Category: Kisah dan Hikmah



“Hidup merantau akan sangat menyenangkan jika kita bisa membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas kita”

“Om, kata Papah nanti malem gabung ya, ikutan nonton bareng sama penduduk gang Mangga, sekarang kan final!” Ajak seorang gadis belia  yang sudah beranjak remaja sambil ikut melangkahkan tubuh semampainya disampingku.

“Insyaallah ya, Om masih cape nih, tadi abis lembur langsung lanjut kuliah!” Jawabku sambil melangkah sedikit gontai, karena hari itu sangat melelahkan.

“Ohhh..gitu. Ya udah, Neng bilang deh nanti sama Papah. Om istirahat dulu aja, biar nanti malam bisa gabung. Daahhh…!” Gadis anak tetanggaku itu melambaikan jemari lentiknya sambil berlari membawa tikar dan sebuah termos.

Akhirnya hanya sebentar kutengok acara nonton bareng itu, karena mata ini sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Aku pamit pulang kepada semuanya, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ah, bagiku sudah cukup, asal sudah menampakkan diri saja di depan penduduk gang Mangga, sebutan untuk gang tempat tinggalku di komplek perumahan itu.

Ketika sampai di rumah, ternyata rasa kantuk itu malah hilang lenyap tak berbekas.

Ketika riuh rendahnya teriakan histeris dan sorak sorai tetangga- tetanggaku membahana dan bergema sampai ke pintu kamarku, aku hanya teronggok pasrah dan kelelahan di atas sehelai kasur Palembang tipis berwarna biru seharga dua ratus ribu itu.

Ketika teriakan kecewa pendukung Perancis bergema lagi di pintu kamarku karena Italia berhasil menyamakan kedudukan, aku hanya bisa terkaget- kaget dan memandangi screensaver layar monitor CRT 14 inciku dengan tatapan kosong.

Ketika teriakan mereka menderu semakin kencang, karena ternyata pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti, aku hanya terduduk dan mengintip dari balik jendela kamarku yang malam itu terasa gerah luar biasa. Kulihat belasan keluarga berkumpul dan berteriak- teriak histeris karena tegangnya adu pinalti yang akhirnya dimenangi negeri para Gladiator.

Aku tak bisa keluar rumah dan bergabung dengan mereka, karena besok aku sudah harus bekerja lagi. Aku harus memanggil rasa kantukku lagi agar bisa tidur secepatnya.

Ketika sedang melamun dan setengah tidur, tiba tiba ada yang membunyikan pagar depan rumahku. Ternyata si Neng itu lagi.

“Om, ini buat Om!” Katanya sambil menyodorkan baki berisi gorengan, dadar gulung dan segelas teh  manis yang masih mengepulkan asap.

“Waahh…Makasih banyak ya!” Aku ambil saja cemilan dan gelas teh manis itu. Kukembalikan baki itu.

“Italia yang menang Om, adu pinalti loh!” Kata si Neng dengan semangat. Padahal dia juga harus sekolah, tapi aku heran,kuat juga dia begadang sampai hampir subuh.

“Oya, waah..berarti tim jagoan Om menang dong?” Jawabku dengan antusias.

“Iya tuh Om, Italia memang hebat, ada Del Pieeero sih!” Si Neng menjawab lagi dengan suaranya yang sedikit melengking.

“Ya udah deh, met istirahat ya Om, Neng mau bantuin Mamah sama Papah beres-beres dulu!” Pamitnya.

“Iya nih, Om juga harus tidur cepet- cepet nih, besok harus kerja lagi!” Jawabku sambil berlalu ke dalam rumah.

Hampir semua penduduk di kompleks perumahan itu adalah pendatang.

Suasana di sana sudah tidak seperti perumahan yang identik dengan egoisme penduduknya yang tidak mau kenal dengan tetangga sebelah.

Kebanyakan mereka memulai hidup dan beranak pinak di sana sejak tahun delapan puluhan, jadi walau pun strukturnya sama seperti kompleks perumahan lainnya tapi persaudaraan di antara tetangga sudah sangat erat, sudah hampir sama seperti di daerah asal masing- masing saja.

Di gang itu, hanya aku yang bujangan. Karena aku mengontrak rumah sendiri dan tidak ngekos seperti teman- teman kerjaku yang masih belum menikah.

Tapi aku tidak merasa sendirian, aku seperti memiliki keluarga yang sangat besar.

Si Neng depan rumah dan keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Pak RT sebelah rumah juga sudah seperti ayah sendiri yang selalu membimbing dan mengayomi warga yang lain. Penjual Nasi goreng dan pemilik warung di ujung jalan pun sudah sangat akrab, sudah seperti koki pribadi saja yang bisa dipesan makanan kapan pun aku lapar, bisa diutangin pulsa kapan pun aku mau.

Hampir semua bapak- bapak di gang itu kenal denganku.

Setiap Minggu, selalu ada acara pengajian rutin dari gang ke gang, dari blok ke blok di seluruh komplek perumahan itu.

Ah, selain panas dan gerahnya kota Cilegon, selebihnya hampir tidak ada yang berbeda dengan Bandung, kota kelahiranku. Bedanya hanya aku jauh dari Bapak, Ibu dan Adik- adikku. Itu pun hampir setiap minggu aku bisa bertemu mereka.

Orang Sunda cenderung lebih senang tinggal di “kandang”. Ketika akan pergi ke Cilegon pun, orang tuaku pada awalnya kurang setuju.

Bahkan ada sindiran satir kalau hampir semua orang Bandung punya keinginan yang sama, lahir di Bandung, sekolah di Bandung, kerja di Bandung, menikah dengan orang Bandung, punya rumah di Bandung, beranakpinak di Bandung, dan kelak jika sudah meninggal pun ingin dikubur di Bandung.

Sempat ada keraguan yang terbit di hati, dan ketakutan yang timbul di diri, karena aku akan berangkat merantu, bekerja ke tempat yang sama sekali belum pernah kukunjungi sebelumnya.

Alhamdulillah, ternyata merantau itu indah. Allah memberiku jodoh di perantauanku yang pertama.

Alhamdulillah lagi, setelah hampir tujuh tahun di Cilegon, empat tahun lalu Allah mentakdirkan aku merantau lebih jauh lagi, kali ini sampai ke Timur Tengah. Merantau kuadrat, karena kali ini sangat jauh, ribuan kilometer dari Bandung. Dan Allah pun melimpahkan lebih banyak lagi rejeki dan banyak hal yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya.

Hidup merantau, jauh dari kampung halaman, berpindah dari tempat kelahiran itu tidak seburuk dan sesulit dari yang kupikirkan sebelumnya.

Merantau itu bagus untuk melakukan akselerasi di kehidupan kita.

Merantau itu sangat bagus untuk mempersiapkan masa tua kita yang lebih baik.

Merantau itu menggoreskan lebih banyak warna untuk cerita kehidupan kita.

Merantau akan selalu menyenangkan jika kita bisa memiliki dan membangun hubungan persaudaraan yang baik dengan tetangga dan komunitas di mana kita berada.

Merantau pasti akan membuat hidup kita lebih hidup.

Mari kita merantau!

 

www.didaytea.com

Kakek- kakek di Baris Pertama

 

Di Mesjid terbesar di RW tempatku tinggal, setiap tempat di baris pertama di mesjid itu seolah sudah mempunyai nomor tiket dan sudah dibooking oleh para kakek-kakek itu.  Sebelum adzan berkumandang, tubuh- tubuh renta dan ada yang sudah sedikit bungkuk itu sudah berdiri dengan rapi di baris pertama. Mereka sudah mempunyai, atau tepatnya membooking tempatnya sendiri- sendiri. Yang lowong hanya tempat sang muadzin dan tempat imam. Jamaah selain mereka, murid dan guru TPA tidak akan berani mengambil tempat mereka sebelum memastikan bahwa yang “ punya kapling” memang benar- benar tidak datang. Dan juga, para kakek- kakek ini memang selalu datang jauh lebih awal dari waktu sholat. Di antara para kakek- kakek itu salah satunya adalah kakekku.

Sejak aku mulai mengajar Iqra di TPA itu, ketika aku masih mengenakan seragam putih-abu, sampai terakhir kali aku pergi merantau ke Cilegon, “Baris  Pertama Fans Club” ini tidak berubah sama sekali. Hanya sholat Ashar dan Zhuhur berjamaah, kadang beberapa dari mereka yang absen mengisi baris pertama ini.

Sisanya, sholat Jum’at, Subuh, Magrib dan Isya, bahkan sholat Idul Adha dan Idul Fitri pun, shaf pertama selalu menjadi “daerah kekuasaan” mereka.

Hampir di setiap acara pengajian, “kelompok baris pertama” ini tetap istiqomah dan selalu berada di tempat yang sama.

Aku melihatnya sebagai sebuah keindahan dari keteladanan.

Ada sih, yang melihatnya sebagai monopoli dan penguasaan sepihak, tapi kalau dipikir- pikir sih, ya itu salah mereka, tidak datang lebih dulu dari mereka.           Ada juga yang melihatnya sebagai sebuah kewajaran. Karena secara, mereka kan sudah tua, sudah dekat dengan kematian.

Sudah seharusnya mereka memang bersemangat seperti itu.

Setelah aku hijrah ke Cilegon, aku pulang mudik ke Bandung biasanya satu bulan sekali.

Ketika pulang, tak pernah kulewatkan kesempatan untuk berjamaah di mesjid yang gerbang sampingnya berseberangan dengan pintu belakang rumah ku itu. Selain untuk bersilaturahmi dengan teman- teman mengajiku, dan murid- muridku di TPA mesjid itu, aku juga ingin melihat dan bersilaturahmi dengan para penghuni baris pertama.

Tahun- tahun pertama tidak ada yang berubah. Sosok tubuh- tubuh renta renta itu masih penjadi penghuni baris pertama.

Kira- kira lima tahun setelah aku meninggalkan Bandung, kabar buruk pertama akhirnya datang. Adikku mengirim sms, memberi tahu bahwa salah satu kakek- kakek di baris pertama ada yang meninggal. Katanya karena stroke.

Entah kenapa, hatiku langsung bergetar dan spontan mendo’akan si kakek itu agar mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana. Aku mendo’akan agar keistiqomahannya sholat di mesjid, dan baris pertama itu menjadi tiket untuknya ke surga yang terindah kelak.

Ujung mataku tak mampu menahan jatuhnya air mata yang entah sedih, atau terharu, ketika kabar itu sampai ke telingaku.

Ketika aku pulang setelah kabar itu, penghuni tempat yang biasa di booking oleh si kakek  sudah berganti. Kali ini tidak ada yang permanen mengisi tempat itu.Sosok tubuh yang berdiri di sudut itu selalu berganti setiap waktu sholat.

Sudah takdir manusia untuk akhirnya harus menghadap penciptanya.

Tahun demi tahun berganti, dan akhirnya satu demi satu dari mereka pun mulai berguguran”, menyusul si kakek pertama.

Ada yang sudah meninggal dan ada juga yang sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke mesjid.

Sampai terakhir aku pergi ke Qatar, hanya kakekku saja dan dua orang kakek lainnya yang tersisa di baris pertama. Dan hanya mereka juga yang tersisa. Hanya mereka yang masih hidup dari lima belas orang kakek- kakek penghuni baris pertama.

Semoga mereka yang masih hidup tetap istiqomah menjaga kondisi mereka seperti sekarang, sehingga mereka bisa meraih Husnul Khotimah, akhir yang baik di kehidupan meraka.

Dan semoga segala usaha, dan keletihan mereka untuk selalu membawa tubuh rentanya berjalan ke mesjid akan menjadi tiket untuk syurga yang terindah untuk mereka kelak.

Semoga Allah memberikan aku dan semua muslim kekuatan agar aku bisa memiliki keistiqomahan untuk bisa sholat berjamaah ke mesjid sampai tua seperti para kakek- kakek penghuni baris pertama itu.

Amin.

Sariawan Terindah


“Sebelum Allah mengambil kenikmatan hidup kita, ingatlah selalu untuk selalu beryukur untuk nikmat yang Allah berikan di sekujur tubuh, dari ujung rambut sampai ke ujung kuku”

Tidak ada orang yang akan bisa lupa bagaimana pedihnya ketika ada sariawan di dalam mulut.

Penyebabnya sih macam-macam, dari hanya sekedar luka karena tergores oleh sikat gigi, sampai efek samping dari panas dalam.

Apa pun penyebabnya dan sebagaimana pun  besarnya, tetap saja, “kenangan terindah” bersama si sariawan ini pasti hanya satu: rasa pedih yang nyelekit sampai ke ubun- ubun.

Baru beberapa hari ini ada sariawan yang lumayan besar datang berkunjung di dalam mulutku. Bentuknya seperti kawah putih yang terbentang di area pipi kanan dalam dan gusi kananku. Kali ini lebih besar dari sariawan- sariawan yang biasanya. Luasnya sekitar satu sentimeter persegi.

Letak dan luasnya sangat strategis sekali untuk menimbulkan rasa pedih yang sangat maksimal dan rasa sakit yang super mantap di dalam mulutku.

Apa pun aktifitas yang melibatkan mulutku, luka sariawan itu pasti akan tersentuh. Dan sekecil apa pun sentuhan di daerah itu pasti akan memancing mengamuknya syaraf- syaraf sakit di otakku untuk berunjuk rasa hebat menimbulkan rasa pedih yang luar biasa dahsyat. Pedih yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Walaupun kecil, tapi si sariawan ini sangat mengganggu irama hidup kita.

Mengunyah makanan terasa seperti mengunyah puluhan jarum peniti

Minum air putih terasa seperti minum air aki

Menyikat gigi harus super hati- hati

Menggigit makanan pedihnya setengah mati

Berbicara pun jadi setengah hati

Karena pedihnya super sekali

Pedihnya yang kurasakan selama sepuluh hari sariawan itu berada di mulutku, entah kenapa membuatku sama sekali lupa bahwa aku pernah merasakan kenikmatan dari segar dan pedasnya tongseng ayam buatan istriku. Atau sensasi pedas dan panas yang luarbiasa enak ketika renyahnya toge, kol, dan wortel cincang yang berpadu di dalam sebuah gehu yang dicolekkan ke sepiring kecil saus sambel lampung. Atau hanya sekedar sejuknya segelas air putih yang kuminum setelah kelelahan sehabis bermain sepakbola.

Aku sampai lupa bagaimana nikmatnya makan dan minum. Aku lupa bagaimana nikmat dan lezatnya asin cumi, tahu tempe goreng yang berpadu dengan pulennya nasi beras merah dan sensasi panas dan pedasnya sambel terasi khas Sunda serta segarnya lalapan segar masakan istriku.

Jangankan makan dengan menu semewah itu (di Qatar, menu seperti ini adalah menu yang mewah, karena harganya yang lumayan mahal), hanya seteguk air minum yang tak sengaja melalui daerah sariawan itu, sudah terasa seperti puluhan jarum yang menusuk- nusuk dari bawah pipi hingga kepala. Sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun.

Ada salah satu obat yang sering kupakai ketika si sariawan ini datang tak diundang. Biasanya sih sekali dicolek, obat ini akan tokcer menghilangkan sariawan. Walaupun ketika dicolekkan ke atas sariawan akan terasa pedih luar biasa, tapi tidak sampai tiga hari, sariawan itu akan hilang tak berbekas.

Entah karena kali ini sariawannya terlalu besar atau penyebab yang lain, hampir seminggu belum sembuh juga.

Kupakai obat itu dengan berbagai cara, dari penggunaan normal yang hanya sekedar dicolekkan, kupakai berkumur- kumur. Dan bahkan sampai saking frustasinya, langsung kuteteskan obat itu langsung diatas sariawan.

Bukannya sembuh, pedih luar biasa yang kurasakan itu malah semakin dahsyat.

Aku pun menyerah.

Selama beberapa hari, “kunikmati” saja rasa pedih yang dahsyat itu sampai ke ubun- ubun.

Alhamdulillah, ternyata ada temanku di kantor yang mempunyai obat sariawan yang lebih mujarab (katanya).

Tentu saja tidak ada pilihan lain selain kucoba saja obat itu.

Walau pun prosesnya lebih lambat, tapi Alhamdulillah, setelah lima hari, pedih yang sampai ke ubun- ubun itu sudah sangat berkurang dan hilang sama sekali di hari ke sepuluh.

Ternyata kita bisa dengan mudahnya melupakan semua kenangan indah nikmatnya memakan makanan enak, hanya dengan sekedar sebuah luka kecil bernama sariawan yang Allah takdirkan di dalam mulut kita.

Sebelum Allah mengambil kenikmatan hidup kita, ingatlah selalu untuk selalu beryukur untuk nikmat yang Allah berikan di sekujur tubuh kita, dari ujung rambut sampai ke ujung kuku.

Nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan?

“Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA”

 

Jika ada yang masih ingat, belasan tahun lalu ada iklan sebuah baterai yang super awet. Di dalam iklan itu diperlihatkan sebuah mainan kelinci yang masih saja anteng menabuh drum dengan kuatnya di saat baterai- baterai dengan merek lain sudah tidak bisa bergerak lagi.

Seperti itu juga kondisiya dengan bayi perempuanku yang baru berumur tiga belas bulan.

Sekarang, dia hanya punya tiga kegiatan besar: minum susu, tidur, dan bermain.

Minum susu dan tidur sih sama sekali tidak bermasalah untuk kami orang tuanya.

Tapi ketika dia sedang bermain, baik sendiri atau pun dengan kakaknya, hmmmm….itu baru tantangan yang sesungguhnya.

Bayangkan saja, kalau dia bangun, hampir tidak ada sedetik pun yang dia habiskan untuk diam. Kaki- kaki mungilnya selalu bergerak dengan spartan dan konstan menyusuri setiap jengkal lantai di rumah kami.

Hampir sepanjang hari, dia akan titirilikan (entah apa ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kecil atau mungil dan bergerak dengan sangat cepat dengan arah yang acak.. :D )

Jari- jari kecilnya akan menggenggam apa pun di depannya tanpa ragu.

Tangan mungilnya juga yang akan oprek barang- barang apa pun yang dia temukan. Lalu dia tumpuk, susun, lempar, injak, jilat, dan bahkan kalau sedikit saja luput dari pengawasan kami, dia akan memakan apa pun yang dia rasa enak.

Jika saja mainan- mainan itu hidup, tentunya di ruangan itu akan terdengar riuh –rendahnya teriakan kesakitan dari para mainan yang terlempar ke sana ke mari, terinjak berulang kali.

Tapi ada juga sih sedikit keributan , yaitu teriakan kakaknya yang kadang kesal ketika sedang memegang iPad tiba- tiba dilempar oleh mainan mobil, atau ketika sedang asyik bermain dan menyusun lego, tiba- tiba makhluk kecil dan imut itu lewat begitu saja sambil menginjak bangunan yang sudah dia susun dengan susah payah.

Apa pun yang berada di dalam wadah tidak akan luput dari “percobaannya” . Makanan, minuman, mainan lego milik kakaknya, biskuit yang kadang kami lupa menutup wadahnya akan sukses berpindah dari wadahnya ke atas lantai yang sudah penuh sesak dengan ratusan potongan dan patahan mainan.

Analogi “kapal pecah” mungkin sudah tidak relevan lagi untuk menggambarkan keadaan rumah kami jika si bayi sudah beraksi. “Kapal dibom” atau “kapal meledak” rasanya lebih tepat.

Persis seperti mainan kelinci di iklan baterai tersebut, energinya seperti tidak pernah habis. Dengan minum susu sebentar dan tidur hanya beberapa puluh menit, kecuali malam, “baterai” di dalam badan mungil, pejal dan montok itu sudah terisi penuh dan kembali bergerak dengan aktif.

Sudah tak terhitung berapa kali tubuh montoknya itu jatuh berdebam di atas lantai karena terpeleset mainan atau mobil- mobilan yang berserakan di lantai.

Sudah tak terhitung pula istriku harus mengepel lantai dari tumpahan susu, coklat, selai, biskuit dan “hasil karya” seniman mungil imut yang montok dan super lucu itu.

Dalam sehari, istriku bisa tiga kali membereskan mainan yang hampir sama sekali tidak menyisakan ruang untuk sekedar menginjakkan kaki pun di ruang tamu.

Ah, pokoknya, kadang terlintas di pikiran bahwa bayi dan anak- anak adalah makhluk yang sama sekali tidak berguna, hanya merepotkan saja.

Ternyata sama sekali tidak seperti itu.

Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA.

Ilmuwan adalah seorang “anak kecil besar”.

Dan seorang anak kecil adalah seorang “ilmuwan” cilik.

Bayi dan anak kecil, seperti layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, hanya melakukan satu hal, yaitu belajar. Mereka tidak perlu memikirkan lagi tentang makanan, minuman, dan kehidupan mereka karena sudah ditangani oleh orang lain.

Mereka mempunyai kemampuan dan kapasitas belajar yang sangat luar biasa. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi di periode nol sampai dua atau tiga tahun/

Mereka akan mempelajari bagaimana barang- barang di sekitar mereka bekerja.

Mereka akan mengamati bagaimana sikap orang- orang di sekitar mereka.

Mereka akan mencari tahu bagaimana perkaitan antara sesuatu hal yang disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tentu bukan “sesuatu”nya Syahrini. Hehehe.

Mereka akan selalu melakukan percobaan- percobaan tertentu, hanya untuk sekedar ingin mengetahui sesuatuyang kdang berbahaya buat mereka. Si mungil akan tanpa ragu memegang colokan listrik tanpa ada rasa takut tersengat aliran listrik sebelum orang tuanya panik dan berteriak- teriak, atau bahkan langsung menggamit tubuh mungilnya menjauh dari area colokan listrik itu.

Ada periode di mana mereka akan mencoba memakan apa pun yang mereka pegang.

Mereka belajar seperti spons yang menyerap air. Bahasa, Sikap, perilaku, kata- kata orang tua, televisi, film, musik, lagu, tingkah laku kakaknya, akan mereka tiru atas nama “penelitian” pribadi mereka.

Mungkin ini adalah jawaban kenapa manusia menjalani masa kecil atau masa anak-anak lebih panjang dibanding dengan makhluk lainnya.

Allah mentakdirkan kehidupan manusia lebih lama di dalam masa anak- anak, untuk mempersiapkan diri seorang manusia dalam menghadapi keras dan rumitnya kehidupan seorang manusia dewasa kelak.

Bayangkan saja, sorang anak kuda atau rusa akan bisa berjalan dengan tegap bahkan berlari, hanya setelah satu jam dia dilahirkan.

Tapi lihat, sejak itu sampai dia mati pun tidak ada perkembangan yang berarti di dalam kehidupannya: makan, tidur, buang air, begitu besar kawin dengan binatang lain dan mati.

Lihatlah seorang manusia.

Untuk bisa berjalan saja, paling cepat memerlukan sembilan bulan.

Untuk bisa berbicara lancar seperti orang dewasa, setidaknya sampai umur tiga atau empat tahun.

Bahkan sampai mereka betul- betul mandiri pun setidaknya memerlukan waktu sampai mereka lulus kuliah atau sekolah.

Sungguh sangat beruntung kita dilahirkan sebagai manusia!


“Sukses dalam penjualan tidak akan berarti apa- apa jika ternyata kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk”

SD

Sejak aku masih mengenakan kebesaran seragam Putih-Merahnya Sekolah Dasar, aku sudah memiliki pengalaman berjualan dan berbisnis.

Pengalaman pertamaku adalah membuka membuka usaha taman bacaan. Ketika masih kecil aku sering dirawat. Setiap yang menengok, tidak ada permintaan yang kuucapkan kepada mereka yang berupa makanan. Aku tidak pernah meminta jeruk, apel Amerika, martabak, biskuit, atau makanan apa pun. Aku hanya meminta majalah Siswa, Donal Bebek, atau Bobo.

Karena saking seringnya aku dirawat, tanpa terasa akhirnya majalah- majalah itu pun menumpuk di kamarku. Tiba- tiba saja terpikir untuk membuka taman bacaan kecil- kecilan.

Mulailah aku membuka lapak di teras depan rumah, dengan membuat tulisan “Taman Bacaan, 100 Rupiah/hari” di depan pagar rumahku. Kugelar lapak Taman Bacaanku itu setiap pulang sekolah sampai menjelang Magrib.

Ah, sebenarnya sih sama sekali tidak mirip taman bacaan, hanya puluhan koleksi majalahku yang kutumpuk beberapa baris di teras rumah.

Eh, ternyata usaha Taman Bacaanku ini lumayan sukses! Tiap hari ada saja yang menyewa.

Tapi sayang, uang yang kudapat bukannya kutabung, malah aku belikan gambar apung (maaf, tak dapat kutemukan terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia), dan kelereng yang kuadu bersama- teman-temanku. Karena sering kalah bermain adu gambar, dan skillku dalam ngadu kaleci (ngadu kelereng) di bawah teman- temanku. Jadinya ya gitu deh, aku lebih sering membeli gambar apung dan kelereng.

SMP

Ternyata setelah aku sudah berseragam Putih-Biru pun bakat dan insting berjualanku ternyata masih tajam saja. Aku kali ini berjualan bordiran dan kartu nama lusinan untuk teman- teman di sekolahku. Untungnya luar biasa besar. Di sekolah, harga Nama Bordir, lokasi untuk di seragam bisa dua ribu lima ratus rupiah. Sedangkan aku bisa menjual ke mereka paling mahal seribu lima ratus, itu pun jika mereka meminta desain macam- macam seperti warna border yang berbeda- beda, atau ingin dibentuk seperti plat nomer mobil/motor.

Kalau hanya bentuk standar dengan latar belakang putih dan tulisan hitam atau sebaliknya sih, aku bisa kasih mereka harga seribu dua ratus saja.

Dan dari harga itu pun, aku masih punya untung paling sedikit lima ratus, karena kadang jika pesenan yang datang banyak, si tukang bordir akan memberiku diskon tambahan.

Bayangkan saja dengan jumlah siswa di SMP ku itu, ada sebelas kelas per angkatan. Dan ada minimal empat puluh lima orang murid di satu kelas. Tiap hari ada saja teman- teman yang datang memesan.

Benar- benar simbiosis mutualisme yang sempurna antara aku, teman-temanku dan tukang bordir.

Selain bisnis bordiran, aku juga menjadi makelar bisnis kartu nama. Ya, aku hanya membawa brosur, menawarkan ke teman- teman yang ingin membuat kartu nama. Harganya dua ribu lima ratus per lusin. Aku mendapat diskon juga lima ratus rupiah per set kartu yang dipesan.

Pesanan kartu nama ini tidak terlalu banyak, tapi sangat lumayan. Minimal tiap minggu ada dua atau tiga orang yang datang memesan kartu nama dengan desain yang lucu- lucu dan unik itu.

Tapi sayang lagi, uang hasil usaha ku itu selama tiga –tahun tidak menjadi sesuatu yang besar, hanya sebatas barang- barang yang kubeli karena orang tuaku tidak bisa membelikannya. Sepatu Eagle yang sedikit mahal, dan Celana Merek Cardinal yang ketika itu rasanya sueper kwureen.

Dan satu lagi, aku hampir setiap hari bermain ding-dong (video gamne koin) yang harus membayar dengan koin seratus rupiah.

Jadi kadang, eh, malah sering sekali uang hasil usahaku itu akhirnya bukan berakhir di celangan, tapi malah berakhir di dalam mesin ding- dong Street Fighter atau Strikers 1945.

SMK

Kisah berjualan/wirausahaku di Masaku berseragam Putih-Abu-abu  ternyata tidak semeriah dan seramai kisah berjualan yang terus berlanjut sejak masa Putih- Merah dan Putih-Biru.

Di periode ini aku kurang intens berjualan, karena sekolahku yang sangat sibuk.

Mungkin hanya di sekolahku itu murid bisa pulang jam 5 dari sekolah. Karena katanya sih, itu SMK yang lumayan berkualitas dan lulusannya sangat didambakan oleh dunia kerja, hehehe..

Ternyata tidak sepenuhnya berhenti. Instingku untuk berbisnis masih saja kuat. Ada divisi wira usaha di sekolah yang baru saja dibentuk. Mereka membuat tender untuk pembuatan papan nama sekolah dan Mading (Majalah-Dinding) sekolah.

Ah, pokoknya mah entah kenapa aku jadi siswa yang terpilih untuk membuat papan nama dan Mading itu.

Tender ini sangat menguntungkan. Karena pihak sekolah selalu memberi uang lebih dari setiap nota pembelian bahan baku yang aku ajukan ke bendahara sekolah. Paling sedikit aku bisa mendapat lima ribu rupiah per satu papan nama kelas yang kubuat. Ada puluhan kelas dan enam laboratorium. Belum ditambah uang konsumsi yang kudapat jika aku bekerja setelah jam sekolah. Lumayan bisa untuk membeli satu porsi nasi rames plus sayur dan segelas teh manis hangat di warteg depan sekolahku.

Bisnisku yang ke dua sih, tidak sepenuhnya bisnis. Karena ini berkaitan dengan posisiku yang diangkat sebagai sekretaris panitia untuk acara perpisahan atau semacam pentas seni. Maaf, aku lupa acara tepatnya yang mana.

Aku ditugasi untuk membuat proposal acara tersebut dengan sangat detail.

Tapi, karena ternyata sang Ibu Kepala Sekolah ketika itu baru menjabat, jadi beliau aaga “cerewet”. Hampir sepuluh kali proposal yang kubuat itu ditolak oleh beliau. Dari kesalahan ketik sampai kesalahan konteks dan kesalahan budget.

Hal itu malah menjadi berkah tersembunyi buatku. Karena masih jarang yang punya komputer, jadi tiap membuat proposal, aku harus pergi ke warnet dan mengajukan anggaran khusus. Aku tentu saja tidak mau rugi. Kuminta lah, ongkos angkot dari Kiaracondong ke Inhoftank, ditambah konsumsi.

Lumayan, selama hampir sebulan, minimal aku tiga kali seminggu berangkat ke warnet. Dan pulangnya langsung deh makan Batagor Kuah gratis di dekat stasiun Kiaracondong dan pulang naik angkot gratis.

Dua usaha itu tidak begitu menguntungkan secara finansial, karena tidak ada yang bisa kukumpulkan dalam bentuk tabungan. Hanya skill komputerku saja yang meningkat pesat, secara, bulak- kalik ke warnet hampir tiap hari. Dan sedikit kecanduan Batagor Kuah..hehehe..

Cilegon: Bagian 1

Tahun pertamaku kerja di Cilegon, aku masih menikmati masa- masa “menghasilkan uang sendiri”. Iya lah, ketika sekolah, paling banyak aku memegang uang dua ribu sehari. Gaji pertamaku ketika itu tuuh ratus delapan puluh lima ribu. Gimana mau mikir bisnis atau berjualan ketika masih bingung uang sebanyak itu mau dipakai apa?

Walau pun lama vakum berjualan, tapi bakat dan instingku ternyata masih tetap tajam.

Tahun kedua aku mulai kuliah lagi. Dan mulai kurasakan pertama kalinya yang namanya kesulitan keuangan. Aku membiayai sendiri kuliah ku yang lumayan mahal itu.

Jadi, mau tidak mau aku harus mencari uang tambahan di luar gaji.

Kali ini aku berjualan ditambah oleh satu bakat lagi: “Bakat Ku Butuh” (Istilah dalam bahasa Sunda yang artinya, karena sangat butuh, atau kepepet, hehehe).

Kuputuskan untuk mulai lagi berjualan.

Kali ini komoditas pertamaku adalah Buku dan VCD ceramah- ceramah Aa Gym. Ketika itu Aa Gym dan Manajemen Qolbunya sedang booming di Banten, bahkan seluruh Indonesia. Dan di daerah Cilegon-Banten belum ada yang berjualan produk- produk Manajemen Qolbu.

Aku langsung membeli ke agen Manajemen Qolbu di Mesjid Daarut Tauhiid Bandung, dengan diskon bervariasi, antara sepuluh sampai dua puluh persen.

Bulan- bulan pertama berjalan sangat berat karena aku sudah mulai kuliah. Dan aku bukan mengambil kuliah di kelas karyawan, tapi sebagai mahasiswa regular. Ditambah dengan jadwal kerja shiftku yang delapan jam, membuat waktuku sebagian besar habis di luar rumah. Kerja, kuliah, dagang.

Bahkan pernah aku menggelar lapak di depan Mesjid Agung Cilegon, walaupun hanya beberapa saat, karena ketika itu aku sudah tidak mempunyai uang sama sekali.

Konsumenku tadinya masih sebatas tetangga dan teman-teman satu pekerjaan. Aku masih harus turun sendiri menjajakan daganganku. Mereka boleh membayar setelah gajian, dan bahkan ada yang aku beri kemudahan untuk mencicil, tanpa tambahan harga sepeser pun.

Cilegon: Bagian 2

Sampai akhirnya bala bantuan datang.

Akhirnya ada empat orang teman- temanku yang membantu berjualan. Ada guru TPA tetangga, dan sisanya teman- teman mengajiku di Remaja Islam Mesjid. Aku beri mereka sistem konsinyasi (hanya membayar harga setelah diskon untuk barang yang laku).

Alhamdulillah, berkat ijin Allah dan bantuan dari teman- temanku itu usahaku mulai berkembang.

Aku bisa melebarkan sayap ke produk lain.

Kali ini aku bisa menambah jenis produk yang aku jual. Aku mulai menjalin kerjasama dengan agen- agen produk Islami di Tanggerang dan Bandung.

Tahun ke dua berjalan sangat mulus seperti mulusnya jalan dari Doha ke Al Khor.

Bahkan di tahun ini, ada tujuh orang temanku yang membantu menanam modal.

Perputaran uang yang kutangani ketika itu hampir empat belas juta.

Puncaknya adalah ketika aku bisa mengikuti sebuah pameran di Banten: Banten Islamic Fair. Di pameran ini, aku mencatat rekor penjualan tertinggi dalam satu minggu. Total pendapatanku kala itu setidaknya delapan juta setengah.

Biaya sewa stand yang cukup mahal, lima ratus ribu rupiah untuk tujuh hari saja, dan tujuh hari aku cuti ternyata setimpal dengan apa yang aku dapatkan.

Aku mendapat rejeki nomplok dan investor pun tersenyum lebar.

Lagi- lagi usaha ini pun akhirnya gagal. Tadi nya sih aku ingin bilang usahaku ini hancur lebur, tapi sedikit tidak tega… hehehe..

Ya, usaha ini ambruk dalam sekejap, hanya beberapa minggu setelah mencatat keuntungan tertinggi.

Sebenarnya faktor yang menyebabkan ambruknya usahaku ini tidak hanya satu.

Tapi penyebab utamanya lagi- lagi lagi karena pengelolaan uang yang kurang baik.

Dengan kondisiku yang harus membayar kuliah yang lumayan mahal, seringkali uang yang terkumpul dari bisnisku itu terpakai. Dan uang modal yang harusnya selalu ada yang stand by untuk membeli barang pesanan pun terpakai.

Kondisi bisnisku semakin limbung ketika salah satu investor mendadak ingin menarik investasinya di kala kondisi bisnis sedang bagus- bagusnya. Dia beralasan karena dia akan menikah dan butuh dana invesasinya untuk menambah biaya pernikahannya.

Aku dan para rekan- rekanku sedang menerima pesanan yang lumayan banyak ketika itu. Karena kekurangan dana untuk membeli barang, dengan sangat terpaksa kami tolak.

Ditambah lagi faktor, teman- temanku yang membantu bisnisku mundur teratur dengan alasan menjelang UAS di kampus dan sekolahnya.

Beberapa minggu kemudian para investor lain juga melakukan hal yang sama.

Mereka juga menarik modalnya.

Mereka beralasan bahwa, kenapa si A bisa melanggar perjanjian yang menyatakan bahwa dana investasi tidak bisa ditarik sebelum dua tahun.

Karena aku sudah tidak mempunyai dana, yang ada hanya stok barang, aku pun kelimpungan mencari dana untuk mengembalikan dana para investor yang kini sudah berkembang lumayan besar.

Kala itu aku harus mengembalikan setidaknya tujuh juta rupiah.

Akhirnya ada jalan yang kutemukan, walaupun tadinya ingin kuhindari.

Aku pun berhutang ke bank.

Dan, pada akhirnya runtuhlah bisnis yang sudah dua tahun kurintis bersama teman- teman itu, ketika sudah tidak ada lagi dana untuk membeli pesanan para pembeli dan barang yang ada pun menumpuk di kamarku.

Kali ini aku sah mengalami kebangkrutan dalam berbisnis.

Cilegon: Bagian 3

            Selama beberapa minggu, aku sempat kaget dan syok, karena masih belum percaya, bisnisku bisa bangkrut dan membuatku berhutang jutaan rupiah bangkrut dalam hitungan minggu, tepat setelah mencetak rekor pendapatan tertinggi.

Setelah kurenungkan, kuresapi, kupertimbangkan, kutimang- timang, kutafakuri, kupikirkan, ah pokoknya segala hal yang terdefinisikan sebagai evaluasi pemikiranku atas pengalaman bangkrut itu, akhirnya aku mendapat satu benang merah.

Ya, benang merah kenapa walau pun aku cukup lihai untuk berdagang, berjualan dan berbisnis, tapi selalu, yaa tidak selalu sih, hampir selalu gagal. Dan bahkan kasus yang terakhir, memiliki akibat yang sangat lama. Aku harus mencicil bertahun- tahun ke bank.

Naluri berdagang dan kelihaianku berjualan ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen uang yang baik.

Uang pribadi, uang modal, uang barang, keuntungan, dan uang lain, selama ini berada di dalam satu dompet. Mereka tidak pernah kupisahkan.

Padahal tidak seharusnya mereka semua memiliki tempat yang sama. Ya itu, untuk mencegah silang kepentingan dan silang pemakaian yang menjadi penyebab aku sama sekali tidak punya dana segar jika ada kejadian yang tidak terduga seperti yang kualami terakhir kali.

Selihai apa pun kita dalam berbisnis, tidak akan berarti apa- apa jika kita memiliki pengelolaan keuangan yang buruk.

www.didaytea.com

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.