Tingkatan Niat

Amal ada tingkatan niatnya. Bisa jadi awalnya seseorang mengawali beramal karena manusia. Lalu karena dia istiqomah, niatnya meningkat menjadi untuk mengharap balasan dari Allah, atau takut oleh siksa-Nya. Dan pada puncaknya dia akan beramal karena Allah saja.

Naik turunnya iman manusia, adalah hal biasa, maka kejarlah dg amal, jika merasa turun iman kita 1 level, ketika naik, coba naikkan lah 2 ato 3 level, ciri turunnya iman adalah dosa, dan naiknya adalah ketaatan/amal.

(Aa Gym)

Indahnya Hidayah

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

(QS Ali Imran ayat 8)

Pasang Surut

Seperti halnya lautan luas yang terikat dengan pasang dan surutnya, begitulah juga kondisi keimanan kita.

Ketika iman sedang pasang memenuhi hati, semangat diri ini sangatlah tinggi. Tak pernah sekali pun sholat- sholat rawatib setelah sholat berjamaah di mesjid terlewati, tubuh pun terasa sangat berat ketika hendak beranjak pergi. Sehari pun sedekah tak pernah terhenti. Munajat setelah sholat malam selalu dinanti. Delapan rakaat sholat dhuha pun tanpa lelah kita jalani.

Tapi, jika iman di dalam relung hati kita sedang surut, kita sudah tak sabar ingin segera mengucap salam ketika bibir pun belum sepenuhnya tertutup selepas takbir,.

Sangat jarang kita bisa merasakan lezatnya menghadap Allah di dalam sholat- sholat kita.

Sholat hanya menjadi sebatas kewajiban yang rutin layaknya mengisi absensi di sekolah.

Hanya sekedar hadir.

Hanya sekedar sah.

Hanya sekedar melakukan.

Kita tidak melewatkan satu kali pun sholat berjamaah di mesjid untuk dua hari, tapi kemudian berminggu- minggu tidak nampak sekali pun di sana.

Sebuah pertandingan sepakbola, atau sekedar film yang sebenarnya bisa kita hentikan sejenak pun seringkali sudah cukup hebat untuk bisa menunda dan memberatkan langkah kita untuk mengambil air wudhu.

Pantang Menyerah

Kesalahan kita ketika iman kita sedang surut, kita seringkali menyerahkan diri kepada kesanggupan diri semata. Kita seringkali menyalahkan kelemahan jiwa kita yang tidak sanggup melawan hawa nafsu kemalasan.

Kita merasa nyaman bersembunyi di balik alibi kelemahan itu, yang membuat kita malah semakin terpuruk ke dasar jurang kemalasan.

Kita sering menyerah ketika sudah mencoba segala macam cara agar bisa menjadi orang yang lebih baik, untuk mendekat kepada Allah.

Kita lupa untuk berserah diri kepada Allah.

Kita lupa, bahwa Allah Yang Maha Kuasa dan membolak- balik hati manusia.

Kita lupa bahwa minimal tujuh belas kali di dalam sholat dalam satu hari, kita sudah meminta kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus.

Kita lupa untuk berdoa agar diberi hidayah.

Walau pun kita sudah tak sanggup lagi untuk menahan kuatnya cengkeraman kemalasan, tetap janganlah pernah menyerah.

Mungkin itu adalah jalan dari Allah yang sedang menguji kesungguhan kita untuk berubah menjadi lebih baik.
Teruslah berdoá.

Hidayah Dari Hal- hal Kecil

Sering- seringlah berdoa kepada Allah agar diberi hidayah. Bahkan walau pun keadaan iman kita sedang terpuruk ke dasar kelemahan iman yang paling dalam.
Allah seringkali memberi hidayah melalui hal- hal yang kecil dan tidak pernah kita sadari keberadaannya.

Hidayah untuk bisa merasakan nikmatnya sholat malam di sepertiga malam terakhir, kadang datang dengan hanya berupa desakan untuk pergi ke kamar kecil yang membangunkan nyenyaknya tidur kita.

 Hidayah untuk bisa merasakan nikmatnya sholat Dhuha dan tadarus,  kadang datang ketika kita sedang mengantar anak- anak kita sekolah Al Qurán, dan tidak ada tempat lain untuk menunggu selain di mushola.

 Hidayah untuk kita agar bisa diam lebih lama di mesjid setelah sholat Jum’at kadang Allah datangkan melalui orang- orang yang langsung berdiri untuk sholat di belakang kita. Sehingga kita “terpaksa” untuk sholat sunah juga.

  Allah kadang mengundang kita ke rumah-Nya dengan mengirimkan seorang tamu yang sholeh, dan dia ditakdirkan untuk mengajak kita untuk sholat berjamaah di mesjid.

 Satu- satunya jalan yang tersisa untuk mengundang hidayah, adalah jangan pernah terputus untuk memohon kepada Allah Yang Maha Memberi Hidayah, Yang Maha Membolak- balik hati kita, agar kita segera terbebas dari ikatan belenggu kelemahan iman.

Didaytea

Doha, 12 Oktober 2013

Euforia Ramadhan

Ramadhan masih seminggu lagi,
ribuan kata maaf sudah memenuhi dinding- dinding itu lagi

Ramadhan baru sehari,
ramai sekali orang mendadak berbagi

Ramadhan  sudah tujuh hari,
tak lagi ada sudut masjid tersisa untuk tarawih sendiri

Ramadhan sudah melewati purnama yang menggantung,
sudut Masjid pun mulai nampak di ujung
Mall- mall mulai menangguk untung

Ramadhan tersisa sedikit lagi,
Tarawih hanya satu baris terisi
Rekening  para taipan makin penuh terisi

Ramadhan sebentar lagi pergi

Yang juara pasti berseri- seri
Dia menjadi insan yang fitri

Yang kalah pasti sedih tak terperi
Karena sesal dia ratapi

Akankah Ramadhan datang kembali?

Diday Tea
06082013

Syurga Untuk Istriku

Oleh: Diday Tea

Kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum

Beberapa jam yang lalu saya membaca sebuah kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum. Di website tersebut dicantumkan sumbernya dari Syarah ‘Uquudil lijjaiin karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Saya rangkum kisah tersebut dan saya interpretasikan sendiri dengan salah satu ceramah dari Ust. Abu Syauqi, tentang kisah yang sama.

Pada suatu waktu Rasulullah SAW menemui putrinya Fatimah yang sedang  menggiling sejenis padi-padian dengan gilingan yang terbuat dari batu sambil menangis.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kenapa dia menangis, Fatimah pun curhat kepada beliau.

“Ayahanda, aku ini anak Rasulullah SAW, anak seorang pemimpin negara, tapi lihatlah tanganku ini, sampai lecet- lecet karena harus menggiling gandum dengan gilingan batu!” Dengan diiringi isak tangis.

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda kepada putrinya:

“Jika Allah menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu, akan tetapi Allah telah menghendaki menuliskan beberapa kebaikan dan menghapus beberapa kesalahanmu dan mengngkat beberapa derajat untukmu, Ya Fatimah… Perempuan mana yang apabila menggiling gandum/tepung untuk suami dan anak-anaknya maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya satu kebaikan(pahala) dan mengangkatnya satu derajat.

Rasulullah SAW masih melanjutkan dengan menyebutkan banyak sekali keutamaan dan ganjaran yang akan didapat oleh seorang wanita yang menjadi istri dan ibu.

Silahkan langsung ditanyakan saja kepada mas Google untuk membaca kisah lengkapnya yang lumayan panjang.

Hikmah

Kisah di atas tentunya masih sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh kita yang hidup empat belas abad setelah periode Rasulullah SAW.

Kisah ini akan memiliki hikmah yang lebih istimewa dengan para istri yang suaminya bekerja di negeri orang. Ada paradox yang terjadi. Ketika penghasilan suami dan taraf hidup suami mereka sangat berlebih jika dibandingkan dengan bekerja di negeri sendiri, sama sekali tidak mengurangi beban pekerjaan rumah tangga yang mereka lakukan. Sama sekali tidak mengurangi kesibukan dan beban mereka mengurus suami dan anak- anak. Yang ada malah bertambah dan berlipat- lipat, karena mereka harus melakukan segala sesuatunya sendirian.

Jika kita melihat sekilas memang seperti tidak adil untuk para wanita yang menjadi seorang istri dan Ibu. Saya yakin sekali yang paling syok adalah mereka yang sebelumnya terbiasa memiliki pembantu di rumahnya dan belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Apalagi mereka yang tadinya pernah bekerja, sebelum ikut hijrah mendampingi suami mereka.

Walau pun suami mereka sudah berusaha membantu pekerjaan rumah, selalu ada hal- hal yang tidak tergantikan perannya.

Ada sih pengecualian, untuk mereka yang sudah menempati posisi yang lumayan tinggi, bisa mengusahakan PRT di rumahnya. Itu pun tidak bisa merekrut PRT dari Indonesia, karena ada peraturan yang melarangnya.

Tetapi, untuk TKI dengan posisi teknisi biasa seperti saya, hampir mustahil bisa mendapatkan hal yang sama. Di samping prosesnya memang sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Malah pernah kudengar seorang istri berucap bahwa dia lebih baik tinggal di tanah air, gaji pas- pasan tapi bisa punya pembantu dan bisa hidup seperti seorang ratu yang tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Daripada berlimpah harta di negeri orang, tapi tetap harus “nginem” di rumah.

 

Lelah Tak Terbayangkan

Bayangkan saja, istri saya sudah bangun dari jam setengah empat pagi untuk menyiapkan seragam, bekal sarapan dan hal- hal yang saya perlukan untuk bekerja.

Setelah saya berangkat pun, dia masih harus menyiapkan sarapan, baju dan lain- lainnya untuk anak lelakiku yang sekolah.

Selepas si sulung berangkat ke sekolah, dia pun masih harus berlelah- lelah dan menghabiskan berjam- jam waktunya untuk merapikan hampir setiap sudut rumah yang berantakannya seperti kapal dibom, sisa- sisa anak- anak bermain semalaman.

Sarapan pun kadang tidak sempat ketika rumah masih acak- acakan, tapi si kecil sudah terduduk bangun di atas kasur kecilnya dan merengek- rengek meminta susu coklat kegemarannya.

Ketika si kecil bangun pun , rumah yang sudah rapi jali, kembali menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam hitungan menit saja.

Pada hari- hari saya bekerja dan si sulung sekolah, sejak bangun tidur, hingga tidur lagi, istriku selalu terlihat sibuk. Hanya sesekali saja kulihat dia bisa bersantai.

Hanya ketika aku dan si sulung libur saja, dan ketika kami sekeluarga pergi keluar rumah kulihat dia bisa sepenuhnya bebas dari pekerjaannya sehari- hari.

Ketika dia masih bekerja pun, tidak mungkin dia sampai selelah itu. Jam kerja kan sudah pasti, dan dia bisa kapan saja beristirahat di antara pekerjaannya.

Di rumah? Jam kerjanya hampir dua puluh empat jam. Istirahat pun tidak menentu, karena harus selalu siap sedia ketika anak- anak membutuhkannya.

Hebatnya lagi, dia sangat jarang mengeluh.

Ahem, terlalu berlebihan dan sangat mustahil banget ya kalau memang istri saya tidak mengeluh. Padahal sih sering banget. Hehehe…

Tapi periode dramatis yang diwarnai tangisan, keluhan, ratapan dan terkadang pertengkaran itu hanya terjadi di periode beberapa bulan pertama istriku tiba di Qatar.

 

Sebuah Jawaban

Berikut adalah curahan hati yang saya edit dan saya dramatisir dari seorang Istri merangkap Ibu Rumah Tangga yang menemani suaminya yang bekerja di Qatar.

Suamiku tercinta, kalau hanya menggugu nafsu ingin hidup seperti seorang ratu, atau sekedar menghindari beratnya tugas seorang ibu rumah tangga, aku pasti sudah minta pulang sejak dulu, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di negeri padang pasir ini. Karena sejak dari pesawat sejauh mata memandang hanya pasir saja yang nampak di pelupuk mataku ini.

Suamiku, sejujurnya aku tadinya sangat keberatan untuk meninggalkan pekerjaanku karena aku sudah bertahun- tahun terbiasa ditunggu di rumah, bukan menunggu seseorang di rumah.

Suamiku, sejujurnya dulu aku sedih tak terhingga karena harus kukubur dalam- dalam impianku untuk menjadi wanita karir dan meraih posisi setinggi mungkin di perusahaan tempatku bekerja.

Suamiku, sejujurnya aku panik ketika harus memasak dan mencuci piring, karena sebelumnya aku hampir tidak pernah memasak. Selalu ada yang memasakkan untukku sepulang dari pekerjaan.Apalagi mencuci piring. Tanganku saja langsung gatal- gatal ketika pertama kali mencuci piring dengan sabun pembersih khusus piring itu. Sampai sekarang pun aku masih harus memakai sarung tangan ketika mencuci piring.

Suamiku, Aku sudah bertekad bulat meniatkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan cara berbakti kepada suami, sejak  Aku memutuskan untuk menerima pinanganmu dan menyerahkan surat pengunduran diriku kepada atasanku. Tidak kupedulikan lagi berjuta bujuk rayu atasanku yang berusaha mencegahku untuk mengundurkan diri.

Sambil bersabar ketika sepenat apa pun kepala ini harus menahan kantuk dan letih ketika berusaha memisahkan kedua anak kita bertengkar memperebutkan sesuatu, aku selalu berdoa semoga itu menjadi pahala kebaikan untukku dan untukmu.

Sekuat tenaga Aku tahan tangisku, agar tidak ada air mata yang jatuh menetes di depanmu ketika menahan betapa pedihnya luka sayatan bekas operasi caesar sehabis melahirkan si kecil, agar engkau bisa tenang pergi bekerja.

Aku buka cakrawala pikiranku dengan membuka jendela internet yang terbuka lebar- lebar ketika aku merasakan kejenuhan yang luar biasa, merasakan kesendirian dan kesepian yang luar biasa ketika seharian dan semalaman kamu tidak ada di rumah.

Aku paksakan diriku untuk membaca salah satu buku di antara ratusan buku yang kau bawa dari Indonesia, walau pun sebenarnya sejak dulu aku sama sekali tidak suka membaca, ketika aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan di waktu luangku.

Aku temui keluargaku dan keluargamu di dunia maya dan melalui pulsa telepon, jika rinduku kepada mereka sudah tak tertahan lagi.

Kubuka- buka saja jadwal mudik, dan foto- foto ketika kita sedang berliburan di Indonesia dan website maskapai penerbangan yang selalu menerbangkan kami pulang, ketika aku dilanda rindu setengah mati kepada kampung halaman.

Selalu kuajak kamu pergi ke taman- taman yang luar biasa indahnya di Qatar, ketika aku kangen indahnya pemandangan hijaunya tanah airku.

Selalu kupandang mobil yang kau kemudikan berlalu keluar garasi dari balik celah sempit tirai di ruang ruang tamu, dan selalu kuingat betapa mudahnya kamu memberikan apa yang istri dan anak- anaknya inginkan ketika musim SALE dan diskon melanda mall- mall di Qatar, jika aku sedang tergoda utuk meratapi dan mengeluh betapa melelahkannya mengurus anak- anak jika kamu tidak ada di rumah.

Selalu kuingatkan diriku bahwa sabarku ini bisa menjadi tiket ke syurga, ketika kuhapus setiap tetes keringat yang menetes di pelipisku ketika aku sudah sampai di puncak kelelahan membereskan “hasil karya” kedua anak- anakku di setiap sudut rumah.

Tapi maafkan aku suamiku sayang, aku melakukan semua itu bukan untuk kamu.

Aku bersabar karena itu semua adalah ibadahku kepada Allah..

Aku ingin menjadi seperti Fatimah Az Zahrah,  yang ditemani oleh batu gilingan gandumnya ke Syurga.

Kupersembahkan tulisan ini untuk para Istri dan Ibu luar biasa yang berada di Qatar, serta di mana pun di muka bumi ini. Semoga Allah menghadiahkan syurga sebagai ganjaran dari setiap detik waktu yang kalian habiskan, dan setiap titik keringat yang menetes untuk mengurus suami dan anak- anak kalian.

Doha, 3 Januari 2013

Cinta memang aneh..

Ada yang jatuh cinta selama bertahun-tahun dengan si A, tapi menikah dengan si B…
Ada yang yakin 100 % akan menikah dengan si A, tapi batal, katanya sih demi cinta..
Ada yang mencintai sepenuh hati jiwa dan raga kepada si A, tapi mengikat janji dengan si B…
Ada yang berikrar mencintai untuk selamanya, tapi, dengan mudahnya berpindah ke lain hati…

Ada yang bilang:
Takkan pernah ada yang lain di sisi,
segenap jiwa hanya untukmu,
takkan mungkin ada yang lain di hati…
Kuingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamu,
hingga akhir waktu..

Ada juga yang bilang:
Betapa aku mencintaimu,
ingin ku bahagiakan dirimu,
setiap saat bersamamu…

Ada juga yang bilang:
Aku mau mendampingi dirimu,
Aku mau cintai kekuranganmu,
Selalu bersedia bahagiakanmu,
Apapun terjadi,
Kujanjikan aku ada…!

Tapi entah kenapa, terasa penuh dengan kekosongan..

Karena diucapkan tidak dalam sebuah mahligai pernikahan yang mulia…

didaytea.com

Ilmuwan Cilik

“Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA”

 

Jika ada yang masih ingat, belasan tahun lalu ada iklan sebuah baterai yang super awet. Di dalam iklan itu diperlihatkan sebuah mainan kelinci yang masih saja anteng menabuh drum dengan kuatnya di saat baterai- baterai dengan merek lain sudah tidak bisa bergerak lagi.

Seperti itu juga kondisiya dengan bayi perempuanku yang baru berumur tiga belas bulan.

Sekarang, dia hanya punya tiga kegiatan besar: minum susu, tidur, dan bermain.

Minum susu dan tidur sih sama sekali tidak bermasalah untuk kami orang tuanya.

Tapi ketika dia sedang bermain, baik sendiri atau pun dengan kakaknya, hmmmm….itu baru tantangan yang sesungguhnya.

Bayangkan saja, kalau dia bangun, hampir tidak ada sedetik pun yang dia habiskan untuk diam. Kaki- kaki mungilnya selalu bergerak dengan spartan dan konstan menyusuri setiap jengkal lantai di rumah kami.

Hampir sepanjang hari, dia akan titirilikan (entah apa ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kecil atau mungil dan bergerak dengan sangat cepat dengan arah yang acak.. :D)

Jari- jari kecilnya akan menggenggam apa pun di depannya tanpa ragu.

Tangan mungilnya juga yang akan oprek barang- barang apa pun yang dia temukan. Lalu dia tumpuk, susun, lempar, injak, jilat, dan bahkan kalau sedikit saja luput dari pengawasan kami, dia akan memakan apa pun yang dia rasa enak.

Jika saja mainan- mainan itu hidup, tentunya di ruangan itu akan terdengar riuh –rendahnya teriakan kesakitan dari para mainan yang terlempar ke sana ke mari, terinjak berulang kali.

Tapi ada juga sih sedikit keributan , yaitu teriakan kakaknya yang kadang kesal ketika sedang memegang iPad tiba- tiba dilempar oleh mainan mobil, atau ketika sedang asyik bermain dan menyusun lego, tiba- tiba makhluk kecil dan imut itu lewat begitu saja sambil menginjak bangunan yang sudah dia susun dengan susah payah.

Apa pun yang berada di dalam wadah tidak akan luput dari “percobaannya” . Makanan, minuman, mainan lego milik kakaknya, biskuit yang kadang kami lupa menutup wadahnya akan sukses berpindah dari wadahnya ke atas lantai yang sudah penuh sesak dengan ratusan potongan dan patahan mainan.

Analogi “kapal pecah” mungkin sudah tidak relevan lagi untuk menggambarkan keadaan rumah kami jika si bayi sudah beraksi. “Kapal dibom” atau “kapal meledak” rasanya lebih tepat.

Persis seperti mainan kelinci di iklan baterai tersebut, energinya seperti tidak pernah habis. Dengan minum susu sebentar dan tidur hanya beberapa puluh menit, kecuali malam, “baterai” di dalam badan mungil, pejal dan montok itu sudah terisi penuh dan kembali bergerak dengan aktif.

Sudah tak terhitung berapa kali tubuh montoknya itu jatuh berdebam di atas lantai karena terpeleset mainan atau mobil- mobilan yang berserakan di lantai.

Sudah tak terhitung pula istriku harus mengepel lantai dari tumpahan susu, coklat, selai, biskuit dan “hasil karya” seniman mungil imut yang montok dan super lucu itu.

Dalam sehari, istriku bisa tiga kali membereskan mainan yang hampir sama sekali tidak menyisakan ruang untuk sekedar menginjakkan kaki pun di ruang tamu.

Ah, pokoknya, kadang terlintas di pikiran bahwa bayi dan anak- anak adalah makhluk yang sama sekali tidak berguna, hanya merepotkan saja.

Ternyata sama sekali tidak seperti itu.

Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA.

Ilmuwan adalah seorang “anak kecil besar”.

Dan seorang anak kecil adalah seorang “ilmuwan” cilik.

Bayi dan anak kecil, seperti layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, hanya melakukan satu hal, yaitu belajar. Mereka tidak perlu memikirkan lagi tentang makanan, minuman, dan kehidupan mereka karena sudah ditangani oleh orang lain.

Mereka mempunyai kemampuan dan kapasitas belajar yang sangat luar biasa. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi di periode nol sampai dua atau tiga tahun/

Mereka akan mempelajari bagaimana barang- barang di sekitar mereka bekerja.

Mereka akan mengamati bagaimana sikap orang- orang di sekitar mereka.

Mereka akan mencari tahu bagaimana perkaitan antara sesuatu hal yang disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tentu bukan “sesuatu”nya Syahrini. Hehehe.

Mereka akan selalu melakukan percobaan- percobaan tertentu, hanya untuk sekedar ingin mengetahui sesuatuyang kdang berbahaya buat mereka. Si mungil akan tanpa ragu memegang colokan listrik tanpa ada rasa takut tersengat aliran listrik sebelum orang tuanya panik dan berteriak- teriak, atau bahkan langsung menggamit tubuh mungilnya menjauh dari area colokan listrik itu.

Ada periode di mana mereka akan mencoba memakan apa pun yang mereka pegang.

Mereka belajar seperti spons yang menyerap air. Bahasa, Sikap, perilaku, kata- kata orang tua, televisi, film, musik, lagu, tingkah laku kakaknya, akan mereka tiru atas nama “penelitian” pribadi mereka.

Mungkin ini adalah jawaban kenapa manusia menjalani masa kecil atau masa anak-anak lebih panjang dibanding dengan makhluk lainnya.

Allah mentakdirkan kehidupan manusia lebih lama di dalam masa anak- anak, untuk mempersiapkan diri seorang manusia dalam menghadapi keras dan rumitnya kehidupan seorang manusia dewasa kelak.

Bayangkan saja, sorang anak kuda atau rusa akan bisa berjalan dengan tegap bahkan berlari, hanya setelah satu jam dia dilahirkan.

Tapi lihat, sejak itu sampai dia mati pun tidak ada perkembangan yang berarti di dalam kehidupannya: makan, tidur, buang air, begitu besar kawin dengan binatang lain dan mati.

Lihatlah seorang manusia.

Untuk bisa berjalan saja, paling cepat memerlukan sembilan bulan.

Untuk bisa berbicara lancar seperti orang dewasa, setidaknya sampai umur tiga atau empat tahun.

Bahkan sampai mereka betul- betul mandiri pun setidaknya memerlukan waktu sampai mereka lulus kuliah atau sekolah.

Sungguh sangat beruntung kita dilahirkan sebagai manusia!

Chillax Luar Dalam

Chillax Luar Dalam

“Sebagai seorang muslim, aku merasa sangat beruntung karena memiliki setidaknya lima kali waktu dalam sehari untuk mendinginkan kepala dan menenangkan hati”

Sejujurnya, sih , selalu ada saja saat dan periode di mana aku terikat oleh belenggu kemalasan untuk sholat berjamaah di masjid.

Beberapa tahun ini, hampir tidak pernah ada satu hari pun yang aku bisa lewati sempurna tanpa ada “bolong” sholat berjamaah di mesjid. Selalu ada saja waktu sholat berjamaah yang lolos, sehingga terpaksa aku hanya sholat sendiri di rumah, atau setidaknya berjamaah dengan istriku. Ada saja halangan yang jadi alasanku untuk bisa pergi ke mesjid. Dari kesibukan waktu kerjaku yang shift lah, lagi di mall lah, jalan- jalan, bahkan kalau di rumah alasannya lebih dramatis lagi: menyalahkan panasnya summer dan dinginnya winter di sini. Dan banyak lagi kambing- kambing hitam yang tidak bersalah tapi sering kutunjuk dan kusalahkan.

Padahal sih, alasan yang sesungguhnya cuma satu: MALAS.

Beberapa hari lalu kutemukan kata- kata baru di Twitter ketika ingin mereset passwordku yang hilang.

“Please chillax, and try to log in after one hour. Because your ability to reset password is disabled”. Itu kalimat yang terpampang di halaman utamanya.

Chillax? Kata yang aneh.

Sangat mirip dengan nama makanan dari Bandung yang sangat legendaris: Ciloks. Kalau ini singkatannya Aci dicoloks.

Tapi beberapa saat kemudian langsung kusadari bahwa itu adalah gabungan dua kata Chill dan Relax, dingin dan relaks. Sedikit susah untuk menemukan terjemahan yang tepat untuk gabungan dua kata ini.

Langsung saja itu menyadarkanku bahwa dalam hidup kita, selalu diperlukan Chill and Relax.

Chillax.

Tubuh kita perlu istirahat, begitu pun pikiran kita.

Kita harus punya waktu untuk sejenak melakukan relaksasi dan memberikan sedikit waktu untuk tubuh, hati, pikiran, otak, dan jiwa kita dalam kondisi tenang dan “dingin”.

Ada yang chillax menggunakan musik. Dari musik klasik, gamelan, kacapi suling, Kitaro sampai ada juga yang nekad memutar lagu dance dan ngebeat atas nama relaksasi pikiran.

Ada juga yang selalu mengadakan acara keluarga di taman.

Ada juga yang memberlakukan hari tanpa gadget di rumahnya.

Ah, pokoknya mungkin ribuan cara manusia yang manusia lakukan dan cari untuk bisa Chill and Relax.

Sejujurnya lagi sih, kadang, ahem, bahkan sering aku sering berusaha menenangkan diriku dan sedikit menjauh dari penatnya urusan kerja  dengan mendengarkan music. Tidak sampai harus mendengarkan musik- musik yang tidak jelas. Paling banter sekarang sih penyanyi Swedia yang sedang naik daun, akang Maher Zain.

Ah, Maha Suci Allah yang Maha Memberi Hidayah.

Tadi baru saja aku pulang dari sholat Ashar berjamaah di mesjid. Setelah salam tadi, entah kenapa aku tiba- tiba teringat kata- kata tadi, Chillax.

Ternyata perasaan Chillax  terbaik dan paling sempurna bukan setelah merdunya suara Maher Zain, atau lembutnya tiupan kacapi suling, atau megahnya musik sang Maestro New Age: Kitaro, tapi perasaan tenang, penuh kedamaian dan “dingin” yang kita rasakan beberapa saat setelah kita ucapkan salam yang kedua di dalam sholat.

Kondisi ketika kita barang satu atau dua menit beristigfar, bersyukur, bertasbih, dan bersholawat dan dilanjutkan dengan berdo’a itu adalah kondisi chillax yang sesungguhnya, ketika kita tidak mempunyai batas lagi dengan Yang Maha Mencipta.

Ketika sedang sibuk bekerja saja, dan kita break untuk mendirikan sholat, Sensasi chillax akan sangat terasa bahkan sejak sholat itu dimulai. Dinginnya air wudhu, dan beberapa menit waktu yang  kita berikan kepada tubuh dan pikiran kita untuk sejenak beristirahat dan menjauh dari penatnya pekerjaan. Belum sensasi ruhiyahnya, ketika dosa kita akan berguguran dengan air wudhu yang membasuh tubuh kita, dan dihapusnya dosa- dosa kecil di antara dua waktu sholat.

Sensasi dinginnya pikiran dan relaksnya hati akan jauh berlipat ketika kita sholat berjamaah di mesjid.

Paling mantap sih ketika sholat subuh. Bayangkan saja, jika kita bangun lima belas menit saja sebelum sholat subuh, bisa dijamin kita akan bisa mendapatkankan kemuliaan sholat malam, walau pun itu hanya sebatas dua rakaat qiyamul lail dan satu rakaat witir. Lalu sebelum berangkat, seharusnya sih kita bisa mendapatkan kemuliaan yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya dari dua rakaat sholat sunah sebelum subuh.

Ketika tiba di mesjid pun, kita masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keutamaan sholat tahiyyatul mesjid.

Dan ditutup dengan kemuliaan sholat berjamaah di waktu yang paling utama, sholat subuh berjamaah.

Ah, sungguh bodoh sekali diriku ini yang masih bisa terkalahkan oleh kemalasan, dan melepaskan kesempatan luar biasa itu.

Perjuangan melawan kemalasan akan selalu terjadi di setiap langkah kehidupan kita.

Seharusnya aku merasa sungguh sangat beruntung karena diberi minimal lima kali waktu untuk Chill and Relax luar dalam. Kesempatan untuk menenangkan hati, tubuh, pikiran dan jiwa sejenak dari penatnya kehidupan dan mendekat kepada Yang Maha Pencipta, tujuan akhir kita yang sesungguhnya.

Mari ber-Chillax dengan Sholat  berjamaah di mesjid!