Bekerja di Luar Negeri: Pecundang atau Pemenang?

 “Do What You Love, and Love What You Do!”

 (Penyiar Sebuah Stasiun Radio di Bandung)

 

Pernahkan anda menyesal telah memilih sesuatu?

Saya rasa kita semua pernah mengalami penyesalan dan menyesali sesuatu. Atau menyesali pilihan yang sudah kita ambil.

Menyesal karena salah memilih pekerjaan.

Menyesal karena salah memilih sekolahan.

 

Menyesal karena salah memilih kendaraan.

Menyesal karena salah memilih karyawan.

Menyesal karena telah salah memilih rumah, atau secara global, karena salah memilih langkah hidup.

Bahkan, mungkin ada yang sampai menyesal, karena telah salah memilih pasangan hidup.

 

Sama sekali tidak salah sih, karena itu wajar dan sangat manusiawi. Akan tetapi wajar hanya untuk kesan pertama saja, dan jika tidak sampai terlarut dengan penyesalan yang sangat dramatis sehingga mengganggu pikiran kita.

 

Jika sampai terlarut, biasanya sih akan membuat kinerja kita sebagai manusia yang berhubungan dengan hal yang kita sesali tersebut akan menjadi buruk.

 

Kinerja kita di tempat kerja, sekolah akan asal- asalan. Asal dapet gaji, asal lulus. Kita akan menjalani hidup yang membosankan dan tanpa tantangan. Karena kita menganggap sudah tidak ada nilai tambah lagi yang bisa kita dapatkan.

Kita akan memperlakukan pilihan yang kita sesali ini dengan sangat buruk.

 

Kalau kata orang Prancis bilang, eh, orang Sunda bilang, “Nya dipoyok,nya dilebok”, Artinya kurang lebih: “Ya diejek, tapi tetep dimakan juga”. Selalu mengeluhkan kondisi (yang dianggap) buruk yang dialami walau pun itu terjadi semata- mata karena pilihannya sendiri.

 

 

Ada yang merasa pindah ke luar negeri ini sebagai pecundang, orang buangan, orang yang gagal, orang yang kalah bersaing dengan tenaga kerja di dalam negeri, sehingga ada semacam “have-to” atau keterpaksaan selama bekerja di luar negeri. Tidak salah sih, karena memang banyak yang seperti itu. Akan menjadi salah jika keterpaksaan itu membuat kita tidak bekerja dengan baik, dan tidak membuat kita manusia yang lebih baik.

 

 

Tetapi, ada juga yang menjadikan kerja di luar negeri sebagai sebuah impian besar, dengan iming-iming gaji puluhan kali lipat dan puluhan kemudahan dan hal- hal yang belum tentu bisa didapat di tanah air. Rumah,mobil, modal usaha, hutang dengan bunga kecil, haji lebih mudah, umroh bisa dua kali setahun, bisa beramal lebih banyak, dll.

 

Adalah sebuah kebanggaan yang sangat luar biasa ketika berhasil mengeliminasi puluhan, ratusan, bahkan ribuan saingan dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan sebuah status sosial baru: “Bekerja di Luar Negeri”.

 

 

Untuk kondisi pertama, tidak ada pilihan lain lagi untuk kita untuk menikmati saja apa- pun yang kita alami sekarang. Karena itu adalah pilihan kita, walaupun sekedar terpaksa. Setidaknya kita bisa menjalani dengan wajar, dan perlahan- lahan mulai menghilangkan penyesalan yang mungkin masih tersisa di dalam hati dan pikiran.

 

Untuk kondisi yang kedua, sih saya rasa tidak akan ada isu yang negatif dengan masalah, karena ya itu memang impian mereka. Mereka adalah juara dari kompetisi yang super ketat untuk bisa menyisihkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang melamar kerja ke luar negeri. Mereka adalah pemenang.

 

Sejujurnya, pada awalnya saya terpaksa harus memilih untuk ke luar negeri, saya sudah tidak punya pilihan lain lagi untuk bisa survive secara finansial. Saya sama sekali tidak berminat untuk bekerja di luar negeri,karena sering mendengar cerita tidak enak. Saya terpaksa harus mengambil resiko untuk pulang dengan status pengangguran jika gagal di tes kesehatan tahap ke dua. Karena ketika itu saya langsung resign dari perusahaan yang lama, bukan mengambil cuti.

 

Tapi pada pada akhirnya, saya merasa sungguh beruntung karena telah ditakdirkan untuk bisa bekerja di luar negeri seperti sekarang. Sehingga saya bisa meraih banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya mimpikan. Saya bisa menjadi jalan untuk membantu banyak orang di sekitar saya.

 

Kembali ke masalah pilih memilih, sejak bangun tidur hingga tidur lagi, hidup kita ini kan selalu dihadapkan pada pilihan- pilihan. Bangun atau tidak, mandi atau tidak, sarapan atau tidak, mau pake baju yang mana, celana yang mana, naik mobil atau jalan kaki, sarapan nasi atau roti, minumnya susu atau air putih. Hampir setiap langkah kehidupan kita adalah piilihan- pilihan.

 

Kalau misalnya anda ternyata merasa salah memilih jalan hidup, yaa tinggal memilih lagi jalan lain. Kalau pun belum ada jalan lain, ya kita tinggal menyesuaikan diri kita dengan jalan yang kita pilih. Coba untuk menikmati, atau setidaknya memproduksi hormon kenyamanan dalam melakukan peran yang kita jalani sekarang.

 

Selama membuat kita mendekat ke arah kebaikan, sekarang dan nanti, bekerja dan tinggal di mana pun akan selalu menjadi pilihan yang baik.

 

Kata penyiar salah satu stasiun radio di Bandung sih: “Do What You Love, and Love What You Do!”

 

 

didaytea.com

021020111109

 

 

Cara Untuk Bahagia Setiap Saat

Perspektif  Ideal Terhadap Waktu

“If happines is always in the future, then you’ll never be happy”(Dr. Philip Zimbardo)

 

Seorang psikolog bernama Philip Zimbardo membuat wacana tentang bagaimana perspektif kita terhadap waktu akan mempengaruhi keputusan kita dalam kehidupan.

Waktu yang dimaksud beliau adalah waktu relatif yang berada di dalam pikiran manusia, bukan waktu yang ditunjukan oleh jam di sekeliling kita.

Perspektif terhadap waktu akan mempengaruhi kebiasaan seorang manusia dalam menjalani hidup mereka.

Beliau mengatakan ada enam jenis perspektif waktu: dua di masa lalu(past), dua di masa kini(present), dan dua di masa depan (future).

Sebagian orang selalu mengenang bagaimana indah dan suksesnya masa lalu mereka, sering sekali mengungkit- ngungkit kesuksesan masa lalu yang belum tentu adalah kesuksesannya di masa kini. Ini adalah golongan orang dengan perspektif waktu Past Positive.

Sebagian orang hanya fokus pada kegagalan di masa lalu, masa lalu yang kelam. Dia akan hidup di masa lalunya yang negatif dan terlarut di dalamnya, sehingga melupakan fakta bahwa dsemua itu sudah berlalu dan tidak akan ada yang bisa dilakukan lagi untuk merubah masa lalu tersebut. Ini adalah golongan Past Negative.

Ada orang yang menginginkan kesenangan saat ini juga, mereka menikmati hari- harinya dengan enjoy, menikmati hidup, dan berprinsip bahwa mereka harus menikmati hidup sepuas- puasnya. Ini adalah golongan Present Hedonistic.

Ada juga orang yang membenci perencanaan. Mereka menjalani hidup dengan metode “mengalir seperti air”. It doesn’t pay to plan, my live is fated by the condition that I am living under. Kehidupan saya sudah ditakdirkan seperti ini, tidak akan bisa dirubah lagi walau apa pun yang saya lakukan.  Ini adalah golongan Present Fatalistic.

Ada juga orang yang selalu memiliki perencanaan dalam hidup mereka. Mereka berorientasi masa depan, berorientasi tujuan. Mereka memlih untuk belajar dan bekerja daripada menikmati hidup. Mereka lebih memilih untuk hidup menderita hari ini demi kebahagiaan di masa depan. Bagi mereka kebahagiaan selalu ada di masa depan. Ini adalah golongan Future Oriented.

Golongan terakhir menurut beliau adalah Future: Trancendental-Life after death of the human body. Kehidupan sesungguhnya adalak kehidupan setelah kematian. Untuk yang muslim, ini adalah akhirat kita.

Lalu, seperti apakah perspektif kita terhadap waktu yang ideal untuk dijalani?

Kita tidak bisa menanggalkan masa lalu kita walau pun itu hanya ada berada di dalam pikiran kita. Kita juga tidak bisa melupakan fakta bahwa masa depan itu ada dan kematian itu pasti akan datang. Secara fisik, kita sedang hidup di masa kini, The Present.

Ini adalah profil ideal menurut Dr. Zimbardo:

Past Negative

Low

Past Positive

High

Present Hedonism

Selected, self-rewarding, not impulsive

Present Fatalism

Low

Future

Moderately high, not a workaholic

Lupakanlah masa lalu yang negatif, hapus sama sekali dari memori anda. Kalau pun sampai harus diingat, jadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga agar kita tidak mengulangi dan mengalaminya lagi.

Ingatlah kisah positif di masa lalu, untuk memotivasi diri kita ketika sedang terpuruk.

Jangan jadi orang yang terlalu gila kerja, selalu sempatkan waktu anda untuk menikmati kebahagiaan di masa kini. Luangkan waktu untuk keluarga, berekreasi. Jangan biarkan diri anda menderita dan memilih untuk menjalani hidup serba hemat dan serba sulit, demi untuk “kebahagiaan” di masa depan. Memang sih, porsi untuk itu selalu ada. Tapi jika semua kebahagiaan itu berada di masa depan, maka kita pasti tidak akan pernah bisa bahagia. Dengan terlalu sering melihat ke masa depan, berarti anda tidak menghargai masa kini, anda tidak menghargai hari- hari anda yang seharusnya dihiasi oleh kebahagiaan- kebahagiaan.

Bisa saja kita puluhan tahun untuk mengejar karir yang tinggi, tapi pada akhirnya malah menghadapi kenyataan bahwa posisi itu ternyata tidak cokcok dengan kita.

Past gives you root-to connect to your identity & family, to be grounded

Future give you wings- To soar to new destination and challenges

Present gives you energy- to explore people, places, self and sensuality

Manusia hanya bisa berusaha dan bertawakkal, tetap pada akhirnya Allah yang menentukan segalanya.

Nikmatilah sukses kecil di masa sekarang untuk bayangan sukses di masa depan bahkan sampai akherat kelak.

Diekstrak dari video Professor Philip Zimbardo: The Perspective of Time dan berbagai sumber di Internet.Thank you for Professor Philip Zimbardo for his permission to translate his presentation.  www.theTimeParadox.com

www.didaytea.com

13102011

Pusing Tujuh Keliling Forever

“Manusia memang aneh, suka memikirkan yang tidak perlu dipikirkan tapi tidak memikirkan yang seharusnya dipikirkan”

 

“Pussiiiinnggggg…!” Teriak si Fulan dari teras depan rumahnya.

“Pusing tujuh keliling nih!” Si Fulan menambah variasi tujuh keliling untuk mendramatisir keadaan. Sambil memasang pose standar orang yang sedang pusing tujuh keliling: setengah jongkok, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan memegang jidat, dan kepala digeleng- geleng.

“Pusing kenapa Mas Bro? Kok sampai tujuh keliling begitu” Tanya si Mamang Tukang Sayur langganan si Fulan yang tiba- tiba hinggap, eh, mampir di depan rumah si Fulan karena terkaget- kaget mendengar teriakan si Fulan.

“Ngga pusing gimana Mang…..” Kata si Fulan sambil menarik nafas panjang.

“Hutang makin banyak, kosan belum bayar, cicilan motor nunggak dua bulan, nilai kuliah jelek- jelek, pacar minta dinikahi secepatnya, orang tua telat ngirim..!” Kata si Fulan, persis seperti burung Cangkurileung yang baru dilepasan dari kandang.

“Hutang, keuangan, masalah keluarga, sekolah, kerjaan mah ya masalah biasa atuh Mas Bro, tiap manusia pasti punya masalah yang berkaitan dengan hal- hal itu…” Jawab Mas Bro, eh, Mamang Tukang Sayur dengan suara bariton yang lembut layaknya penyiar radio yang baru- baru ini mendadak beken di Youtube.

“Iya saya tahu Mang, tapi saya tetep pusing nih mikirin gimana solusinya!” Jawab Si Fulan dengan pose yang masih persis sama seperti tadi, hanya kali ini tangan kirinya yang hinggap di atas jidat. Kepalanya tentu saja tetap menggeleng- geleng.

Eh, tiba- tiba si Mamang malah ngaji dengan suara yang berat tapi lembut, mirip- mirp dengan Syaikh Mishary Al Efasy. Secara, dia kan emang imam di mushola deket rumah si Fulan.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. QS Hud ayat 6

 

            “Yee..si Mamang kenapa malah ngaji sih? Bukannya ngehibur!” Si Fulan menanggapi dengan sedikit kesal.

“Saya butuh solusi buat masalah saya, bukan pengen didengerin orang ngaji!” Tambahnya lagi.Sambil terduduk lesu, iya lah, masang pose orang pusing tujuh keliling gitu pasti pegel bukan main.

“Mas Bro beneran pusing nih, mikirin masalah- masalah Mas Bro?” Tanya si Mamang dengan lembut, seperti seorang ayah kepada anaknya.

“Iya lah, masa ngga keliatan dari tadi saya pasang pose seperti ini?!” Kata si Fulan yang tiba- tiab tersadar bahwa posisinya sudah berubah, dan memasang pose pusing tujuh keliling lagi.

“Mas Bro, masalah rejeki, uang, jodoh, maut, sudah dijamin oleh Allah. Itu janji-Nya!” Ucap si Mamang.

“Tugas kita bukan untuk memikirkan hal- hal itu.”

“Mas Bro sudah sholat zhuhur belum nih?” Tiba- tiba si Mamang bertanya.

“Masih pusing gini mas, nanti aja lah bentar lagi!” Jawab si Fulan sekenanya.

“Saya mau nanya boleh ngga Mas Bro?” Si Mamang pun tetap menanggapi dengan santai.

“Mau nanya apa?” Jawab si Fulan.

“Mas Bro yakin kalau Allah Maha Pencipta?” Tanya si Mamang.

“Yakin dong, saya kan orang Islam!” Jawab si Fulan.

“Yakin kalau Allah pemilik segala sesuatu di dunia ini?”

“Hmm.itu juga yakin dong! Intinya mau nanya apa nih, kok malah nanya yang aneh- aneh kaya gini!” Si Fulan mulai terlihat kesal.

“Yakin kalau Allah Maha Kuasa atas segala kejadian di dunia ini?

Si Fulan sekarang hanya sekedar menganggukkan kepalanya.

“Nah, itu cukup!” Kata si Mamang dengan muka sumringah.

“Cukup apanya?” Jawab si Fulan yang terlihat agak bingung.

“Di ayat yang tadi Mamang bacakan tercantum jelas bahwa Allah berkata:“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”

            “Allah sudah menjamin rejeki setiap makhluk yang melata di muka bumi ini, dan itu termasuk manusia” Si mamang meneruskan obrolannya.

“Kita seharusnya tidak usah khawatir tidak dapet makan, tidak usah khawatir tidak bisa pake baju, tidak usah khawatir tidak dapet jodoh, tidak usah khawatir tidak dapet kerjaan, pokoknya mah urusan dunia mah Allah sudah jamin deh” Si Mamang mulai bersemangat menjelaskan.

Si Fulan sepertinya sudah lelah berpose pusing tujuh keliling, dan dia pun duduk ke posisi semula, di sebelah si Mamang sayur. Sambil mendengar si Mamang sayur dia pun menganggukkan kepalanya pelan- pelan, entah karena ngantuk atau karena memang sedang berusaha mengerti si Mamang.

“Cecak aja makanannya nyamuk, tapi mereka tidak pernah pusing!”

“Mas Bro, ada hal- hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan dibanding hanya sekedar urusan hutang, keuangan,keluarga, jodoh.” Si Mamang menjelaskan lagi.

“Apa itu mas? Saya sudah cukup pusing nih memikirkan masalah- masalah saya, tolong jangan ditambah pusing!” Jawab si Fulan.

“Tugas kita diciptakan sebagai manusia semata- mata untuk beribadah kepada Allah”

“Mas Bro Sholat, puasa, zakat? Tanya Si Mamang.

“ Ya Iya lah, saya kan Islam Mang, masa ngga sholat, puasa ama zakat?” Jawab si Fulan dengan setengah melotot.

“Tapi Mas Bro yakin 100 persen ngga kalau  ibadah- ibadah Mas Bro itu bakal diterima oleh Allah?” Si Mamang masih bertanya lagi.

“Hmm…” Si Fulan mulai terdiam.

“Gimana ya….? Kalau ini sih sejujurnya saya tidak yakin. Sholat saya masih sering telat, ngga khusyu- khusyu amat, puasa juga ya gitu- gitu aja sih ngga ada yang istimewa, zakat mah pasti lah, minimal zakat fitrah.” Si Fulan menjawab dengan perlahan.

“Nahh..Apakah tiap sehabis sholat Mas Bro suka memikirkan bahwa sholat Mas Bro diterima atau tidak?” Tanya Si Mamang.

“Ngga sih, sholat ya sholat aja…Palingan ya itu, saya berdoa minta solusi untuk masalah- masalah saya” Jawab si Fulan.

“Lalu gimana Allah mau mengabulkan do’anya Mas Bro kalau ternyata sholatnya Mas Bro asal sholat aja, asal sah saja. Sah belum tentu diterima lho!” Si Mamang langsung menanggapi.

“Mas Bro pernah mikirin ngga apakah bacaan Al Qur’an Mas Bro sudah bener atau ngga? Apakah Mas Bro mbaca surat yang itu- itu saja, klo ngga Al Ikhlas ya Al Kautsar? Apakah Mas Bro abis sholat dzikir dulu ngga? Apakah Mas Bro sholat sunah rawatib ngga setelah sholat? Apakah Mas Bro ngerti bacaan sholat dari Takbir sampai Salam? Pertanyaan yang bertubi- tubi berhamburan dari mulut si Mamang, seolah- olah menohok dada si Fulan.

Si Fulan hanya terdiam. Pandangannya langsung kosong seperti sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan pertanyaan si Mamang.

“Ngga pernah Mang…” Jawab Si Fulan dengan lesu.

            “Tuh kan…Hal yang sudah jadi kewajiban ternyata malah Mas Bro ngga pikirin.”

“Ngga usah khawatir mikirin masalah rejeki and jodoh mas, atau masalah- masalah lainnya. Allah mah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Kalau ibadah kita sudah benar, dan diterima oleh Allah, Allah pasti akan dekat dengan kita. Kalau Allah sudah deket sama kita, kita pasti dimudahkan dan diberi jalan dari jalan yang tidak di duga- duga selama kita beikhtiar sekuat tenaga dengan benar dan dengan niat yang lurus.” Si Mamang menjelaskan lagi dengan perlahan.”

“Iya juga Mang, eh..Iya ya Mang..” Si Fulan menjawab.

“Selama ini saya selalu ruwet mikirin urusan dan masalah hidup saya, tapi malah sama sekali ngga pernah mikirin gimana kualitas ibadah saya. Padahal sudah puluhan tahun saya sholat, puasa, zakat. Tapi saya ngga pernah kepikiran untuk mikirin kalau ibadah saya itu sudah benar atau tidak, bakalan diterima oleh Allah atau tidak…” Ucap si Fulan dengan sedikit terisak.

“Astaghfirullohal’azhiim…ampun ya Allah” Si Fulan beristighfar dengan lirih..

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat Mas Bro” Kata si Mamang.

“Alhamdulillah kalau Mas Bro sudah sadar mah, ini juga sebagai koreksi untuk diri saya gar bisa memperbaiki kualitas ibadah saya lebih baik lagi” Si Mamang menambahkan lagi.

“Saya pamit dulu ya Mas Bro…semoga sukses! Saya tunggu di mesjid Ashar nanti Ya!” Ucap si Mamang Tukang Sayur sambil berlalu dengan motor yang sudah dimodifikasi dengan keranjang sayurnya.

“Wa’alaikumsalaam. Terima kasih Mang, sudah mengingatkan..” Jawab si Fulan yang mulai terisak lagi.

Tak lama kemudian si Fulan pun bergegas mengambil wudhu.

Kali ini dia merasa wudhunya terasa sangat berbeda. Dia sangat menikmati setiap bilasan air dingin yang mengalir dari keran plastik di kamar mandinya. Tanpa terasa air matanya pun mengalir pelan, terbilas oleh air wudhu yang membasuh mukanya. Hatinya pun berdetak kencang, tak sabar ingin segera mendirikan sholat, agar dia bisa taubat sepuasnya.

     لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

 

www.didaytea.com

131011

 

 

 

 

 

Minder Itu Bermanfaat

“Setiap manusia yang lahir ke dunia, adalah satu sel sperma yang berhasil mengalahkan ratusan juta sel lainnya untuk membuahi satu sel telur”

 

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan pasti ingin berubah lebih baik untuk menjadi baik.

Salah satu kondisi, atau perasaan yang bisa menjadi pemicu keinginan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik adalah perasaan minder. Ya, minder.

Pernahkah Anda merasa minder? Ah, Itu sih perasaan yang biasa kita alami.

Perasaan yang sering, bahkan selalu timbul ketika kita dihadapkan dengan orang lain yang memiliki kondisi yang lebih baik daripada kita.

Kita akan merasa minder jika berada di samping orang yang lebih tampan atau lebih cantik daripada kita.

Kita akan cenderung merasa inferior jika berada di dekat orang yang kita tahu jauh lebih tinggi jabatannya, jauh lebih banyak hartanya daripada kita.

Kita akan merasa jadi orang yang paling berdosa sedunia ketika kita berkenalan dengan seseorang yang sholeh luar biasa.

Kita akan menjadi orang yang paling pelit, medit, koret, kopet, buntut kasiran, keked mengkene, merege hese, cap jahe (Maaf, bahasa Sunda memang lebih dramatis untuk menggambarkan kata- kata “pelit”) sedunia ketika mendengar ada milyuner yang bisa menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk membantu orang miskin dan anak yatim.

Minder tidak melulu menjadi sifat negatif bisa menjadi sebuah pemicu dari agen perubahan.

Selama perasaan minder itu terkonversi menjadi iri yang positif, dan tidak berlarut- larut tumbuh menjadi perasaan dengki dan berburuk sangka, itu adalah wajar.

Seringkali, kondisi seperti ini malah membuat kita cenderung berputus asa karena kita memasang standar yang terlalu tinggi untuk memulai sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

Seringkali keinginan untuk langsung berubah jauh lebih baik, malah menjadi bumerang, dan menyebabkan kita langsung menyerah, ketika baru saja akan melangkah.

Hei, perubahan itu perlu waktu!

Hanya kondisi luar biasa yang bisa membuat orang berubah drastis dalam semalam.

Hanya kondisi yang di luar nalar manusia ketika ada orang yang jarang super pemarah, tiba- tiba jadi orang yang super penyabar.

Perubahan yang tiba- tiba, seringkali tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga cenderung lebih mudah untuk goyah, dan lebih beresiko untuk kembali ke arah kondisi sebelumnya.

Perubahan yang baik seharusnya bertahap, agar bisa berkesinambungan dalam periode waktu yang lebih lama.

Kita harus memulai dengan standar yang tidak terlalu sulit, walaupun tetap dengan mimpi yang tinggi. Standar yang mudah akan lebih mudah dicapai.

Contoh yang sederhana: Lebih baik memulai mengaji satu ayat setiap hari, tapi rutin, dan tidak pernah kita lewatkan, daripada kita tiba- tiba sholeh dalam satu malam, membaca beberapa juz Al Qur’an,tapi setelah itu, tidak melakukannya lagi setelah berbulan- bulan.

Lebih  baik memulai sholat malam, walaupun hanya satu rakaat, tapi rutin setiap hari daripada kita tiba- tiba melakukan sholat malam semalaman, dan berhenti berbulan- bulan.

Kita harus realistis untuk melakukan perubahan.

Jika sudah melakukan hal- hal yang mudah, dan lebih baik dari kondisi sebelumnya, seperti contoh sholat dan mengaji tadi, kita pasti akan sampai pada tahap konsisten.

Dan otomatis, kondisi yang konsisten ini akan memicu kita untuk lebih baik.

Mungkin setelah sebulan, dua bulan atau setahun, kita memulai perubahan kecil akan terjadi perubahan lebih besar.

Dan tanpa terasa, kita akan sampai pada tahap yang sama, atau bahkan lebih baik dari kondisi yang kita inginkan sebelumnya.

Mentalitas dan pemikiran seperti ini sih seharusnya bisa dipraktekkan di seluruh aspek kehidupan: sekolah, bekerja, mengajar, dan bidang- bidang lainnya.

Ingat, untuk memindahkan segunung batu bata apa yang harus kita lakukan? Bukan pusing, bukan panik, bukan frustasi, bukan menggerutu, bukan syok.

Ya! Mulailah dengan memindahkan satu buah batu bata terdekat. Dan batu- bata lainnya, satu demi satu.

Perjalanan jutaan tahun cahaya, selalu akan dimulai dengan satu langkah kecil.

 

Selamat menikmati langkah kecil anda yang pertama untuk memindahkan segunung batu- bata.

 

www.didaytea.com

Jangan Mudah Menyerah

“Tidak mungkin itu kata manusia, jika kata Allah jadi, ya jadilah!”

               Seperti hari- hari Jumát lainnya, aku sudah bersiap- siap untuk pergi ke mesjid sebelum adzan zhuhur. Mandi, tiga semprot Calvin Klein sudah cukup untuk menyelimuti tubuhku dengan kesegaran wanginya. Just like the ordinary days, hari ini sih kupikir tidak akan ada cara atau even spesial yang akan terjadi.

Kejadian istimewa itu terjadi, dan tidak pernah kuperkirakan, setidaknya sampai hari ini.

Setelah siap, ku pun berpamitan kepada istri dan anak- anakku untuk pergi sholat Jumát. Aku berjalan dengan sigap, semangat dan tegap, karena Jumát selalu menjadi hari yang istimewa. Terutama di Qatar , karena itu adalah hari libur kerja.

Kuhempaskan perlahan tubuhku ke atas kursi pengemudi. Sudah terbayang ketika khotib sedang khutbah dengan berapi- api di atas mimbar. Dan terbayang juga diriku yang masih belum bisa mengerti khutbah dalam bahasa Arab…hehehe..

Eh, alangkah terkejutnya diriku ketika ternyata mobilku tidak bisa distart!

Yaahh…alamat buyar deh rencana hari ini, awalnya hanya itu yang ada di pikiranku.

Setelah kucoba utak – atik, ternyata sesuai perkiraan, aki mobilku soak. Sebenarnya wajar sih, karena sudah dua tahun lebih. Tapi aku tidak mengira secepat itu, karena terakhir service, tukang servicenya bilang bahwa aki mobilku masih bagus.

Akhirnya kutelepon tetanggu ku untuk membawa mobilnya agar bisa men-jump start, mobilku.

Alhamdulillah, akhirnya mobil pun bisa kuhidupkan dengan bantuan temanku itu.

Tapi masalah belum selesai nih, karena acara pertemuan dengan komunitas fotografer itu akan berlangsung setelah Ashar, masih beberapa jam lagi. Aku tidak mungkin menyalakan mobilku selama itu.

Di Qatar, jangankan di hari libur, di hari biasa saja, semua toko akan tutup antara jam dua belas siang sampai jam empat sore, tanpa kecuali.

Mau tidak mau, sehabis sholat Jum’at tadi aku haru pergi mencari aki untuk mobilku.

Ada sih, bagian dari diriku yang langsung menyerah dan lebih memilih untuk menyerah saja dengan menyalakan mobilku sampai sore nanti.

Akhirnya sih kupilih untuk meluncur saja ke area aksesoris mobil dekat rumahku, sambil berharap ada satu toko yang ternyata sudah buka setelah sholat Jumát.

Eh, ternyata benar saja, dari puluhan toko yang berjejer itu, tidak ada satu pun yang sudah buka. Huff…harapanku mulai hilang tuh…

Kuhubungi beberapa orang teman- temanku untuk menanyakan toko yang kira- kira tetap buka walaupun di hari Jumát siang. Mereka semua ternyata kompak, tidak ada yang tahu.

Mereka semua bilang bahwa di Qatar ini  tidak mungkin ada toko yang bakalan buka tengah hari bolong, di hari Jumát pula. Impossible, no way, you will not be able to find, ngga bakalan ada, ah pokonya mah, walau pun berbeda- beda tapi tetap satu jawaban.

Harapanku semakin menipis tuh!

Ah, tapi masih ada satu tempat yang belum ku coba di daerah Salwa road, kalau tidak salah sih ada pom bensin yang lumayan lengkap, dengan all service in one place.

Ketika tiba di sana, kulihat pom bensinnya sih buka. Dan aku masuk lebih ke dalam lagi ke arah tempat service mobilnya. Dan percakapan yang sangat mencerahkan pun terjadi.

Kutanya salah seorang penjaganya: “Are you open?”

“Yeah, we are open”! Dia pun menjawab dengan ramah.

“ You can change battery?”Tanyaku dengan muka yang sudah agak ceria, karena harapanku ternyata tidak sia-sia.

“If inside have battery same- same your car, I will fix to you!”Jawab dia. Wah, mulai deh, dialog Inggris tarzan terjadi kataku dalam hati.

“Your car where? Aswad sayara? Superman Car?” Tanya dia sambil menunjuk sebuah Chevrolet Corvette.

Jiah..Aku sih alhamdulillah saja kalau disangka empunya si neng Corvette itu. 😀

“No, my car there, that side, yamin ila aswad syara”Jawabku dengan bahasa Arab-Inggris Tarzan yang tidak kalah ngga nyambungnya dengan si doi.

Karena dialog Arab- Inggris yang sangat tidak nyambung ini terus berlangsung selama beberapa kalimat, akhirnya aku akhir saja dengan langsung menuju ruangan kantor bengkel itu.

Singkat cerita, digantilah aki mobilku dan mobilku bisa menyala seperi biasanya.

Walaupun hanya hal kecil dan tidak sedramatis kisah- kisah hidup di buku- buku motivasi, atau di dalam cerita- cerita Chicken Soup Series, tapi hikmah yang kudapat sangat besar.

Hikmah yang mengingatkan bahwa seringkali kita lebih mendengarkan ucapan manusia yang bilang tidak mungkin, tidak ada harapan. Bahwa seringkali kita mengalami atau mendapatkan kejadian yang kita alami dan orang- orang di sekitar kita yang sebenarnya tidak mungkin, tapi toh akhirnya tetap terjadi, dan sudah terjadi.

Jangan menyerah, walaupun sudah ada kalimat “tidak mungkin”keluar dari mulut seorang, atau bahkan beberapa, atau bahkan semua orang di sekitar kita.

Mungkin kita hanya kurang berusaha lebih keras, dan dengan sengaja menghapus harapan kecil yang seharusnya selalu ada ketika kita sedang berusaha, atau bahakn hanya sekedar berniat untuk berusaha.

Tidak ada yang mungkin kata Allah, jika kata Allah, jadi, maka jadilah!

 

www.didaytea.com

300920111457

Setelah bersimbah keringat di tengah teriknya matahari Doha