Dunia Bukan Akherat Bukan Dunia

“Bekerjalah untuk urusan duniamu seolah- olah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk urusan akheratmu seolah-olah engkau akan mati besok”  (Abdullah bin Amr bin al-Ash)

 

Kalimat di atas, di masa kini sering disalah artikan dan disalahgunakan. Seringkali disalah tafsirkan sehingga membatasi pengertian kita terhadap akherat dan dunia.

Sholat, puasa, zakat, haji, akan hanya bernilai dunia, jika ternyata tujuan kita melakukan  semua hal itu tidak dengan niat yang ikhlas.

Sering disalahartikan dengan memahami bahwa itu bekerja, sekolah, berdagang, kuliah, dan aktifitas- aktifitas kita sehari- hari yang (terlihat) tidak berkaitan dengan akherat kita adalah urusan “dunia”. Dan urusan “akherat” pasti tidak jauh- jauh dari mesjid: sholat, puasa, sedekah, zakat dan haji. Tidak ada urusan antara hal- hal yang disebut “dunia”tadi dengan akherat.

Padahal, mencari nafkah adalah ibadah, karena itu adalah kewajiban seorang kepala keluarga. Berdagang adalah ibadah, jika jujur, dan bisa menjadi teladan untuk orang- orang di sekitar kita. Sekolah adalah ibadah, jika tujuan kita untuk mencari ilmu. Dan walaupun tujuan kita mencari ilmu agar bisa digunakan untuk mencari uang, tetap menjadi ibadah. Jika ketika uang sudah di tangan kita, kita tunaikan zakat, dan berinfaq kepada sebanyak mungkin orang.

Bekerja,mencari uang sebanyak mungkin kadang dianggap ngoyo untuk mengejar urusan dunia.

Padahal, itu bisa menjadi tiket masuk kita ke syurga.

Bayangkan saja, apakah tanpa uang kita bisa mengurus anak yatim?

Apakah tanpa uang kita bisa membangun mesjid di daerah yang belum ada mesjid?

Apakah tanpa uang kita bisa bershodaqoh?

Bagaimana kita bisa membayar zakat, jika kitanya saja wajib dizakati?

Apakah tanpa uang kita bisa naik haji atau menghajikan orang- orang yang sholeh tapi lemah secara finansial?

Apakah tanpa uang kita bisa membuka lapangan kerja dengan membuat perusahaan, untuk menyelamatkan para orang miskin dari kekufuran?

Tidak!

Apa pun profesi anda sekarang ini, bekerjalah lebih keras dan bekerjalah lebih cerdas.

Kita harus kaya, dan janganlah takut menjadi kaya!

Sembilan dari sahabat yang dijanjikan masuk syurga adalah pengusaha.

Uang yang banyak dan halal baru akan terasa manfaatnya untuk umat jika berada di tangan orang yang sholeh.

Ya! Dunia bukan akherat, dan akherat bukan dunia, tergantung niat dan tujuan kita.

www.didaytea.com

240920111027

Di hari yang penuh senyum dan keceriaan, seperti biasanya.

Manusia Digital

“Akan datang suatu masa di mana pelajar /mahasiswa tidak akan membawa satu pun buku untuk belajar, mereka cukup hanya membawa satu komputer tablet”

 

            Selama belasan tahun, dari Sekolah Dasar sampai Kuliah, saya selalu mengalami proses belajar- mengajar di sebuah kelas “tradisional”.

Sebuah kelas yang memiliki suasana yang selalu sama. Seorang guru berdiri di depan kelas, untuk guru/dosen yang rajin, akan lebih sering menulis di atas papan tulis untuk menerangkan materi pelajaran.

Di saat yang bersamaan, puluhan murid duduk di atas bangku yang berderet rapi, duduk manis. Untuk murid yang rajin, mereka akan selalu menulis poin- poin penting yang guru/dosen ajarkan.

Apa pun mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan, pasti akan ada situasi belajar dan mengajar seperti ini.

Ketika saya mulai mengenal komputer dan internet, entah kenapa saya tiba- tiba merasa sangat bosan duduk di kelas. Saya lebih senang jika “berselancar” di dunia maya, karena lebih interaktif, tidak kaku seperti guru dan murid yang sama- sama duduk di dalam kelas yang saking sunyinya, bunyi sebuah jarum yang jatuh pun akan terdengar sangat nyaring. Belajar lewat internet buat saya lebih “berwarna” dibanding hanya putihnya tulisan kapur atau boardmarker sang guru/dosen di atas papan tulis.

Ada sih beberapa guru/dosen yang kreatif. Mereka mulai berinovasi dengan membuat slide-show ketika mengajar.

Ketika sudah menginjak bangku kuliah, para dosen sudah lebih canggih lagi, (beberapa) dari mereka sudah mulai membawa laptop dan proyektor untuk mengajar.

Di dalam buku The Learning Revolution disebutkan, bahkan sudah ada sekolah yang hanya berbasiskan multimedia dan jaringan. Ada kampus digital yang belajar hanya melalui dunia maya, dengan tele conference.

Di era internet ini, saya rasa sudah saatnya kita mendesain ulang metode belajar mengajar yang sudah puluhan tahun.

Di era ketika semua orang di dunia sudah tidak memiliki batasan lagi, ketika semua orang bisa berbicara dan bertatap dengan orang di benua lain secara langsung, melalui bantuan jaringan komunikasi ini, sudah seharusnya para pembuat kurikulum dan para pemegang kebijakan di dunia pendidikan mulai “bangun”.

Tanpa sadar kita semua yang terhubung dengan jaringan internet ini sudah “Digitaly Re-Wired” kata Dr. Philip Zimbardo, di videonya yang berjudul The Secret Power of Time.

Kita sedang dan bahkan mungkin sudah sepenuhnya bertransformasi dari manusia analog menjadi manusia- manusia digital.

Hampir seluruh aspek kehidupan kita sudah terdigitalisasi.

Kita harus menyadari bahwa cepat atau lambat, cara belajar tradisional seperti ini akan segera usang. Papan tulis, spidol, buku tulis, buku- buku paket yang super berat itu, akan segera punah dan tergantikan oleh versi digitalnya. Perpustakaan akan (bahkan mungkin sudah) menjadi sekedar museum untuk menyimpan buku-buku antik.

Kita sudah tidak cocok lagi dengan cara belajar tradisional.

Tanpa kita sadari.

Kita sudah menjadi manusia era baru. Manusia yang memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Manusia yang bisa mencari apa pun yang dia mau melalui internet. Manusia yang bisa mempelajari apa pun dari internet.

Kita sudah menjadi manusia yang tidak bisa hidup tanpa internet, bahkan hanya sekedar untuk sekedar belajar atau mencari informasi, kita sudah sangat bergantung kepada internet. Dengan internet juga kita menjadi manusia yang sudah bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia di seluruh dunia melalui jejaring sosial.

Kita sudah menjadi manusia yang memiliki ratusan, dan bahkan ribuan teman di dunia maya, yang mungkin kebanyakan dari mereka tidak pernah bertemu secara langsung dengan kita.

Jadi, jangan kaget jika nanti di masa depan, anak- anak kita berangkat ke sekolah hanya membawa komputer tablet, ya, hanya itu!

www.didaytea.com

1909110046

Di tengah debu debur intan, eh, pasir…

Bersukses- sukses Dahulu, Kini dan Kemudian

” Bahagia itu adalah ketika bisa menikmati proses dengan cara meluruskan niat dan berikhtiar secara maksimal, sukses itu adalah ketika kita bisa mencapai sukses-sukses kecil dalam perjalanan untuk mencapai sukses- sukses besar, bukan harus bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.”

 

Gabungkanlah antara tingginya mimpi dan cita-cita kita, dengan  berusaha maksimal, disertai niat yang lurus dan ikhlas, sambil menikmati suksesnya setiap langkah yang kita ambil. Nikmati juga keberhasilan kita ketika berhasil belajar dari sebuah kegagalan, karena itu adalah pertanda bahwa kita akan bisa melakukan hal yang gagal itu dengan benar dan lebih baik.

 

Beberapa tahun ini, saya sangat meminati buku-buku tentang kesuksesan dan motivasi.

 

Kita harus sukses, bahagia, dunia akherat!

Kita harus menjadi manusia luar biasa!

Kita harus menjadi manusia super!

Kita harus bebas finansial!

Dan puluhan jargon- jargon lainnya…

 

Di tulisan ini saya lebih sering memakai kita. Mohon maaf yang tidak sependapat dan tidak merasa sebagai bagian dari “kita”.

Tapi, definisi kebahagiaan dan kesuksesan itu, ternyata masih diindetikkan dengan kesenangan karena banyaknya uang, besarnya penghasilan, jumlah aset, banyaknya kendaraan. Pokoknya  bahagia dan sukses itu banyak uang, titik.

 

Tidak sepenuhnya salah sih.

 

Karena, jika kita ingin banyak beramal sholeh, salah satu cara yang bisa mengakomodir keinginan kita untuk beramal,  ya dengan cara mencapai kondisi finansial yang cukup. Bagaimana kita bisa bersedekah jika kita saja masih pontang- panting dengan urusan dapur dan SPP sekolah anak kita?

 

Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kita bisa melakukan hampir segalanya.

 

Nahh… Kembali ke topik utama..

 

Masalah yang terbesar adalah ketika ternyata, setelah bertahun-tahun berusaha, kita hampir tidak merasa bahwa si parameter2 kesuksesan itu ternyata tidak pernah kita capai sepenuhnya. Selalu saja ada yang kurang.

 

Kalah kita pikir-pikir sih, di dalam setiap tahapan kehidupan kita, sesungguhnya kita tidak pernah benar- benar sukses dan bahagia.

 

Kita kilas balik saja kehidupan kita ketika masih di kelas enam es de, menjelang ujian.

Kita pasti akan berusaha keras, belajar habis-habisan, ikutan bimbel, menyewa guru privat, minum cerebrovit, mencekoki diri kita dengan susu murni bergelas- gelas, dengan tujuan, agar kita bisa sukses lulus ujian dengan nilai yang tinggi.

 

Ketika kita ternyata berhasil lulus, dengan nilai yang tinggi, apakah kita bahagia?

 

Ternyata tidak!

 

Kebahagiaan kita ternyata hanya berlangsung selama beberapa minggu, karena ternyata, kita sudah dihadapkan lagi dengan masalah baru.

 

Kita sudah berhadapan lagi dengan tantangan hidup yang baru. Kali ini tantangannya adalah: kita harus bisa menembus SMP favorit.

 

Segala strategi, daya, dan upaya dikerahkan agar kita bisa masuk ke SMP favorit tersebut. Eh, ternyata setelah masuk SMP favorit tersebut, masalah hidup bukannay berkurang, malah bertambah. Mata pelajaran baru yang lebih sulit, lingkungan baru, dan segudang persoalan lagi yang harus kita hadapi.

 

Dan paket- paket masalah dalam hidup kita ini tidak  pernah selesai, hal ini ternyata adalah Deja Vu yang terus berulang sepanjang hidup kita.

 

Tantangan hidup seperti ini akan selalu terulang di dalam setiap tahapan kehidupan kita.

 

Setiap ujian datang silih berganti.

 

Setiap tantangan selalu datang menghadang.

 

Dari SMP ke SMA, hal yang sama terulang kembali.

 

Dari SMA ke kuliah, lagi-lagi masalah yang sama.

 

Sudah lulus kuliah, harus dipusingkan lagi dengan masalah mencari pekerjaan.

 

Ketika sudah mendapat pekerjaan, masalah  mencari jodoh yang datang.

 

Ketika sudah menikah, keinginan memiliki keturunan yang baik  juga akan menjadi tantangan yang menghadang.

 

Ketika sudah punya anak, mau disekolahkan di mana?

 

Dan seterusnya sampai maut menjemput kita, ternyata hidup ini adalah perpindahan antara satu masalah kemasalah lainnya.

 

Terus, kapan kita bahagianya dong?

 

Bagi seorang muslim, kebahagiaan dan kesuksesan bukan hanya semata kesenangan karena telah mencapi hasil akhir. Kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai adalah ketika kita diridhoi oleh Allah. Jika sudah diridhoi Allah, kita pasti akan bahagia dan sukses di dunia dan akherat kelak.

 

Bagaimana caranya?

 

Menikmati proses, itu adalah kuncinya.

 

Bagaimana menikmati proses?

 

Dengan cara meluruskan niat dan memaksimalkan ikhtiar.

 

Dengan cara melakukan semua langkah kecil dalam kehidupan kita dengan benar, jauh dari cara yang tidak disukai Allah. Tidak dengan kecurangan, tidak dengan kebohongan, tidak dengan kelicikan.

 

Ketika kita bisa melalui ujian dengan jujur,tidak ,mencontek, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan.

 

Ketika kita mendapatkan jodoh kita dengan proses yang baik, itu adalah kebahagiaan dan kesuksesan kita.

 

Ketika kita bekerja,atau berusaha dengan jujur dan amanah, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, berapapun keuntungan dan penghasilan kita.

 

Ketika kita bisa mendidik anak kita dengan baik, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan kita, walau kadang selalu ada kerikil kenakalan dan batu perlawanan yang menghalangi jalan kita.

 

Ketika kita bisa membuat orang-orang di sekitar kita nyaman dan tentram dengan kehadiran kita di dekatnya, itu adalah kesuksesan dan kebahagiaan tak terkira.

 

Sepertinya kita sedang menuju puncak sebuah gedung yang tidak ada liftnya, setiap langkah kecil yang sukses kita lakkan melalui satu buah anak tangga, akan mengantarkan kita lebih dekat puncak tujuan kita.
Seperti kita akan memindahkan segunung batu bata, maka yang kita lakukan pertama kali adalah memindahkan satu buah bata yang terdekat. Setiap batu bata yang berpindah, itu adalah kesuksesan kecil yang akan mengantarkan kita ke kesuksesan besar.
Perjalanan satu juta kilo meter pun akan selalu dimulai dengan satu langkah kecil.

Kesuksesan akbar, bukan hanya sekedar besar, pasti adalah akumulasi dari kesuksesan- kesuksean kecil.

 

Mari kita nikmati proses!

 

(sebuah inspirasi dari salah satu kajian Al Hikam Aa Gym, dan kutipan wawancara Mario Teguh dengan Sufinews)

didaytea.com

170920111721

Doha-Ras Laffan HighWay, diiringi oleh Canon Acoustic Guitar.

 

 

 

Mengalir Seperti Air? Ke Laut Aje!

“Ke Laut aje!” Itu yang saya bilang jika ada seseorang yang menjawab pertanyaan tentang apa targetnya di dalam kehidupan dengan kalimat: “Saya akan menjalani kehidupan saya seperti air saja, terserah mau dibawa ke mana…”

Jika kehidupan kita ini adalah sebuah perjalanan mendayung di sebuah sungai, apakah anda akan memilih untuk hanya sekedar “mengikuti aliran air saja, terserah dibawa mau ke mana”, atau anda akan mengambil sebuah dayung agar anda bisa mengendalikan perahu anda ke sebuah muara tujuan yang ingin anda capai?

Saya akan memilih untuk mengambil dayung.

Kenapa? Jelas lah! Karena saya tidak mau terbawa arus air sungai.

Jika saya hanya sekedar mengikuti aliran air, dan di tengah perjalanan ada batu besar, bisa dipastikan saya akan menabrak batu tersebut dan tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Akan tetapi, jika kita memiliki dayung, kita bisa memiliki kendali sepenuhnya terhadap perahu yang kita naiki. Walapun terkadang arus yang menerjang sangat kuat dan hampir tidak terkendali, tapi kita akan tetap memiliki kendali yang kuat terhadap ke mana arah perahu menuju.

“Dayung” inilah yang tidak ada dalam diri orang- orang yang berprinsip “Mengalir Seperti Air”.

Prinsip yang tidak sepenuhnya salah, karena ada juga beberapa orang yang bisa meraih kesuksesan dalam kehidupan ini tanpa harus repot- repot merencakanan apapundalam kehidupannya.

Lalu, apa sih hal nyata yang bisa kita lakukan dan kita adakan, agar kita memiliki dayung yang kuat untuk mengarungi kehidupan kita ini?

Tujuan sejati kehidupan kita tentunya adalah kebahagiaan dunia akhirat. Langkah- langkah berikut ini tentunya hanya merupakan tujuan antara menuju kebahagiaan yang sejati di akhirat kelak.

Langkah 1:

Galilah ukuran utama kehidupan anda: karir, hubungan dekat dengan seseorang dan keluarga, keuangan, kondisi fisik, kehidupan spriritual, dan intelektualitas. Dan identifikasi area mana yang harus segera ada perbaiki dan kembangkan.

Langkah 2:

Segera tekadkan dalam diri anda, bulat sebulat- bulatnya dengan semangat pantang menyerah untuk merubah kehidupan anda dan memenuhi impian- impian anda, walau rintangan apapun akan menghadang di depan anda.

Langkah 3:

Buatlah desain kehidupan anda dengan “memproklamasikan” apa yang anda inginkan. Jadikan hidup anda lebih hidup dan penuh warna dan aroma kesuksesan dengan menuliskan keinginan anda, dan mereviewnya secara rutin. Hiduplah dengan tujuan. Dan buatlah setiap hari anda adalah selangkah lebih maju untuk mencapai impian anda. Sebesar apapun langkah anda, jika anda tidak mempunyai tujuan, anda tidak akan pernah sampai ke manapun. Tapi, jika anda sudah mempunyai tujuan, sekecil apapun langkah yang anda ambil, itu adalah kemajuan menuju tercapainya tujuan anda.

Langkah 4:

Akan jadi apakah anda 5 tahun lagi? 10 Tahun lagi? 30, 40, atau bahkan 50 tahun lagi? Ingin seperti apakah orang mengenang anda? Visualisasikanlah akan jadi apa anda di masa depan. Anda di masa kini adalah hasil dari langkah- langkah yang anda ambil di masa lalu. Ini sudah tidak bisa kita rubah. Tetapi anda di masa depan, adalah, tergantung dari langkah yang anda lakukan di masa kini.

Langkah 5:

Berusahalah sekuat tenaga untuk melawan kemalasan dan menghilangkan kebiasaan buruk yang anda sering tolerir selama ini, dan raihlah kedisiplinan dalam hidup yang anda butuhkan untuk hidup dengan menggunakan potensi luar biasa yang ada pada diri anda sepenuhnya.

Langkah 6:

Nikmati proses. Lakukan setiap langkah yang anda ambil dengan baik dan benar.

Langkah 7:

Fokus. Selalu berjalanlah di jalan yang anda telah putuskan untuk ambil. Jangan mudah tergoda oleh belokan –belokan kecil yang menggoda di sepanjang jalur kehidupan anda.

Langkah 8:

Istirahatlah, nikmati momen- momen dalam kehidupan anda. Dan ukurlah perkembangan anda. Sejauh mana anda telah memenuhi impian- impian yang anda proklamasikan di masa lalu. Evaluasi pencapaian anda dan belajarlah dari kesalahan dan “kegagalan” anda.

Diday Tea

24 Februari 2011

DIALOG LIMA BELAS JUTA

DIALOG LIMA BELAS JUTA

DIALOG LIMA BELAS JUTA

“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun.

“Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti  barang loakan!”

Itu adalah komentar paling  “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri.

Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli  rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku.

MEMBACA LEBIH CEPAT=BERPIKIR LEBIH CEPAT

Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokikia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah.

Hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja.

Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku  tersebut.

Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paing berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu Skill utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut.

Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan.

Ketika mudik pertama, hal yang pertama lakukan adalah langsung meluncur ke Palasari,dan membeli buku itu.

Dan makin jatuh cintalah aku kepada buku-buku dengan tema yang berkaitan dengan proses pembelajaran, atau “belajar bagaimana belajar”.

Sejak itulah, aku rajin berburu buku-buku dengan tema sejenis Accelerated Learning, Otak Sejuta Giga Bite, Super Brain Power, Berpikir Ala Einstein, Revolusi Cara Belajar, The Sharper Mind, Imagine That, Master Your Memory, Use Both Side Of Your Brain, Use Your Brain, Beyond Teaching and Learning, dan buku-buku lainnya.

Semua buku itu penuh dengan metode-metode untukmeningkatkan kecerdasan, untuk memudahkan proses belajar kita, dan segudang “how-to” lainnya.

Tapi mungkin karena diriku kurang cerdas dan kurang pemahaman, yang benar- benar “menempel” sebagai sebuah kemampuan di dalam diriku hanya kemampuan membaca cepat.

Sebelum aku mempelajari buku-buku tersebut, kecepatan membacaku (dengan berusaha membaca secepat mungkin) maksimal hanya 200-300 kata per menit.

Tapi setelahnya, kecepatanku meningkat tajam sampai hampir 1400 kata per menit!

Alhamdulillah, kecepatan membacaku bisa menutupi kelemahanku di dalam memahami pelajaran di sekolah dan kampus. Dengan membaca lebih cepat, otomatis aku pun bisa berpikir lebih cepat. Sehingga di dalam jangka waktu yang sama, aku mempunyai waktu lebih lama untuk bisa lebih memahami pelajaran.

Yang paling terasa ketika ujian datang. Kecuali Kalkulus, Fisika, dan statistik, mata kuliah yang tidak memerlukan kecepatan membaca (dan memang aku mentok di dua mata kuliah itu), aku selalu dapat menyelesaikan soal- soal ujian jauh lebih cepat dari siswa/mahasiswa lain.

Wajar saja kan, dengan kecepatan rata- rata orang biasa 200-300 kata per menit, aku melaju kencang dengan 1300 kata per menit. Dengan “meluangkan waktu” untuk memeriksa, memastikan dan mencocokkan jawaban dua kali saja, aku dipastikan bisa selesai dalam waktu sepertiga kali lebih cepat dibanding orang lain.

Kemampuanku membaca cepat juga ternyata berpengaruh kepada kemampuan berbahasaku juga. Hobiku menonton film menjadi “penyumbang” terbesar kemampuan bahasa Inggrisku. Dulu, ketika masih membaca dengan “biasa” aku malas untuk mendengar percakapan para tokoh di film- film itu. Lebih baik fokus ke cerita dan menikmati serunya filem, cukup dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia. Jika aku set teksnya ke Bahasa Inggris, pasti memerlukan waktu untuk membaca, menerjemahkah ke Bahasa Indonesia dan menghubungkan teks dengan cerita dalam filem tersebut.

Ketika aku bisa membaca lebih cepat, ide cemerlang pun muncul.

Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat. Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.

Alhamdulillah, walaupun tidak sampai sekelas penerjemah “asli”, dan Tata Bahasa Inggris “resmi” tidak pernah aku kuasai, tapi aku bisa berkomunikasi dengan cukup lancar di bahasa yang sebagian besar siswa dan mahasiswa takuti ketika seklah dan kuliah dulu. Dan aku sempat dipercaya untuk menerjemahkan beberapa tulisan Gola Gong di blognya, walaupun sangat jauh dari dibilang bagus dan baik.

Dan puncaknya, adalah momen di mana seorang temanku datang ke rumahku dan berlangsunglah “dialog lima belas juta”, seperti di awal paragraf tulisan ini.

BALIK MODAL PLUS UNTUNG BESAR

Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri.

Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive.

Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta.

Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.

Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakn dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku.

Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu.

Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar.

Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris.

Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari  satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.

Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.

Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya.

Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun,masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari  lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangani kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut.

Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!”

Didaytea!

Yang Sedang Sangat Beryukur Tak Henti-henti

Di tengah musim panas yang sangat sejuk.

260720101045