Susah Kuadrat = Senang Pangkat Empat

“Mengingat kesulitan di masa lalu, kadang kita perlukan untuk menyadari bahwa betapa beruntungnya kita saat ini”

            Dinginnya ac di dalam bis sepanjang jalan Anyer hingga ke Cilegon langsung lenyap tak berbekas, terhapus oleh hawa lembab dan panas ketika belum sempat kaki kiriku beranjak ke luar dari bis jemputan itu.

Seperti biasanya, hawa dan lembab dan panas ini memang tipikal suhu dan kondisi udara sehari- hari di Cilegon dan daerah- daerah lainnya yang dekat dengan pantai dan daeran industri.

Dari Ramayana Cilegon, aku harus naik angkot lagi ke rumah kontrakanku.

Di dalam angkot, hawa panas dan lembab itu lumayan berkurang karena kuatnya AG (angin gelebug=angin besar) dari pintu dan jendela angkot yang terbuka lebar, membelai deras wajahku dengan debu yang terbawa dari jalanan, disertai wanginya harum bensin dan solar yang beriringan, serta mengibar-ngibarkan rambutku yang kala itu bergaya persis seperti Andy Lau: cepak dalem dan belah tengah…hehehe.

Tak sampai lima belas menit, angkot berwarna ungu itu pun kuhentikan dengan satu kata sakti jurus andalan para penumpang angkot: “Kiri…!”

Dari situ rumah kontrakanku masih lumayan jauh, kira- kira tiga ratus meter.

Berhubung hari itu tanggal dua puluh, jadi langkah kakiku agak sedikit lemah. Jauh berbeda dibandingkan langkah kakiku ketika tanggal dua puluh enam, ketika uang gaji masih utuh, hehehe..Jadi setelah hampir sepuluh menit baru aku tiba di depan rumah tipe dua satu bercat serba abu- abu yang kukontrak dua ratus lima puluh ribu per bulan sejak dua tahun yang lalu itu.

Tadinya sih aku ingin mampir dulu ke warteg untuk membeli makan, tapi apa daya, karena sindrom tanggal dua puluh sudah sedikit parah, jadi uang di dompetku hanya tinggal dua ribu rupiah, dan itu pun habis untuk membayar ongkos angkot.

Hawa lembab dan panas itu ternyata belum hilang saja, ya karena memang tidak mungkin hilang, secara, di rumahku memang tidak ada ac. Ketika masuk rumah, bukannya hawa dingin yang kunikmati, malah hawa panas yang lebih menyengat keluar dari dalam rumah ketika kubuka pintu.

Langsung kelemparkan tubuhku ke atas kasur Palembang di dalam  kamar. Aku ingin melepas lelah dan penat ini sejenak. Panas dan lembab aku lawan dengan menyalakan sebuah kipas angin, yang selalu menciptakan dilema di dalam hidupku. Jika dinyalakan, aku selalu masuk angin, tapi jika dimatikan aku tidak bisa menahan gerahnya efek panas dan lembab itu.

Tak sampai lima belas menit dan selepas adzan Magrib, aku beranjak untuk sholat dan berwudhu dengan air yang tersisa di bak mandi.

Bulan- bulan itu memang masa- masa tersulit dalam hidupku. Bagaimana tidak, saat itu aku harus mencari- cari uang yang tersisa. Aku merogohi satu- satu saku celana dan bajuku yang sudah kotor. Tapi belum kutemukan juga uang lima ribuan, sepuluh ribuan, atau bahkan sekedar ribuan yang terkumpul dan nyempil di dalam saku.

“Gawat, bisa ngga makan nih malam ini!” Aku mulai panik. Dan perutku pun ikut panik dengan mengeluarkan sekilas bunyi musik keroncong, seolah mengiyakan.

Ketika sedang asyik mengumpulkan baju kotor dan merogoh- rogoh saku- sakunya, tiba- tiba di luar terdengar suara petir yang luar biasa kencang.

“Jelegeeerr….!!!” Dor dar gelap, kalau kata orang Sunda. Suara petir itu sontak membuat aku terkaget- kaget sampai hampir terloncat dari dudukku.

Hujan yang sangat deras turun tiba- tiba tanpa disertai gerimis. Mungkin ini yang namanya hujan bandang, hehehe.

Tapi tak kuhiraukan suara hujan itu, aku langsung fokus lagi untuk mencari uang yang tersisa untuk membeli makan malam. Hujan masih bisa ditanggulangi, tapi lapar? Masih bisa juga sih, tapi perutku sudah keroncongan, dan tadi siang di tempat kerja sibuk luar biasa. Aku harus makan segera.

Eh, tidak lama kemudian, PET, listrik mati.

Gelap gulita lah kamarku seketika.

“Waduh! Gimana mau nyari duit, gimana mau makan? Cemilan pun sudah habis? Aku langsung mengutuk diri sendiri, kenapa tadi pake tiduran segala, bukannya langsung mencari uang. Kucek pulsa di hapeku pun sudah kosong total.

Aku pun langsung terduduk pasrah. Ya, ngga pasrah gimana, lha wong kamarku gelap gulita. Tangan sendiri pun tidak bisa kulihat.

Sambil duduk, aku masih berpikir positif, mungkin hujan ini bakal cuma sebentar. Walau pun ada sisi lain dari diriku yang berpikir lebih logis, bahwa hujan seperti ini biasanya lama.

Dan benar saja, ternyata sampai beberapa jam, ternyata hujan itu belum berhenti. Posisi tidurku mulai menggelosor menjadi setengah tidur dan akhirnya aku pun terlentang tanpa tertidur dalam kegelapan.

Penderitaanku malam itu makin lengkap ketika tiba- tiba aku merasa sesuatu yang dingin mengalir di punggungku.

Ya Allah, banjir! Lengkap lah sudah penderitaanku saat itu. Kebanjiran dan kelaparan di tengah kegelapan.

Eh, ternyata belum lengkap, ada satu lagi yang melengkapi kejadian malam itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuit yang lumayan kencang dari arah dapur. Aku pun mulai panik karena aku yakin itu adalah suara wirog (wirog=tikus got yang besar). Kalau aku digigit bisa kena penyakit pes nih.

Aku tutup pintu kamar dan kubendung banjir sebisanya dengan apa pun yang ada di dekatku, walau pun tidak terlihat. Kupaksakan diriku untuk berbaring dekat jendela dan kubuka gorden lebar- lebar agar setidaknya ada cahaya yang masuk, walau pun hanya kelebatan petir.

Sejujurnya pada saat itu aku ingin menangis dan meratap. “Ya Allah, kenapa lengkap sekali kau beri aku penderitaan kali ini? Dosa apa aku?” Kataku dalam hati.

Setelah itu aku langsung minta ampun, karena kupikir pasti ada hikmahnya dibalik penderitaan luar biasa, ah, sebenarnya sih tidak begitu luar biasa, hanya lumayan lengkap saja dan sangat menyedihkan. Hehehe..

Karena tidak kuat menahan lapar, dan keletihan, tidak terasa aku pun tertidur.

Ketika terbangun oleh suara adzan subuh, ternyata listrik sudah menyala kembali dan banjir pun sudah surut, walau pun menyisakan lumpur tebal yang menumpuk di depan pintu kamar.

Kupejamkan mata ini setelah membayangkan salah satu momen paling sulit dan menyedihkan dalam hidupku itu.

Ketika kubuka kembali kedua kelopak mataku pelan- pelan, kulihat ada sepasang anak kecil yang luar biasa lucu sedang tertidur pulas di kursi belakang dan seorang wanita cantik di antara mereka sedang tersenyum manis penuh cinta, dia sedang memegang sesendok nasi goreng yang aromanya luar biasa segar, sambil berkata: “Sayang, kenapa ngelamun? Ayo berangkat? Makannya sambil nyetir aja ya?”

Alhamdulillah, Maha Suci Engkau Ya Allah, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi, engkau telah cabut aku dari kesulitan hidup semacam itu dan kau beri aku kenikmatan dunia yang luar biasa besar.

Divana Divana

Divana Divana


Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu.

 

               Di dalam rentang waktu antara semasa diriku masih bersekolah di TK, sampai kira- kira kelas lima SD, hampir setiap tahun aku dirawat di rumah sakit. Kalau ngga gejala demam berdarah, ya gejala tipes. Biasanya sakitku muncul di antara pergantian musim.


               Masih terbayang diriku memakai kemeja kotak-kotak hijau putih dan celana hijau yang sedang ngarengkol di sudut ranjang khusus untuk anak kecil itu.


               Karena ibuku seorang perawat di rumah sakit itu, jadi dia tidak bisa selalu menjagaku selama dirawat. Jadi dia membekali aku dengan sebuah radio kecil.


               Tadinya sih tidak pernah kulirik sedikit pun si radio kecil ini. Boro- boro mau mendengar radio, yang ada pusing dan mual serta badan ini serasa remek karena demam tinggi yang hinggap di badanku sudah hampir mencapai empat puluh derajat celsius.


               Tapi, setelah sayup- sayup suara adzan Isya dari seberang rumah sakit sudah berlalu, kesepian pun mulai datang. Tidak ada perawat yang stand by di ruangan pasien. Hanya ada aku sendiri di dalam bunker bed di  kamar kecil khusus untuk anak- anak itu. Yang terdengar pun hanya suara jangkrik di tengah tebalnya kesunyian yang melandaku kala itu.


               Aku pun tidak tahan dan akhirnya kugapai radio yang masih teronggok di atas lemari kecil di samping ranjang besi tempat teronggoknya diriku juga.


               “Brrrrzzzzzzzzzzzzzzzz…………..”. Awalnya hanya suara gemerisik radio yang tiba- tiba membuat kamarku sedikit berisik. Kukecilkan volume radio itu sedikit dan kuputar gelombang radio.


               Tak lama kemudian, akhirnya kutemukan saluran yang terdengar sangat jelas.


               “Masih bersama saya, mister X di radio RX bandung, langsung saja kita putarkan lagu request dari Akang X juga, lagu romantis dari Kumar Sanu dan Kavita: Divana- divana…!” Suara lembut penyiar radio itu langsung seketika mengenyahkan kesepian itu dari kamar sempitku.


               “Divana- divaana, metera diivaana, tumera jaaneja, apkahi cunemi…” Hanya itu saja lirik yang kuhafal. Ternyata radio itu sedang memutar acara khusus request, seperti acara AMKMnya Sonora FM. Tapi  khusus lagu India saja.


               Tadinya sih mau langsung kupindahkan saja saluran itu, lebih baik ku pindah ke Radio Paramuda, Ardan, atau OZ yang memutar lagu yang lebih “jelas”.


               Entah kenapa, tiba-tiba kuurungkan niatku dan kusimpan kembali tanganku yang sudah terulur ke arah radio itu.


               Karena dingin akhirnya kutarik saja selimut ke atas tubuhku dan kuraih radio itu dan kusimpan di dekat kepalaku. Posisi ngarengkol seperi bayi, memeluk guling dan menghadap ke kanan adalah posisi tidur paling nyaman untukku ketika itu. Kucoba dengarkan lagu itu beberapa saat, dan entah kenapa lagi, lagu itu terdengar sangat adem di telinga dan nyaman di hati.


               Anak seumuranku di kala itu tentu saja belum mengenal apa namanya cinta. Walau pun tentu saja harus aku akui bahwa aku menyukai si teteh tetanggaku yang sering berangkat sekolah bareng itu…hehehe….Itu hanya cinta babon, belum mencapai tahapan cinta monyet sekali pun.


               Tapi semenjak itu dan sepanjang  delapan hari aku di rawat, setiap selepas magrib aku sudah “tetap stay tune” di radio itu. Hanya untuk menunggu lagu Divana- divana itu diputar. O iya, Divana itu artinya kekasihku.


               Dan benar saja, lagu itu memang favorit semua pendengar dan sedang merajai tangga lagu India di radio itu. Hampir semua perawat meledekku: “Anak kecil kok suka lagu India sih?” Tanya mereka dengan heran.

               “Wios weh da enakeun (biarin, lagunya enak kok!)” Jawabku dengan cueuk sambil kembali ngarengkol di ujung kasur besi itu.


               “Infeksi” ini akhirnya berlanjut selama beberapa minggu, hampir setiap magrib aku tunggu lagu itu untuk diputar. Dan bahkan kadang ada acara khusus menjelang tengah malam untuk memutar lagu- lagi India favorit pendengar. Hanya lagu itu saja yang bisa merasukiku sampai tahap seperti ituampai lagu itu sama sekali hilang, dan terhapus oleh kesibukanku bersekolah. Orangtuaku tidak bisa melarang dan juga tidak marah, mereka juga cuek. Kadang Divana- divana ini bersahut-sahutan dengan lagu2 Panbers favorit Bapak dan Ibuku.


               Tak pernah kubayangkan ketika suatu hari kelak aku akan tinggal di negara yang diihuni ribuan, puluhan ribu, eh, bahkan ratusan ribu orang India.


               Ya, kini aku di sini, sebuah negara timur tengah yang mayoritas penghuninya adalah orang India.


               Tapi sayang sekali,walau pun di kantin hampir setiap hari diputar lagu India, sampai sekarang diriku belum terkontaminasi lagi oleh lagu India semacam Divana- Divana itu.


               Dan ketika kucoba cari lagu itu di youtube, ternyata lagu itu tidak terdengar seenak dulu lagi. Sekarang aku malah merasa agak risih. Hanya senyumku dan tawa renyah istriku yang timbul ketika kuingat bahwa aku pernah tidur berbulan-bulan dengan lagu itu. Ngefans abis- abisan.


               Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu. Kalau tidak berubah sendiri, ya kita akan berubah dan dibentuk oleh lingkungan sekitar kita.


               Jangan takut untuk menerima perubahan-selama itu positif-dan memulai perubahan di dalam diri, keluarga, dan bahkan kehidupan kita. Karena seringkali perubahan kecil akan membuat kita terbang tinggi ke arah yang lebih baik.

               Dijamin!


http://www.didaytea.com 

Belajar Memaksa Diri

“Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia”

 

                “Kriiinnngg…!!!” Suara melengking tinggi seperti ribuan gelas yang dipecahkan bersama- sama memasuki telinga seperti tusukan tombak yang tembus ke dalam otak. Sakit.

                Hampir saja kulempar weker itu jauh- jauh kalau tidak ingat harganya lumayan mahal. Hehehe…

                Ah, ternyata baru setengah empat. Sengaja kubuat alarm berbunyi jam segitu, niatnya sih ingin sholat malam dulu sebelum sholat subuh ke mesjid.

                Tetapi pada akhirnya alarm mah alarm, tapi yang bangun hanya tanganku saja. Itu pun sekedar mematikan lengkingan super berisik si weker merah kesayanganku itu. Pada akhirnya, sholat malam engga, dan sholat subuh boro- boro bisa ke mesjid. Yang ada malah kesiangan. Dan kadang bablas sampai hampir mepet matahari terbit.

                Apakah ada yang memiliki pengalaman yang sama?

                Mungkin tidak ya? Tidak jauh beda maksudnya kan? 😀

                Begitulah yang terjadi, menjadi rutinitas harian saya. Boro- boro sholat malam atau bisa sholat subuh ke mesjid. Sholat subuh saja kadang masih bisa telat.

                Walaupun tidak sama persis, tapi tahapan- tahapan monolog seperti ini pasti akan kita lalui:

                “Jam berapa sekarang?” Kita pasti langsung terduduk atau masih berbaring tapi dengan mata yang setengah terbuka karena tertutup pulau di ujung mata. Kalau dalam bahasa Prancis, biasanya pulau ini disebut sebagai C’hileuh.

                “Hari apa ya sekarang?” Mulai deh garuk- garuk kepala walau pun tidak gatal.

                “Siapa sih yang nyalain alarm jam segini?” (padahal kita sendiri tuh yang nyalaain, hehehe)

                “Oh alarm ini, tahajud tea geningan yah?” Pada tahap ini mulai sedikit sadar nih. Sampai tiba-tiba:

                “Ah, masih setengah empat ini lah, subuh kan jam lima kurang seperempat, lebih dari sejam” Pertanda buruk pun mulai muncul. 😀

                Dengan diikuti bunyi yang sangat legendaris:

                “ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……………….” Kita pun sukses tidur lagi dan dialog selanjutnya (setelah bangun yang kedua) mungkin kita yang marah- marah kepada diri sendiri, atau bahkan istri kita.

Menyalahkan, kenapa kita tidak dibangunkan.

Sok lihatin geura, berapa kali kita kalah?

                Bukan satu, bukan dua, tapi lima kali kita menyerah di dalam pertarungan terbesar dalam diri seorang manusia.

Baik vs Jahat.

Malas vs Rajin.

Bangun vs Tidur.

Kasur vs Sajadah.

Alhamdulillah, akan tetapi hal itu tidak terjadi lagi sodara- sodaraku yang tercinta!

Setelah melalui tahapan perenungan, pencarian, investigasi dan observasi yang menyeluruh dan berkesinambungan serta super komprehensip, eh, komprehensif, akhirnya saya temukan siasat terbaik untuk bisa melawan lambaian selimut dan panggilan tempat tidur empuk yang bselama bertahun- tahun membuat saya jadi manusia pemalas.

Beberapa minggu ini Alhamdulillah saya akhirnya menemukan jurus paling ampuh untuk bisa bangun tidur, dan tentunya terbukti ampuh untuk diri saya juga. J Sebab tidak mungkin saya membuat tulisan ini kalau diri saya masih belekok, dan tidak mengalami dan melakukan apa yang saya tulis. Semoga ampuh juga buat yang membaca.

                Ternyata nih, penyebab utama kemalasan diri untuk bisa bangun adalah hal yang sangat sederhana sekali.  Kita malas bangun, atau bahkan tidak bisa bangun karena kita sering, bahkan selalu memberi kesempatan kedua kepada diri kita untuk berpikir setelah kita terbangun.

Jurusnya cuma satu:  Hudang Harita Keneh! Eh, maaf, channelnya berpindah lagi ke bahasa Sunda.

Bangun Saat Itu Juga!

                Ya, begitu anda terbangun karena alarm atau dibangunkan oleh istri, jangan beri waktu otak untuk berpikir. Jangan beri kesempatan sisi malas anda untuk menguasai diri anda. Lempar diri anda keluar dari tempat tidur.

                Tinggalkan tempat tidur, dan langsung ke kamar mandi, siram muka anda dengan air dingin. Ketika muka sudah terbasuh dengan air wudhu, dan nyawa anda sudah terkumpul semua itulah saatnya anda berpikir. Hehehe..

                Kalau pun anda ternyata masih ngotot ingin tidur lagi, insyaallah tidak akan bisa, kecuali  anda memang super kebluk dan bersahabat erat dengan Raja Penidur, tokoh terhebat dunia persilatan di novel karya Bastian Tito: Wiro Sableng. 😀

                Sok atuh, masa masih kalah sama selimut dan kasur?

                Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia.

                Dan pastinya akan ada “efek samping” yang lainnya.

                If you managed to do that, eh, kenapa pindah channel lagi ini teh? Maaf. Jika anda berhasil memaksa diri anda untuk mendobrak kemalasan ini, insyaallah anda pasti akan bisa rutin sholat subuh ke mesjid setiap hari.

                Dan insyaallah pasti itu juga akan berakibat anda bisa sholat sunat dua rakaat sebelum subuh, yang “lebih baik dari dunia dan seisinya” kan?

Pada akhirnya saya tetap saja hanya seorang manusia tempatnya salah dan khilaf, yang kadang akhirnya masih juga terlalu lemah untuk mengalahkan kemalasan. Sehingga satu atau dua kali masih bisa terlambat.

                Buat diri saya, untuk bisa menemukan penyebab utama seperti ini sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Ya seperti di tulisan Dobrak Diri, saya akhirnya bisa mendobrak diri saya untuk bisa sholat malam, walau pun hanya dua rakaat+satu rakaat witir, atau bahkan hanya sholat witir saja.

Lagi- lagi pencapaian ini membuat diri saya memiliki motivasi lebih dalam hidup. Lebih segar dan lebih tenang menjalani hari. Masalah- masalah besar menjadi ringan.

Tidak ada yang susah lah di dunia ini mah, mau urusan ibadah, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, dan urusan- urusan lain yang biasanya membikin kita pusing tujuh keliling.

                Bukankah kemalasan itu salah satu sumber malapetaka dan kemiskinan hidup?

                Mari memaksa diri!

 

www.didaytea.com       

271111

               

Dobrak Diri

Dobrak Diri

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah

Challenge yourself, and lt your life will be full of passion to let you live better here and after” (Diday Tea)

Ketika saya sedang berkonsentrasi penuh untuk melatih intuisi dan ketajaman mata , serta ketelitian dan ketepatan berpikir dengan bermain Angry Birds, tiba- tiba hape Blueberryku (bukan Blackberry) tiba- tiba meraung- raung. Di seberang telepon sana, ternyata salah seorang teman kerja saya meminta tolong untuk memperbaiki laptopnya yang kena virus. Saya kaget lah, tiada angin badai atau hujan apalagi awan mendung yang lewat di depan rumah saya, kenapa tiba- tiba ada orang yang merekomendasikan saya sebagai seorang ahli IT yang bisa memperbaiki semua masalah software di komputer merek apa pun.

Tadinya sih mau saya tolak dan “mengorbankan” teman saya yang saya yakini lebih mumpuni di bidang perkomputeran. Permintaan tolong itu akan saya tolak saja, dengan alasan saya tidak tahu menahu masalah software. Eh, setelah saya pikir ulang,  ternyata ini adalah tantangan baru! Apa salahnya sih kalau dicoba dulu, kan mas Google selalu ada di depan saya setiap saat? Kalau pun ngga bisa ya, kembalikan saja laptop itu. Gitu aja kok repot yah?

Laptop teman saya itu memang berada di dalam masalah besar. Laptop itu sama sekali tidak bisa bertelur, eh, itu mah hayam ya? Maaf, tiba- tiba kepikiran Angry Bird yang egg thrower, hehehe…

Laptop teman saya itu tidak bisa mengeksekusi program apa pun. Bahkan system restore pun tidak bisa.

Berdasarkan pengalaman laptop saya yang pernah mengalami hal yang kurang lebih sama.  Saya coba cari di menu facory reset. Alhamdulillah, ternyata ketemu dan bisa! Laptop itu saya factory reset saja dan tidak lebih dari 20 menit, seresettt…Semua beres, dan laptop itu kembali seperti baru.

Buat saya, kejadian ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Pencapaian yang meningkatkan percaya diri di dalam diri saya berkali- kali  lipat. Karena ini membuat saya berkata kepada diri saya: “Ternyata saya bisa ya?” “Ternyata mudah ya?” “Ternyata gitu doang lah!”

Saya bisa melakukan hal yang tadinya saya pun tidak yakin apakahbisa melakukannya atau tidak.

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah.

Masalahnya sederhana saja, hanya sekedar mau atau tidak mau. Lain tidak.

Jika anda mau dan kalau pun tidak berhasil, anda sudah mendapat pengalaman baru untuk tidak berhasil.

Anda selangkah lebih maju dibanding orang yang jarang mau menerima tantangan atau membuat tantangan dalam hidupnya.

Apakah anda sekarang hidup dengan nyaman? Bangun tidur, sholat, sarapan berangkat kerja, pulang, jalan- jalan ke taman atau mall dengan keluarga tercinta.

Jika anda nyaman sih silahkan saja, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi percayalah, anda akan merasa lebih cepat tua, hehehe…

Untuk saya, ketika hidup hanya sebatas menjalani rutinitas seperti itu, saya akan merasa seperti Angry Bird di dalam sangkar. Ada perasaan kurang nyaman ketika kejenuhan rutinitas mulai hinggap di atas pikiran kita. Hidup terasa kurang berwarna.

Walau pun tidak sering, tapi saya sering memberikan tantangan untuk diri saya. Hal yang menantang tidak harus selalu sulit. Contohnya menantang diri untuk bisa sholat dhuha dua rakaat setiap hari. Atau merutinkan sholat malam,walaupun hanya satu rakaat witir. Atau memaksa diri untuk bisa mengaji Al Qurán satu ayat setiap hari.

Atau bisa juga berupa tantangan fisik. Saya menantang diri saya untuk bisa berlari terus- terusan selama 30 menit di atas treadmill dengan kecepatan 10km/jam (kalau yang ini masih belum kuat..hehehe). Atau memaksakan diri untuk rutin bermain sepakbola setiap minggu. Atau hal kecil seperti menantang diri untuk push up 10 kali dan sit up 10 kali setiap bangun tidur.

Atau kadang saya mencari tips dan trik untuk mengedit foto di Youtube, dan mencoba praktek sendiri. Lalu saya posting di Facebook untuk melihat bagaimana tanggapan teman- teman saya.

Dan tantangan- tantangan kecil ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Karena saya belum bisa istiqomah terus- terusan melakukan tantangan- tantangan itu. Kecil atau besar pasti akan selalu sulit. Sulit tapi bisa. Bisa asal mau!

Tuh kan, ujung- ujungnya mah, asal kita mau, pasti kita akan bisa melakukan hal- hal yang sulit sekalipun.

Ketika kita sudah bisa dan berani menantang diri untuk mencapai sesuatu, itu pun sudah sangat bernilai. Itu artinya kita sudah berhasil mendobrak kemalasan di dalam diri.

Setiap pencapaian setelah memenuhi tantangan akan menimbulkan ledakan motivasi dan percaya diri yang luar biasa dari dalam diri kita.

Bukankah malas adalah salah satu musuh terbesar di dalam hidup kita?

Ayo dobrak diri!

Didaytea

21112011

Doha, Qatar

 

Bekerja di Luar Negeri: Pecundang atau Pemenang?

 “Do What You Love, and Love What You Do!”

 (Penyiar Sebuah Stasiun Radio di Bandung)

 

Pernahkan anda menyesal telah memilih sesuatu?

Saya rasa kita semua pernah mengalami penyesalan dan menyesali sesuatu. Atau menyesali pilihan yang sudah kita ambil.

Menyesal karena salah memilih pekerjaan.

Menyesal karena salah memilih sekolahan.

 

Menyesal karena salah memilih kendaraan.

Menyesal karena salah memilih karyawan.

Menyesal karena telah salah memilih rumah, atau secara global, karena salah memilih langkah hidup.

Bahkan, mungkin ada yang sampai menyesal, karena telah salah memilih pasangan hidup.

 

Sama sekali tidak salah sih, karena itu wajar dan sangat manusiawi. Akan tetapi wajar hanya untuk kesan pertama saja, dan jika tidak sampai terlarut dengan penyesalan yang sangat dramatis sehingga mengganggu pikiran kita.

 

Jika sampai terlarut, biasanya sih akan membuat kinerja kita sebagai manusia yang berhubungan dengan hal yang kita sesali tersebut akan menjadi buruk.

 

Kinerja kita di tempat kerja, sekolah akan asal- asalan. Asal dapet gaji, asal lulus. Kita akan menjalani hidup yang membosankan dan tanpa tantangan. Karena kita menganggap sudah tidak ada nilai tambah lagi yang bisa kita dapatkan.

Kita akan memperlakukan pilihan yang kita sesali ini dengan sangat buruk.

 

Kalau kata orang Prancis bilang, eh, orang Sunda bilang, “Nya dipoyok,nya dilebok”, Artinya kurang lebih: “Ya diejek, tapi tetep dimakan juga”. Selalu mengeluhkan kondisi (yang dianggap) buruk yang dialami walau pun itu terjadi semata- mata karena pilihannya sendiri.

 

 

Ada yang merasa pindah ke luar negeri ini sebagai pecundang, orang buangan, orang yang gagal, orang yang kalah bersaing dengan tenaga kerja di dalam negeri, sehingga ada semacam “have-to” atau keterpaksaan selama bekerja di luar negeri. Tidak salah sih, karena memang banyak yang seperti itu. Akan menjadi salah jika keterpaksaan itu membuat kita tidak bekerja dengan baik, dan tidak membuat kita manusia yang lebih baik.

 

 

Tetapi, ada juga yang menjadikan kerja di luar negeri sebagai sebuah impian besar, dengan iming-iming gaji puluhan kali lipat dan puluhan kemudahan dan hal- hal yang belum tentu bisa didapat di tanah air. Rumah,mobil, modal usaha, hutang dengan bunga kecil, haji lebih mudah, umroh bisa dua kali setahun, bisa beramal lebih banyak, dll.

 

Adalah sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa ketika berhasil mengeliminasi puluhan, ratusan, bahkan ribuan saingan dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan sebuah status sosial baru: “Bekerja di Luar Negeri”.

 

 

Untuk kondisi pertama, tidak ada pilihan lain lagi untuk kita untuk menikmati saja apa- pun yang kita alami sekarang. Karena itu adalah pilihan kita, walaupun sekedar terpaksa. Setidaknya kita bisa menjalani dengan wajar, dan perlahan- lahan mulai menghilangkan penyesalan yang mungkin masih tersisa di dalam hati dan pikiran.

 

Untuk kondisi yang kedua, sih saya rasa tidak akan ada isu yang negatif dengan masalah, karena ya itu memang impian mereka. Mereka adalah juara dari kompetisi yang super ketat untuk bisa menyisihkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang melamar kerja ke luar negeri. Mereka adalah pemenang.

 

Sejujurnya, pada awalnya saya terpaksa harus memilih untuk ke luar negeri, saya sudah tidak punya pilihan lain lagi untuk bisa survive secara finansial. Saya sama sekali tidak berminat untuk bekerja di luar negeri,karena sering mendengar cerita tidak enak. Saya terpaksa harus mengambil resiko untuk pulang dengan status pengangguran jika gagal di tes kesehatan tahap ke dua. Karena ketika itu saya langsung resign dari perusahaan yang lama, bukan mengambil cuti.

 

Tapi pada pada akhirnya, saya merasa sungguh beruntung karena telah ditakdirkan untuk bisa bekerja di luar negeri seperti sekarang. Sehingga saya bisa meraih banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya mimpikan. Saya bisa menjadi jalan untuk membantu banyak orang di sekitar saya.

 

Kembali ke masalah pilih memilih, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, hidup kita ini kan selalu dihadapkan pada pilihan- pilihan. Bangun atau tidak, mandi atau tidak, sarapan atau tidak, mau pake baju yang mana, celana yang mana, naik mobil atau jalan kaki, sarapan nasi atau roti, minumnya susu atau air putih. Hampir setiap langkah kehidupan kita adalah piilihan- pilihan.

 

Kalau misalnya anda ternyata merasa salah memilih jalan hidup, yaa tinggal memilih lagi jalan lain. Kalau pun belum ada jalan lain, ya kita tinggal menyesuaikan diri kita dengan jalan yang kita pilih. Coba untuk menikmati, atau setidaknya memproduksi hormon kenyamanan dalam melakukan peran yang kita jalani sekarang.

 

Selama membuat kita mendekat ke arah kebaikan, sekarang dan nanti, bekerja dan tinggal di mana pun akan selalu menjadi pilihan yang baik.

 

Kata penyiar salah satu stasiun radio di Bandung sih: “Do What You Love, and Love What You Do!”

 

 

didaytea.com

021020111109