Category: Kisah dan Hikmah


“Mengingat kesulitan di masa lalu, kadang kita perlukan untuk menyadari bahwa betapa beruntungnya kita saat ini”

            Dinginnya ac di dalam bis sepanjang jalan Anyer hingga ke Cilegon langsung lenyap tak berbekas, terhapus oleh hawa lembab dan panas ketika belum sempat kaki kiriku beranjak ke luar dari bis jemputan itu.

Seperti biasanya, hawa dan lembab dan panas ini memang tipikal suhu dan kondisi udara sehari- hari di Cilegon dan daerah- daerah lainnya yang dekat dengan pantai dan daeran industri.

Dari Ramayana Cilegon, aku harus naik angkot lagi ke rumah kontrakanku.

Di dalam angkot, hawa panas dan lembab itu lumayan berkurang karena kuatnya AG (angin gelebug=angin besar) dari pintu dan jendela angkot yang terbuka lebar, membelai deras wajahku dengan debu yang terbawa dari jalanan, disertai wanginya harum bensin dan solar yang beriringan, serta mengibar-ngibarkan rambutku yang kala itu bergaya persis seperti Andy Lau: cepak dalem dan belah tengah…hehehe.

Tak sampai lima belas menit, angkot berwarna ungu itu pun kuhentikan dengan satu kata sakti jurus andalan para penumpang angkot: “Kiri…!”

Dari situ rumah kontrakanku masih lumayan jauh, kira- kira tiga ratus meter.

Berhubung hari itu tanggal dua puluh, jadi langkah kakiku agak sedikit lemah. Jauh berbeda dibandingkan langkah kakiku ketika tanggal dua puluh enam, ketika uang gaji masih utuh, hehehe..Jadi setelah hampir sepuluh menit baru aku tiba di depan rumah tipe dua satu bercat serba abu- abu yang kukontrak dua ratus lima puluh ribu per bulan sejak dua tahun yang lalu itu.

Tadinya sih aku ingin mampir dulu ke warteg untuk membeli makan, tapi apa daya, karena sindrom tanggal dua puluh sudah sedikit parah, jadi uang di dompetku hanya tinggal dua ribu rupiah, dan itu pun habis untuk membayar ongkos angkot.

Hawa lembab dan panas itu ternyata belum hilang saja, ya karena memang tidak mungkin hilang, secara, di rumahku memang tidak ada ac. Ketika masuk rumah, bukannya hawa dingin yang kunikmati, malah hawa panas yang lebih menyengat keluar dari dalam rumah ketika kubuka pintu.

Langsung kelemparkan tubuhku ke atas kasur Palembang di dalam  kamar. Aku ingin melepas lelah dan penat ini sejenak. Panas dan lembab aku lawan dengan menyalakan sebuah kipas angin, yang selalu menciptakan dilema di dalam hidupku. Jika dinyalakan, aku selalu masuk angin, tapi jika dimatikan aku tidak bisa menahan gerahnya efek panas dan lembab itu.

Tak sampai lima belas menit dan selepas adzan Magrib, aku beranjak untuk sholat dan berwudhu dengan air yang tersisa di bak mandi.

Bulan- bulan itu memang masa- masa tersulit dalam hidupku. Bagaimana tidak, saat itu aku harus mencari- cari uang yang tersisa. Aku merogohi satu- satu saku celana dan bajuku yang sudah kotor. Tapi belum kutemukan juga uang lima ribuan, sepuluh ribuan, atau bahkan sekedar ribuan yang terkumpul dan nyempil di dalam saku.

“Gawat, bisa ngga makan nih malam ini!” Aku mulai panik. Dan perutku pun ikut panik dengan mengeluarkan sekilas bunyi musik keroncong, seolah mengiyakan.

Ketika sedang asyik mengumpulkan baju kotor dan merogoh- rogoh saku- sakunya, tiba- tiba di luar terdengar suara petir yang luar biasa kencang.

“Jelegeeerr….!!!” Dor dar gelap, kalau kata orang Sunda. Suara petir itu sontak membuat aku terkaget- kaget sampai hampir terloncat dari dudukku.

Hujan yang sangat deras turun tiba- tiba tanpa disertai gerimis. Mungkin ini yang namanya hujan bandang, hehehe.

Tapi tak kuhiraukan suara hujan itu, aku langsung fokus lagi untuk mencari uang yang tersisa untuk membeli makan malam. Hujan masih bisa ditanggulangi, tapi lapar? Masih bisa juga sih, tapi perutku sudah keroncongan, dan tadi siang di tempat kerja sibuk luar biasa. Aku harus makan segera.

Eh, tidak lama kemudian, PET, listrik mati.

Gelap gulita lah kamarku seketika.

“Waduh! Gimana mau nyari duit, gimana mau makan? Cemilan pun sudah habis? Aku langsung mengutuk diri sendiri, kenapa tadi pake tiduran segala, bukannya langsung mencari uang. Kucek pulsa di hapeku pun sudah kosong total.

Aku pun langsung terduduk pasrah. Ya, ngga pasrah gimana, lha wong kamarku gelap gulita. Tangan sendiri pun tidak bisa kulihat.

Sambil duduk, aku masih berpikir positif, mungkin hujan ini bakal cuma sebentar. Walau pun ada sisi lain dari diriku yang berpikir lebih logis, bahwa hujan seperti ini biasanya lama.

Dan benar saja, ternyata sampai beberapa jam, ternyata hujan itu belum berhenti. Posisi tidurku mulai menggelosor menjadi setengah tidur dan akhirnya aku pun terlentang tanpa tertidur dalam kegelapan.

Penderitaanku malam itu makin lengkap ketika tiba- tiba aku merasa sesuatu yang dingin mengalir di punggungku.

Ya Allah, banjir! Lengkap lah sudah penderitaanku saat itu. Kebanjiran dan kelaparan di tengah kegelapan.

Eh, ternyata belum lengkap, ada satu lagi yang melengkapi kejadian malam itu.

Tiba-tiba terdengar suara bercuit yang lumayan kencang dari arah dapur. Aku pun mulai panik karena aku yakin itu adalah suara wirog (wirog=tikus got yang besar). Kalau aku digigit bisa kena penyakit pes nih.

Aku tutup pintu kamar dan kubendung banjir sebisanya dengan apa pun yang ada di dekatku, walau pun tidak terlihat. Kupaksakan diriku untuk berbaring dekat jendela dan kubuka gorden lebar- lebar agar setidaknya ada cahaya yang masuk, walau pun hanya kelebatan petir.

Sejujurnya pada saat itu aku ingin menangis dan meratap. “Ya Allah, kenapa lengkap sekali kau beri aku penderitaan kali ini? Dosa apa aku?” Kataku dalam hati.

Setelah itu aku langsung minta ampun, karena kupikir pasti ada hikmahnya dibalik penderitaan luar biasa, ah, sebenarnya sih tidak begitu luar biasa, hanya lumayan lengkap saja dan sangat menyedihkan. Hehehe..

Karena tidak kuat menahan lapar, dan keletihan, tidak terasa aku pun tertidur.

Ketika terbangun oleh suara adzan subuh, ternyata listrik sudah menyala kembali dan banjir pun sudah surut, walau pun menyisakan lumpur tebal yang menumpuk di depan pintu kamar.

Kupejamkan mata ini setelah membayangkan salah satu momen paling sulit dan menyedihkan dalam hidupku itu.

Ketika kubuka kembali kedua kelopak mataku pelan- pelan, kulihat ada sepasang anak kecil yang luar biasa lucu sedang tertidur pulas di kursi belakang dan seorang wanita cantik di antara mereka sedang tersenyum manis penuh cinta, dia sedang memegang sesendok nasi goreng yang aromanya luar biasa segar, sambil berkata: “Sayang, kenapa ngelamun? Ayo berangkat? Makannya sambil nyetir aja ya?”

Alhamdulillah, Maha Suci Engkau Ya Allah, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi, engkau telah cabut aku dari kesulitan hidup semacam itu dan kau beri aku kenikmatan dunia yang luar biasa besar.

Divana Divana

Divana Divana


Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu.

 

               Di dalam rentang waktu antara semasa diriku masih bersekolah di TK, sampai kira- kira kelas lima SD, hampir setiap tahun aku dirawat di rumah sakit. Kalau ngga gejala demam berdarah, ya gejala tipes. Biasanya sakitku muncul di antara pergantian musim.


               Masih terbayang diriku memakai kemeja kotak-kotak hijau putih dan celana hijau yang sedang ngarengkol di sudut ranjang khusus untuk anak kecil itu.


               Karena ibuku seorang perawat di rumah sakit itu, jadi dia tidak bisa selalu menjagaku selama dirawat. Jadi dia membekali aku dengan sebuah radio kecil.


               Tadinya sih tidak pernah kulirik sedikit pun si radio kecil ini. Boro- boro mau mendengar radio, yang ada pusing dan mual serta badan ini serasa remek karena demam tinggi yang hinggap di badanku sudah hampir mencapai empat puluh derajat celsius.


               Tapi, setelah sayup- sayup suara adzan Isya dari seberang rumah sakit sudah berlalu, kesepian pun mulai datang. Tidak ada perawat yang stand by di ruangan pasien. Hanya ada aku sendiri di dalam bunker bed di  kamar kecil khusus untuk anak- anak itu. Yang terdengar pun hanya suara jangkrik di tengah tebalnya kesunyian yang melandaku kala itu.


               Aku pun tidak tahan dan akhirnya kugapai radio yang masih teronggok di atas lemari kecil di samping ranjang besi tempat teronggoknya diriku juga.


               “Brrrrzzzzzzzzzzzzzzzz…………..”. Awalnya hanya suara gemerisik radio yang tiba- tiba membuat kamarku sedikit berisik. Kukecilkan volume radio itu sedikit dan kuputar gelombang radio.


               Tak lama kemudian, akhirnya kutemukan saluran yang terdengar sangat jelas.


               “Masih bersama saya, mister X di radio RX bandung, langsung saja kita putarkan lagu request dari Akang X juga, lagu romantis dari Kumar Sanu dan Kavita: Divana- divana…!” Suara lembut penyiar radio itu langsung seketika mengenyahkan kesepian itu dari kamar sempitku.


               “Divana- divaana, metera diivaana, tumera jaaneja, apkahi cunemi…” Hanya itu saja lirik yang kuhafal. Ternyata radio itu sedang memutar acara khusus request, seperti acara AMKMnya Sonora FM. Tapi  khusus lagu India saja.


               Tadinya sih mau langsung kupindahkan saja saluran itu, lebih baik ku pindah ke Radio Paramuda, Ardan, atau OZ yang memutar lagu yang lebih “jelas”.


               Entah kenapa, tiba-tiba kuurungkan niatku dan kusimpan kembali tanganku yang sudah terulur ke arah radio itu.


               Karena dingin akhirnya kutarik saja selimut ke atas tubuhku dan kuraih radio itu dan kusimpan di dekat kepalaku. Posisi ngarengkol seperi bayi, memeluk guling dan menghadap ke kanan adalah posisi tidur paling nyaman untukku ketika itu. Kucoba dengarkan lagu itu beberapa saat, dan entah kenapa lagi, lagu itu terdengar sangat adem di telinga dan nyaman di hati.


               Anak seumuranku di kala itu tentu saja belum mengenal apa namanya cinta. Walau pun tentu saja harus aku akui bahwa aku menyukai si teteh tetanggaku yang sering berangkat sekolah bareng itu…hehehe….Itu hanya cinta babon, belum mencapai tahapan cinta monyet sekali pun.


               Tapi semenjak itu dan sepanjang  delapan hari aku di rawat, setiap selepas magrib aku sudah “tetap stay tune” di radio itu. Hanya untuk menunggu lagu Divana- divana itu diputar. O iya, Divana itu artinya kekasihku.


               Dan benar saja, lagu itu memang favorit semua pendengar dan sedang merajai tangga lagu India di radio itu. Hampir semua perawat meledekku: “Anak kecil kok suka lagu India sih?” Tanya mereka dengan heran.

               “Wios weh da enakeun (biarin, lagunya enak kok!)” Jawabku dengan cueuk sambil kembali ngarengkol di ujung kasur besi itu.


               “Infeksi” ini akhirnya berlanjut selama beberapa minggu, hampir setiap magrib aku tunggu lagu itu untuk diputar. Dan bahkan kadang ada acara khusus menjelang tengah malam untuk memutar lagu- lagi India favorit pendengar. Hanya lagu itu saja yang bisa merasukiku sampai tahap seperti ituampai lagu itu sama sekali hilang, dan terhapus oleh kesibukanku bersekolah. Orangtuaku tidak bisa melarang dan juga tidak marah, mereka juga cuek. Kadang Divana- divana ini bersahut-sahutan dengan lagu2 Panbers favorit Bapak dan Ibuku.


               Tak pernah kubayangkan ketika suatu hari kelak aku akan tinggal di negara yang diihuni ribuan, puluhan ribu, eh, bahkan ratusan ribu orang India.


               Ya, kini aku di sini, sebuah negara timur tengah yang mayoritas penghuninya adalah orang India.


               Tapi sayang sekali,walau pun di kantin hampir setiap hari diputar lagu India, sampai sekarang diriku belum terkontaminasi lagi oleh lagu India semacam Divana- Divana itu.


               Dan ketika kucoba cari lagu itu di youtube, ternyata lagu itu tidak terdengar seenak dulu lagi. Sekarang aku malah merasa agak risih. Hanya senyumku dan tawa renyah istriku yang timbul ketika kuingat bahwa aku pernah tidur berbulan-bulan dengan lagu itu. Ngefans abis- abisan.


               Ah, selama masih hidup, yang namanya manusia pasti bisa berubah dan bisa dirubah seiring dengan berjalannya waktu. Kalau tidak berubah sendiri, ya kita akan berubah dan dibentuk oleh lingkungan sekitar kita.


               Jangan takut untuk menerima perubahan-selama itu positif-dan memulai perubahan di dalam diri, keluarga, dan bahkan kehidupan kita. Karena seringkali perubahan kecil akan membuat kita terbang tinggi ke arah yang lebih baik.

               Dijamin!


www.didaytea.com 

Kepiting Laut

                 Jalan Banda, itu adalah cabang pusat dari studio photo yang paling terkenal di Bandung. Tadinya mau kusebutkan Jonas Photo, tapi ngga enak lah, takut malah jadi promosi.

Baru saja kami keluar dari studio itu, setelah penantian yang sangat lama untuk mewujudkan mimpi keluargaku untuk bisa berfoto bersama.

Eh, ternyata hujan sodara- sodara! Tiba- tiba ngagebret kata orang Sunda mah.

Yah, apa daya, kami hanya bisa menunggu. Tempat parkir mobil lumayan jauh dari tempat itu, dan kami lupa meminta nomer hp supir pula. Lengkap sudah deh. Kami mau tidak mau harus nagog di pinggir jalan.

Setelah beberapa puluh menit menunggu, akhirnya…. hujan pun tetap tidak mereda..hehehe..

Ya, akhirnya terpaksa kukeluarkan payung yang baru saja kubeli di dalam, dan minta tolong salah seorang dari kami untuk memanggil supir.

Alkisah dan walhasil, kami semua akhirnya sudah berada di dalam mobil.

Tujuan kami selanjutnya sih ke BIP, untuk mencari makan. Maklum lah, setelah hampir tiga jam mengantri untuk difoto, perut kami semua sudah keroncongan dan bertalu- talu, meminta untuk segera diisi.

Aku check GPS , ternyata BIP hanya berjarak 1,5 kilo meter saja dari Jalan Banda. Harusnya aman dong, paling lambat sepuluh atau lima belas menit pasti kita sudah berada di depan meja D’Cost untuk menyantap menu makanan yang luar biasa murah tapi mak nyos itu (katanya sih itu juga…).

Dasar perut kita memang kurang beruntung, ternyata baru saja keluar dari perempatan, bukannya lancar, yang terhampar di depan mata malah kemacetan (hampir) total.

Duh! Hampir setengah jam keluar dari perempatan Jalan Banda, kami masih saja terjebak di tengah ratusan mobil yang seolah sedang bernyanyi, membunyikan klakson bersahut-sahutan.

Apalagi di pinggir jalan hampir semuanya kafe, makanan, warung, kios Klappertart, tukang Gehu Jeletot, Seripik Kingkong dan teman-temannya yang malah membuat air kita terus terbit ke atas bibir, walaupun tidak sampai mengalir ke samping pipi. Dan lantunan musik keroncong di perut kami semua pun semakin dahsyat. :D

“Pak, tolong nyalain radionya dong!” Adikku setengah berteriak ke supir.

“Siap Neng!” Jawab si Bapak Supir sambil dengan sigap memijat, eh, memijit, aduhhh, memencet tombol on di tape mobil.

Dasar kamu kepiting laut

Banyak cewek bertekuk lutut

Guk Angguk Angguuk

Gut Manggut Mangguut

Semua kepincut

 

Waduh, ternyata begitu radio menyala, langsung deh terlantun lagu dangdut yang belum pernah kudengar sebelumnya. Dari warnanya sih, yaa sejenis “Basah- Basah”-nya Hesti Damara atau “SMS” gitu lah.

“Pindahin aja Pak, lagu kieu kok didengerin sih!” Kataku kepada supir.

Malah kedua adikku yang heboh.

“Jangan dipindahih A, itu enakeun geura, Judulnya Kepiting Laut!” Teriak kedua adikku dengan semu rada histeris tea geningan.

                 Risih juga lah dengernya, lha wong musik jedak jedug, dan sedikit tidak puguh gitu. Langsung kupindah lagi ke saluran sebelumnya deh. Dan juga entah kenapa, si kembar malah suka lagu semacam itu.

Selama perjalanan 1.5 kilo meter yang rasa-rasanya perjalanan terpanjang dan terlama di Bandung itu, si Kepiting Laut itu terus saja mengiang- ngiang di telingaku.

Dasar kamu kepiting laut

Banyak cewek bertekuk lutut

Guk Angguk Angguuk

Gut Manggut Mangguut

Semua kepincut

 

 

Duh, kenapa Bandung semakin macet dan lagu- lagu kaya gitu malah semakin laku aja ya?

Didaytea

130720111627

Yang masih merasa ada di Bandung

 

               Pagi hari di 30 Juni 2001.

Hari itu adalah hari paling campur aduk di dalam hidupku selama bersekolah di SMKN 13.

Gembira. Iya lah, karena itu hari kelulusanku.

Sedih, karena aku harus berpisah dengan orang-orang yang sudah sangat dekat selama empat tahun bersekolah. Perpisahanku dengan teman-teman dekatku bahkan diiringi isak tangis oleh beberapa teman yang menjadi secret admirerku, eh, kebalik ketang, teman- teman yanm diam-diam pernah ku secret admirer-i, hehehe…pasti yang kenal mah tahu lah. Kita sama- sama tau aja, jangan bilang- bilang ya!

Lega, eh, tunggu dulu, bukan hanya lega, tapi suueeperrrr lueggaaa! Iya lah, karena aku akhirnya lulus juga setelah lima tahun bersekolah di sana.

Lima tahun? Ya lima tahun. Karena aku pernah tinggal kelas di tahun pertama. Hampir sama lamanya dengan sekolah SD.

Dua tahun terakhir menjadi masa-masa paling berat di kehidupanku selama bersekolah.

Bukan karena beratnya pendidikan di SMKN 13, tapi beratnya beban moral yang harus kutanggung selama mengenakan seragam putih abu-abu. Ketika teman-teman seangkatanku sudah lulus dan kuliah bersemester- semester, aku masih saja setia dengan “Putih Abu-Abu”.

Ledekan dan cemoohan mah sudah tak terhitung lagi.

“Ari ente sakola di mana euy, naha teu lulus lulus?”

“Wiihh…awet ngora euy!” Pujian yang satir.

“Urang mah geus semester dua, naha ente mah masih keneh diseragam?”

Ketika di kelas tiga sih, aku masih bisa menanggapi pertanyaan- pertanyaan dan ledekan itu dengan kalimat andalanku: “Sekolahku di SMKN 13, sekolahnya empat tahun, kaya STM Pembangunan”.

Nah, ketika kelas empat yang sangat berat. Tadinya aku ingin menutupi hal yang tadinya kuanggap aib. Aku berniat untuk berangkat dengan baju bebas lalu berganti seragam di rumah temanku yang dekat dengan sekolah.

Ah, tapi setelah merenung, aku rasa tampil apa adanya lebih baik. Aku akan menghabiskan energi terlalu banyak jika ingin menutupi statusku yang pernah tidak naik kelas ini.

Dan ternyata benar saja, pertanyaan dan ledekan itu tidak bertahan lama, selesai dengan jawaban yang apa adanya: “Saya pernah tinggal kelas!”

Sampai tanggal 30 Juni itu, alhamdulillah, sekolahku lancar-lancar saja.

Dan Alhamdulillah, tinggal kelasnya aku ternyata menyimpan hikmah tersembunyi yang sangat luar biasa besar di masa depan.

Aku lulus dengan nilai rata-rata 7.55, entah ini peringkat ke berapa, tapi itu adalah hal yang sangat luar biasa di tengah persaingan yang super ketat, layaknya Petir atau Big Brother.

Tanggal 30 Juni aku memang masih siswa SMK, tapi beberapa bulan sebelumnya aku dan empat temanku sudah menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan Petrokimia di Merak, Cilegon.

Tanggal 30 Juni adalah hari Sabtu, dan hari Senin, tanggal 2 Juli 2001 satu adalah hari pertama kerjaku.

Alhamdulilah, kami berlima tidak pernah mengalami satu hari pun dengan menyandang status tidak punya pekerjaan.

Dan hikmah terbesar yang disembunyikan oleh Allah selama bertahun-tahun, ya kondisiku sekarang ini.

Kondisiku yang menjadi impian banyak orang yang belum bisa menggapainya. Bekerja di luar negeri, Allah menganugerahkan kepadaku wanita yang luar biasa dan bisa mencintaiku apa adanya, dan telah memberiku sepasang malaikat kecil yang lucu- lucu.

Aku akhirnya bisa melunasi impianku untuk membelikan rumah untuk orangtuaku.

Aku akhirnya bisa memulai kuliah lagi.

Ah, Allah mah memang Maha Adil ya!

Kitanya saja yang sok tahu tuh, sok bisa mengatur kehidupan kita sendiri. Sok tahu mana yang paling baik untuk kehidupan kita.

Dia tidak akan pernah mentakdirkan suatu keburukan untuk hamba-Nya. Tidak naik kelas yang Allah takdirkan, ternyata adalah “tiket” untuk hal-hal luar biasa yang telah kucapai, dan untuk menggapai impianku yang jauh lebih besar untuk masa depanku kelak.

Diday Tea

120720111221, Setelah sepuluh tahun lulus. J

 

                Miris, sedih, kecewa. Itu yang kurasakan ketika baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahiranku, Bandung.

Masih terbayang beberapa tahun yang lalu, di masjid sebelah rumahku masih ada yang mengaji setiap sehabis sholat magrib. Sekarang sudah sepi.

Masih terbayang ributnya anak-anak kecil yang masih olol leho (ingusan), berjilbab walaupun lusuh, berbaju koko walaupun belel, memakai sarung walaupun milik kakaknya, sehingga harus selalu mereka pegangi agar tidak merosot. Aku yakin mereka lebih dekat ke miskin daripada berkecukupan. Aku masih ingat puluhan anak-anak itu minta diantar olehku, dan sambil berjalan, mereka bersholawat bersama sekencang-kencangnya, atau mengaji, bahkan ada yang sesekali menyelingi dengan lagu Sheila on Tujuh, eh Sheila on 7. Indah dan Kurindukan.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, hal itu tidak kulihat lagi.

Detik pertama aku memasuki kota Bandung, selepas Gerbang Tol Pasir Koja, aku sudah disuguhi pemandangan yang dulu sangat jarang kulihat. Girls with hot pant (gadis dengan celana panas, eh celana super pendek)yang sedang menunggu bis. Waduh, rasa- rasanya baru dua puluh dua bulan aku tidak ke Bandung, kenapa tiba- tiba ada pemandangan seperti ini. Ah, mungkin saja itu hanya kebetulan, mungkin orang luar kota yang sedang mampir ke Bandung.

Beberapa ratus meter kemudian, dugaan “kebetulan” itu mulai hilang, karena ada sepasang muda-mudi, dan tidak mungkin suami istri,  sedang berboncengan. Dan si cewek yang di belakang, mengenakan celana dengan model yang sama persis dengan yang kulihat beberapa ratus meter sebelumnya.

Dan ternyata, itu hanya beberapa saja dari puluhan hal serupa yang kulihat sepanjang jalan dari Gerbang Tol Pasir Koja ke tempat kelahiranku Bonji, yang hanya berjarak beberapa kilometer saja.

Memasuki daerah Bonji, sejujurnya sih aku berharap untuk tidak melihat lagi pemandangan semacam itu.

Dan harapanku itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.

Baru juga memasuki gerbang jalan, sudah ada tiga orang cewek, di tengah gerimis, memakai “celana panas” itu lagi!

Dan yang paling menyedihkan, mereka itu anak- anak kecil olol leho  yang mengaji ke mesjid setiap hari.

Dan sampai beberapa hari kemudian aku berkeliling di Bandung, pemandangan yang sama masih kuliahat saja. Di BIP, Bandung Supermall, di jalan, Yogya Kepatihan, pasti ada saja kulihat cewek yang memakai celana panas itu.

Duh!

Entah apa penyebabnya. Mungkin banyak orang Bandung yang semakin miskin, sehingga sekarang makin sedikit orang tua yang mampu membelikan baju yang pantas untuk anaknya.

Semoga itu hanya ketidakberuntunganku saja sehingga aku disuguhi pemandangan seprti itu.

Semoga pemandangan semacam itu tidak kulihat lagi di Bandung.

Diday Tea

1207201102:16, ditemani oleh Gipang Super Original

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.