Cinta memang aneh..

Ada yang jatuh cinta selama bertahun-tahun dengan si A, tapi menikah dengan si B…
Ada yang yakin 100 % akan menikah dengan si A, tapi batal, katanya sih demi cinta..
Ada yang mencintai sepenuh hati jiwa dan raga kepada si A, tapi mengikat janji dengan si B…
Ada yang berikrar mencintai untuk selamanya, tapi, dengan mudahnya berpindah ke lain hati…

Ada yang bilang:
Takkan pernah ada yang lain di sisi,
segenap jiwa hanya untukmu,
takkan mungkin ada yang lain di hati…
Kuingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamu,
hingga akhir waktu..

Ada juga yang bilang:
Betapa aku mencintaimu,
ingin ku bahagiakan dirimu,
setiap saat bersamamu…

Ada juga yang bilang:
Aku mau mendampingi dirimu,
Aku mau cintai kekuranganmu,
Selalu bersedia bahagiakanmu,
Apapun terjadi,
Kujanjikan aku ada…!

Tapi entah kenapa, terasa penuh dengan kekosongan..

Karena diucapkan tidak dalam sebuah mahligai pernikahan yang mulia…

didaytea.com

Kakek- kakek di Baris Pertama

Kakek- kakek di Baris Pertama

 

Di Mesjid terbesar di RW tempatku tinggal, setiap tempat di baris pertama di mesjid itu seolah sudah mempunyai nomor tiket dan sudah dibooking oleh para kakek-kakek itu.  Sebelum adzan berkumandang, tubuh- tubuh renta dan ada yang sudah sedikit bungkuk itu sudah berdiri dengan rapi di baris pertama. Mereka sudah mempunyai, atau tepatnya membooking tempatnya sendiri- sendiri. Yang lowong hanya tempat sang muadzin dan tempat imam. Jamaah selain mereka, murid dan guru TPA tidak akan berani mengambil tempat mereka sebelum memastikan bahwa yang “ punya kapling” memang benar- benar tidak datang. Dan juga, para kakek- kakek ini memang selalu datang jauh lebih awal dari waktu sholat. Di antara para kakek- kakek itu salah satunya adalah kakekku.

Sejak aku mulai mengajar Iqra di TPA itu, ketika aku masih mengenakan seragam putih-abu, sampai terakhir kali aku pergi merantau ke Cilegon, “Baris  Pertama Fans Club” ini tidak berubah sama sekali. Hanya sholat Ashar dan Zhuhur berjamaah, kadang beberapa dari mereka yang absen mengisi baris pertama ini.

Sisanya, sholat Jum’at, Subuh, Magrib dan Isya, bahkan sholat Idul Adha dan Idul Fitri pun, shaf pertama selalu menjadi “daerah kekuasaan” mereka.

Hampir di setiap acara pengajian, “kelompok baris pertama” ini tetap istiqomah dan selalu berada di tempat yang sama.

Aku melihatnya sebagai sebuah keindahan dari keteladanan.

Ada sih, yang melihatnya sebagai monopoli dan penguasaan sepihak, tapi kalau dipikir- pikir sih, ya itu salah mereka, tidak datang lebih dulu dari mereka.           Ada juga yang melihatnya sebagai sebuah kewajaran. Karena secara, mereka kan sudah tua, sudah dekat dengan kematian.

Sudah seharusnya mereka memang bersemangat seperti itu.

Setelah aku hijrah ke Cilegon, aku pulang mudik ke Bandung biasanya satu bulan sekali.

Ketika pulang, tak pernah kulewatkan kesempatan untuk berjamaah di mesjid yang gerbang sampingnya berseberangan dengan pintu belakang rumah ku itu. Selain untuk bersilaturahmi dengan teman- teman mengajiku, dan murid- muridku di TPA mesjid itu, aku juga ingin melihat dan bersilaturahmi dengan para penghuni baris pertama.

Tahun- tahun pertama tidak ada yang berubah. Sosok tubuh- tubuh renta renta itu masih penjadi penghuni baris pertama.

Kira- kira lima tahun setelah aku meninggalkan Bandung, kabar buruk pertama akhirnya datang. Adikku mengirim sms, memberi tahu bahwa salah satu kakek- kakek di baris pertama ada yang meninggal. Katanya karena stroke.

Entah kenapa, hatiku langsung bergetar dan spontan mendo’akan si kakek itu agar mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana. Aku mendo’akan agar keistiqomahannya sholat di mesjid, dan baris pertama itu menjadi tiket untuknya ke surga yang terindah kelak.

Ujung mataku tak mampu menahan jatuhnya air mata yang entah sedih, atau terharu, ketika kabar itu sampai ke telingaku.

Ketika aku pulang setelah kabar itu, penghuni tempat yang biasa di booking oleh si kakek  sudah berganti. Kali ini tidak ada yang permanen mengisi tempat itu.Sosok tubuh yang berdiri di sudut itu selalu berganti setiap waktu sholat.

Sudah takdir manusia untuk akhirnya harus menghadap penciptanya.

Tahun demi tahun berganti, dan akhirnya satu demi satu dari mereka pun mulai berguguran”, menyusul si kakek pertama.

Ada yang sudah meninggal dan ada juga yang sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke mesjid.

Sampai terakhir aku pergi ke Qatar, hanya kakekku saja dan dua orang kakek lainnya yang tersisa di baris pertama. Dan hanya mereka juga yang tersisa. Hanya mereka yang masih hidup dari lima belas orang kakek- kakek penghuni baris pertama.

Semoga mereka yang masih hidup tetap istiqomah menjaga kondisi mereka seperti sekarang, sehingga mereka bisa meraih Husnul Khotimah, akhir yang baik di kehidupan meraka.

Dan semoga segala usaha, dan keletihan mereka untuk selalu membawa tubuh rentanya berjalan ke mesjid akan menjadi tiket untuk syurga yang terindah untuk mereka kelak.

Semoga Allah memberikan aku dan semua muslim kekuatan agar aku bisa memiliki keistiqomahan untuk bisa sholat berjamaah ke mesjid sampai tua seperti para kakek- kakek penghuni baris pertama itu.

Amin.