CINTA DERITA

Oleh: Diday Tea

 

Cinta itu jorok. Datang kapan saja, di mana saja, dan sering jatuh tiba-tiba.

Sekolahku berseberangan dengan SMK Kejuruan jurusan per-Tata-an. Tata Boga dan Tata Busana, dan Tatabeuhan (Seni Tari). Walau pun di sekolahku memang lebih banyak perempuan dibanding laki- laki, tetap saja ketika sepulang sekolah, tetap saja jantung ini agak sedikit berdebar melihat ratusan siswi SMK itu keluar dari gerbang sekolah sebelah bersama- sama.

Walau pun tak bisa kulihat satu persatu wajah mereka, tetap saja secara otomatis mataku hanya tertuju kepada mereka yang memakai jilbab. Ya karena seperti itulah aku bertekad  memilih calon istri.

Jilbab mereka saja sudah seperti berkilauan tertimpa oleh cahaya matahari di tengah hari bolong, apalagi ditambah oleh wajah- wajah ayu nan segar yang terbalut oleh jilbab- jilbab putih itu.

Secara, di sekolahku hanya ada sekitar tiga puluh orang dalam satu kelas. Dan satu angkatan pun hanya ada dua kelas. Di dalam kelas yang sudah sedikit orang itu pun, kami kaum lelaki menjadi kaum minoritas, hanya sepertiganya.

Tapi sekolah sebelah itu, ada beberapa jurusan. Dan satu angkatan bisa memiliki sembilan kelas. Dan satu kelas bisa berisi empat puluhan siswa yang kebanyakan siswi.

Bayangkan saja, bagaimana perasaan kami remaja laki- laki yang sedang puber- pubernya yang sudah merupakan makhluk langka di sekolah, hanya sepertiganya kaum wanita, jika melihat lawan jenis sebaya dengan kami sebanyak itu.

Dan itu terjadi hampir setiap hari.

Tapi..di antara ratusan wajah yang hampir setiap hari kulihat, ada satu yang menarik perhatianku.

Jantungku berdegup lebih kencang ketika melihatnya.

Dia tidak cantik luar biasa seperti siswi primadona di sekolahku, yang jadi rebutan laki- laki hampir di semua angkatan. Dia tidak putih-kurus-tinggi-langsing, seperti kecantikan yang digambarkan oleh iklan- iklan di televisi, seolah- olah jika wanita tidak seperti itu  adalah wanita yang tidak cantik.

Tingginya hampir sama denganku. Tapi dia terlihat jauh lebih kecil. Mungkin karena dia terlalu kurus. Wajahnya tidak terlalu putih merona seperti iklan pemutih wajah yang muncul hampir setiap ada jeda iklan di acara sinetron itu. Atau putih mengkilat seperti model iklan pemutih dari Jepang yang menggunakan model yang sebenarnya sudah putih dari orok.

Penipuan.

Tubuhnya pun tidak putih semampai seperti model- model yang sering muncul di majalah.

Ada yang membedakan dia dari ratusan siswa perempuan yang kulihat hampir setiap hari.

Ada tahi lalat kecil di tengah pipi kirinya yang sedikit Chubby (padahal dia kurus ya?).

Ah, entah kenapa, tahi lalat ini yang menjadi POI (Point of Interest).

Dalam seminggu, paling sering aku melihat dia hari Kamis dan Sabtu. Hari di mana jadwal sekolahku seperti sekolah lain, sampai jam satu atau setengah dua siang. Karena di hari- hari yang lain, paling cepat kami bisa keluar dengan selamat walau pun penuh peluh dan lelah tak tertahan dari gerbang sekolah hampir jam setengah lima sore.

Beberapa bulan dari pertama kali melihatnya, aku tidak pernah tahu namanya siapa rumahnya di mana, dia naik angkot apa ke jurusan mana.

Aku sih berpikir,mungkin dia pulang ke arah yang berlawanan.

Pada suatu hari, di tengah rintik gerimis di bulan Mei, aku bisa pulang lebih awal. Hari itu ada ujian praktek, dan aku sangat beruntung. Aku kebagian jatah tugas ujian praktek yang sangat mudah, sehingga ujian bisa kuselesaikan kurang dari satu jam.

Aku memutuskan untuk pulang.

Biasanya sih, aku naik bis kota dari sekolahku. Memang sih, ongkosnya jauh lebih murah. Tapi resiko berdesak- desakan dan terpapar dengan berbagai aroma keringat dari berbagai profesi dan juga berbagai tingkatan umur sangat besar. Aku harus langsung berganti seragam di keesokan harinya.

Ketika betisku sudah terasa panas karena terlalu lama berdiri, tiba- tiba di seberang jalan ada sosok tubuh berseragam abu- abu sedang berjalan seorang diri dari dalam gerbang sekolah sebelah.

Pucuk dicinta ulam tiba.

Mataku tak bisa berkedip menapaki langkah demi langkah gemulainya. Sebenarnya sih dia tidak gemulai- gemulai amat, malah cenderung gontai. Aku sempat tidak percaya sih, tapi setelah dia betul- betul menyeberangi dua jalur jalan aspal yang sangat lebar di depan sekolah kami itu, barulah aku yakin bahwa dia adalah si dia.

Aku kenal betul tahi lalat di pipi kiri itu.

Ternyata dia satu arah denganku!”

            Entah apa yang dia tunggu, angkot atau bis.

Tapi aku sudah bertekad, aku akan naik juga bersama dia, apa pun itu, dan ke jurusan mana pun. Dia berdiri kira- kira sepuluh meter di sebelah kananku. Jadi angkot atau bis yang akan dia naiki masih bisa kukejar.

Aku harus bisa kenalan!”

Ternyata dia memegat (memberhentikan) angkot berwarna hijau muda sedikit kekuningan, jurusan Gedebage- Stasiun Hall.

Aseekkk…Ini kesempatan emas!” Gumamku dalam hati, mensyukuri kondisi yang mempertemukan kami berdua di dalam satu angkot.

Segera kukejar angkot berwarna hijau muda -bukan-koneng-engga itu, dan sukses duduk di sebelah bapak supir angkot yang sama sekali tidak kelihatan seperti bapak- bapak, karena dia tidak berkumis.

Walau pun aku di sebalah supir dan dia di belakang, tapi sesekali bisa kulirikkan mataku membidik wajahnya yang manis dan tahi lalat yang seolah menari di atas pipi kanannya itu.

“Kiri..!” Tiba- tiba suaranya yang ternyata sangat lembut terdengar memecah kesunyian dan keasyikanku memandang wajahnya.

Aku sempat tertegun dan melihat sekeliling.

Dasar! Saking khusyunya melirik si Dia , sampai lupa ada di mana.

Ternyata dia memberhentikan angkot itu di perempatan Buah-batu.

Dengan cepat otakku bekerja, dan memerintahkan tanganku yang sigap langsung merogoh saku, dan memberikan ongkos untuk dua orang kepada si supir angkot.

“Dua Pa, saya sama si teteh yang lagi turun” Kataku sambil mengulurkan empat lembar uang ribuan.

Ketika dia hendak menyodorkan tangannya untuk membayar, aku membuka pintu sambil turun, dan berusaha sedikit menghalanginya sambil berkata:

“Sudah dari saya Teh!”

Sekilas terlihat bordiran nama di atas jilbabnya yang terurai menutupi dadanya: Cinta.

Nama yang sungguh puitis.

“Eh..kenapa??” Dia bertanya.

“Engga..engga usah..!” Dia menolak dan wajahnya terlihat memerah dengan mata yang bingung dan memandangku dengan penuh kecurigaan.

Tapi terlambat, angkotnya sudah berangkat.

“Ini ongkosnya, ambil atuh! Saya ngga mau diongkosin begitu saja tanpa alasan!” Bibirnya  yang merah merona berbicara sambil menyodorkan uang ribuan yang sudah dari tadi dia genggam. Katanya sambil setengah menghadang langkahku.

“Ngga apa- apa Teh, beneran, saya ikhlas. Lagian ngga seberapa kok!” Jawabku lagi.

“Nanti saya jelasin deh, kenapa saya ngongkosin Teteh!” Ucapku lagi sambil mulai memasang kuda- kuda dan mencari cara bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengannya.

Tadinya sih aku niatnya hanya menjadi pria misterius yang membayari ongkosnya dan pergi begitu saja. Tapi kuurungkan saja niatku, karena hari ini kesempatan emas untuk bisa berbicara dengannya.

Kan, siapa tahu dia berjodoh denganku?

Dan pula, aku sudah menandatangani kontrak kerja dengan sebuah perusahaan di Banten.

Dua bulan lagi aku sudah akan bekerja di sebuah perusahaan elit.

Aku kan bisa langsung melamar dia beberapa bulan setelah aku bekerja di sana.

“Maaf ya, saya lancang tiba- tiba ngebayarin angkot tadi” Kataku sambil membalikkan tubuhku ke arahnya. Dan ikut berjalan dari arah perempatan ke arah buah batu.

“Ya kaget aja, tiba- tiba ada yang ngebayarin kaya gitu!” Kata dia dengan sedikit ketus.

“Sekali lagi maafin saya, ya!” Kataku lagi dengan nada memelas.

“Begini Teh, kayanya saya pernah ngeliat Teteh beberapa kali di mesjid Daarut Tauhiid, waktu Kajian Minggu” Aku mulai menjelaskan.

“Saya ikut program Santri Mingguan Teh, jadi tiap Sabtu dan Minggu rutin ”

“Wajah Teteh sangat sering saya lihat. Tadinya sih sempet bingung di mana. Tapi tenyata di DT” Aku terus menjelaskan walau tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya.

“Oooo…jadi hanya karena itu kamu ngongkosin saya?” Tanyanya dengan wajah datar.

“Sejujurnya engga juga sih. Sebenernya saya pengen kenalan juga.” Jawabku sambil tertunduk malu dan tangan ini tak terkendali menggaruk- garuk kepalaku yang tidak gatal.

Dia hanya terdiam.

“O gitu ya?” Dia bertanya seolah memintaku melihat wajahnya.

“Ihh..wioss…! Sapertos ka saha wae…” (Ihh Biarin=Ngga apa apa sih, kaya sama siapa aja)  Jawabku dengan nada bercanda untuk memecah suasana yang masih kaku.

“O iya. Saya di SMK sebelah sekolah Teteh, kelas empat” Kataku mencoba memancing.

“Saya kelas tiga, jadi jangan nyebut Teteh dong!” Dia menjawab. Kali ini mulai terbit senyum di bibir merahnya.

“O iya, saya memang rutin ikut kajian Minggu pagi di Daarut Tauhiid. Kamu memang ngga salah liat” Dia akhirnya memberikan konfirmasinya.

“Tuh kan, saya ngga salah!” Aku menjawab dengan super antusias seperti pasukan perang yang baru saja mendapat ransum dari langit.

“Ya Udah deh kalau gitu mah, makasih ya tadi sudah ngongkosin!” Katanya sambil melemparkan senyumnya yang luar biasa manis, semanis tahi lalat yang menghiasi pipinya.

“Saya mah mau ke arah Ciwastra” Kata dia lagi, sambil bersiap- siap untuk menyeberang.

“Oh..saya mah naek yang ke arah Leuwipanjang” Aku menjawab perlahan.

“Semoga kita bisa ketemu di Kajian besok pagi!” Kataku sambil setengah berteriak, karena dia sudah mulai menyeberangi jalan yang siang itu tidak terlalu padat oleh angkot yang berlalu lalang.

“Insyaallah! Assalaamu’alaikum!” Dia menengok lagi sambil menjawab pertanyaanku.

“Wa’alaikumsalaam!” Aku menjawab lirih sambil berjalan ke arah tempat angkot yang menuju rumahku mangkal.

Eh, ternyata takdir Allah mempertemukan kami lagi di tempat yang sangat tepat.

Besoknya, hari Minggu, ketika baru saja aku selesai pelatihan, dan sedang melangkahkan kaki keluar dari ruangan aula, kulihat sebuah mobil sedan berwarna biru parkir tepat di depanku.

Sesosok tubuh berbalut gamis satin dan berjilbab sewarna, merah muda,  melangkah turun dari mobil itu.

Ketika membalikkan wajahnya, wajah yang sangat ku kenal. Lengkap dengan tahi lalat di tengah pipi kirinya.

“Si Cinta..!” Gumamku sambil bergegas mengayunkan kedua kakiku menuju ke tempat si Dia.

“Alhamdulillah, jangan- jangan dia memang jodohku nih!” Aku mulai kegeeran deh.

            “Assalaamu’alaikum!” Sapaku dari kejauhan, tidak ingin dia berlalu ke arah mesjid dulu.

“Wa’alaikumsalaam! Eh, ada di sini ya?” Jawabnya sambil menghentikan langkahnya.

“Iya, kan sudah bilang, jadwal latihannya dari kemarin malem” Jawabku sambil merapikan seragam latihan berwarna biru dongker yang sudah kupakai dari semalam.

Dia terlihat sangat berbeda dengan dibalut gamis seperti itu. Terlihat jauh lebih dewasa dibanding dia yang mengenakan seragam putih abu-abu.

Ketika kami berdua terikat di dalam keheningan, tiba- tiba suara berat seorang laki- laki memecahkan keheningan di dala pikiranku yang sedang terpesona.

“Neng, ayo cepetan atuh, kita ke mesjid, takut keburu mulai!” Dia mengajak lagi, tanpa sama sekali menghiraukan kehadiranku di situ.

Kuamati sejenak laki- laki yang memakai baju koko glossy berwarna hijau toska itu, pastinya sih mahal. Ganteng sih memang, mirip Sahrul Gunawan. Aku? Yaa dibilang jelek sih engga lah, tapi dibilang ganteng juga agak susah. Hehehe.

“Aa duluan deh, mau beli dulu pulsa. Nanti aa tunggu di depan supermarket ya!” Kata laki- laki itu tanpa memandang sedikit pun aku yang berdiri terpaku.

“O iya, ayo atuh!” Dia langsung mengiyakan ajakan laki- laki itu. Sambil berjalan menyusul laki- laki itu.

“Eh, sebentar. Itu siapa? Kakak kamu ya?” Tanyaku penasaran.

“Oh, bukan. Itu teh calon suami saya, insyaallah kami akan menikah dua bulan lagi, setelah aku diwisuda. Minta do’anya ya!” Ucapnya sambil melambaikan tangan dan berlalu sambil melempar senyumnya, yang kali ini kurasa tidak indah lagi.

Cinta seringkali berbuah derita.

Doha, 04052013

http://www.didaytea.com

 

 

Cintaku Musnah di Penghujung Tahun

“Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya,kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia?” Sambil tertunduk lesu, aku hanya bisa bilang kepadanya: “ Aku belum siap Teh!”

            Goncangan bus yang direm setengah mendadak membangunkanku tepat di depan gerbang Tol Pasirkoja. Otot dan tulang di sekujur tubuhku serasa mengkerut setelah hampir enam jam berada di dalam dinginnya AC bus jurusan Merak- Bandung. Jam di hape jadulku pun masih menunjukkan jam empat pagi.

Tak lama kemudian, bus yang kutumpangi pun tiba di Terminal Leuwipanjang. Ketika beranjak keluar dari bus itu, aku sebenarnya mengharapkan sedikit kehangatan dari udara kota Bandung.

Eh, ternyata bukannya hangat yang kurasakan. Begitu pintu bis terbuka, malah udara yang dingin, lebih dingin dari AC bus yang kutumpangi semalaman langsung menyusup masuk dan meremas- remas wajahku sampai terasa mengkerut dan seperti ditarik ke belakang. Tapi bersamaan dengan dinginnya udara Bandung, tercium juga bau khas tanah jika sudah dihampiri oleh sang hujan.

Ternyata sang hujan baru saja mampir dan menumpahkan sedikit pesonanya di kota kelahiranku. Sang hujan juga ternyata ingin merayakan tahun baru nanti malam.

Kunikmati saja udara dingin yang kini membelai wajahku dengan lembut dan sejuk di atas Becak sepanjang perjalanan dari terminal Leuwipanjang menuju rumahku.

Begitu tiba di rumah, langsung kupeluk dan kulepas rindu dengan  Ayah, Ibu dan ketiga adik-adikku. Lalu aku bergegas menuju mesjid yang berada tepat di depan rumahku untuk mengejar sholat subuh berjamaah. Seperti biasa, setiap pulang ke Bandung aku selalu meminta si bibi untuk membelikan kami sekeluarga sarapan Kupat Tahu dan Bubur Ayam Mang Ujang yang sudah berjualan sejak aku belum terlahir ke dunia itu.

Tak sampai dua jam kemudian, rumahku  yang tadinya riuh rendah oleh kami berenam yang ngobrol ngalor ngidul sambil menyantap sarapan, langsung sunyi senyap ditinggal oleh penghuninya.

Ayah dan Ibuku masih bekerja di sebuah instansi pemerintah, dan segera disusul oleh adik-adikku pergi kuliah. Aku pun menuju kamar untuk beristirahat, karena nanti siang aku sudah harus bersiap- siap untuk berangkat ke Alun- alun Bandung.

Kemarin, seseorang yang sangat istimewa memintaku untuk bertemu di Alun- alun kota Bandung, di depan Yogya Kepatihan. Dia adalah wanita yang sudah menjadi sahabatku sejak tiga belas tahun yang lalu, sejak kami berdua masih berseragam Merah Putih.

Sejak lulus SD, kami sudah berpisah. Aku masih di Bandung, melanjutkan ke SMP Negeri di dekat rumahku, sedangkan dia pindah ke Tasikmalaya untuk belajar di pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama terkenal. Tujuh tahun setelah itu kami baru bertemu lagi, itu pun karena dia sudah pulang ke Bandung dan bekerja di pesantren yang dipimpin oleh seorang Kyai kondang di Kota Kembang. Sampai sekarang, paling sering kami hanya bertemu dua kali dalam satu tahun. Itu pun biasanya aku berkunjung langsung ke rumahnya ketika momen lebaran saja, tidak di luar seperti sekarang.

Entah kenapa kali ini dia tiba- tiba memintaku untuk bertemu di luar. Dia bilang padaku ada sesuatu yang harus dia bicarakan.

Setelah sholat Zhuhur di mesjid Agung Bandung,  langsung kuhela tubuhku agar berjalan secepat mungkin karena aku tidak ingin membuatnya menunggu lama.

Tak sampai dua detik setelah aku tiba di depan Yogya Kepatihan, sudah kukenali sosok wanita tinggi semampai yang sedang berdiri di antara ramainya orang yang lalu lalang berbelanja di malam menjelang tahun baru. Dari belakang pun dia sudah terlihat sangat anggun dan cantik dengan baju gamis berbahan satin berwarna merah muda. Dia semakin cantik lagi dengan menghiasi gamis itu dengan kerudung berwarna dan berbahan sama yang berpadu padan dengan sebuah bros berbentuk kupu- kupu yang berkilauan ketika dijatuhi oleh cahaya lampu neon.

“Assalaamu’alaikum Teteh! Kumaha damang?” Sapaku dengan lembut dan tanpa sadar menatap matanya dalam- dalam. Ah, rindu berbulan- bulan tak bertemu dia pun lenyap seketika hanya dengan satu detik memandang matanya.  Walau pun dia memang lebih tua tiga tahun dariku, panggilan Teteh bukan karena itu, tapi itu adalah panggilan sayangku untuknya.

“Eh, wa’alaikumsalaam. Alhamdulillah, pangestu” Dia pun menjawab sambil membalikkan tubunya ke arahku dengan suaranya yang khas, serak tapi lembut, perpaduan sempurna antara suara Nicky Astria dan Siti Nurhaliza.

“Langsung ke sini dari kantor? Mobil diparkir di mana? Udah makan siang belum? Udah sholat?” Tanyaku bertubi- tubi. “Iya atuh, tadi harus lembur setengah hari. Lagian kalau pulang dulu ke Cimahi mah ngga akan bisa nyampe jam segini meureuun! Tuh, mobil mah diparkir di basement aja lah, da susah kalau diluar mah.” Jawabnya dengan logat Sunda yang sangat kental.

Kupandangi lagi dia selama beberapa saat. Si Tetehku ini memang sungguh unik, berkulit putih kemerahan layaknya orang bule, berambut pirang kecoklatan, tapi bermata sipit seperti orang Jepang. Perpaduan unik yang menyebabkan kecantikkannya melebihi siapa pun yang pernah kukenal di dunia ini. Setidaknya menurutku.

“Hei! Kok malah ngelamun? Makan dulu yuk? Teteh lapar nih!” Si Teteh setengah berteriak sambil mengibas- ngibaskan tangannya di depan mukaku.

Selama makan siang, tidak ada obrolan yang istimewa di antara kami selain menanyakan kabar keluarga, pekerjaan dan kuliahku di Cilegon, dan pekerjaannya di pesantren seorang kyai kondang di Bandung.

“Nonton Yuk! Ada film James Bond Baru, Casino Royale!” Ajakan yang sama sekali tidak kuduga sebelumnya. Walau pun mukaku melongo terkaget- kaget, hatiku langsung berbunga- bunga, karena aku bakal lebih lama lagi bisa dekat dengan si Teteh tercinta. Sebelumnya kami tidak pernah nonton ke bioskop hanya berdua, kami selalu pergi beramai- ramai bersama kakaknya dan adik- adikku. Jangankan ke bioskop, untuk pergi ke luar rumahnya pun ayahnya akan melarang keras jika aku hanya datang sendiri, tidak dengan adik- adikku. Walau pun bisa, itu harus dengan kakaknya atau si mbok pengasuh di rumahnya.

Kami pun bergegas mengayunkan langkah ke King’s Kepatihan, tempat bioskop terdekat.

Aku tidak memikirkan apa- apa lagi sejak film diputar selain betapa bahagianya hatiku bisa sedekat ini dengan si Teteh.  Setelah film diputar selama beberapa menit, entah kenapa tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Sebagai seorang lelaki normal tentunya jantungku langsung berdegup luar biasa kencang ketika berada sedekat itu dengan lawan jenis. Aku akhirnya tidak kuasa menahan tanganku untuk menyentuhnya. Si Teteh pun yang entah memang tertidur atau sekedar pura- pura tidur  membiarkan saja aku membelai pipinya dan membelai kepalanya berulang- ulang.

Aku tidak pernah sedekat itu dengan wanita mana pun sebelumnya. Aroma parfumnya yang sangat segar tanpa malu-malu merasuk ke dalam hidungku menyebabkan aku tidak tahan lagi untuk mendaratkan bibirku tepat di atas ubun- ubunnya.

Tidak pernah kuduga jika beberapa lama kemudian aku akan mendengar hal yang sangat mengguncangkan jiwaku.

Selama belasan tahun aku mengenalnya, jangankan membuat adegan semacam itu, ketika aku secara refleks menggamit tangannya untuk menyeberang jalan saja, dia langsung melayangkan tinjunya ke perutku. Kadang aku berpikir kalau dia jauh lebih kuat dan lebih cepat dariku, karena tak pernah bisa kutangkis kepalan tangannya yang mungil itu. Dan selalu terasa sakit.

“Ngapain kamu pegang- pegang?! Jangan macem- macem! Lain kali tinju ini mampir di tempat yang lebih menyakitkan!” Ancamnya sambil mengepalkan tangan mungilnya tepat di depan wajahku.

Setelah film selesai, aku bingung harus bersikap seperti apa setelah kejadian di dalam tadi. Kejadian yang seperti mimpi. Gembira? Pasti lah, aku kan masih laki- laki yang normal. Tapi aku juga sedih, karena tidak cukup kuat untuk bisa menahan diri untuk tidak sampai menyentuhnya seperti tadi. Sangat bertolak belakang dengan materi ceramah tentang menjaga pandangan dan pergaulan dengan lawan jenis yang sering kudengar dari seorang kyai kondang di Bandung.

“Duuh, dosa itu the Cep…!” Umpatku di dalam hati.

“Duduk dulu di sini yuk?” Si Teteh memintaku sambil menggamit tanganku  dan menarik tubuhku ke kursi tunggu di depan loket bioskop itu. Aku tak kuasa menolak.

“Teteh bilang kan, kemarin, mengajak kamu ketemuan di sini untuk membicarakan sesuatu?”

Ujarnya sambil sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku sehingga kedua ujung lututnya menempel di kaki kiriku.

“Iya Teh, ada apa sih? Meni asa rareuwas ini teh “ Jawabku sambil bercanda. Entah kenapa, bukannya tersenyum, tapi dia malah terdiam beberapa saat. Dan beberapa kali menarik nafas panjang. Perasaanku mulai tidak enak.

“Emmmm…” Dia hanya menggumam. Dan beberapa kali kembali menarik nafas panjang sambil memilin- milin ujung jarinya.

“Ikhlasin Teteh yah?” Sebuah pertanyaan aneh terlontar dari bibirnya yang merah walaupun tanpa lipstik itu.

“Ikhlasin? Ikhlasin apa ini teh? Tanyaku dengan muka kebingungan.

“Emmm…Teteh…Teteh bulan depan akan menikah.” Walau pun sempat mengulang adegan bergumam lagi selama beberapa saat, akhirnya dia membuka mulutnya dengan sedikit tergagap dan sambil sedikit menggigit bibir.

“Menikah?! Sama siapa? Kok bisa? Kapan?” Belum saja kedua bibirnya tertutup dengan sempurna, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan.

“Sama orang Bogor, Ustadz di pesantren tempat Teteh belajar” Si Teteh menjawab lagi dengan perlahan.  “Bulan kemarin, dia datang bersama orangtuanya dari Bogor untuk melamarku.”

“Aku tidak punya alasan yang Syar’i untuk menolak lamarannya.” Timpalnya lagi sambil meluruskan tubuhnya. Kali ini dia sedikit menggeser posisi duduknya, agak menjauh dariku.

Hampir setiap kali aku menghubungi si Teteh, aku selalu bilang padanya bahwa aku  mencintainya sejak belasan tahu yang lalu dan aku ingin menikahinya. Tapi selama ini pula dia hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum dan tawanya yang renyah. Tak pernah ada tanggapan langsung yang keluar dari mulutnya.

“Aku tidak punya alasan untuk menolak lamarannya.” Dia mengulang lagi pernyataannya.

“Ayah Ustadz yang melamar adalah teman Abi sejak mereka masih kuliah di Mesir.” Ujar si Teteh lagi sambil menarik nafas panjang.

“Tapi Teh, Teteh tahu kan kalau Aku ingin menikahi Teteh, Aku cinta sama Teteh, Aku sayang sama Teteh! Ucapku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Ngga mungkin kan Teteh ngga tau dan ngga merasakan perasaan saya kaya gimana kan? “ Tanyaku lagi.

“Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu bilang, dan tidak mau aku menikah dengannya, kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia? Dia bertanya dengan bibir yang bergetar menahan jatuhnya air mata yang sudah berkumpul di kedua sudut matanya.

“Kenapa..? Kenapa? Kenapa kamu tidak melamarku sebelum dia..? ” Dia bertanya lagi karena aku tidak kunjung memberi jawaban. Pertanyaan yang dia lemparkan seperti tombak tajam yang langsung menghujam ke dalam hatiku.  Kali ini Dia bertanya sambil terisak menahan tangis.

Sambil tertunduk lesu, akhirnya aku hanya bisa bilang:

“Aku belum siap Teh!” Akhirnya aku menjawab dengan bibir yang bergetar karena menahan kekecewaan yang luar biasa besar. Sebagai seorang laki- laki, Aku pantang untuk menangis. Tapi kali ini rasanya sulit sekali untuk menahan setetes airt mata yang sudah diambang jatuh di ujung mataku.

“Berarti keputusanku untuk menerima lamarannya tepat kan?” Dia bertanya lagi sambil meraih daguku yang sedang tertunduk dan memalingkan wajahku ke arahnya. Kali ini matanya sudah memerah. Tak ada air mata di ujung sana, mungkin sudah dia seka.

Aku hanya bisa terdiam. Dia benar, tidak ada alasan untuknya buat menolak lamaran si Ustadz. Dan walau pun ternyata dia bisa meyakinkan ayahnya untuk menolak, entah kapan aku bisa melamarnya. Menikah memang tidak selalu butuh uang, tapi jika tidak ada uang, bagaimana aku bisa menikahinya dan membiayai rumah tangga kami, jika gaji bulananku saja selalu kurang untuk biaya kuliahku, dan biaya sekolah adik- adikku yang masih kecil? Walau pun orang tua Dia kaya raya, dan dia pun sudah bekerja di Bandung rasanya tidak mungkin, jika aku harus memboyongnya ke Cilegon. Atau aku harus meninggalkan kuliah dan pekerjaanku demi menikahinya.

Untuk beberapa saat, kami berdua hanya mematung dan terdiam seribu bahasa.

“Sudah sore Teh, sholat Ashar dulu yuk?” Tanyaku untuk mencairkan suasana yang tiba- tiba terasa garing itu. Si Teteh masih hanya diam dan hanya mengiyakan ajakanku dengan bangkit dari duduknya dan mengayunkan kakinya ke arah pintu mushola wanita.

Setelah selesai sholat Ashar, kami pun berjalan meninggalkan King’s menuju ke Yogya, tempatnya memarkir mobil. Jalan yang sangat dekat itu kali ini terasa sangat jauh, karena kaki- kakiku ini terasa berat luar biasa. Berat seperti diganduli oleh bola besi yang dirantai ke pergelangan kakiku.

“Teh, selamat ya!”Aku mengulurkan tanganku untuk memberi selamat kepadanya sambil tersenyum getir.

Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, dan hanya memandangi tanganku yang sudah terulur di depannya.

“Iya, alhamdulillah. Doain Teteh ya!” Dia menjawab, kali ini sambil tersenyum lebih lepas. Tapi kali ini dia tidak membalas uluran tanganku.

“Semoga kamu juga mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Teteh!”Ucapnya.

“Amiin…” Aku mengaminkan doánya dengan perlahan.

Kami pun kembali hanya bisa terdiam lagi.

“Hufff….ya sudah deh…Teteh kira ini adalah saatnya kita harus berpisah” Ucap si Teteh dengan kalimat yang benar- benar membuatku merasa tidak akan pernah lagi akan bertemu dengannya.

“Iya Teh, lagian sudah malam. Sebentar lagi pasti jalanan penuh sama yang pawai Tahun Baruan” Jawabku dengan datar.

“Hati- hati di jalan ya! Assalaamuálaikum!”Ucapku sambil membalikkan badan.

“Waálaikumsalaam..” Aku masih sempat mendengar suaranya yang lirih, setengah terisak.

Baru lima langkah aku menjauh, tiba- tiba aku berbalik dan memanggilnya:

“Teteh…!” Aku berteriak keras- keras sambil setengah berlari menghampirinya yang sedang berjalan menjauh. Begitu dia membalikkan badannya, entah setan apa yang tiba- tiba merasukiku sehingga tanpa aba- aba apa pun aku langsung memeluk dia erat- erat.

Si Teteh terkejut bukan main, karena dipeluk di depan puluhan orang yang lalu- lalang di depan pintu mall tanpa sempat melawan atau berontak. Selama beberapa detik kemudian dia pun hanya bisa terdiam. Yang terdengar hanya riuh-rendahnya tiupan terompet yang mulai dibunyikan oleh para pedagang dadakan di pinggiran jalan Kepatihan itu.

Tidak ada kata- kata apa pun yang terucap ketika aku memeluknya. Hanya kurasakan kedua mataku terasa pedas dan bibirku yang sedang bergetar tiba- tiba terasa asin.  Ketika kulepas pelukanku, kulihat wajahnya yang masih terlihat kaget menjadi semakin merah, Dia terisak untuk menahan butir air mata yang sudah berkumpul di sudut mata coklatnya yang sipit itu.

Aku tak kuasa lagi menahan jatuhnya tetesan air mata yang mulai mengalir di pipiku.  Kubalikkan badanku lagi dan kuhela kedua kakiku untuk mengayunkan langkah secepat mungkin agar aku bisa segera pergi menjauh dari tempat itu. Sekuat tenaga kutahan leherku agar tidak lagi menengok ke belakang. Dengan bodohnya kupukuli kepalaku agar semua ingatanku tentangnya bisa hilang saat itu juga.

Cintaku musnah di penghujung tahun.

Doha 28 Oktober 2011