Sikap Kita Terhadap Masalah

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Saudaraku, hidup manusia di dunia merupakan kumpulan masalah. Ke mana pun manusia pergi masalah pasti akan selalu mengikuti. Maka siapa pun yang ingin menggapai kemuliaan dalam hidup, ia harus memiliki keterampilan dalam menyikapi setiap masalah. Persoalan sebenarnya bukan terdapat pada masalahnya.

Akan tetapi dari cara kita memandang masalah: Apakah kita memandang masalah sebagai beban atau sebagai sarana meningkatkan kualitas diri? Agar kita menyikapi masalah dengan tepat, kita harus memahami hakikat masalah sebenarnya. Selain itu sebenarnya masalah adalah ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan dengan kenyataan.

Kita menginginkan A tapi kenyataan menunjukkan B, itu adalah masalah. Kita menginginkan banyak uang, tapi kenyataannya kita tidak punya uang, itu juga masalah. Pokoknya, semua hal yang tidak sesuai dengan keinginan diri, itulah yang harus menjadi perhatian Maka Jangan takut menghadapi masalah, tapi takutlah bila kita salah menyikapi masalah tersebut.

Ada tiga langkah yang dapat kita lakukan agar masalah bisa mendatangkan kebaikan, yaitu :

1. Persiapan

Persiapan erat kaitannya dengan mental. Langkah awalnya adalah menyadari adanya masalah. Keduanya cobalah untuk menghimpun input (informasi) dari orang lain tentang masalah tersebut. Semakin banyak input, insya Allah akan semakin baik. Langkah ketiga adalah memetakan masalah yang didasarkan pada input tersebut. Cari, hal-hal apa saja yang menjadi sumber masalah. Misal, kita merasa bahwa kita kurang wawasan (langkah pertama). Setelah sadar kita kurang wawasan, tanyakan pada orang lain, Apa benar kita seperti itu? Bagaimana pandangan mereka terhadap kita. Langkah kedua, berdasarkan pendapat tersebut segeralah kita petakan masalah, Apa yang menyebabkan kita kurang wawasan? Mungkin kita salah pergaulan, malas belajar, tidak punya biaya untuk pengembangan diri. Langkah ketiga.

2.Solusi

Bila tahap persiapan sudah kita lalui, segeralah kita bertanya tentang solusi. Langkah pertama menghimpun solusi, tanyalah orang tentang solusi yang paling memungkinkan, bagaimana cara agar kita menjadi orang berilmu. Himpun solusi sebanyak mungkin. Setelah itu, petakan solusi, cara seperti apa yang mungkin kita lakukan. Langkah ketiga, buatlah rencana aksi yang tertulis dan terukur.

3.Pelaksanaan

Setelah mental kita siap dan solusi pun sudah ada, segeralah bertindak. Jangan ditunda-tunda. Yang tidak kalah pentingnya, apa yang kita lakukan harus dikontrol dan dievaluasi terus menerus. Tentunya setiap masalah kita upayakan agar dapat terselesaikan, sebab masalah adalah tahapan ujian kehidupan yang harus dilalui dan ada solusinya, sebagaimana firman Allah SWT; ” Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “(QS. Al-Baqarah [2] : 216) Saudaraku, musibah, penyakit, penghinaan adalah sebagian masalah yang akan selalu menimpa manusia. Di mana saja maupun kapan pun masalah akan menghampiri kita. Yang harus menjadi perhatian, bagaimana sikap kita terhadap masalah tersebut? Hal inilah yang justru akan menentukan sukses tidaknya hidup kita. Sehingga diharapkan ketika kita dihadapkan dengan masalah, sikap kita: jangan panik, jangan emosiona, jangan tergesa-gesa, jangan mendramatisasi dan jangan putus asa, seperti tersirat dalam Q.S Al-Insyirah ayat 5-6 bahwa; “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Wallahu a’lam bish showab

Ketika Allah Maha Besar


Oleh : Amri Knowledge Entrepreneur

Hidup itu seperti pembanding, oleh karena itu,marilah kita menjadi
orang yang sangat pandai membandingkan. Khususnya, perbandingan yang
menyebabkan kita menjadi mudah dalam menghadapi kehidupan.

Sebagai contoh sangat sederhana, Pertama, seseorang bisa dikatakan
tinggi bentuk tubuhnya, ketika dibandingkan dengan orang yang sangat
pendek bentuk tubuhnya.. Begitu juga sebaliknya, yang tadinya terlihat
sangat tinggi, menjadi pendek juga, ketika dibandingkan yang lebih
tinggi lagi. Kedua, seseorang yang memunyai uang Rp. 10.000.000.000,-
(sepuluh milyar ruiah) akan terlihat sangat kaya raya, kalau
dibandingkan dengan seseorang yang hanya punya uang Rp. 100.000,-
(Seratus ribu rupiah). Namun Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh milyar
rupiah) menjadi sangat kecil kalau dibandingkan dengan Rp.
10.000.000.000.000,- (Sepuluh trilyun rupiah). Ketiga, seseorang akan
terlihat sangat gemuk, bila dibandingkan dengan seseorang yang sangat
kurus. Namun, yang tadinya terlihat sangat gemuk, akan menjadi
biasa-biasa saja ketika dibandingkan dengan seseorang yang sangat
gemuk di dunia ini.

Inilah hidup, kepandaian kita dalam membandingkan akan sangat
menentukan kehidupan kita.dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Kemudian timbul pertanyaan dalam diri kita, mengapa hidup ini, selalu
terasa banyak masalah, sehingga masalah menjadi terasa sangat besar?
Jawabannya tentu sangat sederhana, karena kita salah dalam
membandingkan.

Dimana letak kesalahannya? Jawabannya juga sangat sederhana,
masalah-masalah yang sangat besar itu, atau kita sendiri yang merasa
permasalahan sangat besar, tidak kita bandingkan dengan seseuatu yang
maha besar. Apa yang maha besar? Jawabannya adalah ketika “Allah” Maha
Besar tertanam dalam hati kita, maka semua permasalahan menjadi sangat
kecil.

Jadi wajar sekali kalau Allah berjanji bahwa: Allah akan memberi
solusi kehidupan kepada siapa saja yang mempunyai keimanan sangat
bagus dalam hatinya, sehingga tertanam dalam bentuk keyakinan hati
bahwa Allah Maha Besar.

Jadi rumus hidup menjadi sangat sederhana, kalau ingin hidup penuh
masalah, walaupun sebenarnya, masalah yang datang tidak terlalu besar,
hanya terlihat dan terasa sangat besar, bukan masalahnya yang besar,
hanya pembandingnya yang kurang besar.

Intinya adalah kalau kita ingin tidak banyak masalah bukan tidak mau
ada masalah, namanya juga hidup, pasti banyak masalah. Permasalahannya
adalah bagaimana masalah dalam kehidupan ini menjadi terselesaikan
dengan menyenangkan ketika kita punya keyakinan dalam hati bahwa Allah
Maha Besar, agar semua permasalahan menjadi sangat kecil.

Berani menghadapi tantangan untuk bersahabat dengan masalah dengan
punya keyakinan yang tertanam dalam hati bahwa Allah Maha Besar!!!
Atau hidup sengsara dari detik perdetik, karena merasa selalu datang
masalah-masalah sangat besar, karena Allah dalam hati kita tertanam
sangat kecil . Bagaimana pendapat Anda ???

Jangan Pernah Meremehkan Sholat!

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

“Sesungguhnya
di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa
menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang
menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan
lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan
shalat.“

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa,

“Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan
agamanya. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan
penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan
semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat
lima waktunya. Kenalilah dirimu, wahai Abdullah. Waspadalah! Janganlah
engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam
Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam
hatimu.“

Oleh karena itu, jangan heran jika kita melihat
seseorang yang sering bolong shalatnya, amalan yang lainnya juga lebih
dia sia-siakan, lebih sering berdusta, dan lebih menyia-nyiakan amanat.

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan: Ash Sholah wa Hukmu Taarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.

***
Mediu-Jogja, 17 Jumadil Ula 1430 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Memupuk Sikap Tangguh

Memupuk Sikap Tangguh

Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita akan salut kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana dan berjuang siang malam demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.

Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia tangguh atau rapuh? Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Kalau sudah mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.

Saya pernah melihat kontes ketahanan fisik di televisi, yaitu untuk memilih manusia “terkuat” di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam lomba tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Mereka inilah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan akan terlihat saat seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.

Hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Al-Quran, Allah berjanji akan membahagiakan orang-orang sabar dan tangguh mengarungi hidup. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali (QS Al Baqarah [2]: 155-156).

Ciri manusia tangguh
Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia berpaling dari Allah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya.
Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar.
Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang.
Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan.
Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya.
Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik hanya satu: “Kita harus menjadi manusia tangguh”. Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Kesulitan tidak mungkin akan terus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan?

( KH Abdullah Gymnastiar )

Apakah Kita Seorang Mukmin ?

“Seseorang bertanya pada Hasan Al Bashri, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya menjawab, “Insya Allah.”

Sejak pertama melangkahkan kaki di sini, setiap kita harusnya tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah kepada Allah swt. kita sedang berjalan dan berlari menuju Allah swt. hanya Allah saja. Kita juga harus mengerti bahwa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga yang terakhir.

Seperti yang dikisahkan tentang seorang Tabi’in bernama Tsabit Al Banani di ujung hayatnya. Ketika itu ia dikelilingi oleh para sahabatnya. Mereka berupaya mentalqinkan Tsabit yang saat itu memasuki fase sakratul maut. Tapi, sungguh mengejutkan karena ketika itu Tsabit mengatakan pada mereka, “Saudaraku, jangan ganggu aku. Aku sedang menuntaskan wiridku yang keenam.” (Shaidul Khatir, 50)

Saudaraku,

Sungguh mulai perjalanan para salafushalih, orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadis bernama Ibrahim Al Harabi, Ahmad bin Hambal. Dengarkanlah perkataannya, “Aku telah menemaninya (Imam Ahmad bin Hamdal) selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari, kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin.” (Manaqib Ahmad, Ibnul Jauzi, 40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah swt. semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaidah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah swt. di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.

Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip itu.

Saudaraku,

Dahulu ada sahabat Rasulullah saw, yang kerap menyadari jikalau dirinya lemah dan banyak kekurangan mengisi hari-harinya untuk beramal. Abu Dzar Al Ghifari ra, namanya. Ia adalah tokoh sahabat yang telah mengukir prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal dakwah Islam. Tapi ia kerap merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menunaikan amanah yang Allah swt. berikan kepadanya. Hingga suatu hari, ia datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?”.

Begitulah pertanyaannya kepada Rasulullah di tengah prestasi ubudiyah dan perjuangannya yang luar biasa. Abu Dzar mengakui kekurangan dirinya secara terus terang di hadapan Rasualullah saw. Ia tidak menoleh seberapa bagus ibadah dan nilai perjuangannya yang telah ia tunaikan bersama Rasulullah saw. Ia juga tidak segan untuk mengakui kelemahan itu di hadapan orang lain. Ketika itu, Rasulullah saw berpesan kepadanya, “Peliharalah orang lain dari keburukanmu. Itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR Muslim)

Saudaraku,

Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. Membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan amal-amal kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al Hafi mendefinisikan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan, “Jika engkau merasakan amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit.”

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid, seorang ulama yang banyak menuangkan nasihat-nasihat ruhani dalam banyak bukunya, membuat satu jub judul pendek yang berisi tentang ujub. Judul itu berbunyi “Laa tarfa’ si’rak,” yang artinya, jangan jual mahal. Yang dimaksud Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid adalah agar kita tidak cenderung memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betapapun secara lahiriah banyak orang yang mendudukan kita seperti itu. Tidak merasa diri lebih berprestasi, lebih banyak berperan, lebih sering beramal, daripada orang lain.

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah saat menyinggung masalah ini. Katanya, iblis akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga prilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lain.” Begitu kata iblis seperti diungkapkan oleh Fudhail. Tiga prilaku itu adalah: Ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya.” Itulah pangkal dosa menurut Fudhail.

Konon ada perkataan Nabiyyulah Isa as yang menyebutkan, “Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan.

Saudaraku,

Semoga cahaya amal shalih kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapatkan penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita.

Dahulu, Hasan Al Bashri rahimahullah tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhawatirannya bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya mejawab “Insya Allah”. Penanya terkejut dengan jawaban Hasan al Bashri itu. “Kenapa engkau menajwab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’in itu lalu mengatakan, “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku Mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’, karena itulah aku katakana Insya Allah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Ia benci, lalu Ia murka padaku dan mengatakan, “Pergilah aku tidak menerima amal-amalmu.”

Saudaraku,

Apakah kita seorang Mukmin?

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani