Penyejuk Hati Penenang Jiwa

Semua Ada Akhirnya

Gunung yang paling tinggi di dunia….ada puncaknya….
Sungai terpanjang di dunia….ada ujungnya..
Danau terbesar di dunia…ada batasnya…
Manusia tertinggi di dunia….masih bisa diukur…
Manusia terberat di dunia..masih bisa ditimbang..
Orang terkaya di dunia…masih bisa dihitung hartanya…..
Orang termiskin di dunia, Hamdan ATT,ups,..
Orang yang paling tua di dunia…pasti mati juga akhirnya…
Pohon tertinggi di dunia…pasti ada ujungnya..
Jurang terdalam di dunia…masih bisa dideteksi…
Laut paling gelap dan kelam dan dalam…masih bisa didatangi oleh kapal selam…

Apapun di dunia ini,pasti akan berakhir..dan niscaya..

Sebesar apapun kesulitan yang kita hadapi…
Selama apapun penderitaan yang sedang kita alami..
Seberat dan sesulit apapun masalah yang sedang kita coba pecahkan..

PASTI AKAN BERAKHIR…..!

KIta hanya tinggal bertahan sebentar lagi saja….

^_^
didaytea!

Menuai Jaminan Allah


“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan). Dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah swt. akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q.s. At-Thalaq [65]: 2-3) Seraya berlindung kepada Alalh Azza wa Jalla dari kemungkinan berbuat ghibah, kita mulai tulisan ini dengan kisah pengalaman pahit yang pernah dialami seorang saudara kita. Allah jua yang berkuasa membukakan pintu hikmah-Nya bagi kita sekiranya kisah ini sudah menjadi jalan tersingkapnya menjadi kebenaran janji dan jaminan Allah Swt. atas hamba-hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Kisah pahit ikhwan kita ini dimulai ketika ia menjualkan rumah ibunya, yang uangnya kemudian dipakai sebagai modal untuk membuka usaha service barang-barang elektronik. Pada suatu malam Allah Swt. menakdirkan tempat usahanya itu dibobol pencuri. Kandas habis semua barang-barang di dalamnya dibawa pencuri. Bukan hanya perangkat service miliknya, namun juga barang elektronik berharga milik orang lain yang sedang diservicenya. Jadi selain seluruh modalnya amblas, ia pun harus mengganti barang-barang berharga milik orang lain yang ikut lenyap tersebut. Karena tidak dapat mengganti, ia pun dikejar-kejar oleh para pemilik barang, sehingga larilah ia sembunyi di rumah mertuanya.

Di tempat persembunyiannya pun tak kurang-kurang menderita. Selain menderita batin, juga ia dan isterinya menderita kekurangan makanan. Suatu hari isterinya yang memang tengah mengandung jatuh terpeleset di kamar mandi, sehingga mengalami pendarahan dan melahirkan sebelum waktunya. Untuk menyelamatkan nyawanya, sang isteri harus dimasukkan ke rumah sakit. Semakin bertambahlah beban biaya yang harus dipikulnya. Sementara harus pontang-panting mencari uang untuk mengganti barang-barang orang lain yang hilang tersebut, beberapa waktu kemudian ia pun harus segera dihadapkan pada biaya yang harus tersedia untuk mengeluarkan isteri dan bayinya dari rumah sakit.

Maka atas nasehat seorang kiai yang ditemui, ia pun berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt. agar ditolong dari musibah ini. Suatu ketika bertemulah ia dengan seorang yang bersedia meminjamkan sejumlah uang yang dibutuhkannya dan ia mengira inilah pertolongan Allah Swt. akan tetapi ternyata si penolong ini tak lebih dari seorang rentenir, yang bersedia meminjamkan uang asal dikembalikan dalam waktu lima belas hari dengan jumlah dua kali lipat. Tanpa berpikir panjang lagi ia pun menyetujuinya karena ingin segera menggendong dan mencium sang jabang bayi. Ia dapat berkumpul kembali dengan anak isteri, tetapi waktu lima belas hari ternyata terlalu singkat untuk dapat mengembalikan uang pinjaman kepada rentenir itu. Tak ayal kesulitan barupun datang mendera. Sang rentenir menagih paksa sambil membawa aparat keamanan kembali ia pun menjadi “buronan” berjuang ke sana ke mari mencari uang.

Namun ikhtiarnya tak membawa hasil juga. Ia pun akhirnya sampai kepada puncak keputusasaan dan berniat hendak merampok saja. Beruntung Allah masih menolongnya dengan sisa keimanan di dadanya, sehingga urung tergelincir ke lembah nista. Pada suatu hari, dalam pelariannya, ia bertemu dengan ibunya. Ia diajak pulang dan di situ memohon ampunan kepada sang ibu atas segala kekhilafannya yang mungkin telah diperbuatnya di rumah ibunya. Ketika lewat tengah malam dalam tidurnya ia bermimpi dipanggil-panggil oleh kiai yang pernah ditemuinya. Karena itu, besok paginya iapun pergi menemui kiai itu dengan wajah penuh duka dan mata memerah karena kurang tidur. Ia menuturkan rentetan penderitaannya selama ini, sang kiai menyarankannya agar bertaubat kepada Allah Swt. Memang dalam sebuah riwayat, Imam Hasal Al-Basri selalu menasehatkan orang-orang yang datang kepadanya, karena suatu musibah, agar terlebih dahulu bartaubat, sebelum berdoa memohon pertolongan Allah Swt. dan berikhtiar Insya Allah. Allah Swt. akan menolong hamba-Nya karena Dia tahu persis segala keadaann yang menimpa manusia. Soal mengapa Allah Swt. sepertinya belum menurunkan karunia pertolongan-Nya juga, itu karena kita saja yang belum bersungguh-sungguh kepada-Nya.

Seraya menasehatkan agar ia bertaubat dan memohon pertolongan dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt. kiai itupun membantunya berdoa kepada Allah Swt. singkat cerita. Perlahan-lahan ia pun dapat melepaskan diri dari musibah beruntun tersebut dengan izin Allah Swt. Apa hikmah yang bisa kita petik dari kejadian tersebut, hal yang utama dan yang paling pokok, di dalam mengarungi kehidupan ini adalah tetap yakin hanya Allah-lah penentu dalam segala kejadian. Kejadian-kejadian sesulit apa pun yang menimpa kita hendaknya jangan sampai membuat kita berputus asa dari rahmat Allah Swt. dan tergelincir ke dalam perbuatan yang mengandung aib karena setiap kejadian yang menimpa manusia itu “Laa yukallifullahu nafsan illaa wush’ahaa”. (Q.s. Al-Baqarah [2]:286). Allah Swt tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya! Semua musibah yang terjadi menimpa kita sudah lengkap di dalam perhitungan yang sangat cermat dan sempurna dari Allah Swt. dan pasti bukan dimaksudkan utuk menganiaya kalau kita termasuk orang beriman. Walaupun kenyataannya seperti menyakitkan, namun sekali-kali bukanlah karena Allah Swt. sengaja zalim terhadap hamba-Nya. Dasar perbuatan Allah itu adalah rahmat. Kasih sayang.

Hanya saja kita yang suka berburuk sangka kepada Alalh Swt. kasih sayang Allah dibalas dengan kemaksiatan, adakah berupa sikap berburuk sangka kepada Allah Swt., berputus asa, menggantungkan pertolongan pada selain Allah Swt., dan sebagainya. Karena, terasa begitu menderita ketika menjalani ujian-Nya. Hal kedua adalah bahwa kita harus yakin dengan firman Allah Swt., “Fa inna maál úsri yusran, inna maál úsri yusra”. (Q.s. Al-Insyirah [94]: 5-6). Ingat, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan! Karena itu, hendaknya kita jangan lelah untuk berharap dan memohon pertolongan-Nya bilamana suatu masalah atau kesulitan datang menimpa.

Bahkan, manakala terasa pertolongan Allah Swt. tak kunjung tiba, hendaknya kita dapat istiqamah dalam sikap husnuzhan kepada-Nya. “Aku, “Firman-Nya dalam hadist qudsi, “Sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku…. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat mendekat pula kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berdiri” (H.R. Syaikhani dan Turmudzi dari Abu Hurairah r.a.) Mengapa sikap husnuzhan kepada Allah Swt. itu sangat perlu ditanamkan dalam jiwa? Karena itu sering kali kita menganggap Allah Swt. lambat menolong, itu semata-mata karena disebabkan egoisme saja yang menginginkan pemberian Allah Swt. itu selalu cocok dengan keinginan kita, sehingga tertutuplah pintu hikmah dari Allah Swt. untuk kita, justru karena perbuatan kita sendiri.

Kita menganggap Allah tidak menolong, padahal sesungguhnya Allah telah menolong. Hal ketiga yang harus kita pegang teguh adalah sikap takwa dan tawakkal kepada Allah Swt. seraya berikhtiar sekuat-kuatnya untuk memburu pertolongan-Nya, baik ikhtiar lahir bathin. Maksudnya hati seratus persen yakin akan janji dan jaminan pertolongan Allah, namun segenap anggota tubuh pun dikerahkan seratus persen berikhtiar serta disertai niat dan cara yang benar. Adapun mengenai hasilnya, benar-benar diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt. adalah Dzat yang sangat tahu akan kebutuhan kita, lebih tahu dari pada kita sendiri. Menurut Dr. Ahmad Faridh, tawakkal adalah benar dan lurusnya hati dalam pasrah dan berpegang teguh kepda Allah Azza wa Jalla dalam mencari kemaslahatan dan kebaikan, menolak kemudharatan yang menyangkut urusan dunia maupaun akhirat. Dengan demikian, bagi seorang mukmin, penyelesaian persoalan itu justru dengan melalui taqwa dan tawakkal kepada Allah Swt,. Adapun orang kafir justru menganggap persoalan akan selesai semata-mata dengan berjuang mati-matian, memeras otak, dan mengatur strategi. Bahkan bagi seorang muslim, kerapkali terjadi kendati secara lahiriah ikhtiarnya kurang, tetapi dengan ketaatan yang total kepada Allah Swt., bisa jadi persoalan itu bisa terselesaikan.

Akan datang suatu saat kita terjepit pada suatu situasi yang sama sekali tidak ada celah yang bisa membuat kita dapat menyelamatkan diri. Gelap dan pekat tanpa ada secercah sinarpun, ibarat terkerangkeng dalam sebuah peti yang terbuat dari baja yang sekelilingnya telah dilas, sehingga tak ada lagi celah setitik pun. Bagi orang yang beriman, nanti Allah-lah yangmembuat celah itu sesuka-Nya. Subhanallah, inilah saatnya kita akan dapat menikmati janji dan jaminan Allah Swt. dari arah yang benar-benar tidak kita sangka-sangka.

Inilah janji-janji dan jaminan Allah itu. “… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Swt., niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan). Dan Allah akan memberi rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah SWT., niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Q.s. At-Thalaq [65]:2-3) Umar bin Khatab r.a. pernah menyampaikan wasiat Nabi Saw., “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah Swt. akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana burung-burung diberi rizki. Mereka terbang dalam keadaann lapar dan pulang dalam keadaan kenyang”. (H.R. Tarmidzi dan Al-Hakim). Jadi tidaklah perlu ada keraguan lagi di hati kita sesungguhnya janji dan jaminan Allah Swt. itu benar adanya. Dan kitapun Insya Allah akan menuainya!. (Aa Gym)

Hakikat Doa

Hakikat Doa

”Jangan sampai permintaanmu kepada Allah engkau jadikan alat untuk mendapatkan pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma’rifatmu) kepada Allah. Namun, hendaknya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan Tuhanmu.” (Imam Ibnu Atha’illah)

Allah menyuruh kita berdoa, bukan berarti Allah tidak tahu kebutuhan kita. Allah jauh lebih tahu kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Hakikatnya, permintaan yang kita panjatkan terlalu sedikit dibanding dengan karunia yang telah Allah berikan pada kita.

Allah juga tidak membutuhkan doa kita. Walau seluruh manusia dan jin menolak berdoa kepada-Nya, kemuliaan Allah tidak akan berkurang. Sebaliknya, jika seluruh manusia dan jin memohon kepada Allah, kemuliaan-Nya pun tidak akan berubah.

Lalu, mengapa Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita berdoa? Ada empat alasan.

Pertama, memperjelas kedudukan kita sebagai hamba dan Allah sebagai Al Khalik. Memahami hakikat diri sebagai hamba, akan menjadikan kita rendah hati. Karena itu, seorang pendoa yang baik akan terhindar dari sikap sombong, malas, dan bergantung selain kepada Allah.

Kedua, doa sebagai sarana dzikir. Allah menyuruh kita berdoa agar kita ingat kepada-Nya. Dengan mengingat Allah, hati kita akan tenang. Dan ketenangan adalah kunci kebahagiaan. Allah berfirman dalam QS Ar Ra’d [13] ayat 28, ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.”

Ketiga, doa adalah target. Doa hakikatnya adalah tujuan, keinginan, atau target yang ingin kita raih. Saat kita mengucapkan doa sapu jagat misalnya, maka itulah target kita: selamat dunia akhirat. Saat kita berdoa lunas hutang, maka itulah target kita: bebas utang. Tentu target tidak akan pernah tercapai bila kita tidak mengusahakannya.

Doa adalah pupuk, sedangkan ikhtiar sebagai bibitnya. Tidak mungkin kita akan panen, bila kita segan menebar bibit. Jadi doa yang baik adalah doa yang disertai dengan ikhtiar maksimal. Itulah iman dan amal saleh.

Keempat, doa adalah penyemangat. Pada saat seorang hamba berdoa, maka yakinlah bahwa hamba tersebut memiliki harapan, dan harapan akan melahirkan semangat.

Saudaraku, semangat itu mahal harganya. Sebab, semangat akan menentukan sukses tidaknya seseorang. Pertolongan Allah hanya akan mendatangi orang yang bersemangat; bersungguh-sungguh. Bukankah saat kita bersungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi kepada kita?

Saudaraku, perbanyaklah berdoa kepada Allah. Doa adalah inti ibadah. Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah pengubah takdir. Doa pun menjadi kunci terbukanya pertolongan Allah. Karena itu, yang terpenting dari doa bukan urusan terkabul tidaknya doa kita. Yang terpenting dari doa adalah berubah tidaknya diri kita karena doa. Wallaahu a’lam.
aa gym


didaytea!

Tangga Kejujuran yang Paling Tinggi

Tangga Kejujuran yang Paling Tinggi

“Ada sebagian orang yang mencari alasan untuk meninggalkan apa yang diwajibkan padanya untuk mencari keselamatan.” (Imam Ibnu Taimiyah)

Suatu subuh di hari Senin, Abu Hamid al Ghazali mengambil wudhu dan melakukan shalat. Setelah selesai, ia berkata pada saudara kandungnya, Ahmad, agar mengambilkannya kain kafan. Kain itu kemudian ia kenakan menutupi tubuhnya, hingga kedua matanya, ia lalu berkata: “Aku mendengar dan taat menanti datangnya malaikat.” Setelah itu ia meluruskan kedua kakinya dan menghadap kearah kiblat. Abu Hamid AL Ghazalu tak lama kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir sebelum matahari terbit pada hari itu.” Itulah sepenggal kisah kehidupan terakhir Hujjatul Islam Al Ghazalu rahimahullah, yang diceritakan saudara kandungnya, Ahmad. (Ats Tsabat Indal Mamat, Imam Ibnul Jauzi).

Saudaraku

Tak ada yang paling bertanggung jawab menentukan langkah hidup ini, kecuali kita sendiri. Keadaan apa pun yang melingkari hidup kita pun sebenarnya tak dapat memaksa kita melakukan apapun, kecuali kita sendiri yang akan mengayunkan langkah. Baik buruk, menang kalah, untung ruginya kehidupan. Kitalah yang menentukannya. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum mecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.” Begitu arti firman Allah dalam surat Ar Ra’dayat 11.

Kitalah yang akan menentukan ke mana kita akan pergi. Kita juga yang akan paling bertanggung jawab atas akibat dari semuanya. “Tataplah cermin yang paling dekat denganmu. Di sanalah berdiri satu-satunya orang yang paling bertanggung jawab atas kesuksesan atau kegagalanmu dalam hidup. Tersenyumlah. Ingat, tak ada orang lain yang bisa menanggung kegagalan atau kesuksesanmu.” Pesan seorang psikolog itu penting juga untuk kita renungi. Allah swt telah memberikan rambu dan pelita untuk kita. Selanjutnya, kita yang menentukan, apakah kita akan mengikuti rambu dan pelita itu, atau tidak.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah membahas firman Allah swt yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia lakukan untuk hari esok. Dan bertaqwalah pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. AL Hasyr : 18). Ibnul Qayyim mengatakan, bahwa perintah Allah dalam ayat tersebut mengandung anjuran kepada setiap orang untuk dua hal. Pertama, mengevaluasi diri masing-masing. Dan kedua melihat dan menghitung, apakah perbekalan yang telah ia persiapkan di dunia sudah cukup saat ia bertemu Allah atau belum.

Saudaraku

Kita pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi mungkin, kita kerap melempar kesalahan yang kita lakukan kepada pihak lain. Atau mungkin, bila kita sulit mendapatkan orang yang akan dipersalahkan, kita akan menyalahkan, keadaan, atau mengutuki nasib. Sedikit orang yang mau berdiri, jujur mempertanggungjawabkan semua keadaan pada dirinya dan melihat siapa sebenarnya orang yang paling bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Sedikit juga orang yang mau mengakui kesalahan kemudian memperbaiki langkah dan meluruskan kekeliruan. Padahal kunci perbaikan itu dimulai dari kesadaran akan kekeliruan yang menyebabkan kegagalan.

Sikap melempar kesalahan pada pihak lain, adalah sikap mencari-cari alasan. Sedangkan mencari-cari alasan adalah gejala mendustai diri sendiri yang ada pada tingkatan kedustaan yang paling berat. Sebagaimana kejujuran pada diri sendiri menempati tingkat kejujuran yang paling tinggi. “Kebohongan berawal dari jiwaaaa. Lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan. Kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan. Dan akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan dan segala keadaan.” Demikian ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Saudaraku,

Dahulu, sikap mendustakan pada diri sendiri dan mencari-cari alasan dilakukan sekelompok orang munafiqin. Pernah, suatu ketika mereka mengangkat alasan tidak bisa ikut berjihad karena cuaca panas. Perkataan mereka dsebutkan dalam surat At Taubah ayat 81. Sayyid Quthb dalam tafsirnya mengatakan, “Berjuang di jalan Allah itu waktunya sebentar dan terbatas meski di bawah teriknya matahari di bumi. Tapi panasnya jahannam tidak ada yang mengetahui kedahsyatannya kecuali Allah.

Ada juga yang mencoba mencari alasan untuk diizinkan tidak ikut dalam perang Tabuk karena takut terkena fitnah wanita Bani Ashfar. “Semua orang di kaumku tahu bahwa aku tidak kuat melihat Bani Ashfar. Izinkan aku tidak berperang. Aku akan membantumu dengan harta yang aku miliki.” Demikian pinta Jidd bin Qais kepada Rasulullah saw. Sebenarnya Jidd bin Qais tidak berangkat perang karena tahu kesulitan yang akan dialaminya dalam perang Tabuk melawan pasukan Romawi. Peristiwa yang disinggung dalam surat At Taubah ayat 39 ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah, “Ada sebagian orang yang mencari alasan untuk meninggalkan apa yang diwajibkan padanya untuk mencari keselamatan.“ (Majnu Fatawa, 28/166).

Saudaraku,

Peristiwa serupa bahkan terjadi di kalangan para sahabat ra. Imam Qurthubi mengutipkan hadits shahih dari Ali bin Abi Thalib, “Suatu malam Rasulullah datang mengetuk pintu rumahku ketika aku bersama Fatimah. Rasul mengatakan, “Tidakkah kalian shalat?” Aku mengatakan “Ya Rasulullah sesungguhnya jiwa kita ada pada kekuasaan Allah. Jika Allah berkehendak kami untuk bangun maka kami akan bangun.” Mendengar perkataanku itu Rasulullah pergi berpaling sambil menepuk pahanya dan mengatakan firman Allah, “Dan adalah manusia itu banyak membantah.” (Al Jami Li Ahkamil Quran : 66)

Saudaraku,

Jangan menyesali atau menyalahkan keadaan. Karena sampai detik ini, Allah terus menerus memberi nikmat yang melimpah ruah pada kita. Nikmat hidayah, nikmat kesejahteraan, nikmat kesehatan, nikmat rizki yang halal bahkan nikmat hidup itu sendiri yang berarti nikmat kesempatan. Ucapkanlah perlahan-lahan lalu renungkanlah sepenggal do’a yang pernah dianjurkan dibaca setiap hari oleh rasulullah, “…Abuu’u laka bini’matika alaiyya wa abuu’u bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuba illa anta.” (Ya Allah) Aku menyadari betapa banyaknya nikmat-Mu padaku, dan aku juga menyadari betapa banyak dosa-dosaku. Ampunilah kesalahanku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosaku kecuali Engkau.

Ingat saudarakua, kunci perbaikan itu berawal pada sikap jujur pada diri sendiri. Dari sanalah segala kesalahan bisa diluruskan. Dan karenanya, itulah tangga kejujuran paling tinggi yang harus kita capai.

Mencari mutiara di Dasar Hati

Memberi yang Kita Butuhkan

Memberi yang Kita Butuhkan

“Diamlah, tidakkah engkau tahu bahwa kebutuhan orang kepada kamu itu adalah nikmat Allah kepadamu. Hati-hatilah kalian jika kalian tidak bersyukur terhadap nikmat Allah lalu berubah menjadi bencana. Tidakkah engkau justru memuji Allah karena masih ada orang yang meminta kapadamu?” (Fudhail bin Iyadh)

Saudaraku
kita kerap merasa sulit memahami sikap-sikap mulia para sahabat dan salafushilah. Ada banyak bentuk pengorbanan yang mereka lakukan untuk kepentingan orang, tapi sangat sukar dicerna oleh logika keduniaan dan kemanusiaan kita. Bayangkanlah apa yang dilakukan seorang sahabat Anshar untuk memuliakan seorang tamu yang sama sekali tidak begitu ia kenal sebelumnya. Ketika suatu hari ada seseorang mendatangi Rasulullah saw namun Rasul tidak memiliki makanan apapun untuk dihidangkan. “Siapa yang bisa memberi hidangan kepadanya?” Tanya Rasulullah kepada para sahabatnya. Serta merta seorang sahabat Anshar langsung menyambutnya “Saya ya Rasulullah,” katanya.
Tahukah kita, bila sebenarnya kondisi sahabat Anshar itu pun sedang tak mempunyai makanan apapun, kecuali makanan untuk anak-anaknya? Karena ketika ia pulang kerumah dan menceritakan masalah itu pada isterinya. Sang istri lalu mengatakan lirih, “kita tidak mempunyai apa-apa untuk tamu itu, kecuali makanan untuk anak kita.”
Apa siakp sahabat Anshar yang sulit dicerna oleh logika kita itu? Lihatlah, bagaimana ketulusan sahabat untuk memuliakan sang tamu yang luar biasa. Ia menginstruksikan isterinya untuk menghidangkan makanan apapun yang mereka punya, mematikan lampu rumah dan menidurkan anaknya yang kelaparan jika bangun ingin makan malam. Saat sang tamu datang, rumahnya gelap dan tuan rumah menawarkan sang tamu datang, rumahnya gelap dan tuan rumah menawarkan sang tamu untuk makan bersama. Ia sengaja mematikan lampu, agar tampak sepertinya ia mendampingi sang tamu makan pada malam itu. Padahal ia sekeluarga, melewati dingin sepanjang malam tidak makan dan menahan lapar. Ketika Rasulullah saw mendengar sikap sabahat Anshar itu, ia tersenyum dan mengatakan, “Allah swt tertawa pada malam itu. Dia kagum dengan apa yang kalian berdua lakukan.”
Bagaimana logika kita memaknai sikap seperti ini saudaraku? Seperti itulah bentuk pengorbanan yang dicontohkan para sahabat radhianllahu anhum. Kita memang sulit menafsirkan cara berpikir mereka yang mengorbankan kebutuhan pribadi dan keluarga, hanya untuk seorang tamu. Itu mungkin karena kita lebih sering berpikir dengan naluri pertimbangan keduniaan daripada pertimbangan keakhiratan, kita mungkin lebih sering menimbang masalah dari sudut kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam pikiran kita, tapi lebih mengecilkan peran-peran Allah swt. kita mugnkin lebih banyak menggunakan logika soal batas kemampuan kita dalam melakukan ketaatan, padahal Allah swt pasti menyediakan kemampuan manusia untuk melakukan apapun untuk taat kepada-Nya.

Saudaraku,
Sikap sahabat Anshar itulah yang kemudian membuat Allah tertawa karena takjub terhadap ketulusan dan kebaikan hamba-Nya. Bayangkanlah, Allah tertawa karena takjub terhadap sikap hamba-Nya.

Saudaraku,
Sahabat dari kalangan Anshar memang memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah sikap mereka yang sangat mementingkan orang lain ketimbang diri mereka sendiri. Mereka jalani pengorbanan-pengorbanan besar seperti itu dengan hati lapang, tentram, tenang. Syaikh As Sadiy rahimahullah, dalam tafsirnya mengatakan, “Lebih mengutamakan orang lain, adalah salah satu kelebihan sifat kaum Anshar ketimbang yang lainnya. Kaum Anshar memiliki sifat lebih mendahulukan orang lain dalam hal harta dan lainnya, padahal mereka sendiri sedang membutuhkannya. Sekalipun mereka dalam tingkat darurat dan mendesak untuk kebutuhan itu. (Tafsir As Sadiy, Tafsir fi Tafsir Kalam Al Mannan, 1025).
Renungkanlah sikap seorang sahabat yang sangat ingin berderma dan membantu orang lain, namun ia tak memiliki harta. Namanya Abu Dhamdham. Ya Rasulullah, katanya suatu ketika. “Aku benar-benar tidak mempunyai harta untuk disedeqahkan pada orang lain. Tapi aku telah bersedeqah untuk mereka dengan kehormatanku. Jika ada orang yang memukul atau menuduhku, ia tetap bebas dariku,” sampai-sampai Rasulullah saw bersabda, “Siapa diantara kalian yang bisa berlaku seperti Abu Dhamdham, maka lakukanlah.”

Saudaraku,
Tidak heran jika banyak diantara para sahabat itu yang rela gugur syahid di medan perang, yang artinya sama dengan menyerahkan nyawa untuk agama dan kemuliaan umatnya. Tidak heran jika salah satu syiar hidup yang mereka jadikan pegangan adalah syiar, “In lam yakun bika alaya ghadab, falaa ubaalii.” “Ya Allah, selama engkau tidak murka kepadaku maka apapun yang kualami, aku tidak peduli.” Mereka juga begitu menghayati prinsip hidup sebagaimana bunyi syair, “idzaa aradta an tas’ada fa asidil akharin”, jika engkau ingin meraih bahagia, bahagiakanlah orang lain.
Mereka bisa memilih dan menempatkan sikap yang tepat. Jika mereka menginginkan ridha Allah, maka mereka akan mengabaikan apapun keridhaan lainnya yang menghalangi mereka meraih ridha Allah. Jika mereka menginginkan meraih kebahagiaan akhirat, mereka akan membuang keinginan kebahagiaan semu yang bisa menjauhkannya dari keinginan bahagia di akhirat. Jika mereka ingin menapaki jalan yang bisa mengantarkan mereka pada surga, maka mereka akan menutup semua pintu yang bisa mengarahkannya pada jalan selain surga. Seperti yang pernah dikatakan seorang shalih, “Jika manusia takut kepada neraka sebagaimana ia takut kepda kemiskinan, niscaya ia akan selamat dari keduanya. Kalau ia menginginkan surga sebagaimana ia menginginkan kekayaan niscaya ia akan mendapatkan keduanya. Dan jika ia takut kepada Allah dalam hatinya sebagaimana ia takut pada Allah dalam prilakunya secara lahir, niscaya ia bahagia di dunia dan akhiratnya.”
Mereka adalah orang-orang yang sangat peka dengan peran-peran yang harus dilakukannya untuk orang lain. Mereka tetap bisa meraba sesuatu sebagai nikmat Allah swt disaat orang lain menganggap sesuatu itu bukan sebagai nikmat Allah swt. seorang murid dari ulama terkenal Fudhail bin Iyadh rahimahullah, bercerita, “Aku pernah bersama seorang alim, Fudhail bin Iyadh. Suatu ketika ada seseorang datang dan meminta uang darinya berkali-kali. Aku mengatakan pada orang itu, “Pergilah, jangan ganggu syaikh.” Tapi Fudhail malah mengatakan, “Diamlah, tidakkah engkau tahu bahwa kebutuhan orang kepada kamu itu adalah nikmat Allah kepadamu. Hati-hatilah kalian jika kalian tidak bersyukur terhadap nikmat Allah lalu berubah menjadi bencana. Tidakkah engkau justru memuji Allah karena masih ada orang yang meminta kepadamu?”
Saudaraku,
Coba kita lakukan, ikhlas dan tulus memberi orang lain dengan sesuatu yang kita butuhkan, demi menutupi kebutuhan orang itu. Bagaimana rasanya saudaraku?

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani