Category: Keluarga


“Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA”

 

Jika ada yang masih ingat, belasan tahun lalu ada iklan sebuah baterai yang super awet. Di dalam iklan itu diperlihatkan sebuah mainan kelinci yang masih saja anteng menabuh drum dengan kuatnya di saat baterai- baterai dengan merek lain sudah tidak bisa bergerak lagi.

Seperti itu juga kondisiya dengan bayi perempuanku yang baru berumur tiga belas bulan.

Sekarang, dia hanya punya tiga kegiatan besar: minum susu, tidur, dan bermain.

Minum susu dan tidur sih sama sekali tidak bermasalah untuk kami orang tuanya.

Tapi ketika dia sedang bermain, baik sendiri atau pun dengan kakaknya, hmmmm….itu baru tantangan yang sesungguhnya.

Bayangkan saja, kalau dia bangun, hampir tidak ada sedetik pun yang dia habiskan untuk diam. Kaki- kaki mungilnya selalu bergerak dengan spartan dan konstan menyusuri setiap jengkal lantai di rumah kami.

Hampir sepanjang hari, dia akan titirilikan (entah apa ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang kecil atau mungil dan bergerak dengan sangat cepat dengan arah yang acak.. :D )

Jari- jari kecilnya akan menggenggam apa pun di depannya tanpa ragu.

Tangan mungilnya juga yang akan oprek barang- barang apa pun yang dia temukan. Lalu dia tumpuk, susun, lempar, injak, jilat, dan bahkan kalau sedikit saja luput dari pengawasan kami, dia akan memakan apa pun yang dia rasa enak.

Jika saja mainan- mainan itu hidup, tentunya di ruangan itu akan terdengar riuh –rendahnya teriakan kesakitan dari para mainan yang terlempar ke sana ke mari, terinjak berulang kali.

Tapi ada juga sih sedikit keributan , yaitu teriakan kakaknya yang kadang kesal ketika sedang memegang iPad tiba- tiba dilempar oleh mainan mobil, atau ketika sedang asyik bermain dan menyusun lego, tiba- tiba makhluk kecil dan imut itu lewat begitu saja sambil menginjak bangunan yang sudah dia susun dengan susah payah.

Apa pun yang berada di dalam wadah tidak akan luput dari “percobaannya” . Makanan, minuman, mainan lego milik kakaknya, biskuit yang kadang kami lupa menutup wadahnya akan sukses berpindah dari wadahnya ke atas lantai yang sudah penuh sesak dengan ratusan potongan dan patahan mainan.

Analogi “kapal pecah” mungkin sudah tidak relevan lagi untuk menggambarkan keadaan rumah kami jika si bayi sudah beraksi. “Kapal dibom” atau “kapal meledak” rasanya lebih tepat.

Persis seperti mainan kelinci di iklan baterai tersebut, energinya seperti tidak pernah habis. Dengan minum susu sebentar dan tidur hanya beberapa puluh menit, kecuali malam, “baterai” di dalam badan mungil, pejal dan montok itu sudah terisi penuh dan kembali bergerak dengan aktif.

Sudah tak terhitung berapa kali tubuh montoknya itu jatuh berdebam di atas lantai karena terpeleset mainan atau mobil- mobilan yang berserakan di lantai.

Sudah tak terhitung pula istriku harus mengepel lantai dari tumpahan susu, coklat, selai, biskuit dan “hasil karya” seniman mungil imut yang montok dan super lucu itu.

Dalam sehari, istriku bisa tiga kali membereskan mainan yang hampir sama sekali tidak menyisakan ruang untuk sekedar menginjakkan kaki pun di ruang tamu.

Ah, pokoknya, kadang terlintas di pikiran bahwa bayi dan anak- anak adalah makhluk yang sama sekali tidak berguna, hanya merepotkan saja.

Ternyata sama sekali tidak seperti itu.

Periode bayi dan anak- anak, sampai kira- kira umur lima tahun adalah Research and Development Unit of Human Species, menurutProfessor Alison Gopnik, seorang Professor di bidang psikologi di University of California, Berkeley, USA.

Ilmuwan adalah seorang “anak kecil besar”.

Dan seorang anak kecil adalah seorang “ilmuwan” cilik.

Bayi dan anak kecil, seperti layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, hanya melakukan satu hal, yaitu belajar. Mereka tidak perlu memikirkan lagi tentang makanan, minuman, dan kehidupan mereka karena sudah ditangani oleh orang lain.

Mereka mempunyai kemampuan dan kapasitas belajar yang sangat luar biasa. Perkembangan otak manusia yang paling pesat terjadi di periode nol sampai dua atau tiga tahun/

Mereka akan mempelajari bagaimana barang- barang di sekitar mereka bekerja.

Mereka akan mengamati bagaimana sikap orang- orang di sekitar mereka.

Mereka akan mencari tahu bagaimana perkaitan antara sesuatu hal yang disebabkan oleh sesuatu yang lain. Tentu bukan “sesuatu”nya Syahrini. Hehehe.

Mereka akan selalu melakukan percobaan- percobaan tertentu, hanya untuk sekedar ingin mengetahui sesuatuyang kdang berbahaya buat mereka. Si mungil akan tanpa ragu memegang colokan listrik tanpa ada rasa takut tersengat aliran listrik sebelum orang tuanya panik dan berteriak- teriak, atau bahkan langsung menggamit tubuh mungilnya menjauh dari area colokan listrik itu.

Ada periode di mana mereka akan mencoba memakan apa pun yang mereka pegang.

Mereka belajar seperti spons yang menyerap air. Bahasa, Sikap, perilaku, kata- kata orang tua, televisi, film, musik, lagu, tingkah laku kakaknya, akan mereka tiru atas nama “penelitian” pribadi mereka.

Mungkin ini adalah jawaban kenapa manusia menjalani masa kecil atau masa anak-anak lebih panjang dibanding dengan makhluk lainnya.

Allah mentakdirkan kehidupan manusia lebih lama di dalam masa anak- anak, untuk mempersiapkan diri seorang manusia dalam menghadapi keras dan rumitnya kehidupan seorang manusia dewasa kelak.

Bayangkan saja, sorang anak kuda atau rusa akan bisa berjalan dengan tegap bahkan berlari, hanya setelah satu jam dia dilahirkan.

Tapi lihat, sejak itu sampai dia mati pun tidak ada perkembangan yang berarti di dalam kehidupannya: makan, tidur, buang air, begitu besar kawin dengan binatang lain dan mati.

Lihatlah seorang manusia.

Untuk bisa berjalan saja, paling cepat memerlukan sembilan bulan.

Untuk bisa berbicara lancar seperti orang dewasa, setidaknya sampai umur tiga atau empat tahun.

Bahkan sampai mereka betul- betul mandiri pun setidaknya memerlukan waktu sampai mereka lulus kuliah atau sekolah.

Sungguh sangat beruntung kita dilahirkan sebagai manusia!

Dunia di mata Seorang  Kurcaci

Bayangkan diri anda berada di sebuah rumah yang sangat besar. Semua barang yang ada di rumah tersebut berukuran dua kali lipat dari biasanya. Ketika anda duduk di kursi, anda perlu bantuan kursi yang lain untuk bisa naik ke atasnya. Ketika anda ingin mengambil remote TV di meja makan, anda harus memakai kursi atau bangku agar bisa meraihnya, karena semuanya terlalu tinggi, dan semuanya terlalu besar untuk ukuran badan anda.

Dan bayangkan betapa takutnya anda, ketika tiba-tiba dari dalam kamar, keluar manusia yang ukurannya hampir dua kali lipat tinggi badan anda. Dia terlihat sangat besar. Ketika dia berdiri di depan anda, kepala anda hanya  sedikit lebih tinggi di atas lututnya. Kaki orang ini sedemikian besarnya, sehingga hampir seukuran dengan badan anda. Tangan orang ini lebih besar dari paha anda. Wajah orang ini, bisa memenuhi wilayah perut anda.

Lalu bayangkan lagi takutnya anda ketika tiba-tiba orang ini mendekatkan mukanya kepada anda. Matanya melotot, terlihat sangat besar dibanding mata-anda yang sangat mungil. Lalu bayangkan betapa takutnya anda ketika orang ini tiba-tiba berteriak kepada anda dengan suara yang buat anda seperti petir menggelagar, tepat di depan muka anda: “Jangan Berisiiiiiik…!!! “ Sambil mengayunkan tangannya yang sebesar paha anda, memukul badan atau pantat anda berkali-kali. Setiap pukulan itu mendarat, pastinya terasa sangat menyakitkan, karena ukuran dan kekuatan tangan tersebut ketika memukul.

Sudah anda bisa bayangkan, betapa takut dan sakitnya anda ketika menghadapi momen seperti itu?

Dan tahukah anda? Ternyata ANAK ANDA hampir setiap hari menghadapi situasi seperti itu!

Untuk beberapa orang, mungkin baru menyadari bahwa anak mereka akan memiliki perasaan seperti itu ketika membaca tiga paragraf pertama tadi.

Ternyata, di mata anak kecil, untuk hidup dan tinggal bersama-sama dengan kita, orang dewasa, sudah merupakan “penderitaan” yang luar biasa.

Jangan ditanya jika ternyata anda adalah orangtua yang ringan tangan, suka memukul. Bayangkan berapa lama sakit akibat pukulan anda akan hilang. Atau anda orang tua yang suka membentak kepada anak? Bayangkan berapa lama, telinganya akan berdengung, karena bentakan dan teriakan anda.

Jika ya, segeralah minta maaf kepada anak anda, karena sudah bertahun-tahun anda membuat anak anda berada dalam kondisi ketakutan dan kesakitan yang luar biasa seperti yang anda bayangkan di perumpamaan tadi.

Inilah kesalahan besar yang sering dilakukan oleh para orangtua.

Moral dari kisah di atas, adalah, orangtua seringkali tidak tenggang rasa kepada anak-anaknya. Para orangtua menganggap bahwa mereka sedang berurusan dengan manusia yang seumur dan seukuran dengan mereka. Padahal, jelas tidak sama sekali.

Sering orang tua berteriak dan mengeluh: “Kenapa anak saya ngga pernah nurut sama orangtuanya? Kenapa mereka ngga ngerti-ngerti dengan nasihat orang tuanya?”.

Jawabannya:

Ternyata, bukan anak yang harus mengerti orang tua, tapi sebaliknya, orang tua yang harusnya mengerti dunia anak-anak. Karena orangtua sudah hidup jauh lebih lama dengan anak-anak.

Bermain tanah, buat kita akan terasa kotor dan menjijikkan. Tapi buat anak, adalah sesuatu yang menyenangkan.

Mengacak-ngacak rumah, buat mereka adalah keasyikan yang luar biasa, ketika di mata kita itu adalah hal yang menjengkelkan.

Menangis jika ingin sesuatu, buat mereka sahsah saja, karena mungkin hanya itu cara yang mereka tahu untuk meminta sesuatu.

Api yang buat kita bahaya, dan kita akan jauh-jauh darinya, buat mereka mungkin hal yang sangat menarik. Dan mereka tidak akan tahu bahayanya sampai mereka betul-betul terbakar.

Hampir setiap hal di dunia ini menyenangkan buat seorang anak kecil. Yaa..itu karena keterbatasan ilmu dan pengalaman hidup mereka di dunia ini.

Sangat lucu jika ada orangtua yang  “ingin dimengerti” oleh anaknya.

Ketika anak tidak bisa dilarang, mungkin karena “frekuensi” yang digunakan oleh orangtua kurang tepat.

Kalau tidak salah, proses pengharaman Khamr, tidak sekaligus dalam perintah instan, tapi secara bertahap. Dari sejak memberi pengertian bahwa Khamr lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, lau perintah jangan sholat ketika dalam pengaruh minuman, dan akhirnya, turunlah ayat yang menyatakan bahwa Khamr itu adalah haram dan termasuk perbuatan syetan.

Begitu juga kepada anak kita. Jika mereka kecanduan Facebook, game online, atau PSP, XBOX, Playstation, larangan kita akan cenderung tidak digubris, bahkan mereka akan cenderung melawan.

Jika kita terus ngotot dan tetap selalu memakai metode yang sama untuk melarang mereka. Mereka akan cederung mencari hal yang sama di luar rumah, mereka akan selalu mencari cara untuk bisa melakukan apa yang orang tua mereka larang.

Bagaimana jika caranya dibalik, ketika orang tua yang berusaha mengerti mereka. Atur “frekuensi” kita agar lebih nyambung dengan mereka. Jika mereka kecanduan Facebook, daripada langsung melarang dan bilang “Facebook Haraaamm!”, lebih baik tanya mereka, apa manfaat yang bisa mereka dapatkan. Atau arahkan mereka pada hal yang baik (jika ada) di Facebook, cari oleh anda sendiri, “terjun” langsung ke lapangan. Cari celah di mana akhirnya anda bisa memberi pengertian yang tepat kepada mereka.

Jika anak anda senang bermain game, arahkanlah pada game-game yang bisa melatih otak mereka. Jangan biarkan mereka bermain game GTA misalnya, yang penuh kekerasan dan sedikit “jorok”.

Biarkan mereka bermain game Racing, atau game-game yang bisa melatih otak mereka. Kalau perlu, anda juga ikut bermain game, kalahkan mereka dengan hukuman mereka tidak boleh dulu bermain game untuk jangka waktu tertentu. Atau belikan mereka Mind Games. Jangan ijinkan mereka bermain game yang lain jika mereka belum mencapai skor tertentu misalnya.

Selalulah upgrade pengetahuan anda walau sedikit, tentang dunia mereka. Agar kita bisa memiliki celah untuk menyamakan frekuensi kita dengan mereka.

Seperti layaknya gelombang radio yang baru nyambung jika frekuensinya sama, begitu juga layaknya antara anak dan orangtua.

Baca artikel-artikel tentang pendidikan anak dan psikologi untuk menambah pengetahuan anda tentang masalah-masalah mutakhir di dunia anak dan orangtua. Ikuti milis tentang dunia anak dan orangtua serta permasalahannya.

Pokoknya teruslah  menambah ilmu.

Bacalah!

Bacalah!

Bacalah!

Selamat menyamakan frekuensi!

Tulisan ini terinspirasi dari kisah yang dibawakan Aa Gym di salah satu ceramahnya.

Doha, 27 December 2009.

Didaytea

Elemen-elemen Kemampuan Belajar (2)

Di tulisan saya sebelumnya, telah dibahas tentang elemen-elemen kemampuan belajar; membaca cepat dan efektif, kemampuan mengingat dan “merecall”dan kemampuan berpikir cepat dan logika yang  baik.

Berikut adalah “alat- alat” tambahan untuk menunjang elemen- elemen utama tadi.

  1. Menghitung cepat. Jangan biarkan anak anda tergantung dengan kalkulator. Usahakan mereka menghitung dengan cara “mencongak”. Atau fasilitasi mereka untuk belajar dengan menggunakan sempoa. Ada buku yang khusus untuk melatih kecepatan menghitung yang pernah saya baca:The Sharper Mind. Buku ini sudah ada edisi bahasa Indonesianya. Buku ini berisi tentang jalan pintas untuk proses-proses berhitung.
  2. Biarkan anak bermain game. Pada porsi yang tepat dan game yang tepat, bermain game, pada platform apa pun, bisa meningkatkan kualitas seorang anak, dari kemampuan berpikir cepat dan tepat (Who Has The Biggest Brain?), kemampuan manajerial (Farmville, Empire of Age, Football Manager, Championship Manager), kemampuan berkonsentrasi (Game- game racing, Formula One, Wipe Out, Dirt, dan masih banyak lagi), kemampuan strategis (Game sepak bola:FIFA, Pro Evolution Soccer).
  3. Maksimalkan internet. Gunakan lebih dari sekedar jejaring sosial dan chatting. Gunakan internet sebagai sumber ilmu dan tempat belajar untuk keluarga anda. Cari berita, update info terbaru di bidang pendidikan. Ajak anak untuk “berburu” pengetahuan bersama.
  4. Biasakan anak untuk menulis setiap hari, diary misalnya. Ini akan melatih koordinasi otak, pikiran dan perasaannya. Sehingga akan mempermudah proses untuk menerima ilmu pengetahuan keesokan harinya.
  5. Buat anak untuk berbagi pengetahuannya dengan orang lain tentang apa yang kita ketahui. Kita akan menyerap 90 persen dari hal yang kita ajarkan (Learning Revolution).
  6. Biasakan anak membaca Al Qur’an di akhir hari (sebelum tidur) dan di awal hari (setelah sholat subuh), untuk “mencerahkan” diri mereka.

Ketika anak sedang mengerjakan tugas atau belajar, iringi mereka dengan musik klasik untuk membuat mereka dalam kondisi waspada-relaks. Kondisi ini disebut adalah kondisi Alfa, dengan frekuensi gelombang otak 8- 12 cps (cycle per second). Kondisi ini di dalam buku Revolusi Cara Belajar disebut kondisi “WASPADA-RELAKS”. Musik klasik yang paling umum dibuat untuk mencapai kondisi ini adalah Handel: Water Music, dan Vivaldi: Four Seasons.

Selamat berjuang!

Didaytea

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, dia menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, dia belajar kedengkian.

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Jika anak dibesarkan dengan dengan ketenteraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.

Dorothy Law Notte

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.