INGIN VS BUTUH

“Keinginan seringkali mengalahkan kebutuhan, jika kita tidak bisa menahan diri”

 

Lupa Antena

 

Di zaman sekarang, sangat jarang sekali orang rumah yang tidak ada televisi di dalamnya.

 

Ketika masih di Cilegon dulu, saya mengontrak rumah tipe 21.

Saya ingat betul suatu malam ketika saya melakukan perbuatan konyol, dan perbuatan konyol itu juga memancing saya untuk melakukan perbuatan konyol yang lainnya.

Malam itu adalah jadwal semi final Piala Dunia 2006 antara Italia vs Jerman. Tentunya kita sudah tahu bersama bahwa pada akhirnya Italia yang menang dengan dua gol Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero di penghujung perpanjangan waktu. Akhirnya pun mereka berhasil menjadi juara dunia dengan susah payah mengalahkan Prancis dengan tos- tosan adu pinalti.

 

Walau pun saya sudah memiliki komputer, tapi saya belum mampu menghadirkan koneksi internet . Untuk up to date  dengan informasi saya harus menyengajakan diri pergi ke warnet atau membeli koran. Sehingga kadang- kadang hati ini merindukan acara- acara televisi. Terutama siaran berita dan siaran langsung sepakbola.

 

Setelah menghabiskan hampir seluruh energi di tubuh saya karena sudah bekerja seharian, saya malam itu meminta supir jemputan untuk menurunkan saya di depan Supermall Cilegon.

Untuk kepentingan menonton tim favorit saya Italia, saya malam itu berniat akan membeli TV Tuner. Karena dengan penghasilan yang pas- pasan untuk menutup biaya kuliah dan juga modal usaha dagang saya, saya belum mampu membeli Televisi. Cara mengakalinya agar murah ya dengan cara membeli TV Tuner untuk komputer saya.

 

Harganya hanya dua ratus lima puluh ribu, jauh lebih murah dibanding harus membeli Televisi 21 inch yang waktu itu masih berharga dua jutaan.

Dengan semangat empat lima, karena sudah membayangkan kemenangan Italia atas Jerman, saya tersenyum- senyum sendiri dipojok angkot berwarna ungu menuju rumah kontrakan saya. Pandangan mata saya tidak pernah lepas dari kantong plastik berwarna hitam yang berisi TV Tuner itu.

“Kiri Pak!” Ucap saya dengan lantang menggunakan password untuk menghentikan angkot.

Saya masih harus berjalan sekitar dua ratus meter dari tempat turun tadi ke rumah kontrakan saya. Dan masih saja, setiap ayunan kaki- kaki lelah yang membawa tubuh lemas saya, selama itu pula mata saya tertuju kepada si kantong plastik hitam.

 

Sesampainya di rumah pun tidak saya pedulikan tubuh saya yang lemah letih lunglai. Saya langsung bongkar CPU karena tidak sabar untuk memasang TV Tuner, agar nanti subuh bisa melihat tim favorit saya Italia beraksi mengalahkan Jerman.

 

Saya buka kotak kertas tempat TV Tuner, dan saya keluarkan buku mungil panduan pemasangannya.

 

Awalnya sih tidak ada yang salah, dan tidak ada yang susah. Karena cara memasang TV Tuner itu sangat mudah, hanya tinggal memasang beberapa baut pada slot yang tepat di motherboard, selesai deh

Tapi…

Ada hal kecil yang saya lupakan, dan saya juga tidak pernah terpikir sebelumnya, tapi ternyata menjadi masalah besar.

Saya lupa membeli antenanya!

 

Ternyata saya tidak tahu kalau ternyata TV Tuner itu hanya membuat layar monitor kita seperti  Televisi. Tetap memerlukan antena TV, UHF dan VHF seperti televisi pada umumnya.

 

Kegembiraan saya yang saya rasakan dari sejak membeli TV Tuner itu pun berubah seratus delapan puluh derajat.

Jika tidak ingat harganya, hampir saja saya lempar TV Tuner itu karena saking kesalnya menyesali kebodohan saya.

 

Waktu sudah jam setengah sepuluh malam, semua toko antena di Cilegon pasti sudah tidak ada yang buka lagi. Kalau pun saya cukup beruntung, saya sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membeli antena, yang pasti harganya lumayan mahal.

Hampir setengah jam saya termenung, mareh menyesali kebodohan diri yang bisa melupakan hal sepenting itu.

 

Walau pun pada akhirnya saya bisa menyaksikan pertandinngan semi final itu, tapi tetap saja ada dongkol yang tersisa, ada kesal yang tertinggal di dalam hati.

 

Balas Dendam

 

            Entah setan dari mana, besoknya, sepulang kerja saya langsung bergegas menuju sebuah toko elektronik yang menyediakan fasilitas cicilan.

Dengan pertimbangan yang singkat, tanpa perhitungan yang matang, waktu itu saya memutuskan untuk menyicil sebuah televisi 21 inch dan sebuah DVD sebagai satu paket cicilan.

Saya harus mencicil kurang lebih tiga ratus ribu per bulan, selama satu tahun.

Secara hitung- hitungan kasar sih, memang neraca keuangan saya bergeser ke kiri, alias jadi minus.

Tapi, keinginan saya untuk tidak melewatkan final Piala Dunia yang melibatkan tim favorit saya Italia dengan nyaman dan sendirian di rumah, telah berhasil mengalahkan logika saya yang bertanya bagaimana uang cicilan itu akan bisa saya bayar? Ketika itu bisnis saya masih berjalan, jadi masih ada keuntungan sekitar dua ratus ribu per bulan. Uang keuntungan itulah yang saya rencanakan untuk menambal “lubang” di neraca keuangan saya karena menyicil televisi dan DVD player itu.

 

Tekor

 

            Ternyata, pada kenyataannya, keputusan saya itu malah mebuat kondisi keuangan semakin acak- acakan.

Hampir setiap bulan saya harus berhutang untuk bisa membayar cicilan.

Dua kali debt collector pernah mendatangi rumah saya untuk menagih, karena cicilan yang saya tunggak.

 

Yang konyolnya lagi, pembelian televisi dan DVD Player itu saya niatkan untuk menonton final Piala Dunia. Tapi pada akhirnya saya malah tidak bisa menontonnya karena harus lembur shift malam selama dua minggu.

Dan setelah final Piala Dunia itu pun lewat, kedua benda yang saya cicil itu jarang sekali saya pakai.

 

Paling sering saya tonton hari Sabtu atau minggu, itu pun jika tidak ada jadwal lembur atau jadwal kuliah, dan saya hanya diam saja di rumah, tidak berada di warnet hampir seharian seperti biasanya.

 

Keinginan sesaat yang didukung “alasan yang logis” yang tiba-tiba muncul akhirnya harus kubayar dengan penderitaan finansial selama setahun, bahkan lebih lama lagi.

 

 

Diday Tea

7 Juni 2013

http://www.didaytea.com

 

Iklan

Komitmen Ketiga

 “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya 

kebodohan.” (Imam Syafi’i)

            Ada salah satu penyesalan terbesar di dalam hidup saya. Ketika saya memutuskan untuk berhenti kuliah.

Sampai hari ini, saya masih merasa nyaman dan aman dengan alibi, bahwa saya memilih untuk mengorbankan kuliah saya demi mendapatkan gaji puluhan kali lipat, demi melunasi hutang- hutang saya, demi membahagiakan orang tua saya, demi impian saya untuk segera menikah, dan masih banyak lagi.

Saya memilih untuk berhenti kuliah, karena banyak sekali SKS yang harus saya ambil untuk setidaknya bisa mengerjakan Tugas Akhir.

Dan baru hari ini, saya menyadari ternyata, alasan- alasan itu tidak terlalu kuat.

Penyebab utama saya tidak pernah berhasil menyelesaikan kuliah saya sebenarnya karena komitmen belajar saya yang lemah. Berjuta alasan telah saya buat untuk menjadi alibi kelemahan saya dalam berkomitmen untuk belajar.

Lemah Komitmen

Di kampus saya yang pertama, hanya ada tiga orang yang berstatus karyawan. Semua mahasiswa yang lainnya adalah mahasiswa reguler. Karena di kampus saya yang pertama belum ada kelas karyawan.

Selama tiga tahun lebih belajar di sana, sangat jelas terlihat, komitmen mereka jauh lebih hebat dan kuat dari saya.

Padahal saya sudah merasa berjuang dan berusaha luar biasa untuk bisa mengikuti jadwal kuliah reguler.

Durasi shift saya di pabrik yang pertama adalah delapan jam. Dengan jadwal 6-2, dua hari kerja pagi jam delapan malam, dua hari kerja siang jam empat sore, dua hari kerja malam jam dua belas malam.

Beberapa kali saya berada di luar rumah saya lebih dari dua puluh empat jam. Bayangkan saja, saya pernah kuliah dari pagi sampai sore. Sorenya harus berangkat bekerja shif siang. Eh, ternyata saya harus lembur sampai shift malam, dan pulang kerja besok paginya.

Padahal besok paginya ada beberapa jadwal kuliah yang tidak bisa ditinggalkan.

Walhasil, hari itu saya terpaksa numpang mandi di tempat kosan teman kuliah yang dekat kampus dan sore harinya sudah harus berangkat lagi bekerja shift siang.

Tapi perjuangan seperti itu ternyata masih kurang dibanding kedua teman saya itu.

Mereka hampir tidak pernah melewatkan setiap kelas atau praktek yang diikuti. Padahal jadwal kerja mereka hampir sama dengan saya. Tapi nilai- nilai mereka lumayan bagus, tidak sampai seperti saya yang harus mengulang Kalkulus 1 sampai tiga kali.

Mereka sering tinggal lebih lama di perpustakaan kampus sekedar untuk mendiskusikan tugas dan prosedur praktek.

Tidak seperti saya yang kadang- kadang hanya mengandalkan keberuntungan dan kecepatan membaca saya, di beberapa mata kuliah, saya dengan hanya muncul satu atau dua kali di kampus, tiba- tiba hadir lagi ketika UTS dan UAS. Parah.

Padahal mereka berdua lebih tua dari saya. Bahkan, sampai ada yang paling tua di antara kita, sudah beranak dua, malah disangka dosen ketika masuk kelas pertama kali. Ya jelas saja, dia tampangnya memang agak sangar, dengan kumis dan brewok di wajahnya, tidak ada seorang pun di dalam kelas itu yang menyangka dia adalah mahasiswa semester pertama?

Saya memutuskan untuk pindah kuliah dari kampus itu karena saya pindah kerja yang jam kerjanya normal, bukan shift. Tidak mungkin lagi saya bisa menghadiri kelas mahasiswa reguler dari pagi hingga sore.

Kampus Dua

 

            Di kampus saya yang kedua, saya mengambil kelas malam khusus karyawan. Dan ditambah hari Sabtu atau Minggu jika ada praktek.

Ternyata jauh lebih melelahkan.

Hampir setiap hari badan ceking saya hampir selalu terasa remuk redam kehabisan tenaga.

Saya bekerja di perusahaan Jepang yang notabene sangat sibuk. Dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, hampir tidak ada jam istirahat selain jam makan siang dan waktu sholat.

Belum lagi kalau sering terpaksa lembur karena pekerjaan yang belum selesai.

Hampir setiap hari saya pulang menjelang tengah malam. Saya bekerja di daerah Anyer, ngekos di Cilegon, tapi kuliah di Serang. Sekedar menghabiskan waktu di perjalanan saja sudah sangat melelahkan.

Hampir setiap kali masuk kuliah tubuh terasa tidak nyaman, karena gerah, badan terasa cepel (lengket) dan masih memakai seragam kerja. Ketika mahasiswa lain di kelas berpakaian rapi jali dan harum, saya masuk kelas dalam keadaan kucel kumel kuleuheu (dekil), dan sedikit bau apek. Saya pun tahu diri untuk tidak mengambil tempat duduk di depan, sehingga terpaksa harus duduk mojok di sudut kelas.

Pernah suatu malam, ketika saya baru saja selesai kuliah tiba- tiba diminta untuk datang ke pabrik karena ada masalah. Hanya saya yang bisa datang, karena orang lab yang lain sedang cuti dan tidak bisa datang.

Walhasil, dengan seragam yang sama dengan yang tadi pagi, dan dengan tubuh yang sudah terasa lengket penuh dengan garam dari keringat yang mengering saya harus berangkat lagi ke tempat kerja. Dan kembali bekerja lagi sampai pagi.

Dua semester awal saya masih bisa memaksa diri untuk mengikuti pola hidup seperti itu.

Tapi setelah itu akhirnya saya mulai menyerah, saya menyerah dengan komitmen saya yang kedua untuk bisa menyelesaikan kuliah saya.

Kuliah mulai jarang. Sampai puncaknya ketika uang SPP juga mulai tidak terbayar. Biaya kuliah di kampus saya yang baru ini hampir tiga kali lipat lebih mahal dari kampus yang sebelumnya yang sudah berstatus Universitas Negeri. Kampus ke dua ini kampus swasta yang kampus pusatnya ada di Jakarta.

Ada tiga teman satu angkatan saya di kampus yang terakhir, pada akhirnya bisa menyusul saya ke Qatar, tapi mereka berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Bedanya mereka dengan saya, ya itu tadi, masalah komitmen. Walaupun mereka bekerja di waktu yang sama dengan saya, sibuknya sama dengan saya. Mereka bahkan lebih sibuk karena mengambil jurusan Teknik Kimia, tidak sesibuk jurusan Teknik Industri yang saya ambil.

Toh, pada akhirnya mereka lulus juga.

Dan pada akhirnya juga, mereka bisa menyusul saya ke bekerja di luar negeri.

Hampir dapat dipastikan, peluang mereka untuk mengembangkan karir di perusahaannya lebih terbuka lebar. Dengan posisi saya yang sekarang, dan latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SMK, perkembangan karir yang paling mungkin ya hanya sekedar promosi naik Grade. Diperlukan kualifikasi yang lebih untuk menjadi level yang lebih tinggi, bahkan di posisi yang ada di departemen yang lain,  pendidikan setingkat sarjana menjadi syarat yang hampir mutlak.

Secara gelar akademis, tentu saja tidak ada gelar apa pun yang saya dapat, karena sama sekali tidak lulus. Secara keilmuan pun, ilmu yang saya dapat dari kuliah di jurusan Teknik Industri hanya sedikit sekali dibanding lamanya kuliah yang delapan semester.

Pengorbanan energi dan uang, serta perjuangan saya bertahun- tahun seolah- olah menguap habis begitu saja ketika saya memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah.

Memang sih ada alasan yang kuat, karena saya tidak melewatkan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup untuk bisa bekerja ke luar negeri.

Komitmen Ketiga

 

Di pertengahan tahun dua ribu sepuluh, untuk ketiga kalinya saya berkomitmen untuk kuliah lagi. Kali ini saya memilih jurusan Manajemen, di Universitas Terbuka. Selain karena tidak ada jurusan teknik, pertimbangan bahwa jurusan Teknik Industri memiliki banyak mata kuliah yang sama dengan Manajemen juga menjadi faktor penentu.

Alhamdulillah, kali ini hampir tidak ada kendala.

Tidak ada kendala masalah biaya, karena UT tergolong murah.

Tempat ujian dekat dengan rumah saya.

Semua buku kuliah yang saya perlukan sampai lulus sudah saya beli sejak awal masa pendaftaran.

Dan justru karena tidak ada kendala ini, diri saya dituntut untuk memiliki komitmen yang lebih kuat agar bisa menyelesaikannya. Sekarang usaha dan pengorbanan saya tidak terlalu berat,. Tidak seperti ketika saya kuliah di Cilegon- Serang dulu. Semuanya membutuhkan perngorbanan yang sangat besar. Dari biaya kuliah, ongkos bolak- balik Cilegon- Serang, kelelahan yang luar biasa ketika sepulang bekerja seharian, harus langsung kuliah sampai jam sebelas malam, dan tiba di rumah menjelang tengah malam. Dan ongkos bolak- balik ke Jakarta ketika harus ada praktek.

Saya bisa berhenti kapan saja, karena hampir tidak ada beban dan pengorbanan apa pun.

Belajar di Universitas terbuka kali ini lebih menantang, terutama dari sisi komitmen dan penguatan disiplin diri.

Ada tugas online yang harus saya kerjakan setiap minggu selama delapan minggu. Ada forum diskusi, ada tugas makalah. Yang berbeda hanya semuanya bisa saya kerjakan di rumah. Rata- rata saya mengambil 20 SKS satu semester. Jauh lebih singkat dari yang saya perkirakan sebelumnya.

Alhamdulillah, tidak terasa sudah lebih dari 100 SKS yang sudah saya tempuh dari 144 SKS yang ada.

Saya akan merasa malu luar biasa jika kali ini kuliah saya tidak sampai selesai juga.

Insyaallah, semoga Allah menguatkan komitmen saya, agar saya bisa melanjutkan kuliah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jika sudah menyelesaikan tahap ini, tentunya akan memudahkan saya untuk mengambil Master Degree di jurusan yang lain.

Walau pun jurusan yang saya pilih kali ini adalah “Jurusan Sejuta Umat”, yaitu jurusan manajemen, yang secara kasat mata jelas- jelas tidak akan banyak membantu untuk pengembangan karir saya di tempat bekerja sekarang, tapi saya mempunyai keyakinan.

Ini Déjà vu.

Di buku pertama saya, “Oase Kehidupan Dari Padang Pasir”, tulisan pertamanya adalah “Dialog Lima Belas Juta”, yang menceritakan pengalaman saya yang sedikit dicibir karena telah mengumpulan buku senilai lima belas juta. Yang pada akhirnya, dengan pertolongan Allah, buku- buku itulah yang telah mengantarkan saya bekerja di luar negeri.

Seperti itu juga pilihan saya untuk kuliah kali ini. Saya yakin, dengan izin Allah, di masa depan, setiap detik yang saya habiskan, setiap riyal uang yang saya bayarkan, setiap kalori energi saya yang terbakar ketika belajar, di masa depan akan Allah ganti dengan sesuatu yang dahsyat.

Insyaallah!

Doha, 3 Juni 2013

http://www.didaytea.com

Usus Buntu Gadungan

 

“Kondisi tubuh seringkali bergantung kepada suasana hati. Hati yang galau akan membuat tubuh menimbulkan penyakit yang tidak jelas.

Diagnosa Awal

Baru saja kurebahkan tubuh kerempengku yang sudah kelelahan sepulang dari shift malam itu di atas kasur palembang berwarna biru yang sudah lepek , ketika tiba- tiba perutku sebelah kanan bawah terasa sakit luar biasa. Sakit dan pedih seperti ada puluhan jarum yang menusuk- nusuk. Seperti ada yang meregangkan otot- otot di dalam sana.

Sakit itu tidak seperti biasanya. Kalau hanya mules dan pedih di ulu hati sih, itu sudah biasa. Dengan statusku sebagai anak kos, tentu saja makan sering tidak teratur.

Ketika sakit ini tiba, aku sedikit khawatir, karena aku pernah membaca bahwa sakit perut kanan bawah itu mungkin adalah gejala dari infeksi usus buntu.

Gawat..! Aku harus segera ke klinik nih!”

Sambil menahan sakit, kupaksa tubuhku untuk berdiri. Dan kubawa tubuh ini menuju ke pangkalan angkot terdekat.

Untungnya tidak lama kemudian sudah ada angkot berwarna Ungu yang selalu setia mengantarku ke mana pun tujuanku di Cilegon itu yang menghampiri.

Setibanya di klinik itu, aku langsung mendaftar ke dokter jaga, karena di situ tidak ada dokter spesialis penyakit dalam.

“Selamat pagi Dokter!” Sapaku sambil meringis dan memegang perut dengan kedua tangan, dan agak sedikit membungkuk.

“Selamat pagi! Sini langsung berbaring!” Dokter muda yang mengenakan jilbab berwarna pink itu langsung terlihat khawatir ketika melihatku meringis kesakitan.

“Kenapa perutnya?’ Tanyanya.

“Tidak tahu Dok, tadi tiba- tiba perut saya, bagian kanan bawah terasa sakit banget, pedih!” Kataku sambil membaringkan badanku di atas ranjang pemeriksaan.

Ibu Dokter tidak menjawab. Dia hanya mengambil stetoskop dan alat pengukur tekanan darah, lalu melakukan prosedur rutin.

“Tolong buka kausnya!” Pinta Ibu Dokter.

Setelah itu dia langsung menekan perutku, tepat di bagian yang sakit.

“Ahhh…..!” Aku langsung bangkit, dan hampir terduduk.

“Maaf. Sakit banget ya?” Tanya Ibu Dokter.

“Saya harus memeriksa dengan cara seperti ini. Karena saya takutkan kamu terkena infeksi usus buntu” Katanya lagi.

“Tahan ya!” Katanya sambil menekan lagi perutku.

“Ketika ditekan sakit?” Tanyanya lagi.

“Sakit banget…” Jawabku lemas.

“Ketika tekanannya dilepas, sakit juga?” Dia bertanya lagi.

“Iya Dok, sakit juga..” Kujawab lagi.

Kali ini muka Ibu Dokter mulai terlihat khawatir.

“Saya cek satu parameter lagi ya!” Katanya sambil mengangkat kaki kananku, sampai paha kananku hampir menempel ke perutku.

“Ahhhh….!” Aku hampir berteriak, karena sakit di perutku hampir sama dengan ketika perutku ditekan.

“Waduh, gawat Pak! Ini positif usus buntu!” Katanya dengan sedikit panik.

“Langsung saya rujuk ke rumah sakit ya! Ini harus segera dioperasi, kalau tidak bisa berakibat fatal!” Katanya dengan sedikit panik, dan sambil terburu- buru menulis surat rujukan ke rumah sakit terbesar di kota Cilegon.

Aku tidak bisa berkata- kata dan hanya menatap kosong langit- langit ruangan periksa.

“Ini suratnya, silahkan langsung saja ke rumah sakit ya! Ingat, ini ini harus dioperasi sekarang juga, kalau tidak bisa gawat!” Kata Ibu Dokter itu, masih dengan raut muka yang panik dan cemas.

“Iya Dok, makasih banyak ya..” Jawabku dengan lemas dan melangkah gontai ke luar dari ruangan periksa itu.

Untuk beberapa saat, aku biarkan tubuhku mematung di atas kursi halte di depan klinik. Tatapanku kosong menatap kertas rekomendasi rawat inap dari dokter di kliniktadi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Waduuh, gawat ini mah euy! Aku kena usus buntu..!” Umpatku dalam hati sambil tetap meringis menahan pedih di perutku yang tak kunjung reda.

Yang ada di pikiranku saat itu hanya Ibuku. Ibuku adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Minimal dia bisa bertanya kepada dokter di sana. Secepat kilat kupijit nomor hape ibu.

Second Opinion

            Alhamdulillah, ternyata keputusanku untuk menelepon ibuku sangat tepat. Ternyata bukannya langsung menyuruhku untuk pergi ke rumah sakit untuk dioperasi sesuai rujukan dokter di klinik, aku malah disuruh untuk mencari second opinion. Ibuku menyuruhku untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam.

Akhirnya aku tetap pergi ke rumah sakit.

Anehnya, rasa pedih di dalam perutku agak berkurang. Sepanjang perjalanan di dalam angkot berwarna Ungu itu, rasa sakitku sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Sesampainya di rumah sakit, langsung saja aku mendaftar di bagian spesialis penyakit dalam.

Tidak pake lama, giliranku pun tiba.

Aku terangkan saja pada dokter spesialis itu kejadian tadi pagi dan termasuk rekomendasi untuk “operasi dengan segera” dari sang dokter di klinik dekat rumah kontrakanku.

Dokter yang perawakannya tidak jauh beda seperti dokter selebritis spesialis kandungan, dokter Boyke itu, melakukan prosedur pemeriksaan yang sama. Dari tes nyeri tekan dan nyeri lepas, sampai lutut kananku yang diangkat ke arah perut. Alhamdulillah, pada saat pemeriksaan kali ini, rasa sakit itu sudah jauh berkurang. Tapi tetap saja masih ada sakit dan pedih.

Walau pun begitu, tapi aku tetap harus menjalani prosedur pemeriksaan yang lengkap, untuk memastikan apa penyebab rasa nyeri yang melanda begitu hebat di dalam perutku itu.

            Aku harus menjalani semua tes laboratorium, dari urine, darah hingga feses.

Kata pak Dokter, hasilnya akan bisa diketahui setelah dua hari. Tapi, hari itu juga aku harus menjalani tes yang lain, tes Ultrasonografi (USG). Ya! Anda tidak salah baca.Aku harus menjalani USG, layaknya ibu- ibu hamil saja.

Dan benar saja, ketika antri di bagian USG, aku mengantri bersamaan dengan para ibu- ibu hamil. Hanya aku saja pria yang duduk di situ.

Walau pun aku memasang pose yang sama dengan ibu- ibu itu-duduk menyender di kursi, muka menunduk, dan tangan sesekali mengelus- ngelus perut-tapi tetap saja, aku tetap terlihat mencolok di dalam antrian itu. Ibu- ibu hamil itu malah cekikikan dan berbisik- bisik tidak jelas melihatku yang berwajah muram, sambil mengusap- ngusap perutku yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit lagi.

Hasil USG pun ternyata tidak menunjukkan masalah apa- apa.

Dan setelah semua hasil selesai pun, dokter belum bisa memutuskan apa yang menyebabkan rasa sakit di perutku. Walau pun pada akhirnya dia mengambil kesimpulan, itu pun hanya sebatas kemungkinan, bahwa (mungking) ada otot di dalam perutku yang robek.

Kutinggalkan rumah sakit dengan kepala dipenuhi keraguan.

“Otot yang robek..?” Ah, benar- benar tidak jelas.

            Malam itu juga, kuputuskan untuk pulang ke Bandung.

Dr Li

Sebelum subuh, aku sudah tiba di terminal Leuwipanjang dan di sambut oleh sejuknya udara kota Bandung ketika pintu bis terbuka dengan perlahan. Setiap kali udara sejuk kuhela masuk ke dalam paru- paruku, badanku terasa semakin segar.

Setelah beristirahat sebentar, sholat subuh dan sarapan bubur ayam idolaku di kampung halaman, Ibu segera mengajakku ke rumah sakit.

Tidak lupa kubawa juga sebundel hasil Xray, USG, Hasil tes darah, urine dan feses kubawa dengan untuk diperlihatkan ke dokter Li.

Dokter Li ini adalah dokter yang sudah merawatku sejak bayi. Tongkrongannya sih menurutku lebih mirip ahli kungfu. Tubuh yang tinggi besar, tatapan mata yang tajam, serta sepasang tangan yang kokoh tidak menampakkan kalau dia sudah berumur lebih dari 80 tahun (kata ibuku sih). Tadinya sih aku tidak percaya, karena kulihat dia setiap tahun selalu mengikuti acara lomba lari 10 kilometer yang diadakan oleh rumah sakit tempat ibuku bekerja. Dan tidak hanya sekedar berpartisipasi, dokter Li betul- betul berlomba dengan peserta yang lain.

“Aa, ayo, itu sudah dipanggil sama dokter Li!” Tak sampai lima menit, aku sudah dipanggil oleh ibu ke dalam ruangan dokter Li.

Ketika aku dan Ibu memasuki ruangan, kulihat dokter Li sedang membolak- balik lembar demi lembar hasil testku di rumah sakit Cilegon.

Semoga tidak ada yang serius..” Gumamku perlahan.

“Tolong suruh anak kamu tiduran di ranjang periksa..!” Kata dokter Li sambil menyimpan setumpuk kertas dan hasil X-Ray dan USGku di atas meja kerjanya yang mungil.

Tak berapa lama, dokter Li menghampiriku dan memegang pergelangan tanganku. Persis seperti adegan ketika Wong Fei Hung memeriksa denyut nadi muridnya yang cedera. Dan ternyata hanya itu saja yang dia lakukan.

Aku heran.

Kali ini dia sama sekali tidak menggunakan stetoskopnya, apalagi melakukan pemeriksaan gejala usus buntu seperti dokter di Cilegon.

Seperti biasanya, dokter Li hampir tidak pernah bicara secara langsung kepadaku, selalu saja dia berbicara kepada ibuku.

“Gimana Dok, anak saya kenapa?” Tanya Ibuku penasaran.

Dokter Li, tidak menjawab. Hanya matanya saja yang menatapku tajam, tapi segurat senyum tiba- tiba terbit di ujung bibirnya, walau pun tidak sampai bisa mengangkat pipinya yang sudah keriput dimakan umur.

Neng, anak maneh mah lain gering apendisitis, mun henteu keur patah hati, pasti keur hayang kawin..!” Katanya dengan kencang, sambil tiba- tiba tertawa terkekeh- kekeh dan setengah melemparkan tumpukan dokumen hasil testku di Cilegon ke arah aku dan ibuku.

(Neng, anak kamu itu bukannya sakit apendisitis/usus buntu, kalau ngga lagi patah hati, pasti dia lagi pengen kawin..!)

Hadeuuh, dari mana dokter Li tahu kalau sejak seminggu yang lalu aku sedang galau karena gadis yang kucintai dinikahi sama orang lain ya?

Belajar Memaksa Diri

“Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia”

 

                “Kriiinnngg…!!!” Suara melengking tinggi seperti ribuan gelas yang dipecahkan bersama- sama memasuki telinga seperti tusukan tombak yang tembus ke dalam otak. Sakit.

                Hampir saja kulempar weker itu jauh- jauh kalau tidak ingat harganya lumayan mahal. Hehehe…

                Ah, ternyata baru setengah empat. Sengaja kubuat alarm berbunyi jam segitu, niatnya sih ingin sholat malam dulu sebelum sholat subuh ke mesjid.

                Tetapi pada akhirnya alarm mah alarm, tapi yang bangun hanya tanganku saja. Itu pun sekedar mematikan lengkingan super berisik si weker merah kesayanganku itu. Pada akhirnya, sholat malam engga, dan sholat subuh boro- boro bisa ke mesjid. Yang ada malah kesiangan. Dan kadang bablas sampai hampir mepet matahari terbit.

                Apakah ada yang memiliki pengalaman yang sama?

                Mungkin tidak ya? Tidak jauh beda maksudnya kan? 😀

                Begitulah yang terjadi, menjadi rutinitas harian saya. Boro- boro sholat malam atau bisa sholat subuh ke mesjid. Sholat subuh saja kadang masih bisa telat.

                Walaupun tidak sama persis, tapi tahapan- tahapan monolog seperti ini pasti akan kita lalui:

                “Jam berapa sekarang?” Kita pasti langsung terduduk atau masih berbaring tapi dengan mata yang setengah terbuka karena tertutup pulau di ujung mata. Kalau dalam bahasa Prancis, biasanya pulau ini disebut sebagai C’hileuh.

                “Hari apa ya sekarang?” Mulai deh garuk- garuk kepala walau pun tidak gatal.

                “Siapa sih yang nyalain alarm jam segini?” (padahal kita sendiri tuh yang nyalaain, hehehe)

                “Oh alarm ini, tahajud tea geningan yah?” Pada tahap ini mulai sedikit sadar nih. Sampai tiba-tiba:

                “Ah, masih setengah empat ini lah, subuh kan jam lima kurang seperempat, lebih dari sejam” Pertanda buruk pun mulai muncul. 😀

                Dengan diikuti bunyi yang sangat legendaris:

                “ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ……………….” Kita pun sukses tidur lagi dan dialog selanjutnya (setelah bangun yang kedua) mungkin kita yang marah- marah kepada diri sendiri, atau bahkan istri kita.

Menyalahkan, kenapa kita tidak dibangunkan.

Sok lihatin geura, berapa kali kita kalah?

                Bukan satu, bukan dua, tapi lima kali kita menyerah di dalam pertarungan terbesar dalam diri seorang manusia.

Baik vs Jahat.

Malas vs Rajin.

Bangun vs Tidur.

Kasur vs Sajadah.

Alhamdulillah, akan tetapi hal itu tidak terjadi lagi sodara- sodaraku yang tercinta!

Setelah melalui tahapan perenungan, pencarian, investigasi dan observasi yang menyeluruh dan berkesinambungan serta super komprehensip, eh, komprehensif, akhirnya saya temukan siasat terbaik untuk bisa melawan lambaian selimut dan panggilan tempat tidur empuk yang bselama bertahun- tahun membuat saya jadi manusia pemalas.

Beberapa minggu ini Alhamdulillah saya akhirnya menemukan jurus paling ampuh untuk bisa bangun tidur, dan tentunya terbukti ampuh untuk diri saya juga. J Sebab tidak mungkin saya membuat tulisan ini kalau diri saya masih belekok, dan tidak mengalami dan melakukan apa yang saya tulis. Semoga ampuh juga buat yang membaca.

                Ternyata nih, penyebab utama kemalasan diri untuk bisa bangun adalah hal yang sangat sederhana sekali.  Kita malas bangun, atau bahkan tidak bisa bangun karena kita sering, bahkan selalu memberi kesempatan kedua kepada diri kita untuk berpikir setelah kita terbangun.

Jurusnya cuma satu:  Hudang Harita Keneh! Eh, maaf, channelnya berpindah lagi ke bahasa Sunda.

Bangun Saat Itu Juga!

                Ya, begitu anda terbangun karena alarm atau dibangunkan oleh istri, jangan beri waktu otak untuk berpikir. Jangan beri kesempatan sisi malas anda untuk menguasai diri anda. Lempar diri anda keluar dari tempat tidur.

                Tinggalkan tempat tidur, dan langsung ke kamar mandi, siram muka anda dengan air dingin. Ketika muka sudah terbasuh dengan air wudhu, dan nyawa anda sudah terkumpul semua itulah saatnya anda berpikir. Hehehe..

                Kalau pun anda ternyata masih ngotot ingin tidur lagi, insyaallah tidak akan bisa, kecuali  anda memang super kebluk dan bersahabat erat dengan Raja Penidur, tokoh terhebat dunia persilatan di novel karya Bastian Tito: Wiro Sableng. 😀

                Sok atuh, masa masih kalah sama selimut dan kasur?

                Sholat malam itu ternyata tidak susah. Walaupun hanya sebatas satu rakaat witir, tapi jika kita bisa merutinkannya setiap hari, insyaallah bisa mengangkat kita ke derajat yang sangat mulia.

                Dan pastinya akan ada “efek samping” yang lainnya.

                If you managed to do that, eh, kenapa pindah channel lagi ini teh? Maaf. Jika anda berhasil memaksa diri anda untuk mendobrak kemalasan ini, insyaallah anda pasti akan bisa rutin sholat subuh ke mesjid setiap hari.

                Dan insyaallah pasti itu juga akan berakibat anda bisa sholat sunat dua rakaat sebelum subuh, yang “lebih baik dari dunia dan seisinya” kan?

Pada akhirnya saya tetap saja hanya seorang manusia tempatnya salah dan khilaf, yang kadang akhirnya masih juga terlalu lemah untuk mengalahkan kemalasan. Sehingga satu atau dua kali masih bisa terlambat.

                Buat diri saya, untuk bisa menemukan penyebab utama seperti ini sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Ya seperti di tulisan Dobrak Diri, saya akhirnya bisa mendobrak diri saya untuk bisa sholat malam, walau pun hanya dua rakaat+satu rakaat witir, atau bahkan hanya sholat witir saja.

Lagi- lagi pencapaian ini membuat diri saya memiliki motivasi lebih dalam hidup. Lebih segar dan lebih tenang menjalani hari. Masalah- masalah besar menjadi ringan.

Tidak ada yang susah lah di dunia ini mah, mau urusan ibadah, pekerjaan, sekolah, rumah tangga, dan urusan- urusan lain yang biasanya membikin kita pusing tujuh keliling.

                Bukankah kemalasan itu salah satu sumber malapetaka dan kemiskinan hidup?

                Mari memaksa diri!

 

www.didaytea.com       

271111

               

Dobrak Diri

Dobrak Diri

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah

Challenge yourself, and lt your life will be full of passion to let you live better here and after” (Diday Tea)

Ketika saya sedang berkonsentrasi penuh untuk melatih intuisi dan ketajaman mata , serta ketelitian dan ketepatan berpikir dengan bermain Angry Birds, tiba- tiba hape Blueberryku (bukan Blackberry) tiba- tiba meraung- raung. Di seberang telepon sana, ternyata salah seorang teman kerja saya meminta tolong untuk memperbaiki laptopnya yang kena virus. Saya kaget lah, tiada angin badai atau hujan apalagi awan mendung yang lewat di depan rumah saya, kenapa tiba- tiba ada orang yang merekomendasikan saya sebagai seorang ahli IT yang bisa memperbaiki semua masalah software di komputer merek apa pun.

Tadinya sih mau saya tolak dan “mengorbankan” teman saya yang saya yakini lebih mumpuni di bidang perkomputeran. Permintaan tolong itu akan saya tolak saja, dengan alasan saya tidak tahu menahu masalah software. Eh, setelah saya pikir ulang,  ternyata ini adalah tantangan baru! Apa salahnya sih kalau dicoba dulu, kan mas Google selalu ada di depan saya setiap saat? Kalau pun ngga bisa ya, kembalikan saja laptop itu. Gitu aja kok repot yah?

Laptop teman saya itu memang berada di dalam masalah besar. Laptop itu sama sekali tidak bisa bertelur, eh, itu mah hayam ya? Maaf, tiba- tiba kepikiran Angry Bird yang egg thrower, hehehe…

Laptop teman saya itu tidak bisa mengeksekusi program apa pun. Bahkan system restore pun tidak bisa.

Berdasarkan pengalaman laptop saya yang pernah mengalami hal yang kurang lebih sama.  Saya coba cari di menu facory reset. Alhamdulillah, ternyata ketemu dan bisa! Laptop itu saya factory reset saja dan tidak lebih dari 20 menit, seresettt…Semua beres, dan laptop itu kembali seperti baru.

Buat saya, kejadian ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Pencapaian yang meningkatkan percaya diri di dalam diri saya berkali- kali  lipat. Karena ini membuat saya berkata kepada diri saya: “Ternyata saya bisa ya?” “Ternyata mudah ya?” “Ternyata gitu doang lah!”

Saya bisa melakukan hal yang tadinya saya pun tidak yakin apakahbisa melakukannya atau tidak.

Ya! Setelah beberapa kali memenuhi tantangan diri, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang sulit di dalam hidup ini asal kita mau dan dengan izin Allah.

Masalahnya sederhana saja, hanya sekedar mau atau tidak mau. Lain tidak.

Jika anda mau dan kalau pun tidak berhasil, anda sudah mendapat pengalaman baru untuk tidak berhasil.

Anda selangkah lebih maju dibanding orang yang jarang mau menerima tantangan atau membuat tantangan dalam hidupnya.

Apakah anda sekarang hidup dengan nyaman? Bangun tidur, sholat, sarapan berangkat kerja, pulang, jalan- jalan ke taman atau mall dengan keluarga tercinta.

Jika anda nyaman sih silahkan saja, dan tidak ada yang salah dengan hal itu.

Tapi percayalah, anda akan merasa lebih cepat tua, hehehe…

Untuk saya, ketika hidup hanya sebatas menjalani rutinitas seperti itu, saya akan merasa seperti Angry Bird di dalam sangkar. Ada perasaan kurang nyaman ketika kejenuhan rutinitas mulai hinggap di atas pikiran kita. Hidup terasa kurang berwarna.

Walau pun tidak sering, tapi saya sering memberikan tantangan untuk diri saya. Hal yang menantang tidak harus selalu sulit. Contohnya menantang diri untuk bisa sholat dhuha dua rakaat setiap hari. Atau merutinkan sholat malam,walaupun hanya satu rakaat witir. Atau memaksa diri untuk bisa mengaji Al Qurán satu ayat setiap hari.

Atau bisa juga berupa tantangan fisik. Saya menantang diri saya untuk bisa berlari terus- terusan selama 30 menit di atas treadmill dengan kecepatan 10km/jam (kalau yang ini masih belum kuat..hehehe). Atau memaksakan diri untuk rutin bermain sepakbola setiap minggu. Atau hal kecil seperti menantang diri untuk push up 10 kali dan sit up 10 kali setiap bangun tidur.

Atau kadang saya mencari tips dan trik untuk mengedit foto di Youtube, dan mencoba praktek sendiri. Lalu saya posting di Facebook untuk melihat bagaimana tanggapan teman- teman saya.

Dan tantangan- tantangan kecil ini ternyata berlanjut sampai sekarang. Karena saya belum bisa istiqomah terus- terusan melakukan tantangan- tantangan itu. Kecil atau besar pasti akan selalu sulit. Sulit tapi bisa. Bisa asal mau!

Tuh kan, ujung- ujungnya mah, asal kita mau, pasti kita akan bisa melakukan hal- hal yang sulit sekalipun.

Ketika kita sudah bisa dan berani menantang diri untuk mencapai sesuatu, itu pun sudah sangat bernilai. Itu artinya kita sudah berhasil mendobrak kemalasan di dalam diri.

Setiap pencapaian setelah memenuhi tantangan akan menimbulkan ledakan motivasi dan percaya diri yang luar biasa dari dalam diri kita.

Bukankah malas adalah salah satu musuh terbesar di dalam hidup kita?

Ayo dobrak diri!

Didaytea

21112011

Doha, Qatar