Satu Riyal Yang Ajaib

Satu Riyal Yang Ajaib


“Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Di suatu pagi hari yang panasnya sudah seperti siang itu (Di sini sudah mulai memasuki musim panas, adzan subuh  sudah berkumandang jam setengah empat pagi. Jadi jam setengah lima langit sudah terang benderang) seperti biasanya saya menyetir menuju tempat bis jemputan.

 
Hampir setiap pagi sih, saya melewati sebuah pertigaan jalan. Di atas trotoar tepat di pertigaan itu, ada seorang tukang koran yang bulak- balik dari trotoar itu ke trotoar di seberang jalan di belakangnya. Mungkin di situ adalah tempat agen besar mendrop koran untuk dijual hari itu. Setiap saya melewatinya, dia pasti terlihat sedang sibuk membereskan dagangannya. Pernah saya melewati jalan itu agak siang, sekitar jam tujuh, dia masih ada di sana.

 
Awalnya sih tidak ada yang istimewa atau luar biasa. Ya, tukang Koran kan di Indonesia juga banyak.

 
Setiap saya bekerja shift pagi melewati pertigaan itu, setiap kali itu pula saya melihat pemandangan yang sama di atas trotoar itu. Si Bapak Tua tukang koran yang sedang membereskan beberapa tumpukan koran.

 
Pada suatu pagi, entah kenapa saya tiba- tiba ingin membaca koran.

 
Dari kejauhan saya sudah pasang lampu sein untuk menghampiri trotoar di pertigaan kecil itu.

 
Tepat ketika saya berhenti dan membuka pintu jendela kanan mobil saya, si Bapak Tua langsung menghampiri dan menyapa dengan ramah.

 
“Good Morning Pare!” Sapanya sambil langsung memajang senyum di bibirnya.

 
“You are Muslim?” Dia langsung bertanya lagi, mungkin karena mendengar alunan merdu Syaikh Abdurrahman As Sudais dari dalam mobil.

 
“Good Morning! Yes, alhamdulillah I am Muslim. But I am not Filipino, I am Indonesian, please call me Pak or Mas!” Jawab saya dengan sigap, dan langsung menjelaskan.

 
“Oh Sorry Sir, Sorry, I don’t know you are Indonesian!” Dia menjawab lagi sambil tetap tersenyum.

 
Di sini sudah sering dan lumrah kalau orang Indonesia dikira orang Filipina.

 
O iya, “Pare” itu artinya kurang lebih Masbro lah kalau dalam bahasa Indonesia gaul.

 
“Its okay no problem. You have Gulf Times?” Saya langsung saja bertanya.

 
Di Qatar, Koran yang berbahasa Inggris yang paling terkenal, eh, yang paling saya kenal sih, adalah Gulf Times dan Peninsula.

 
Itu pun jarang sekali saya baca. Kalau pun membaca, paling limpahan dari bekas bacaan para atasan yang sudah kadaluwarsa. Dan lagi pula, saya merasa belum ada urgensinya untuk saya membaca Koran lokal, kan internet sudah dua puluh empat jam dalam genggaman tangan, kapan saja saya bisa mengetahui informasi terbaru dari belahan bumi mana pun.

 
Pernah sih sengaja membeli koran berbahasa Arab, Al Watan.

 

Walau pun tidak intensif, tapi saya juga sedang belajar bahasa Arab. Tadinya sih diniatkan untuk praktek belajar bahasa Arab, dengan membaca situasi aktual, di koarn yang berbahasa Arab. Saya pikir bakal tidak akan terlalu sulit karena sudah ada kamus dan tentunya, Google translate.  Eh, pada kenyataannya, Alhamdulillah, setelah seminggu koran itu saya beli, tidak satu artikel pun yang saya berhasil pahami. Blas, ngga ada yang ngerti dan nyambung terjemahannya. Hehehe.

 
“Have Sir!” Dia langsung dengan gesit dan sigap membawa sehelai koran yang saya maksud. Sedikit tidak terduga, karena hampir tidak ada bagian dari rambut si Bapa Tua itu yang berwarna hitam.

 
“Peninsula I also have Sir! You want?”  Dia menawarkan koran yang satunya lagi.

 
“Okay I will take!” langsung saja saya iyakan tawarannya.

 
Dua eksemplar koran pun tak lama berpindah ke jok di sebelah kanan.

 
Kuulurkan selembar uang berwarna hijau, uang lima riyal kepada si Bapak Tua.

 
“One riyal, for you! Halal! Halal! Okay?” Langsung saja saya klarifikasi, ketika dia lagi- lagi dengan sigap langsung mengeluarkan selembar uang satu riyal dari saku kemeja biru tuanya yang sudah lusuh.

 
“Thank you so much Sir!” Ucapnya dengan wajah yang sumringah, sambil memasukkan lagi uang yang sudah dia pegang tadi.

 
“Wa’alaikumsalaam!” Dia menjawab sambil mengangkat tangan kanannya dan menempelkan tangan itu di atas dadanya ketika aku pamit dan berlalu mengucapkan salam.

 
Sejak saat itu, hampir setiap kali saya masuk pagi, saya pasti akan membeli koran dari si Bapak Tua itu.

Pernah beberapa kali, karena sudah terlambat, saya tidak sempat berhenti di pertigaan itu. Tampak sekali wajahnya yang penuh dengan harapan ketika dia langsung berdiri sambil memegang dua koran, ketika dia mulai melihat mobil biru saya dari kejauhan.

Saya hanya bisa mengangkat tangan dan menunjuk ke arah jam tangan saya, dengan harapan dia akan mengerti bahwa saya sudah terlambat mengejar bis jemputan.

 

Ketika besoknya saya berhenti di tempatnya, senyumnya selalu lebih lebar dari biasanya. Seolah ingin menunjukkan terimakasihnya karena saya sudah membeli korannya.

 

Satu riyal bernilai sekitar dua ribu enam ratus rupiah.

 

Tentunya nilai itu tidak seberapa. Di Qatar, satu riyal hanya  bisa membeli satu botol air mineral berukuran lima ratus mililiter.

 

Hampir terasa tidak ada nilainya.

 
Tapi, bayangkan apa yang bisa uang satu riyal ini lakukan ketika saya sedekahkan.

 
Si Bapak Tua ini sangat mungkin menanggung nafkah keluarganya dengan jauh- jauh pergi ke luar dari negerinya. Dan menafkahi keluarga tentunya adalah pahala yang luar biasa besar.

 
Terus, bagaimana dengan koran yang saya beli tadi?

 
Oh, ini tentu saja bakal bermanfaat.

 
Teman- teman saya, termasuk saya sendiri  di tempat kerja kan tidak semuanya punya akses ke koran baru.

 
Kadang- kadang kami sampai berebut ketika ada koran yang tergeletak.

 
Setidaknya ini membuat saya jadi melek informasi dan bisa memberi kebahagiaan kecil bagi teman- teman di kantor saya.

 
Siapa tahu , mungkin di akhirat kelak uang satu riyal ini yang menjadi tiket saya masuk ke Surga kan?

 
Siapa tahu, sedikit kebahagiaan kecil karena teman- teman saya bisa membaca koran tanpa harus membeli, adalah pembuka jalan bagi saya untuk mendapatkan rejeki yang luar biasa di masa depan?

 
Ganjaran dari Allah memang tidak selalu instan atau seperti memakan keripik pedas. Jam tujuh makan keripiknya, seketika seperti ada api unggun yang menyala di dalam perut kita.

 
Tapi disitulah The Art of Giving, kata ustadz Yusuf Mansur.

 
Bersedekahlah walau pun satu sen.

 
Memberilah walau pun itu hanya sekedar benda- benda yang sudah kita anggap sampah.

 
Berbagilah walau pun dengan barang- barang yang kita anggap tidak berharga.

 
Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Doha, 1 Juni 2013
www.didaytea.com

Brute Force Attack Al Qur’an

“Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada”

Hafalan Mentok

Ada salah satu adegan di dalam film Transformers, ketika si robot alien yang menjelma menjadi sebuah boom box, dengan mudahnya menjebol password dan sistem keamanan di  NSA hanya dalam beberapa saat.

“Even though it will do brute force attack to break the our security, it will take thousands of years, but this thing just breached our security wall in a matter of second!” Kata si Teteh berambut pirang dengan logat Britishnya yang sangat kental.

Brute force attack adalah metode untuk memecahkan suatu kode dengan mencoba satu per satu semua kemungkinan yang ada.

Pengertian dari PCMag: “The systematic, exhaustive testing of all possible methods that can be used to break a security system”.

Sederhananya, seperti kita lupa kombinasi kunci koper yang hanya tiga digit. Ada 4960 kemungkinan kombinasi yang harus kita coba satu per satu.

Sudah beberapa tahun ini saya selalu mentargetkan untuk bisa menghafal Juz’Amma. Dengan target jangka panjang, menghafal seluruh 30 Juz Al Qur’an tentunya.

Tapi entah kenapa, selalu mentok, bahkan di surat pertama: An Naba.

Dan biasanya, begitu mentok, ya sudah saya menyerah deh. Paling banyak yang bisa saya hafal, sepuluh ayat, itu pun timbul tenggelam. Kadang tidak hafal sebagian, kadang ingat sebagian. 😀

Takdir Allah, saya mendengar ceramah  Kajian Makrifatullah Aa Gym yang terbaru, di tahun  2013, ada bagian yang membahas tentang menghafal Al Qur’an, ada juga tweet dari ustadz Yusuf Mansur, dan @HapalQuran.

Intinya ya seperti Bruce Force Attack  tadi, ketika kita sudah berniat menghafal Al Qur’an, ya kita harus mencoba setiap langkah, daya dan upaya.

Kalau kata Aa Gym sih, hikmahnya ketika kita sudah berusaha keras tapi belum hafal- hafal juga, mungkin Allah ingin kita lebih sering lagi membaca Al Qur’an. Kan, makin susah hafal, kita seharusnya makin banyak membacanya. Dan ada sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang kita baca.

Mungkin jika kita langsung hafal, kita malah jadi malas lagi membacanya, karena mentang- mentang sudah hafal.

Selama empat tahun, ya, empat tahun, saya selalu menyerah. Boro- boro bisa menghafal full 30 Juz, Juz Amma saja, di luar surat- surat pendek yang sudah biasa kita hafal sejak TPA sepulang sekolah SD dulu, aku sudah menyerah. Surat paling panjang yang saya hafal paling, Al Fajr, dan itu juga masih “belang- betong”, masih sering ada ayat yang terlewat. Kalau Al A’Laa dan Al Ghasyiyah mah Alhamdulillah, akurasinya sudah 99%. Ketiga surat ini pun, baru tahun- tahun ini saja bisa saya hafal.

Masih kalah sama anak- anak TPA atau SD Islam, yang rata- rata sudah hafal Juz 30.

Tadinya mau saya acak saja urutannya. Karena An Naba ngga hafal- hafal, coba yang lain. Al Bayyinah. Eh, ternyata walaupun Cuma delapan ayat, tapi sama aja, panjang.

Tapi ya kenyaataannya seperti itu.

Pada akhirnya, saya memilih untuk bersembunyi di balik alibi bahwa masih banyak orang Islam yang belum bisa membaca Al Qur’an, masih banyak orang Islam yang jarang mengaji Al Qur’an.

Keinginan saya kembali berakhir sebatas niat.

Saya menyerah. Dan di dalam sholat pun, surat yang saya baca tidak pernah beranjak dari At Takatsur, Alam Nasyrah, Al Maa’un, At Tiin, dan tentu saja trio “Qul”, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. :D.

Niat Lagi

Di Awal tahun 2013 ini, saya bertekad  untuk mencoba lagi menghafal Juz ‘Amma. Kali ini serius saudara- saudara. Apalagi setelah sering membaca tweetnya Ustadz Yusuf Mansur dan @HapalQuran tentang One Day One Ayat, makin kuatlah tekad saya tersebut.

Kembali ke adegan film Transformer tadi. Adegan pendek di film itu menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama: Brute Force Attack.

Tapi kali ini targetnya adalah Al Quran.

Target utama yang terdekat saya empat bulan yang lalu tentunya seperti biasanya: Surat An Naba.

Saya beli CD murottal yang per Juz.

Ketika mudik dua bulan yang lalu, saya membeli Al Qur’an hafalan.

Tidak satu atau dua, tapi tiga!

Satu saya simpan di tas. Satu di dekat komputer, dan satu lagi di rak buku. Agar setiap saat, ketiadaan Al Qur’an di dekat saya tidak menjadi alasan.

Di iQuran, saya book mark surat An Naba.

Di telepon genggam, saya buat playlist khusus untuk Juz 30.

Sepanjang perjalanan ke tempat pekerjaan yang menghabiskan waktu selama satu jam, saya hampir selalu menyetel Surat An Naba. Di bis Surat An Naba. Sholat, surat An Naba.

Sebelum tidur, hampir selalu surat An Naba yang saya putar. Dengan harapan akan masuk ke dalam alam bawah sadar saya, seperti yang dibilang di dalam buku Quantum Learning. Apa yang kita dengar sebelum tidur, dan selama tidur, akan lebih mudah masuk ke dalam pikiran dan otak kita.

Pokoknya mah, tiada hari tanpa Surat An Naba deh!

Eh ternyata setelah dua bulan, masih belum hafal juga.

Terus lagi nyoba.

Lebih sering, lebih sering, beli CD lagi, Syaikh Abdurrahman As Sudais, 17 CD, biar jelas suaranya.

Sebelumnya CD yang saya selalu putar adalah dari Syeikh Khalifa At Tunaiji, ini sangat lambat. Tapi bagusnya, ada dua kali bacaan. Yang pertama membaca adalah Syeikhnya sendiri, terus diulang oleh seorang muridnya, anak kecil.

Ketika shift malam, bisa digeder, diputar semalaman sambil bekerja. Eh, ngomong- ngomong, digeder apa ya bahasa Indonesianya?

Dikeureuyeuh?

Ini juga masih bahasa Sunda ya? Hehehe

Diikuti dengan membaca terjemah per katanya.

Kurang lebih, artinya melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang sesering mungkin.

Saya pecah hafalan menjadi dua bagian, halaman pertama (halaman 582) dan halaman ke dua (halaman 583). Biasanya sih, saya baca ketika sholat rawatib atau tahiyatul masjid.

Saya juga membaca tafsir surat An Naba.

Ah, pokoknya, semua alternatif dan langkah serta tips untuk menghafal Al Qur’an tadi saya lakukan semuanya.

Alhamdulillah, ada perkembangan yang signifikan walau pun masih “apal cangkem” (hafal saja, tanpa mengetahui artinya).

Ini sudah sangat lumayan, dibanding “niat- niat” saya yang sebelumnya. Walau pun masih sering nge-blank  ketika di dalam sholat, tapi mulai sering saya bisa membaca terus hingga halaman pertama hampir habis.

Tadinya saya ingin membuat sibuk sebagai alasan. Kenapa masih belum hafal juga, padahal sudah dua bulan.

Memang pastinya kasus akan berbeda dengan lingkungan yang sengaja dibentuk seperti Daarul Quran, atau Rumah Hafiz. Mereka minimal bisa menghafal satu halaman dalam satu hari. Tujuh sampai delapan jam waktu mereka dalam sehari sepenuhnya digunakan untuk menghafal.

Tapi tidak bisa jadi alibi. Waktu luang bisa kita buat dan usahakan, bukan kita yang menunggu waktu luang. Yang lebih penting adalah niat.

Kalau niat menghafal saja tidak ada, bagaimana mau rutin membaca Al Qur’an kan?

Untuk orang seperti saya, yang bekerja shift,  kadang ketika sudah berkomitmen kuat pun, selalu saja ada kendala untuk mengkhususkan waktu. Sangat sulit untuk bisa menghafal pada waktu yang sama.

Jadi cara yang agak berhasil sih, ya itu tadi brute force attack, karena tidak terikat jadwal. Harus seperti striker oportunis, yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ada momen sedikit saja, langsung deh saya eksekusi. Jika kuat, dan niat sholat sunat, tidak ada surat lain yang saya baca selain An Naba.

Berhasil!

Dan lima hari yang lalu, Alhamdulillah, Allahuakbar! Empat puluh ayat Surat An Naba berhasil saya baca dari awal sampai akhir di dalam sholat tahiyyatul masjid. Setelah empat tahun berniat menghafal Juz Amma.

Alhamdulillah,  walau pun tidak sepenunya lancar, dan hanya 60 persen artinya yang mengikuti bacaaan saya, tapi ini pertamax kalinya saya bisa membaca Surat An Naba di luar kepala.

Dengan karunia Allah, dan Brute Force Attack tadi akhirnya saya berhasil.

Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada.

Semoga setelah ini jalan saya untuk menjadi penghafal Al Qur’an menjadi lebih mudah, lebih luas dan lebih lapang.

Mari menghafal Al Qur’an!

(Terima kasih kepada Ustadz Yusuf Mansur, Aa Gym dan @HapalQuran)

http://www.didaytea.com

Bahagia Itu Sederhana

Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing- masing.

Hutang, perselisihan antara anggota keluarga, kesehatan, karir, jodoh, harta, kendaraan, ibadah kurang khusyu, atau bahkan malas ibadah, dan beribu jenis masalah lain yang dihadapi oleh seorang manusia, pasti kita semua pernah mengalaminya.

Baik sekaligus, satu per satu, atau naudzubillahimiindzaalik, datang bertubi- tubi.

Lalu hadirlah para motivator di antara kita. Dengan pengalaman, teladan, keilmuan, dan keahlian mereka, mereka hadir bagai embun di tengah padang pasir yang panas membara.

Mereka menghadirkan kesejukan untuk orang- orang yang sedang dirundung masalah kehidupan ini.

Mereka menghadirkan kata- kata yang menyemangati semua orang yang membacanya.

Menyemangati agar menganggap hidup ini mudah, menyemangati agar tidak lelah bermimpi untuk menjadi sukses luar biasa.

Menyemangati agar kita menjadi orang kaya luar biasa, agar bisa bersedekah luar biasa banyak juga, agar kita bisa bermanfaat untuk orang banyak. Agar kita bisa menjadi pengusaha super sukses luar biasa.

Ah, intinya mereka semua pastinya menyarankan hal- hal yang insyaallah menuju kebaikan kita, dunia dan akhirat.

Saya pernah mendengar dan menonton di televisi, Rhenald Kasali pernah berbicara tentang tujuan akhir umat manusia.

Tujuan paling akhir, ultimate goal dari seorang manusia itu ternyata, bukan kekayaaan, bukan kesholehan, bukan kesuksesan, bukan kesehatan, bukan kemuliaan hidup, bukan keilmuan yang banyak, bukan karir yang cemerlang, bukan keberhasilan menjadi pengusaha yang bersedekah milyaran rupiah, bukan seseorang yang bisa menginspirasi jutaan orang, dan berjuta parameter kebahagiaan lainnya.

Menurut beliau, tujuan hidup seorang manusia adalah kebahagiaan.

Dengan berjubelnya para motivator ini, ada sisi gelap yang kurang tersorot. Ketika hampir setiap hari kita bertubi- tubi dihujani kata- kata motivasi, terkadang kita menjadi seperti dikejar target.

Kehidupan kita terkadang menjadi seperti robot, dan selalu dihantui oleh parameter- parameter kesuksekan yang terus terngiang- ngiang di dalam otak kita.

Harus sukses!

Harus kaya!

Harus bermanfaat!

Harus bisa shodaqoh satu milyar!

Dan harus- harus lainnya.

Seolah terprogram otomatis, di kepala saya pun langsung terpasang dan terpatri target- target yang luar biasa.

Saya ingin menjadi penulis novel best seller, seperti JK Rowling, dan royaltinya akan saya sedekahkan.

Saya ingin kuliah setinggi mungkin, agal bisa menjadi bekal saya di masa depan kelak, ketika sudah tidak bekerja lagi di Qatar.

Saya ingin menjadi hafizh Qurán, agar bisa mengajarkan sebanyak mungkin orang agar bisa dekat kepada Allah.

Saya ingin menjadi pengusaha sukses luar biasa, agar saya bisa shodaqoh menghajikan orang.

Saya ingin menjadi konglomerat super kaya, sehingga jika ada orang yang memerlukan bantuan, saya tidak akan berpikir panjang berapa pun jumlahnya.

Saya kadang, sejujurnya sih sering lupa bahwa itu semua ternyata hanya PERANTARA. Tak tersadar bahwa saya merasa bahwa menjadi kaya, sholeh, dan sukses dunia akhirat itu bukan tujuan akhir kehidupan saya.

Seolah- olah, saya tidak akan bahagia dulu sampai semua mimpi itu bisa saya raih.

Kalau masalah sekedar bahagia, seringkali bahagia itu sangat sederhana.

Senyum dua anak balita yang berlarian menyambutku ketika pintu rumah terbuka, itu sudah merupakan kebahagiaan.

Kita masih bisa sehat saja, itu sudah merupakan kebahagiaan.

Ultimate goal seorang manusia itu adalah Ridho Allah.

Bahagianya seorang muslim adalah ketika Allah ridho akan apa yang diperbuatnya.

Bahagianya seorang muslim adalah ketika Allah ridho kita berkumpul dengan keluarga kita di syurga-Nya kelak.

Bahagianya seorang muslim Allah haramkan dari api neraka-Nya.

Seperti kata Steven Covey, tools yang sangat penting di dalam melakukan sesuatu adalah Start From The End.

Mulailah dari tujuan akhir kita. Tujuan yang benar- benar akhir.

Kaya, sholeh, sukses, sehat, itu hanya perantara.

Sama sekali bukan tujuan akhir.

Kita masuk syurga bukan karena amalan sholeh kita, tapi semata- mata karena ridho Allah semata.

Wah, tulisan ini berarti menafikan perjuangan para motivator- motivator itu dong?

Tulisan ini berarti malah akan mendiscourage orang- orang yang sedang terpuruk dong.

Sama sekali tidak!

Saya justru menjadi lebih bersemangat untuk mencapi mimpi- mimpi saya yang tadi sudah disebutkan tadi. Karena saya mereset ulang diri saya ke tujuan akhir, tujuan yang paling akhir.

Ridho Allah.

Ketika kembali ke mimpi- mimpi saya tadi, sekarang saya memiliki energi yang jauh lebih kuat. Energi motivasi yang jauh lebih kuat dari energi para motivator yang tidak pernah lelah, tidak pernah letih, selalu berbagi dan menyebar “virus” kebaikan.

Mari kita mulai dari tujuan akhir! Semoga Allah Ridho terhadap kita.

The Beginning is The End is The Beginning.

Syurga Untuk Istriku

Oleh: Diday Tea

Kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum

Beberapa jam yang lalu saya membaca sebuah kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum. Di website tersebut dicantumkan sumbernya dari Syarah ‘Uquudil lijjaiin karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Saya rangkum kisah tersebut dan saya interpretasikan sendiri dengan salah satu ceramah dari Ust. Abu Syauqi, tentang kisah yang sama.

Pada suatu waktu Rasulullah SAW menemui putrinya Fatimah yang sedang  menggiling sejenis padi-padian dengan gilingan yang terbuat dari batu sambil menangis.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kenapa dia menangis, Fatimah pun curhat kepada beliau.

“Ayahanda, aku ini anak Rasulullah SAW, anak seorang pemimpin negara, tapi lihatlah tanganku ini, sampai lecet- lecet karena harus menggiling gandum dengan gilingan batu!” Dengan diiringi isak tangis.

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda kepada putrinya:

“Jika Allah menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu, akan tetapi Allah telah menghendaki menuliskan beberapa kebaikan dan menghapus beberapa kesalahanmu dan mengngkat beberapa derajat untukmu, Ya Fatimah… Perempuan mana yang apabila menggiling gandum/tepung untuk suami dan anak-anaknya maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya satu kebaikan(pahala) dan mengangkatnya satu derajat.

Rasulullah SAW masih melanjutkan dengan menyebutkan banyak sekali keutamaan dan ganjaran yang akan didapat oleh seorang wanita yang menjadi istri dan ibu.

Silahkan langsung ditanyakan saja kepada mas Google untuk membaca kisah lengkapnya yang lumayan panjang.

Hikmah

Kisah di atas tentunya masih sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh kita yang hidup empat belas abad setelah periode Rasulullah SAW.

Kisah ini akan memiliki hikmah yang lebih istimewa dengan para istri yang suaminya bekerja di negeri orang. Ada paradox yang terjadi. Ketika penghasilan suami dan taraf hidup suami mereka sangat berlebih jika dibandingkan dengan bekerja di negeri sendiri, sama sekali tidak mengurangi beban pekerjaan rumah tangga yang mereka lakukan. Sama sekali tidak mengurangi kesibukan dan beban mereka mengurus suami dan anak- anak. Yang ada malah bertambah dan berlipat- lipat, karena mereka harus melakukan segala sesuatunya sendirian.

Jika kita melihat sekilas memang seperti tidak adil untuk para wanita yang menjadi seorang istri dan Ibu. Saya yakin sekali yang paling syok adalah mereka yang sebelumnya terbiasa memiliki pembantu di rumahnya dan belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Apalagi mereka yang tadinya pernah bekerja, sebelum ikut hijrah mendampingi suami mereka.

Walau pun suami mereka sudah berusaha membantu pekerjaan rumah, selalu ada hal- hal yang tidak tergantikan perannya.

Ada sih pengecualian, untuk mereka yang sudah menempati posisi yang lumayan tinggi, bisa mengusahakan PRT di rumahnya. Itu pun tidak bisa merekrut PRT dari Indonesia, karena ada peraturan yang melarangnya.

Tetapi, untuk TKI dengan posisi teknisi biasa seperti saya, hampir mustahil bisa mendapatkan hal yang sama. Di samping prosesnya memang sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Malah pernah kudengar seorang istri berucap bahwa dia lebih baik tinggal di tanah air, gaji pas- pasan tapi bisa punya pembantu dan bisa hidup seperti seorang ratu yang tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Daripada berlimpah harta di negeri orang, tapi tetap harus “nginem” di rumah.

 

Lelah Tak Terbayangkan

Bayangkan saja, istri saya sudah bangun dari jam setengah empat pagi untuk menyiapkan seragam, bekal sarapan dan hal- hal yang saya perlukan untuk bekerja.

Setelah saya berangkat pun, dia masih harus menyiapkan sarapan, baju dan lain- lainnya untuk anak lelakiku yang sekolah.

Selepas si sulung berangkat ke sekolah, dia pun masih harus berlelah- lelah dan menghabiskan berjam- jam waktunya untuk merapikan hampir setiap sudut rumah yang berantakannya seperti kapal dibom, sisa- sisa anak- anak bermain semalaman.

Sarapan pun kadang tidak sempat ketika rumah masih acak- acakan, tapi si kecil sudah terduduk bangun di atas kasur kecilnya dan merengek- rengek meminta susu coklat kegemarannya.

Ketika si kecil bangun pun , rumah yang sudah rapi jali, kembali menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam hitungan menit saja.

Pada hari- hari saya bekerja dan si sulung sekolah, sejak bangun tidur, hingga tidur lagi, istriku selalu terlihat sibuk. Hanya sesekali saja kulihat dia bisa bersantai.

Hanya ketika aku dan si sulung libur saja, dan ketika kami sekeluarga pergi keluar rumah kulihat dia bisa sepenuhnya bebas dari pekerjaannya sehari- hari.

Ketika dia masih bekerja pun, tidak mungkin dia sampai selelah itu. Jam kerja kan sudah pasti, dan dia bisa kapan saja beristirahat di antara pekerjaannya.

Di rumah? Jam kerjanya hampir dua puluh empat jam. Istirahat pun tidak menentu, karena harus selalu siap sedia ketika anak- anak membutuhkannya.

Hebatnya lagi, dia sangat jarang mengeluh.

Ahem, terlalu berlebihan dan sangat mustahil banget ya kalau memang istri saya tidak mengeluh. Padahal sih sering banget. Hehehe…

Tapi periode dramatis yang diwarnai tangisan, keluhan, ratapan dan terkadang pertengkaran itu hanya terjadi di periode beberapa bulan pertama istriku tiba di Qatar.

 

Sebuah Jawaban

Berikut adalah curahan hati yang saya edit dan saya dramatisir dari seorang Istri merangkap Ibu Rumah Tangga yang menemani suaminya yang bekerja di Qatar.

Suamiku tercinta, kalau hanya menggugu nafsu ingin hidup seperti seorang ratu, atau sekedar menghindari beratnya tugas seorang ibu rumah tangga, aku pasti sudah minta pulang sejak dulu, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di negeri padang pasir ini. Karena sejak dari pesawat sejauh mata memandang hanya pasir saja yang nampak di pelupuk mataku ini.

Suamiku, sejujurnya aku tadinya sangat keberatan untuk meninggalkan pekerjaanku karena aku sudah bertahun- tahun terbiasa ditunggu di rumah, bukan menunggu seseorang di rumah.

Suamiku, sejujurnya dulu aku sedih tak terhingga karena harus kukubur dalam- dalam impianku untuk menjadi wanita karir dan meraih posisi setinggi mungkin di perusahaan tempatku bekerja.

Suamiku, sejujurnya aku panik ketika harus memasak dan mencuci piring, karena sebelumnya aku hampir tidak pernah memasak. Selalu ada yang memasakkan untukku sepulang dari pekerjaan.Apalagi mencuci piring. Tanganku saja langsung gatal- gatal ketika pertama kali mencuci piring dengan sabun pembersih khusus piring itu. Sampai sekarang pun aku masih harus memakai sarung tangan ketika mencuci piring.

Suamiku, Aku sudah bertekad bulat meniatkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan cara berbakti kepada suami, sejak  Aku memutuskan untuk menerima pinanganmu dan menyerahkan surat pengunduran diriku kepada atasanku. Tidak kupedulikan lagi berjuta bujuk rayu atasanku yang berusaha mencegahku untuk mengundurkan diri.

Sambil bersabar ketika sepenat apa pun kepala ini harus menahan kantuk dan letih ketika berusaha memisahkan kedua anak kita bertengkar memperebutkan sesuatu, aku selalu berdoa semoga itu menjadi pahala kebaikan untukku dan untukmu.

Sekuat tenaga Aku tahan tangisku, agar tidak ada air mata yang jatuh menetes di depanmu ketika menahan betapa pedihnya luka sayatan bekas operasi caesar sehabis melahirkan si kecil, agar engkau bisa tenang pergi bekerja.

Aku buka cakrawala pikiranku dengan membuka jendela internet yang terbuka lebar- lebar ketika aku merasakan kejenuhan yang luar biasa, merasakan kesendirian dan kesepian yang luar biasa ketika seharian dan semalaman kamu tidak ada di rumah.

Aku paksakan diriku untuk membaca salah satu buku di antara ratusan buku yang kau bawa dari Indonesia, walau pun sebenarnya sejak dulu aku sama sekali tidak suka membaca, ketika aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan di waktu luangku.

Aku temui keluargaku dan keluargamu di dunia maya dan melalui pulsa telepon, jika rinduku kepada mereka sudah tak tertahan lagi.

Kubuka- buka saja jadwal mudik, dan foto- foto ketika kita sedang berliburan di Indonesia dan website maskapai penerbangan yang selalu menerbangkan kami pulang, ketika aku dilanda rindu setengah mati kepada kampung halaman.

Selalu kuajak kamu pergi ke taman- taman yang luar biasa indahnya di Qatar, ketika aku kangen indahnya pemandangan hijaunya tanah airku.

Selalu kupandang mobil yang kau kemudikan berlalu keluar garasi dari balik celah sempit tirai di ruang ruang tamu, dan selalu kuingat betapa mudahnya kamu memberikan apa yang istri dan anak- anaknya inginkan ketika musim SALE dan diskon melanda mall- mall di Qatar, jika aku sedang tergoda utuk meratapi dan mengeluh betapa melelahkannya mengurus anak- anak jika kamu tidak ada di rumah.

Selalu kuingatkan diriku bahwa sabarku ini bisa menjadi tiket ke syurga, ketika kuhapus setiap tetes keringat yang menetes di pelipisku ketika aku sudah sampai di puncak kelelahan membereskan “hasil karya” kedua anak- anakku di setiap sudut rumah.

Tapi maafkan aku suamiku sayang, aku melakukan semua itu bukan untuk kamu.

Aku bersabar karena itu semua adalah ibadahku kepada Allah..

Aku ingin menjadi seperti Fatimah Az Zahrah,  yang ditemani oleh batu gilingan gandumnya ke Syurga.

Kupersembahkan tulisan ini untuk para Istri dan Ibu luar biasa yang berada di Qatar, serta di mana pun di muka bumi ini. Semoga Allah menghadiahkan syurga sebagai ganjaran dari setiap detik waktu yang kalian habiskan, dan setiap titik keringat yang menetes untuk mengurus suami dan anak- anak kalian.

Doha, 3 Januari 2013

Usus Buntu Gadungan

 

“Kondisi tubuh seringkali bergantung kepada suasana hati. Hati yang galau akan membuat tubuh menimbulkan penyakit yang tidak jelas.

Diagnosa Awal

Baru saja kurebahkan tubuh kerempengku yang sudah kelelahan sepulang dari shift malam itu di atas kasur palembang berwarna biru yang sudah lepek , ketika tiba- tiba perutku sebelah kanan bawah terasa sakit luar biasa. Sakit dan pedih seperti ada puluhan jarum yang menusuk- nusuk. Seperti ada yang meregangkan otot- otot di dalam sana.

Sakit itu tidak seperti biasanya. Kalau hanya mules dan pedih di ulu hati sih, itu sudah biasa. Dengan statusku sebagai anak kos, tentu saja makan sering tidak teratur.

Ketika sakit ini tiba, aku sedikit khawatir, karena aku pernah membaca bahwa sakit perut kanan bawah itu mungkin adalah gejala dari infeksi usus buntu.

Gawat..! Aku harus segera ke klinik nih!”

Sambil menahan sakit, kupaksa tubuhku untuk berdiri. Dan kubawa tubuh ini menuju ke pangkalan angkot terdekat.

Untungnya tidak lama kemudian sudah ada angkot berwarna Ungu yang selalu setia mengantarku ke mana pun tujuanku di Cilegon itu yang menghampiri.

Setibanya di klinik itu, aku langsung mendaftar ke dokter jaga, karena di situ tidak ada dokter spesialis penyakit dalam.

“Selamat pagi Dokter!” Sapaku sambil meringis dan memegang perut dengan kedua tangan, dan agak sedikit membungkuk.

“Selamat pagi! Sini langsung berbaring!” Dokter muda yang mengenakan jilbab berwarna pink itu langsung terlihat khawatir ketika melihatku meringis kesakitan.

“Kenapa perutnya?’ Tanyanya.

“Tidak tahu Dok, tadi tiba- tiba perut saya, bagian kanan bawah terasa sakit banget, pedih!” Kataku sambil membaringkan badanku di atas ranjang pemeriksaan.

Ibu Dokter tidak menjawab. Dia hanya mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah, lalu melakukan prosedur rutin.

“Tolong buka kausnya!” Pinta Ibu Dokter.

Setelah itu dia langsung menekan perutku, tepat di bagian yang sakit.

“Ahhh…..!” Aku langsung bangkit, dan hampir terduduk.

“Maaf. Sakit banget ya?” Tanya Ibu Dokter.

“Saya harus memeriksa dengan cara seperti ini. Karena saya takutkan kamu terkena infeksi usus buntu” Katanya lagi.

“Tahan ya!” Katanya sambil menekan lagi perutku.

“Ketika ditekan sakit?” Tanyanya lagi.

“Sakit banget…” Jawabku lemas.

“Ketika tekanannya dilepas, sakit juga?” Dia bertanya lagi.

“Iya Dok, sakit juga..” Kujawab lagi.

Kali ini muka Ibu Dokter mulai terlihat khawatir.

“Saya cek satu parameter lagi ya!” Katanya sambil mengangkat kaki kananku, sampai paha kananku hampir menempel ke perutku.

“Ahhhh….!” Aku hampir berteriak, karena sakit di perutku hampir sama dengan ketika perutku ditekan.

“Waduh, gawat Pak! Ini positif usus buntu!” Katanya dengan sedikit panik.

“Langsung saya rujuk ke rumah sakit ya! Ini harus segera dioperasi, kalau tidak bisa berakibat fatal!” Katanya dengan sedikit panik, dan sambil terburu- buru menulis surat rujukan ke rumah sakit terbesar di kota Cilegon.

Aku tidak bisa berkata- kata dan hanya menatap kosong langit- langit ruangan periksa.

“Ini suratnya, silahkan langsung saja ke rumah sakit ya! Ingat, ini ini harus dioperasi sekarang juga, kalau tidak bisa gawat!” Kata Ibu Dokter itu, masih dengan raut muka yang panik dan cemas.

“Iya Dok, makasih banyak ya..” Jawabku dengan lemas dan melangkah gontai ke luar dari ruangan periksa itu.

Untuk beberapa saat, aku biarkan tubuhku mematung di atas kursi halte di depan klinik. Tatapanku kosong menatap kertas rekomendasi rawat inap dari dokter di kliniktadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Waduuh, gawat ini mah euy! Aku kena usus buntu..!” Umpatku dalam hati sambil tetap meringis menahan pedih di perutku yang tak kunjung reda.

Yang ada di pikiranku saat itu hanya Ibuku. Ibuku adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Minimal dia bisa bertanya kepada dokter di sana. Secepat kilat kupijit nomor hape ibu.

Second Opinion

            Alhamdulillah, ternyata keputusanku untuk menelepon ibuku sangat tepat. Ternyata bukannya langsung menyuruhku untuk pergi ke rumah sakit untuk dioperasi sesuai rujukan dokter di klinik, aku malah disuruh untuk mencari second opinion. Ibuku menyuruhku untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam.

Akhirnya aku tetap pergi ke rumah sakit.

Anehnya, rasa pedih di dalam perutku agak berkurang. Sepanjang perjalanan di dalam angkot berwarna Ungu itu, rasa sakitku sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Sesampainya di rumah sakit, langsung saja aku mendaftar di bagian spesialis penyakit dalam.

Tidak pake lama, giliranku pun tiba.

Aku terangkan saja pada dokter spesialis itu kejadian tadi pagi dan termasuk rekomendasi untuk “operasi dengan segera” dari sang dokter di klinik dekat rumah kontrakanku.

Dokter yang perawakannya tidak jauh beda seperti dokter selebritis spesialis kandungan, dokter Boyke itu, melakukan prosedur pemeriksaan yang sama. Dari tes nyeri tekan dan nyeri lepas, sampai lutut kananku yang diangkat ke arah perut. Alhamdulillah, pada saat pemeriksaan kali ini, rasa sakit itu sudah jauh berkurang. Tapi tetap saja masih ada sakit dan pedih.

Walau pun begitu, tapi aku tetap harus menjalani prosedur pemeriksaan yang lengkap, untuk memastikan apa penyebab rasa nyeri yang melanda begitu hebat di dalam perutku itu.

            Aku harus menjalani semua tes laboratorium, dari urine, darah hingga feses.

Kata pak Dokter, hasilnya akan bisa diketahui setelah dua hari. Tapi, hari itu juga aku harus menjalani tes yang lain, tes Ultrasonografi (USG). Ya! Anda tidak salah baca.Aku harus menjalani USG, layaknya ibu- ibu hamil saja.

Dan benar saja, ketika antri di bagian USG, aku mengantri bersamaan dengan para ibu- ibu hamil. Hanya aku saja pria yang duduk di situ.

Walau pun aku memasang pose yang sama dengan ibu- ibu itu-duduk menyender di kursi, muka menunduk, dan tangan sesekali mengelus- ngelus perut-tapi tetap saja, aku tetap terlihat mencolok di dalam antrian itu. Ibu- ibu hamil itu malah cekikikan dan berbisik- bisik tidak jelas melihatku yang berwajah muram, sambil mengusap- ngusap perutku yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit lagi.

Hasil USG pun ternyata tidak menunjukkan masalah apa- apa.

Dan setelah semua hasil selesai pun, dokter belum bisa memutuskan apa yang menyebabkan rasa sakit di perutku. Walau pun pada akhirnya dia mengambil kesimpulan, itu pun hanya sebatas kemungkinan, bahwa (mungking) ada otot di dalam perutku yang robek.

Kutinggalkan rumah sakit dengan kepala dipenuhi keraguan.

“Otot yang robek..?” Ah, benar- benar tidak jelas.

            Malam itu juga, kuputuskan untuk pulang ke Bandung.

Dr Li

Sebelum subuh, aku sudah tiba di terminal Leuwipanjang dan di sambut oleh sejuknya udara kota Bandung ketika pintu bis terbuka dengan perlahan. Setiap kali udara sejuk kuhela masuk ke dalam paru- paruku, badanku terasa semakin segar.

Setelah beristirahat sebentar, sholat subuh dan sarapan bubur ayam idolaku di kampung halaman, Ibu segera mengajakku ke rumah sakit.

Tidak lupa kubawa juga sebundel hasil Xray, USG, Hasil tes darah, urine dan feses kubawa dengan untuk diperlihatkan ke dokter Li.

Dokter Li ini adalah dokter yang sudah merawatku sejak bayi. Tongkrongannya sih menurutku lebih mirip ahli kungfu. Tubuh yang tinggi besar, tatapan mata yang tajam, serta sepasang tangan yang kokoh tidak menampakkan kalau dia sudah berumur lebih dari 80 tahun (kata ibuku sih). Tadinya sih aku tidak percaya, karena kulihat dia setiap tahun selalu mengikuti acara lomba lari 10 kilometer yang diadakan oleh rumah sakit tempat ibuku bekerja. Dan tidak hanya sekedar berpartisipasi, dokter Li betul- betul berlomba dengan peserta yang lain.

“Aa, ayo, itu sudah dipanggil sama dokter Li!” Tak sampai lima menit, aku sudah dipanggil oleh ibu ke dalam ruangan dokter Li.

Ketika aku dan Ibu memasuki ruangan, kulihat dokter Li sedang membolak- balik lembar demi lembar hasil testku di rumah sakit Cilegon.

Semoga tidak ada yang serius..” Gumamku perlahan.

“Tolong suruh anak kamu tiduran di ranjang periksa..!” Kata dokter Li sambil menyimpan setumpuk kertas dan hasil X-Ray dan USGku di atas meja kerjanya yang mungil.

Tak berapa lama, dokter Li menghampiriku dan memegang pergelangan tanganku. Persis seperti adegan ketika Wong Fei Hung memeriksa denyut nadi muridnya yang cedera. Dan ternyata hanya itu saja yang dia lakukan.

Aku heran.

Kali ini dia sama sekali tidak menggunakan stetoskopnya, apalagi melakukan pemeriksaan gejala usus buntu seperti dokter di Cilegon.

Seperti biasanya, dokter Li hampir tidak pernah bicara secara langsung kepadaku, selalu saja dia berbicara kepada ibuku.

“Gimana Dok, anak saya kenapa?” Tanya Ibuku penasaran.

Dokter Li, tidak menjawab. Hanya matanya saja yang menatapku tajam, tapi segurat senyum tiba- tiba terbit di ujung bibirnya, walau pun tidak sampai bisa mengangkat pipinya yang sudah keriput dimakan umur.

Neng, anak maneh mah lain gering apendisitis, mun henteu keur patah hati, pasti keur hayang kawin..!” Katanya dengan kencang, sambil tiba- tiba tertawa terkekeh- kekeh dan setengah melemparkan tumpukan dokumen hasil testku di Cilegon ke arah aku dan ibuku.

(Neng, anak kamu itu bukannya sakit apendisitis/usus buntu, kalau ngga lagi patah hati, pasti dia lagi pengen kawin..!)

Hadeuuh, dari mana dokter Li tahu kalau sejak seminggu yang lalu aku sedang galau karena gadis yang kucintai dinikahi sama orang lain ya?