Demam One Day One Juz

“Sejuta alasan bisa kita cari untuk membuat kita tidak melakukan sesuatu, padahal kita hanya perlu satu alasan untuk melakukan hal tersebut: niat.”

Pesimisme     

Biasanya setiba dari kerja shift malam, saya langsung tidur beberapa jam untuk mengganti waktu tidur yang hilang. Tapi tadi pagi saya harus memaksa mata ini agar terus terbuka. Seringnya sih saya berusaha tetap terjaga dengan bermain game sepakbola di komputer. Karena sebelum jam sebelas saya harus menjemput anak ke sekolah.

Ketika jari- jemari saya sedang hut-het menggenggam joystik, berjuang untuk menaklukan Real Madrid dengan memainkan The Blues, ada seorang teman di Indonesia yang mengirim pesan via Whatsapp: “Kang Dedy, apa dah gabung sama ODOJ One Day One Juz?” sambil melampirkan undangan dari koordinator group ODOJ dan tata cara pendaftaran.

Gampang sih, hanya tinggal menghubungi nomor kontak koordinator via Whatsapp.

Jujur sih, saya langsung pesimis duluan.

“Ngga mungkin lah saya bisa ngaji satu juz satu hari.? Saya kan kerja? Saya kan sibuk? Saya kan males? Itu kan butuh komitmen? Saya kan sibuk? Saya kan kerja? Saya kan ngga ada waktu? Ah, pastinya mah ngga mungkin pisan

Pertanyaan- pertanyaan yang melemahkan semangat itu langsung berkecamuk tak beraturan di dalam pikiran saya.

Di bulan puasa saja saya sering luput mencapai target satu juz sehari. Kalau pun akhirnya bisa tamat, itu pun karena saya sering mencuri start beberapa juz sebelum bulan puasa.

Apalagi ini bulan biasa. Pabaliut (bentrok tidak beraturan-Sundanese)  dengan jadwal kerja, jadwal kuliah, jadwal ujian anak. Boro- boro kepikiran ngaji, walau pun seayat. Satu juz satu hari jadi terdengar sebagai ide yang sangat absurd dan mustahil.

Tapi, memang Allah Maha Memberi Hidayah dan Maha Membolak- balik Hati.

Pagi tadi tiba- tiba saya memutuskan untuk mendaftar saja ke nomor kontak yang dikirim oleh teman saya tadi. Niatnya sih tadinya hanya mencoba saja, toh kalau pada akhirnya tidak sanggup, ya tinggal keluar saja dari grup. Gitu aja kok repot.

Tak sampai satu jam, saya sudah mendapat konfirmasi untuk bergabung dengan grup Whatsapp ODOJ nomor ke sekian.

Peraturannya sangat sederhana.

Di dalam satu grup, ada tiga puluh orang anggota. Satu orang kebagian satu juz untuk dibaca. Jadi, setiap hari satu grup ini akan menamatkan Al Qur’an! Dan setiap anggota otomatis akan khatam Al Qur’an setiap bulan.

Dengan tetap memelihara perasaan mustahil yang sudah muncul sejak pertama kali menerima pesan dari teman saya tadi, ya saya putuskan untuk setidaknya mencoba.

Koordinator di grup saya mengatakan bahwa ngaji semampunya saja dulu. Karena nanti ada sistem back up  dan lelang untuk anggota yang tidak bisa memenuhi target membaca satu juz pada hari itu.

Setelah Zhuhur, akhirnya saya paksakan diri membuka lemari buku dan meraih kotak kecil yang sudah mulai berdebu, berisi Al Qur’an saku per juz. Lalu saya coba untuk mulai membaca. Tetap saja si perasaan pesimis itu masih menggelayut erat di pikiran saya.

“Ah sebisanya aja deh, lagian tadi juga saya sudah bilang hari ini masih kerja shift malam” Biasa, hawa nafsu kan memang begitu. Hehehe.

Tadi saya kebagian juz sembilan.

Dan benar saja, baru juga satu halaman, mata langsung terasa sepet dan bibir langsung kering dan terasa menebal. Langsung saya simpan Al Qur’an juz sembilan  tadi di atas keyboard.

Ya, berhubung menu utama PES 2013 masih terbuka di komputer, saya lanjutkan deh dendam perjuangan mengalahkan Real Madrid yang belum tuntas tadi.

Di level World Class, saya hampir selalu dipecundangi. Saya hanya bisa menang ketika memakai Barcelona dan Chelsea, itu pun menang tipis saja, paling 1-0 atau 3-2.

Setelah beberapa kali mencoba, dan masih saja keok lagi keok lagi.

Pokoknya sampai aral subaha (putus asa-Sundanese) deh, karena dibantai terus- terusan.

Saya pun akhirnya menyerah karena jempol kiri sudah hampir keram.

Karena wudhu saya belum batal, ya saya coba lanjutkan lagi program One Day One Juz tadi.

Kali ini lumayan, saya bisa tahan delapan halaman.

Ketika saya tidak kuat, ya saya berjuang lagi untuk mengalahkan Real Madrid.

Dan tetap saja dibantai lagi, dibantai lagi. Dari belasan kali bertanding sejak pagi tadi, saya hanya bisa menang dua kali.

Kalau sudah mentok, ya balik lagi ke Al Qur’an.

Selama waktu itu, sudah ada tiga atau empat orang yang sudah setor ke grup ODOJ saya. Sudah deh, makin pesimis lagi kalau hari ini saya bisa membaca satu juz.

Diselingi oleh sholat Ashar, ada mungkin empat kali saya bolak balik antara joystik  Al Qur’an.

Eh, ternyata!

Tahu- tahu tangan saya tinggal memegang satu lembar saja dari Al Qur’an per-juz itu.

Alhamdulillah!

Dan akhirnya sebelum berangkat kerja, saya sudah bisa konfirmasi di grup ODOJ saya:

“Alhamdulillah, juz 9 selesai. Doha-Qatar”

Optimisme

             Saya tidak menduga sama sekali ternyata saya bisa membaca satu Juz dalam sehari. Eh, tidak sehari. Total waktu yang saya habiskan mungkin sekitar empat puluh lima menit sampai satu jam. Itu pun karena saya masih belum terlalu lancar membaca ayat- ayat yang jarang saya baca.

Ternyata sama sekali tidak menyita banyak waktu seperti yang saya kira.

Saya ternyata hanya memotong sedikit waktu luang yang biasanya saya isi untuk bermain game dengan alibi untuk melatih konsentrasi (Modus).

Perasaan mustahil itu hanya tipu daya hawa nafsu dan kemalasan saya saja.

Ternyata mental block saya yang menjadi penghalang terbesar. Setelah saya coba, dan itu pun tidak susah- susah amat, tidak harus sampai berjuang mandi peluh dan bersimbah keringat serta mengalami perang batin seperti di sinetron- sinetron, saya ternyata bisa membaca satu Juz Al Qur’an. Padahal sejak bulan puasa, membaca satu ayat pun mungkin hanya seminggu sekali. Harap diingat ya, satu juz itu ada dua belas lembar, atau dua puluh halaman, dan pastinya puluhan ayat dong!

Sejuta alasan bisa kita cari untuk membuat kita tidak melakukan sesuatu, padahal kita hanya perlu satu alasan untuk melakukan hal tersebut: niat.

Subhanalloh, Maha Suci Allah Yang Maha Memberi Hidayah, Maha Membolak- balik hati kita.

Sulit memang, tapi pasti bisa. Jika kita sudah berniat, pasti akan Allah mudahkan, akan Allah beri jalan, dan Allah beri kekuatan.

Ayo segera bergabung dengan grup One Day One Juz terdekat!

Dan rasakanlah bagaimana nikmat dan ringannya membaca Al Qur’an satu juz  satu hari.

NB: per tanggal 2 Desember, 17:40 sudah ada total 257 grup ODOJ=7710 member. Dan terus bertambah!

@didaytea 0512132329

Iklan

Catatan Ramadhan Hari Kedua

 

Tantangan sesungguhnya untuk shalat tarawih malam ini hari ini akhirnya saya hadapi juga.

Kalau kemarin saya dengan terpaksa menyetir ke tempat kerja. Tadi saya naik bis jemputan.

Keuntungannya sih bisa beristirahat di dalam bis, persiapan untuk sholat tarawih. Tapi bis baru meluncur ke arah Doha, jam enam dua puluh lima, sehingga paling cepat sampai di tempat pos jemputan saya jam setengah delapan. Itu pun kalau tidak macet.

Kerugiannya, jelas rugi waktu. Ketika menyetir kemarin,  saya bisa keluar dari tempat kerja tepat jam enam atau kurang sedikit, sehinggasaya sudah tiba di rumah sebelum jam tujuh malam. Tadi saya tiba di rumah hampir jam delapan, sangat mepet dengan waktu Isya. Karena saya harus sholat magrib dulu di mesjid dekat tempat pos jemputan bis.

Lelahnya tubuh dan habisnya energi karena iftar (berbuka puasa) hanya beberapa butir kurma dan setengah botol minuman elektrolit yang dibekalkan istri saya tadi subuh hampir saja bisa menahan saya untuk tidak melangkahkan kaki saya ke mesjid.

Tapi saya sudah bertekad kalau Ramadhan tahun ini harus jauh lebih baik dari tahun kemarin.

Guyuran air shower yang panas tanpa memerlukan pemanas, karena di sini sedang musim panas langsung memulihkan hampir setengah energi di tubuh saya.

Cukup kuat untuk menghela kaki untuk melangkah membawa tubuh saya ke mesjid yang hanya berjarak seratus meter saja dari rumah saya.

Alhamdulillah, Allah telah memberi kekuatan.

 

 

 

 

Tarawih Yang Hening

 

Malam ini adalah pertama kalinya saya bisa sholat tarawih berjamaah di masjid di malam pertama bulan Ramadhan, padahal ini Ramadhan ke enam yang saya jalani di negeri orang. Kebanyakan sih penyebabnya karena jadwal kerja yang pas sekali bertepatan dengan malam pertama Tarawih, atau bertepatan dengan jadwal mudik saya ke Indonesia.

 

Alhamdulillah, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir bisa saya ikuti dengan sempurna.

 

Saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan, antara suasana sholat Tarawih, terutama malam pertama di Qatar, dibandingkan dengan di Bandung, atau Cilegon, dua kota tempat saya hidup sebelum hijrah ke sini di tahun 2008.

 

Tarawih di Bandung 

 

Suasana mesjid di Bandung ketika Tarawih malam pertama tidak jauh berbeda dengan pasar malam. Mesjid yang penuh sesak dengan jamaah dari segala kelompok umur dan kelamin. Dari bayi yang masih merah, sampai kakek- kakek dan nenek- nenek yang jalan pun sudah harus memakai iteuk (tongkat), dari ABG- ABG alay yang centil- centil sampai Ibu- ibu jamaah pengajian pun hadir tanpa alpa. Dari anak- anak TPA sampai anak- anak yang sehari- harinya bandel pun anda bisa lihat hadir di mesjid.

 

Di mesjid dekat rumah saya di Bandung, jamaah sholat Isya paling banyak hanya empat atau lima baris.

 

Tapi di awal Ramadhan sampai luber ke halaman luar mesjid, ramainya mengalahkan suasana ketika sholat Jumát. Bahkan setengah jam sebelum adzan Isya, mesjid sudah riuh rendah ribut dan pastinya ribet oleh penuh sesaknya para jamaah tahunan ini.

 

Dan tentu saja jangan lupakan kehadiran pemeriah suasana yang bahkan selalu hadir lebih dulu dibanding jamaah mesjid itu sendiri.

 

Tukang Cuankie.

 

Tukang Batagor.

 

Tukang Cilok.

 

Tukang Bubur sumsum.

 

Tukang Bakso

 

Mereka tanpa dikomando akan berjajar rapi di sepanjang gang di luar pelataran mesjid.

 

Semangat yang sangat luar biasa hebat.

 

Walau pun seiring dengan berlalunya hari- hari di bulan Ramadhan, isi mesjid mulau menyusut, tapi suasana seperti itu tidak pernah saya rasakan dan nikmati lagi, bahkan ketika di Cilegon.

 

Tarawih di Doha

 

Suasana tarawih awal Ramadhan di Doha berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana di Bandung.

Tulisan ini saya buat segera setelah saya tiba dari mesjid.

 

Biasanya, sholat Isya berjamaah di sini akan dimulai setengah jam setelah adzan Isya. Cukup lama memang, tidak seperti di Indonesia, yang jarak antara adzan dan iqomah paling lama sepuluh menit, kadang molor sih sampai lima belas menit, untuk menunggu selesainya sholat jamaah tidak tahu diri yang kadang datang terlambat, tapi masih saja memaksakan diri untuk sholat sunah tahiyatul mesjid. Padahal dia seharusnya tahu kalau dia datang terlambat.

Kalau di sini, begitu waktu iqomah tiba, muadzin tak akan terhentikan, walau pun ada jamaah yang masih sholat.

 

Tidak seperti biasanya, kali ini baru seperempat jam, muadzin sudah mengumandangkan iqomah. Mungkin karena terbiasa selama setahun jarak antara adzan Isyadan iqomah selalu dua puluh menit, bahkan kadang setengah jam, banyak jamaah yang terlambat.

 

Ketika imam takbir pun, hanya baris pertama yang terisi, itu pun tidak penuh. Tidak bisa mengalahkan penuhnya mesjid ketika sholat Jumát.

 

Dan ketika salam, mesjid baru terasa ramai karena kali ini ada enam atau tujuh baris yang penuh, dari kapasitas mesjid yang sepuluh atau sebelas baris.

 

Sepi dan sunyi.

Selama delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat sholat witir itu, nyaris hanya suara imam yang terdengar. Hampir tidak ada suara riuh rendah Ibu- ibu yang mengobrol di sela- sela dua rakaat Tarawih.

Walau di mesjid ada tempat khusus untuk wanita, tapi tetap, hanya hening yang ada.

 

Paling ada suara tangis bayi, itu pun tidak terlalu lama.

 

 

Kangen Kampung

 

            Dari sisi kekhusyuan sholat, tentu saja suasana sholat di Doha jauh lebih kondusif dan mendukung, karena jamaah sholat tidak terganggu oleh keributan di dalam dan di luar mesjid.

 

Tapi, dari sisi semangat, jamaah di sini terkesan adem- ayem saja. Tidak terasa kekuatan semangat ketika menghadapi Ramadhan.

 

Tidak terasa semangat luar biasa seperti jamaah sholat Tarawih di Bandung yang saya ceritakan tadi.

 

Di sini Butuh energi dan kekuatan yang lebih untuk bisa mempertahankan semangat sholat Tarawih.

 

Sebenarnya ada sih tempat yang merupakan perpaduan antara semangat di mesjid dekat rumah saya dulu di Bandung, dan kekhusyuan suasana shalat seperti di Doha.

 

Salah satunya di mesjid Daarut Tauhiid Bandung.

 

Ah, jadi kangen weh kangen ka Bandung kalau sudah begini mah!

 

 

Doha, 09012013

1 Ramadhan 1434H

 

http://www.didaytea.com

Diary Ramadhan Day 1

Setiap menjelang Ramadhan seperti ini, bahkan berminggu- minggu sebelumnya, pati selalu ada target yang ingin saya capai.

O iya, ramadhan kali ini adalah ramadhan keenam yang insyaallah akan saya lalui di Doha, Qatar.

Sejujurnya sih, selama lima Ramadhan yang telah saya lalui di Qatar, prestasi amalan saya sangat buruk.

Sholat tarawih tidak pernah full tiga puluh hari di mesjid. Membaca Al Qurán tidak pernah sampai setengahnya. Apalagi Itikaf, selama lima kali Ramadhan itu tidak ada satu hari pun.

Sejuta alasan bisa saya cari dan saya buat sih. Dari jadwal shift saya yang dua belas jam. Atau kondisi di rumah yang hanya berempat, dengan istri dan kedua anak-anak saya. Yang menyebabkan kurangnya waktu luang untuk beribadah ketika ada di rumah. Saya malah lebih sering sibuk bermain- main dengan anak- anak, berkumpul, atau jalan- jalan ke mall dan taman di Doha.

Lima kali Ramadhan seperti berlalu begitu saja, terasa hampir tidak bermakna. Tidak seperti ketika di Indonesia. Terkadang saya menyalahkan suasana di sini yang kurang mendukung.

Padahal keadaan dan sarana pendukung yang saya miliki sekarang jauh lebih lengkap dibanding ketika masih di Indonesia.

Al Qurán ada di tablet saya, sehingga seharusnya saya bisa membacanya sepanjang perjalanan dari rumah ke tempat bekerja yang memakan waktu satu jam setengah.

Sudah ada istri yang selalu sigap menyiapkan sahur dan makanan berbuka saya ketika di rumah. Tidak harus pusing- pusing ketika saya hampir tujuh tahun menjadi anak kost di Cilegon, yang melakukan semuanya serba sendirian.

Saya bekerja di lab, sehingga lebih mudah untuk bisa mengambil waktu luang untuk bisa sholat Dhuha sebentar. Atau bisa meluangkan waktu juga untuk sholat tarawih ketika masuk bekerja shift malam.

Ah, lagi- lagi ini kegagalan saya mengalahkan kemalasan. Kali ini saya harus kuat! Saya harus menang mengalahkan kemalasan!

Di senja ini, untuk keenam kalinya, saya menyambut Ramadhan di Qatar, yang jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia.

Selamat datang wahai Ramadhan.

Ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna,

Agar dapat kulalui dengan sempurna

 

Doha, Qatar

090113 18:23

1 Ramadhan 1434H

Komitmen Ketiga

 “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya 

kebodohan.” (Imam Syafi’i)

            Ada salah satu penyesalan terbesar di dalam hidup saya. Ketika saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

Sampai hari ini, saya masih merasa nyaman dan aman dengan alibi, bahwa saya memilih untuk mengorbankan kuliah saya demi mendapatkan gaji puluhan kali lipat, demi melunasi hutang- hutang saya, demi membahagiakan orang tua saya, demi impian saya untuk segera menikah, dan masih banyak lagi.

Saya memilih untuk berhenti kuliah, karena banyak sekali SKS yang harus saya ambil untuk setidaknya bisa mengerjakan Tugas Akhir.

Dan baru hari ini, saya menyadari ternyata, alasan- alasan itu tidak terlalu kuat.

Penyebab utama saya tidak pernah berhasil menyelesaikan kuliah saya sebenarnya karena komitmen belajar saya yang lemah. Berjuta alasan telah saya buat untuk menjadi alibi kelemahan saya dalam berkomitmen untuk belajar.

Lemah Komitmen

Di kampus saya yang pertama, hanya ada tiga orang yang berstatus karyawan. Semua mahasiswa yang lainnya adalah mahasiswa reguler. Karena di kampus saya yang pertama belum ada kelas karyawan.

Selama tiga tahun lebih belajar di sana, sangat jelas terlihat, komitmen mereka jauh lebih hebat dan kuat dari saya.

Padahal saya sudah merasa berjuang dan berusaha luar biasa untuk bisa mengikuti jadwal kuliah reguler.

Durasi shift saya di pabrik yang pertama adalah delapan jam. Dengan jadwal 6-2, dua hari kerja pagi jam delapan malam, dua hari kerja siang jam empat sore, dua hari kerja malam jam dua belas malam.

Beberapa kali saya berada di luar rumah saya lebih dari dua puluh empat jam. Bayangkan saja, saya pernah kuliah dari pagi sampai sore. Sorenya harus berangkat bekerja shif siang. Eh, ternyata saya harus lembur sampai shift malam, dan pulang kerja besok paginya.

Padahal besok paginya ada beberapa jadwal kuliah yang tidak bisa ditinggalkan.

Walhasil, hari itu saya terpaksa numpang mandi di tempat kosan teman kuliah yang dekat kampus dan sore harinya sudah harus berangkat lagi bekerja shift siang.

Tapi perjuangan seperti itu ternyata masih kurang dibanding kedua teman saya itu.

Mereka hampir tidak pernah melewatkan setiap kelas atau praktek yang diikuti. Padahal jadwal kerja mereka hampir sama dengan saya. Tapi nilai- nilai mereka lumayan bagus, tidak sampai seperti saya yang harus mengulang Kalkulus 1 sampai tiga kali.

Mereka sering tinggal lebih lama di perpustakaan kampus sekedar untuk mendiskusikan tugas dan prosedur praktek.

Tidak seperti saya yang kadang- kadang hanya mengandalkan keberuntungan dan kecepatan membaca saya, di beberapa mata kuliah, saya dengan hanya muncul satu atau dua kali di kampus, tiba- tiba hadir lagi ketika UTS dan UAS. Parah.

Padahal mereka berdua lebih tua dari saya. Bahkan, sampai ada yang paling tua di antara kita, sudah beranak dua, malah disangka dosen ketika masuk kelas pertama kali. Ya jelas saja, dia tampangnya memang agak sangar, dengan kumis dan brewok di wajahnya, tidak ada seorang pun di dalam kelas itu yang menyangka dia adalah mahasiswa semester pertama?

Saya memutuskan untuk pindah kuliah dari kampus itu karena saya pindah kerja yang jam kerjanya normal, bukan shift. Tidak mungkin lagi saya bisa menghadiri kelas mahasiswa reguler dari pagi hingga sore.

Kampus Dua

 

            Di kampus saya yang kedua, saya mengambil kelas malam khusus karyawan. Dan ditambah hari Sabtu atau Minggu jika ada praktek.

Ternyata jauh lebih melelahkan.

Hampir setiap hari badan ceking saya hampir selalu terasa remuk redam kehabisan tenaga.

Saya bekerja di perusahaan Jepang yang notabene sangat sibuk. Dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, hampir tidak ada jam istirahat selain jam makan siang dan waktu sholat.

Belum lagi kalau sering terpaksa lembur karena pekerjaan yang belum selesai.

Hampir setiap hari saya pulang menjelang tengah malam. Saya bekerja di daerah Anyer, ngekos di Cilegon, tapi kuliah di Serang. Sekedar menghabiskan waktu di perjalanan saja sudah sangat melelahkan.

Hampir setiap kali masuk kuliah tubuh terasa tidak nyaman, karena gerah, badan terasa cepel (lengket) dan masih memakai seragam kerja. Ketika mahasiswa lain di kelas berpakaian rapi jali dan harum, saya masuk kelas dalam keadaan kucel kumel kuleuheu (dekil), dan sedikit bau apek. Saya pun tahu diri untuk tidak mengambil tempat duduk di depan, sehingga terpaksa harus duduk mojok di sudut kelas.

Pernah suatu malam, ketika saya baru saja selesai kuliah tiba- tiba diminta untuk datang ke pabrik karena ada masalah. Hanya saya yang bisa datang, karena orang lab yang lain sedang cuti dan tidak bisa datang.

Walhasil, dengan seragam yang sama dengan yang tadi pagi, dan dengan tubuh yang sudah terasa lengket penuh dengan garam dari keringat yang mengering saya harus berangkat lagi ke tempat kerja. Dan kembali bekerja lagi sampai pagi.

Dua semester awal saya masih bisa memaksa diri untuk mengikuti pola hidup seperti itu.

Tapi setelah itu akhirnya saya mulai menyerah, saya menyerah dengan komitmen saya yang kedua untuk bisa menyelesaikan kuliah saya.

Kuliah mulai jarang. Sampai puncaknya ketika uang SPP juga mulai tidak terbayar. Biaya kuliah di kampus saya yang baru ini hampir tiga kali lipat lebih mahal dari kampus yang sebelumnya yang sudah berstatus Universitas Negeri. Kampus ke dua ini kampus swasta yang kampus pusatnya ada di Jakarta.

Ada tiga teman satu angkatan saya di kampus yang terakhir, pada akhirnya bisa menyusul saya ke Qatar, tapi mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Bedanya mereka dengan saya, ya itu tadi, masalah komitmen. Walaupun mereka bekerja di waktu yang sama dengan saya, sibuknya sama dengan saya. Mereka bahkan lebih sibuk karena mengambil jurusan Teknik Kimia, tidak sesibuk jurusan Teknik Industri yang saya ambil.

Toh, pada akhirnya mereka lulus juga.

Dan pada akhirnya juga, mereka bisa menyusul saya ke bekerja di luar negeri.

Hampir dapat dipastikan, peluang mereka untuk mengembangkan karir di perusahaannya lebih terbuka lebar. Dengan posisi saya yang sekarang, dan latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SMK, perkembangan karir yang paling mungkin ya hanya sekedar promosi naik Grade. Diperlukan kualifikasi yang lebih untuk menjadi level yang lebih tinggi, bahkan di posisi yang ada di departemen yang lain,  pendidikan setingkat sarjana menjadi syarat yang hampir mutlak.

Secara gelar akademis, tentu saja tidak ada gelar apa pun yang saya dapat, karena sama sekali tidak lulus. Secara keilmuan pun, ilmu yang saya dapat dari kuliah di jurusan Teknik Industri hanya sedikit sekali dibanding lamanya kuliah yang delapan semester.

Pengorbanan energi dan uang, serta perjuangan saya bertahun- tahun seolah- olah menguap habis begitu saja ketika saya memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah.

Memang sih ada alasan yang kuat, karena saya tidak melewatkan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup untuk bisa bekerja ke luar negeri.

Komitmen Ketiga

 

Di pertengahan tahun dua ribu sepuluh, untuk ketiga kalinya saya berkomitmen untuk kuliah lagi. Kali ini saya memilih jurusan Manajemen, di Universitas Terbuka. Selain karena tidak ada jurusan teknik, pertimbangan bahwa jurusan Teknik Industri memiliki banyak mata kuliah yang sama dengan Manajemen juga menjadi faktor penentu.

Alhamdulillah, kali ini hampir tidak ada kendala.

Tidak ada kendala masalah biaya, karena UT tergolong murah.

Tempat ujian dekat dengan rumah saya.

Semua buku kuliah yang saya perlukan sampai lulus sudah saya beli sejak awal masa pendaftaran.

Dan justru karena tidak ada kendala ini, diri saya dituntut untuk memiliki komitmen yang lebih kuat agar bisa menyelesaikannya. Sekarang usaha dan pengorbanan saya tidak terlalu berat,. Tidak seperti ketika saya kuliah di Cilegon- Serang dulu. Semuanya membutuhkan perngorbanan yang sangat besar. Dari biaya kuliah, ongkos bolak- balik Cilegon- Serang, kelelahan yang luar biasa ketika sepulang bekerja seharian, harus langsung kuliah sampai jam sebelas malam, dan tiba di rumah menjelang tengah malam. Dan ongkos bolak- balik ke Jakarta ketika harus ada praktek.

Saya bisa berhenti kapan saja, karena hampir tidak ada beban dan pengorbanan apa pun.

Belajar di Universitas terbuka kali ini lebih menantang, terutama dari sisi komitmen dan penguatan disiplin diri.

Ada tugas online yang harus saya kerjakan setiap minggu selama delapan minggu. Ada forum diskusi, ada tugas makalah. Yang berbeda hanya semuanya bisa saya kerjakan di rumah. Rata- rata saya mengambil 20 SKS satu semester. Jauh lebih singkat dari yang saya perkirakan sebelumnya.

Alhamdulillah, tidak terasa sudah lebih dari 100 SKS yang sudah saya tempuh dari 144 SKS yang ada.

Saya akan merasa malu luar biasa jika kali ini kuliah saya tidak sampai selesai juga.

Insyaallah, semoga Allah menguatkan komitmen saya, agar saya bisa melanjutkan kuliah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jika sudah menyelesaikan tahap ini, tentunya akan memudahkan saya untuk mengambil Master Degree di jurusan yang lain.

Walau pun jurusan yang saya pilih kali ini adalah “Jurusan Sejuta Umat”, yaitu jurusan manajemen, yang secara kasat mata jelas- jelas tidak akan banyak membantu untuk pengembangan karir saya di tempat bekerja sekarang, tapi saya mempunyai keyakinan.

Ini Déjà vu.

Di buku pertama saya, “Oase Kehidupan Dari Padang Pasir”, tulisan pertamanya adalah “Dialog Lima Belas Juta”, yang menceritakan pengalaman saya yang sedikit dicibir karena telah mengumpulan buku senilai lima belas juta. Yang pada akhirnya, dengan pertolongan Allah, buku- buku itulah yang telah mengantarkan saya bekerja di luar negeri.

Seperti itu juga pilihan saya untuk kuliah kali ini. Saya yakin, dengan izin Allah, di masa depan, setiap detik yang saya habiskan, setiap riyal uang yang saya bayarkan, setiap kalori energi saya yang terbakar ketika belajar, di masa depan akan Allah ganti dengan sesuatu yang dahsyat.

Insyaallah!

Doha, 3 Juni 2013

http://www.didaytea.com

Satu Riyal Yang Ajaib

Satu Riyal Yang Ajaib


“Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Di suatu pagi hari yang panasnya sudah seperti siang itu (Di sini sudah mulai memasuki musim panas, adzan subuh  sudah berkumandang jam setengah empat pagi. Jadi jam setengah lima langit sudah terang benderang) seperti biasanya saya menyetir menuju tempat bis jemputan.

 
Hampir setiap pagi sih, saya melewati sebuah pertigaan jalan. Di atas trotoar tepat di pertigaan itu, ada seorang tukang koran yang bulak- balik dari trotoar itu ke trotoar di seberang jalan di belakangnya. Mungkin di situ adalah tempat agen besar mendrop koran untuk dijual hari itu. Setiap saya melewatinya, dia pasti terlihat sedang sibuk membereskan dagangannya. Pernah saya melewati jalan itu agak siang, sekitar jam tujuh, dia masih ada di sana.

 
Awalnya sih tidak ada yang istimewa atau luar biasa. Ya, tukang Koran kan di Indonesia juga banyak.

 
Setiap saya bekerja shift pagi melewati pertigaan itu, setiap kali itu pula saya melihat pemandangan yang sama di atas trotoar itu. Si Bapak Tua tukang koran yang sedang membereskan beberapa tumpukan koran.

 
Pada suatu pagi, entah kenapa saya tiba- tiba ingin membaca koran.

 
Dari kejauhan saya sudah pasang lampu sein untuk menghampiri trotoar di pertigaan kecil itu.

 
Tepat ketika saya berhenti dan membuka pintu jendela kanan mobil saya, si Bapak Tua langsung menghampiri dan menyapa dengan ramah.

 
“Good Morning Pare!” Sapanya sambil langsung memajang senyum di bibirnya.

 
“You are Muslim?” Dia langsung bertanya lagi, mungkin karena mendengar alunan merdu Syaikh Abdurrahman As Sudais dari dalam mobil.

 
“Good Morning! Yes, alhamdulillah I am Muslim. But I am not Filipino, I am Indonesian, please call me Pak or Mas!” Jawab saya dengan sigap, dan langsung menjelaskan.

 
“Oh Sorry Sir, Sorry, I don’t know you are Indonesian!” Dia menjawab lagi sambil tetap tersenyum.

 
Di sini sudah sering dan lumrah kalau orang Indonesia dikira orang Filipina.

 
O iya, “Pare” itu artinya kurang lebih Masbro lah kalau dalam bahasa Indonesia gaul.

 
“Its okay no problem. You have Gulf Times?” Saya langsung saja bertanya.

 
Di Qatar, Koran yang berbahasa Inggris yang paling terkenal, eh, yang paling saya kenal sih, adalah Gulf Times dan Peninsula.

 
Itu pun jarang sekali saya baca. Kalau pun membaca, paling limpahan dari bekas bacaan para atasan yang sudah kadaluwarsa. Dan lagi pula, saya merasa belum ada urgensinya untuk saya membaca Koran lokal, kan internet sudah dua puluh empat jam dalam genggaman tangan, kapan saja saya bisa mengetahui informasi terbaru dari belahan bumi mana pun.

 
Pernah sih sengaja membeli koran berbahasa Arab, Al Watan.

 

Walau pun tidak intensif, tapi saya juga sedang belajar bahasa Arab. Tadinya sih diniatkan untuk praktek belajar bahasa Arab, dengan membaca situasi aktual, di koarn yang berbahasa Arab. Saya pikir bakal tidak akan terlalu sulit karena sudah ada kamus dan tentunya, Google translate.  Eh, pada kenyataannya, Alhamdulillah, setelah seminggu koran itu saya beli, tidak satu artikel pun yang saya berhasil pahami. Blas, ngga ada yang ngerti dan nyambung terjemahannya. Hehehe.

 
“Have Sir!” Dia langsung dengan gesit dan sigap membawa sehelai koran yang saya maksud. Sedikit tidak terduga, karena hampir tidak ada bagian dari rambut si Bapa Tua itu yang berwarna hitam.

 
“Peninsula I also have Sir! You want?”  Dia menawarkan koran yang satunya lagi.

 
“Okay I will take!” langsung saja saya iyakan tawarannya.

 
Dua eksemplar koran pun tak lama berpindah ke jok di sebelah kanan.

 
Kuulurkan selembar uang berwarna hijau, uang lima riyal kepada si Bapak Tua.

 
“One riyal, for you! Halal! Halal! Okay?” Langsung saja saya klarifikasi, ketika dia lagi- lagi dengan sigap langsung mengeluarkan selembar uang satu riyal dari saku kemeja biru tuanya yang sudah lusuh.

 
“Thank you so much Sir!” Ucapnya dengan wajah yang sumringah, sambil memasukkan lagi uang yang sudah dia pegang tadi.

 
“Wa’alaikumsalaam!” Dia menjawab sambil mengangkat tangan kanannya dan menempelkan tangan itu di atas dadanya ketika aku pamit dan berlalu mengucapkan salam.

 
Sejak saat itu, hampir setiap kali saya masuk pagi, saya pasti akan membeli koran dari si Bapak Tua itu.

Pernah beberapa kali, karena sudah terlambat, saya tidak sempat berhenti di pertigaan itu. Tampak sekali wajahnya yang penuh dengan harapan ketika dia langsung berdiri sambil memegang dua koran, ketika dia mulai melihat mobil biru saya dari kejauhan.

Saya hanya bisa mengangkat tangan dan menunjuk ke arah jam tangan saya, dengan harapan dia akan mengerti bahwa saya sudah terlambat mengejar bis jemputan.

 

Ketika besoknya saya berhenti di tempatnya, senyumnya selalu lebih lebar dari biasanya. Seolah ingin menunjukkan terimakasihnya karena saya sudah membeli korannya.

 

Satu riyal bernilai sekitar dua ribu enam ratus rupiah.

 

Tentunya nilai itu tidak seberapa. Di Qatar, satu riyal hanya  bisa membeli satu botol air mineral berukuran lima ratus mililiter.

 

Hampir terasa tidak ada nilainya.

 
Tapi, bayangkan apa yang bisa uang satu riyal ini lakukan ketika saya sedekahkan.

 
Si Bapak Tua ini sangat mungkin menanggung nafkah keluarganya dengan jauh- jauh pergi ke luar dari negerinya. Dan menafkahi keluarga tentunya adalah pahala yang luar biasa besar.

 
Terus, bagaimana dengan koran yang saya beli tadi?

 
Oh, ini tentu saja bakal bermanfaat.

 
Teman- teman saya, termasuk saya sendiri  di tempat kerja kan tidak semuanya punya akses ke koran baru.

 
Kadang- kadang kami sampai berebut ketika ada koran yang tergeletak.

 
Setidaknya ini membuat saya jadi melek informasi dan bisa memberi kebahagiaan kecil bagi teman- teman di kantor saya.

 
Siapa tahu , mungkin di akhirat kelak uang satu riyal ini yang menjadi tiket saya masuk ke Surga kan?

 
Siapa tahu, sedikit kebahagiaan kecil karena teman- teman saya bisa membaca koran tanpa harus membeli, adalah pembuka jalan bagi saya untuk mendapatkan rejeki yang luar biasa di masa depan?

 
Ganjaran dari Allah memang tidak selalu instan atau seperti memakan keripik pedas. Jam tujuh makan keripiknya, seketika seperti ada api unggun yang menyala di dalam perut kita.

 
Tapi disitulah The Art of Giving, kata ustadz Yusuf Mansur.

 
Bersedekahlah walau pun satu sen.

 
Memberilah walau pun itu hanya sekedar benda- benda yang sudah kita anggap sampah.

 
Berbagilah walau pun dengan barang- barang yang kita anggap tidak berharga.

 
Jangan pernah meremehkan amalan sekeciil apa pun,  walau hanya sekedar tersenyum, karena kita tidak akan pernah tahu sebesar dan sedahsyat apa balasan yang Allah siapkan untuk kita di masa depan.

Doha, 1 Juni 2013
www.didaytea.com

Brute Force Attack Al Qur’an

“Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada”

Hafalan Mentok

Ada salah satu adegan di dalam film Transformers, ketika si robot alien yang menjelma menjadi sebuah boom box, dengan mudahnya menjebol password dan sistem keamanan di  NSA hanya dalam beberapa saat.

“Even though it will do brute force attack to break the our security, it will take thousands of years, but this thing just breached our security wall in a matter of second!” Kata si Teteh berambut pirang dengan logat Britishnya yang sangat kental.

Brute force attack adalah metode untuk memecahkan suatu kode dengan mencoba satu per satu semua kemungkinan yang ada.

Pengertian dari PCMag: “The systematic, exhaustive testing of all possible methods that can be used to break a security system”.

Sederhananya, seperti kita lupa kombinasi kunci koper yang hanya tiga digit. Ada 4960 kemungkinan kombinasi yang harus kita coba satu per satu.

Sudah beberapa tahun ini saya selalu mentargetkan untuk bisa menghafal Juz’Amma. Dengan target jangka panjang, menghafal seluruh 30 Juz Al Qur’an tentunya.

Tapi entah kenapa, selalu mentok, bahkan di surat pertama: An Naba.

Dan biasanya, begitu mentok, ya sudah saya menyerah deh. Paling banyak yang bisa saya hafal, sepuluh ayat, itu pun timbul tenggelam. Kadang tidak hafal sebagian, kadang ingat sebagian. 😀

Takdir Allah, saya mendengar ceramah  Kajian Makrifatullah Aa Gym yang terbaru, di tahun  2013, ada bagian yang membahas tentang menghafal Al Qur’an, ada juga tweet dari ustadz Yusuf Mansur, dan @HapalQuran.

Intinya ya seperti Bruce Force Attack  tadi, ketika kita sudah berniat menghafal Al Qur’an, ya kita harus mencoba setiap langkah, daya dan upaya.

Kalau kata Aa Gym sih, hikmahnya ketika kita sudah berusaha keras tapi belum hafal- hafal juga, mungkin Allah ingin kita lebih sering lagi membaca Al Qur’an. Kan, makin susah hafal, kita seharusnya makin banyak membacanya. Dan ada sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang kita baca.

Mungkin jika kita langsung hafal, kita malah jadi malas lagi membacanya, karena mentang- mentang sudah hafal.

Selama empat tahun, ya, empat tahun, saya selalu menyerah. Boro- boro bisa menghafal full 30 Juz, Juz Amma saja, di luar surat- surat pendek yang sudah biasa kita hafal sejak TPA sepulang sekolah SD dulu, aku sudah menyerah. Surat paling panjang yang saya hafal paling, Al Fajr, dan itu juga masih “belang- betong”, masih sering ada ayat yang terlewat. Kalau Al A’Laa dan Al Ghasyiyah mah Alhamdulillah, akurasinya sudah 99%. Ketiga surat ini pun, baru tahun- tahun ini saja bisa saya hafal.

Masih kalah sama anak- anak TPA atau SD Islam, yang rata- rata sudah hafal Juz 30.

Tadinya mau saya acak saja urutannya. Karena An Naba ngga hafal- hafal, coba yang lain. Al Bayyinah. Eh, ternyata walaupun Cuma delapan ayat, tapi sama aja, panjang.

Tapi ya kenyaataannya seperti itu.

Pada akhirnya, saya memilih untuk bersembunyi di balik alibi bahwa masih banyak orang Islam yang belum bisa membaca Al Qur’an, masih banyak orang Islam yang jarang mengaji Al Qur’an.

Keinginan saya kembali berakhir sebatas niat.

Saya menyerah. Dan di dalam sholat pun, surat yang saya baca tidak pernah beranjak dari At Takatsur, Alam Nasyrah, Al Maa’un, At Tiin, dan tentu saja trio “Qul”, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. :D.

Niat Lagi

Di Awal tahun 2013 ini, saya bertekad  untuk mencoba lagi menghafal Juz ‘Amma. Kali ini serius saudara- saudara. Apalagi setelah sering membaca tweetnya Ustadz Yusuf Mansur dan @HapalQuran tentang One Day One Ayat, makin kuatlah tekad saya tersebut.

Kembali ke adegan film Transformer tadi. Adegan pendek di film itu menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama: Brute Force Attack.

Tapi kali ini targetnya adalah Al Quran.

Target utama yang terdekat saya empat bulan yang lalu tentunya seperti biasanya: Surat An Naba.

Saya beli CD murottal yang per Juz.

Ketika mudik dua bulan yang lalu, saya membeli Al Qur’an hafalan.

Tidak satu atau dua, tapi tiga!

Satu saya simpan di tas. Satu di dekat komputer, dan satu lagi di rak buku. Agar setiap saat, ketiadaan Al Qur’an di dekat saya tidak menjadi alasan.

Di iQuran, saya book mark surat An Naba.

Di telepon genggam, saya buat playlist khusus untuk Juz 30.

Sepanjang perjalanan ke tempat pekerjaan yang menghabiskan waktu selama satu jam, saya hampir selalu menyetel Surat An Naba. Di bis Surat An Naba. Sholat, surat An Naba.

Sebelum tidur, hampir selalu surat An Naba yang saya putar. Dengan harapan akan masuk ke dalam alam bawah sadar saya, seperti yang dibilang di dalam buku Quantum Learning. Apa yang kita dengar sebelum tidur, dan selama tidur, akan lebih mudah masuk ke dalam pikiran dan otak kita.

Pokoknya mah, tiada hari tanpa Surat An Naba deh!

Eh ternyata setelah dua bulan, masih belum hafal juga.

Terus lagi nyoba.

Lebih sering, lebih sering, beli CD lagi, Syaikh Abdurrahman As Sudais, 17 CD, biar jelas suaranya.

Sebelumnya CD yang saya selalu putar adalah dari Syeikh Khalifa At Tunaiji, ini sangat lambat. Tapi bagusnya, ada dua kali bacaan. Yang pertama membaca adalah Syeikhnya sendiri, terus diulang oleh seorang muridnya, anak kecil.

Ketika shift malam, bisa digeder, diputar semalaman sambil bekerja. Eh, ngomong- ngomong, digeder apa ya bahasa Indonesianya?

Dikeureuyeuh?

Ini juga masih bahasa Sunda ya? Hehehe

Diikuti dengan membaca terjemah per katanya.

Kurang lebih, artinya melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang sesering mungkin.

Saya pecah hafalan menjadi dua bagian, halaman pertama (halaman 582) dan halaman ke dua (halaman 583). Biasanya sih, saya baca ketika sholat rawatib atau tahiyatul masjid.

Saya juga membaca tafsir surat An Naba.

Ah, pokoknya, semua alternatif dan langkah serta tips untuk menghafal Al Qur’an tadi saya lakukan semuanya.

Alhamdulillah, ada perkembangan yang signifikan walau pun masih “apal cangkem” (hafal saja, tanpa mengetahui artinya).

Ini sudah sangat lumayan, dibanding “niat- niat” saya yang sebelumnya. Walau pun masih sering nge-blank  ketika di dalam sholat, tapi mulai sering saya bisa membaca terus hingga halaman pertama hampir habis.

Tadinya saya ingin membuat sibuk sebagai alasan. Kenapa masih belum hafal juga, padahal sudah dua bulan.

Memang pastinya kasus akan berbeda dengan lingkungan yang sengaja dibentuk seperti Daarul Quran, atau Rumah Hafiz. Mereka minimal bisa menghafal satu halaman dalam satu hari. Tujuh sampai delapan jam waktu mereka dalam sehari sepenuhnya digunakan untuk menghafal.

Tapi tidak bisa jadi alibi. Waktu luang bisa kita buat dan usahakan, bukan kita yang menunggu waktu luang. Yang lebih penting adalah niat.

Kalau niat menghafal saja tidak ada, bagaimana mau rutin membaca Al Qur’an kan?

Untuk orang seperti saya, yang bekerja shift,  kadang ketika sudah berkomitmen kuat pun, selalu saja ada kendala untuk mengkhususkan waktu. Sangat sulit untuk bisa menghafal pada waktu yang sama.

Jadi cara yang agak berhasil sih, ya itu tadi brute force attack, karena tidak terikat jadwal. Harus seperti striker oportunis, yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ada momen sedikit saja, langsung deh saya eksekusi. Jika kuat, dan niat sholat sunat, tidak ada surat lain yang saya baca selain An Naba.

Berhasil!

Dan lima hari yang lalu, Alhamdulillah, Allahuakbar! Empat puluh ayat Surat An Naba berhasil saya baca dari awal sampai akhir di dalam sholat tahiyyatul masjid. Setelah empat tahun berniat menghafal Juz Amma.

Alhamdulillah,  walau pun tidak sepenunya lancar, dan hanya 60 persen artinya yang mengikuti bacaaan saya, tapi ini pertamax kalinya saya bisa membaca Surat An Naba di luar kepala.

Dengan karunia Allah, dan Brute Force Attack tadi akhirnya saya berhasil.

Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada.

Semoga setelah ini jalan saya untuk menjadi penghafal Al Qur’an menjadi lebih mudah, lebih luas dan lebih lapang.

Mari menghafal Al Qur’an!

(Terima kasih kepada Ustadz Yusuf Mansur, Aa Gym dan @HapalQuran)

http://www.didaytea.com