Iftar Bukan Balas Dendam

Teori

 Beberapa hari lalu ada berita di media setempat, bahwa ada beberapa orang, bahkan belasan orang yang dilarikan ke rumah sakit karena sakit perut yang disebabkan oleh kebanyakan makan di malam pertama Ramadhan. Dan, ternyata menurut media tersebut, kejadian ini diperkirakan berlangsung sepanjang bulan Ramadhan.

Hakikat puasa itu seharusnya menghapus jatah makan siang, bukan merapel makan siang dan makan malam di satu waktu dalam rangka menebus lapar selama siang hari.

Puasa itu memang dari subuh sampai magrib.

Tapi hakikatnya juga sebagai program pelatihan pengendalian hawa nafsu manusia.

Persiapan untuk bisa mempraktekkannya di kehidupan yang nyata sebelas bulan sesudah Ramadhan.

Sejak saya melaksakanan ibadah puasa, bulan ramdhan itu identik dengan makanan  makanan istimewa. Kolek pisang, kolek labu/blewah, es campur, beraneka macam kurma, asinan, rujak cuka, dan beragam jenis makanan- makanan manis, sudah dipastikan akan disajikan di atas meja makan keluarga Indonesia.

Tidak salah sih. Karena momen seperti itu hanya datang setahun sekali.

Yang salah itu tentunya yang berlebihan.  Yang ketika adzan tiba langsung melahap semua makanan manisyang tersaji di atas meja makan.

Idealnya ber buka itu minum air putih satu atau dua gelas, beberapa butir kurma, atau makanan dan minuman manis secukupnya saja. Setelah itu bersegeralah untuk sholat Maghrib di mesjid.

Menyantap makanan utama sebaiknya setelah shalat tarawih, dan kalau pun rasa lapar sudah tidak tertahankan, paling cepat setengah jam setelah adzan Maghrib, untuk memberi kesempatan sistem pencernaan kita beradaptasi.

makanan tradisional Qatar
Praktek

Dua hari yang lalu teori ini saya langgar seratus persen.

Alasannya ya sangat jelas. Saya tidak bisa mengendalikan diri saya. Biasanya sih kami paling cepat makan malam setengah jam sebelum sholat Isya. Tapi malam itu istri saya sudah menyiapkan makanan utama.

Ketika waktu berbuka saja saya sudah menyantap es campur dan beberapa butir kurma Mabroom, sejenis kurma yang lumayan mahal. Teksturnya kenyal, legit ketika digigit, dan tidak terlalu manis.

Semangkok es campur pun licin tandas saya habiskan dalam sekejap saja, karena hari itu saya tidak sempat sahur karena kesiangan.

Ketika saya tiba dari mesjid, setelah sholat maghrib, ternyata sudah tersaji masakan- masakan yang ajaib.

Tahu goreng.

Ikan asin goreng.

Sayur Lodeh.

Sambel Terasi.

Pete bakar.

Sayur lodeh.

Tadinya sih saya bisa menahan diri, walau pun hanya untuk beberapa detik saja. Saya bertekad untuk makan selepas sholat Tarawih. Tapi saaya tidak kuasa lagi ketika aroma sayur lodeh dan sambel terasi merasuk ke dalam syaraf- syaraf di dalam hidung saya.

Tapi, siapa yang tidak tergoda jika melihat menu semacam itu sudah tersaji di depan mata?

Hehehe.

Selanjutnya, saya langsung lepas kendali untuk langsung menyantap masakan- masakan ajaib itu.

Sampai nambah tiga kali!

Ajaib tentunya, karena tidak pernah ada yang menyangka dan menduga kalau menu semacam itu bisa tersaji di rumah keluarga yang tinggal di negara Timut Tengah, yang notabene berada di tengah gurun, dan hanya orang Indonesia saja yang mengenalnya.
Akibat Buruk

 Akibat lepas kendali itu, saya kamerkaan (kekenyangan).

Dan akibat yang lebih buruk lagi, saya hanya bisa terbaring lemah ketika adzan Isya.

Sholat Tarawih pun untuk pertama kalinya saya lewatkan di bulan Ramadhan tahun ini.

Waspdalah dengan godaan makanan dan hawa nafsu kita.

Waspadalah!

Waspadalah!

Diday Tea

16072013 08:14

Iklan

Nikmatnya Berbuka Dengan Gehu di Qatar

Koneksi internet di sini sangat cepat dan mudah, sehingga saya tidak pernah ketinggalan perkembangan berita di tanah air. Ketika membaca dan menonton berita tentang “ngambeknya” para produsen tahu dan tempe di Indonesia, sehingga mereka sepakat untuk tidak memproduksi Tahu dan Tempe karena harga kedelai yang tiba- tiba meroket, saya merasa sangat beruntung.

Saya merasa sangat beruntung karena saya bisa mendapatkan Tahu dan Tempe dengan mudah, walau pun saya tinggal di negara kecil yang terletak di tengah Gurun: Qatar.

Tidak hanya Tahu dan Tempe saja yang mudah didapatkan, makanan buka puasa tradisional dari berbagai daerah pun bisa kami dapatkan dengan mudah, walau pun tidak harus memasak sendiri. Dari Bala- bala ala Sunda, Kolak pisang, Kolak Labu, Es Campur, Asinan Bogor, sampai Cecuer dan ketan bintul a la Banten juga ada.

Untuk masalah kuliner, kami para TKI yang bekerja di Qatar tergolong sangat beruntung. Di negara yang kecil nan kaya raya ini setidaknya ada tujuh restoran Indonesia. Ada yang bergaya masakan Jawa, menu Minang, menu ala warteg, bahkan ada restoran yang khusus menyediakan masakan dan jajanan yang terbuat dari Tahu.

Bayangkan saja berapa macam jajanan yang berbahan baku Tahu. Batagor, Gehu/Tahu Isi, Bakso-Tahu/Siomay Bandung, Tahu Gejrot, Batagor Kuah, Kupat Tahu, dan Karedok Tahu. Menu jajanan yang mungkin susah ditemukan selain di kota Bandung saja.

Dan mungkin di Indonesia sendiri belum ada restoran yang unik seperti ini.

Kesulitan kami yang terbesar ketika berpuasa di Qatar, mungkin hanya temperatur, dan waktu puasa yang agak lebih panjang dibanding dengan di Indonesia.

Di Qatar, bulan Juni sampai Agustus adalah musim panas. Sejak saya tiba di Qatar tahun 2008, bulan suci Ramadhan selalu jatuh pada musim panas. Suhu rata- rata pada siang hari selalu lebih dari 40 derajat Celsius. Dan pada malam hari pun tidak jauh berbeda, hanya sedikit lebih rendah saja. Lebih terasa berat lagi di akhir Juli dan awal Agustus, karena temperatur yang tinggi akan berpadu juga dengan kelembaban yang tinggi juga. Sehingga, jika kita berada di luar ruangan, kita akan sangat cepat merasa kelelahan walau pun tidak melakukan apa- apa.

Di musim panas, waktu siang lebih panjang. Adzan subuh berkumandang sekira pukul setengah empat pagi, dan adzan Magrib tiba sekira pukul setengah tujuh.

Sebisa mungkin kami menghindari untuk keluar pada malam hari. Setidaknya kami bisa menghindari ganasnya sinar matahari musim panas di tengah gurun ini.

Pemerintah Qatar sangat mendukung dan mengkondisikan para warganya untuk khusyu beribadah di bulan Ramadhan.

Para pekerja yang bekerja non- shift dibatasi hanya bekerja selama lima jam saja. Jadi pekerja kantoran hanya boleh bekerja dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang.

Untuk pekerja yang shift, semua perusahaan memberi tunjangan khusus dan lembur istimewa untuk karyawan yang muslim.

Selain itu juga ada dispensasi khusus bagi karyawan yang muslim. Mereka boleh mengajukan perubahan jadwal kerja mereka menjadi hanya malam hari saja.

Mesjid di Qatar bagus- bagus dan sangat nyaman. Pemerintah membangun mesjid hampir di setiap blok pemukiman penduduk.

Bahkan ada mushola yang bagus, bersih dan nyaman di dalam pusat perbelanjaan. Di salah satu mal terbesar di Qatar, adasatu mushola besar dan setidaknya dua atau tiga mushola di setiap lantai.

Dan juga, Mesjid terbesar di Qatar, Mesjid Imam Muhammad Ibn Abdul Wahhab, bulan Ramadhan kali ini mengundang Imam tamu dari luar Qatar seperti Sheikh Abdullah Basfar dan Sheikh Sa’d Al Ghamidi yang sebagian besar dari kita hanya bisa mendengar suara bacaan Al Qur’annya dari rekaman radio, atau siaran langsung taraweh di televisi.

Di banyak tempat, pemerintah menyediakan tenda- tenda iftar untuk umum.

Pemerintah juga mengadakan acara buka puasa bersama akbar bersama komunitas warga muslim Indonesia.
Tapi seperti di Indonesia juga, tetap saja ada godaan yang sama.

Di Qatar, bulan Ramadhan juga adalah bulan diskon, bulan promosi, dan bulan Sale, karena bertepatan juga dengan musim Summer Sale.

Showroom mobil dan pusat perbelanjaan berlomba- lomba menggoda para penduduk Qatar untuk menghabiskan uang dengan godaan diskon dan promosi yang sangat menggiurkan.

.

Masakan Paling Enak Sedunia



“Sesuatu yang menurut kita biasa saja, mungkin untuk orang lain adalah hal yang luar biasa”

Menu Favorit

Ketika baru beberapa kali bekerja di Qatar, saya memiliki seorang kenalan baru, seorang Chef di sebuah restoran yang terkenal. Restorannya berada tepat di depan pintu masuk salah satu mall yang terbesar di Doha.
Saya beberapa kali berkunjung ke restorannya, dan Alhamdulillah setiap itu pula saya hampir tidak pernah membayar. Sering saya memaksa untuk membayar, tapi dia paling hanya membiarkan saya membayar minumannya saja. Itu pun tidak seberapa dibanding harga  makanan utamanya.
Di restoran Italia yang dia kepalai, menu favorit saya adalah semacam Mie Ayam, tapi berbahan tambahan udang, disajikan dengan sangat unik. Bagian atas si mangkuk saji ditutup, atau ditangkupi oleh semacam kulit pangsit.

 

Ketika kita menusukkan sendok ke atasnya, langsung deh partikel- partikel aroma pedas, segar, dan menggiurkan yang ada di dalam mie/spageti tersebut berebutan masuk ke setiap sensor indra penciuman kita. Sekilas sih aroma yang keluar ini mirip dengan salah satu menu di restoran Pizza terkenal, Spicy Shrimp Fushili, hanya aroma nya jauh lebih segar dan lebih sedikit aroma kejunya.
Ceglug. Silahkan menelan ludah dulu sebelum melanjutkan membaca. Hehehe.

 

Menu favorit kedua saya, Pizza. Pizza buatan restoran ini sangat mirip dengan Pizza buatan waralaba terkenal.

Tapi, ada perbedaan yang sangat signifikan.

 

Pizza buatan restoran ini walau pun sudah dingin, tapi masih terasa crunchy. Tidak umes dan lunak seperti Pizza buatan waralaba yang terkenal itu.Bahkan walau pun sudah  dihangatkan dengan microwave.

 

Ketika saya sudah menikah dan membawa keluarga berkunjung ke restorannya , dan akhirnya bisa membayar dengan normal seperti konsumen lainnya, tetapi, selalu ada pelayanan yang spesial.

 

Minuman gratis, extra udang di dalam menu yang tadi saya sebutkan, dan lain-
lain.

 

Makanan Super Lezat

 

Saya beberapa kali menginap di rumahnya yang berada tepat di tengah kota  Doha.

 

Tempat kosan saya dulu di luar kota Doha. Jadi kadang kalau kemalaman setelah beredar seharian atau besok paginya ada kegiatan di Doha, saya biasanya menginap di rumahnya.
Di rumahnya ada beberapa orang yang mengisi, mereka juga Chef.

Hal pertama yang saya bayangkan ketika pertama kali menginap, tentu saja saya akan merasakan makan malam yang super nikmat dan mewah. Bayangkan saja, ada lebih dari satu orang juru masak di restoran Italia.

 

Dan perkiraan saya semakin nyata, ketika sebelum ke rumahnya saya diajak berbelanja dahulu ke supermarket.

 

Saya tidak tahu apa yang dia beli, karena saya hanya menunggu di mobil.

Sehabis melepas lelah, dia pun bertanya: “Mau makan apa nih ?” Tanya si mas  Chef sambil membereskan belanjaan tadi.
“Terserah, apa aja, pasti enak lah masakan Chef mah!” Saya menjawab sambil meraih sebotol air mineral di dalam kulkas.
“Beneran nih? Gua mau masak masakan yang menurut gua paling enak. Makanan favorit orang serumah nih. Tapi kayanya lu ngga bakalan sukaYakin ngga mau dimasakin apa- apa?” Tanya dia berusaha meyakinkan.
“Iya, yakin. Pasti enak lah masakn Chef internasional mah!” Jawab saya lagi.

“Oke deh, tunggu bentar ya! Nonton film atau apa dulu kek ya!” Kata si mas Chef, sambil berlalu membawa tubuh suburnya berjalan ke arah dapur.
“Siip! Tenang aja Mas!” Jawab saya sambil merebahkan tubuh lelah saya di atas sofa.

Kalau Chef tapi ukuran tubuhnya subur, menurut saya itu adalah nilai tambah, karena menunjukkan bahwa makanan hasil masakan dia pasti enak sekali.

 

Karena pasti mencicipinya banyak. Hehehe.
Kurang dari setengah jam, si mas Chef ini sudah sibuk bolak- balik dari dapur ke ruang tamu untuk menyiapkan beberapa piring dan mangkok dan peralatan makan lainnya.

“Broo! Makanan dah siap nih!” Si Mas bro berteriak memanggil temannya yang sedang  menyendiri di dalam kamar.

“Okee, bentar lagi gua keluar!” Ada suara laki- laki menjawab dari dalam kamar yang tertutup itu.
Dan tak lama sesosok tubuh kurus dan setinggi saya keluar dari kamar itu. Dia masih mengenakan seragam koki. Katanya sih dia mau berangkat kerja malam.

Ketika semua orang sudah duduk melingkar, dan sudah ada satu set peralatan makan lengkap di depannya, si mas Chef beranjak lagi dari duduknya menuju ke dapur.

Dasar Chef, peralatan makan biasa pun, dia susun begitu rupa sehingga terkesan sangat rapi, tidak seperti kita orang rumahan biasa yang menyusun sendok, garpu, piring dan mangkok sekenanya saja.
Semakin yakinlah saya bahwa  malam ini saya akan memakan masakan Italia yang super spektakuler dan maknyuuss…
“Niih…Makan malam kita udah jadi!” Kata si mas Chef sambil membawa panci yang berukuran lumayan besar.
Sejak dia keluar dari dapur saja, air liur saya sudah mengalir deras, sehingga saya harus ber-ceglug ria beberapa kali karena membayangkan seperti apa makan malam saya kali ini. Pasti masakan Italia yang belum pernah saya makan di restoran si mas Chef.

Menu Ajaib
Panci itu dia bawa dalam keadaan tertutup, dan sampai panci itu mendarat di tengah- tengah kami, saya masih belum bisa menebak makanan jenis apakah itu yang dia masak.

Tidak ada bocoran sekali untuk menebaknya, karena tidak ada satu pun partikel bau dan aroma dari masakan itu yang mampir ke dalam hidungku.
Eh, begitu dia buka pancinya, betapa terkejutnya saya melihat masakan yang ada di situ.

Ternyata,yang dia masak itu mie rebus pake telor!

 

Halah, gubraag..

 

Kalau adegan ini ada di film kartun, mungkin yang terlihat di televisi hanya gambar kaki saya saja yang terjengkang ke belakang.

“ Ayo cepetan, katanya laper! Udah gua buka lu malah melongo aja!” Dengan cueknya si mas Chef berkata seperti itu, tanpa menyadari bahwa saya masih syok melihat menu yang sejak dulu memang sudah jadi santapan sehari- hari saya di tempat kosan.

“Mas masak mie rebus pake telor?” Tanya saya untuk memastikan.

“Bukan Spicy Shrimp Linguini ala menu di restoran Mas?” Tanya saya lagi dengan masih memegang mangkok putih di depan dada.
“Loh, kamu pengen makan itu toh? Kenapa kagak bilang dari tadi?! Kalau lu bilang ya pasti gua masakin lah! Hahahaa” Dia menjawab sambil tertawa terbahak- bahak dan mengaduk- ngaduk mie rebus yang sudah tersaji di dalam panci aluminium berukuran jumbo itu.

“Ya gua nyangkanya mas bakal masak kaya menu di restoran lah. Trus tadi mas bilang juga bakal masak masakan paling enak dan favorit orang- orang di kosan ini. Mie rebus pake telor kaya gini mah gua hampir tiap hari makan. Ampe bosen!” Jawab saya sambil mulai menyendoki kuah mie rebus pake telor di dalam panci itu ke dalam
mangkok bagian saya.

 
“Hahaha..Menu paling enak di rumah ini ya ini, mie rebus pake telor. Eh, bukan masakan paling enak di rumah ini deng, tapi masakan paling enak sedunia selama kami kerja di Qatar. Kita hampir dua puluh empat jam nyium bau masakan Italia, megang pleus nyicipin masakan Italia, makan masakan Italia.”

 
“Bosen kali!” Kata si mas Chef sambil dengan lahapnya memindahkan semangkuk mie rebus ke dalam mulutnya yang masih komat kamit, sambil sesekali meremas botol saus pedas di atas mangkoknya, dan kadang terkekeh- kekeh lagi  mentertawakan saya yang malam itu terlihat sangat cupu.

Makan malam waktu itu bercampur dengan tawa terbahak- bahak.

Mie rebus pake telor makanan paling enak sedunia?

Menurut anda?

www.didaytea.com
Doha, 27 Juni 2013

Paya dan Porotta

Paya dan Porotta

Sarapan rutin orang Indonesia, terutama orang Sunda seperti saya tidak akan jauh- jauh dari Bubur Ayam, Nasi Udux, Nasi Kuning, Lontong Sayur, dan Kupat Tahu. Kalau pun agak telat, ya tidak akan jauh juga dari Mie Ayam.

Di Qatar, biasanya menu- menu ini hanya tersedia di hari libur kerja resmi, Jumát dan Sabtu saja.

Tapi…

Lama- lama, kalau terlalu sering juga, pasti rasa bosan akan melanda lidah kita.

Kadang- kadang kita perlu alternative, sekedar untuk mengkalibrasi lidah kita.

Nah, beberapa bulan ini, sudah saya temukan alternative sarapan yang rasanya maknyos sekali. Untuk “pemula” masakan India, paling yang diketahui hanya sebatas Porotta+ Chicken Curry + Sabji.

Untuk orang Indonesia pun, ketiga makanan dasar ini seringkali malah membuat eneg dan mual, jauh dari nikmat atau sedap, apalagi sampai ke tahap berucap “Maknyuusss..!” seperti Bondan Winarno.

Ada satu menu yang ternyata hanya tersaji di Jumát pagi, itu pun tidak semua restoran India menyajikannya. Di teman- teman satu pekerjaan, menu ini sangat populer. Jika hari Jumat pagi bertepatan dengan waktu pulang shift malam, pasti orang- orang Indonesia langsung mampir ke restoran ini.

Menu ini tidak tersedia di semua restoran- restoran India yang biasa. Hanya restoran tertentu saja. Salah satunya restoran Kasar Kana.

Image

Restoran kecil ini berada di daerah Sana Roundout, tepat di belakang Sana Store.

Selain restoran ini ada juga sih, tapi kata mereka, Paya di sini paling pas pedasnya, dan paling maknyus rasanya.

Menu sarapan spesial super maknyus itu bernama Paya.

Entah bagaimana penulisannya yang benar, pokoknya terdengarnya Paya deh.

Image

Seperti menu India pada umumnya, wujud Paya tidak jauh dari bumbu kuning kekemasan a la kari atau gulai yang sangat pedas.

Pasangan sejati, atau soul matenya si Paya ini sudah pasti Porotta (ini juga entah benar atau tidak penulisan yang aslinya, hehehe).

Bahan dasar Paya ini adalah kaki kambing.

Tidak seperti Bulalo, menu sup khas Filipina yang terbuat dari kaki sapi, Paya lebih sedikit mengandung daging.

Bentuknya cenderung seperti tetelan.

Kemungkinan besar sih, memang sisa setelah dagingnya habis dibuat kari kambing, dan menu- menu daging kambing lainnya.

Rasanya, jelas lah tidak seperti daging. Yang akan kita makan kebanyakan adalah otot ligamen dan lemak yang masih tertinggal.

Entah kenapa, perpaduan renyahnya otot ligamen di seputar sendi- sendi kaki- kaki kambing yang mungil itu ngeblend dengan sangat sempurna dengan legitnya sobekan Porotta yang sudah dicelupkan dahulu ke dalam kuah kari Paya ini.

Sama sekali tidak ada bau perengus khas kambing, karena tertutup oleh maknyusnya kari pedas si Paya.

Hampir bisa dipastikan, kita tidak akan berhenti hanya di satu Paya dan satu Porotta.

Kebanyakan yang memesan menu ini, akan memesan lagi satu paket, Paya+Porotta.

Dan kalau masih kesengsem juga, kemungkinan besar juga bakal ngebungkus.

Karena kalau harus nambah lagi, pastinya agak sedikit malu. Kita bakal diledek sebagai penduduk RW06. Atau Rewog (Sundanese=gembul, banyak makan).

Seperti di foto sebelah kiri inilah, kondisi meja di depan anda akan berakhir.

Pokoknya percaya saya deh, enak banget!

Image

Ditambah perut kenyang dan posisi duduk yang agak menggelosor, lengkap dengan perasaan cepel dan lengket dari lemak sumsum tulang.

Sensasi menyobek Porotta yang masih panas, lalu dicelupkan ke kuah pedas paya, dan renyahnya ketika menggigit lepas otot ligamen kaki kambing dari tulang- tulang mungil ini, plus kedua tangan dan mulut yang agak cumang cemong sehabis menyedot sumsum di dalam potongan tulang- tulang mungil itu tentunya tidak akan lengkap tanpa kehangatan segelas Cay.

Sampai jumpa Jumát pagi di acara Paya Party!

Diday Tea

Doha, 220320130908

The Fabulous Asem Pedes of Korean Garden


Sebelum pindah ke Qatar, paling banter saya makan masakan Jepang di Bandung atau Cilegon, seringnya sih Hok-Ben(Hoka- hoka Bento), walaupun ternyata Hok-Ben ternyata sama sekali tidak berasal dari Jepang.

Lalu ada juga Midori, di daerah Bojong, Anyer, Banten. Kalau ini sih agak sedikit elit, karena menjadi langganan para Manajer expat Jepang di tempat saya bekerja. Beberapa dari mereka hanya mau makan makanan Jepang. 

Di Qatar juga sempat saya kunjungi beberapa restoran yang menyajikan masakan Jepang. Tapi ya begitu- begitu saja, masakan Jepang tidak akan jauh dari Sushi, Tempura, Wasabi, Miso Sup, dan teman- temannya.

Karena alasan itu pula saya pikir nih…masakan Korea tidak akan jauh berbeda dengan masakan Jepang, secara, mereka kan tetanggaan dan kualitas LG, Samsung pun tidak begitu berbeda dengan Sony dan Toshiba. Bahkan harga Kia Cadenza pun sekarang sudah lebih mahal dari Toyota Camry 😀

Saya pun akhirnya tidak begitu tertarik ketika dua tahun lalu, di daerah Ramada signal ada restoran baru bernama Korean Garden. Dan lagi pula restoran ini terletak di jalan utama, hampir mustahil kita bisa mendapatkan parkir tepat di depannya.

Walau pun dalam sehari minimal saya melewati jalan di depan restoran ini dua kali, tapi tidak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk barang sekali saja berkunjung, untuk sekedar mencicipi bagaimana sih rasanya masakan Korea itu.

Sampai pada suatu siang satu minggu sebelum Ramadhan, saya dan istri entah kenapa tiba- tiba terkena sindrom “Bosen Masakan Indonesia”, dan semakin meluas ke area yang lebih luas. Tidak ada maskan apa pun yang bisa menerbitkan selera makan kami di siang itu. Walau pun sudah kami bayangkan Sukiyaki, Tom Yam, Lamb Chop dan Chicken Barbequenya Antakiya, Ayam Panggang Rotana, Chicken Biryaninya Tandoor, dan bahkan rendang jengkol yang masih tersisa pun harus menerima nasibnya yang sangat tragis; tidak kami tengok sama sekali.

Ah, akhirnya kami putuskan untuk keluar rumah saja mencari makanan yang enak. 

Eh, selepas melewati perempatan Ramada, tak sengaja kami lihat ada satu slot parkir kosong di sebelah kanan. Ya! Parkiran yang kosong itu tepat berada di depan Korean Garden. 

Tanpa ragu lagi, langsung saja kuparkir mobilku di sana. Dan dengan agak setengah hati kami langkahkan kaki ke dalam restoran itu. 

” Yaa setidaknya kali ini kami makan makanan yang berbeda lah dari biasanya.” Dalam pikiran kami.


Begitu memasuki pintu gerbang, hati kami yang sudah tinggal setengah itu malah berkurang jadi seperempat. Iya lah, alangkah kagetnya kami, karena yang  membuka pintu ternyata bewokan (tipis sih) dan berkulit coklat. Katanya restoran Korea, kenapa yang nunggu orang India…??? Hehehe..

Ternyata kekagetan kami tidak bertahan terlalu lama karena ternyata di dalam akhirnya kami lihat ada chef aslinya, kali ini asli bertampang Korea, walau pun tidak mirip Rain atau pun Won Bin, apalagi Wonder Girls (mereka cowo semua..hehehe..).

Enough with the Talking, langsung saja kita tayangkan menu pembuka:
 

Kesan pertama: luar biasa. Yang berwarna oranye di kolom kiri, seperti mie goreng, tapi rasanya asem pedes. Kalau yang di atasnya juga sih sepertinya sawi putih yang walaupun tampilan dan warnanya hampir sama, ternyata rasanya juga tidak jauh beda, asem pedes. Ternyata ini namanya Kimchi.

Yang di tengah bawah, ini  apetizer yang paling berkesan menurut saya, tampak seperti bala-bala (bakwan in Sundanese Language). Tapi memiliki rasa layaknya perkedel jagung. Saya tahu namanya sih karena tidak ada di dalam menu. Tapi yang jelas namanya tidak mungkin Bagong (Bala- bala Jagong) kan… hehehe..

Asem dan pedesnya Kimchi memang membangkitkan selera makan dan menyebabkan air liur pun mengalir deras.. Persis seperti kalau kita mengambil sebuah jeruk nipis yang kecil, lalu kita belah dua dan kita peras perlahan si jeruk nipis yang tinggal setengah itu sampai keluar satu tetes air jeruk nipisnya. Lalu kita jatuhkan tetesan air jeruk nipis yang super asem itu tepat di ujung lidah kita..Dan sreettt dah…air liur pun pasti terbit dari mulut kita..hehehe..

Silahkan telan dulu air liurnya sebelum saya menayangkan gambar dari menu utama…:D
 
 
 
 
 

Ada sedikit kecelakaan nih. Kami berdua tidak pernah menyangka bahwa menu utama di atas, Mie Seafood akan datang dengan ukuran dengan mangkok hampir sebesar baskom. Jadi kami memesan juga Ikan asam manis (posisi arah jam 1). Itu ternyata menu yang cukup untuk empat orang. Tapi kami yakin, pasti si penjaga restoran sudah menduga bahwa kami adalah penduduk RW06 (rewog= rakus, Sundanese), karena cuma berdua+ bayi tapi mesen 3 main course sekaligus.

Yang di bawah dengan nasi, itu adalah Nasi Goreng Kimchi. Rasanya sangat-sangat lezat, dan coba tebak rasanya seperti apa? 

Betul sekali! Rasanya asem pedes..hehehe…Ini display setelah dibuka.Display sebelumnyasi telor dadar tipis digunakan sebagai kuli pembungkus nasi goreng.

Di sebelah nasi goreng, itu adalah Kimchi, ya rasanya juga asem pedes. Yang di kanan atas, ini agak berbeda dari yang lainnya, kalau ini bercita rasa asam manis, tapi tentu saja, ternyata ada sedikit bersembunyi rasa asem pedes khas Korea.

Di arah jam sebelas, ada masakan Jepang yang nyempil. Rasanya sih ya standar saja, sama seperti Tempura pada umumnya.


Karena kekenyangan-iya lah menu buat empat orang diembat berdua, :D-kami pun tidak memesan makanan penutup.

Kami hanya memesan Teh Ginseng yang rasanya sangat luar biasa, persis seperti teh Ginseng pada umumnya. Hehehe

Panasnya lidah dan kerongkongan yang beberapa kali dilewati oleh asem dan pedasnya Kimchi dari menu- menu yang kami santap, seketika hilang oleh sepet, pahit manisnya aliran Teh Ginseng yang kami teguk perlahan dari cangkir (yang terlihat seperti) keramik.


Jika suatu saat anda dan keluarga terkena sindrom “Bosen Masakan Indonesia dan India”, boleh lah restoran ini menjadi alternatip.


O iya, total damage di dompet 270 QAR= IDR640000.




16102011