Bersukses- sukses Dahulu, Kini dan Kemudian

” Bahagia itu adalah ketika bisa menikmati proses dengan cara meluruskan niat dan berikhtiar secara maksimal, sukses itu adalah ketika kita bisa mencapai sukses-sukses kecil dalam perjalanan untuk mencapai sukses- sukses besar, bukan harus bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.”

 

Gabungkanlah antara tingginya mimpi dan cita-cita kita, dengan  berusaha maksimal, disertai niat yang lurus dan ikhlas, sambil menikmati suksesnya setiap langkah yang kita ambil. Nikmati juga keberhasilan kita ketika berhasil belajar dari sebuah kegagalan, karena itu adalah pertanda bahwa kita akan bisa melakukan hal yang gagal itu dengan benar dan lebih baik.

 

Beberapa tahun ini, saya sangat meminati buku-buku tentang kesuksesan dan motivasi.

 

Kita harus sukses, bahagia, dunia akherat!

Kita harus menjadi manusia luar biasa!

Kita harus menjadi manusia super!

Kita harus bebas finansial!

Dan puluhan jargon- jargon lainnya…

 

Di tulisan ini saya lebih sering memakai kita. Mohon maaf yang tidak sependapat dan tidak merasa sebagai bagian dari “kita”.

Tapi, definisi kebahagiaan dan kesuksesan itu, ternyata masih diindetikkan dengan kesenangan karena banyaknya uang, besarnya penghasilan, jumlah aset, banyaknya kendaraan. Pokoknya  bahagia dan sukses itu banyak uang, titik.

 

Tidak sepenuhnya salah sih.

 

Karena, jika kita ingin banyak beramal sholeh, salah satu cara yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk beramal,  ya dengan cara mencapai kondisi finansial yang cukup. Bagaimana kita bisa bersedekah jika kita saja masih pontang- panting dengan urusan dapur dan SPP sekolah anak kita?

 

Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa melakukan hampir segalanya.

 

Nahh… Kembali ke topik utama..

 

Masalah yang terbesar adalah ketika ternyata, setelah bertahun-tahun berusaha, kita hampir tidak merasa bahwa si parameter2 kesuksesan itu ternyata tidak pernah kita capai sepenuhnya. Selalu saja ada yang kurang.

 

Kalah kita pikir-pikir sih, di dalam setiap tahapan kehidupan kita, sesungguhnya kita tidak pernah benar- benar sukses dan bahagia.

 

Kita kilas balik saja kehidupan kita ketika masih di kelas enam es de, menjelang ujian.

Kita pasti akan berusaha keras, belajar habis-habisan, ikutan bimbel, menyewa guru privat, minum cerebrovit, mencekoki diri kita dengan susu murni bergelas- gelas, dengan tujuan, agar kita bisa sukses lulus ujian dengan nilai yang tinggi.

 

Ketika kita ternyata berhasil lulus, dengan nilai yang tinggi, apakah kita bahagia?

 

Ternyata tidak!

 

Kebahagiaan kita ternyata hanya berlangsung selama beberapa minggu, karena ternyata, kita sudah dihadapkan lagi dengan masalah baru.

 

Kita sudah berhadapan lagi dengan tantangan hidup yang baru. Kali ini tantangannya adalah: kita harus bisa menembus SMP favorit.

 

Segala strategi, daya, dan upaya dikerahkan agar kita bisa masuk ke SMP favorit tersebut. Eh, ternyata setelah masuk SMP favorit tersebut, masalah hidup bukannay berkurang, malah bertambah. Mata pelajaran baru yang lebih sulit, lingkungan baru, dan segudang persoalan lagi yang harus kita hadapi.

 

Dan paket- paket masalah dalam hidup kita ini tidak  pernah selesai, hal ini ternyata adalah Deja Vu yang terus berulang sepanjang hidup kita.

 

Tantangan hidup seperti ini akan selalu terulang di dalam setiap tahapan kehidupan kita.

 

Setiap ujian datang silih berganti.

 

Setiap tantangan selalu datang menghadang.

 

Dari SMP ke SMA, hal yang sama terulang kembali.

 

Dari SMA ke kuliah, lagi-lagi masalah yang sama.

 

Sudah lulus kuliah, harus dipusingkan lagi dengan masalah mencari pekerjaan.

 

Ketika sudah mendapat pekerjaan, masalah  mencari jodoh yang datang.

 

Ketika sudah menikah, keinginan memiliki keturunan yang baik  juga akan menjadi tantangan yang menghadang.

 

Ketika sudah punya anak, mau disekolahkan di mana?

 

Dan seterusnya sampai maut menjemput kita, ternyata hidup ini adalah perpindahan antara satu masalah kemasalah lainnya.

 

Terus, kapan kita bahagianya dong?

 

Bagi seorang muslim, kebahagiaan dan kesuksesan bukan hanya semata kesenangan karena telah mencapi hasil akhir. Kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai adalah ketika kita diridhoi oleh Allah. Jika sudah diridhoi Allah, kita pasti akan bahagia dan sukses di dunia dan akherat kelak.

 

Bagaimana caranya?

 

Menikmati proses, itu adalah kuncinya.

 

Bagaimana menikmati proses?

 

Dengan cara meluruskan niat dan memaksimalkan ikhtiar.

 

Dengan cara melakukan semua langkah kecil dalam kehidupan kita dengan benar, jauh dari cara yang tidak disukai Allah. Tidak dengan kecurangan, tidak dengan kebohongan, tidak dengan kelicikan.

 

Ketika kita bisa melalui ujian dengan jujur,tidak ,mencontek, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan.

 

Ketika kita mendapatkan jodoh kita dengan proses yang baik, itu adalah kebahagiaan dan kesuksesan kita.

 

Ketika kita bekerja,atau berusaha dengan jujur dan amanah, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, berapapun keuntungan dan penghasilan kita.

 

Ketika kita bisa mendidik anak kita dengan baik, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, walau kadang selalu ada kerikil kenakalan dan batu perlawanan yang menghalangi jalan kita.

 

Ketika kita bisa membuat orang-orang di sekitar kita nyaman dan tentram dengan kehadiran kita di dekatnya, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan tak terkira.

 

Sepertinya kita sedang menuju puncak sebuah gedung yang tidak ada liftnya, setiap langkah kecil yang sukses kita lakkan melalui satu buah anak tangga, akan mengantarkan kita lebih dekat puncak tujuan kita.
Seperti kita akan memindahkan segunung batu bata, maka yang kita lakukan pertama kali adalah memindahkan satu buah bata yang terdekat. Setiap batu bata yang berpindah, itu adalah kesuksesan kecil yang akan mengantarkan kita ke kesuksesan besar.
Perjalanan satu juta kilo meter pun akan selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

Kesuksesan akbar, bukan hanya sekedar besar, pasti adalah akumulasi dari kesuksesan- kesuksean kecil.

 

Mari kita nikmati proses!

 

(sebuah inspirasi dari salah satu kajian Al Hikam Aa Gym, dan kutipan wawancara Mario Teguh dengan Sufinews)

didaytea.com

170920111721

Doha-Ras Laffan HighWay, diiringi oleh Canon Acoustic Guitar.

 

 

 

Energi Mimpi

Energi Mimpi

Ketika sedang bermain bola di arena Pekan Olahraga Antar Kelas, walaupun kita sedang letih bukan main, tapi ketika si kecengan yang tercinta datang, tiba-tiba seperti ada energi baru yang disuntikkan ke dalam kedua kaki kita.

Kaki- kaki letih itu tiba-tiba meronta- ronta penuh energi untuk bisa mengajak pemiliknya untuk berlari secepat kilat dan sekencang angin puyuh yang sedang menerpa luasnya pesawahan.

Di bulan Ramadan, ketika lapar sudah menjadi-jadi, tiba- tiba berubah menjadi kesegaran yang entah datang dari mana, ketika melihat jam yang menunjukkan waktu buka yang tinggal lima menit lagi.

Ketika di tempat kerja kita sudah kehilangan gairah, kita bisa tiba-tiba  giat luar biasa ketika melihat kalender yang menunjukkan tanggal gajian yang tinggal 2 hari lagi.

Semangat.

Ya itu adalah semangat yang entah sumbernya dari mana.

Sesuatu yang bisa membuat keletihan menjadi energi..

Sesuatu yang bisa membuat kemalasan menjadi gairah luar biasa

Sesuatu yang bisa membuat kelemahan menjadi kekuatan super..

Semangat kadang, ehm, sering sih, datang dari cinta..

Semangat juga kadang dari materi..

Tapi hampir selalu, semangat kita datang dari mimpi..

Ya, mimpi!

Tapi mimpi yang bukan sembarang mimpi.

Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi.

Apalagi hanya sebatas mimpi basah.

Bermimpilah untuk masa depan kita.

Bermimpilah untuk diwujudkan, bukan mimpi yang hanya berupa khayalan.

Imajinasi yang membuat kita membayangkan diri kita sedang bersanding di kursi pernikahan dengan Sang Kecengan…

Imajinasi yang membayangkan bagaimana lembutnya susu murni yang melebur bersama manisnyanya sirup kurma dan renyahnya buah- buahan di dalam mahligai bernama Es Campur, meluncur perlahan meredakan keroncongannya perut kita…

Imajinasi ketika membayangkan indahnya suara mesin ATM yang sedang meluncurkan lembar- demi lembar gaji kita…

Itu semua yang memberi kita energi tambahan.

Mari kita berimajinasi dalam mimpi!

Diday Tea

130920111230

Doha, Qatar

Refleksi 10 Tahun Kelulusan

               Pagi hari di 30 Juni 2001.

Hari itu adalah hari paling campur aduk di dalam hidupku selama bersekolah di SMKN 13.

Gembira. Iya lah, karena itu hari kelulusanku.

Sedih, karena aku harus berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat selama empat tahun bersekolah. Perpisahanku dengan teman-teman dekatku bahkan diiringi isak tangis oleh beberapa teman yang menjadi secret admirerku, eh, kebalik ketang, teman- teman yanm diam-diam pernah ku secret admirer-i, hehehe…pasti yang kenal mah tahu lah. Kita sama- sama tau aja, jangan bilang- bilang ya!

Lega, eh, tunggu dulu, bukan hanya lega, tapi suueeperrrr lueggaaa! Iya lah, karena aku akhirnya lulus juga setelah lima tahun bersekolah di sana.

Lima tahun? Ya lima tahun. Karena aku pernah tinggal kelas di tahun pertama. Hampir sama lamanya dengan sekolah SD.

Dua tahun terakhir menjadi masa-masa paling berat di kehidupanku selama bersekolah.

Bukan karena beratnya pendidikan di SMKN 13, tapi beratnya beban moral yang harus kutanggung selama mengenakan seragam putih abu-abu. Ketika teman-teman seangkatanku sudah lulus dan kuliah bersemester- semester, aku masih saja setia dengan “Putih Abu-Abu”.

Ledekan dan cemoohan mah sudah tak terhitung lagi.

“Ari ente sakola di mana euy, naha teu lulus lulus?”

“Wiihh…awet ngora euy!” Pujian yang satir.

“Urang mah geus semester dua, naha ente mah masih keneh diseragam?”

Ketika di kelas tiga sih, aku masih bisa menanggapi pertanyaan- pertanyaan dan ledekan itu dengan kalimat andalanku: “Sekolahku di SMKN 13, sekolahnya empat tahun, kaya STM Pembangunan”.

Nah, ketika kelas empat yang sangat berat. Tadinya aku ingin menutupi hal yang tadinya kuanggap aib. Aku berniat untuk berangkat dengan baju bebas lalu berganti seragam di rumah temanku yang dekat dengan sekolah.

Ah, tapi setelah merenung, aku rasa tampil apa adanya lebih baik. Aku akan menghabiskan energi terlalu banyak jika ingin menutupi statusku yang pernah tidak naik kelas ini.

Dan ternyata benar saja, pertanyaan dan ledekan itu tidak bertahan lama, selesai dengan jawaban yang apa adanya: “Saya pernah tinggal kelas!”

Sampai tanggal 30 Juni itu, alhamdulillah, sekolahku lancar-lancar saja.

Dan Alhamdulillah, tinggal kelasnya aku ternyata menyimpan hikmah tersembunyi yang sangat luar biasa besar di masa depan.

Aku lulus dengan nilai rata-rata 7.55, entah ini peringkat ke berapa, tapi itu adalah hal yang sangat luar biasa di tengah persaingan yang super ketat, layaknya Petir atau Big Brother.

Tanggal 30 Juni aku memang masih siswa SMK, tapi beberapa bulan sebelumnya aku dan empat temanku sudah menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan Petrokimia di Merak, Cilegon.

Tanggal 30 Juni adalah hari Sabtu, dan hari Senin, tanggal 2 Juli 2001 satu adalah hari pertama kerjaku.

Alhamdulilah, kami berlima tidak pernah mengalami satu hari pun dengan menyandang status tidak punya pekerjaan.

Dan hikmah terbesar yang disembunyikan oleh Allah selama bertahun-tahun, ya kondisiku sekarang ini.

Kondisiku yang menjadi impian banyak orang yang belum bisa menggapainya. Bekerja di luar negeri, Allah menganugerahkan kepadaku wanita yang luar biasa dan bisa mencintaiku apa adanya, dan telah memberiku sepasang malaikat kecil yang lucu- lucu.

Aku akhirnya bisa melunasi impianku untuk membelikan rumah untuk orangtuaku.

Aku akhirnya bisa memulai kuliah lagi.

Ah, Allah mah memang Maha Adil ya!

Kitanya saja yang sok tahu tuh, sok bisa mengatur kehidupan kita sendiri. Sok tahu mana yang paling baik untuk kehidupan kita.

Dia tidak akan pernah mentakdirkan suatu keburukan untuk hamba-Nya. Tidak naik kelas yang Allah takdirkan, ternyata adalah “tiket” untuk hal-hal luar biasa yang telah kucapai, dan untuk menggapai impianku yang jauh lebih besar untuk masa depanku kelak.

Diday Tea

120720111221, Setelah sepuluh tahun lulus. J

 

Biar Cepat Asal Selamat (4): Selamat Tinggal Sholat Belang Betong


Ibadahlah untuk beryukur dan berterima kasih kepada Allah, bukan sebagai beban rutinitas belaka

Sholat Belang Betong

Belang-betong, istilah yang untuk orang yang tidak berbahasa Sunda pasti akan terasa asing dan membuat dahi sedikit berkerenyit, karena kata-kata yang terdengar sangat aneh ini.

Belang-betong, oleh orang Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidak-konsistenan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sholat, puasa, menghadiri pengajian, sekolah, apapun yang seharusnya dilakukan secara rutin, tapi tidak.

Begitu jugalah kondisiku sebelum kelas tiga di sekolah. Aku bisa dikategorikan sebagai sibelang-betong. Karena saya hanya sholat jika sempat dan bisa (dalam pengertian saya waktu itu). Kalau sempat ya sholat, tapi kalaupun terlewat yaa sudahlah, besok juga kan masih ada waktu sholatmah.

Semoga saya diampuni.

Mendaftar SSG

Aa Gym belum begitu dikenal orang pada tahun 2000. Beliau masih terkenal di kalangan terbatas saja, terutama orang Bandung.  Orang yang datang ke pengajian rutinnya-Kamis malam dan Minggu pagi-pun masih belum banyak, jamaah tidak sampai memenuhi halaman mesjid.

Ini adalah kutipan penjelasan tentang Santri Siap Guna dari website pesantren Daarut Tauhid Bandung:

“Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, pada awal pendiriannya dicetuskan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada tanggal 25 April 1999 yang pendekatan visinya lebih dititikberatkan sebagai pelayan masyarakat baik di bidang dakwah, ekonomi, maupun soslal kemasyarakatan.

Selaln itu, Santri Siap Guna juga disiapkan sebagai sarana pengkaderan dan pembinaan generasi muda mandiri yang mampu untuk menjadi motivator, stabilisator dan integrator bagi masyarakat. Santri Siap Guna Menuju Generasi Ahli Dzikir, Ahli Pikir, dan Ahli Ikhtiar.”

Ketika itu aku  masih kelas tiga, dan mulai mendengarkan ceramah- ceramah Aa Gym yang terdengar sangat “menyenangkan”, tidak penuh retorika seperti para ulama-ulama yang biasa saya dengarkan atau lihat sebelumnya.

Setelah beberapa bulan, aku pun mulai rutin mendatangi kajian di pesantren Daarut Tauhiid di Geger Kalong. Sejujurnya, itu pun karena diajak oleh teman-teman sebaya di lingkunganku  yang memang sudah lebih dahuu mengenal Aa Gym. Dan juga, ternyata ada “motivasi plus”. Kata mereka sih,cewek-cewek berjilbab yang cantik-cantik, atau kita sering menyebut mereka sebagai Akhwat-akhwat Ceria .Dasar anak sekolah!

Aku  putuskan untuk mendaftarkan diri, walaupun sih, awalnya hanya sekedar ikut-ikutan teman. Toh, pendaftarannya masih gratis, aku tidak akan merugi apa-apa selain waktu.

Kegiatan

Kegiatan selama pelatihan itu sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kurikuler di sekolah.  Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Apa Yang Paling Berkesan?

Apa sih, yang didapatkan di pelatihan SSG itu?

Aku hanya menghadiri dua bulan saja pelatihan dari empat bulan yang diajarkan.

Pelatihan ini berlangsung dua hari seminggu, dari sabtu sore sampai minggu sore. Rutinitasnya sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kulikuler di sekolah seperti Pramuka, PKS, dan PMR. Tentu saja SSG lebih lengkap, karena memberikan juga materi Team Building, Problem Solving, P3K, di samping materi standar lainnya seperti mengaji, atau kita dilibatkan sebagai sukarelawan jika ada kegiatan yang melibatkan orang banyak di pengajian.

Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling  pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Yang paling berkesan buatku sih sebenarnya bukan pelatihan-pelatihan seperti ekstrakulikuler di sekolah-sekolah.

Yang benar-benar membuat perubahan besar dalam diriku adalah sesi jeda di antara kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan.

Setiap selesai melakukan kegiatan, akan diadakan sesi “Apa Yang Paling Berkesan?”

Para peserta akan ditanya terlebih dahulu, apa hikmah apa yang bisa diambil dari kegiatan ang sudah dilakukan oleh mereka beberapa saat sebelumnya. Biasanya sih yang menjadi pemandu sesi ini adalah Abdurahman Yuri, adik Aa Gym yang akrab disapa A Deda. Ternyata dia jauh lebih humoris dibandingkan Aa Gym. Padahal, Aa Gym saja kan sudah sangat sering bercanda untuk menghilangkan jarak antara “ulama dan umat” ketika sedang berceramah. A Deda, memberikan pendekatan yang lebih “segar”,cenderung ke arah lebih humoris. Mungkin karena beliau lebih muda dari Aa Gym.

Aa Gym juga mempunyai porsi tersendiri di pelatihan SSG. Biasanya beliau yang memimpin apel pertama di Sabtu sore, dan apel penutupan di Minggu sore. Serasa mimpi, biasanya aku hanya mendengar beliau di radio, kali ini aku bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan beliau minimal dua kali seminggu.

Tidak jauh berbeda dengan A Deda, materi yang diberikan oleh Aa Gym tidak jauh dari hikmah yang kita dapatkan dari pelatihan yang sudah dilalui minggu itu.

Jika ada acara bersama A Deda, kita akan mendapat kesan seperti sedang menonton campuran antara kelompencapir dan srimulat, karena pasti selalu berlangsung ramai dengan diskusi dan acungan tangan peserta yang ingin mengungkapkan pendapatnya untuk menjawab pertanyaan “Apa Yang Paling Berkesan?”

Paradigma Baru

Paradigma baru, ini yang paling berkesan selama menjalani pelatihan SSG. Setelah beberapa pertemuan, kita sudah mulai terbiasa dengan bertanya kepada diri sendiri: “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?

Perubahan paradigma lain yang terjadi pada pikiranku adalah paradigma tentang ibadah dan tentang melakukan kebaikan.

Apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri, baik kebaikan atau pun keburukan.

Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari ternyata bisa menjadi ladang amal untuk kita, semuanya hanya masalah niat saja. Ibadah tidak sebatas hanya sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji.

Ibadah Untuk Bersyukur

Sebelum pelatihan, sholatku masih belang-betong, kadang- kadang masih bisa meninggalkan sholat dengan alasan yang tidak terlalu penting, seperti kesiangan bangun, ada tugas sekolah, atau membuat laporan praktikum.

Di pelatihan itu , aku sama sekali tidak pernah mendapat kalimat perintah: “Sholatlah kamu lima kali sehari!” Atau “Kamu harus sholat tahajud setiap hari!”. Yang ada hanya teladan dari para pelatih, santri dan ustadz yang memberi pelatihan dengan langsung memberi aksi dan mencontohkan.

Pemicu utama, ketika akhirnya aku bisa dan mau melakukansholat lima waktu tanpa merasa dipaksa, ternyata adalah isi dari salah satu ceramah Aa Gym ketika mengisi materi di SSG.

“Allah sama sekali tidak memerlukan sholat dan ibadah kita!” Ujar beliau dengan penuh semangat.

“Jika kita hanya menganggap sholat dan ibadah yang lain hanya sebatas rutinitas dan kewajiban, kita pasti akan jenuh, bosan, dan merasa terbebani ketikamelakukannya, tapi jika kita melakukan ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah, yang tidak pernah berhenti memberikan semua yang kita perlukan tanpa kita minta!” Beliau menambahkan dengan lebih berapi-api, dengan kobaran mata yang membara, layaknya api yang ikut membakar semua yang mendengar untuk segera memutuskan hari itu juga, untuk merubah paradigma.

Ya! Paradigma baru,  bahwa kita melakukan ibadah untuk menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah. Bukan sebatas rutinitas belaka.

Terlepas dari apa yang sedang dibicarakan orang tentang Aa Gym sekarang,dan aku juga tidak begitu sering lagi mendengar atau melihat ceramahnya,  tapi setidaknya aku ingat, beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mendapatkan gelar Tokoh Perubahan dari Republika.

Dan terbukti, akhirnya semenjak hari itu, aku tidak pernah berani meninggalkan sholat. Bahkan, aku jadi lebih sering sholat berjamaah di mesjid dekat rumahku.

Tahajud  pun, yang tidak pernah aku bayangkan akan kulakukan, ternyata bisa kulakukan dengan ringan, tanpa beban ngantuk, atau malas, ataupun perasaan berat.

Kuncinya hanya satu. Ya itu tadi, hanya tinggal merubah pikiran kita ke mode “bersyukur”, bukan ke mode “harus melakukan”.

Kalaupun  , setelah beberapa tahun berlalu dan ternyata aku tidak segiat dan serajin dahulu, itu adalah semata disebabkan oleh diriku sendiri.

Uang Yang Habis Untuk Kepentingan Belajar Adalah Investasi, Bukan Konsumsi

Satu lagi paradigma baru yang kudapat selama dipelatihan itu. Sebelumnya, aku masih memiliki paradigma secara umum, bahwa membeli buku adalah konsumsi, bagian dari sebuah pemborosan. Untuk beberapa kasus sih memang seperti itu, karena aku masih sekolah dan belum mempunyai penghasilan.

Cerita yang paling berkesan adalah ketika ada seorang pengusaha, dia biasa saja, tidak terlalu kaya atau pun sangat sukses. Suatu hari dia melihat iklan dari sebuah pelatihan di koran. Biaya pelatihan ini, sangat mahal, sekitar tujuh puluh lima juta. Ya! Tujuh puluh lima juta rupiah, hanya untuk training selama tiga hari.

Teman, sudara, bahkan keluarganya berpikir dia gila, sableng, sinting, ngga waras, dan sebagainya dan seterusnya, mencela dia kenapa bisa “sebodoh” itu menghabiskan uang untuk sebuah pelatihan yang hanya tiga hari.

Orang ini tetap pantang mundur dan akhirnya mengikuti pelatihan seharga tujuh puluh lima juta ini. Yang mengikuti training ini pun ternyata hanya beberapa orang. Karena mahal dan belum banyak orang yang mengerti dan tahu mengenai materi training ini.

Sepulang pelatihan, sikap mereka tetap sama.

Sampai akhirnya, dimulai beberapa minggu setelah training yang super mahal itu, orang ini tiba-tiba menerima beberapa undangan seminar dari sebuah universita ternama. Dia diundang sebagai pembicara, karena pihak universitas tersebut menerima rekomendasi dari perusahaan yang mengadakan pelatihan untuk mengundang orang ini.

Dan ternyata,   untuk berbicara satu jam saja, orang ini diberi honor setidaknya tiga puluh juta. Ya! Tiga puluh juta hanya untuk berbicara dan presentasi selama satu jam saja.

Akhirnya tidak sampai satu minggu, uang yang tujuh puluh lima juta itu telah balik modal dan sudah untung puluhan juta!

Kelak, di masa depan, kisah yang luar biasa itu akhirnya malah terjadi juga pada diriku, seperti yang kutulis di Dialog Lima Belas Juta. Terbukti bahwa uang yang dibelanjakan buku, dan “membeli” ilmu, akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar.

Bersambung…

Biar Cepat Asal Selamat (3): Quantum Learning

Bagian 3: Quantum Learning

Membaca seperti bermain ski, akan sulit mencapai tujuan dan mengalami kesulitan jika dilakukan dengan lambat

Buku Yang Aneh

Aku masih terduduk kelelahan sehabis menyelesaikan praktikum yang paling menyita waktu dan energiku, ketika dua orang  temanku duduk di sebelahku sambil berebut sebuah buku.

Selintas, aku bisa melihat judul buku tersebut: “Quantum Learning”. Learning kan artinya belajar, kalau Quantum aku sih belum begitu memahami artinya. Mendengar pun sangat jarang. Yang terlintas di dalam pikiranku ketika itu sih, serial Quantum Leap, yang menceritakan seorang laki-laki yang melompat-lompat dari kehidupan seseorang ke kehidupan orang lain, dengan menjadi orang tersebut.

“Maaf, boleh saya tahu judul bukunya?” Sapaku kepada dua gadis berjilbab yang sedang asyik berebut untuk membaca buku tersebut.

“Sepertinya buku itu sangat menarik ya, sampai kalian harus berebut untuk membacanya?” Tanyaku lagi.

Mereka langsung berhenti, seolah-olah baru menyadari bahwa ada orang di dekat mereka.

“Iya Kang, buku ini bagus banget!” Jawab salah satu dari mereka yang berusaha mempertahankan buku itu dari temannya.

“Dia curang tuh, harusnya aku dulu yang minjem buku itu!” Jawab yang satunya lagi.

Setelah beberapa saat aku perhatikan, mereka pun akhrinya terdiam, dan mengakhiri “perebutan” buku tersebut.

“Buku itu memangnya bukan milik salah satu di antara kalian?” Tanyaku keheranan.

“Bukan, Kang, ini milik teman satu kelas kami”. Jawab salah satu dari mereka.

“Boleh saya lihat sebentar bukunya?” Pintaku.

“Iya, sok, silahkan!” Katanya sambil menyodorkan tangannya yang memegang buku itu.

 

Buku itu pun berpindah tangan.

 

Judul buku itu Quantum Learning, ditulis Oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki.

Ternyata buku itu terlihat aneh. Desain sampul yang tidak umum, dan desain lay-out buku itu sangat menarik. Sangat berbeda dari buku-buku pada umumnya. Buku ini “aneh” Karena tidak melulu hanya teks, tetapi di beri ilustrasi yang sangat menarik juga. Halaman sebelah kiri selalu merupakan gambar dan tulisan yang disertai ilustrasi dengan ukuran besar-besar. Sedangkan halaman kiri adalah penjelasan dari gambar dan ilustrasi dari halaman sebelah kiri. Walaupun penuh gambar dan ilustrasi, buku ini tidak tampak seperti buku untuk anak-anak. Banyak gambar dan ilustrasi di dalam buku itu adalah diagram, tetapi disajikan layaknya komik.

 

Aku hanya membaca sekilas tulisan dari si penulis: “Jika anda hanya mempunyai sedikit waktu untuk membaca buku ini, bacalah hanya halaman sebelah kiri, halaman yang hanya berupa gambar. Mereka akan memiliki isi yang kurang lebih sama dengan halaman sebelah kanan.

 

Karena waktuku sangat sedikit, jadi aku langsung membuka daftar isinya.

 

Dan, AHA! Ada satu bab yang sangat menarik buatku. Bab tentang membaca cepat.

 

Diriku sudah hampir tenggelam ke dalam gambar-gambar dan ilustrasi yang sangat menarik di dalam buku itu ketika tiba- tiba saja aku terkaget oleh tepukan halus dipundakku.

 

“Akang! Sudah dong baca bukunya. Kita juga kan mau baca!” Ujar salah satu dari mereka.

 

“Ehh, iya, maaf, maaf, soalnya buku ini bagus banget. Isinya ngga membosankan!” Jawabku sambil mesem-mesem dan menyodorkan buku itu kembali kepada mereka.

 

Kutemukan Ilmu Baru

Seperti diinstruksikan, yang aku baca hanya halaman sebelah kiri saja. Hanya dua poin penting saja yang aku bisa ingat dari bab itu: Tentang pandangan feriferal dan analogi membaca yang diungkapkan oleh si penulis buku tersebut.

 

Pandangan Feriferal

Pandangan periferal adalah luas area yang masih terlihat jelas di sekitar titik fokus mata anda.

 

Contoh yang sangat sederhana, jika anda melihat sebuah keramaian, dan anda memfokuskan pandangan pada salah satu orang. Luas area yang masih bisa anda kenali dengan baik, tanpa harus menggerakkan leher ataupun memmindahkan fokus mata anda, itulah pandangan periferal anda.

 

Semakin luas area ini, maka semakin baguslah kualitas pandangan periferal anda.

 

Dalam konteks membaca, daripada membaca kata perkata atau bahkan huruf per huruf, ternyata ada cara sederhana untuk langsung menambah kecepatan membaca kita. Kita hanya tinggal “menjatuhkan” fokus pada titik- titik kosong di antara kata-kata. Walaupun anda tidak pernah melatihnya, minimal dua kata akan langsung terbaca.

Intisari inilah yang aku betul-betul bisa praktekkan dari buku Quantum Learning.

 

Membaca=Bermain Ski

Pernahkah anda melihat orang yang bermain ski? Setidaknya melalui televisi? Anggap saja jawaban anda semua adalah Ya!

 

Apakah ada pemaiin ski yang meluncur dengan perlahan, selangkah demi selangkah, meluncur dari puncak bukit ke dasar lembah arena ski?

 

Apakah mungkin bermain ski tetapi anda melaju pelan?

 

Bagaimana pergerakan pemain ski ketika meluncur cepat di atas salju?

 

Pertanyaan- pertanyaan itu yang diutarakan oleh si penulis di dalam salah satu halaman ilustrasi yang aku baca.

Pemain ski akan meluncur dengan sangat cepat di atas salju, dari atas bukit ke dasar lembah arena ski, dengan melakukan pergerakan yang menyerupai huruf “S” yang terpelintir. Itu adalah jawaban dari pertanyaan- pertanyaan dari si penulis.

 

Bobbi DePorter menganalogikan bahwa kegiatan membaca memiliki “sifat” yang sama dengan bermaiin ski. Jika dilakukan secara perlahan, tidak akan mampu memberikan hasil yang maksimal dan optimal.

 

Kita akan sering mentok, sehingga memerlukan energi dan waktu tambahan untuk sekedar memulai kembali “meluncur”.

 

Dengan mengintegrasikan pandangan periferal dan konsep membaca=bermain ski, akhirnya kutemukanlah skill baru, membaca cepat. Dengan ukuran kasar kecepatan membacaku sebelum mempraktekkan ilmu ini tidak jauh berbeda seperti orang lain, berada di kisaran angka 200-300 kata per menit.

 

Setelah mempraktekkannya, dalam waktu beberapa jam saja, rata- rata kecepatan membacaku sudah meningkat pesat menjadi 600-700 kata per menit!

 

Dan Alhamdulillah, proses “penginstallan” kemampuan yang berlangsung sangat singkat ini ternyata menjadi kunci utama dari perubahan-perubahan besar yang terjadi di dalam kehidupanku sampai saat buku ini ditulis.

 

Berburu Buku Quantum Learning

Aku lupa berapa harga buku itu tepatnya, yang jelas sih, pada waktu itu rasa- rasanya tidak mungkin aku bisa membeli buku semahal itu.

 

Perpustakaan Daerah Jawa Barat pun menjadi solusinya.

 

Sebelumnya aku sudah menjadi anggota, tapi yang aku baca sih paling- paling sebatas komik yang lucu-lucu dan seru-seru semacam Kenji, Doraemon, Kung Fu Boy, dan teman-temannya. Aku ingin menghilangkan kejenuhan belajar di sekolahku dengan bersantai dan membaca hal-hal yang lucu dan menyenangkan saja ketika itu. Atau meminjam buku- buku untuk bahan mengerjakan tugas dari sekolah saja. Aku tidak pernah terpikir untuk menyengajakan diri meminjam buku-buku “serius” seperti sastra novel.

 

Kali ini aku serius, ingin meminjam buku yang sebenarnya sih serius juga, walau kali ini buku ini aku bilang sih cenderung menyenangkan, karena aku langsung bisa mendapatkan kemampuan baru yang efeknya ternyata lumayan hebat.

 

Beberapa waktu setelah itu, aku baru tahu ternyata buku-buku ini dikategorikan sebagai buku- buku How-To. Buku- buku yang berisi panduan- panduan untuk melakukan hal- hal di dalam kehidupan sehari- hari manusia.

 

Kembali ke proses “perburuan” buku.

 

Banyak anggota perpustakaan daerah yang berminat untuk meminjam buku tersebut, sehingga walaupun ada beberapa buku yang disediakan, tetap saja buku itu selalu tidak ada di dalam rak kategoriHow-To. Dan ada ketentuan lain, tidak seperti buku yang lain, yang bisa diperpanjang masa peminjamannya lebih dari dua minggu, tidak dengan buku ini. Buku ini hanya boleh dipinjam satu periode, hanya dua minggu saja.

 

Setelah beberapa kali datang, dan sempat pula berebut dengan aggota yang lain, akhirnya aku pun berhasil meminjam buku tersebut.

 

Kali ini aku benar- benar memfokuskan diri untuk membaca buku ini. Aku hanya fokus pada bab Membaca Cepat.

Alhamdulillah, setelah dua minggu aku mendalami dan berlatih dengan petunjuk buku tersebut, kemampuanku meningkat semakin pesat.

Kecepatan membacaku yang tadinya 600-700 kata per menit, kini melaju semakin kenjang dengan kecepatan maksimal yang pernah kucatat adalah 1346 kata per menit!

 

Berhasil, Berhasil!

Aku memiliki kelemahan di beberapa mata pelajaran yang memerlukan pemahaman(selain Matematika dan Fisika tentunya). Kalau orang lain bisa memahami sebuah subyek dengan hanya dua kali membaca, aku harus 3 atau 4 kali membaca untuk mendapatkan pemahaman yang sama dengan mereka. Ternyata kemampuan membaca cepatku sangat membantu.

 

Nilai- nilai ujianku mulai meningkat seiring waktu aku mempraktekkan ilmu baruku untuk belajar.

Sangat wajar, karena dengan  kecepatan membacaku, aku mempunyai waktu yang lebih banyak dibanding orang lain untukku melakukan proses review dan menganalisa jawaban dari soal-soal ujian yang diberikan.

Walaupun tidak sampai menjadi bintang kelas, tapi Alhamdulillah peringkatku tidak berada di kelas “menengah ke bawah” di antara teman-teman sekelasku.

 

Kelak, kemampuan baruku ini, yang walau sampai saat ini pun belum aku kuasai sepenuhnya,-dalam pengertian aku bisa mencapai pengertian yang baik dan menyeluruh hanya dengan sekali membaca tulisan-akan menjadi penolong terbesarku ketika aku menghadapi kesulitan dan kondisi yang aku tidak akan pernah mau mengalaminya lagi.

 

 

Bersambung..

www.didaytea.com