Gigih

Oleh Diday Tea

Di dalam bahasa Sunda, Gigih artinya adalah nasi dalam fase setengah matang. Jauh sebelum ada rice cooker, memasak nasi adalah sebuah proses yang dramatis. Ada dua fase. Fase gigih dan fase nasi. Fase gigih adalah ketika kita harus merebus beras dengan patokan airnya jangan lebih dari setengah buku jari tengah kita. Itu yang Ibu saya selalu ajarkan ketika akan memasak nasi. Nah jika airnya sudah surut dan beras terlihat berkembang, baru gigih tersebut kita olah dengan fase selanjutnya.

Dikukus.
Setelah matang baru memasuki tahap finishing yang bernama “diakeul”.

Fase nasi ketika sudah matang dan kita aduk- aduk perlahan dengan cukil(Centong Nasi) di dalam boboko(Bakul) sambil dikipasi dengan kipas bambu.

Dan tentunya pembaca semua setuju bahwa nasi yang dimasak dengan cara seperti ini rasanya jauh lebih lezat dibandingkan dengan nasi zaman now yang dimasak hanya dengan satu sentuhan kecil di tombol cook di sebuah rice cooker.

Setuju kan?

Tapi walau pun satu paragraf di atas sudah panjang lebar membahas tentang metamorfosa gigih yang menjadi nasi pulen hangat yang masih berasap didalam bakul dan centong bambu itu, tulisan ini bukan tulisan tentang kuliner.

Banyak sekali pelajaran, hikmah dan teladan selalu bisa kita dapatkan dari kehidupan kita, hanya kadang mata hati kita saja yang masih tertutup atau teralihkan.

Sehingga seringkali kejadian yang kita alami dan amati sehari-hari hanya berlalu begitu saja sebagai sesuatu yang rutin tak berarti.

Hikmah selalu terhampar di mana pun kita berada.

Tulisan ini akan memberi kita contoh dari judul tulisan ini: Gigih. Di dalam bahasa Inggris ada dua kata yang sering diterjemahkan ke dalam kata “Gigih”, Tenacious dan Persistent.

Tenacious dan Persistent artinya kurang lebih adalah tetap berusaha keras untuk mencapai sesuatu. Dan tidak akan berhenti atau menyerah sebelum sesuatu itu tercapai. Begitu juga kira-kira arti kata “gigih” di dalam bahasa Indonesia.

Di dunia nyata, salah satu orang yang paling gigih adalah orang yang sedang mules (maaf) kebelet BAB.

Bayangkan saja ketika kita yang mengalaminya sendiri. Perasaan yang mengaduk-ngaduk perut kita itu tanpa diundang biasanya tiba-tiba datang tak tahu waktu. Mules itu seperti jatuh cinta, bisa datang tiba-tiba kapan saja dan di mana saja.

Ketika sedang bekerja, sekolah, belajar, menyetir, mengemudikan sepeda (euh, maksudnya sesepedahan), lari pagi, mengobrol, browsing-browsing hal-hal lucu ngga jelas di internet, atau apa pun kegiatan kita. Kita pasti akan segera menjadikan si mules ini menjadi prioritas utama.

Seketika langsung terbentuk mental image pintu WC atau mungkin bentuk WCnya sendiri yang langsung menjadi fokus target kita.

Kita tidak akan pernah menyerah untuk mencari WC. Tidak akan ada yang bisa ada yang menghalangi kita untuk segera menunaikan hajat besar tersebut.

Jika di rumah, kita akan segera menggedor pintu WC tanpa memikirkan atau mempertimbangkan siapa pun yang sedang berada di dalam.

Jika sedang menyetir di tengah jalan tol pun, kita kan segera mencari rest area terdekat tanpa peduli sedang berada di jalur tol mana dan kilometer berapa.

Pokoknya apa pun yang kita lakukan, saat si mules datang semua akan terlupakan dan tersisihkan.

Biasanya adrenalin juga akan terpicu, berbarengan dengan keringat dingin karena ada rasa takut ketika rasa mules itu akan meledak di tempat dan waktu yang tidak tepat.

Adrenalin akan memicu energi baru di dalam tubuh kita yang kadang akan memicu ambang batas tubuh kita.

Kita akan berlari lebih cepat, bergerak lebih cepat, berpikir lebih fokus dan sangat terpadu.

Secara luar biasa, hampir sepenuhnya fokus dan perhatian kita akan tertuju hanya kepada satu hal itu: WC.

Pasti dan pasti, segala cara akan kita lakukan agar tujuan itu tercapai.

Apa sih hikmahnya dari kegigihan kita yang sedang mules tadi?

Prioritas.
Fokus Terhadap target.
Maksimum Effort.

Satu hal yang harus kita yakini di dalam menjalani kehidupan ini bahwa kewajiban kita di dalam hidup ini jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Jadi kita harus sesegera mungkin merevisi prioritas kita di dalam kehidupan. Targetkan dan fokuslah hanya kepada hal-hal yang ada kaitannya dengan ibadah dan akherat kita. Insyaallah dengan fokus dan target yang tepat kita akan bisa meraih pencapaian-pencapaian baru.

Jika anda merasa lemah, dan hampir menyerah ketika berusaha untuk meraih dan menggapai target kita, segeralah ingat kondisi ketika kita sedang mules, maksimalkan usaha kita dibantu dengan do’a.

Ketika pada akhirnya kita tidak mencapainya, tentunya tahap selanjutnya adalah kita harus mengingat bahwa Allah mempunyai 3 cara untuk mengabulkan do’a kita:

1. Langsung dikabulkan
2. Ditunda sampai waktu yang kita tidak pernah tahu
3. Allah ganti dengan yang lebih baik.

Selalu kuatkan tekad dan luruskan niat!

Doha, 6 Agustus 2018

Iklan

Strawberry Man

Strawberry Man
Cerpen oleh Diday Tea

Sejak masih berseragam Putih-Biru, sampai sekarang aku bekerja di kota yang berjarak hampir tiga ratus kilometer dari kota kelahiranku, ada kebiasaan yang oleh sebagian besar orang di sekitarku adalah kebiasaan yang aneh.

Aku sangat menggemari makanan yang berperisa Strawberry.

Biskuit, Minuman Bersoda, susu Strawberry selalu masuk daftar belanja bulananku. Tentunya sangat tidak pantas kalau saya harus menyebutkan Selai Olai, Fanta Strawberry, Susu Ultra Jaya Strawberry, atau Nyam Nyam Strawberry, karena tulisan ini adalah cerita pendek, bukan endorse atau pun Paid Promotion seperti selebgram zaman now.

Begitu pula ketika sudah menikah.

Ketika momen bersejarah ketika aku dan istriku pertama kali berbelanja untuk keperluan dapur.

Di antara puluhan barang yang kami masukkan ke dalam trolli belanjaan, beberapa kali istriku bertanya dengan alis dan kening di atas wajahnya yang kuning bercahaya seperti selebgram Korea yang berjilbab itu.

“Pah, ini siapa yang masukkin? Ngga salah? Ini kan makanan anak kecil? Buat para keponakan ya?” Dia bertanya sambil kedua tangannya menggenggam dua kemasan berisi dua lusin biskuit yang berasa Strawberry. Dan tak lupa matanya yang sipit itu tiba-tiba berdelik disudut rongga mata.

Kalau di sinetron yang berseason-season itu, adegannya kurang lebih ketika wajah setiap tokoh di close up dan kamera bergerak ke depan dan ke belakang diirini musik dramatis yang agak menyeramkan. Jreng jreng jreeeng.

Sejenak kemudian adegan dramatis terjadi ketika pandanganku, istriku dan Mba- mba kasir berkemeja Kuning dan bercelana Biru, tentunya tidak sampai lama mencapai sepeminuman teh seperti skala waktu yang sering diungkapkan di novel silat zaman dahulu.

Saya tidak mungkin menyebutkan jka judul novel tersebut adalah Wiro Sableng, karena para pembaca cerpen ini tentunya akan mengetahui dan mengira-ngira setua apa penulis cerpen ini.

“Iya Mah, itu Papah yang masukkin. Bukan buat keponakan-keponakan, tapi buat cemilan Papah!” Aku menjawab dengan nada datar dan tanpa sedikit pun merasa ada yang aneh.

“Udah Mah, lanjutin ngitung belanjaannya, kasian di belakang sudah ada yang ngantri” kataku lagi sambil membantu dia memindahkan belanjaan kami dari troli belanjaan ke atas conveyor di atas meja kasir untuk dihitung.
Istriku tidak menjawab apa-apa. Dia hanya terdiam.

Kira-kira dua puluh detik kemudian, dia bertanya lagi. Adegannya kurang lebih seperti tiga paragraf di atas. Yang berbeda hanya yang dia genggam kali ini adalah Fanta Strawberry, Selai Olai Strawberry, Susu Ultra Strawberry,dan Nyam Nyam.

Kita semua tentunya sudah tahu bahwa Nyam Nyamnya pasti rasa Strawberry bukan?

Ternyata bukan.

Saya sudah cari di sepanjang rak cemilan itu, ternyata rasa Strawberry sedang kosong. Jadi yang saya ambil yang rasa coklat saja.

Pokoknya setiap ada sesuatu yang berbau Strawberry, adegan di tiga paragraf di atas akan terulang lagi deh. Setiap itu pula aku menjawab bahwa itu memang aku yang mengambil, bukan salah ambil atau barang orang lain yang ada di troli belanjaan kami.

Tenang para pembaca, cerpen ini masih panjang. Hehehe.

Tetap stay tune.

Singkat cerita, eh tidak terlalu singkat, karena perjalanan dari Supermarket ke rumah mungil yang kami yang baru berisi kulkas, tempat tidur dan karpet itu lumayan jauh, sekitar tiga puluh menit.

Mobil kantor yang kukendarai selama tiga puluh menit itu melaju mulus seperti di atles ski yang sedang meluncur di atas es.

Nyaris tak terdengar.

Tapi di dalamnya terdengar dialog yang sangat sengit di antara pasangan suami istri. Dialog yang seru. Kira- kira seperti pertandingan terakhir Persib melawan Persebaya.

Walau pun terjadi banyak gol, tapi hanya ada satu kartu kuning dan tidak banyak pelanggaran yang terjadi.

Tidak ada yang tersakiti.
Kira-kira ada enam puluh tujuh pertanyaan yang terhambur dari bibir mungil istriku. Untung suaranya merdu bak penyanyi dari Malaysia yang baru lahiran itu.

Pertanyaanya ya tidak jauh dari kejadian di Supermarket tadi.
Seputar Strawberry.

Intinya dia kurang nyaman karena selera cemilanku itu.
Kenapa pria yang menjadi suaminya ternyata punya kegemaran yang menurut dia aneh.

Ya aku jelaskan saja bahwa itu kegemaranku sejak masih SMP.
Ya, karena kami hanya bertemu dua kali sebelum menikah.

Ketika dikenalkan oleh temanku. Dan ketika aku melamarnya satu minggu kemudian. Jadi pacarannya ya dimulai sejak ijab kabul itu.

Akhirnya sesi tanya jawab seru seperti di acaranya mas Deddy Corbuzier, diselingi oleh candaan seperti Kang Sule di Ini TalkShow pun berakhir damai tanpa ada pertikaian yang berarti,tepat ketika kami tiba di parkiran.

Dan rutininas berumah tangga pun berlanjut seperti biasa.
Tapi cerita ini belum berakhir. Masih ada satu bagian lagi!
Semua orang punya rahasia.
Sebenarnya ada kisah yang sangat pilu di balik betapa aku tergila-gila kepada apa pun yang berrasa Strawberry.

Jauh di masa kecilku, dua tahun sebelum aku pindah rumah dan pindah sekolah ke Bandung, aku punya sahabat dekat.

Tadinya kami berempat, hanya aku yang laki-laki. Kami bersahabat karena kami satu tim Cerdas Cermat yang mewakili sekolah untuk mengikuti lomba Cerdas Cermat seprovinsi Jawa barat.

Tapi yang tersisa sampai kami hampir lulus hanya aku dan Maya. Tapi waktu itu bukan hal yang aneh. Karena anak SD zaman tahun 90an tidak seperti anak SD zaman Now yang baru kelas 3 SD sudah bisa membuat video viral patah hati sambil bercucuran air mata, karena dikhianati pacarnya dengan diiringi lagu Asal Kau Bahagia.
Hadeuh pokoknya dramatis dan tragis tapi sangat miris.

Setiap hari Minggu pagi kami punya kegiatan rutin. Aku akan bersepeda sampai rumahnya dan dari rumahnya kami akan bersepeda bersama ke area taman di perumahan elit tempat dia tinggal.

Lalu kami akan bermain Bulutangkis sampai kelelahan.
Walau pun rumah kami berdekatan tapi berbeda kelas. Dipisahkan oleh sungai besar di daerah Karasak, Selatan. Ruang tamunya saja sudah lebih besar dari luas rumahku.

Rumahku hanya rumah di area penduduk biasa yang mobil pun tidak masuk, sedangkan dia tinggal di perumahan elit.

Setelah puas bermain Bulutangkis, aku akan selalu diundang mampir olehnya.

Naah, ini bagian yang mulai mengungkap kenapa aku menjadi “Strawberry Man”.

Tak lama setelah kami menyenderkan sepeda kami ke tembok dekat parkiran yang berisi tiga mobil mewah milik ayahnya, kami akan ngobrol seru di teras rumahnya sambil melepas lelah sehabis bersepedah dan bermain Bulutangkis tadi.

Tak sampai lima belas menit kemudian, jurus masak keluarga Maya keluar membawa trolli kecil seperti di restoran.
Horang kaya mah bebas. Hehehe.
Ayahnya Maya adalah dan pengusaha sukses. Dia membuat dan menjual ayunan mewah untuk diekspor ke luar negeri.

Waktu itu saja satu buah ayunannya sudah berharga dua setengah juta Rupiah.

Jadi ya wajar saja kalau sampai ada juru masak khusus di rumahnya.

Sambil duduk mensejajarkan pandangannya dengan kami berdua yang masih bertubuh mungil itu, dengan sopan Mba Mar-panggilan keluarga Maya kepada juru masak itu-berkata:
“Mba Maya, Mas Deni , Mie Gorengnya sudah siap, dan Susu Strawberrynya sudah dingin juga. Kalau sudah selesai Fanta Strawberry, dan Nyam Nyam Strawbery kesukaan Mba Maya juga sudah Mba Mar beli, tinggal panggil saya saja nani Ya!” Mba Mar berkata sambil dengan cekatan menyajikan Mie Goreng di depanku dan Maya. Lalu segelas besar susu Strawberry dingin dia turunkan dari trolli kecil yang tadi dia dorong dari dalam.

Selama dua tahun, hampir tidak ada hari Minggu pagi yang terlewatkan dengan rutinitas yang sama.

Bersepeda, Bulutangkis, ditutup dengan sajian Mie Goreng dan Susu Strawberry,dan teman-temannya.

Sampai suatu Minggu pagi itu datang.

Pagi yang paling menyedihkan selama hidupku.

Ketika aku tiba, ada dua truk besar yang sedang parkir di depan rumahnya. Ada beberapa orang yang sedang sibuk mengangkut perabotan rumah dari dalam rumah yang sangat besar itu.

“Deni ya?” Suara berat terdengar dari samping kananku. Ternyata Mas Tomi, kakaknya Maya yang bertanya sambil menepuk pelan pundakku.

“Kemarin Maya menitip pesan, dia minta maaf katanya tidak sempat untuk berpamitan.”
Dia berkata perlahan.

“Kami akan pindah rumah ke Surabaya, karena Ayahnya Maya harus memindahkan pabrik perajinan ayunannya ke sana. Dan Maya akan dikirim ke Pondok Pesantren di Sidoarjo. Seharusnya Minggu depan Maya baru berangkat ke Pondok Pesantrennya, tapi mendadak ada perubahan jadwal. Santri baru ternyata harus datang satu minggu lebih awal.”
“Jadi semalam Ayah, Ibu dan Maya sudah terbang ke Surabaya” Kata Mas Tomi lagi.
Mas Tomi terus menjelaskan sambil sesekali mengatur pekerja yang mengangkut perabotan dari dalam rumah.
“Maya juga minta maaf kalau dia tidak pernah bercerita kalau dia akan langsung Ayah kirim ke Pondok Pesantren. Dia tidak ingin Deni sedih. Dia yakin pasti Deni akan punya sahabat yang lebih baik dari Maya.”

“Semalam sebelum berangkat, Maya juga sempat memaksa ingin ke rumah Deni untuk pamitan, tapi ternyata Maya belum pernah dan tidak tahu rumah Deni ada di mana walau pun hanya di seberang sungai Karasak itu.”

“Dan ternyata di rumah Deni juga belum ada telepon rumah. Jadi tidak ada cara untuk menghubungi Deni semalam.”
Selama Mas Tomi menjelaskan dan menyampaikan pesan dari Maya, aku tidak bisa berkata apa-apa. Otakku masih mencerna dan memutuskan aku harus bersikap bagaimana.

Akhirnya aku hanya meraih tangan mas Tomi untuk bersalaman dan segera berpamitan tanpa menengok lagi ke belakang. Sama sekali tidak terpikirkan untukku untuk meminta alamt rumahnya di Surabaya atau alamat Pondok Pesantren.

Aku kayuh sepedaku kencang-kencang menjauh dari rumah itu agar setiap tetesan air mata yang jatuh dari sudut mataku segera terbang menjauh dan musnah dan tidak ada orang yang tahu.

Perasaan sedih dan kehilangan yang aneh, tapi sungguh dahsyat membuat dadaku sungguh sesak seperti dihimpit oleh dua tembok besar.

“Selamat tinggal Maya, semoga di masa depan kita bisa bertemu lagi!” Aku berbisik kepada diriku sendiri sambil sesekali mengusap aliran air mata kehilangan dan kesedihan yang sangat mendalam.

“Apakah perasaan ini adalah kesedihan dan derita karena cinta seperti yang sering aku dengar, aku baca dan aku tonton? Aku kan masih kelas 6 SD?” Aku bergumam sambil membayangkan wajah tokoh di serial Kera Sakti yang berkata:
“Beginilah cinta, derita tiada akhir”.

“Paaaah!” Tiba-tibaTerdengar suara yang aku kenal dari kejauhan.

“Papaaaaahhhh!” Suara itu terdengar semakin jelas.
“Papaaah, ngelamun aja ih! Sampe melongo gitu. Lagi mikirin apa sih?” Ternyata istriku dengan senyum manis seribu wattnya sudah berada di depanku. Membuyarkan flashback lamunanku yang sedang seru-serunya itu.

“Ini makan siang sudah siap sesuai pesanan tadi:Mie goreng dan minumnya Susu Strawberry kan?”

Selesai.

Doha, 29 July 2018

TERWUJUDNYA MIMPI SEWINDU

 

Tidak ada seorangpun penulis fiksi yang kusebutkan dalam kolom penulis favoritku, ketika aku berada di depan peserta Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan V.

Dengan terbata- bata dan sedikit gemetar karena gugup dan tergagap-gapap (seperti biasanya) aku menyebutkan penulis favoritku adalah Tony Buzan. Dan kujelaskan pada sekitar dua lusin peserta Kelas Menulis Rumah Dunia itu bahwa orang ini adalah orang yang menemukan konsep “Learning How To Learn”,konsep “Belajar Untuk Belajar”.

Dan setelah itu pun, belum kutentukan “jurusan” tulisan apa yang akan kugarap. Karena aku selalu mentok. Membuat cerpen, tidak pernah selesai. Membuat novel, hanya sebatas ide- ide belaka, yang pada akhirnya tidak pernah kueksekusi.

Titik balikku yang pertama dalam perjalanan menaklukkan dan membongkar belenggu dinding penghalangku untuk menulis adalah ketika entah bagaimana ceritanya, ketika Gol A Gong memintaku untuk menerjemahkan beberapa tulisannya ke dalam Bahasa Inggris.

Tidak banyak tulisannya yang aku terjemahkan, dan kebanyakan adalah tulisan-tulisan ringan. Tapi sangat berbobot.

Dengan menerjemahkan tulisan Gol A Gong, tanpa terasa aku serasa menjadi seorang Gol A Gong yang tulisan- tulisannya sangat lugas, tanpa basa- basi, tapi selalu membawa ide yang mencerahkan. Dan menginspirasi.

Tanpa sadar, proses membaca, dan menerjemahkan  tulisan-tulisan mas Gong itu menginstall dan mengupgrade kemampuan menulisku dengan sangat pesat.

Alhamdulillah, akhirnya karya fiksi pertamaku, judulnya “Cintaku Musnah di Penghujung Tahun” termasuk di kumpulan cerpen Gilalova 5. Fiksi yang setengah fiktif, karena sebenarnya itu adalah salah satu episode kehidupanku yang dibumbui dengan skenario fiktif. Hehehe. Bahasa kerennya Curcol in the Past. Curhat Colongan Masa Lalu.

Dengan bimbingan mas Gong juga, akhirnya aku dengan penuh kebanggaan bersyukur ketika Ibuku mengirim foto tulisanku “Menggiatkan Literasi Dari Luar Negeri” yang dipajang di Koran Tempo.

Dua pencapaian ini, ibarat super katalis, yang memicu ledakan energi menulis di kepalaku, untuk segera mewujudkan mimpiku menjadi penulis buku.

Akhirnya, tanggal 22 Oktober 2012, buku pertamaku telah terbit. Oase Kehidupan Dari Padang Pasir. Diterbitkan oleh Quanta Elexmedia, yang notabene adalah sebuah penerbit mayor di Indonesia.

Walau pun proses pembuatannya hanya dua atau tiga tahun, tapi proses inisiasinya membutuhkan waktu lebih dari delapan tahun terhitung sejak aku pertama kali berdiri di depan teman- teman Kelas Menulis dulu.

Tidak lama kemudian, tahun 2014,buku keduaku juga terbit: “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?”,juga dari penerbit yang sama. Buku ini sempat masuk beberapa saat di kategori Best Seller di Gramedia Bandung.

Mimpiku selanjutnya adalah bukuku bersanding dan bertanding dengan buku-buku Tere Liye dan Habiburrahman El Shirazy.

Insyaallah. Aamiin!

Bermimpilah, tapi jangan hanya sekedar mimpi.

Tapi bermimpilah untuk mengejarnya secepat mungkin! Kejar sampai mimpi itu tertinggal jauh di belakang, terlibas oleh mimpi-mimpi baru nan dahsyat.

 

Diday Tea

11 April 2018

Doha, Qatar

Formula 4E Untuk Tulisan Yang Kuat

 

Ada empat prinsip yang perlu kita perhatikan untuk menghasilkan  karya yang kuat. Inilah yang biasa dikenal dengan Formula 4E, yakni entertainment, escape, esthetic, dan education.

Entertainment

Karya yang baik mengandung unsur hiburan. Artinya, sepelik apapun masalah yang kita bahas atau tema yang kita angkat, seorang penulis hendaknya menyajikan dengan cara yang nyaman. Tulisan kita membuat pembaca senang karena dapat menjadi teman di saat lelah, menemukan semangat saat putus asa, dan memperoleh kegairahan saat mencerna isi bacaan

Alhasil, membuat tulisan menghibur berarti mengemas secara cerdas tema yang kita angkat sehingga menyenangkan saat dibaca. Bukan memaksakan dirimembumbui tulisan dengan hal-hal yang sensual, humor murahan, atau anekdot yang merendahkah orang lain.

Escape

Kemaslah tulisan agar menjadi perhentian sejenak bagi pembaca. Mereka dapat mengambil jarak dari masalah, untuk kemudian mencari titik jernih. Ada semacam celah bagi jiwa yang penat. Ada semacam saluran kecil yang bisa meringankan mereka dalam menghadapi  kejenuhan hidup sehari- hari. Pembaca menemukan exit window. Jalan Keluar

Esthetic

Aspek lain yang membuat tulisan kita terasa dekat di hati adalah nilai estetik yang terkandung di dalamnya. Satu maksud yang sama bisa berbeda rasa keindahannya bila diungkapkan dengan cara yang berbeda, menggunakan pilihan kata yang unik dan dirangkai dalam susunan kalimat yang khas.

Education

Pada akhirnya, ketiga aspek tersebut akan kurang kokoh kekuatannya apabila tulisan itu tidak bernilai mendidik. Secara sederhana, mendidik berarti memberi panduan, menegaskan sikap, dan keberpihakan dengan alasan yang kuat dan dapat diterima, memberi pencerahan, serta membangkitkan dorongan untuk bertindak.

 

(Dikutip dan dirangkum dari buku Dunia Kata, M Fauzhil Adhim, penerbit Dar! Mizan)

Jarang Membaca Ingin Menulis? Mimpi!

Diday TEa Logo

Mobil mempunyai kelasnya masing-masing. Biasanya, mobil yang makin mahal harus diberi bahan bakar yang lebih bagus. Bukan Premium biasa.

Karena kekuatan mobil itu tidak akan optimal jika hanya diberi bahan bakar Premium.

Begitu juga menulis.

Semakin bagus bacaanmu, semakin berkualitas bacaanmu, itu akan merasuk ke dalam relung pikiran dan jiwa kepenulisanmu.

Amati. Tiru. Modifikasi.

Semakin banyak membaca (bacaan yang berkualitas), disertai latihan setiap hari, yakin deh, kemampuan menulis anda akan meroket (ke atas tentunya, karena kalau ke bawah namanya menukik) dengan penuh kesederhanaan dan kehebatan yang akan membooming.

Penerbit pun pasti akan antri ingin menerbitkan naskah anda!

Diday Tea
Doha, Qatar
16 Maret 2018