Category: Mengenal Allah


Definisi

Kata Al Hasiib terdiri dari huruf  ha’ , siin, dan ba, mempunyai empat kisaran makna, yakni “menghitung”, “mencukupkan”, “bantal kecil”, dan “penyakit yang menimpa kulit sehingga memutih”.


Tentu saja makna ketiga dan keempat mustahil disandang oleh Allah SWT.


Di dalam Al Qur’an kata Hasiib terulang empat kali. Tiga di antaranya menjadi sifat Allah dan yang keempat tertuju kepada manusia. Yaitu QS Al-Israa 17:14 “”Bacalah kitab(amal)mu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.


Kata Hasiib yang menjadi sifat Allah, dua diantaranya di dahului oleh kata “kafaa” yang berarti “cukup”, sehingga “hasiiba” lebih cenderung dipahami dalam arti “Yang Memberi Kecukupan”


QS An-Nisa 4:6 “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).


QS Al-Ahzaab 33:39: “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.


Sedangkan ayat ketiga bersifat umum: QS An-Nisaa 4:86 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah Hasiiba (Maha Memperhitungkan) atas segala sesuatu.


Imam Ghazali menguraikan bahwa Al Hasiib bermakna “Dia yang mencukupi siapapun yang mengandalkannya”.


Sifat ini tidak dapat disandang kecuali oleh Allah sendiri, karena hanya Allah saja yang dapat mencukupi semua kebutuhan makhluknya.


Allah sendiri yang dapat mencukupi semua makhluk, mewujudkan kebutuhan mereka, melanggengkan bahkan menyempurnakannya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?


Kalau kita hanya mengandalkan Allah, Allah pasti mengetahui hati kita.

Dan siapapun yang mengandalkan Allah, Allah pasti akan mencukupinya. Dan yang tidak mengandalkan Allah, tapi hanya mengandalkan kemampuan dirinya, kecerdasan dirinya, pasti akan selalu merasa dalam kekurangan dan kesulitan ketika menjalani hidup.


Ath Thalaaq 2-3“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya allah yang memiliki segalanya. Milik Allahlah semua yang ada di langit dan di bumi.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena hanya Allah pemilik segala sesuatu yang kita butuhkan dan Allah Maha Tahu apapun yang kita butuhkan keperluan kita lebih tahu dari diri kita sendiri. Kita hanya tahu sedikit saja apa yang kita butuhkan. Sinar matahari yang masuk kebumi, kadar Oksigen di udara, kadar kelembaban di bumi ini adalah sedikit contoh ketepatan Allah yang mencukupi kebutuhan kita secara sempurna. Belum lagi sistem tubuh kita yang sangat luar biasa, hanya Allah yang mencukupi semua kebutuhan setiap sel tubuh secara sempurna.


Kenapa kita harus mengandalkan Allah?

Karena tidak ada apapun yang bisa terjadi tanpa ijin Allah.


Tidak Setiap Keinginan Harus Terwujud


Jangan anggap pencukupan Allah untuk kita bakal selalu cocok dengan keinginan kita. Tidak selalu yang kita inginkan harus terjadi.

Keinginan kita, lebih banyak adalah versi dari kebodohan kita, versi nafsu, yaa kita nganggap kaya itu bakal baik, kita nganggap popular itu bakal baik, kita menganggap sukses dan bahagia itu cersi nafsu kita, padahal kita tahu sedikit sekali, dan Allah tahu mana yang baik dan mana yang membahayakan kita.

Allah tahu persis kalau kita diberi kekayaan banyak, kita akan cenderung maksiat, sombong. Oleh karena itu Allah tidak memberi banyak kepada kita, tapi Allah selalu memberi pada waktu yang tepat, pada saat kita betul-betul memerlukannya.

Kadang kita minta kesehatan, tapi Allah malah memberi sakit.

Apakah Allah Zhaliim kepada kita? Mungkin dengan sakit, kita akan bisa memiliki waktu untuk merenung dan tafakur untuk mengevaluasi diri, dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan akhirnya bisa bertobat dan menjadi dekat dengan Allah.


Kita ingin untung usaha, tapi malah tertipu. Padahal Allah tahu orang yang akan menipu? Karena Allah akan memberikan pelajaran sebelum Allah memberi dititipi usaha keuntungan yang lebih besar. KArena Allah memberikan pengalaman untuk merugi agar kita bisa berhati-hati dan waspada dengan  merasakan perihnya ditipu, sehingga kita tidak mengalami kerugian yang lebih besar di masa depan.


Kita ingin kaya, tapi Allah malah membuat kondisi hidup kita pas-pasan, bahkan kita selalu merasa kesulitan menjalani kehidupan. Karena Allah tahu, jika kita kaya, kita akan lupa kepada Allah, kita akan  menjauh dari Allah, kita akan terjatuh ke lembah kemaksiatan karena kekayaan kita. Atau Allah membuat kita dalam keadaaan sangat susah dan sulit, agar kita tidak lupa bersyukur, karena Allah sedang mempersiapkan kondisi yang jauh lebih baik, kekayaan yang jauh lebih banyak dari yang kita inginkan.

Seringkali kita mengeluhkan sulitnya kita menjalani hidup,susah uang, banyak hutang, susah makan, harga barang-barang naik, harga rumah naik. Tapi subhanallah, sampai sekarang kita masih hidup,masih makan, masih survive, masih sehat, masih bisa tidur nyenyak. Mungkin kita lupa untuk mensyukuri apa yang ada, malah lebih fokus pada apa yang tidak ada.


Sedikit mencukupi jauh lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.


Tidak ada tapi mendekatkan diri kepada Allah, lebih baik daripada ada tapi menjauhkan kita dari Allah.

Habiskan energi kita untuk bersyukur kepada Allah, pasti Allah akan menambah nikmat kepada kita.

QS Ibrahim 14:7 ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.


QS Al Baqarah 2:216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Sering kita “maksa” kepada Allah agar mengabulkan keinginan kita. Padahal Allah tahu bahwa keinginan kita dikabulkan malah akan menjadi keburukan. Atau mungkin kita kurang berusaha lebih keras dan maksimal ketika kita ingin mewujudkan keinginan kita tersebut.

Selamat berjuang untuk selalu mensyukuri!

Didaytea!

Diekstrak dari Menyingkap Tabir Illahi dan Kajian Asmaul Husna Aa Gym 14102010.

www.didaytea.com

Selasa26102010


 

AL  ’AFUW

Allah Yang Maha Pemaaf

Kata Al ‘Afuw, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ‘ain, fa, dan wauw. Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu “meninggalkan sesuatu” dan “memintanya”. Dari sini, lahir kata “afwu”, yang berarti “meninggalkan sangsi terhadap yang bersalah)memaafkan”".

Perlindungan Allah dari keburukan, juga dinamai “Aafiat”. Perlindungan mengandung makna “ketertutupan”.Dari sini, kata “afwu” juga diartikan “menutupi”, bahkan dari rangkaian ketika huruf itu juga lahir makna terhapus  atau habis tak berbekas, karena yang terhapus dan habis tidak berbekas pasti ditinggalkan.

Dalam beberapa kamus dinyatakan bahwa pada dasarnya kata “afwu”, berarti “menghapus dan membinasakan serta mencabut sesuatu sampai ke akar-akarnya”.

Di dalam Al Qur’an kata ‘Afwudalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 35 kali dengan berbagai makna. Kata’Afuw ditemukan sebanyak tiga kali, di mana kesemuanya merujuk kepada AllahSWT.

An Nisa 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalamkeadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah ‘Afuwwan Maha Pemaaf lagi MahaPengampun.

An Nisa 98-99:

kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anakyang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), merekaitu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah ‘Afuwwun Maha Pemaaflagi Maha Pengampun.

An Nisa 149:

Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan ataumemaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.(QS An Nisa 4:149).

Sifat Allah Al ‘Afuw, yakni Diayang menghapus kesalahan hamba-hambaNya serta memafkan pelanggaran-pelanggaranmereka.

Sifat ini mirip dengan AlGhafuur. Hanya saja menurut Imam Al Ghazali, pemaafan Allah lebih tinggitingkatannya dari maghfirah.

Kata ‘afwu berarti “menghapus”, “mencabut sesuatu sampai ke akar-akarnya”, membinasakan dan sebagainya. Sedangkan kata ghafuur terambil dari akar kata yang berarti “menutup”.

Sesuatu yang tertutupi, pada hakekatnya tetap ada, hanya dibuat tidak terlihat.

Sedangkan sesuatu yang dihapus, akan hilang. Kalaupun ada, itu hanya sisa danbekas-bekasnya saja.

Jika Allah sudah memaafkan hambanya,  seperti menghapus tidak ada lagi jejak dosanya. Seperti pohon yag dicabut sampa ke akar-akarnya.

Betapa hebatnya ampunan Allah!

Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaflagi Maha Kuasa.(QS An Nisa 4:149).

Pemaafan Allah terbuka lebar bagi siapapun yang bersedia memberi kebaikan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan bersedia memaafkan orang lain.

Jangan menduga pemaafan Allah hanya tertuju kepada mereka yang bersalah secara tidak sengaja atau kepada mereka yang bersalah secara tidak sengaja.

Jangan menduga bahwa Allah selalu menunggu yang bersalah dan berdosa untuk meminta maaf.

Tidak!

Sebelum manusia meminta maaf, Allah telah memaafkan banyak hal.

Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sebanyak apapun dosa kita.

Allah memerintahkan kita untukmenjadi pemaaf: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari padaorang-orang yang bodoh. (QS Al A’raaf 7:199)

Sebesar apapun dosa kita, itu adalah masa lalu, jangan jadikan itu penghalang untuk kita melakukan ibadah yang terbaik sejak hari ini dan  seterusnya,untuk mendekat kepadaNya.

Karena Allah, Dialah Al ‘Afuw,Yang Maha Pemaaf.

(Dirangkum dari buku Menyingkap TabirIllahi dan ceramah Aa Gym tanggal 29 July 2010).

Didaytea!

AL-LATHIIF
Yang Maha Lembut

Kata “Al-Lhatiif” terambil dari akar kata “lathafa” yang hurufnya terdiri dari Laam, thaa’ dan faa, dan menurut pakar-pakar bahasa mengandung makna “lembut”, “halus” atau “kecil”. Dari makna ini kemudian lahir makna “ketersembunyian” dan “ketelitian”. Pakar bahasa Az-Zajjaj dalam bukunya “Tafsir Asmaa’ AlHusnaa” menyatakan bahwa seorang yang berbadan kecil dinamai Latiif, juga dapat berarti penipu atau yang “mencapai tujuannya dengan cara yang sangat tersembunyi/tak terduga”. Sedang bila kata ini dikaitkan dengan pengetahuan, maka maknanya adalah sangat dalam kecerdasannya dan sangat cermat dalam menemukan sesuatu.

Kata Lathiif ditemukan dalam ALqurán sebanyak tujuh kali, lima di antaranya disebut bergandengan dengan sifat Khabiir. Satu ayat secara tegas menyebut sifat ini tercurah kepada hamba-Nya yakni: “Sesungguhnya Allah Lathiif terhadap hamba-hamba-Nya, Dia memberi rezeki siapa yang dikehendakinya dan Dia Maha Kuat lagi Maha Mulia” (Q.s. Asy-Syura 42:19 dan Yusuf 12:100). Dari sini agaknya sehingga Azzajaj berpendapat bahwa Al-Lathiif, berarti Dia yang melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya secara tersembunyi dan tertutup, tanpa mereka ketahui, serta menciptakan untuk mereka sebab-sebab yang tak terduga guna meraih anugerah-Nya. Ini – menurutnya -sama dengan firman-Nya, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah Dia akan memberinya jalan keluar, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang mereka tidak sangka-sangka”. (Q.s. At-Thalaaq 65:2-3). Apa yang dikemukakan Az-Zajjaj di atas dapat diterima. Hanya saja perlu dicatat bahwa rezeki yang dimaksud bukan hanya yang bersifat material, tetapi juga – dalam bentuk menyatukan keluarga dalam suasana harmonis seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. yang telah berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaranya setelah sirna kebencian mereka kepada Yusuf (Baca Q.s. Yusuf 12:100).

Disamping ayat-ayat yang berbicara dalam konteks anugerah itu, ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang sifat Allah, yaitu Q.s. Luqman 31:16 dan Al-Anám 6:103. Ini berarti bahwa “Luthf” yang dianugerahkannya berdasar kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya, “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Lathiif lagi maha mengetahui”. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Apakah mereka tidak melihat, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Lathiif lagi Maha Mengetahui”. (Q.s. Al-HAj 22:63).

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang berhak menyandang sifat ini adalah , “yang mengetahui rincian kemaslahatan dan seluk beluk rahasianya, yang kecil dan yang halus, kemudian menempuh jalan untuk menyampaikannya kepada yang berhak secara lemah lembut bukan kekerasan”.

Kalau bertemu kelemahlembutan dalam perlakuan dan rincian kemampuan dalam pengetahuan, maka terwujudlah apa yang dinamai “Al-Luthf” dan menjadilah pelakunya wajar menyandang nama “Al-Lathiif”. Ini tentunya tidak dapat dijangkau kecuali Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Lathiif itu. Sekelumit dari bukti kemaha “lemah lembutan” Illahi (kalau istilah ini dapat dibenarkan) dapat terlihat bagaimana Dia memelihara janin dalam perut ibu dan melindunginya dalam tiga kegelapan, kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim. Demikian juga memberinya makan melalui tali pusar sampai dia lahir kemudian mengilhaminya menyusu, tanpa diajar oleh siapapun.

Termasuk juga dalam bukti-bukti kewajaran-Nya menyandang sifat ini adalah apa yang dihamparkan-Nya di alam raya untuk makhluk-Nya, memberi melebihi kebutuhan mereka, tetapi tidak membebani mereka dengan beban berat yang tidak mampu dipikul.

Pada akhirnya tidak keliru jika dikatakan bahwa Al-Lathiif adalah Dia yang selalu mengkehendaki untuk makhluk-Nya, kemaslahatan dan kemudahan lagi menyiapkan sarana dan prasarana guna kemudahan meraihnya. Dia yang bergegas menyingkirkan kegelisahan pada saat terjadinya cobaan, serta melimpahkan anugerah sebelum terbetik dalam benak. Penjelasan di atas, adalah sifat itu dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan Allah.

Ayat lain yang dikaitkan dengan sifat-Nya adalah, “Dia tidak dijangkau oleh pandangan mata, dan Dia menjangkau segala penglihatan (karena) Dia Lathiif lagi Khabiir”. (Q.s. Al-An’aam 6:103).

Allah tidak dapat dilihat paling tidak dalam kehidupan dunia ini. Nabi Musa a.s. pernah bermohon untuk melihat-Nya tetapi begitu Allah menampakkan kebesaran dan kekuasaan-Nya atau pancaran sinar-Nya ke sebuah gunung, gunung itu hancur berantakan (Baca Q.s. Al-Araaf 7:143). Allah juga Lathiif dalam arti tidak dapat diketahui hakekat-Nya, sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini dalam pengenalan terhadap Allah. Walsahil Dia tertutup dari pandangan mata dengan selendang keagungan-Nya, terlindungi dari jangkauan akal dengan pakaian kebesaran-Nya, terbatasi dari bayangan imajinasi dengan cahaya keindahan-Nya dan karena cemerlangnya pancaran cahaya-Nya, ia gaib, sehingga seperti kata sementara orang arif, “ Dia tidak terjangkau hanya karena Dia menyingkap kerudung wajah-Nya, sungguh aneh, penampakan menghasilkan ketertutupan”. Memang mata kelelawar tak mampu memandang cahaya matahari.

Hanya sekali ditemukan dalam Alqur’an kata kerja yang berakar tiga huruf di atas, yaitu firman-Nya mengabadikan ucapan salah seorang dari sekelompok pemuda yang ditidurkan Allah selama 309 tahun di Gua Alkahf. “ Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, Wal yathalathhthaf dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorangpun”. (Q.s. Al-Kahfi 19:18).

Makhluk tidak mampu meneladani Allah dalam sifat Uluhiyah, termasuk sifat Luthf yang disandang zat-Nya itu, tetapi manusia dapat meneladani- dalam batas kemampuannya- sifat luthf Illahi yang tercermin dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Karena itu yang meneladani sifat ini, hendaknya menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan semua pihak lagi bersikap lemah lembut terhadap makhluk-makhluk Allah. Jika mampu, ia hendaknya memberi sebelum tangan yang bututh terulur, atau sebelum kalimat “mohon” terucapkan. Bukankah kelemahlembutan-Nya, tercermin antara lain pada sarana hidup manusia yng diciptakannya jauh sebelum manusia tercipta? Di sisi lain kita dapat berkata bahwa salah satu indikator tercurahnya sifat ini kepada hamba-hambanya adalah terciptanya hubungan harmonis baik dalam keluarga kecil maupun keluarga besar – sebagaimana yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s. hal ini tentunya harus diperjuangkan dan karena itu Nabi Saw berpesan, “Hendaklah segala sesuatu kalian hiasi dengan kelemah lembutan, karena tidak sesuatupun yang dihiasi dengannya kecuali menjadi baik dan indah, dan tidak sesuatupun yang luput dari kelemahlembutan kecuali menjadi buruk”. Demikian wa Allahu Álam.

M Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Illahi

AS-SALAAM

Yang Maha Sejahtera

As-Salaam sebagai sifat Allah hanya sekali disebut dalam Alqur’an yaitu pada Q.s. Al-Hasr 59: 23. Kata ini terambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Allah adalah As-Salaam, karena Yang Maha Esa itu terhindar dari segala aib, kekurangan dan kepunahan yang dialami oleh para makhluk. Demikian tulis Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya “ Maqaayisul Lughah”.

Ibnu Al’ Araby -sebagaimana dikutip oleh Hamzah Annasyrati dan kawan-kawan dalam buku mereka “ Asmaa’ AlHusnaa” – berpendapat bahwa, “seluruh ulama sepakat bahwa nama As-Salaam yang dinisbahkan kepada Allah berarti ‘Zuz zalaamah’, “yang memiliki keselamatan/keterhindaran”

. Hanya saja -tulisnya lebih jauh- mereka berbeda dalam memahami istilah ini. Ada yang memahaminya dalam arti Allah terhindar dari segala aib dan kekurangan. Ada juga yang berpendapat bahwa Allah yang menghindarkan semua makhluk dari penganiayaan-Nya dan yang kelompok ketiga berpendapat bahwa As-Salaam yang dinisbahkan kepada Allah itu berarti. ‘yang member isalam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak’. Pendapat ketiga ini sejalan dengan Firman-Nya, “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Pengasih (kepada penghuni surga)”. (Q.s. Yasin 36:58).

AL-Ghazali menjelaskan bahwa maknanya adalah keterhindaran zat Allah dari segala aib, sifat-Nya dari segala kekurangan dan perbuatan-Nya dari segala kejahatan dan keburukan, sehingga dengan demikian tiada keselamatan/keterhindaran dari keburukan dan aib yang diraih dan terdapat di dunia ini kecuali merujuk kepada-Nya dan bersumber dari-Nya.

Kalau anda telah merasa yakin akan kesempurnaan Allah dan bahwa segala yang dilakukan-Nya adalah baik dan terpuji, maka anda harus percaya bahwa tidak sedikit keburukan/kejahatan pun yang bersumber dari-Nya.

Dari sisi lain anda dapat bertanya. “Mengapa ada kejahatan, mengapa ada penyakit dan kemiskinan, bahkan mengapa Tuhan menganugerahkan si A segala macam kenikmatan, dan menjadikan si B tenggelam dalam bencana?”.

Jawaban menyangkut pertanyaan tadi merupakan salah satu yang amat musykil, khususnya bila ingin memuaskan semua nalar. Dengan sedikit rinci jawabannya dapat anda temukan dalam buku tafsir Penulis khususnya ketika menafsirkan surah Al-‘Alaq. Berikut sekelumit kutipannya:

“Sementara pakar agama, termasuk agama islam, menyelesaikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa apa yang dinamai kejahatan/keburukan sebenarnya ‘tidak ada’ atau paling tidak, hanya pada pandangan nalar manusia yang seringkali memandang secara parsial. Bukankah Allah menegaskan dalam Alqur’an bahwa, ‘Dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya’. (Q.s. As-Sajdah 32:7).

Kalau demikian, segalanya diciptakan Allah dan segalanya baik. Keburukan, adalah akibat keterbatasan pandangan, ia sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya demikian. “Boleh jadi engkau membenci/tidak senang kepada sesuatu, padahal dia itu baik untukmu dan boleh jadi (juga) engkau menyenangi sesuatu padahal itu buruk untuk mu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui”. (Q.s. Al-Baqarah 2:216).

Pandangan ini menekankan bahwa keburukan bersifat nisbi. Memenjarakan seorang penjahat adalah buruk dalam pandangan si penjahat, tetapi baik dalam pandangan masyarakat dan pandangan Allah. Hujan baik bagi petani tetapi buruk bagi penatu yang ingin segera mengeringkan pakaian. Singa adalah bahaya bagi yang diancamnya, tetapi dia adalah baik ditinjau dari sisi hikmah yang diketahui Allah dari penciptaannya. Demikian seterusnya, sehingga jangan memandang kebijaksanaan Allah secara mikro, kalau pun anda tak mampu memandangnya secara makro, maka yakinilah bahwa dibalik setiap yang anda duga keburukan atau kejahatan, pasti ada hikmahnya, ada kebaikan yang lebih besar yang akan diraih”.

Albiqa’iy (W. 1.480M) dalam tafsirnya menjelaskan makna As-Salaam serta penempatannya setelah sifat Al-Malik dan Al-Quddus, bahwa tidak dapat tergambar dalam benak, Allah Swt -disentuh zat, sifat dan perbuatan-Nya dengan sedikit kekurangan pun; -disediakan oleh kesempurnaan kerajaan dan kesucian-Nya dan karena itu pemusnahan dari sisi-Nya, atau sentuhan mudharaat kapanpun di dunia dan di akhirat dan dalam keadaan apapun- tidak dinilai sebagai keburukan. Bukankah pengetahuan Yang Maha suci itu menyangkut lahir dan batin dalam tingkat yang sama? Bukankah Dia meletakkan segala sesuatu pada tempat yang sebaik-baiknya yang pada dasarnya tidak dapat dijangkau, atau tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh siapapun? Karena itu, setelah penyebutan kedua sifat Al-Malik dan Al-Quddus diperlukan adanya penjelasan yang dapat memberi rasa selamat dan aman. Penjelasan itu adalah dengan menyebut sifat As-Salaam, karena keselamatan adalah batas antara keharmonisan/kedekatan dan perpisahan, serta batas antara rahmat dan siksaan. Karena As-Salaam lebih banyak berkaitan dengan hal-hal lahiriah, maka ia disusul dengan Al-Mukmin, karena rasa aman adalah batas antara cinta dan benci bagi yang tidak mampu meraih cinta. Inilah minimal yang dapat diraih oleh pemilik hak dari siapa yang wajar memberinya cinta. Karena itu pula seseorang yang merasa wajar menerima cinta tidak akan rela bila hanya menerima hak, sebagaimana; belum sempurna iman seseorang dengan sekedar beriman oleh dorongan cinta, tetapi ia harus mendahulukan cinta kepada-Nya melebihi cintanya kepada yang lain dan mempersamakan cinta untuk sesamanya, sebagaimana cinta untuk dirinya sendiri.

Seorang yang meneladani Allah dalam sifat As-Salaam, dituntut untuk menghindarkan hatinya dari segala aib dan kekurangan, dengki dan hasud serta berkehendak untuk berbuta kejahatan, dan seperti ditulis Al-Ghazali, “Siapa yang selamat hatinya dari hal-hal tersebut- maka akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari Al-intikaas (kejungkir balikan) dan Al in’ikaas (ketolak belakangan), dan dengan demikian ia akan datang menghadap Allah dengan hati yang saliim/selamat- Dialah As-Salaam dari hamba-hamba Allah yang mendekati dalam sifat-sifatnya dengan As-Salaam yang mutlak dan yang tidak ada duanya dalam sifat-Nya itu.

Yang dimaksud oleh Al-Ghazali dengan Al-intikas dalam sifatnya adalah yang akalnya ditawan oleh syahwat dan amarahnya, karena yang berlawanan dan bertolak belakang dengan itu yang seharusnya terjadi yakni syahwat dan amaralah yang seharusnya ditawan oleh akal serta tunduk kepadanya. Jika terjadi in’ikaas (tolak belakang), maka pasti terjadi intikaas (kejungkir balikan). Tiada salam, jika yang memerintah menjadi yang diperintah atau raja menjadi hamba sahaya. Tidak juga wajar seseorang menyandang sifat salam dan Islam kalau selamanya tidak selamat dari gangguan lidah dan tangannya.

Seseorang yang meneladani sifat Allah As-Salaam, paling tidak, bila tidak dapat memberi manfaat kepada selainnya, maka jangan sampai dia mencelakakannya. Kalau dia tidak dapat memasukkan rasa gembira ke dalam hatinya, maka paling tidak jangan ia meresahkannya,.. kalau dia tidak dapat memujinya, maka paling tidak dia jangan mencelanya.

Jangankan terhadap yang tidak berbuat baik, terhadap yang berbuat jahil pun Alqur’an menganjurkan agar diberikan kepadanya “salam” karena demikian itulah sifat hamba-hamba Allah yang Rahman:

“Hamba-hamba Allah yang Rahman ialah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa (memperlakukan mereka dengan kejahilan) mereka berkata (bersikap) salaama (mengandung keselamatan)”. (Q.s. Al-Furqaan 25:63).

Sikap itu yang diambilnya karena seperti dikemukakan di atas As-Salaam (keselamatan) adalah batas antara keharmonisan (kedekatan) dan perpisahan, serta batas antara rahmat dan siksaan. Inilah yang paling wajar atau batas minimal yang diterima seorang jahil dari hamba Allah yang Rahman, atau si penjahat dari yang kuasa. Itu dalam rangka menghindari kejahilan yang lebih besar atau menanti waktu untuk lahirnya kemampuan mencegahnya. Salah satu nasehat yang amat berharga disampaikan oleh Ja’far As-Shadiq kepada ‘Unwaan yang datang meminta nasehatnya adalah, “Siapa yang mendoakan kehancuran untukmu; maka mohonlah keselamatan baginya. Jika ada yang datang kepadamu berkata, “Jika engkau berucap satu cercaan, maka kau mendengar dari ku sepuluh”; maka jawablah dia dengan berkata. “Jika engkau memakiku sepuluh, Engkau tak mendengar dari ku walau satu. Jika engkau memakiku, maka bila makianmu benar aku akan bermohon semoga Tuhan mengampuniku dan bila keliru, kubermohon semoga Tuhan mengampunimu”.

Demikian makna-makna As-Salaam, dan aktualisasinya dalam kehidupan muslim.

M Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Illahi

AL-WAKIIL

Yang Maha Mewakili/Pemelihara

Kata Al-Wakiil terambil dari akar kata “wakala” yang pada dasarnya bermakna “ pengandalan pihak lain tentang urusan yang seharusnya ditangani oleh yang mengandalkan ”. Demikian Ibnu Faris.

Siapa yang diwakilkan atau diandalkan peranannya dalam satu urusan, maka perwakilan tersebut boleh jadi menyangkut hal-hal tertentu dan boleh jadi juga dalam segala hal. Allah dapat diandalkan dalam segala hal. “ Dia (Allah) atas segala sesuatu menjadi wakiil”. (Q.s. Al-An’am 6:102).

Yang diwakilkan boleh jadi wajar untuk diandalkan karena adanya sifat-sifat dan kemampuan yang dimiliki, shingga menjadi tenang hati yang mengandalkannya dan boleh jadi juga yang diandalkan itu tidak sepenuhnya memiliki kemampuan bahkan dia sendiri pada dasarnya masih memerlukan kemampuan dari pihak lain agar dapat diandalkan. Allah adalahwakiil yang paling dapat diandalkan karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Yang mewakilkan boleh jadi berhasil memenuhi semua harapan yang diwakilkannya, sehingga yang mewakilkan merasa cukup denganwakiilnya itu, dan boleh jadi juga tidak maka ketika itu yang mewakilkan mendambakanwakiil lain. Allah Maha Kuasa memenuhi semua harapan yang mewakilkan-Nya, karena itu Dia menegaskan bahwa, “Cukuplah Allah sebagaiwakiil”. (Q.s. An-Nisa 4:81).

Bila seseorang mewakilkan orang lain (untuk suatu persoalan), maka ia telah menjadikannya sebagai dirinya sendiri dalam persoalan tersebut, sehingga yang diwakilkan (wakil) melaksanakan apa yang dikehendaki oleh yang menyerahkan kepadanya perwakilan.

Menjadikan Allah sebagai wakiil dengan makna yang digambarkan di atas, berarti menyerahkan kepada-Nya segala persoalan. Dialah yang berkehendak dan bertindak sesuai dengan “kehendak” manusia yang menyerahkan perwakilan itu kepada-Nya.

Makna seperti ini dapat menimbulkan kesalahpahaman jika tidak dijelaskan lebih jauh. Dalam hal ini, pertama sekali yang harus diingat adalah bahwa keyakinan tentang keesaan Allah berarti antara lain bahwa perbuatan-Nya Esa, sehingga tidak dapat dipersamakan denga perbuatan manusia, walaupun penamaannya mungkin sama. Sebagai contoh, Allah Maha Pengasih (Rahim), Maha Pemurah (karim). Kedua sifat ini dapat dinisbahkan kepada manusia, namun hakekat dan kapasitas rahmat dan kemurahan Tuhan tidak dapat dipersamakan dengan apa yang dimiliki oleh manusia, karena mempersamakannya mengakibatkan gugurnya makna keesaan itu.

Allah Swt yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan, adalah Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan segala Maha yang mengandung makna pujian yang wajar untuk-Nya. Manusia, sebaiknya memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam segala hal. Kalau demikian “perwakilan” yang diserahkan kepada-Nya berbeda dengan perwakilan manusia kepada manusia yang lain.

Benar bahwawakiil diharapkan/dituntut untuk dapat memenuhi kehendak dan harapan yang mewakilkan kepadanya. Namun karena dalam perwakilan manusia “seringkali” atau paling tidak “boleh jadi” yang mewakilkan lebih tinggi kedudukan dan atau pengetahuannya dari sangwakiil, maka ia dapat saja tidak menyetujui/membatalkan tindakan sangwakiil atau menarik kembali perwakilannya – bila ia merasa berdasarkan pengetahuan dan keinginannya – bahwa tindakan tersebut merugikan. Ini bentuk perwakilan manusia. Tetapi jika seseorang menjadikan Allah sebagai wakiil, maka hal serupa tidak akan dan tidak wajar terjadi, karena sejak semula seseorang telah harus menyadari keterbatasannya dan menyadari pula kamahamutlakan Alah Swt. Apakah ia tahu atau tidak tahu hikmah satu kebijaksanaan yang ditempuh Allah, ia akan menerimanya dengan sepenuh hati karena, “Allah mengetahui dan kamu sekalian tidak mengetahui”. (Q.s. Al-Baqarah 2:216).

Ini salah satu segi perbedaan antara perwakilan manusia terhadap Tuhan dan terhadap selain-Nya.

Perbedaan yang kedua adalah dalam keterlibatan yang mewakilkan. Jika anda mewakilkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu, maka anda telah menugaskannya melaksanakan hal tersebut. Anda tidak perlu atau tidak harus lagi melibatkan diri. Dalam kamus-kamus bahasa, makna ini secara jelas digarisbawahi. Dalam Kamus Almunjid misalnya diuraikan makna “mewakilkan” antara lain berarti “menyerahkan, membiarkan serta merasa cukup” (pekerjaan tersebut dikerjakan oleh seorang wakiil).

Dalam hal menjadikan Allah Swt sebagai “wakil”, maka manusia masih tetap dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya. Allah, jangan dibiarkan bekerja sendiri selama masih ada upaya yang dapat dilakukan manusia.

Kata “tawakkal” yang juga berakar kata sama dengan “wakil, bukanya berarti penyerahan secara mutlak kepada Allah, tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi. Seorang sahabat Nabi menemui beliau di masjid tanpa terlebih dahulu menambatkan untanya. Ketika Nabi Saw menanyakan tentang untanya, dia menjawab, Äku telah bertawakkal kepada Allah”. Nabi meluruskan kekeliruannya tentang arti “tawakal” dengan bersabda, “’iqilha Tsumma Tawakkal” (Tambatkanlah terlebih dahulu (untamu) kemudian setelah itu bertawakkallah) (H.R. Attirmizi).

Dalam Alqurán kata wakiila terulang sebanyak 13 kali, Sembilan diantaranya merupakan perintah tegas atau tersirat untuk menjadikan Allah wakiila. Di sisi lain perlu dikemukakan bahwa perintah menjadikan-Nya wakiil, kesemuanya dapat dikatakan didahului oleh perintah melakukan sesuatu, baru disusul dengan perintah bertawakkal. Perhatikan misalnya Q.s. Al-Anfal 8:61; “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepada-Nya dan bertawakkallah kepada Allah.” Demikian juga Q.s. Hud 11:123; “Kepada-Nya dikembalikan segala persoalan maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.” Dan yang lebih jelas lagi adalah Q.s. Al-Maidah 5:23; “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota), maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Dari sini jelas bahwa agama bukannya menganjurkan perintah bertawakkal atau menjadikan Allah sebagai “wakiil” agar seseorang tidak berusaha atau mengabaikan hukum-hukum sebab akibat. Tidak! Islam hanya menginginkan agar ummatnya hidup dalam realita, realita yang menunjukkan bahwa tanpa usaha tak mungkin tercapai harapan dan tak ada gunanya berlarut dalam kesedihan jika realita tidak dapat diubah lagi. “Hadapilah kenyataan, jika kenyataan itu tidak berkenan di hati anda atau tidak sesuai dengan harapan anda, maka usahakanlah agar anda menerimanya.”

Menjadikan-Nya sebagai “wakiil”, berarti seseorang harus meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Juga mengharuskan yang mengangkat-Nya sebagai wakiil agar menjadikan kehendak dan tindakannya sejalan dengan kehendak dan ketentuan Allah Swt. karena dengan menjadikan-Nya “Wakiil”, manusia tadi terlebih dahulu telah sadar bahwa pilihan Allah adalah pilihan terbaik.

Seorang muslim dituntut untuk berusaha, tapi dalam saat yang sama ia dituntut untuk berserah diri kepada Allah, ia dituntut melaksanakan kewajibannya, kemudian menanti hasilnya sebagaimana kehendak dan ketetapan Allah.

Anda boleh berusaha dalam batas-batas yang dibenarkan disertai dengan ambisi yang meluap-luap untuk meraih sesuatu, tetapi jangan ketika anda gagal meraihnya anda meronta atau berputus asa serta melupakan anugerah Tuhan yang selama ini telah anda capai.

Seorang muslin berkewajiban menimbang dan memperhitungkan segala segi sebelum ia melangkah kaki. Tetapi bila pertimbangannya keliru atau perhitungannya meleset, maka ketika itu akan tampillah di hadapannya Alah Swt yang dijadikannya “Wakiil”, sehingga ia tidak larut dalam kesedihan dan keputusasaan, karena ketika itu ia sungguh yakin bahwa “Wakilnya” telah bertindak dengan sangat bijaksana dan menetapkan untuknya pilihan yang terbaik. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula sebaliknya) kamu mencintai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah 2:216).

Meneladani sifat Allah ini, menuntut anda untuk tidak menerima perwakilan, jika anda merasa tidak akan mampu melaksanakannya, sehingga tidak wajar anda diandalkan. Sebaliknya jika menerimanya maka hendaknya segala daya yang anda miliki anda gunakan untuk meraih yang terbaik untuk yang mewakilkan anda. Demikian Wa Allah Álam.

M Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Illahi

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.