Category: 1


Mission (Not) Impossible: Menghafal Al Qur’an

Berapa banyak surat dalam Al Qur’an yang anda hafal sekarang?

Lima, enam, sepuluh, dua puluh, juz, atau anda sudah hafal seluruh Al Qur’an? Jika tidak ada diantara pilihan tersebut yang menjadi jawaban anda, silahkan lanjutkan membaca.

Apakah anda hafal Juz 30? Atau yang lebih popular dengan sebutan Juz ‘Amma?

Saya sendiri, sudah hampir mendekati tiga dasawarsa hidup di dunia ini sebagai muslim. Bisa membaca Al Qur’an sejak umur 7 tahun. Logikanya, secara itung-itungan kasar, sebagai muslim, tidak mungkin jika kita tidak hafal Al Qur’an sama sekali kan? Pasti ada beberapa surat yang kita hafal di luar kepala.

Tapi logika lain juga bertanya, kenapa hafalan kita hanya itu-itu saja? Sejak lulus SMP, tiap tahun selalu punya target untuk menghafal Juz ‘Amma. Dan hasilnya? Nihil.

Sampai sekarang, hanya 18 surat dari 37 surat di dalam Juz 30 yang saya hafal. Dan bodohnya, ini sama persis dengan hafalan saya ketika keluar sekolah. Itu berarti, selama hampir sepuluh tahun, hafalan saya tidak bertambah satu ayat pun! Padahal, 18 surat itu saya hafal tidak sampai sepuluh tahun.

Tulisan ini saya tulis untuk memotivasi diri saya sendiri, agar sadar betapa bodohnya seorang SAYA, yang selama bertahun-tahun, masih saja berkutat dengan hafalan yang itu-itu saja. Usaha yang ada bukannya untuk menambah hafalan, tapi yang ada saya malah kerepotan untuk menjaga agar tidak melupakan hafalan yang sudah ada.

Tulisan ini memuat kompilasi metode, yang saya kumpulkan dari beberapa sumber. Tentunya tidak akan mutlak bisa meningkatkan jumlah hafalan kita. Dan belum bisa dijadikan sebagai standar yang eksak dalam metode manghafal Al Qur’an. Tapi setidaknya, kita bisa menyadari, dan kita bisa mengetahui cara baru untuk tidak menjadi seorang muslim yang bodoh, yang selama puluhan tahun, hanya hafal surat yang itu-itu saja.

Walaupun sudah terlalu banyak basa basi, tapi sekarang kita mulai langkah kita untuk menuju hafizh Qur’an, Insyallah!

1.        Motivasi. Cari keutamaan orang yang menghafal Al Qur’an. Baca kisakisah orang yang hafizh Qur’an. Dan rasakan diri anda “terbakar” motivasi untuk menghafal Al Qur’an.

2.        Kondisikan otak kita untuk dapat lebih mudah “memasukkan” data.

Seorang teman pernah berkata: “saya lebih baik mendengar murottal daripada mendengar musik klasik, yang katanya bisa mencerdaskan”.

Hal ini bisa dikonfrontir dengan penjelasan sederhana.

Musik klasik, bukan hanya sekedar musik. Dia berbeda dengan lagu-lagu cengeng, lagu-lagu cinta, lagu-lagu penuh aroma nafsu dan maksiat yang selalu menjadi trend.

Otak kita, ternyata mempunyai empat frekuensi: Beta, Alfa, Theta dan Delta. Frekuensi terbaik untuk mendapatkan kondisi paling ideal dan paling mudah untuk “menerima sesuatu yang baru” dan “memasukkan data” ke dalam memory jangka panjang kita, adalah kondisi Alfa, dengan frekuensi gelombang otak 8- 12 cps (cycle per second). Kondisi ini di dalam buku Revolusi Cara Belajar disebut kondisi “WASPADA-RELAKS”.

Sayangnya, kondisi ini sering dicapai ketika seorang manusia berada di alam bawah sadar. Kondisi umum yang kita alami, ketika kita sepenuhnya sadar adalah kondisi Beta, 13- 25 cps.

Musik klasik, dengan ketukan tertentu dan jenis tertentu yang tepat, berfungsi seperti garpu tala, yang mensikronisasi gelombang kita ke dalam gelombang otak kondisi Alfa tadi.

Masih di dalam buku Revolusi Cara Belajar, musik yang diusulkan untuk “menyetel” otak kita ke dalam kondisi Alfa adalah Handel, Water Music dan Vivaldi, Four Seasons.

Sebelum memulai “misi” anda, coba dengarkan music klasik, 3 sampai 5 menit. Insyaallah, otak dan hati anda akan lebih siap untuk menerima Al Qur’an ke dalamnya.

3.        Petakan Al Qur’an. Seperti orang yang akan berjuang ke medan perang, kita harus mengetahui bagaimana susunan, komposisi, dan bagaimana “bentuk” Al Qur’an yang kita hafal tersebut. Sehingga kita akan memiliki gambaran dan bayangan, bagaimana, seperti apa dan mulai dari mana.

Juz 30 memiliki 37 Surat, dengn surat terpanjang adalah Surat An Nazi’at(Surat  ke-79), 46 Ayat, dan Surat terpendek adalah Surat Al Kautsar (Surat ke-108), 3 ayat.

Total, ada 563 ayat yang ada di dalam Juz 30.

Durasi (Menit) Jumlah Surat Jumlah Ayat Jumlah Surat
< 1 12 < 10 18
1 – 2 13 11 – 20 9
2 – 3 6 21 – 30 6
3 – 4 3 30-40 2
4 – 5 3 > 40 2
Total 37 Total 37

Jika satu hari kita bisa menghafal satu ayat saja, dalam dua tahun kita akan bisa menghafal Juz 30 ini.

4.       Luangkan waktu khusus dan buat target, minimal menghafal satu ayat satu hari. Pola terbaik untuk hafalan harian adalah sebelum tidur menghafal, dan bangun tidur mereview. Karena, apa yang kita baca dan hafalkan sebelum tidur akan diproses oleh otak pada saat tahap awal tidur dan tidur itu sendiri. Seperti sudah disebutkan di poin sebelumnya, tentang empat frekuensi. Ketika tidur, kita akan mengalami kondisi Alfa. Dan ketika bangun tidur, otak kita tentunya masih segar untuk merecall apapun yang sudah diinput sebelum tidur. Ketika sholat shubuh, jika sempat, lakukanlah Qiyamul Lail.

Sejak dari rumah hingga masjid, kita punya peluang sholat 6 rakaat. Dua rakaat, sholat syukrul wudhu, dua rakaat sholat tahiyyatul masjid, dan dua rakaat sholat sunnah Qobla subuh (yang lebih baik dari dunia dan segala isinya!). Reviewlah hafalan anda pada sholat-sholat tersebut.

5.        Bacalah dengan terjemahannya. Sehingga ketika membaca, bibir kita mengucapkan Ayat, dan  di pikiran kita otomatis mengikuti dengan terjemahannya. Lebih banyak koneksi di dalam otak kita, lebih mudah kita mengingat. Dan tentunya lebih baik untuk keilmuan kita kan?

6.       Review bacaan ketika sholat sunnah. Rawatib, Syukrul Wudhu, Qiyamul Lail, Tahiyyatul Masjid, terutama ketika sholat Jum’at, kita mempunyai banyak waktu di waktu tersebut jika datang lebih awal.

7.        Sering-seringlah mendengarkan murottal, ikuti bacaan pelantun. Gunakan waktu luang anda semaksimal mungkin. Ketika macet, daripada mengumpat-ngumpat dan mengeluh, setel saja murottal. Jika anda melakukan perjalanan jauh, dengarkan murottal dari pemutar musik di telepon selular anda. Maksimaldan dan optimalkan waktu anda sebaik mungkin.

8.       Perbaiki tajwid! Ini yang paling penting. Ada gurauan satir terhadap kemampuan orang Indonesia membaca Al Qur’an. Orang Indonesia-walaupun tidak semua, tapi banyak sekali-, suka “ngasal” kalau membaca Al Qur’an. Coba saja amati di sekitar anda, jika sholat berjamaah, dan perhatikan bacaan imam. Seringkali terjadi , bacaan imam sangat amburadul, bahkan sejak membaca Al Fatihah. ‘Ain dibaca seperti “A” biasa. Tidak ada perbedaan antara sin, syin, tsa, shod, semuanya berbunyi “S”. Dza sering bertukar guling dengan Ja, Za dan Zho. Atau H kecil sering tertukar dengan H yang besar. Sering kali tidak ada perbedaan bacaan yang seharusnya panjang dan pendek, atau tasydid. Kaidah-kaidah membaca Al Qur’an sering sekali dilupakan. Dan kita hanya “apal cangkem”, kalau mengutip istilah orang Sunda mah.

Ini adalah kenyataan yang sangat memprihatinkan di Indonesia yang katanya memiliki jumlah muslim terbesar di dunia! Dan saya pun rasanya masih termasuk di dalam kelompok tersebut, yang masih belepotan ketika membaca Al Qur’an.

9.       Review bacaan kita dengan orang yang kita yakini jauh lebih baik bacaannya, dengan orang yang sudah mapan bacaan Al Qur’annya.

10.     Istiqomah. Selalu sempatkan untuk membaca Al Qur’an setiap hari. Selalu lakukan review secara rutin.

Begitu tulisan ini selesai ditulis, saat itu juga saya akan memulai perlombaan kebaikan menghafal Al Qur’an (dengan mengerti artinya dan bacaan yang benar tentunya) dengan anda.

Yang benar hanyalah dari Allah, dan yang salah, semata-mata adalah kesalahan saya sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan.

Selamat menghafal Al Qur’an!

Di hari yang sangat indah di tengah gurun

26 Desember 2009

Didaytea

Elemen-elemen Kemampuan Belajar (1)

Di artikel sebelumnya, saya mengusulkan mata pelajaran baru di dunia pendidikan. Yaitu, “Belajar Bagaimana Belajar”.

Kemampuan belajar seseorang, bisa dihasilkan dari dua hal; genetis dan latihan.

Dari sudut pandang saya, orang yang “Cerdas” adalah orang yang mempunyai kemampuan belajar yang baik. Bukan orang yang bergelar sarjana, master atau pun doktor. Karena bisa saja orang yang bergelar doktor sebenarnya kemampuan belajarnya biasa-biasa saja. Dia mendapatkan gelar tersebut karena ada niat, kesempatan dan kemampuan.

Dan sangat mungkin sekali, seseorang bisa memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dari seorang doktor. Tapi dia tidak punya niat, kesempatan dan kemampuan untuk bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Seorang murid, bisa saja memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dari gurunya. Karena guru hanya sekedar lahir lebih dulu, dan tahu lebih dulu tentang suatu ilmu dari seorang murid yang notabene jauh lebih muda.

Seorang anak kecil seringkali lebih cerdas dari orangtuanya, ketika dia bisa mengerti dan menyelesaikan sebuah permainan yang sama sekali baru. Padahal orangtuanya harus berjuang dan susah payah untuk berpikir, bagaimana hanya untuk memulai permainan tersebut.

Terdiri dari elemen apa sajakah Kemampuan Belajar seseorang?

Secara umum, kemampuan belajar seseorang hanya terdiri dari 3 faktor:

1.        Membaca Cepat dan efektif.  Hampir semua proses belajar, akan melibatkan kegiatan ini. Sayangnya, sangat sedikit yang mengetahui cara membaca yang sangat cepat, tapi efektif dan efisien. Sangat banyak rujukan yang bisa kita ambil dari internet untuk meningkatkan kemampuan membaca kita. Buku Speed Reading (edisi bahasa Indonesia) bisa menjadi rujukan yang terbaik. Beberapa tahun lalu juga, sebuah lembaga pendidikan merilis VCD tentang Speed Reading, lengkap dengan latihan dan test kemembuan membaca cepat dan efisien.

2.       Kemampuan mengingat, dan kemampuan untuk “merecall” apa yang kita ingat tersebut. Sangat banyak metode yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan kemampuan ini. Banyak buku yang bisa jadi rujukan. Buku Quantum Learning, Learning Revolution, Accelerated Learning, Buku-buku Tony Buzan yang terbit belasan tahun yang lalu masih sangat relevan untuk dijadikan bahan rujukan anda.  Yang paling baru, UNLIMITED, ditulis oleh pengarang yang sama dengan Revolusi Cara Belajar(masih dalam edisi bahasa Inggris), bisa menjadi rujukan utama di zaman internet seperti sekarang. Internet selalu bisa menjadi sumber rujukan yang tidak pernah ada habisnya, nyaris tak terbatas.

3.       Kemampuan Berpikir cepat dan Logika yang  baik. Jika kita bisa membaca dengan cepat, maka otomatis kita akan bisa berpikir lebih cepat. Untuk melatih kemampuan berpikir cepat dan melatih logika ini caranya sangat mudah sekali. Mainkanlah game-game yang menuntut kecepatan berpikir dan kemampuan mengingat. Sudoku, Tetris, Who Has The Biggest Brain, Bejewelled, Zuma dan puluhan game yang tidak hanya sekedar permainan. Dalam porsi yang tepat dan game yang tepat, bermain game akan sangat meningkatkan kemampuan kita untuk berpikir cepat, tepat dan efisien.

Didaytea

PERNAHKAH ANDA BELAJAR UNTUK BELAJAR?

PERNAHKAH ANDA BELAJAR UNTUK BELAJAR?


Pernahkah anda membaca buku Quantum Learning , The Learning Revolution dan Accelerated Learning? Atau buku-buku karya Tony Buzan tentang  Pemetaan Pikiran, Master Your Memory, Master Your Mind, Use Your Head, dan buku-buku dengan tema sejenis?

Terjemahan buku-buku ini saya baca belasan tahun yang lalu. Dan buku aslinya terbit beberapa tahun sebelumnya. Bahkan lebih lama lagi!

Sampai sekarang pun, saya masih tergila-gila kepada buku-buku dengan tema seperti ini.

Terakhir, buku yang saya beli adalah Unlimited. Ini adalah penyempurnaan dan upgrade dari buku seri The Learning Revolution. Buku ini akan saya bahas di artikel yang lain.

Saya rasa sih sampai sekarang, buku-buku dengan tema seperti ini masih sangat asing di kalangan pelajar dan mahasiswa, apalagi kalangan professional.

Pernahkah anda belajar untuk belajar?

Pertanyaan yang sebetulnya aneh, karena minimal 12 tahun dalam hidup kita, kita habiskan untuk “belajar” di sekolah.

Tapi bukan ini “belajar” yang saya maksud.

Di sekolah, kita belajar Sejarah, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Akuntansi, Ekonomi, Manajemen,dan puluhan subyek yang lainnya.

Tapi, pernahkah anda “belajar untuk belajar”? Pernahkah anda mempelajari cara belajar yang efektif dan efisien untuk subjek tertentu? Atau berusaha meningkatkan kemampuan belajar anda?

Tidak pernah, itu jawaban teman-teman sekolah dan kuliah saya beberapa tahun yang lalu.  Tidak ada waktu, mereka sibuk dengan mata pelajaran dan mata kuliah yang menumpuk, tidak mungkin lagi menambah satu lagi “subjek”. Itu alasan utama mereka. Ketika saya sudah bekerja, jawaban yang saya dapatkan lebih “ajaib” dari teman-teman kerja di kantor. Hampir semuanya menjawab, “Aduhh..ngga sempat dong, dan kayaknya otak saya sudah mentok, ngga bisa dipake belajar lagi!”.

Menyedihkan dan ironis, padahal mereka masih berumur awal tiga puluhan.

Prihatin, ingin tertawa, sedih, kesal, gemes, semua perasaan itu bergabung menjadi satu ketika mendengar jawaban-jawaban itu.

Mereka tidak mensyukuri “processor” yang lebih kuat dan hebat dibanding komputer mana pun yang pernah ada di dunia ini, yaitu otak mereka. Mereka tidak tahu betapa besar potensi yang mereka miliki, yang ada di dalam kepala mereka, jika saja mereka tahu bagaimana memaksimalkannya.

Seharusnya, di sekolah-sekolah ditambah mata pelajaran baru, “Belajar Untuk Belajar”. Agar setiap orang bisa memaksimalkan potensi luar biasa menakjubkan yang diberikan Tuhan kepada setiap orang.

Ketika masih banyak siswa yang tidak lulus walaupun dengan nilai standar kelulusan yang tergolong sangat rendah, ini tidak menunjukkan kondisi sebenarnya dunia pendidikan di Indonesia. Ini hanya kasus “Salah Asuhan”. Kondisi tersebut hanya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang harus dirubah di dalam dunia pendidikan kita.

Dengan mempelajari cara belajar yang efektif dan efisien, setiap orang akan memiliki kemampuan belajar yang lebih baik. Karena, mereka bisa berakselerasi dalam menyerap pengetahuan. Dalam waktu yang sama, dengan kemampuan belajar yang lebih baik, mereka akan menyerap jauh lebih banyak pengetahuan dibanding kondisi sebelumnya.

Para murid bisa jauh lebih berprestasi, kualitas para Guru akan jauh lebih baik. Setiap orang akan menjadi “lebih ahli” di bidang yang mereka geluti.

Jika guru dan murid, dosen dan mahasiswa, orang tua dan anak, pemimpin dan rakyat bersinergi, bekerja sama untuk meraih kemampuan belajar yang jauh lebih baik, maka akan menghasilkan efek  yang sangat luar biasa besar bangsa ini.

Secara keseluruhan, pastinya akan meningkatkan kualitas sebuah bangsa.  Akan menghasilkan generasi yang jauh lebih baik di masa kini dan masa depan. Bukan hanya sekedar generasi Facebook dan Blackberry.

Yang kita perlukan hanyalah sedikit saja membuka mata dan pikiran kita untuk mau mempelajari bagaimana cara belajar yang baik, efektif dan efisien.

Di pojok kantor seorang perantau,

Sabtu, 19 Desember 2009, 00:31

Didaytea

Ada pertanyaan yang menggelitik hati, dan sekaligus memberi inspirasi baru untuk diri saya, memberi paradigma yang baru di diri saya dalam hal ibadah.
Pikiran yang pertama terlintas, ga mungkin lah, kita bisa ibadah 24 jam secara terus-terusan..

Kita kan harus melakukan hal yang lain, tidak hanya “ibadah” doang….

Ternyata, dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi bisa menjadi ibadah….dan sangat mudah..

Aktifitas ke WC adalah ibadah, kalau kita berdo’a sebelum masuk wc berdoa, dan masuk kaki kiri dulu, keluar kaki kanan dulu. Dan bersyukur masih bisa “beraktifitas” di WC dengan lancar…

Mandi, juga ibadah, niatkan untuk memberi penampilan yang terbaik di hadapan ALLAH sebelum sholat…dan niatkan juga untuk membuat orang nyaman melihat kita…
Berangkat kerja, selama kita niatkan untuk mencari nafkah untuk keluarga kita, pasti jadi ibadah..

Peluklah istri, cium keningnya sebelum berangkat kerja, juga ibadah…habiskanlah sarapan yang dengan susah payah dia siapkan untuk kita…ketika akan masuk mobil kirim “kiss bye” untuk istri, juga ibadah..

Memakai baju yang rapi, parfum (untuk pria), ibadah, niatkan untuk membuat orang nyaman berada dekat kita…

Di perjalanan kerja, jangan biarkan waktu berlalu begitu saja, dengarkan murottal..hafalkan al qur’an if possible…dzikirlah semampu kita…

Selama bekerja, jadi ibadah, selama kita jujur menjaga amanah, dan profesional…

Tersenyum, ibadah juga, asal proporsional…karena rasul selalu tersenyum dan ramah..

Makan, adalah ibadah, kalau kita berdo’a sebelum dan sesudah makan, dan niatkan untuk menguatkan badan kita agar badan kita sehat, sehingga tidak ada halangan untuk ibadah…
Menyingkirkan batu di tengah jalan, ibadah….

Membuang sampah pada tempatnya, ibadah, niatkan untuk menjaga bumi titipan ALLAH….

Setiap saat yang kita lalui, akan jadi ibadah…

Setiap melihat yang indah, takjublah dengan berdzikir, tasbih, takbir, dan tahmid…

Kagumi apapun ciptaan ALLAH di sekitar kita..

Mudahkanlah setiap orang di sekitar kita, bantu, support, tolong, buat mereka nyaman berada di dekat kita, juga ibadah…

Bermain, berbicara, dengan anak, adalah ibadah, niatkan kita untuk jadi teladan dia yang terbaik dalam hidupnya…

Tidur kita di akhir hari pun ibadah…berdo’a sebelum tidur, dan niatkan tidur kita untuk mempersiapkan diri di esok hari untuk menjadi lebih baik dari hari ini..

Syukuri apapun yang ada di diri kita..

Sabarlah menghadapi setiap kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan kita…

Buatlah sepanjang hari kita hanya untuk ibadah…

Karena ALLAH juga tak pernah berhenti memberi nikmatnya kepada kita…

(Materi ini disampaikan oleh ustadz Yeri Kusyeri, di Daarut Tauhiid Bandung, saya lupa tanggal tepatnya)

Self Audit

Mengawasi Diri

Merasa diawasi Allah akan menjauhkan kita dari kesepian. Sebaliknya, kita akan selalu bahagia, dimudahkan dan dilapangkan bila selalu bersama Allah.

Ar-Raqiib adalah nama Allah yang terdapat dalam Asma’ul Husna. Kata Ar-Raqiib, yang akar katanya terdiri dari tiga hurif ra’, qaf dan ba’, memiliki makna dasar tampil tegak lurus untuk memelihara sesuatu. seorang pengawas dinamakan Raqiib, karena ia tampil memerhatikan dan mengawasi untuk memelihara yang diawasinya.

Merujuk akar kata Ar-Raqiib, maka kepengawasan Allah tidak bertujuan untuk mencari-cari kesalahan makhluk-Nya, seperti dilakukan para intel misalnya. Justru, kepengawasan-Nya dimaksudkan untuk mengarahkan, membimbing dan memelihara agar hamba-Nya tidak terjerumus pada kesesatan.

Apa buktinya?
Saat terbetik niat buruk dalam hati kita, maka niat tersebut tidak langsung dicatat sebelum dilaksanakan dalam bentuk tindakan. Sebaliknya, sebuah niat baik, walau belum dilaksanakan sudah mendapat satu pahala. Ketika dilaksanakan, maka pahalanya sepuluh kali lipat atau lebih.

Boleh jadi kita ingin berbuat maksiat. Namun karena kasih sayang-Nya, Allah Swt. menggagalkannya. Banyak jalan bagi Allah untuk menggagalkan niat buruk kita. Mau pacaran mobil mogok. Mau selingkuh, uang di dompet ada yang ngambil, dsb. Semuanya bukan karena kebetulan. Semua terjadi karena Allah berkehendak melindungi kita dari maksiat. Allah Mahatahu isi hati dan pikiran manusia. Allah Mahatahu segala resiko dari yang kita cita-citakan. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah.

Apa hikmahnya?
Pertama, berzikirlah kepada Allah. Perbanyaklah ucapan, Allah menatapku, Allah melihatku, Allah mengawasi dan mendengarkanku. Semakin merasa diawasi, semakin terpelihara diri kita. Merasa diawasi-Nya harus lengkap, meliputi hati dan panca indera. Amalkan pula wirid Ar-Raqiib Ar-Raqiib Merasa diawasi Allah akan menjauhkan kita dari kesepian. Sebaliknya, kita akan selalu bahagia, selalu dalam kemudahan, kelapangan bila bersama Allah.

Kedua, mulai awasi diri kita.

Apa yang harus kita awasi?
[1] Suasana hati.
Setiap amal bergantung pada niat. Sehebat apa pun amal, kalau niatnya tidak lurus, tidak akan berarti. Niatkan kita bekerja untuk mencari ridha Allah. Sebab, menurut Imam Ali, orang yang bekerja hanya untuk perut, maka derajatnya tidak jauh berbeda dengan yang keluar dari perut tersebut. Niatkan melayani suami atau istri untuk ibadah, jangan sekadar ingin menyenangkan hatinya saja. Segalanya harus ikhlas karena Allah. Jaga dan awasi niat kita, di awal, tengah, akhir, awasi terus. Belajar berhenti sejenak untuk berpikir sebelum bertindak.

[2] Panca indera.
Awasi lisan kita. Siapa pun yang pandai menjaga lisannya pasti akan selamat dunia akhirat. Ucapan kita harus BMT Tensofales. Pastikan Benar, Manfaat, dan Tak menyakiti (sebagai satu kesatuan). Juga Tenang, Sopan, Fasih, Apik, Lembut, dan Secukupnya. Jangan melakukan tindakan yang dapat merusak suasana. Jangan ngobrol yang membuat suasana tidak enak. Awasi pula setiap lirikan mata. Sebab, mata akan memengaruhi suasana hati. Jika mata tidak terkendali, hati akan membantu. Awasi pendengaran kita. Berjuanglah agar telinga tidak dimasuki kata-kata kotor, ghibah, musik-musik maksiat, dan sejenisnya. Sebagaimana mata, pendengaran yang tak terjaga berpotensi mengotori hati dan merampas kebahagiaan.

[3] Perut dan anggota badan lainnya.
Awasi jangan sampai kita menggunakan dan memakan barang haram. Kalau membeli makanan pastikan halal haramnya. Kalau hendak makan di restoran, lihat jenis restorannya apa. Hindari pula mengonsumsi hal-hal mubazir, seperti rokok.

Awasi semua yang ada pada diri kita, termasuk pikiran. Dengan cara ini insya Allah hidup kita akan lebih terkendali. Sungguh luar biasa, Allah mengawasi kita dan kita pun mengawasi diri. Dan inilah ciri orang bertakwa. Wallaahu a’lam.
Aa Gym

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.