Merantau Itu Indah


“Hidup merantau akan sangat menyenangkan jika kita bisa membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas kita”

“Om, kata Papah nanti malem gabung ya, ikutan nonton bareng sama penduduk gang Mangga, sekarang kan final!” Ajak seorang gadis belia  yang sudah beranjak remaja sambil ikut melangkahkan tubuh semampainya disampingku.

“Insyaallah ya, Om masih cape nih, tadi abis lembur langsung lanjut kuliah!” Jawabku sambil melangkah sedikit gontai, karena hari itu sangat melelahkan.

“Ohhh..gitu. Ya udah, Neng bilang deh nanti sama Papah. Om istirahat dulu aja, biar nanti malam bisa gabung. Daahhh…!” Gadis anak tetanggaku itu melambaikan jemari lentiknya sambil berlari membawa tikar dan sebuah termos.

Akhirnya hanya sebentar kutengok acara nonton bareng itu, karena mata ini sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Aku pamit pulang kepada semuanya, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ah, bagiku sudah cukup, asal sudah menampakkan diri saja di depan penduduk gang Mangga, sebutan untuk gang tempat tinggalku di komplek perumahan itu.

Ketika sampai di rumah, ternyata rasa kantuk itu malah hilang lenyap tak berbekas.

Ketika riuh rendahnya teriakan histeris dan sorak sorai tetangga- tetanggaku membahana dan bergema sampai ke pintu kamarku, aku hanya teronggok pasrah dan kelelahan di atas sehelai kasur Palembang tipis berwarna biru seharga dua ratus ribu itu.

Ketika teriakan kecewa pendukung Perancis bergema lagi di pintu kamarku karena Italia berhasil menyamakan kedudukan, aku hanya bisa terkaget- kaget dan memandangi screensaver layar monitor CRT 14 inciku dengan tatapan kosong.

Ketika teriakan mereka menderu semakin kencang, karena ternyata pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti, aku hanya terduduk dan mengintip dari balik jendela kamarku yang malam itu terasa gerah luar biasa. Kulihat belasan keluarga berkumpul dan berteriak- teriak histeris karena tegangnya adu pinalti yang akhirnya dimenangi negeri para Gladiator.

Aku tak bisa keluar rumah dan bergabung dengan mereka, karena besok aku sudah harus bekerja lagi. Aku harus memanggil rasa kantukku lagi agar bisa tidur secepatnya.

Ketika sedang melamun dan setengah tidur, tiba tiba ada yang membunyikan pagar depan rumahku. Ternyata si Neng itu lagi.

“Om, ini buat Om!” Katanya sambil menyodorkan baki berisi gorengan, dadar gulung dan segelas teh  manis yang masih mengepulkan asap.

“Waahh…Makasih banyak ya!” Aku ambil saja cemilan dan gelas teh manis itu. Kukembalikan baki itu.

“Italia yang menang Om, adu pinalti loh!” Kata si Neng dengan semangat. Padahal dia juga harus sekolah, tapi aku heran,kuat juga dia begadang sampai hampir subuh.

“Oya, waah..berarti tim jagoan Om menang dong?” Jawabku dengan antusias.

“Iya tuh Om, Italia memang hebat, ada Del Pieeero sih!” Si Neng menjawab lagi dengan suaranya yang sedikit melengking.

“Ya udah deh, met istirahat ya Om, Neng mau bantuin Mamah sama Papah beres-beres dulu!” Pamitnya.

“Iya nih, Om juga harus tidur cepet- cepet nih, besok harus kerja lagi!” Jawabku sambil berlalu ke dalam rumah.

Hampir semua penduduk di kompleks perumahan itu adalah pendatang.

Suasana di sana sudah tidak seperti perumahan yang identik dengan egoisme penduduknya yang tidak mau kenal dengan tetangga sebelah.

Kebanyakan mereka memulai hidup dan beranak pinak di sana sejak tahun delapan puluhan, jadi walau pun strukturnya sama seperti kompleks perumahan lainnya tapi persaudaraan di antara tetangga sudah sangat erat, sudah hampir sama seperti di daerah asal masing- masing saja.

Di gang itu, hanya aku yang bujangan. Karena aku mengontrak rumah sendiri dan tidak ngekos seperti teman- teman kerjaku yang masih belum menikah.

Tapi aku tidak merasa sendirian, aku seperti memiliki keluarga yang sangat besar.

Si Neng depan rumah dan keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Pak RT sebelah rumah juga sudah seperti ayah sendiri yang selalu membimbing dan mengayomi warga yang lain. Penjual Nasi goreng dan pemilik warung di ujung jalan pun sudah sangat akrab, sudah seperti koki pribadi saja yang bisa dipesan makanan kapan pun aku lapar, bisa diutangin pulsa kapan pun aku mau.

Hampir semua bapak- bapak di gang itu kenal denganku.

Setiap Minggu, selalu ada acara pengajian rutin dari gang ke gang, dari blok ke blok di seluruh komplek perumahan itu.

Ah, selain panas dan gerahnya kota Cilegon, selebihnya hampir tidak ada yang berbeda dengan Bandung, kota kelahiranku. Bedanya hanya aku jauh dari Bapak, Ibu dan Adik- adikku. Itu pun hampir setiap minggu aku bisa bertemu mereka.

Orang Sunda cenderung lebih senang tinggal di “kandang”. Ketika akan pergi ke Cilegon pun, orang tuaku pada awalnya kurang setuju.

Bahkan ada sindiran satir kalau hampir semua orang Bandung punya keinginan yang sama, lahir di Bandung, sekolah di Bandung, kerja di Bandung, menikah dengan orang Bandung, punya rumah di Bandung, beranakpinak di Bandung, dan kelak jika sudah meninggal pun ingin dikubur di Bandung.

Sempat ada keraguan yang terbit di hati, dan ketakutan yang timbul di diri, karena aku akan berangkat merantu, bekerja ke tempat yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Alhamdulillah, ternyata merantau itu indah. Allah memberiku jodoh di perantauanku yang pertama.

Alhamdulillah lagi, setelah hampir tujuh tahun di Cilegon, empat tahun lalu Allah mentakdirkan aku merantau lebih jauh lagi, kali ini sampai ke Timur Tengah. Merantau kuadrat, karena kali ini sangat jauh, ribuan kilometer dari Bandung. Dan Allah pun melimpahkan lebih banyak lagi rejeki dan banyak hal yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya.

Hidup merantau, jauh dari kampung halaman, berpindah dari tempat kelahiran itu tidak seburuk dan sesulit dari yang kupikirkan sebelumnya.

Merantau itu bagus untuk melakukan akselerasi di kehidupan kita.

Merantau itu sangat bagus untuk mempersiapkan masa tua kita yang lebih baik.

Merantau itu menggoreskan lebih banyak warna untuk cerita kehidupan kita.

Merantau akan selalu menyenangkan jika kita bisa memiliki dan membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas di mana kita berada.

Merantau pasti akan membuat hidup kita lebih hidup.

Mari kita merantau!

 

www.didaytea.com

Kakek- kakek di Baris Pertama

Kakek- kakek di Baris Pertama

 

Di Mesjid terbesar di RW tempatku tinggal, setiap tempat di baris pertama di mesjid itu seolah sudah mempunyai nomor tiket dan sudah dibooking oleh para kakek-kakek itu.  Sebelum adzan berkumandang, tubuh- tubuh renta dan ada yang sudah sedikit bungkuk itu sudah berdiri dengan rapi di baris pertama. Mereka sudah mempunyai, atau tepatnya membooking tempatnya sendiri- sendiri. Yang lowong hanya tempat sang muadzin dan tempat imam. Jamaah selain mereka, murid dan guru TPA tidak akan berani mengambil tempat mereka sebelum memastikan bahwa yang “ punya kapling” memang benar- benar tidak datang. Dan juga, para kakek- kakek ini memang selalu datang jauh lebih awal dari waktu sholat. Di antara para kakek- kakek itu salah satunya adalah kakekku.

Sejak aku mulai mengajar Iqra di TPA itu, ketika aku masih mengenakan seragam putih-abu, sampai terakhir kali aku pergi merantau ke Cilegon, “Baris  Pertama Fans Club” ini tidak berubah sama sekali. Hanya sholat Ashar dan Zhuhur berjamaah, kadang beberapa dari mereka yang absen mengisi baris pertama ini.

Sisanya, sholat Jum’at, Subuh, Magrib dan Isya, bahkan sholat Idul Adha dan Idul Fitri pun, shaf pertama selalu menjadi “daerah kekuasaan” mereka.

Hampir di setiap acara pengajian, “kelompok baris pertama” ini tetap istiqomah dan selalu berada di tempat yang sama.

Aku melihatnya sebagai sebuah keindahan dari keteladanan.

Ada sih, yang melihatnya sebagai monopoli dan penguasaan sepihak, tapi kalau dipikir- pikir sih, ya itu salah mereka, tidak datang lebih dulu dari mereka.           Ada juga yang melihatnya sebagai sebuah kewajaran. Karena secara, mereka kan sudah tua, sudah dekat dengan kematian.

Sudah seharusnya mereka memang bersemangat seperti itu.

Setelah aku hijrah ke Cilegon, aku pulang mudik ke Bandung biasanya satu bulan sekali.

Ketika pulang, tak pernah kulewatkan kesempatan untuk berjamaah di mesjid yang gerbang sampingnya berseberangan dengan pintu belakang rumah ku itu. Selain untuk bersilaturahmi dengan teman- teman mengajiku, dan murid- muridku di TPA mesjid itu, aku juga ingin melihat dan bersilaturahmi dengan para penghuni baris pertama.

Tahun- tahun pertama tidak ada yang berubah. Sosok tubuh- tubuh renta renta itu masih penjadi penghuni baris pertama.

Kira- kira lima tahun setelah aku meninggalkan Bandung, kabar buruk pertama akhirnya datang. Adikku mengirim sms, memberi tahu bahwa salah satu kakek- kakek di baris pertama ada yang meninggal. Katanya karena stroke.

Entah kenapa, hatiku langsung bergetar dan spontan mendo’akan si kakek itu agar mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana. Aku mendo’akan agar keistiqomahannya sholat di mesjid, dan baris pertama itu menjadi tiket untuknya ke surga yang terindah kelak.

Ujung mataku tak mampu menahan jatuhnya air mata yang entah sedih, atau terharu, ketika kabar itu sampai ke telingaku.

Ketika aku pulang setelah kabar itu, penghuni tempat yang biasa di booking oleh si kakek  sudah berganti. Kali ini tidak ada yang permanen mengisi tempat itu.Sosok tubuh yang berdiri di sudut itu selalu berganti setiap waktu sholat.

Sudah takdir manusia untuk akhirnya harus menghadap penciptanya.

Tahun demi tahun berganti, dan akhirnya satu demi satu dari mereka pun mulai berguguran”, menyusul si kakek pertama.

Ada yang sudah meninggal dan ada juga yang sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke mesjid.

Sampai terakhir aku pergi ke Qatar, hanya kakekku saja dan dua orang kakek lainnya yang tersisa di baris pertama. Dan hanya mereka juga yang tersisa. Hanya mereka yang masih hidup dari lima belas orang kakek- kakek penghuni baris pertama.

Semoga mereka yang masih hidup tetap istiqomah menjaga kondisi mereka seperti sekarang, sehingga mereka bisa meraih Husnul Khotimah, akhir yang baik di kehidupan meraka.

Dan semoga segala usaha, dan keletihan mereka untuk selalu membawa tubuh rentanya berjalan ke mesjid akan menjadi tiket untuk syurga yang terindah untuk mereka kelak.

Semoga Allah memberikan aku dan semua muslim kekuatan agar aku bisa memiliki keistiqomahan untuk bisa sholat berjamaah ke mesjid sampai tua seperti para kakek- kakek penghuni baris pertama itu.

Amin.

Sariawan Terindah


“Sebelum Allah mengambil kenikmatan hidup kita, ingatlah selalu untuk selalu beryukur untuk nikmat yang Allah berikan di sekujur tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kuku”

Tidak ada orang yang akan bisa lupa bagaimana pedihnya ketika ada sariawan di dalam mulut.

Penyebabnya sih macam-macam, dari hanya sekedar luka karena tergores oleh sikat gigi, sampai efek samping dari panas dalam.

Apa pun penyebabnya dan sebagaimana pun  besarnya, tetap saja, “kenangan terindah” bersama si sariawan ini pasti hanya satu: rasa pedih yang nyelekit sampai ke ubun- ubun.

Baru beberapa hari ini ada sariawan yang lumayan besar datang berkunjung di dalam mulutku. Bentuknya seperti kawah putih yang terbentang di area pipi kanan dalam dan gusi kananku. Kali ini lebih besar dari sariawan- sariawan yang biasanya. Luasnya sekitar satu sentimeter persegi.

Letak dan luasnya sangat strategis sekali untuk menimbulkan rasa pedih yang sangat maksimal dan rasa sakit yang super mantap di dalam mulutku.

Apa pun aktifitas yang melibatkan mulutku, luka sariawan itu pasti akan tersentuh. Dan sekecil apa pun sentuhan di daerah itu pasti akan memancing mengamuknya syaraf- syaraf sakit di otakku untuk berunjuk rasa hebat menimbulkan rasa pedih yang luar biasa dahsyat. Pedih yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Walaupun kecil, tapi si sariawan ini sangat mengganggu irama hidup kita.

Mengunyah makanan terasa seperti mengunyah puluhan jarum peniti

Minum air putih terasa seperti minum air aki

Menyikat gigi harus super hati- hati

Menggigit makanan pedihnya setengah mati

Berbicara pun jadi setengah hati

Karena pedihnya super sekali

Pedihnya yang kurasakan selama sepuluh hari sariawan itu berada di mulutku, entah kenapa membuatku sama sekali lupa bahwa aku pernah merasakan kenikmatan dari segar dan pedasnya tongseng ayam buatan istriku. Atau sensasi pedas dan panas yang luarbiasa enak ketika renyahnya toge, kol, dan wortel cincang yang berpadu di dalam sebuah gehu yang dicolekkan ke sepiring kecil saus sambel lampung. Atau hanya sekedar sejuknya segelas air putih yang kuminum setelah kelelahan sehabis bermain sepakbola.

Aku sampai lupa bagaimana nikmatnya makan dan minum. Aku lupa bagaimana nikmat dan lezatnya asin cumi, tahu tempe goreng yang berpadu dengan pulennya nasi beras merah dan sensasi panas dan pedasnya sambel terasi khas Sunda serta segarnya lalapan segar masakan istriku.

Jangankan makan dengan menu semewah itu (di Qatar, menu seperti ini adalah menu yang mewah, karena harganya yang lumayan mahal), hanya seteguk air minum yang tak sengaja melalui daerah sariawan itu, sudah terasa seperti puluhan jarum yang menusuk- nusuk dari bawah pipi hingga kepala. Sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun.

Ada salah satu obat yang sering kupakai ketika si sariawan ini datang tak diundang. Biasanya sih sekali dicolek, obat ini akan tokcer menghilangkan sariawan. Walaupun ketika dicolekkan ke atas sariawan akan terasa pedih luar biasa, tapi tidak sampai tiga hari, sariawan itu akan hilang tak berbekas.

Entah karena kali ini sariawannya terlalu besar atau penyebab yang lain, hampir seminggu belum sembuh juga.

Kupakai obat itu dengan berbagai cara, dari penggunaan normal yang hanya sekedar dicolekkan, kupakai berkumur- kumur. Dan bahkan sampai saking frustasinya, langsung kuteteskan obat itu langsung diatas sariawan.

Bukannya sembuh, pedih luar biasa yang kurasakan itu malah semakin dahsyat.

Aku pun menyerah.

Selama beberapa hari, “kunikmati” saja rasa pedih yang dahsyat itu sampai ke ubun- ubun.

Alhamdulillah, ternyata ada temanku di kantor yang mempunyai obat sariawan yang lebih mujarab (katanya).

Tentu saja tidak ada pilihan lain selain kucoba saja obat itu.

Walau pun prosesnya lebih lambat, tapi Alhamdulillah, setelah lima hari, pedih yang sampai ke ubun- ubun itu sudah sangat berkurang dan hilang sama sekali di hari ke sepuluh.

Ternyata kita bisa dengan mudahnya melupakan semua kenangan indah nikmatnya memakan makanan enak, hanya dengan sekedar sebuah luka kecil bernama sariawan yang Allah takdirkan di dalam mulut kita.

Sebelum Allah mengambil kenikmatan hidup kita, ingatlah selalu untuk selalu beryukur untuk nikmat yang Allah berikan di sekujur tubuh kita, dari ujung rambut sampai ke ujung kuku.

Nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan?

Chillax Luar Dalam

Chillax Luar Dalam

“Sebagai seorang muslim, aku merasa sangat beruntung karena memiliki setidaknya lima kali waktu dalam sehari untuk mendinginkan kepala dan menenangkan hati”

Sejujurnya, sih , selalu ada saja saat dan periode di mana aku terikat oleh belenggu kemalasan untuk sholat berjamaah di masjid.

Beberapa tahun ini, hampir tidak pernah ada satu hari pun yang aku bisa lewati sempurna tanpa ada “bolong” sholat berjamaah di mesjid. Selalu ada saja waktu sholat berjamaah yang lolos, sehingga terpaksa aku hanya sholat sendiri di rumah, atau setidaknya berjamaah dengan istriku. Ada saja halangan yang jadi alasanku untuk bisa pergi ke mesjid. Dari kesibukan waktu kerjaku yang shift lah, lagi di mall lah, jalan- jalan, bahkan kalau di rumah alasannya lebih dramatis lagi: menyalahkan panasnya summer dan dinginnya winter di sini. Dan banyak lagi kambing- kambing hitam yang tidak bersalah tapi sering kutunjuk dan kusalahkan.

Padahal sih, alasan yang sesungguhnya cuma satu: MALAS.

Beberapa hari lalu kutemukan kata- kata baru di Twitter ketika ingin mereset passwordku yang hilang.

“Please chillax, and try to log in after one hour. Because your ability to reset password is disabled”. Itu kalimat yang terpampang di halaman utamanya.

Chillax? Kata yang aneh.

Sangat mirip dengan nama makanan dari Bandung yang sangat legendaris: Ciloks. Kalau ini singkatannya Aci dicoloks.

Tapi beberapa saat kemudian langsung kusadari bahwa itu adalah gabungan dua kata Chill dan Relax, dingin dan relaks. Sedikit susah untuk menemukan terjemahan yang tepat untuk gabungan dua kata ini.

Langsung saja itu menyadarkanku bahwa dalam hidup kita, selalu diperlukan Chill and Relax.

Chillax.

Tubuh kita perlu istirahat, begitu pun pikiran kita.

Kita harus punya waktu untuk sejenak melakukan relaksasi dan memberikan sedikit waktu untuk tubuh, hati, pikiran, otak, dan jiwa kita dalam kondisi tenang dan “dingin”.

Ada yang chillax menggunakan musik. Dari musik klasik, gamelan, kacapi suling, Kitaro sampai ada juga yang nekad memutar lagu dance dan ngebeat atas nama relaksasi pikiran.

Ada juga yang selalu mengadakan acara keluarga di taman.

Ada juga yang memberlakukan hari tanpa gadget di rumahnya.

Ah, pokoknya mungkin ribuan cara manusia yang manusia lakukan dan cari untuk bisa Chill and Relax.

Sejujurnya lagi sih, kadang, ahem, bahkan sering aku sering berusaha menenangkan diriku dan sedikit menjauh dari penatnya urusan kerja  dengan mendengarkan music. Tidak sampai harus mendengarkan musik- musik yang tidak jelas. Paling banter sekarang sih penyanyi Swedia yang sedang naik daun, akang Maher Zain.

Ah, Maha Suci Allah yang Maha Memberi Hidayah.

Tadi baru saja aku pulang dari sholat Ashar berjamaah di mesjid. Setelah salam tadi, entah kenapa aku tiba- tiba teringat kata- kata tadi, Chillax.

Ternyata perasaan Chillax  terbaik dan paling sempurna bukan setelah merdunya suara Maher Zain, atau lembutnya tiupan kacapi suling, atau megahnya musik sang Maestro New Age: Kitaro, tapi perasaan tenang, penuh kedamaian dan “dingin” yang kita rasakan beberapa saat setelah kita ucapkan salam yang kedua di dalam sholat.

Kondisi ketika kita barang satu atau dua menit beristigfar, bersyukur, bertasbih, dan bersholawat dan dilanjutkan dengan berdo’a itu adalah kondisi chillax yang sesungguhnya, ketika kita tidak mempunyai batas lagi dengan Yang Maha Mencipta.

Ketika sedang sibuk bekerja saja, dan kita break untuk mendirikan sholat, Sensasi chillax akan sangat terasa bahkan sejak sholat itu dimulai. Dinginnya air wudhu, dan beberapa menit waktu yang  kita berikan kepada tubuh dan pikiran kita untuk sejenak beristirahat dan menjauh dari penatnya pekerjaan. Belum sensasi ruhiyahnya, ketika dosa kita akan berguguran dengan air wudhu yang membasuh tubuh kita, dan dihapusnya dosa- dosa kecil di antara dua waktu sholat.

Sensasi dinginnya pikiran dan relaksnya hati akan jauh berlipat ketika kita sholat berjamaah di mesjid.

Paling mantap sih ketika sholat subuh. Bayangkan saja, jika kita bangun lima belas menit saja sebelum sholat subuh, bisa dijamin kita akan bisa mendapatkankan kemuliaan sholat malam, walau pun itu hanya sebatas dua rakaat qiyamul lail dan satu rakaat witir. Lalu sebelum berangkat, seharusnya sih kita bisa mendapatkan kemuliaan yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya dari dua rakaat sholat sunah sebelum subuh.

Ketika tiba di mesjid pun, kita masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keutamaan sholat tahiyyatul mesjid.

Dan ditutup dengan kemuliaan sholat berjamaah di waktu yang paling utama, sholat subuh berjamaah.

Ah, sungguh bodoh sekali diriku ini yang masih bisa terkalahkan oleh kemalasan, dan melepaskan kesempatan luar biasa itu.

Perjuangan melawan kemalasan akan selalu terjadi di setiap langkah kehidupan kita.

Seharusnya aku merasa sungguh sangat beruntung karena diberi minimal lima kali waktu untuk Chill and Relax luar dalam. Kesempatan untuk menenangkan hati, tubuh, pikiran dan jiwa sejenak dari penatnya kehidupan dan mendekat kepada Yang Maha Pencipta, tujuan akhir kita yang sesungguhnya.

Mari ber-Chillax dengan Sholat  berjamaah di mesjid!

 

 

Insyallah+Semampunya: Komitmen atau Kemalasan?

Insyaallah dan Semampunya, kata- kata yang sering disalahgunakan untuk menyembunyikan kemalasan”

 

“Insyaallah”,arti sebenarnya sangat baik, dengan ijin Allah. Kata ini jika dirangkaikan dengan sebuah rencana, seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa rencana itu sudah pasti akan dilakukan. Hanya Allah yang bisa menggagalkan rencana kita itu dengan menciptakan kejadian luar biasa.

Tapi kata ini sering disalahgunakan.

Bukan definisi diatas yang digunakan. Kata Insyaallah seringkali diucapkan jika seseorang sebenarnya tidak niat datang ke sebuah undangan. Atau diucapkan seseorang ketika sebenarnya dia tidak mau melakukan sesuatu, tapi karena merasa tidak enak dengan yang meminta tolong, dia pakai lah kata “Insyaallah” ini sebagai alat untuk menyembunyikan hal itu, agar seolah- olah dia sudah berkeinginan untuk melakukan hal yang diminta.

“Insyaallah lah saya dateng ya!” atau

“Insyaallah deh, kalau bisa saya nanti ke sana!”

“Insyaallah nanti kalau sempat saya sampaikan!”

“Insyaallah saya kerjakan abis Ashar deh!”

Insyaallah yang seharusnya diucapkan ketika kita ingin memastikan sesuatu, dan hanya Allah saja lah yang bisa membuat kita tidak dapat memenuhi janji tersebut, ternyata malah menjadi sebaliknya. Insyaallah malah dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan kemalasan kita untuk memenuhi janji, dan bersembunyi di balik “izin Allah”.

Begitu juga dengan “semampunya”.

Di kala seseorang meminta kita untuk melakukan sesuatu, dan kita menjawab dengan mengucapkan semampunya, kadang itu bukan ekspresi kesanggupan kita.

Seringkali itu malah menunjukkah bahwa kita sebenarnya malas untuk melakukannya dan tidak enak untuk bilang tidak. Semampunya dan “kalau mampu” juga akhirnya menjadi tempat kita berlindung.

Kata “Semampunya” seharusnya digunakan untuk menunjukkan bahwa kita siap berusaha seratus persen untuk melakukan hal itu. Untuk menunjukkan bahwa kita sudah siap dan akan memberikan semua sumber daya yang ada pada diri kita sekuat tenaga untuk berusaha melakukan hal tersebut.

Contohnya jika kita berkomitmen berusaha semampunya untuk bisa bangun di sepertiga malam terakhir. Dalam prakteknya semampunya ini didefinisikan sebagai sebisanya atau sebangunnya. Kalau bangun syukur, ya kalau tidak bangun juga ya tidak apa- apa.

Kita tidak membeli beberapa weker yang super kencang agar bisa membangunkan tidur kita. Menyetel alarm pun hanya satu kali, yang kalau pun kita terbangun, itu pun hanya untuk mematikan alarm tersebut sebelum akhirnya kembali ke pangkuan selimut hangat yang sudah memeluk kita semalaman. Atau sebelum tidur kita tidak memaksa diri untuk bisa sholat dua rakaat dan berdoa mati-matian kepada Allah agar bisa dibangunkan untuk bisa mendapatkan kemuliaan sholat malam.

Sudah saatnya kita keluar dari belenggu kemalasan dan bersembunyi di balik dua kata sakti: Insyaallah dan semampunya.

Sudah saatnya kita menggunakan kedua kata itu sebagai komitmen seratus satu persen untuk memperbaiki kualitas diri dan ibadah kita.

Komitmen untuk memenuhi janji kita.

Komitmen untuk memperbaiki ibadah kita.

Komitmen kepada diri sendiri dan keluarga, sebagai tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Insyaallah, mari kita berusaha semampunya!

 

http://www.didaytea.com