Biar Cepat Asal Selamat Bagian 2: Naik Kelas Euy!

 

 

Jumlah kegagalan yang kita alami tidak memiliki arti apa-apa, tapi berapa kali kita bisa bangkit setelah mengalami kegagalan-kegagalan tersebut, itu yang luar biasa!”

“Heavy Duty School”

Pada dasarnya sekolahku itu memang “heavy duty school”. Kelas 1 adalah kelas yang terberat untuk semua siswa baru. Dari persaingan dan beban belajar, jauh lebih ketat dari sekolah biasa.

Bayangkan saja, ketika itu satu angkatan hanya terdiri dari dua kelas. Dan dalam satu kelas hanya terdiri dari tiga puluh lima siswa saja. Di sekolah biasa satu angkatan bisa ada Sembilan, bahkan sepuluh kelas. Dan satu kelas bisa terdiri dari minimal lima puluh orang siswa.

Dari sisi persaingan, jelas, hampir semua siswa adalah juara satu ketika di SMP-nya.

Karena sekolahku itu adalah sekolah favorit, kebanyakan siswanya pun berasal dari luar kota Bandung. Siswanya ada yang berasal dari Pulau Bangka sampai ke Tuban.

Beban belajar di sekolah ini aku rasa hampir dua kali lipat lebih berat dari SMK/SMU biasa.

Bagaimana tidak, dalam enam  hari belajar, hanya ada satu hari “tenang”, di mana kami belajar di sekolah hanya sampai jam dua belas siang. Lima hari sisanya, paling cepat kami baru bisa keluar dari Laboratorium atau kelas jam empat sore.

Dan masih ada lagi, waktu setelah sekolah pun ternyata masih menjadi beban belajar untuk para siswanya. Karena harus membuat laporan atau jurnal, yang merupakan syarat untuk bisa menghadiri kelas atau praktikum di keesokan harinya. Lupa atau salah membuat jurnal? Siap-siap saja sang guru atau asisten praktek membuat anda hanya bisa melongo di luar, karena siswa tidak boleh masuk ke dalam ruangan.

“Tidak naik kelas”, hal yang hanya terjadi sebagai kejadian yang langka dan luar biasa di sekolah lain, di sekolah ini adalah hal yang lumrah saja. Tidak ada yang istimewa.

Jangan berharap jumlah siswa yang mendaftar, akan lulus pada waktu yang bersamaan. Karena pasti akan selalu ada yang “menghabiskan waktu untuk belajar” lebih lama dibanding teman- temannya yang lain.

Tahun Ke- Dua Ternyata Tetap Sulit

Hari pertamaku sebagai siswa “senior” di kelas satu awalnya sangat menakutkan bagiku. Sudah terbayang  pandangan  teman-teman sekelasku yang akan mencemooh, menghina karena aku tidak naik kelas. Terbayang pandangan keheranan para siswa baru, karena ada siswa “asing” yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang sama dengan mereka.

Ternyata, aku tidak sendirian. Ada siswa lain yang bernasib sama denganku. Dari dua kelas, ada empat orang yang tidak naik kelas.

Pertemuan pertama di kelas, aku diperkenalkan oleh wali kelas sebagai siswa yang “masih betah” belajar dengan beliau. Dan, Alhamdulillah, suasana yang tadinya tegang, karena para siswa baru pun masih keheranan dan terkaget-kaget, karena ada siswa “asing” di antara mereka.

Walaupun aku menyandang status sebagai siswa “senior”, tenyata tidak menjadi jaminan aku bakal menjadi yang terbaik. Seperti yang aku bilang di awal tulisan, sekolah ini mengumpulkan siswa-siswa terbaik di SMP se- Jawa Barat, bahkan dari luar propinsi.

Aku hanya menonjol di beberapa mata pelajaran yang betul-betul memerlukan “pengalaman”, seperti praktikum. Aku malah bisa mengajari teman-temanku trik trik untuk mengatur waktu dan pekerjaan ketika praktikum berlangsung.

Jadwal praktikum kami sangat padat, dan kami harus menyelesaikan banyak topik yang menjadi target untuk memenuhi batas nilai minimal kelulusan mata pelajaran yang bersangkutan.

Di mata pelajaran lain, aku masih berada di level yang tidak jauh berbeda dengan mereka.

Aku masih mengalami kesulitan di tahun ke-duaku di kelas satu. Ternyata tidak semudah seprti yang aku bayangkan sebelumnya.

Kelemahanku yang sangat menonjol adalah di bidang Matematika dan Fisika. Dua mata pelajaran ini yang membuat aku tidak naik kelas. Aku hanya memiliki dua nilai merah di raportku. Sialnya, dua mata pelajaran ini adalah mata pelajaran inti yang merupakan syarat wajib untuk seorang siswa agar bisa naik kelas.

Memang sih, sejak SD dan SMP, aku kurang menyukai dua mata pelajaran ini. Tapi Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan nilai yang lumayan baik.

Ternyata,  Matematika di sekolahku ini memang lebih sulit dari Matematika yang diajarkan di sekolah biasa. Kakak- kakak kelasku bahkan bilang, kalau soal dari guru Matematika di sini jauh lebih sulit dibandingkan soal EBTANAS sekalipun!

Dan benar saja, setelah aku putar balik ingatanku, ternyata ada perbedaan kurikulum mata pelajaran di sekolahku itu dengan kurikulum sekolah biasa.

Perbedaan yang paling terasa sih, guruku itu tidak pernah mewajibkan siswanya untuk membeli buku praktek tertentu. Dia hanya menganjurkan beberapa buku untuk latihan saja. Untuk mata pelajaran “Kimia- kimian”, kadang kami harus langsung mencari referensinya ke perpustakaan ITB, atau perpustakaan Puslitbang Teknologi Mineral, jika guru kami menugaskan sesuatu.

Tetapi pada akhirnya, tetap saja, soal-soal yang dia berikan selalu lebih sulit dari soal latihan di buku-buku yang dia anjurkan itu.

Pokoknya, kami serasa mahasiswa yang berseragam putih-abuabu deh!

Matematika tetap menjadi ganjalan utama bagiku di tahun ke dua ini.

Dua Catur Wulan Yang Paling Mendebarkan

Mungkin karena aku sudah merasa takut duluan, dan memang aku sangat lemah di bidang matematika, dua catur wulan pertama aku masih mendapat nilai merah di raportku.

Catur Wulan pertama, ternyata tetap saja ya, Matematika dan Fisika masih menjadi batu sandungan terbesarku. Aku masih saja mendapat nilai lima di buku raport untuk ke-dua mata pelajaran itu. Tak bisa kugambarkan bagaimana takutnya aku ketika itu, ketika mengetahui bahwa aku terancam tinggal kelas dua tahun berturut-turut karena tidak bisa menguasai dua pelajaran itu. Aku juga tidak berani membayangkan bagaimana sedihnya orang tuaku. Dan aku mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang sudah memutuskan untuk mengambil kesempatan ke-dua dengan bertahan di sekolah ini. Aku pasti akan menyesal, karena memilih untuk bertahan ketimbang pindah saja ke sekolah yang lebih mudah, yang kelulusan dan naik kelas bukanlah sesuatu yang istimewa.

Agak aneh memang, seingatku, hanya dua pelajaran itu yang terasa sangat sulit dan membebani pikiranku. Pelajaran yang lain, walaupun sesulit apa pun, rasa-rasanya masih bisa kutangani, dan aku bisa mendapat nilai yang lumayan, tidak sampai harus berakhir dengan warna merah di buku raportku.

Catur Wulan ke-dua, tak kuduga dan tak kusangka, ternyata aku mendapat nilai yang lumayan, enam untuk Matematika, dan tujuh untuk Fisika. Buatku, dua nilai itu adalah suatu keajaiban terbesar yang kualami pada saat itu!

Kesempatan Ke-dua Akhirnya Berhasil Kulalui

Syarat untuk naik kelas: 1. Tidak boleh mendapat nilai Merah (di bawah 6) lebih dari empat mata pelajaran. 2. Tidak boleh mendapat nilai 4 di mata pelajaran apa pun. 3. Siswa tidak layak naik kelas jika ada satu saja nilai 4, walaupun tidak ada mata pelajaran lainnya yang nilainya Merah.

Di Catur Wulan  ke tiga, aku berusaha lebih keras untuk bisa menaklukkan si “Matematika” ini. Karena materi yang diberikan sang Guru kali ini jauh lebih sulit. Aku sering menginap di kost-kostan teman- teman sekelasku menjelang ujian mingguan. Alhamdulillah, materi yang luar biasa sulit itu sedikit bisa kutangani, setidaknya ada tempat buatku untuk bertanya.

Ujian Catur Wulan terakhir pun akhirnya tiba. Ujian yang akan menentukan apakah aku akan bisa melewati kesempatan ke-dua ini, atau aku akan gagal lagi untuk kedua kalinya, dan mau tidak mau harus angkat kaki dari sekolah itu.

Masa ujian ketika itu, adalah ujian terberat selama aku bersekolah. Aku harus menanggung beban yang dua kali lebih berat. Beban ujian itu sendiri, dan beban kenyataan bahwa aku masih berpeluang untuk tinggal kelas lagi.

Akhirnya, ketika hari pembagian raport tiba, sang wali kelas memanggil namaku: “Dedy Mulyadi!”

Bangku beliau yang hanya berjarak kurang dari sepuluh meter tiba-tiba terasa sangat jauh. Setiap langkahku terasa sangat berat, seperti dibebani oleh besi puluhan kilogram. Detak jantungku pun berdegup kencang, bertalu-talu seperti musik kopi dangdut hard rock.

Otakku terus menerus membuat skenario kehidupan, membayangkan kemungkinan- kemungkinan terburuk, membuat rencana dan langkah yang akan kuambil setelah kulihat hasil belajarku setelah setahun berlalu.

“Silahkan duduk!” Suara lembut tapi tegas beliau tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Iya Pak!” Kusimpan tubuhku dengan perlahan di atas kursi yang di kala itu, entah kenapa terasa panas.

“Masih betah di kelas satu?” Tanya guruku itu dengan mimik serius.

“Pastinya nggadong Pak!” Jawabku dengan tersenyum kecut, dan mata langsung memandang kosong ke arah depan, karena “film” yang tadi berputar di pikiranku tiba-tiba muncul lagi.

“Bagus, berarti kamu setahun ini belajar dengan serius.” Jawab guruku, kali ini wajahnya agak sedikit berubah.

“Selamat Ded, kamu kali ini naik kelas!” Kata beliau sambil berdiri dan menyodorkan kedua tangannya; yang kanan mengajak untuk bersalaman, dan yang kiri memegang buku raport biruku dilengkapi seyuman lebarnya, yang ketika itu terasa lebih manis dari biasanya.

“Alhamdulillah..!” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan ketika itu.

Kujabat tangan guruku itu dengan wajah sumringah, dan kuambil buku raportku, sambil menahan tubuhku yang seperti ingin menghentak-hentakkan diri, untuk terbang dan meloncat. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya karena saking gembiranya diriku saat itu.

Tapi tetap saja, akhirnya aku tidak bisa menahan diri lagi, dan sesaat setelah mejabat tangan guruku, tubuhku pun meloncat sambil mengepalkan kedua tanganku di depan teman-teman sekelasku:

“Yeesssss…..!!!”

Urang naek kelas euy!”

Bersambung




Mengalir Seperti Air? Ke Laut Aje!

“Ke Laut aje!” Itu yang saya bilang jika ada seseorang yang menjawab pertanyaan tentang apa targetnya di dalam kehidupan dengan kalimat: “Saya akan menjalani kehidupan saya seperti air saja, terserah mau dibawa ke mana…”

Jika kehidupan kita ini adalah sebuah perjalanan mendayung di sebuah sungai, apakah anda akan memilih untuk hanya sekedar “mengikuti aliran air saja, terserah dibawa mau ke mana”, atau anda akan mengambil sebuah dayung agar anda bisa mengendalikan perahu anda ke sebuah muara tujuan yang ingin anda capai?

Saya akan memilih untuk mengambil dayung.

Kenapa? Jelas lah! Karena saya tidak mau terbawa arus air sungai.

Jika saya hanya sekedar mengikuti aliran air, dan di tengah perjalanan ada batu besar, bisa dipastikan saya akan menabrak batu tersebut dan tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Akan tetapi, jika kita memiliki dayung, kita bisa memiliki kendali sepenuhnya terhadap perahu yang kita naiki. Walapun terkadang arus yang menerjang sangat kuat dan hampir tidak terkendali, tapi kita akan tetap memiliki kendali yang kuat terhadap ke mana arah perahu menuju.

“Dayung” inilah yang tidak ada dalam diri orang- orang yang berprinsip “Mengalir Seperti Air”.

Prinsip yang tidak sepenuhnya salah, karena ada juga beberapa orang yang bisa meraih kesuksesan dalam kehidupan ini tanpa harus repot- repot merencakanan apapundalam kehidupannya.

Lalu, apa sih hal nyata yang bisa kita lakukan dan kita adakan, agar kita memiliki dayung yang kuat untuk mengarungi kehidupan kita ini?

Tujuan sejati kehidupan kita tentunya adalah kebahagiaan dunia akhirat. Langkah- langkah berikut ini tentunya hanya merupakan tujuan antara menuju kebahagiaan yang sejati di akhirat kelak.

Langkah 1:

Galilah ukuran utama kehidupan anda: karir, hubungan dekat dengan seseorang dan keluarga, keuangan, kondisi fisik, kehidupan spriritual, dan intelektualitas. Dan identifikasi area mana yang harus segera ada perbaiki dan kembangkan.

Langkah 2:

Segera tekadkan dalam diri anda, bulat sebulat- bulatnya dengan semangat pantang menyerah untuk merubah kehidupan anda dan memenuhi impian- impian anda, walau rintangan apapun akan menghadang di depan anda.

Langkah 3:

Buatlah desain kehidupan anda dengan “memproklamasikan” apa yang anda inginkan. Jadikan hidup anda lebih hidup dan penuh warna dan aroma kesuksesan dengan menuliskan keinginan anda, dan mereviewnya secara rutin. Hiduplah dengan tujuan. Dan buatlah setiap hari anda adalah selangkah lebih maju untuk mencapai impian anda. Sebesar apapun langkah anda, jika anda tidak mempunyai tujuan, anda tidak akan pernah sampai ke manapun. Tapi, jika anda sudah mempunyai tujuan, sekecil apapun langkah yang anda ambil, itu adalah kemajuan menuju tercapainya tujuan anda.

Langkah 4:

Akan jadi apakah anda 5 tahun lagi? 10 Tahun lagi? 30, 40, atau bahkan 50 tahun lagi? Ingin seperti apakah orang mengenang anda? Visualisasikanlah akan jadi apa anda di masa depan. Anda di masa kini adalah hasil dari langkah- langkah yang anda ambil di masa lalu. Ini sudah tidak bisa kita rubah. Tetapi anda di masa depan, adalah, tergantung dari langkah yang anda lakukan di masa kini.

Langkah 5:

Berusahalah sekuat tenaga untuk melawan kemalasan dan menghilangkan kebiasaan buruk yang anda sering tolerir selama ini, dan raihlah kedisiplinan dalam hidup yang anda butuhkan untuk hidup dengan menggunakan potensi luar biasa yang ada pada diri anda sepenuhnya.

Langkah 6:

Nikmati proses. Lakukan setiap langkah yang anda ambil dengan baik dan benar.

Langkah 7:

Fokus. Selalu berjalanlah di jalan yang anda telah putuskan untuk ambil. Jangan mudah tergoda oleh belokan –belokan kecil yang menggoda di sepanjang jalur kehidupan anda.

Langkah 8:

Istirahatlah, nikmati momen- momen dalam kehidupan anda. Dan ukurlah perkembangan anda. Sejauh mana anda telah memenuhi impian- impian yang anda proklamasikan di masa lalu. Evaluasi pencapaian anda dan belajarlah dari kesalahan dan “kegagalan” anda.

Diday Tea

24 Februari 2011

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Suatu ketika di suatu sekolah, ketika ujian nasional sedang berlangsung, seorang siswa tiba- tiba mengacungkan tangannya kepada sang pengawas.

“Pak, saya mau komplen nih!” Kata siswa tersebut.

Komplen kenapa?” Jawab sang pengawas.

“Saya tidak ikhlas dengan soal ini! Bukan soal ini soal yang saya inginkan! Soal ini susah banget, seharusnya soal- soal yang keluar bukan soal soal ini! Pokoknya saya ingin soalnya dirubah!” Pungkasnya lagi.

Kira- kira nih, seperti apa tanggapan si pengawas ya?

Saya rasa, daripada menuruti keinginan siswa itu, pasti si pengawas malah marah- marah kan? Dia akan bilang kalau permintaan tersebut mustahil, dan pastinya malah meminta siswa itu untuk mengerjakan soal yang ada, karena itu adalah syarat untuk kelulusannya.

Sebuah ujian adalah syarat untuk seorang siswa untuk naik kelas atau lulus dari sekolah.

Yang membuat kita tidak lulus bukan soal ujiannya, akan tetapi JAWABAN dari soal tersebut.

Si siswa itu mengeluhkan soalnya karena dia tidak tahu jawabannya, karena dia kurang persiapan dalam menghadapi ujian tersebut.

Ternyata, begitulah juga sikap kita di dalam menjalani kehidupan.

Setiap kali ada ujian dari Allah, berarti Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk “naik kelas”.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk mengeluhkan sulitnya “soal”, rumitnya “soal”, bukannya sibuk “membuat jawaban yang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Kita sering mengeluhkan, diri kita, kenapa didera masalah yang bertubi- tubi, kenapa rezeki tidak kunjung datang, kenapa, kenapa dan kenapa.

Kita bukannya memikirkan bagaimana agar diri kita bisa bersyukur dengan apa yang ada, dan bukannya memperkuat ikhtiar kita, menambah ilmu kita, agar kita bisa menghadapi persoalan dengan tegar, tanpa harus mengeluh.

Analogi sederhana seperti siswa yang sedang ujian tadi. Sesulit apapun soal yang diberikan oleh gurunya, tetapi jika dia sudah tahu jawabannya, pasti dia tidak akan mengeluh sedikit pun kan? Yang ada dia akan tersenyum lebar karena kelulusan atau kenaikan kelas sudah diambang mata.

Sekolah, tapi tidak diuji, mau? Sejak masuk sekolah kelas satu SD sampai sekarang anda tidak pernah diuji. Tentunya selama apapun bersekolah, anda bakal terus berada di kelas satu kan?

Tapi kita sering risau dengan “soal-soal” dalam hidup kita, bukannya risau dengan “jawaban” yang harus kita berikan dengan benar agar kita lulus ujian.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk dengan “soal”, bukannya sibuk “membuat jawabanyang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Setiap ujian pasti akan berakhir, bedanya, ada yang lulus dan naik kelas, ada juga yang tidak lulus dan tinggal kelas.

Terus, bagaimana agar kita selalu dapat “menjawab” “soal” di dalam kehidupan kita agar kita selalu lulus dan naik kelas?

Sederhana saja, jawabannya ada tiga: SYUKUR, SABAR, ILMU DAN IKHTIAR.

Sebelum mengeluhkan masalah anda, syukurilah dulu apa yang sudah Allah berikan kepada anda. Lalu bersabarlah. Tambahlah ilmu anda, sehingga anda punya kumpulan “jawaban” untuk menjawab “soal” ujian dari Allah.

Dan yang terakhir, syukur dan sabar serta ilmu harus dilengkapi dengan ikhtiar yang maksimal.

Luruskan niat dan tujuan anda hanya untuk Allah, dan maksimalkan semua potensi diri anda untuk melakukan ikhtiar anda.

Hujan pasti reda, gempa pasti berhenti, badai pasti berlalu, malam pasti berganti siang.

Mulailah hari ini dengan tersenyum  untuk mensyukuri hari baru yang telah Allah berikan kepada kita untuk kita isi dengan  sebanyak mungkin amal dan ibadah.

Selamat menempuh ujian hidup ini dengan riang gembira dan penuh keceriaan, karena kita sudah tahu contekan jawabannya kan?

Didaytea!

Yang sedang tersenyum bahagia di pagi Jum’at yang mulia ini.

160720100600

Biar Cepat Asal Selamat

Biar Cepat Asal Selamat

(Sebuah Prolog Dari Mastering Speed Reading)

Bayangkan anda adalah seorang atasan. Anda memiliki dua orang calon karyawan A, dan B. Berdasarkan hasil tes dan wawancara, bisa diambil kesimpulan: Si A, bekerja lebih cepat, sangat cepat malah, tapi kadang-kadang (garis bawahi kata-kata ini: kadang-kadang) membuat kesalahan kecil, yang bisa langsung dia perbaiki. Si B, bekerja lambat, tapi hampir tidak pernah membuat kesalahan, dan jika dia membuat kesalahan, akan memerlukan waktu lama untuk memperbaiki kesalahannya tersebut.

Si A adalah Si Cepat, dan Si B, adalah si Lambat Asal Selamat. Siapa yang akan anda pilih menjadi karyawan? Si A atau si B? Si Cepat atau Si Lambat? Buat saya, ini adalah pilihan yang sangat mudah. Saya akan memilih si A! Maaf untuk yang tidak setuju dengan pendapat ini, tapi saya punya pertimbangan sendiri ketika saya memilih Si Cepat, tapi kadang membuat kesalahan, daripada si Lambat yang hampir tidak pernah berbuat kesalahan. Kadang salah dan hampir tidak pernah salah, buat saya adalah kembar identik. Kalau dikira-kira secara kasar, kedua kondisi ini memiliki akurasi 99%. Si A, berdasarkan tes, memiliki akurasi lebih kecil, sekitar 95%, dia membuat lebih banyak kesalahan dibanding si B. Tapi, dari sisi produktifitas, si A akan jauh lebih produktif dibanding si B. Jelas! Jika diberi 100 pekerjaan dalam waktu yang sama, si A pasti akan bisa menyelesaikan semua pekerjaan (secara sempurna dan tanpa kesalahan) tersebut dibanding si B.

Lagi-lagi pertanyaan yang sama: KENAPA? Sederhana saja, si A pasti menyelesaikan 100 pekerjaan dibanding si B kan? Ketika si A selesai, mungkin si B baru menyelesaikan 70-80 atau bahkan lebih sedikit pekerjaan. Si A akan melapor lebih cepat kepada atasannya. Kalaupun, ada kesalahan, karena dia kadang-kadang membuat kesalahan. Itu akan langsung dia perbaiki dalam waktu yang cepat. Si B kalaupun bisa memberikan semua pekerjaannya secara sempurna, pasti akan membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding si A.

Faktor apa saja sih yang termasuk dalam kategori CEPAT itu?

1. Pengetahuan dan ilmu, serta pengalaman yang mencukupi. Tentunya ini adalah komponen utama yang menjadi dasar kualitas diri seseorang. Ini akan selalu berkembang, jika kita terus menerus mengembangkan diri, tidak hanya stagnan di satu titik (yang sudah kita rasa) nyaman di kehidupan kita. Tapi ini juga bisa berkurang, seiring berjalannya waktu, karena kemalasan kita, kekurangan kemauan, sehingga ilmu dan pengetahuan yang sudah ada pun malah kita lupakan begitu saja. Pengalaman sejati adalah pengalaman yang dijadikan pelajaran. Seorang karyawan bisa saja memiliki masa kerja selama dua puluh tahun, tapi pengalamannya hanya satu tahun, yang dia ulang-ulang selama dua puluh tahun. Tidak bertambah dan berkembang.

2. Kemampuan berpikir.

3. Mengambil keputusan. Pengambilan keputusan adalah integrasi dari kemampuan berpikir dan ilmu dan pengalaman. Semakin cepat dia berpikir, maka akan semakin cepat keputusan- keputusan penting yang bisa diambil.

4. Bergerak lebih cepat. Faktor ini menurut saya murni fisik. Ini hanya bisa dikembangkan juga dengan kegiatan fisik. Kita akan fokus ke tiga faktor pertama saja. Ilmu, Kemampuan berpikir cepat, dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat. Jika anda pernah membaca komik Kenji, di situ akan anda lihat bagian ketika Kenji berlatih Kung Fu. Selama berbulan- bulan gurunya hanya mengajarkan satu hal, yaitu kuda-kuda. Semakin kokoh kuda-kuda anda, akan semakin sulit untuk menjatuhkan anda. Pengalaman, ini akan sangat bergantung kepada waktu anda hidup di dunia ini. Harus ditunjang juga dengan kemampuan anda untuk menjadikan pengalaman anda.

Di dalam kualitas diri anda, ilmu, pengetahuan dan pengalaman adalah kuda-kuda anda. Untuk bisa meningkatkan hal ini, anda harus TAHU BAGAIMANA cara untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan anda. Pertama, tentunya adalah kemauan dan kesadaran untuk berubah menjadi lebih baik. Kesadaran untuk tidak berpuas diri dengan kondisi yang dirasakan nyaman, karena sewaktu-waktu itu bisa menjadi bumerang yang akan menghantam diri kita tiba-tiba. Kedua, MEMBACALAH LEBIH CEPAT (dan efektif tentunya)! Karena membaca adalah sumber utama ilmu pengetahuan kita. Membaca adalah gerbang dunia ke dalam diri kita. Mengenai membaca lebih cepat, insyaallah akan ada tulisan yang terpisah.

Sesuai judul tulisan ini, tulisan ini adalah prolog dari tulisan lain yang berjudul Mastering Speed Reading.

Kata Jim Collins, yang dikutip oleh Rhenald Kasali dalam bukunya, Change! “Good is The Enemy of The Great”. Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Orang yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah kita menghadapi ujian yang sesungguhnya di dalam kehidupan kita.

Kesimpulannya, segeralah tinggalkan dan hapus peribahasa “Biar Lambat Asal Selamat” dari kamus kehidupan anda. Segera ganti dengan “Biar Cepat Asal Selamat, dan Sukses Dunia Akhirat”.

Baca lebih cepat, pahami lebih baik, tahu lebih banyak, ilmu lebih banyak, amal lebih banyak, berbagi lebih banyak, sukses bersama! Didaytea Di tengah gurun yang tiba- tiba panas lagi, 8 Maret 2010.

Satu Dunia Tidak Cukup!

Satu Dunia Tidak Cukup!

Beberapa minggu lalu, di sebuah forum kepenulisan, ada yang menulis artikel yang berjudul “Ternyata Bahasa Inggris Itu Penting”. Hal pertama yang terbersit di pikiranku adalah: “Cappeee dehh…! Selama ini ke mana saja Kang?” Ternyata selama ini, dia sangat sibuk di “dunianya”, sampai- sampai tidak mau tahu, dan tidak mau keluar barang sebentar untuk melihat apa yang sdang terjadi dan berkembang di dunia lain.

Masih banyak orang yang masih memiliki pola pikir seperti “Katak dalam Tempurung”. Mereka merasa sudah cukup dengan keadaan keilmuan dan tingkat pengetahuan yang sama dengan beberapa tahun yang lalu, atau malah puluhan tahun yang lalu.

Mereka pikir, mereka dapat menyelesaikan masalah kehidupan di masa kini dengan cara yang sama di masa lalu. Mereka tidak mau mempelajari hal- hal yang baru, yang sebenarnya bisa menunjang mereka untuk menjadi lebih baik. Mereka tidak punya keinginan untuk lebih berkembang dan memaksimalkan potensi luar biasa yang Allah hamparkan di setiap inci dan detik kehidupannya.

Mereka hanya punya satu dunia.

Dunia berkembang luar biasa cepat. Laju informasi berlari dengan kecepatan yang bahkan kita tidak pernah bisa bayangkan sebelumnya. Dalam hitungan detik,  bahkan lebih cepat, jutaan informasi bisa berpindah dari satu belahan bumi ke belahan lainnya. Kita sudah berada di era new Renaissance kata Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mutakhirnya, Unlimited. Dunia di mana internet akan menjadi pusat dari segala pengetahuan.

Kecenderungan orang-orang di dunia ini akan berkutat pada bidang yang dia sukai, bidang tempat dia bekerja, bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Orang-orang lulusan Kimia Murni, akan sibuk dengan dunia reaksi kimia dan sintesa produk. Orang-orang yang bekerja di bidang properti, akan sibuk dengan dunianya. Orang sastra, akan selalu sibuk dengan dunia literasinya. Orang-orang pesantren akan sibuk dengan dunia pesantennya. Orang teknologi informasi, akan selalu sibuk dengan dunianya.

Hal- hal tersebut tidak salah, tetapi sangatlah tidak cukup.

Konservatif=Tertinggal

Jika konsep anda masih seperti itu, siapkanlah diri anda untuk dilibas oleh sang waktu. Bersiaplah untuk menghadapi rasa frustasi ketika anda tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang “biasanya seperti itu”. Bersiaplah tenggelam dalam persaingan yang luar biasa ketat di dunia kerja.

Masa kini, dan pasti masa depan, adalah masa di mana orang akan selalu dituntut untuk mempunyai multi tasking ability, kemampuan untuk menguasai dan melakukan banyak hal.

Kita akan selalu dituntut untuk berlari lebih cepat dari lajunya waktu. Pengetahuan kita selalu tidak akan pernah cukup untuk bisa menjalani masalah baru yang akan selalu muncul di kehidupan kita.

Di setiap tahapan baru dalam kehidupan, kita akan selalu dituntut untuk menambah kemampuan kita. Anak yang ngekos, dituntut untuk memiliki skill manajemen uang yang bagus, agar jatah uang kiriman dari orangta cukup sampai akhir bulan. Seseorang yang akan menikah dituntut untuk mempunyai pengetahuan tentang pernikahan, manajemen konflik, metode berhubungan seksual. Ketika memiliki anak, lagi, kita akan dituntut untuk memiliki kemampuan mengurus anak. Kemampuan memenej waktu, agar suami dan istri bisa istirahat dengan optimal. Yang kebanyakan terjadi adalah kelabakan, kaget, dan learning by doing, tapi without knowing. Bisa tapi terpaksa dan tergesa-gesa, sehingga tetap bermasalah. Dan banyak lagi contoh yang lainnya.

Hal pertama yang tentunya harus ada adalah keinginan dan kemauan untuk selalu belajar.

Kita sekarang berada di era new Renaissance kata Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mutakhirnya, Unlimited. Dunia di mana internet akan menjadi pusat dari segala pengetahuan. Kita sekarang berada di era Web 3.0, kata Thomas L Friedman di bukunya “The World is Flat”. Era di mana sudah tidak ada batas lagi di antara individu- individu di planet bumi.

Multi tasking ability

Apapun pekerjaan anda sekarang, apapun posisi anda sekarang, anda tetap harus mempunyai multi tasking ability.

Anda penulis? Anda harus bisa berbahasa Inggris, agar anda bisa mempunyai “bahan bakar” yang lebih banyak dan wawasan yang lebih luas untuk menunjang tulisan-tulisan anda.

Anda ustadz? Atau penceramah? Anda juga harus pandai menulis, anda juga harus lihai dalam ilmu komunikasi. Jangan sampai orang- orang akan terbengong-bengong membaca tulisan anda, atau mendengar ceramah anda, dan harus berpikir sangat keras hanya untuk sekedar mengerti apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan. Jangan sampai orang menganggap anda membosankan. Anda juga harus tahu ilmu psikologi, ilmu presentasi. Anda harus “terjun” ke dunia maya, agar lebih banyak orang untuk berbagi dengan anda. Anda harus tahu manajemen waktu.

Anda karyawan di sebuah perusahaan? Sama! Bahasa Inggris, Internet, skill komputer, Bahasa Inggris, Manajemen Waktu, kemampuan berkomunikasi dengan baik, pasti akan menjadi nilai tambah yang sangat penting di mata atasan anda.

Anda pengusaha? Siap- siap saja untuk tenggelam oleh para kompetitor baru jika anda tidak mengupdate diri anda, jika anda tidak selalu mencari informasi terbaru.

Bahkan seorang ibu rumah tangga pun, harus selalu mengupgrade pengetahuannya, bukan hanya mengupdate status di Facebook saja. Siap- siap saja untuk frustasi meghadapi suami dan anak- anak jika anda tidak bersiap dengan ilmu yang mumpuni.

Bagaimana dengan seorang Pria? Suami ? Ayah?

Dialah yang harus menjadi pusat perubahan di keluarganya. Dia yang harus selalu menjadi katalis untuk perubahan dalam keluarganya. Dia harus selalu mendukung, bekerja sama dan memberi kemudahan untuk istri dan anak- anaknya dalam mencari ilmu.

Sekarang kita berada di era Globalization 3.0, era di mana setiap individu di dunia ini bisa bersaing dan berkolaborasi tanpa batas.

Selamat berjuang untuk terus belajar di era tanpa batas ini, dan semoga bisa menjadi jalan untuk kita untuk sukses dunia akhirat.

Tiada detik yang tersia!

Tiada sukses tanpa disiplin!

Diday tea

Sabtu yang dingin di tengah gurun, 6 Maret 2010.