AL-WAHHAB: Yang Maha Pemberi


AL-WAHHAB

Yang Maha Pemberi

Al-Wahhab, terambil dari akar kata “wahaba” yang berarti “memberï” dan “memberikan sesuatu tanpa imbalan”.

Dalam Al-Quran kata Al-Wahhabb ditemukan dalam tiga ayat, kesemuanya merupakan sifat Allah dan satu yang dirangkaikan dengan sifat-Nya yang lain yakni Al-Aziz yaitu dalam Q.s. Shad 38:9.

Al-Wahhab adalah yang memberi –walau tanpa dimintai- banyak dari miliknya. Dia memberi berulang-ulang, bahkan berkesinambungan tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawai maupun ukhrawi. Al-Ghazali ketika menjelaskan makna kata Al-Wahhab menekankan bahwa pada hakekatnya tidak mungkin tergambar dalam benak adanya yang memberi setiap yang butuh tanpa imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrawi, kecuali Allah SWT. karena siapa yang memberi disertai tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau guna mendapatkan kehormatan, maka dia sebenarnya telah mengharapkan imbalan dan dengan demikian dia bukanlah Wahhab, karena yang dimaksud dengan imbalan dalam konteks makna kata ini, bukan sekedar sesuatu yang material. Melakukan sesuatu, yang bila tidak dilakukan dinilai buruk, pada hakekatnya adalah imbalan yang menjadikan pelakunya tidak berhak menyandang sifat ini. Di sisi lain, makhluk tidak mungkin akan dapat memberi secara bersinambungan atau terus menerus dan dalam keadaan apapun, karena makhluk tidak dapat luput dari kekurangan. Bukan juga Wahhab namanya, kecuali apa yang diberikannya dalam bentuk yang disebut di atas, merupakan nikmat dan bertujuan baik untuk yang diberi, kini dan masa datang. Demikian Ibnul Árabi. Karena itu anugerah-Nya yang diberikan kepada orang kafir tidak menjadikan-Nya dinamai wahhab, karena anugerah itu dapat menjadi bencana untuknya kini atau masa datang. Kata Al-Wahhab yang ditemukan sebanyak tiga kali dalam Al-Quran selalu mengisyaratkan adanya rahmat, atau kesinambungan. Perhatikan ketiga ayat yang menggunakan kata AL-Wahhab berikut ini:

“Atau apakah ada di sisi mereka perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Mulia lagi Wahhab (Maha Pemberi)?” (Q.s. Shad 38:9). Bukankah Allah memiliki pula perbendaharaan siksa? Tetapi karena yang dikemukakan adalah rahmat-Nya, maka sifat Wahhab-Nya yang disebut.

“Wahai Tuhan kami, jangan Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, Karena sesungguhnya Engkaulah al-Wahhab Yang Maha Pemberi”(Q.s. Ali Imran 3:8). Permohonan di sini adalah bersinambungnya petujuk yang selama ini telah diterima dan yang sekaligus merupakan bagian dari rahmat Allah SWT.

Ayat ketig aadalah doa Nabi Sulaeman yang diabadikan Al-Qurán: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi”. (Q.s. Shad 38:35).

Kerajaan yang dimohonkannya itu adalah kerajaan yang tiada taranya, sehingga terus menerus dikenang sepanjang masa.

Sekali lagi, seorang manusia tidak dapat menjadi Wahhab, karena tidak ada satu aktifitaspun yang dilakukannya yang luput dari tujuan, walaupun aktivitas tersebut berupa ibadah. Dalam beribadah tujuan untuk menghindar dari neraka-Nya, atau meraih surga-Nya merupakan dua tujuan yang sering kali menghiasi jiwa setiap pelaku ibadah. Peringkat tujuan yang lebih tinggi pun dari kedua tujuan diatas, -yakni bukan karena takut atau mengharap tapi karena cinta dan syukur kepada-Nya, belum juga menjadikan sang árif yang beribadah terlepas dari tujuan-tujuan atau harapan meraih imbalan karena kemampuan manusia hanya sampai di sana, maka Allah mentoleransi pemberian yang bertujuan untuk menjalin persahabatan atau menghindar dari cela atau bencana, selama itu diberikan dalam batas kewajaran yang benar dalam beribadah. Allah juga mentoleransi mereka yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka, selama ibadah yang dilakukannya karena Allah. Bukankah Allah merangsang manusia dengan take and give (mengambil dan memberi)?. Äpakah mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya (memberi mereka pengampunan) dan mengambil sedekah?” (Q.s. At-Taubah 9:104).

Bukankah Allah sendiri dalam AL-Qurán menggunakan kata –kata “tijarah” (perniagaan), “baí” (jual beli), “qardh” (kredit) dan sebagainya.

“Wahai orang-orang yang beriman maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari siksa pedih?” (Q.s. Ash-Shaf 61:10). Tahukah anda perniagaan apa itu? Dengarkan lanjutan ayat tersebut, “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu…”. Anda boleh bertanya apa imbalan bahkan keuntungan yang diraih dari perniagaan ini?.

Dengarkan jawabannya pada ayat selanjutnya, “Dia (Allah) akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir dibawahnya serta tempat-tempat tinggi yang baik di surga Aden. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. Ash-Shaf 61:12). Bahkan ada juga panjar yang diterima di dunia, karena firman-Nya sesudah janji ini, “Masih ada yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat (dalam kehidupan dunia ini)” (Q.s. Ash-Shaf 61:13).

Memang, masyarakat umum memahami ketiadaan pamrih sebagai melakukan sesuatu demi karena Allah semata, sehinga siapa yang melakukan sesuatu untuk tujuan yang lain bukan untuk-Nya semata, maka itulah pamrih. Tetapi ini tidak sepenuhnya benar, karena suatu tujuan di samping dapat merupakan tujuan utama dapat juga sebagai “jalan yang mengantar” ke tujuan yang lebih utama dan ketika itu, jalan tersebut tidak lagi menjadi tujuan. Seseorang yang bekerja untuk mendapatkan uang, pada hakekatnya tujuannya bukanlah uang, tetapi ketenangan hidup dan kenyamanannya. Yang membedakan tujuan yang “merupakan jalan”dan “tujuan yang sesungguhnya” adalah bahwa yang “merupakan jalan”, akan diabaikan, jika yang menjadi tujuan sesungguhnya telah dicapai. Namun keduanya adalah tujuan. Yang beribadah untuk meraih surga atau menghindar dari neraka –tujuannya adalah Allah, walau tujuan yang mengantarnya ke sana adalah meraih surga atau menghindar dari neraka.

Jika demikian dapatlah seseorang meneladani Allah dalam sifat ini? Kita menjawab ; mengapa tidak? Bukankah Allah –seperti telah diuraikan diatas – telah memberi toleransi? Karena hanya sampai disana kemampuan manusia. Bukankah sejak semula telah ditegaskan bahwa, “Laisa ka mistilihi Syaiun?” Tidak ada yang serupa dengan-Nya? Bukankah sejak dini pula telah ditekankan bahwa meneladani-Nya adalah sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk? Tentu saja semakin banyak toleransi yang diterima atau diambil, semakin rendah tingkat penerima atau pengambilnya. Pemberi yang motivasinya memperoleh imbalan serupa lebih rendah tingkatnya, dibanding dengan yang tidak mandapat imbalan yang serupa. Äpa yang kamu berikan dari riba supaya bertambah banyak harta manusia, maka tidaklah bertambah banyak di sisi Allah “ (Q.s. Ar-Rum 30:39). Walau itu tidak dilarangnya, namun sejak wahyu ketiga Dia berpesan kepada Rasul-Nya: “Jangan memberi dengan mengharap imbalan yang lebih banyak”. (Q.s. Al-Muddasttsir 74:6).

Menanti ucapan terima kasih tidak dilarangnya, tetapi yang memberi tanpa mengharapkan terima kasih atau balasan, dipuji bahkan diabadikan ucapanya – walau ketika memberi mengharapkan keselamatan di hari kemudian. “Mereka berkata ‘Kami memberi makan kepada kamu demi karena Allah, kami tidak mengkehendaki diri kami balasan dan tidak pula terima kasih. Sesungguhnya kami takut kepada Tuhan kami, pada hari yang sangat bermuka masam”. (Q.s. AL-Insan 76:9-10).

Pemberian yang tertinggi yang dapat dilakukan manusia adalah memberi tanpa takut neraka atau tanpa mengharap surga, namun sekali lagi – itupun tidak menjadikannya Wahhab, karena hanya Allah Al-Wahab, namun, yang demikian ditoleransi oleh Yang Maha Pemberi anugerah- lahir dan batin itu. Karena itu meneladani sifat ini menuntut upaya terus menerus untuk memberi sekuat kemampuan. Ciri orang bertaqwa menurut Q.s. Ali Imran 3:134 antara lain adalah “Menafkahkan (miliknya) baik dalam keadaan senang (lapang) maupun susah (sempit)”. Itu dilakukanya dengan rela karena dia takut merasa bahwa Allah telah membiasakan hidupnya dengan curahan serta kesinambungan anugerah-Nya.

M Quraish Shihab (Menyingkap Tabir Illahi)

8 comments

  1. Klo kita menyebut orang dgn kata wahabi. Apa kita telah menyekutukan Allah Wahab (maha pemberi) ?

  2. Sorry klo tanya g jelas. Da tau jawabannya, G apa2 karena g ada niat untuk menyekutukan (cuman tindakan bodoh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s