Ilmuwan Cilik

“Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA”

 

Jika ada yang masih ingat, belasan tahun lalu ada iklan sebuah baterai yang super awet. Di dalam iklan itu diperlihatkan sebuah mainan kelinci yang masih saja anteng menabuh drum dengan kuatnya di saat baterai- baterai dengan merek lain sudah tidak bisa bergerak lagi.

Seperti itu juga kondisiya dengan bayi perempuanku yang baru berumur tiga belas bulan.

Sekarang, dia hanya punya tiga kegiatan besar: minum susu, tidur, dan bermain.

Minum susu dan tidur sih sama sekali tidak bermasalah untuk kami orang tuanya.

Tapi ketika dia sedang bermain, baik sendiri atau pun dengan kakaknya, hmmmm….itu baru tantangan yang sesungguhnya.

Bayangkan saja, kalau dia bangun, hampir tidak ada sedetik pun yang dia habiskan untuk diam. Kaki- kaki mungilnya selalu bergerak dengan spartan dan konstan menyusuri setiap jengkal lantai di rumah kami.

Hampir sepanjang hari, dia akan titirilikan (entah apa ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kecil atau mungil dan bergerak dengan sangat cepat dengan arah yang acak.. :D)

Jari- jari kecilnya akan menggenggam apa pun di depannya tanpa ragu.

Tangan mungilnya juga yang akan oprek barang- barang apa pun yang dia temukan. Lalu dia tumpuk, susun, lempar, injak, jilat, dan bahkan kalau sedikit saja luput dari pengawasan kami, dia akan memakan apa pun yang dia rasa enak.

Jika saja mainan- mainan itu hidup, tentunya di ruangan itu akan terdengar riuh –rendahnya teriakan kesakitan dari para mainan yang terlempar ke sana ke mari, terinjak berulang kali.

Tapi ada juga sih sedikit keributan , yaitu teriakan kakaknya yang kadang kesal ketika sedang memegang iPad tiba- tiba dilempar oleh mainan mobil, atau ketika sedang asyik bermain dan menyusun lego, tiba- tiba makhluk kecil dan imut itu lewat begitu saja sambil menginjak bangunan yang sudah dia susun dengan susah payah.

Apa pun yang berada di dalam wadah tidak akan luput dari “percobaannya” . Makanan, minuman, mainan lego milik kakaknya, biskuit yang kadang kami lupa menutup wadahnya akan sukses berpindah dari wadahnya ke atas lantai yang sudah penuh sesak dengan ratusan potongan dan patahan mainan.

Analogi “kapal pecah” mungkin sudah tidak relevan lagi untuk menggambarkan keadaan rumah kami jika si bayi sudah beraksi. “Kapal dibom” atau “kapal meledak” rasanya lebih tepat.

Persis seperti mainan kelinci di iklan baterai tersebut, energinya seperti tidak pernah habis. Dengan minum susu sebentar dan tidur hanya beberapa puluh menit, kecuali malam, “baterai” di dalam badan mungil, pejal dan montok itu sudah terisi penuh dan kembali bergerak dengan aktif.

Sudah tak terhitung berapa kali tubuh montoknya itu jatuh berdebam di atas lantai karena terpeleset mainan atau mobil- mobilan yang berserakan di lantai.

Sudah tak terhitung pula istriku harus mengepel lantai dari tumpahan susu, coklat, selai, biskuit dan “hasil karya” seniman mungil imut yang montok dan super lucu itu.

Dalam sehari, istriku bisa tiga kali membereskan mainan yang hampir sama sekali tidak menyisakan ruang untuk sekedar menginjakkan kaki pun di ruang tamu.

Ah, pokoknya, kadang terlintas di pikiran bahwa bayi dan anak- anak adalah makhluk yang sama sekali tidak berguna, hanya merepotkan saja.

Ternyata sama sekali tidak seperti itu.

Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA.

Ilmuwan adalah seorang “anak kecil besar”.

Dan seorang anak kecil adalah seorang “ilmuwan” cilik.

Bayi dan anak kecil, seperti layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, hanya melakukan satu hal, yaitu belajar. Mereka tidak perlu memikirkan lagi tentang makanan, minuman, dan kehidupan mereka karena sudah ditangani oleh orang lain.

Mereka mempunyai kemampuan dan kapasitas belajar yang sangat luar biasa. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi di periode nol sampai dua atau tiga tahun/

Mereka akan mempelajari bagaimana barang- barang di sekitar mereka bekerja.

Mereka akan mengamati bagaimana sikap orang- orang di sekitar mereka.

Mereka akan mencari tahu bagaimana perkaitan antara sesuatu hal yang disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tentu bukan “sesuatu”nya Syahrini. Hehehe.

Mereka akan selalu melakukan percobaan- percobaan tertentu, hanya untuk sekedar ingin mengetahui sesuatuyang kdang berbahaya buat mereka. Si mungil akan tanpa ragu memegang colokan listrik tanpa ada rasa takut tersengat aliran listrik sebelum orang tuanya panik dan berteriak- teriak, atau bahkan langsung menggamit tubuh mungilnya menjauh dari area colokan listrik itu.

Ada periode di mana mereka akan mencoba memakan apa pun yang mereka pegang.

Mereka belajar seperti spons yang menyerap air. Bahasa, Sikap, perilaku, kata- kata orang tua, televisi, film, musik, lagu, tingkah laku kakaknya, akan mereka tiru atas nama “penelitian” pribadi mereka.

Mungkin ini adalah jawaban kenapa manusia menjalani masa kecil atau masa anak-anak lebih panjang dibanding dengan makhluk lainnya.

Allah mentakdirkan kehidupan manusia lebih lama di dalam masa anak- anak, untuk mempersiapkan diri seorang manusia dalam menghadapi keras dan rumitnya kehidupan seorang manusia dewasa kelak.

Bayangkan saja, sorang anak kuda atau rusa akan bisa berjalan dengan tegap bahkan berlari, hanya setelah satu jam dia dilahirkan.

Tapi lihat, sejak itu sampai dia mati pun tidak ada perkembangan yang berarti di dalam kehidupannya: makan, tidur, buang air, begitu besar kawin dengan binatang lain dan mati.

Lihatlah seorang manusia.

Untuk bisa berjalan saja, paling cepat memerlukan sembilan bulan.

Untuk bisa berbicara lancar seperti orang dewasa, setidaknya sampai umur tiga atau empat tahun.

Bahkan sampai mereka betul- betul mandiri pun setidaknya memerlukan waktu sampai mereka lulus kuliah atau sekolah.

Sungguh sangat beruntung kita dilahirkan sebagai manusia!

Chillax Luar Dalam

Chillax Luar Dalam

“Sebagai seorang muslim, aku merasa sangat beruntung karena memiliki setidaknya lima kali waktu dalam sehari untuk mendinginkan kepala dan menenangkan hati”

Sejujurnya, sih , selalu ada saja saat dan periode di mana aku terikat oleh belenggu kemalasan untuk sholat berjamaah di masjid.

Beberapa tahun ini, hampir tidak pernah ada satu hari pun yang aku bisa lewati sempurna tanpa ada “bolong” sholat berjamaah di mesjid. Selalu ada saja waktu sholat berjamaah yang lolos, sehingga terpaksa aku hanya sholat sendiri di rumah, atau setidaknya berjamaah dengan istriku. Ada saja halangan yang jadi alasanku untuk bisa pergi ke mesjid. Dari kesibukan waktu kerjaku yang shift lah, lagi di mall lah, jalan- jalan, bahkan kalau di rumah alasannya lebih dramatis lagi: menyalahkan panasnya summer dan dinginnya winter di sini. Dan banyak lagi kambing- kambing hitam yang tidak bersalah tapi sering kutunjuk dan kusalahkan.

Padahal sih, alasan yang sesungguhnya cuma satu: MALAS.

Beberapa hari lalu kutemukan kata- kata baru di Twitter ketika ingin mereset passwordku yang hilang.

“Please chillax, and try to log in after one hour. Because your ability to reset password is disabled”. Itu kalimat yang terpampang di halaman utamanya.

Chillax? Kata yang aneh.

Sangat mirip dengan nama makanan dari Bandung yang sangat legendaris: Ciloks. Kalau ini singkatannya Aci dicoloks.

Tapi beberapa saat kemudian langsung kusadari bahwa itu adalah gabungan dua kata Chill dan Relax, dingin dan relaks. Sedikit susah untuk menemukan terjemahan yang tepat untuk gabungan dua kata ini.

Langsung saja itu menyadarkanku bahwa dalam hidup kita, selalu diperlukan Chill and Relax.

Chillax.

Tubuh kita perlu istirahat, begitu pun pikiran kita.

Kita harus punya waktu untuk sejenak melakukan relaksasi dan memberikan sedikit waktu untuk tubuh, hati, pikiran, otak, dan jiwa kita dalam kondisi tenang dan “dingin”.

Ada yang chillax menggunakan musik. Dari musik klasik, gamelan, kacapi suling, Kitaro sampai ada juga yang nekad memutar lagu dance dan ngebeat atas nama relaksasi pikiran.

Ada juga yang selalu mengadakan acara keluarga di taman.

Ada juga yang memberlakukan hari tanpa gadget di rumahnya.

Ah, pokoknya mungkin ribuan cara manusia yang manusia lakukan dan cari untuk bisa Chill and Relax.

Sejujurnya lagi sih, kadang, ahem, bahkan sering aku sering berusaha menenangkan diriku dan sedikit menjauh dari penatnya urusan kerja  dengan mendengarkan music. Tidak sampai harus mendengarkan musik- musik yang tidak jelas. Paling banter sekarang sih penyanyi Swedia yang sedang naik daun, akang Maher Zain.

Ah, Maha Suci Allah yang Maha Memberi Hidayah.

Tadi baru saja aku pulang dari sholat Ashar berjamaah di mesjid. Setelah salam tadi, entah kenapa aku tiba- tiba teringat kata- kata tadi, Chillax.

Ternyata perasaan Chillax  terbaik dan paling sempurna bukan setelah merdunya suara Maher Zain, atau lembutnya tiupan kacapi suling, atau megahnya musik sang Maestro New Age: Kitaro, tapi perasaan tenang, penuh kedamaian dan “dingin” yang kita rasakan beberapa saat setelah kita ucapkan salam yang kedua di dalam sholat.

Kondisi ketika kita barang satu atau dua menit beristigfar, bersyukur, bertasbih, dan bersholawat dan dilanjutkan dengan berdo’a itu adalah kondisi chillax yang sesungguhnya, ketika kita tidak mempunyai batas lagi dengan Yang Maha Mencipta.

Ketika sedang sibuk bekerja saja, dan kita break untuk mendirikan sholat, Sensasi chillax akan sangat terasa bahkan sejak sholat itu dimulai. Dinginnya air wudhu, dan beberapa menit waktu yang  kita berikan kepada tubuh dan pikiran kita untuk sejenak beristirahat dan menjauh dari penatnya pekerjaan. Belum sensasi ruhiyahnya, ketika dosa kita akan berguguran dengan air wudhu yang membasuh tubuh kita, dan dihapusnya dosa- dosa kecil di antara dua waktu sholat.

Sensasi dinginnya pikiran dan relaksnya hati akan jauh berlipat ketika kita sholat berjamaah di mesjid.

Paling mantap sih ketika sholat subuh. Bayangkan saja, jika kita bangun lima belas menit saja sebelum sholat subuh, bisa dijamin kita akan bisa mendapatkankan kemuliaan sholat malam, walau pun itu hanya sebatas dua rakaat qiyamul lail dan satu rakaat witir. Lalu sebelum berangkat, seharusnya sih kita bisa mendapatkan kemuliaan yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya dari dua rakaat sholat sunah sebelum subuh.

Ketika tiba di mesjid pun, kita masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keutamaan sholat tahiyyatul mesjid.

Dan ditutup dengan kemuliaan sholat berjamaah di waktu yang paling utama, sholat subuh berjamaah.

Ah, sungguh bodoh sekali diriku ini yang masih bisa terkalahkan oleh kemalasan, dan melepaskan kesempatan luar biasa itu.

Perjuangan melawan kemalasan akan selalu terjadi di setiap langkah kehidupan kita.

Seharusnya aku merasa sungguh sangat beruntung karena diberi minimal lima kali waktu untuk Chill and Relax luar dalam. Kesempatan untuk menenangkan hati, tubuh, pikiran dan jiwa sejenak dari penatnya kehidupan dan mendekat kepada Yang Maha Pencipta, tujuan akhir kita yang sesungguhnya.

Mari ber-Chillax dengan Sholat  berjamaah di mesjid!

 

 

Pusing Tujuh Keliling Forever

“Manusia memang aneh, suka memikirkan yang tidak perlu dipikirkan tapi tidak memikirkan yang seharusnya dipikirkan”

 

“Pussiiiinnggggg…!” Teriak si Fulan dari teras depan rumahnya.

“Pusing tujuh keliling nih!” Si Fulan menambah variasi tujuh keliling untuk mendramatisir keadaan. Sambil memasang pose standar orang yang sedang pusing tujuh keliling: setengah jongkok, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang jidat, dan kepala digeleng- geleng.

“Pusing kenapa Mas Bro? Kok sampai tujuh keliling begitu” Tanya si Mamang Tukang Sayur langganan si Fulan yang tiba- tiba hinggap, eh, mampir di depan rumah si Fulan karena terkaget- kaget mendengar teriakan si Fulan.

“Ngga pusing gimana Mang…..” Kata si Fulan sambil menarik nafas panjang.

“Hutang makin banyak, kosan belum bayar, cicilan motor nunggak dua bulan, nilai kuliah jelek- jelek, pacar minta dinikahi secepatnya, orang tua telat ngirim..!” Kata si Fulan, persis seperti burung Cangkurileung yang baru dilepasan dari kandang.

“Hutang, keuangan, masalah keluarga, sekolah, kerjaan mah ya masalah biasa atuh Mas Bro, tiap manusia pasti punya masalah yang berkaitan dengan hal- hal itu…” Jawab Mas Bro, eh, Mamang Tukang Sayur dengan suara bariton yang lembut layaknya penyiar radio yang baru- baru ini mendadak beken di Youtube.

“Iya saya tahu Mang, tapi saya tetep pusing nih mikirin gimana solusinya!” Jawab Si Fulan dengan pose yang masih persis sama seperti tadi, hanya kali ini tangan kirinya yang hinggap di atas jidat. Kepalanya tentu saja tetap menggeleng- geleng.

Eh, tiba- tiba si Mamang malah ngaji dengan suara yang berat tapi lembut, mirip- mirp dengan Syaikh Mishary Al Efasy. Secara, dia kan emang imam di mushola deket rumah si Fulan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. QS Hud ayat 6

 

            “Yee..si Mamang kenapa malah ngaji sih? Bukannya ngehibur!” Si Fulan menanggapi dengan sedikit kesal.

“Saya butuh solusi buat masalah saya, bukan pengen didengerin orang ngaji!” Tambahnya lagi.Sambil terduduk lesu, iya lah, masang pose orang pusing tujuh keliling gitu pasti pegel bukan main.

“Mas Bro beneran pusing nih, mikirin masalah- masalah Mas Bro?” Tanya si Mamang dengan lembut, seperti seorang ayah kepada anaknya.

“Iya lah, masa ngga keliatan dari tadi saya pasang pose seperti ini?!” Kata si Fulan yang tiba- tiab tersadar bahwa posisinya sudah berubah, dan memasang pose pusing tujuh keliling lagi.

“Mas Bro, masalah rejeki, uang, jodoh, maut, sudah dijamin oleh Allah. Itu janji-Nya!” Ucap si Mamang.

“Tugas kita bukan untuk memikirkan hal- hal itu.”

“Mas Bro sudah sholat zhuhur belum nih?” Tiba- tiba si Mamang bertanya.

“Masih pusing gini mas, nanti aja lah bentar lagi!” Jawab si Fulan sekenanya.

“Saya mau nanya boleh ngga Mas Bro?” Si Mamang pun tetap menanggapi dengan santai.

“Mau nanya apa?” Jawab si Fulan.

“Mas Bro yakin kalau Allah Maha Pencipta?” Tanya si Mamang.

“Yakin dong, saya kan orang Islam!” Jawab si Fulan.

“Yakin kalau Allah pemilik segala sesuatu di dunia ini?”

“Hmm.itu juga yakin dong! Intinya mau nanya apa nih, kok malah nanya yang aneh- aneh kaya gini!” Si Fulan mulai terlihat kesal.

“Yakin kalau Allah Maha Kuasa atas segala kejadian di dunia ini?

Si Fulan sekarang hanya sekedar menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu cukup!” Kata si Mamang dengan muka sumringah.

“Cukup apanya?” Jawab si Fulan yang terlihat agak bingung.

“Di ayat yang tadi Mamang bacakan tercantum jelas bahwa Allah berkata:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

            “Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, dan itu termasuk manusia” Si mamang meneruskan obrolannya.

“Kita seharusnya tidak usah khawatir tidak dapet makan, tidak usah khawatir tidak bisa pake baju, tidak usah khawatir tidak dapet jodoh, tidak usah khawatir tidak dapet kerjaan, pokoknya mah urusan dunia mah Allah sudah jamin deh” Si Mamang mulai bersemangat menjelaskan.

Si Fulan sepertinya sudah lelah berpose pusing tujuh keliling, dan dia pun duduk ke posisi semula, di sebelah si Mamang sayur. Sambil mendengar si Mamang sayur dia pun menganggukkan kepalanya pelan- pelan, entah karena ngantuk atau karena memang sedang berusaha mengerti si Mamang.

“Cecak aja makanannya nyamuk, tapi mereka tidak pernah pusing!”

“Mas Bro, ada hal- hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan dibanding hanya sekedar urusan hutang, keuangan,keluarga, jodoh.” Si Mamang menjelaskan lagi.

“Apa itu mas? Saya sudah cukup pusing nih memikirkan masalah- masalah saya, tolong jangan ditambah pusing!” Jawab si Fulan.

“Tugas kita diciptakan sebagai manusia semata- mata untuk beribadah kepada Allah”

“Mas Bro Sholat, puasa, zakat? Tanya Si Mamang.

“ Ya Iya lah, saya kan Islam Mang, masa ngga sholat, puasa ama zakat?” Jawab si Fulan dengan setengah melotot.

“Tapi Mas Bro yakin 100 persen ngga kalau  ibadah- ibadah Mas Bro itu bakal diterima oleh Allah?” Si Mamang masih bertanya lagi.

“Hmm…” Si Fulan mulai terdiam.

“Gimana ya….? Kalau ini sih sejujurnya saya tidak yakin. Sholat saya masih sering telat, ngga khusyu- khusyu amat, puasa juga ya gitu- gitu aja sih ngga ada yang istimewa, zakat mah pasti lah, minimal zakat fitrah.” Si Fulan menjawab dengan perlahan.

“Nahh..Apakah tiap sehabis sholat Mas Bro suka memikirkan bahwa sholat Mas Bro diterima atau tidak?” Tanya Si Mamang.

“Ngga sih, sholat ya sholat aja…Palingan ya itu, saya berdoa minta solusi untuk masalah- masalah saya” Jawab si Fulan.

“Lalu gimana Allah mau mengabulkan do’anya Mas Bro kalau ternyata sholatnya Mas Bro asal sholat aja, asal sah saja. Sah belum tentu diterima lho!” Si Mamang langsung menanggapi.

“Mas Bro pernah mikirin ngga apakah bacaan Al Qur’an Mas Bro sudah bener atau ngga? Apakah Mas Bro mbaca surat yang itu- itu saja, klo ngga Al Ikhlas ya Al Kautsar? Apakah Mas Bro abis sholat dzikir dulu ngga? Apakah Mas Bro sholat sunah rawatib ngga setelah sholat? Apakah Mas Bro ngerti bacaan sholat dari Takbir sampai Salam? Pertanyaan yang bertubi- tubi berhamburan dari mulut si Mamang, seolah- olah menohok dada si Fulan.

Si Fulan hanya terdiam. Pandangannya langsung kosong seperti sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan pertanyaan si Mamang.

“Ngga pernah Mang…” Jawab Si Fulan dengan lesu.

            “Tuh kan…Hal yang sudah jadi kewajiban ternyata malah Mas Bro ngga pikirin.”

“Ngga usah khawatir mikirin masalah rejeki and jodoh mas, atau masalah- masalah lainnya. Allah mah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Kalau ibadah kita sudah benar, dan diterima oleh Allah, Allah pasti akan dekat dengan kita. Kalau Allah sudah deket sama kita, kita pasti dimudahkan dan diberi jalan dari jalan yang tidak di duga- duga selama kita beikhtiar sekuat tenaga dengan benar dan dengan niat yang lurus.” Si Mamang menjelaskan lagi dengan perlahan.”

“Iya juga Mang, eh..Iya ya Mang..” Si Fulan menjawab.

“Selama ini saya selalu ruwet mikirin urusan dan masalah hidup saya, tapi malah sama sekali ngga pernah mikirin gimana kualitas ibadah saya. Padahal sudah puluhan tahun saya sholat, puasa, zakat. Tapi saya ngga pernah kepikiran untuk mikirin kalau ibadah saya itu sudah benar atau tidak, bakalan diterima oleh Allah atau tidak…” Ucap si Fulan dengan sedikit terisak.

“Astaghfirullohal’azhiim…ampun ya Allah” Si Fulan beristighfar dengan lirih..

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat Mas Bro” Kata si Mamang.

“Alhamdulillah kalau Mas Bro sudah sadar mah, ini juga sebagai koreksi untuk diri saya gar bisa memperbaiki kualitas ibadah saya lebih baik lagi” Si Mamang menambahkan lagi.

“Saya pamit dulu ya Mas Bro…semoga sukses! Saya tunggu di mesjid Ashar nanti Ya!” Ucap si Mamang Tukang Sayur sambil berlalu dengan motor yang sudah dimodifikasi dengan keranjang sayurnya.

“Wa’alaikumsalaam. Terima kasih Mang, sudah mengingatkan..” Jawab si Fulan yang mulai terisak lagi.

Tak lama kemudian si Fulan pun bergegas mengambil wudhu.

Kali ini dia merasa wudhunya terasa sangat berbeda. Dia sangat menikmati setiap bilasan air dingin yang mengalir dari keran plastik di kamar mandinya. Tanpa terasa air matanya pun mengalir pelan, terbilas oleh air wudhu yang membasuh mukanya. Hatinya pun berdetak kencang, tak sabar ingin segera mendirikan sholat, agar dia bisa taubat sepuasnya.

     لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

 

www.didaytea.com

131011

 

 

 

 

 

Al Hasiib Yang Maha Mencukupi

Definisi

Kata Al Hasiib terdiri dari huruf  ha’ , siin, dan ba, mempunyai empat kisaran makna, yakni “menghitung”, “mencukupkan”, “bantal kecil”, dan “penyakit yang menimpa kulit sehingga memutih”.


Tentu saja makna ketiga dan keempat mustahil disandang oleh Allah SWT.


Di dalam Al Qur’an kata Hasiib terulang empat kali. Tiga di antaranya menjadi sifat Allah dan yang keempat tertuju kepada manusia. Yaitu QS Al-Israa 17:14 “”Bacalah kitab(amal)mu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.


Kata Hasiib yang menjadi sifat Allah, dua diantaranya di dahului oleh kata “kafaa” yang berarti “cukup”, sehingga “hasiiba” lebih cenderung dipahami dalam arti “Yang Memberi Kecukupan”


QS An-Nisa 4:6 “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).


QS Al-Ahzaab 33:39: “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.


Sedangkan ayat ketiga bersifat umum: QS An-Nisaa 4:86 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah Hasiiba (Maha Memperhitungkan) atas segala sesuatu.


Imam Ghazali menguraikan bahwa Al Hasiib bermakna “Dia yang mencukupi siapapun yang mengandalkannya”.


Sifat ini tidak dapat disandang kecuali oleh Allah sendiri, karena hanya Allah saja yang dapat mencukupi semua kebutuhan makhluknya.


Allah sendiri yang dapat mencukupi semua makhluk, mewujudkan kebutuhan mereka, melanggengkan bahkan menyempurnakannya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?


Kalau kita hanya mengandalkan Allah, Allah pasti mengetahui hati kita.

Dan siapapun yang mengandalkan Allah, Allah pasti akan mencukupinya. Dan yang tidak mengandalkan Allah, tapi hanya mengandalkan kemampuan dirinya, kecerdasan dirinya, pasti akan selalu merasa dalam kekurangan dan kesulitan ketika menjalani hidup.


Ath Thalaaq 2-3“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya allah yang memiliki segalanya. Milik Allahlah semua yang ada di langit dan di bumi.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya Allah pemilik segala sesuatu yang kita butuhkan dan Allah Maha Tahu apapun yang kita butuhkan keperluan kita lebih tahu dari diri kita sendiri. Kita hanya tahu sedikit saja apa yang kita butuhkan. Sinar matahari yang masuk kebumi, kadar Oksigen di udara, kadar kelembaban di bumi ini adalah sedikit contoh ketepatan Allah yang mencukupi kebutuhan kita secara sempurna. Belum lagi sistem tubuh kita yang sangat luar biasa, hanya Allah yang mencukupi semua kebutuhan setiap sel tubuh secara sempurna.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena tidak ada apapun yang bisa terjadi tanpa ijin Allah.


Tidak Setiap Keinginan Harus Terwujud


Jangan anggap pencukupan Allah untuk kita bakal selalu cocok dengan keinginan kita. Tidak selalu yang kita inginkan harus terjadi.

Keinginan kita, lebih banyak adalah versi dari kebodohan kita, versi nafsu, yaa kita nganggap kaya itu bakal baik, kita nganggap popular itu bakal baik, kita menganggap sukses dan bahagia itu cersi nafsu kita, padahal kita tahu sedikit sekali, dan Allah tahu mana yang baik dan mana yang membahayakan kita.

Allah tahu persis kalau kita diberi kekayaan banyak, kita akan cenderung maksiat, sombong. Oleh karena itu Allah tidak memberi banyak kepada kita, tapi Allah selalu memberi pada waktu yang tepat, pada saat kita betul-betul memerlukannya.

Kadang kita minta kesehatan, tapi Allah malah memberi sakit.

Apakah Allah Zhaliim kepada kita? Mungkin dengan sakit, kita akan bisa memiliki waktu untuk merenung dan tafakur untuk mengevaluasi diri, dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan akhirnya bisa bertobat dan menjadi dekat dengan Allah.


Kita ingin untung usaha, tapi malah tertipu. Padahal Allah tahu orang yang akan menipu? Karena Allah akan memberikan pelajaran sebelum Allah memberi dititipi usaha keuntungan yang lebih besar. KArena Allah memberikan pengalaman untuk merugi agar kita bisa berhati-hati dan waspada dengan  merasakan perihnya ditipu, sehingga kita tidak mengalami kerugian yang lebih besar di masa depan.


Kita ingin kaya, tapi Allah malah membuat kondisi hidup kita pas-pasan, bahkan kita selalu merasa kesulitan menjalani kehidupan. Karena Allah tahu, jika kita kaya, kita akan lupa kepada Allah, kita akan  menjauh dari Allah, kita akan terjatuh ke lembah kemaksiatan karena kekayaan kita. Atau Allah membuat kita dalam keadaaan sangat susah dan sulit, agar kita tidak lupa bersyukur, karena Allah sedang mempersiapkan kondisi yang jauh lebih baik, kekayaan yang jauh lebih banyak dari yang kita inginkan.

Seringkali kita mengeluhkan sulitnya kita menjalani hidup,susah uang, banyak hutang, susah makan, harga barang-barang naik, harga rumah naik. Tapi subhanallah, sampai sekarang kita masih hidup,masih makan, masih survive, masih sehat, masih bisa tidur nyenyak. Mungkin kita lupa untuk mensyukuri apa yang ada, malah lebih fokus pada apa yang tidak ada.


Sedikit mencukupi jauh lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.


Tidak ada tapi mendekatkan diri kepada Allah, lebih baik daripada ada tapi menjauhkan kita dari Allah.

Habiskan energi kita untuk bersyukur kepada Allah, pasti Allah akan menambah nikmat kepada kita.

QS Ibrahim 14:7 ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


QS Al Baqarah 2:216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Sering kita “maksa” kepada Allah agar mengabulkan keinginan kita. Padahal Allah tahu bahwa keinginan kita dikabulkan malah akan menjadi keburukan. Atau mungkin kita kurang berusaha lebih keras dan maksimal ketika kita ingin mewujudkan keinginan kita tersebut.

Selamat berjuang untuk selalu mensyukuri!

Didaytea!

Diekstrak dari Menyingkap Tabir Illahi dan Kajian Asmaul Husna Aa Gym 14102010.

http://www.didaytea.com

Selasa26102010


 

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Suatu ketika di suatu sekolah, ketika ujian nasional sedang berlangsung, seorang siswa tiba- tiba mengacungkan tangannya kepada sang pengawas.

“Pak, saya mau komplen nih!” Kata siswa tersebut.

Komplen kenapa?” Jawab sang pengawas.

“Saya tidak ikhlas dengan soal ini! Bukan soal ini soal yang saya inginkan! Soal ini susah banget, seharusnya soal- soal yang keluar bukan soal soal ini! Pokoknya saya ingin soalnya dirubah!” Pungkasnya lagi.

Kira- kira nih, seperti apa tanggapan si pengawas ya?

Saya rasa, daripada menuruti keinginan siswa itu, pasti si pengawas malah marah- marah kan? Dia akan bilang kalau permintaan tersebut mustahil, dan pastinya malah meminta siswa itu untuk mengerjakan soal yang ada, karena itu adalah syarat untuk kelulusannya.

Sebuah ujian adalah syarat untuk seorang siswa untuk naik kelas atau lulus dari sekolah.

Yang membuat kita tidak lulus bukan soal ujiannya, akan tetapi JAWABAN dari soal tersebut.

Si siswa itu mengeluhkan soalnya karena dia tidak tahu jawabannya, karena dia kurang persiapan dalam menghadapi ujian tersebut.

Ternyata, begitulah juga sikap kita di dalam menjalani kehidupan.

Setiap kali ada ujian dari Allah, berarti Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk “naik kelas”.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk mengeluhkan sulitnya “soal”, rumitnya “soal”, bukannya sibuk “membuat jawaban yang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Kita sering mengeluhkan, diri kita, kenapa didera masalah yang bertubi- tubi, kenapa rezeki tidak kunjung datang, kenapa, kenapa dan kenapa.

Kita bukannya memikirkan bagaimana agar diri kita bisa bersyukur dengan apa yang ada, dan bukannya memperkuat ikhtiar kita, menambah ilmu kita, agar kita bisa menghadapi persoalan dengan tegar, tanpa harus mengeluh.

Analogi sederhana seperti siswa yang sedang ujian tadi. Sesulit apapun soal yang diberikan oleh gurunya, tetapi jika dia sudah tahu jawabannya, pasti dia tidak akan mengeluh sedikit pun kan? Yang ada dia akan tersenyum lebar karena kelulusan atau kenaikan kelas sudah diambang mata.

Sekolah, tapi tidak diuji, mau? Sejak masuk sekolah kelas satu SD sampai sekarang anda tidak pernah diuji. Tentunya selama apapun bersekolah, anda bakal terus berada di kelas satu kan?

Tapi kita sering risau dengan “soal-soal” dalam hidup kita, bukannya risau dengan “jawaban” yang harus kita berikan dengan benar agar kita lulus ujian.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk dengan “soal”, bukannya sibuk “membuat jawabanyang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Setiap ujian pasti akan berakhir, bedanya, ada yang lulus dan naik kelas, ada juga yang tidak lulus dan tinggal kelas.

Terus, bagaimana agar kita selalu dapat “menjawab” “soal” di dalam kehidupan kita agar kita selalu lulus dan naik kelas?

Sederhana saja, jawabannya ada tiga: SYUKUR, SABAR, ILMU DAN IKHTIAR.

Sebelum mengeluhkan masalah anda, syukurilah dulu apa yang sudah Allah berikan kepada anda. Lalu bersabarlah. Tambahlah ilmu anda, sehingga anda punya kumpulan “jawaban” untuk menjawab “soal” ujian dari Allah.

Dan yang terakhir, syukur dan sabar serta ilmu harus dilengkapi dengan ikhtiar yang maksimal.

Luruskan niat dan tujuan anda hanya untuk Allah, dan maksimalkan semua potensi diri anda untuk melakukan ikhtiar anda.

Hujan pasti reda, gempa pasti berhenti, badai pasti berlalu, malam pasti berganti siang.

Mulailah hari ini dengan tersenyum  untuk mensyukuri hari baru yang telah Allah berikan kepada kita untuk kita isi dengan  sebanyak mungkin amal dan ibadah.

Selamat menempuh ujian hidup ini dengan riang gembira dan penuh keceriaan, karena kita sudah tahu contekan jawabannya kan?

Didaytea!

Yang sedang tersenyum bahagia di pagi Jum’at yang mulia ini.

160720100600