaiki dalam waktu yang cepat. Si B kalaupun bisa memberikan semua pekerjaannya secara sempurna, pasti akan membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding si A.

Faktor apa saja sih yang termasuk dalam kategori CEPAT itu?

1. Pengetahuan dan ilmu, serta pengalaman yang mencukupi. Tentunya ini adalah komponen utama yang menjadi dasar kualitas diri seseorang. Ini akan selalu berkembang, jika kita terus menerus mengembangkan diri, tidak hanya stagnan di satu titik (yang sudah kita rasa) nyaman di kehidupan kita. Tapi ini juga bisa berkurang, seiring berjalannya waktu, karena kemalasan kita, kekurangan kemauan, sehingga ilmu dan pengetahuan yang sudah ada pun malah kita lupakan begitu saja. Pengalaman sejati adalah pengalaman yang dijadikan pelajaran. Seorang karyawan bisa saja memiliki masa kerja selama dua puluh tahun, tapi pengalamannya hanya satu tahun, yang dia ulang-ulang selama dua puluh tahun. Tidak bertambah dan berkembang.

2. Kemampuan berpikir.

3. Mengambil keputusan. Pengambilan keputusan adalah integrasi dari kemampuan berpikir dan ilmu dan pengalaman. Semakin cepat dia berpikir, maka akan semakin cepat keputusan- keputusan penting yang bisa diambil.

4. Bergerak lebih cepat. Faktor ini menurut saya murni fisik. Ini hanya bisa dikembangkan juga dengan kegiatan fisik. Kita akan fokus ke tiga faktor pertama saja. Ilmu, Kemampuan berpikir cepat, dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat. Jika anda pernah membaca komik Kenji, di situ akan anda lihat bagian ketika Kenji berlatih Kung Fu. Selama berbulan- bulan gurunya hanya mengajarkan satu hal, yaitu kuda-kuda. Semakin kokoh kuda-kuda anda, akan semakin sulit untuk menjatuhkan anda. Pengalaman, ini akan sangat bergantung kepada waktu anda hidup di dunia ini. Harus ditunjang juga dengan kemampuan anda untuk menjadikan pengalaman anda.

Di dalam kualitas diri anda, ilmu, pengetahuan dan pengalaman adalah kuda-kuda anda. Untuk bisa meningkatkan hal ini, anda harus TAHU BAGAIMANA cara untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan anda. Pertama, tentunya adalah kemauan dan kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik. Kesadaran untuk tidak berpuas diri dengan kondisi yang dirasakan nyaman, karena sewaktu-waktu itu bisa menjadi bumerang yang akan menghantam diri kita tiba-tiba. Kedua, MEMBACALAH LEBIH CEPAT (dan efektif tentunya)! Karena membaca adalah sumber utama ilmu pengetahuan kita. Membaca adalah gerbang dunia ke dalam diri kita. Mengenai membaca lebih cepat, insyaallah akan ada tulisan yang terpisah.

Sesuai judul tulisan ini, tulisan ini adalah prolog dari tulisan lain yang berjudul Mastering Speed Reading.

Kata Jim Collins, yang dikutip oleh Rhenald Kasali dalam bukunya, Change! “Good is The Enemy of The Great”. Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Orang yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah kita menghadapi ujian yang sesungguhnya di dalam kehidupan kita.

Kesimpulannya, segeralah tinggalkan dan hapus peribahasa “Biar Lambat Asal Selamat” dari kamus kehidupan anda. Segera ganti dengan “Biar Cepat Asal Selamat, dan Sukses Dunia Akhirat”.

Baca lebih cepat, pahami lebih baik, tahu lebih banyak, ilmu lebih banyak, amal lebih banyak, berbagi lebih banyak, sukses bersama! Didaytea Di tengah gurun yang tiba- tiba panas lagi, 8 Maret 2010.