Pusing Tujuh Keliling Forever

“Manusia memang aneh, suka memikirkan yang tidak perlu dipikirkan tapi tidak memikirkan yang seharusnya dipikirkan”

 

“Pussiiiinnggggg…!” Teriak si Fulan dari teras depan rumahnya.

“Pusing tujuh keliling nih!” Si Fulan menambah variasi tujuh keliling untuk mendramatisir keadaan. Sambil memasang pose standar orang yang sedang pusing tujuh keliling: setengah jongkok, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang jidat, dan kepala digeleng- geleng.

“Pusing kenapa Mas Bro? Kok sampai tujuh keliling begitu” Tanya si Mamang Tukang Sayur langganan si Fulan yang tiba- tiba hinggap, eh, mampir di depan rumah si Fulan karena terkaget- kaget mendengar teriakan si Fulan.

“Ngga pusing gimana Mang…..” Kata si Fulan sambil menarik nafas panjang.

“Hutang makin banyak, kosan belum bayar, cicilan motor nunggak dua bulan, nilai kuliah jelek- jelek, pacar minta dinikahi secepatnya, orang tua telat ngirim..!” Kata si Fulan, persis seperti burung Cangkurileung yang baru dilepasan dari kandang.

“Hutang, keuangan, masalah keluarga, sekolah, kerjaan mah ya masalah biasa atuh Mas Bro, tiap manusia pasti punya masalah yang berkaitan dengan hal- hal itu…” Jawab Mas Bro, eh, Mamang Tukang Sayur dengan suara bariton yang lembut layaknya penyiar radio yang baru- baru ini mendadak beken di Youtube.

“Iya saya tahu Mang, tapi saya tetep pusing nih mikirin gimana solusinya!” Jawab Si Fulan dengan pose yang masih persis sama seperti tadi, hanya kali ini tangan kirinya yang hinggap di atas jidat. Kepalanya tentu saja tetap menggeleng- geleng.

Eh, tiba- tiba si Mamang malah ngaji dengan suara yang berat tapi lembut, mirip- mirp dengan Syaikh Mishary Al Efasy. Secara, dia kan emang imam di mushola deket rumah si Fulan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. QS Hud ayat 6

 

            “Yee..si Mamang kenapa malah ngaji sih? Bukannya ngehibur!” Si Fulan menanggapi dengan sedikit kesal.

“Saya butuh solusi buat masalah saya, bukan pengen didengerin orang ngaji!” Tambahnya lagi.Sambil terduduk lesu, iya lah, masang pose orang pusing tujuh keliling gitu pasti pegel bukan main.

“Mas Bro beneran pusing nih, mikirin masalah- masalah Mas Bro?” Tanya si Mamang dengan lembut, seperti seorang ayah kepada anaknya.

“Iya lah, masa ngga keliatan dari tadi saya pasang pose seperti ini?!” Kata si Fulan yang tiba- tiab tersadar bahwa posisinya sudah berubah, dan memasang pose pusing tujuh keliling lagi.

“Mas Bro, masalah rejeki, uang, jodoh, maut, sudah dijamin oleh Allah. Itu janji-Nya!” Ucap si Mamang.

“Tugas kita bukan untuk memikirkan hal- hal itu.”

“Mas Bro sudah sholat zhuhur belum nih?” Tiba- tiba si Mamang bertanya.

“Masih pusing gini mas, nanti aja lah bentar lagi!” Jawab si Fulan sekenanya.

“Saya mau nanya boleh ngga Mas Bro?” Si Mamang pun tetap menanggapi dengan santai.

“Mau nanya apa?” Jawab si Fulan.

“Mas Bro yakin kalau Allah Maha Pencipta?” Tanya si Mamang.

“Yakin dong, saya kan orang Islam!” Jawab si Fulan.

“Yakin kalau Allah pemilik segala sesuatu di dunia ini?”

“Hmm.itu juga yakin dong! Intinya mau nanya apa nih, kok malah nanya yang aneh- aneh kaya gini!” Si Fulan mulai terlihat kesal.

“Yakin kalau Allah Maha Kuasa atas segala kejadian di dunia ini?

Si Fulan sekarang hanya sekedar menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu cukup!” Kata si Mamang dengan muka sumringah.

“Cukup apanya?” Jawab si Fulan yang terlihat agak bingung.

“Di ayat yang tadi Mamang bacakan tercantum jelas bahwa Allah berkata:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

            “Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, dan itu termasuk manusia” Si mamang meneruskan obrolannya.

“Kita seharusnya tidak usah khawatir tidak dapet makan, tidak usah khawatir tidak bisa pake baju, tidak usah khawatir tidak dapet jodoh, tidak usah khawatir tidak dapet kerjaan, pokoknya mah urusan dunia mah Allah sudah jamin deh” Si Mamang mulai bersemangat menjelaskan.

Si Fulan sepertinya sudah lelah berpose pusing tujuh keliling, dan dia pun duduk ke posisi semula, di sebelah si Mamang sayur. Sambil mendengar si Mamang sayur dia pun menganggukkan kepalanya pelan- pelan, entah karena ngantuk atau karena memang sedang berusaha mengerti si Mamang.

“Cecak aja makanannya nyamuk, tapi mereka tidak pernah pusing!”

“Mas Bro, ada hal- hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan dibanding hanya sekedar urusan hutang, keuangan,keluarga, jodoh.” Si Mamang menjelaskan lagi.

“Apa itu mas? Saya sudah cukup pusing nih memikirkan masalah- masalah saya, tolong jangan ditambah pusing!” Jawab si Fulan.

“Tugas kita diciptakan sebagai manusia semata- mata untuk beribadah kepada Allah”

“Mas Bro Sholat, puasa, zakat? Tanya Si Mamang.

“ Ya Iya lah, saya kan Islam Mang, masa ngga sholat, puasa ama zakat?” Jawab si Fulan dengan setengah melotot.

“Tapi Mas Bro yakin 100 persen ngga kalau  ibadah- ibadah Mas Bro itu bakal diterima oleh Allah?” Si Mamang masih bertanya lagi.

“Hmm…” Si Fulan mulai terdiam.

“Gimana ya….? Kalau ini sih sejujurnya saya tidak yakin. Sholat saya masih sering telat, ngga khusyu- khusyu amat, puasa juga ya gitu- gitu aja sih ngga ada yang istimewa, zakat mah pasti lah, minimal zakat fitrah.” Si Fulan menjawab dengan perlahan.

“Nahh..Apakah tiap sehabis sholat Mas Bro suka memikirkan bahwa sholat Mas Bro diterima atau tidak?” Tanya Si Mamang.

“Ngga sih, sholat ya sholat aja…Palingan ya itu, saya berdoa minta solusi untuk masalah- masalah saya” Jawab si Fulan.

“Lalu gimana Allah mau mengabulkan do’anya Mas Bro kalau ternyata sholatnya Mas Bro asal sholat aja, asal sah saja. Sah belum tentu diterima lho!” Si Mamang langsung menanggapi.

“Mas Bro pernah mikirin ngga apakah bacaan Al Qur’an Mas Bro sudah bener atau ngga? Apakah Mas Bro mbaca surat yang itu- itu saja, klo ngga Al Ikhlas ya Al Kautsar? Apakah Mas Bro abis sholat dzikir dulu ngga? Apakah Mas Bro sholat sunah rawatib ngga setelah sholat? Apakah Mas Bro ngerti bacaan sholat dari Takbir sampai Salam? Pertanyaan yang bertubi- tubi berhamburan dari mulut si Mamang, seolah- olah menohok dada si Fulan.

Si Fulan hanya terdiam. Pandangannya langsung kosong seperti sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan pertanyaan si Mamang.

“Ngga pernah Mang…” Jawab Si Fulan dengan lesu.

            “Tuh kan…Hal yang sudah jadi kewajiban ternyata malah Mas Bro ngga pikirin.”

“Ngga usah khawatir mikirin masalah rejeki and jodoh mas, atau masalah- masalah lainnya. Allah mah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Kalau ibadah kita sudah benar, dan diterima oleh Allah, Allah pasti akan dekat dengan kita. Kalau Allah sudah deket sama kita, kita pasti dimudahkan dan diberi jalan dari jalan yang tidak di duga- duga selama kita beikhtiar sekuat tenaga dengan benar dan dengan niat yang lurus.” Si Mamang menjelaskan lagi dengan perlahan.”

“Iya juga Mang, eh..Iya ya Mang..” Si Fulan menjawab.

“Selama ini saya selalu ruwet mikirin urusan dan masalah hidup saya, tapi malah sama sekali ngga pernah mikirin gimana kualitas ibadah saya. Padahal sudah puluhan tahun saya sholat, puasa, zakat. Tapi saya ngga pernah kepikiran untuk mikirin kalau ibadah saya itu sudah benar atau tidak, bakalan diterima oleh Allah atau tidak…” Ucap si Fulan dengan sedikit terisak.

“Astaghfirullohal’azhiim…ampun ya Allah” Si Fulan beristighfar dengan lirih..

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat Mas Bro” Kata si Mamang.

“Alhamdulillah kalau Mas Bro sudah sadar mah, ini juga sebagai koreksi untuk diri saya gar bisa memperbaiki kualitas ibadah saya lebih baik lagi” Si Mamang menambahkan lagi.

“Saya pamit dulu ya Mas Bro…semoga sukses! Saya tunggu di mesjid Ashar nanti Ya!” Ucap si Mamang Tukang Sayur sambil berlalu dengan motor yang sudah dimodifikasi dengan keranjang sayurnya.

“Wa’alaikumsalaam. Terima kasih Mang, sudah mengingatkan..” Jawab si Fulan yang mulai terisak lagi.

Tak lama kemudian si Fulan pun bergegas mengambil wudhu.

Kali ini dia merasa wudhunya terasa sangat berbeda. Dia sangat menikmati setiap bilasan air dingin yang mengalir dari keran plastik di kamar mandinya. Tanpa terasa air matanya pun mengalir pelan, terbilas oleh air wudhu yang membasuh mukanya. Hatinya pun berdetak kencang, tak sabar ingin segera mendirikan sholat, agar dia bisa taubat sepuasnya.

     لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

 

www.didaytea.com

131011

 

 

 

 

 

Al Hasiib Yang Maha Mencukupi

Definisi

Kata Al Hasiib terdiri dari huruf  ha’ , siin, dan ba, mempunyai empat kisaran makna, yakni “menghitung”, “mencukupkan”, “bantal kecil”, dan “penyakit yang menimpa kulit sehingga memutih”.


Tentu saja makna ketiga dan keempat mustahil disandang oleh Allah SWT.


Di dalam Al Qur’an kata Hasiib terulang empat kali. Tiga di antaranya menjadi sifat Allah dan yang keempat tertuju kepada manusia. Yaitu QS Al-Israa 17:14 “”Bacalah kitab(amal)mu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.


Kata Hasiib yang menjadi sifat Allah, dua diantaranya di dahului oleh kata “kafaa” yang berarti “cukup”, sehingga “hasiiba” lebih cenderung dipahami dalam arti “Yang Memberi Kecukupan”


QS An-Nisa 4:6 “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).


QS Al-Ahzaab 33:39: “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.


Sedangkan ayat ketiga bersifat umum: QS An-Nisaa 4:86 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah Hasiiba (Maha Memperhitungkan) atas segala sesuatu.


Imam Ghazali menguraikan bahwa Al Hasiib bermakna “Dia yang mencukupi siapapun yang mengandalkannya”.


Sifat ini tidak dapat disandang kecuali oleh Allah sendiri, karena hanya Allah saja yang dapat mencukupi semua kebutuhan makhluknya.


Allah sendiri yang dapat mencukupi semua makhluk, mewujudkan kebutuhan mereka, melanggengkan bahkan menyempurnakannya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?


Kalau kita hanya mengandalkan Allah, Allah pasti mengetahui hati kita.

Dan siapapun yang mengandalkan Allah, Allah pasti akan mencukupinya. Dan yang tidak mengandalkan Allah, tapi hanya mengandalkan kemampuan dirinya, kecerdasan dirinya, pasti akan selalu merasa dalam kekurangan dan kesulitan ketika menjalani hidup.


Ath Thalaaq 2-3“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya allah yang memiliki segalanya. Milik Allahlah semua yang ada di langit dan di bumi.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya Allah pemilik segala sesuatu yang kita butuhkan dan Allah Maha Tahu apapun yang kita butuhkan keperluan kita lebih tahu dari diri kita sendiri. Kita hanya tahu sedikit saja apa yang kita butuhkan. Sinar matahari yang masuk kebumi, kadar Oksigen di udara, kadar kelembaban di bumi ini adalah sedikit contoh ketepatan Allah yang mencukupi kebutuhan kita secara sempurna. Belum lagi sistem tubuh kita yang sangat luar biasa, hanya Allah yang mencukupi semua kebutuhan setiap sel tubuh secara sempurna.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena tidak ada apapun yang bisa terjadi tanpa ijin Allah.


Tidak Setiap Keinginan Harus Terwujud


Jangan anggap pencukupan Allah untuk kita bakal selalu cocok dengan keinginan kita. Tidak selalu yang kita inginkan harus terjadi.

Keinginan kita, lebih banyak adalah versi dari kebodohan kita, versi nafsu, yaa kita nganggap kaya itu bakal baik, kita nganggap popular itu bakal baik, kita menganggap sukses dan bahagia itu cersi nafsu kita, padahal kita tahu sedikit sekali, dan Allah tahu mana yang baik dan mana yang membahayakan kita.

Allah tahu persis kalau kita diberi kekayaan banyak, kita akan cenderung maksiat, sombong. Oleh karena itu Allah tidak memberi banyak kepada kita, tapi Allah selalu memberi pada waktu yang tepat, pada saat kita betul-betul memerlukannya.

Kadang kita minta kesehatan, tapi Allah malah memberi sakit.

Apakah Allah Zhaliim kepada kita? Mungkin dengan sakit, kita akan bisa memiliki waktu untuk merenung dan tafakur untuk mengevaluasi diri, dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan akhirnya bisa bertobat dan menjadi dekat dengan Allah.


Kita ingin untung usaha, tapi malah tertipu. Padahal Allah tahu orang yang akan menipu? Karena Allah akan memberikan pelajaran sebelum Allah memberi dititipi usaha keuntungan yang lebih besar. KArena Allah memberikan pengalaman untuk merugi agar kita bisa berhati-hati dan waspada dengan  merasakan perihnya ditipu, sehingga kita tidak mengalami kerugian yang lebih besar di masa depan.


Kita ingin kaya, tapi Allah malah membuat kondisi hidup kita pas-pasan, bahkan kita selalu merasa kesulitan menjalani kehidupan. Karena Allah tahu, jika kita kaya, kita akan lupa kepada Allah, kita akan  menjauh dari Allah, kita akan terjatuh ke lembah kemaksiatan karena kekayaan kita. Atau Allah membuat kita dalam keadaaan sangat susah dan sulit, agar kita tidak lupa bersyukur, karena Allah sedang mempersiapkan kondisi yang jauh lebih baik, kekayaan yang jauh lebih banyak dari yang kita inginkan.

Seringkali kita mengeluhkan sulitnya kita menjalani hidup,susah uang, banyak hutang, susah makan, harga barang-barang naik, harga rumah naik. Tapi subhanallah, sampai sekarang kita masih hidup,masih makan, masih survive, masih sehat, masih bisa tidur nyenyak. Mungkin kita lupa untuk mensyukuri apa yang ada, malah lebih fokus pada apa yang tidak ada.


Sedikit mencukupi jauh lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.


Tidak ada tapi mendekatkan diri kepada Allah, lebih baik daripada ada tapi menjauhkan kita dari Allah.

Habiskan energi kita untuk bersyukur kepada Allah, pasti Allah akan menambah nikmat kepada kita.

QS Ibrahim 14:7 ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


QS Al Baqarah 2:216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Sering kita “maksa” kepada Allah agar mengabulkan keinginan kita. Padahal Allah tahu bahwa keinginan kita dikabulkan malah akan menjadi keburukan. Atau mungkin kita kurang berusaha lebih keras dan maksimal ketika kita ingin mewujudkan keinginan kita tersebut.

Selamat berjuang untuk selalu mensyukuri!

Didaytea!

Diekstrak dari Menyingkap Tabir Illahi dan Kajian Asmaul Husna Aa Gym 14102010.

http://www.didaytea.com

Selasa26102010


 

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Hidup Ini Adalah Ujian Yang Menyenangkan!

Suatu ketika di suatu sekolah, ketika ujian nasional sedang berlangsung, seorang siswa tiba- tiba mengacungkan tangannya kepada sang pengawas.

“Pak, saya mau komplen nih!” Kata siswa tersebut.

Komplen kenapa?” Jawab sang pengawas.

“Saya tidak ikhlas dengan soal ini! Bukan soal ini soal yang saya inginkan! Soal ini susah banget, seharusnya soal- soal yang keluar bukan soal soal ini! Pokoknya saya ingin soalnya dirubah!” Pungkasnya lagi.

Kira- kira nih, seperti apa tanggapan si pengawas ya?

Saya rasa, daripada menuruti keinginan siswa itu, pasti si pengawas malah marah- marah kan? Dia akan bilang kalau permintaan tersebut mustahil, dan pastinya malah meminta siswa itu untuk mengerjakan soal yang ada, karena itu adalah syarat untuk kelulusannya.

Sebuah ujian adalah syarat untuk seorang siswa untuk naik kelas atau lulus dari sekolah.

Yang membuat kita tidak lulus bukan soal ujiannya, akan tetapi JAWABAN dari soal tersebut.

Si siswa itu mengeluhkan soalnya karena dia tidak tahu jawabannya, karena dia kurang persiapan dalam menghadapi ujian tersebut.

Ternyata, begitulah juga sikap kita di dalam menjalani kehidupan.

Setiap kali ada ujian dari Allah, berarti Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk “naik kelas”.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk mengeluhkan sulitnya “soal”, rumitnya “soal”, bukannya sibuk “membuat jawaban yang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Kita sering mengeluhkan, diri kita, kenapa didera masalah yang bertubi- tubi, kenapa rezeki tidak kunjung datang, kenapa, kenapa dan kenapa.

Kita bukannya memikirkan bagaimana agar diri kita bisa bersyukur dengan apa yang ada, dan bukannya memperkuat ikhtiar kita, menambah ilmu kita, agar kita bisa menghadapi persoalan dengan tegar, tanpa harus mengeluh.

Analogi sederhana seperti siswa yang sedang ujian tadi. Sesulit apapun soal yang diberikan oleh gurunya, tetapi jika dia sudah tahu jawabannya, pasti dia tidak akan mengeluh sedikit pun kan? Yang ada dia akan tersenyum lebar karena kelulusan atau kenaikan kelas sudah diambang mata.

Sekolah, tapi tidak diuji, mau? Sejak masuk sekolah kelas satu SD sampai sekarang anda tidak pernah diuji. Tentunya selama apapun bersekolah, anda bakal terus berada di kelas satu kan?

Tapi kita sering risau dengan “soal-soal” dalam hidup kita, bukannya risau dengan “jawaban” yang harus kita berikan dengan benar agar kita lulus ujian.

Begitu juga di kehidupan kita…ketika kita mendapat masalah, kita malah sibuk dengan “soal”, bukannya sibuk “membuat jawabanyang benar”, menyikapi dengan benar sesuai kehendak Allah.

Setiap ujian pasti akan berakhir, bedanya, ada yang lulus dan naik kelas, ada juga yang tidak lulus dan tinggal kelas.

Terus, bagaimana agar kita selalu dapat “menjawab” “soal” di dalam kehidupan kita agar kita selalu lulus dan naik kelas?

Sederhana saja, jawabannya ada tiga: SYUKUR, SABAR, ILMU DAN IKHTIAR.

Sebelum mengeluhkan masalah anda, syukurilah dulu apa yang sudah Allah berikan kepada anda. Lalu bersabarlah. Tambahlah ilmu anda, sehingga anda punya kumpulan “jawaban” untuk menjawab “soal” ujian dari Allah.

Dan yang terakhir, syukur dan sabar serta ilmu harus dilengkapi dengan ikhtiar yang maksimal.

Luruskan niat dan tujuan anda hanya untuk Allah, dan maksimalkan semua potensi diri anda untuk melakukan ikhtiar anda.

Hujan pasti reda, gempa pasti berhenti, badai pasti berlalu, malam pasti berganti siang.

Mulailah hari ini dengan tersenyum  untuk mensyukuri hari baru yang telah Allah berikan kepada kita untuk kita isi dengan  sebanyak mungkin amal dan ibadah.

Selamat menempuh ujian hidup ini dengan riang gembira dan penuh keceriaan, karena kita sudah tahu contekan jawabannya kan?

Didaytea!

Yang sedang tersenyum bahagia di pagi Jum’at yang mulia ini.

160720100600

Ya Allah, Kenalkan Aku dengan Diriku

Ya Allah, Kenalkan Aku dengan Diriku

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahn oranglain.”(Ibnul Qayyim)

Di antara ciri-ciri kebahagian dan kemenangan seorang hamba adalah: Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankann perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya dan pemberiannya kepada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatanya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka. Sebaliknya, ciri-ciri kecelakaan adalah: Ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya pada orang lain. Semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya. (Al Fawa-id, Imam Ibnul Qayyim).

Saudaraku,

Suasana apa yang terekam dalam jiwa kita saat membaca kalimat-kalimat tersebut? Bilakah kita berada dalam daftar orang-orang yang berbahagia dan menang? Atau, celaka? Semoga Allah Swt. membimbing hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang berbahagia dan menang. Semoga Allah Swt. menjauhkan hati dan langkah kita dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan kemampuannya. Amiin.

Saudaraku,

Salah satu pesan yang bisa kita petik dari petuah Ibnul Qayyim rahimahullah itu adalah, kedalaman ilmunya tentang lintasan dan perasaan-perasaan jiwa. Ibnul Qayyim rahimahullah yang banyak berguru pada Imam Ibnu Taimiyyah itu, berhasil mengenali karakter jiwa kemanusiaannya, sampai ia pun kemudian banyak mengeluarkan nasihat-nasihat yang maknanya sangat dalam dan menyentuh tentang jiwa.

Saudaraku,

Mengenali diri memang penting. Rasulullah Saw juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi dri sendiri, ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. Orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung, ketimbang orang yang sibuk memperhatikan kekurangan orang lain.

Dan memang, manfaat menjalani nasihat Rasulullah Saw ini adalah seperti dikatakan Ibnul Qayyim, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.”

Saudaraku, genggam erat-erat tali keimanan kita,

Kenalilah diri. Pahami kebiasaannya. Rasakan setiap getaran-getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemauan dan kecenderungannya. Waspadai kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoálah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu-Nya tentang diri. Sebagaimana senandung doá yang dilantunkan Yusuf bin Asbath, murid Sofyan Ats Tsauri: Ällahumma arrifni nafsii”, Ya Allah kenalkan aku dengan diriku…

Jiwa manusia banyak menyimpan rahasia. Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah Swt kepada kita. Karena itu ulama terkenal yang ahli dalam masalah kejiwaan Sahal bin Abdillah mengatakan bahwa mengenali diri sendiri itu lebih sulit dan lebih halus daripada mengenali musuh. Artinya, aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri, sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya.

Jika seseorang telah berhasil mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi jiwanya, maka ia akan mudah mengontrol dan mengawasi keinginan-keinginan buruknya. Inilah yang dikatakan ulama Makkah bernama Wuhaib bin Ward. “Sesungguhnya di antara kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang keburukan jiwaku. Cukuplah seorang mukmin memelihara dirinya dari keburukan bila ia mengetahui keburukan jiwanya kemudian ia meluruskannya.”

Sebagaimana juga perkataan Hasal Al Bashri, “Seorang hamba masih dalam keadaan baik selama ia menyadari dan mengetahui sesuatu yang merusak amal-amalnya. (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Saudaraku,

Semoga Allah mempererat genggaman tangan kita dijalan-Nya. Itulah pentingnya mengenali diri. Sampai-sampai Umar bin Abdul Aziz yang dijuluki khulafaur rasyidin kelima itu mengatakan, “Aku mempunyai akal yang aku takut Allah akan mengazabku karenanya.”(Riyadun Nufus, 1/355). Umar bin Abdul Aziz banyak merenungi dirinya dan sangat mengenal dirinya, sehingga muncullah perkatan luar biasa itu.

Bahkan, karena pengenalan diri yang dalam itu, Fudhail bin Iyadh radhiallahu anhu mengatakan, “la ya’rifur riya ila mukhlish,” riya tak mungkin di sadari, kecuali orang yang ikhlas. Ya, orang yang merasakan manisnya keikhlasan, pasti akan mengetahui pahitnya riya. Sebaliknya, orang yang tidak pernah merasakan nikmatnya ikhlas, tak mungkin bisa mengenali pahitnya riya. Begitulah. Manisnya ikhlas dan pahitnya riya, hanya dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa dan mengenali getaran jiwa.

Saudaraku,

Apa yang dikatakan Fudhail itu tadi pun bertolak karena kondisi dirinya yang sangat mengenal karakter jiwanya sendiri. Orang yang tidak mengenal dirinya, bahkan mengingkari keburukan dirinya adalah orang yang tidak akan mampu mengetahui apalagi mempengaruhi jiwa orang lain. Apalagi meluruskan kebengkokannya, ia tidak akan bisa. Inilah materi yang disebutkan oleh Al Kailani ketika ia mengatakan, “Bila engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada dirimu, berarti engkau mampu meluruskan yang ada pada selain dirimu.” Ia melanjutkan “Kemampuanmu menghilangkan kemungkaran tergantung dengan kekuatan imanmu memerangi kemungkaran dalam dirimu. Kelemahanmu tinggal diam di dalam rumah dari merubah kemungkaran adalah karena kelemahan imanmu dalam memerangi kemungkaran yang ada dalam dirimu. Kekokohan dan kekuatan imanlah yang mengokohkan para ulama saat mereka berhadapan dengan pasukan syaitan baik manusia dan jin.”(Al-Fathur Rabani, 30)

“Allahumma arrifnii nafsii…” Ya Allah, kenalkan aku pada diriku…

(Mencari Mutiara di Dasar Hati)

Memupuk Sikap Tangguh

Memupuk Sikap Tangguh

Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mengurus anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita akan salut kepada seorang pemimpin yang jujur, sederhana dan berjuang siang malam demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.

Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia tangguh atau rapuh? Di balik manusia tangguh, biasanya ada banyak manusia rapuh. Dihadapkan pada masalah sepele saja mereka goyah. Lihatlah, ada yang hanya putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia panas dingin dan sakit hati. Maka, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri. Apakah kita itu bermental tangguh atau sebaliknya? Kalau sudah mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.

Saya pernah melihat kontes ketahanan fisik di televisi, yaitu untuk memilih manusia “terkuat” di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam lomba tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Mereka inilah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan akan terlihat saat seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.

Hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Al-Quran, Allah berjanji akan membahagiakan orang-orang sabar dan tangguh mengarungi hidup. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali (QS Al Baqarah [2]: 155-156).

Ciri manusia tangguh
Ketangguhan hakiki tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling takwa dan kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang kuat iman, salah satu cirinya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Kesulitan apapun yang menderanya, tidak sedikit pun ia berpaling dari Allah, malah semakin dekat. Ada lima prinsip yang senantiasa dipegangnya.
Pertama, sadar bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Sehingga ia akan menghadapinya sepenuh hati; tidak ada kamus mundur atau menghindar.
Kedua, yakin bahwa setiap kesulitan sudah tepat ukurannya bagi setiap orang.
Ketiga, yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan.
Keempat, yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya.
Kelima, yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah. Ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Sesulit apapun keadaan kita, pilihan terbaik hanya satu: “Kita harus menjadi manusia tangguh”. Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Kesulitan tidak mungkin akan terus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan?

( KH Abdullah Gymnastiar )

Apakah Kita Seorang Mukmin ?

“Seseorang bertanya pada Hasan Al Bashri, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya menjawab, “Insya Allah.”

Sejak pertama melangkahkan kaki di sini, setiap kita harusnya tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah kepada Allah swt. kita sedang berjalan dan berlari menuju Allah swt. hanya Allah saja. Kita juga harus mengerti bahwa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga yang terakhir.

Seperti yang dikisahkan tentang seorang Tabi’in bernama Tsabit Al Banani di ujung hayatnya. Ketika itu ia dikelilingi oleh para sahabatnya. Mereka berupaya mentalqinkan Tsabit yang saat itu memasuki fase sakratul maut. Tapi, sungguh mengejutkan karena ketika itu Tsabit mengatakan pada mereka, “Saudaraku, jangan ganggu aku. Aku sedang menuntaskan wiridku yang keenam.” (Shaidul Khatir, 50)

Saudaraku,

Sungguh mulai perjalanan para salafushalih, orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadis bernama Ibrahim Al Harabi, Ahmad bin Hambal. Dengarkanlah perkataannya, “Aku telah menemaninya (Imam Ahmad bin Hamdal) selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari, kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin.” (Manaqib Ahmad, Ibnul Jauzi, 40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah swt. semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaidah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah swt. di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.

Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip itu.

Saudaraku,

Dahulu ada sahabat Rasulullah saw, yang kerap menyadari jikalau dirinya lemah dan banyak kekurangan mengisi hari-harinya untuk beramal. Abu Dzar Al Ghifari ra, namanya. Ia adalah tokoh sahabat yang telah mengukir prestasi mengagumkan dalam fase perjuangan sejarah awal dakwah Islam. Tapi ia kerap merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya dalam menunaikan amanah yang Allah swt. berikan kepadanya. Hingga suatu hari, ia datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku ternyata lemah dalam melakukan amal-amalku?”.

Begitulah pertanyaannya kepada Rasulullah di tengah prestasi ubudiyah dan perjuangannya yang luar biasa. Abu Dzar mengakui kekurangan dirinya secara terus terang di hadapan Rasualullah saw. Ia tidak menoleh seberapa bagus ibadah dan nilai perjuangannya yang telah ia tunaikan bersama Rasulullah saw. Ia juga tidak segan untuk mengakui kelemahan itu di hadapan orang lain. Ketika itu, Rasulullah saw berpesan kepadanya, “Peliharalah orang lain dari keburukanmu. Itu saja sudah merupakan shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR Muslim)

Saudaraku,

Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. Membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan amal-amal kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al Hafi mendefinisikan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan, “Jika engkau merasakan amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit.”

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid, seorang ulama yang banyak menuangkan nasihat-nasihat ruhani dalam banyak bukunya, membuat satu jub judul pendek yang berisi tentang ujub. Judul itu berbunyi “Laa tarfa’ si’rak,” yang artinya, jangan jual mahal. Yang dimaksud Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid adalah agar kita tidak cenderung memandang diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betapapun secara lahiriah banyak orang yang mendudukan kita seperti itu. Tidak merasa diri lebih berprestasi, lebih banyak berperan, lebih sering beramal, daripada orang lain.

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah saat menyinggung masalah ini. Katanya, iblis akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga prilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lain.” Begitu kata iblis seperti diungkapkan oleh Fudhail. Tiga prilaku itu adalah: Ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya.” Itulah pangkal dosa menurut Fudhail.

Konon ada perkataan Nabiyyulah Isa as yang menyebutkan, “Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal sholeh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan.

Saudaraku,

Semoga cahaya amal shalih kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapatkan penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita.

Dahulu, Hasan Al Bashri rahimahullah tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhawatirannya bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya, “Ya Hasan, apakah engkau seorang Mukmin?” Hasan Al Bashri hanya mejawab “Insya Allah”. Penanya terkejut dengan jawaban Hasan al Bashri itu. “Kenapa engkau menajwab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’in itu lalu mengatakan, “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku Mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’, karena itulah aku katakana Insya Allah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Ia benci, lalu Ia murka padaku dan mengatakan, “Pergilah aku tidak menerima amal-amalmu.”

Saudaraku,

Apakah kita seorang Mukmin?

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani

Sumber Ketenangan itu

Sumber Ketenangan itu

“Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam empat keadaan: Kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus asa, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan-angan yang tak ada ujungnya.” (Umar bin Khattab)

Mari kita mulai hari ini dengan ungkapan syukur. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya selalu turun kepada kita, meski pada hari kemarin dan bahkan pada hari ini pun kemaksiatan dan dosa selalu kita lakukan. Setiap jam, perlindungan dan pemeliharaan-Nya terus menerus mengayomi kita, padahal pada jam yang lalu dan mungkin pada jam ini, kita masih menentang-Nya dengan dosa-dosa dan keburukan-keburukan kita. Allah telah membawa kita pada hari ini. Allah memberi kesempatan pada kita untuk menghapus dosa dan beramal shalih.

Saudaraku,
Mari ucapkan istigfhar. Mohon ampun atas segala kesalahan. Syukur atas ampunan dan semua karunia-Nya yang tak pernah berhenti. Ada sebuah hadits yang patut kita renungkan di waktu pagi. Rasulullah Saw pernah mengatakan, bahwa setiap masuk waktu pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah Swt. Malaikat pertama berdo’a: “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya.” Yang kedua berdo’a: “Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang yang pelit terhadap hartanya.” Renungkanlah butir-butir do’a yang diucapkan para malaikat yang suci itu.

Saudaraku,
Adakah do’a malaikat Allah yang tak pernah bermaksiat itu ditolak Allah? Mungkinkah permohonan itu tidak diijabah oleh Allah? Kaitkanlah do’a para malaikat itu dengan firman Allah dalam surat Saba’ ayat 39 yang artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa-siapa yang dikehendaki-nya) dan apa saja yang kau infaqkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.
Rizki mutlak ada dalam genggaman kuasa Allah Swt. tak satupun makhluk yang bisa menentukan kadar dan bagian rizki. Do’a para malaikat yang diucapkan setiap pagi, dan juga firman Allah Swt tadi sesungguhnya menegaskan bahwa nilai harta yang dikeluarkan di jalan Allah takan hilang.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, “Kandungan ayat tersebut adalah, apapun yang kalian infaqkan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan maka Allah pasti akan menggantikan sesuatu itu untukmu sejak di dunia. Lalu di akhirat, Allah akan memberikan balasan pahala atasmu”. Allah menjamin bahwa tak pernah ada orang yang berinfaq, bersedeqah, berzakat, berderma dan semacamnya, yang kemudian jatuh miskin.

Perhatikanlah saudaraku,
Kenyataan hidup yang kita lihat di sekitar kita. Atau bahkan, pengalaman kita sendiri selama ini. Perhatikanlah sabda Rasulullah yang dikutip dalam tafsir Ibnu Katsir, “Anfiq yunfaq alaik….” Berinfaqlah, maka kalian akan diberi infaq. “Ma naqasha malun min shadaq”. Artinya, harta tidak akan berkurang karena shadaqah.

Saudaraku,
Perhatikan keadaan teman-teman, sahabat, orang tua atau siapapun yang ada disekitar kita. Benarkah jaminan Allah tersebut? Adakah orang yang jatuh pailit karena ia banyak berinfaq atau bersedeqah? Adakah orang yang akhirnya jatuh miskin akibat ia membantu saudara-saudaranya di jalan Allah?
Tapi kenapa kita kerap menolak dan enggan untuk menyisihkan sebagian harta untuk kepentingan fi sabilillah? Mari kita waspada dengan tipu daya syaitan yang selalu menakut-nakuti dengan kefakiran, sehingga seseorang menjadi bakhil untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah Swt. “Syaitan itu menjanjikan kefakiran dan memerintahkan kalian pada kekejian. Sedangkan Allah menjanjikan kalian maghfirah (ampunan) dari-Nya dan karunia. Dan, Allah Maha luas pengatahuan-Nya”, begitu firman Allah dalam surat Al Baqarah, ayat 268.
Infaq, shadah, zakat tak pernah membuat orang miskin, dan justru akan menjadikan jiwa seseorang pantang gelisah dan jauh dari kondisi resah. Itu manfaat lain dari mengeluarkan infak di jalan Allah. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabial ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa.” (QS. Al Ma’arij: 19-25)

Saudaraku,
Logika beramal shaleh memang kerap tidak sejalan dengan logika kemanusiaan dan keduniaan. Bukan hanya tidak sejalan, bahkan bisa saja sangat bertentangan. Lihatlah contoh lain dari hadits Rasulullah Saw. “Dua raka’at fajar itu lebih baik dari dunia dan seisinya. (HR Muslim dari Aisyah). Atau hadits lain, “Pergi di pagi hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Bukhari dan Muslin dari Anas)
Itulah logika ketaatan. Itulah logika pahala dan karunia Allah Swt. yang mungkin menjadi masalah, adalah bila kita membatasi balasan Allah itu semata pada kita membatasi batasan Allah itu semata pada batasan material yang berbentuk uang. Sebab penggantian yang Allah berikan tidak selalu berarti bahwa orang yang berinfaq akan menjadi kaya secara materi. Akan tetapi Allah menjamin hidupnya menjadi tahu, harta tak pernah menjamin hidupnya berkecukupan, dan ini tentu lebih baik. Sebab kita semua tahu, harta tak pernah menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Yang membahagiakan adalah rasa cukup itu. Balasan Allah di dunia, bisa berupa kebaikan keluarga, kesehatan, berkah harta yang ada dalam kesedikitan dan sebagainya. Bisa juga balasannya bersifat maknawi seperti petunjuk pada kebenaran, ditolong untuk melakukan kebaikan, kelapangan hati, ketenangan bathin, tumbuh dan mekarnya kecintaan orang lain kepada kita, dan lain sebagai. Terlebih lagi balasan di akhirat.
Orang yang tak mengerti, mengetahui bahwa rizki bathin itu lebih membuat bahagia dan lebih kekal dari apapun yang sifatnya terlihat oleh mata. Ada orang yang bodoh, tapi ia kemuadian memiliki harta dunia dan berlimpah. Ada orang pintar, kuat, sehat, pandai tapi ia tidak memiliki harta bahkan ia miskin. Seperti ungkapan seorang salafushalih, “Sesungguhnya Allah memelihara hamba-Nya dari dunia sebagaimana ia memelihara salah seorang kalian dari makan dan minum yang membawa penyakit.”
Lebih tegas lagi jika kita melihat hadist qudsi dari Rasulullah saw yang berbunyi, “Sesungguhnya ada di antara hamba-Ku yang tidak menjadi baik kecuali bila ia dalam kondisi fakir. Bila kau beri kekayaan padanya niscaya hal itu akan merusaknya. Dan sesungguhnya ada di antara hamba-Ku yang tidak baik keadaannya kecuali bia ia dalam kondisi kaya, jka ia aku fakirkan maka itu akan merusaknya.”

Saudaraku,
Sayyidina Umar ra pernah berpesan, “Tidaklah dunia akan menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam empat keadaan: Kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus-putus, kesibukan yang tak pernah habis, dan angan-angan yang tak ada ujungnya.”

Mencari Mutiara di Dasar Hati seri 1 oleh Muhammad Nursani